Sabtu, 23 Januari 2016

See You Again When The Next Blue Moon Appears : Ahsan Hasna Part 1 s.d. 3

Blue moon malam itu sangat indah. Membuat mereka bertemu disana. Pandangan yang dibuai rindu menantikan seseorang untuk mengisi hati mereka. Seseorang yang berusaha untuk ditemukan sekaligus selalu dinanti. Seseorang yang belum menjelma bahkan meski hanya dalam nama. Mereka hanya tersenyum memandangi makhluk malam yang indah diterangi sinar makhluk siang bernama matahari itu. Pandangan mereka beradu meski waktu masih menjaga mereka untuk bisa bertemu. Pandangan Ahsan dan Hasna. "Apa aku dan kamu sedang memandang bulan yang sama, seseorang tak bernama? Aku menunggumu. Semoga saat blue moon selanjutnya berbagi indahnya, aku dan kamu bisa melihatnya bersama, kita duduk bersebelahan, tersenyum bersama dan blue moon gantian memandangi kita yang saling berpandangan tanpa lagi menitipkan rindu kepadanya".

Tokoh Imajinasi : Rizky as Ahsan dan Anisa as Hasna 

PART 1 Intro : Ahsan dan Hasna
Ahsan adalah seseorang mahasiswa usia 20 tahun. Dia adalah salah satu aktivis kampus yang menjadi idola banyak perempuan. Berwajah tampan, nilai mata kuliahnya pun cemerlang, jago bermain futsal, dan aktif di sebuah wadah debat bahasa inggris di kampusnya. Selain itu, dia bersama teman-temannya aktif mengajar bahasa Inggris dan mengaji untuk adik-adik yang tinggal di daerah kumuh dekat bantaran rel yang memang menjadi binaan organisasinya. Semua pesona yang ada didirinya membuat banyak perempuan jatuh hati sekaligus penasaran kepadanya. Pasalnya, Ahsan selalu ramah, peduli dan humble kepada teman-temannya, baik laki-laki maupun perempuan. Namun demikian, sejak masuk kuliah, tak pernah sekalipun terdengar Ahsan menobatkan satu perempuan pun sebagai pacarnya. Meski dia bukan barisan ikhwan yang aktif di rohis kampusnya, tapi dia salah satu high quality single, sebagaimana doa orang tuanya "semoga dia menjadi laki-laki terbaik" lewat namanya, Ahsan.

Hasna, seperti doa orang tuanya lewat namanya, adalah perempuan cantik yang mandiri berusia 25 tahun. Dia sedang mengambil pendidikan masternya di bidang perencanaan perkotaan diantara kesibukannya bekerja di NGO yang peduli tentang anak-anak. Kecantikan Hasna yang terpancar dari hatinya dan semangat serta sifat cerianya, membuat beberapa laki-laki ingin mendekatinya. Meskipun demikian, laki-laki tersebut mundur teratur saat Hasna mengatakan pandangannya tentang hidup dan pilihannya untuk berkomitmen bukan hanya sekedar hubungan bersenang-senang tanpa arah. Meski heran dan sedikit trauma, Hasna tetap memegang apa yang diyakininya itu. Ia percaya bahwa Tuhan menciptakan seseorang yang tepat menjadi pasangannya, meski Hasna pun tak tahu sampai kapan ia harus menunggu. Hasna akan tetap bersabar dan berusaha tetap terlihat agar bisa ditemukan oleh dia yang belum punya nama di hatinya, kecuali nama panggilan yang diberikan Hasna di tiap doanya yaitu CINTA. Bersama CINTA dia punya satu impian sederhana, melakukan volunteering bersamanya, merajut bahagia mereka bersama dengan menjadi manusia yang berbagi manfaat. Bersama CINTA dia ingin menjadi tetap dan lebih baik bersama. Bersama CINTA dia ingin menghabiskan hidup bersamanya. 

PART 2 Blue Moon dan Pertemuan Pertama

31 Mei 2015
Ahsan sedang memandangi fenomena blue moon malam itu. Purnama kedua di bulan Mei itu memang dinantinya, sesuai perkiraan yang sudah tersebar luas di internet dan media lainnya. Ahsan selalu mengagumi purnama. Purnama membuat bintang-bintang memiliki kawan untuk menerangi langit malam meski bulan hanya meminjam cahaya matahari. Ahsan menatap takjub kebesaran Tuhan malam itu yang membuatnya ingin bercanda lama bersama langit kelam yang terang. Ahsan berdiri di pinggir jendela kamarnya yang lampunya sengaja ia padamkan ketika kemudian  handphonenya bergetar. 
"San, ini nomer Hasna, volunteer (relawan) yang akan bergabung dengan kita. Besok, tolong temui dia di stasiun jam 14.30. Perkenalkan dia dengan adik-adik dan kegiatan kita ya. I count on you, Bro. Thank you (Aku mengandalkanmu, terima kasih)". Ahsan memandangi pesan whatsapp dari Raka, koordinator mengajar di kelas bantaran rel kereta dan menyimpan kontak bernama Hasna itu. Iseng Ahsan membuka kontak itu di whatsapp ketika ia melihat seorang perempuan tersenyum manis bersama dua orang anak kecil di foto profilnya. Senyuman itu terlihat lepas dan posenya pun terlihat alami. Bibir Ahsan otomatis ikut membentuk raut senyum melihatnya. "Semoga volunteer perempuan kali ini tidak akan bermasalah seperti sebelumnya," ucap Ahsan dalam hati. Ahsan punya alasan berharap seperti itu, dia pernah mengizinkan dua cewek adik kelasnya untuk ikut menjadi volunteer selama satu hari mendampingi Ahsan, tapi hal itu justru membawa pengaruh yang kurang baik bagi adik-adik kecil di bantaran rel yang diajarnya. Kedua cewek adik kelasnya itu tidak terbiasa dengan kondisi di bantaran rel yang serba terbatas sehingga kehadiran mereka justru menyusahkan adik-adik yang belajar disana sehingga tidak bisa berkonsentrasi seperti biasa. Beberapa hari setelahnya, Ahsan baru tahu bahwa motif adik kelasnya ikut hanya ingin menarik perhatian Ahsan saja. Ahsan kembali memandangi blue moon dengan senyumnya kemudian kembali melihat ke foto profil perempuan bernama Hasna itu lalu menutupnya. Entah kenapa hatinya optimis dan mempercayai kesungguhan dan ketulusan Hasna, perempuan pemilik senyum lepas itu.
Di tempat lain, Hasna terlihat juga sedang asyik bercanda dengan blue moon dan bintang-bintang dari balik jendela kamarnya di lantai 2. Bibirnya bergantian menyunggingkan senyum dan tawa. Ada kalanya, tangannya menggoreskan kata demi kata bersama tinta bolpoinnya. 
"Ada yang bilang blue moon mencerminkan penghianatan purnama kepada siklus seharusnya dimana jika biasanya purnama hanya sekali muncul dalam satu bulan, tapi blue moon muncul sebagai purnama kedua pada bulan yang sama. Namun, bagi aku penyuka bulan purnama, blue moon adalah even istimewa dimana bulan purnama memiliki kawan di bulan yang sama," tulis Hasna sambil lirih mengucapkannya. Blue moon malam itu seolah mengingatkan Hasna bahwa meski mungkin ada banyak bulan purnama tak berkawan di tiap bulannya, akan tiba masanya purnama kedua akan muncul di bulan yang sama. Sebuah analogi yang membangkitkan semangat Hasna tentang teman hidup yang masih tak mampu Hasna lihat tapi selalu ditunggunya. Beberapa tahun ini, Hasna tak pernah berkawan seperti purnama yang tak punya kawan sesamanya di bulan yang sama. Namun Hasna percaya, akan tiba masanya blue moon akan muncul, Hasna akan menemukan seseorang untuk berkawan dalam komitmen yang Hasna impikan. Dirinya hanya perlu bersabar, tetap bersinar, dan tidak putus asa menanti seorang kawan yang tepat untuknya, teman hidup baginya, seseorang yang tetap dirindukannya di dalam hati.

Blue moon malam itu sangat indah. Membuat mereka bertemu  disana. Pandangan yang dibuai rindu menantikan seseorang untuk mengisi hati mereka. Seseorang yang berusaha untuk ditemukan sekaligus selalu dinanti. Seseorang yang belum menjelma bahkan meski hanya dalam nama. Mereka hanya tersenyum memandangi makhluk malam yang indah diterangi sinar makhluk siang bernama matahari itu. Pandangan mereka beradu meski waktu masih menjaga mereka untuk bisa bertemu. Pandangan Ahsan dan Hasna. "Apa aku dan kamu sedang memandang bulan yang sama, seseorang tak bernama? Aku menunggumu. Semoga saat blue moon selanjutnya berbagi indahnya, aku dan kamu bisa melihatnya bersama, kita duduk bersebelahan, tersenyum bersama dan blue moon gantian memandangi kita yang saling berpandangan tanpa lagi menitipkan rindu kepadanya".

Keesokan harinya, Ahsan baru keluar dari kelasnya ketika seseorang menepuk bahunya. "Buru-buru amat, Bro". Terlihat Ardi berdiri menyejajarinya. 
"Iya nich, mau pulang dulu, kan nanti sore ada jadual ngajar di kelas bantaran rel," jawab Ahsan sambil tersenyum lebar.
"Oh iya, ini hari Sabtu ya. Btw, loe udah tahu kan San, teman-teman pada ga bisa nanti sore?"
Ahsan menganggukkan kepalanya. "Iya, Raka kemarin nitip kelas ke gue, katanya ada volunteer yang mau gabung ngajar disana. Gue diminta sekalian menyambut dia sore ini mewakili dia sebagai koordinator". Ardi menganggukkan kepalanya. "Loe tuh emang cowok paket komplit ya, San, pantes aja cewek-cewek pada ngefans ke loe. Ini ada titipan kado dan surat dari beberapa fans loe," ujar Ardi sambil menyerahkan sebuah kantong plastik kepada Ahsan dan tertawa ngakak. Ahsan menerimanya dengan ekspresi bertanya-tanya. "Aku cuma menyampaikan, selanjutnya kamu yang memutuskan,"sambung Ardi dibalas Ahsan dengan anggukan sembari tertawa pasrah. Mereka berdua pun berpisah jalan. Ini memang bukan kali pertama Ahsan menerima hal-hal yang semacam itu. Ahsan tidak keberatan, seperti yang sudah-sudah ia dengan santai dan sabar membalas dengan baik surat-surat untuknya dari cewek-cewek di kampusnya, mulai dari surat pernyataan cinta, rasa kagum, atau bahkan surat iseng dan tak jelas maksudnya. Begitu pun dengan kado-kado yang diterimanya. Ahsan dengan sabar mengembalikan kado-kado itu kepada pemiliknya, meski sebagian dari mereka menolak kadonya dikembalikan sehingga Ahsan meminta izin kepada mereka untuk memberikan kado itu ke adik-adik di bantaran rel atau jika berupa makanan, ia juga membagikannya kepada teman-temannya di kampus atau organisasi. Ahsan berusaha menghargai mereka sebisa mungkin ia bisa lakukan. Namun, dari sekian banyak perempuan itu, tak satupun diantaranya menempati ruang hatinya. Ahsan seolah menikmati kesendiriannya dengan segudang aktivitasnya. Ahsan pun tak mau memberi harapan kepada satu perempuan pun tentang dirinya. "Semua akan indah pada waktunya dan aku akan berjuang saat waktu itu telah tiba," kalimat itu yang selalu Ahsan pegang untuk dirinya sendiri. 10 menit kemudian Ahsan sudah duduk manis di dalam mobil jenis sport miliknya dan ia pun bergegas pulang.
Waktu menunjukkan pukul 02.00 siang saat Hasna keluar dari kereta rel listrik (KRL). Kantor NGO tempat Hasna bekerja menugasi dia ikut menjadi volunteer (relawan) bekerja sama dengan salah satu organisasi yang bergerak di bidang pendidikan anak marjinal, salah satunya anak-anak yang hidup di bantaran rel setiap hari Rabu dan Sabtu. Selain karena tugas kantor, Hasna memang tertarik berinteraksi dengan anak-anak kecil dan belajar serta bermain bersama mereka. Hasna sudah menghubungi koordinator organisasi tersebut dan Hasna diminta menunggu di pintu keluar stasiun KRL yang berada tak jauh dari kelas mereka jam 14.30. Hasna sedang asyik mengamati kondisi pemukiman di dekat stasiun itu ketika ada yang memanggil namanya. "Mbak Hasna...". 
Seorang laki-laki asing berdiri beberapa langkah di depannya sambil tersenyum.
"Aku Ahsan, teman Raka yang mengajar di kelas bantaran rel. Maaf agak terlambat, jalanan lumayan macet tadi," ujarnya sambil melirik arlojinya yang menunjukkan pukul 14.35.
Hasna tersenyum, "Tidak apa-apa, aku juga baru datang".
Ahsan dan Hasna pun berjalan beriringan. Obrolan perkenalan mereka pun berlanjut tentang siapa mereka masing-masing. Ahsan juga menjelaskan tentang gambaran kelas yang akan mereka ajar. 
"Oh iya, Ahsan, panggil aku Hasna saja," pinta Hasna sambil tersenyum.
"Memang tidak apa-apa?" balas Ahsan bertanya balik.
Hasna mengangguk." Meski aku lebih tua dari kamu, tapi aku ga ingin ada jarak antara aku dan kamu juga teman-teman kamu. Jadi tolong jangan sungkan ke aku. Di tempat aku bekerja, orang terbiasa memanggil namaku baik itu senior maupun junior aku," jelas Hasna sambil tersenyum lebih lebar memandang kearah Ahsan.
Ahsan balas memandangi Hasna sejenak dengan tersenyum makin lebar. "Oke, deal Mbak Has ups Hasna maksudnya. Untuk pertama kalinya, tawa pun pecah diantara Ahsan dan Hasna. 
Beberapa menit kemudian, setelah melewati beberapa jalan tikus, Ahsan dan Hasna pun tiba di sebuah bangunan dari kayu berukuran 5 meter × 5 meter yang difungsikan sebagai kelas. Di depan kelas terpampang sebuah tulisan dari kertas tempel "Let's be brave to have a dream". Kemudian ada tulisan berbahasa indonesia di bawahnya "(Ayo berani memiliki mimpi)". Terlihat beberapa anak kecil usia 7-12 tahun keluar menyambut kedatangan Ahsan dengan ceria dan mencium tangan Ahsan. "Mana Kak Raka dan kakak yang lainnya, Kak? Kak Ahsan datang sama siapa?" tanya seorang adik diikuti raut penasaran dan sependapat dari adik-adik yang lain.
"Nanti Kak Ahsan akan kenalin ke adik-adik. Sekarang kita sholat Ashar berjamaah dulu yuk, Kak Ahsan yang jadi imamnya. Ayo yang belum wudlu segera ambil wudlu ya".
"Sebelum kelas mulai, kami biasanya sholat Ashar berjamaah dulu, Hasna. Raka memberitahu kamu untuk membawa mukena kan?" ucap Ahsan menoleh kearah Hasna.
Hasna menggelengkan kepalanya tetap tersenyum, "Hmmm sepertinya Raka lupa memberitahu tentang ini ke aku. Tapi, kebetulan aku sedang berhalangan sholat, San. Pertemuan selanjutnya aku bakal bawa mukena biar bisa sholat bareng".
Ahsan mengangguk sambil tersenyum. "Kalau begitu aku tinggal ambil wudlu dulu, ya Na. Kamu duduk saja dulu di dalam kelas," ujar Ahsan menyilahkan dibalas Hasna dengan anggukan kepalanya.
Hasna melepas sepatu ketsnya dan duduk di bagian belakang kelas yang ada disebelah timur.
Di ruangan kelas itu tak ada bangku, hanya beberapa tikar terhampar rapi disana. Terlihat beberapa meja belajar lipat tersandar di tepi kelas itu. Beberapa sajadah tersusun rapi, beberapa adik laki-laki mengambil tempat di depan dan adik-adik perempuan mengambil tempat di belakang. Sesekali adik-adik itu melihati Hasna dan Hasna pun tersenyum lebar dan ramah kearah mereka meski dengan sedikit rasa canggung. Adik-adik itupun balas tersenyum padanya.
Hasna membuka sebuah lemari yang berisi buku diktat belajar bahasa inggris dan membacanya ketika ia melihat Ahsan masuk dan lagi-lagi tersenyum kearahnya. "Aku tinggal sholat dulu, Hasna," ucapnya dibalas anggukan Hasna sembari tersenyum.
Hasna sesekali mengamati Ahsan dan adik-adik yang sedang sholat berjamaah itu dengan tersenyum. Sudah lama dia tidak pernah melihat pemandangan semacam itu dan ia merindukannya. 
Terdengar suara Ahsan mengucapkan salam tanda selesainya sholat Ashar, adik laki-laki pun berhambur mencium tangan Ahsan. Hasna hanya tertawa kecil melihatinya.
"Oh iya, adik-adik yang perempuan, ayo salamin tangan kakak perempuan yang duduk di belakang ya," ujar Ahsan memberitahu adik-adik perempuan yang sedang asyik melipat mukena. Ahsan dan Hasna pun saling bertukar pandang dan senyuman sejenak. Dan tanpa perlu waktu lama, Hasna pun "diserbu" oleh beberapa adik perempuan yang ingin mencium tangannya. Hasna pun hanya tersenyum lebar, ia sambut tangan-tangan kecil itu dengan mengusap lembut kepala mereka. Ahsan pun ikut tersenyum lebar melihatnya.
Adik-adik itu pun mulai membuka meja belajar lipat masing-masing dan Ahsan mulai membersihkan tulisan di white board sisa mereka belajar hari rabu sebelumnya. Ahsan memanggil Hasna yang masih duduk di belakang untuk maju berdiri di sebelahnya.
"Adik-adik, hari ini Kak Raka dan kakak yang lainnya tidak bisa datang karena ada kesibukan terkait kuliah. Jadi hari ini belajar bahasa inggrisnya sama Kak Ahsan. Tapi Kak Ahsan nggak sendirian. Perkenalkan ini Kak Hasna yang akan ikut mengajar disini," ujar Ahsan sambil tersenyum ramah melirik kearah Hasna. "Ayo ucapin salam perkenalan," sambung Ahsan bersemangat.
"Good afternoon, Kak Hasna...," ucap adik-adik di kelas itu penuh semangat dan senyuman ramah.
"Good afternoon. Nice to meet you. Senang bertemu kalian semua, adik-adik," balas Hasna dengan senyum mengembang dan wajah riang.
"Welcome to our class, Kak Hasna. Thank you for joining our class. I hope you'll enjoy every moment here. Selamat datang di kelas kami, Kak Hasna. Terima kasih sudah bergabung dengan kelas ini. Semoga Kak Hasna menikmati kebersamaan disini," sambung Ahsan sambil tersenyum lebar.
"Thank you, Kak Ahsan," balas Hasna sembari tertawa kecil. 
Terlihat seorang adik usia sekitar 11 tahun mengangkat jarinya.
"Ya Ridwan," sahut Ahsan.
"Jadi Kak Hasna akan mengajar hari ini saja seperti teman cewek Kak Ahsan sebelumnya atau berlanjut seterusnya, Kak Ahsan?"
Ahsan tersenyum merasa geli mengingat insiden volunteer perempuan sebelumnya. Ahsan melirik Hasna memintanya untuk menjawab pertanyaan itu.
"Insyaa Allah Kak Hasna bakal ikut menemani adik-adik disini belajar sampai beberapa bulan kedepan," jawab Hasna dengan ramah.
Terlihat seseorang yang lain mengangkat tangannya sambil tersenyum tersipu.
"Ada apa Putri?" jawab Ahsan ke adik perempuan usia sekitar 10 tahun itu.
"Emmmmm... emmm.. apa Kak Hasna ini  ceweknya Kak Ahsan?" tanya adik bernama Putri itu agak ragu dan salah tingkah. Kontan saja pertanyaannya itu membuat teman-teman di kelas ribut dan tertawa. "Cieee Putri cemburu Kak Ahsan". Spontan Putri sambil malu-malu langsung melakukan pembelaan diri ke teman-temannya yang menggodanya.
Sementara Ahsan dan Hasna terlihat saling berpandangan. Ahsan terlihat tersenyum dan sedikit salah tingkah sedangkan Hasna terlihat sedikit bengong tapi balas tertawa kecil. Ahsan pun ikut tertawa bersama Hasna menanggapi pertanyaan lucu itu.
"Kak Ahsan sama Kak Hasna itu teman, sama seperti dengan Kak Raka, Kak Ardi dan kakak-kakak yang lain," jawab Ahsan kemudian sambil menenangkan kelas yang sempat ribut. Hasna yang berdiri di sebelah Ahsan pun ikut menganggukkan kepalanya. 
Ahsan memulai membagikan selembar kertas latihan buat adik-adik disana. Kelas itu dibagi menjadi tiga kelompok sesuai kemampuan adik-adik disana. Ahsan terlihat menjelaskan materi ke ketiga kelompok itu sementara Hasna membantu Ahsan, ia berkeliling dari satu kelompok ke kelompok lain menanyai kesulitan adik-adiknya lebih dekat.
Setelah adik-adik itu selesai menjawab, Ahsan mengoreksi sementara Hasna diminta Ahsan membantu untuk menangani adik-adiknya setor hafalan bahasa inggris tentang nama-nama buah dan cara mengejanya.
Dengan penuh semangat Hasna melakukan tugasnya. Sesekali ia pun tertawa bersama adik-adik itu yang kadang suka lupa dengan hafalannya atau salah mengeja. Ahsan sesekali mengamati Hasna yang bercanda tawa dengan adik-adik yang baru dikenalnya itu. Senyuman dan tawa lepas Hasna itu membuatnya ikut tersenyum lebar dan Ahsan menyukainya.
Ahsan kemudian membahas jawaban latihan soal yang diberikan secara bergantian untuk ketiga kelompok itu, sementara Hasna lagi-lagi bertindak membantu Ahsan layaknya asisten. 
Waktu di arloji Ahsan menunjukkan pukul 17.15 ketika belajar bahasa inggris hari itu akhirnya selesai. Adik-adik itu berhamburan pulang setelah mencium tangan Ahsan dan Hasna.
Ahsan bergegas merapikan buku dan kamus bahasa inggrisnya, sementara Hasna pun memutuskan untuk membantu menghapus papan tulis sembari menunggu Ahsan. Ahsan kemudian melipat tikar bersama Hasna. Setelah semuanya rapi, mereka pun beranjak pulang menyusuri jalan yang sama dengan ketika mereka datang tadi.
Beberapa jalanan di gang terlihat sedikit tergenang. Hujan sempat mengguyur daerah itu ketika mereka sedang berada di tengah pelajaran.
Ahsan menoleh ke Hasna. Perempuan itu terlihat santai  menikmati perjalanannya sambil mengamati pemukiman yang super rapat di bantaran rel itu meski sesekali dia terlihat berjingkat menghindari genangan air agar sepatunya tidak basah.
"Kamu tidak apa-apa dengan kondisi di sekitar kelas yang seperti ini, kalo hujan becek kalo panas berdebu?" tanya Ahsan.
Hasna balas menoleh ke Ahsan sambil tersenyum, ia menggelengkan kepalanya. "Gapapa, San. Memang seperti ini fenomena di daerah perkotaan kita yang masih menjadi PeEr bersama buat dicari solusinya". 
Ahsan balas tersenyum lebar sambil mengangguk. "Kamu nggak risih dengan semua ketebatasan yang ada di lingkungan kelas kita, Na?" tanya Ahsan lagi. Ahsan seolah ingin meyakinkan hatinya yang memercayai ketulusan perempuan itu.
Hasna tertawa kecil lagi-lagi menggelengkan kepalanya. "Bukannya itu salah satu tantangan voluntarisme, San. Kita ingin mereka yang hidup dengan lingkungan penuh keterbatasan memiliki keberanian untuk menjadi lebih baik". Ahsan pun mengangguk setuju. Lagi-lagi Ahsan dan Hasna tertawa bersama.
Setelah sampai di stasiun, Ahsan dan Hasna berpisah. Mereka naik KRL yang berlainan arah.
"Sampai jumpa hari Rabu, Hasna," ujar Ahsan sambil tersenyum lebar.
"Insyaa Allah, San. Sampai bertemu lagi, balas Hasna tersenyum lebih lebar. Setelah saling berbalas salam, Hasna bergegas berlari buru-buru masuk kedalam KRL yang baru datang sementara Ahsan memandangi Hasna yang berlarian itu sambil menunggu kereta yang dinaiki Hasna berangkat dan ia bisa menyeberang di jalur KRL yang akan dinaikinya.

PART 3 Bertemu Lagi
Siang itu, Ahsan sedang asyik menikmati makan siangnya bersama dua teman laki-lakinya di kantin fakultasnya. Mereka larut dalam canda tawa ala ala cowok ketika Ahsan tiba-tiba melihat sosok Hasna masuk ke kantin, mengedarkan pandangannya mencari tempat duduk.  
"Hasna... kenapa dia bisa ada disini?" tanya Ahsan dalam hati tak habis pikir karena fakultas Ahsan dan Hasna memang berbeda.
Ahsan menghampiri Hasna.
"Hasnaaa... kok kamu bisa ada disini?"
Sapaan Ahsan yang tiba-tiba sudah berada di hadapan Hasna dengan senyum ramahnya pun membuat Hasna sedikit tertegun.
"Ahsan..., " ujar Hasna balas tersenyum, "iya kebetulan ada penelitian yang aku cari di perpustakaan fakultas ekonomi". 
"Kamu mau makan siang ya, kalau kamu nggak keberatan, gabung semeja sama aku dan teman-teman yuk," lanjut Ahsan sambil menunjuk kearah tempat duduk dia dan teman-temannya. Kantin fakultas ekonomi terlihat sangat rame siang itu, maklum alarm perut makan siang mahasiwa, pegawai, dan pengunjung fakultas  terjadual di jam yang sama. Hasna menoleh kearah yang ditunjuk oleh Ahsan. Terlihat ada dua mahasiswa laki-laki sebaya Ahsan di tempat duduk yang diperuntukkan buat empat orang itu. Untuk sejenak, Hasna bingung menjawab, ia sekali lagi mengedarkan pandangannya ke sekitar, tetap tak ia temukan satu tempat pun kosong.
"Hasnaaa... ," panggil Ahsan lagi membuat Hasna menoleh pada laki-laki yang baru dijumpainya sekali beberapa hari sebelumnya itu. Hasna tersenyum dan mengangguk, ia pun menerima ajakan Ahsan buat makan semeja siang itu. Hasna berjalan mensejajari Ahsan ketika Hasna merasa ada beberapa pasang mata yang memandang kepadanya dan kebanyakan diantaranya adalah perempuan. 
"Apa ada yang salah ya denganku, ya? Atau ini hanya perasaanku saja?" tanya Hasna dalam hati. 
Hasna berusaha tidak terlalu memikirkannya, sesekali ia beranikan diri balas menatap mereka yang memandanginya. Terlihat perempuan itu sedang berbisik dengan temannya sambil memandangi Hasna dengan aneh kemudian bergantian melihati Ahsan dengan binar kekaguman.
"Apa gara-gara aku jalan bersama Ahsan?" tanya Hasna lagi sambil menunduk ketika suara Ahsan menyadarkan Hasna dari monolognya.
"Kita sudah sampai, Hasna. Ayo duduk," terlihat Ahsan sedang tersenyum ramah menyilahkan Hasna duduk di sebelahnya.
"Terima kasih".
Ahsan langsung mengenalkan Hasna kepada dua temannya itu. 
"Kamu mau pesan apa, Hasna. Biar aku pesanin," ujar Ahsan lagi menawarkan ke Hasna. 
Hasna tersenyum lebar. "Aku bisa pesan sendiri, San," jawabnya.
"Saat ini aku adalah tuan rumah disini dan kamu adalah tamu, sudah sewajarnya aku membantumu, Na".
Hasna menggelengkan kepalanya sambil mengucapkan terima kasih. "Laki-laki yang cukup perhatian," batin Hasna sembari melirik sejenak ke Ahsan kemudian lagi-lagi tersenyum. Hasna beranjak mengitari stand makanan yang ada di kantin itu.
Ahsan masih memandangi punggung Hasna ketika suara temannya mengagetkannya.
"Ehm ehm... emang siapa sih dia, Bro.. sampe segitunya loe perhatiin dia?"
Ahsan menatap kedua temannya sambil tersenyum. "Volunteer baru yang gabung di project bantaran rel. Dia lagi ambil S2 di jurusan perencanaan perkotaan, tapi dia peduli ke anak kecil. Perasaan biasa aja perhatian aku sama dia, emang ada yang aneh?"
"Loe selalu ramah sih sama semua cewek, tapi gue ngerasanya perhatian loe ke Hasna ga seperti biasa deh. Jangan-jangan selera loe emang cewek yang lebih tua dari loe ya?" tanya teman Ahsan lagi sambil setengah ribut menggoda Ahsan. Ahsan menggelengkan kepalanya pelan sambil menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya, apalagi Hasna pun sudah datang. Ahsan tidak merasa bahwa perhatiannya ke Hasna berlebihan, tapi yang Ahsan tahu dia ingin dan suka melakukannya buat Hasna.
Lima menit kemudian, pesanan makanan Hasna pun datang. Kedua teman Ahsan terlihat cepat-cepat menghabiskan makanan dan minuman mereka, hal itu berlawanan dengan Ahsan yang justru memperlambat kecepatan makannya untuk menemani Hasna. 
"Kita duluan ya, San. Mau sholat di musalla," ujar Ardi salah satu teman Ahsan. Tanpa membuang waktu, keduanya langsung berdiri dan mengucap salam ke Ahsan dan Hasna sambil tersenyum. Sementara itu Ahsan hanya bisa bengong sejenak, merasa dikerjain oleh kedua temannya itu, sedangkan Hasna hanya bisa mengangguk dan tersenyum lebar sambil merasa sedikit canggung karena tiba-tiba ditinggalkan semeja berdua dengan Ahsan.
Kini tersisa Ahsan dan Hasna yang duduk berhadapan di meja yang sama. Sejenak mereka membisu tanpa kata, Hasna berkonsentrasi penuh menghabiskan makanannya.
"Habis makan, kamu mau ke perpus atau udah mau pulang, Na?" tanya Ahsan akhirnya memecah kesunyian. 
"Aku baru sampai, San. Berhubung perut sudah laper, jadinya ke kantin dulu baru ke perpus, he he," jawab Hasna sambil tersenyum lebar mencairkan rasa canggungnya. 
Hasna memberitahu Ahsan bahwa ini baru pertama kali dia ingin meminjam atau mencari referensi disana, makanya Hasna serba  meraba-raba kondisi dan lokasi di fakultas tempat Ahsan belajar itu. 
"Kalo kamu ga keberatan, aku bersedia menemani kamu ke perpus siapa tahu ada yang bisa aku bantu," Ahsan menawarkan bantuannya kepada Hasna.
"Emang kamu ga ada kuliah habis ini? Aku ga mau mengganggu aktivitas kamu, San," jawab Hasna.
"Aku senang kalo bisa membantu kamu kok, Na. Aku sama sekali tidak merasa terganggu dan direpotkan. Lagi pula aku ga ada kuliah lagi," sambung Ahsan dengan tersenyum tetap dengan tawarannya. Hasna pun tersenyum, "Kalau memang kamu bersedia, aku terima tawaran kamu. Hmmm lagi pula aku merasa ga berhak melarang kamu berbuat baik," jawab Hasna riang. Hasna terlihat tersenyum super lebar membuat Ahsan ikut tertawa lebar. Senyuman lepas  Hasna seperti medan magnit yang membuat Ahsan ingin ikut tersenyum saat melihatnya. 
Beberapa menit kemudian, Hasna sudah jalan berdua di sebelah Ahsan yang hari itu menjadi pemandu (guide) gratisan buat Hasna menuju ke perpustakaan fakultas. Suasana diantaranya sudah cair sehingga obrolan diantara mereka mengalir dengan sendirinya dengan tema yang sangat acak. Meskipun demikian, lagi-lagi Hasna tidak bisa cuek melihat pandangan beberapa perempuan yang berpapasan dengan mereka, pandangan yang sama ketika Hasna sedang di kantin sebelumnya.
"San... yakin gapapa kita jalan berdua seperti ini?" tanya Hasna tiba-tiba membuat Ahsan menghentikan langkahnya dan menoleh kepadanya dengan raut bertanya-tanya.
Hasna tersenyum lebar, "Dari tadi di kantin dan juga sekarang saat kita berdua, aku melihat banyak mata, kebanyakan perempuan yang memerhatikan ketika aku jalan bareng kamu. Sepertinya aku sedang berjalan dengan salah satu laki-laki yang diidolakan di fakultas ini".
Ahsan balas tersenyum, "Nggak usah terlalu dipikirkan, Na. Mungkin mereka cuma penasaran siapa kamu". 
"Lebih tepatnya penasaran apa hubungan aku dengan kamu kali, San. Siapa perempuan biasa yang dengan santai berjalan dengan laki-laki spesial ini, he he," jawab Hasna santai. Ahsan dan Hasna lagi-lagi saling berbalas senyum. 
"Hmmm... so Ahsan, as one of popular guys here, do you have a special girl friend or some special girl friends maybe? (Ind: Hmmm..., jadi Ahsan, sebagai salah satu cowok populer disini, apa kamu punya seorang teman cewek istimewa atau mungkin beberapa teman cewek istimewa?)" tanya Hasna iseng menggoda Ahsan sambil tertawa kecil. Ahsan balas tertawa entah kenapa ia selalu bersemangat membalas setiap senyuman dan tawa Hasna untuknya. Ahsan kemudian menggelengkan kepalanya saat mata keduanya beradu sejenak. 
"Aku laki-laki yang belum siap berkomitmen dengan perempuan, Hasna. Komitmen buat aku adalah sesuatu yang jauh diawang-awang," jawab Ahsan ringan. Hasna terdiam tetap menatap Ahsan sejenak. Kalimat Ahsan mengingatkan Hasna pada beberapa laki-laki yang pernah dikenalnya, tentang ketakutan mereka akan komitmen, meskipun mungkin definisi komitmen menurut Ahsan dan dirinya sepertinya berbeda. Ahsan dengan usianya yang masih relatif muda darinya mungkin menganggap sekedar pacaran adalah sebuah komitmen, sementara buat Hasna komitmen adalah menjalani sebuah hubungan dengan tujuan yang satu, menuju sebuah ikatan sakral bernama pernikahan terlepas apakah hubungan itu nantinya akan berujung di pernikahan atau sebaliknya. 
"Hasna...," panggil Ahsan terlihat bingung dan sedikit salah tingkah melihat Hasna yang sejenak diam terlihat melamun menatapnya.
Hasna tersadar dan buru-buru tersenyum lebar kepada Ahsan, "Maaf, San tiba-tiba aku merasa familiar dengan kalimat kamu tadi, he he".
"Apa ada yang salah dengan kalimatku?" tanya Ahsan penasaran.
Hasna menggelengkan kepalanya masih dengan senyumnya kemudian ia mengalihkan obrolan bertanya-tanya tentang tempat-tempat yang mereka lalui. Sejenak, Ahsan beberapa kali memandangi Hasna, seolah ingin meyakinkan dirinya bahwa Hasna baik-baik saja, sambil menjawab pertanyaan demi pertanyaan Hasna dengan semangat.
Tak berapa lama kemudian, mereka akhirnya sampai di perpus. Dengan sigap Ahsan membantu Hasna terkait prosedur administrasi di perpustakaan fakultasnya itu. 
"Oh iya, Na... aku mau sholat dulu di mushalla atas, apa kamu juga mau sholat?" tanya Ahsan sambil tersenyum lebar ke Hasna. Hasna pun mengangguk dan mengikuti Ahsan ke ruang sholat.
Ruang sholat terlihat sepi, hanya beberapa orang terlihat baru menyelesaikan sholatnya. 
Hasna baru menyelesaikan wudlunya dan mengeluarkan mukena dari tasnya ketika Ahsan yang ada di depannya menoleh padanya. "Kita sholat berjamaah yuk, Na," ujarnya sambil tersenyum. Hasna pun menganggukkan kepalanya dan segera memasang mukenanya, tak ingin membuat Ahsan lebih lama menunggunya. Ini kali pertama Hasna diajak sholat berjamaah berdua oleh seorang laki-laki, itu sebabnya Hasna sempat tertegun saat Ahsan mengatakannya. Seusai sholat, keduanya pun langsung mencari referensi yang Hasna cari. Ahsan dengan semangat membantu dan setia menemani Hasna. 
Waktu menunjukkan pukul 15.30 ketika Ahsan dan Hasna keluar dari perpustakaan.
"Terima kasih banyak ya San sudah baik banget menemani aku di perpus hari ini. Semoga menjadi amal baik buat kamu, ya, " ucap Hasna tersenyum lebar. 
"Sama-sama, Na. Aamiin". Ahsan dan Hasna berpisah, Ahsan menuju tempat parkir mobilnya, sedangkan Hasna bergegas berjalan ke pintu keluar. 
Hasna sedang berjalan kaki menuju stasiun kereta terdekat ketika sebuah mobil berhenti di sebelahnya.
"Hasna...,  mau bareng nggak? Kamu mau kemana?" Suara Ahsan itupun menghentikan langkah Hasna.
"Terima kasih banyak, San. Aku mau ke stasiun dekat sini, jadi aku jalan saja. Itung-itung mengurangi emisi gas karbon akibat kendaraan bermotor he he (catatan: emisi gas karbon adalah semacam polusi udara akibat produksi karbon dioksida bisa dari bahan bakar kendaraan bermotor, manusia, asap pabrik, dll)," tolak Hasna halus sambil tertawa kecil. Ahsan tergelak mendengar jawaban Hasna itu sambil menganggukkan kepalanya.
"Hmmm aku sependapat dengan ide kamu itu, Na. Tapi emisi karbon yang kamu keluarkan saat jalan akan lebih banyak sepertinya daripada kalau kamu setuju bareng aku naik mobil. Satu mobil satu emisi karbon kendaraan bermotor kan berapa pun penumpangnya," ujar Ahsan sambil tersenyum lebar mencoba berargumen dengan Hasna.
Hasna terlihat berpikir sejenak. Kemudian balas tersenyum lebar sambil menganggukkan kepalanya. "Kamu benar...". Hasna pun bergegas masuk ke mobil Ahsan dan duduk di sebelah Ahsan. Terlihat Ahsan puas dan berwajah riang karena kali ini dirinya memenangkan adu pendapat dengan Hasna. 
"Oh iya, Na. Tentang komitmen yang tadi kita obrolkan menuju perpus, aku minta maaf kalau kalimatku ada yang tidak berkenan atau mengganggu hati kamu," ujar Ahsan langsung membuka percakapan. Hasna menoleh ke Ahsan dengan sedikit tertegun karena tidak menyangka Ahsan masih mengingat-ingat obrolan itu. 
"Ga ada yang perlu dimaafkan, San. Kalimat kamu tadi cuma mengingatkan aku tentang beberapa laki-laki yang sempat dekat dan takut memiliki komitmen. Tapi aku sadar, arti komitmen buat kamu dan buat aku pasti beda, kamu masih terlalu muda". Hasna kemudian menjelaskan arti komitmen buat dia, begitupun Ahsan, dan arti tersebut menurut keduanya memang sesuai dugaan Hasna sebelumnya saat mereka sedang menuju perpustakaan. Apa yang dipikirkan Ahsan berbeda dengan apa yang dipikirkan Hasna tentang komitmen.
Ahsan sengaja mengemudikan mobilnya agak pelan karena memang jarak stasiun yang dituju Hasna tidak terlalu jauh. 
Beberapa kali, Ahsan melirik Hasna dari balik kaca spionnya. Hasna terlihat tersenyum lebar kepadanya.
"Aku yakin, kamu pasti akan menemukan laki-laki yang berani berkomitmen menuju pernikahan dengan kamu, Hasna. Tuhan menyiapkan laki-laki untuk kamu tunggu dengan sabar, Na," lanjut Ahsan sambil tersenyum lebih lebar membalas Hasna. Hasna menganggukkan kepalanya sambil mengamini kalimat Ahsan itu.
"Seperti saat blue moon menemani purnama agar tidak sendirian di bulan yang sama, aku yakin di saat yang tepat nanti seseorang istimewa itu akan datang menemani aku," sambung Hasna terdengar optimis. Ahsan menoleh sejenak kepada Hasna. Ia tertegun saat Hasna mengaitkan obrolan mereka dengan blue moon, salah satu fenomena alam yang sangat  disukai dan punya arti istimewa bagi Ahsan.
"Tapi pastinya bukan tentang blue moon yang datang sekali kemudian perlu waktu panjang untuk bisa melihatnya lagi kan Na. Cuma saat momen satu blue moon itu hadir kan?" tanya Ahsan setengah menggoda Hasna.
Hasna pun tertawa lepas sambil mengangguk. "Intinya bersabar menunggu waktu yang tepat itu tiba, he he. Mungkin waktu itu sangat langka di hidup seperti hadirnya blue moon, tapi waktu itu pasti tiba".
Ahsan dan Hasna kembali berbagi senyum sambil menganggukkan kepalanya tanda mereka sependapat.
"Meski kamu lebih muda dari aku, tapi ada kalanya aku merasa  kita tidak berjarak secara pemikiran. Kamu bisa mengimbangi aku saat kita ngobrol begini," ucap Hasna sambil tertawa kecil. 
"Kebetulan lagi kambuh sok bijaknya, Na," jawab Ahsan balas tertawa lepas. 
Tanpa sadar, mobil Ahsan sudah berada di dekat stasiun yang Hasna tuju.
Setelah mengucapkan terima kasih, Hasna bergegas keluar dari mobil Ahsan.
"Sampai jumpa hari Rabu, Hasna," ujar Ahsan. Hasna mengangguk dan mereka pun saling berbalas senyum. Setelah saling berbalas salam, Hasna pun bergegas berlari masuk ke dalam stasiun karena kereta yang akan dinaikinya akan segera datang.
Dari kejauhan Ahsan terlihat mengamati gerak gerik Hasna hingga bayangan perempuan itu menghilang. Tiba-tiba ucapan Hasna tentang mengurangi emisi karbon itu kembali muncul di pikirannya. Alasan Hasna itu masuk akal dan Ahsan juga sudah membaca dan mendengar tentang ide perlunya pengurangan emisi karbon itu baik di internet, media massa, dan dari beberapa dosen di kampusnya. Namun, karena Ahsan sudah terbiasa naik kendaraan bermotor pribadi kemana-mana, selama ini dia membuat pengecualian buat dirinya. 
Ahsan tersenyum menertawai dirinya sendiri. Ia bertekad akan lebih banyak naik alat  tranportasi umum mulai besok untuk mengurangi emisi karbon kendaraan bermotor. Bukankah kebaikan dan hal positif dimulai dari hal-hal yang kecil yang diri sendiri lakukan?

Hadirmu membuatku mengingat hal-hal yang terlupa. Hadirmu mengundang senyum dan tawa semakin akrab denganku. Hadirmu memberi warna yang berbeda... .

Part Setelahnya

Rabu, 30 Desember 2015

Konstelasi Hati Bintang Buat Ara: Part 5 Bintang Mengenal Konstelasi Bernama Ara - Pertemuan

Part Sebelumnya

Ara masih memandangi Bintang yang terpejam. Dia melangkah lebih dekat lagi dengan Bintang, memayungi tubuh Bintang dari hujan. Ragu, dia menepuk bahu Bintang, membangunkannya. Bintang perlahan terbangun dari tidurnya ketika  ia mendengar suara Ara, "Kenapa kamu tidur dan bermandi hujan disini, Bin?"
Bintang menoleh ke asal suara. "Aaa.. Araa... aku sedang tidak bermimpi kan?" tanya Bintang mencubit pipinya sendiri sambil memandang lekat perempuan dihadapannya yang berdiri memayunginya. Ara tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Kamu tidak bermimpi, Bintang. Ini aku, Ara. Justru aku yang bermimpi kamu sedang ada di danau ini dan aku berharap itu hanya mimpi. Ternyata kamu beneran ada disini, hujan-hujanan pula". Ara terdiam, ia tersadar bahwa Bintang dan dirinya hanya dua orang asing. 
"Kamu mimpiin aku disini, Ra? Karena itu kamu datang?" tanya Bintang masih menatap Ara seolah ingin meyakinkan dirinya bahwa sosok di hadapannya itu nyata.
Ara mengangguk, "Aku mendengarnya Bintang, kamu menunggu aku disini. Itu sebabnya aku datang". Ara menghindari tatapan Bintang kepadanya. Ara duduk di sebelah Bintang, tetap berusaha berjarak dengan laki-laki asing itu, meminta Bintang memegangi payung yang dipegang Ara sementara Ara mengeluarkan handuk dan jaket dari tas ranselnya. 
"Cepat keringkan badan dan muka kamu yang basah, Bintang," pinta Ara sambil mengambil alih memegangi payung yang menaungi mereka berdua dari tangan Bintang sambil menyodorkan jaket dan handuk itu ke Bintang. "Maaf, aku cuma punya jaket sporty ini, semoga bisa sedikit menghangatkan tubuh kamu," lanjut Ara lagi. Bintang mengikuti perkataan Ara sambil tetap memandangi Ara. "Makasih banyak, Ara. Maaf merepotkan kamu lewat mimpi. Aku masih setengah percaya dengan apa yang terjadi diantara kita".
Ara hanya tersenyum melihati Bintang yang mengelap muka dan pakaiannya yang basah dan memakai jaket milik Ara. Bintang tampak kedinginan, terlihat bibir yang pucat itu tampak gemetar. 
"Kamu masih kedinginan, Bintang?" tanya Ara. Bintang hanya tersenyum mengambil alih memegangi payung itu lagi dari tangan Ara. Ara membuka jaketnya, "Kamu bisa pakai jaket ini biar lebih hangat," sambung Ara menyerahkan jaket yang dipakainya ke Bintang. Bintang menggelengkan kepalanya. 
"Aku tidak apa-apa, Ra. Kamu pakai kembali jaket kamu biar kamu nggak kedinginan, Ra," ujar Bintang tersenyum sambil menganggukkan kepalanya ke Ara.
Ara bergegas memakai kembali jaketnya, "Kamu kedinginan Bintang, kamu butuh sesuatu yang hangat. Kita makan ronde disana, yuk. Jahe bisa menghangatkan tubuh kamu yang kedinginan, Bin," ujar Ara sambil menunjuk kearah penjual ronde yang tadi dilewatinya saat mencari Bintang.
Lagi-lagi Bintang hanya mengikuti perkataan Ara. Mereka berjalan beriringan menuju tempat tukang ronde. Sebenarnya ada banyak kata dan pertanyaan yang ingin Bintang ucapkan ke perempuan asing yang dicarinya beberapa hari terakhir ini, tapi semuanya tertahan ketika ia melihat Ara yang sibuk mengkhawatirkan dirinya yang kedinginan. Bintang hanya beberapa kali larut memandangi perempuan di sebelahnya itu, seolah masih ingin meyakinkan bahwa Ara benar-benar nyata. 
10 menit kemudian, keduanya sudah berteduh di dekat tukang ronde. Ara dengan sigap langsung memesan dua mangkok ronde buat dirinya dan Bintang kemudian menyantap ronde hangat itu dengan mengambil tempat duduk di sebelah Bintang. 
"Maaf sudah membuatmu ikut khawatir, Ra. Aku baik-baik saja, cuma sedikit kedinginan saja karena tadi ga sengaja tertidur di taman dalam hujan".
Ara hanya tersenyum sambil menikmati rondenya. 
"Aku senang akhirnya aku bisa bertemu kamu, Ra," lanjut Bintang lagi. Ara masih terdiam, tiba-tiba dia menjadi canggung terhadap laki-laki asing yang kini duduk di sebelahnya itu. Biasanya ia melihat laki-laki itu di dalam mimpinya. Tiba-tiba Ara teringat nasihat Lintang agar dirinya tidak berhubungan dengan Bintang.
"Apa benar kamu mengetahui keadaan aku sekarang lewat mimpi, Ra?" tanya Bintang mengejutkan Ara yang larut dalam pikirannya sendiri. 
Ara menoleh ke laki-laki di sebelahnya itu dan mengangguk pelan sambil tersenyum. Tiba-tiba saja ia menyadari ucapan Lintang yang mengatakan bahwa Bintang itu laki-laki yang tampan. Ara baru benar-benar menyadarinya saat ia berhadapan dengan Bintang cukup dekat.
"Ingat Ara, jaga hati dan pandangan," tiba-tiba suara hati Ara menyadarkannya. Ara menggeser tempat duduknya agak jauh dari Bintang dan hal itu membuat Bintang merasa heran. "Kenapa, Ra? Kamu takut berdekatan denganku?" tanya Bintang.
"Engg, enggak kok Bin. Oh ya, bagaimana kondisi teman kamu... ehhmmm mmm Riii... Rino ya? Apa sudah membaik?" Ara balik bertanya untuk mengurangi rasa canggungnya sembari tersenyum ke Bintang.
Bintang balas tersenyum, "Rion, Alhamdulillaah kondisi Rion sudah jauh lebih baik. Papa dan Mama Rion memutuskan membawa Rion ke rumah sakit yang dekat dengan tempat tinggal mereka. Aku benar-benar berterima kasih kamu mendonorkan darah kamu buat Rion. Itu sangat berarti, Ra, buat Rion dan buat aku juga". 
"Aku cuma melakukan apa yang bisa aku lakukan, Bin. Kebetulan golongan darah aku sama dengan Rion. Kamu memberitahu aku dengan jelas didalam mimpi".
Bintang tersenyum makin lebar memandangi Ara membuat Ara jadi salah tingkah meski di dalam hatinya Ara merasa bahagia melihat wajah laki-laki dalam mimpinya itu beberapa kali dipenuhi dengan senyuman dan tawa, meski dari gurat wajah dan bahasa tubuhnya, laki-laki itu sedang kedinginan. 
"Sepertinya kita dipertemukan dan dipertautkan lewat mimpi, ya Ra. Jujur aku sendiri sulit untuk mempercayainya. Tapi melihat kamu datang di hadapanku sekarang, kamu mendonorkan darah kamu buat Rion padahal kita tidak saling mengenal, aku perlahan mempercayainya bahwa ini nyata".
Ara masih tersenyum memandangi Bintang. "Jujur, aku masih bingung mengartikan mimpi demi mimpi aku tentang kamu, Bintang. Hampir di semua mimpi itu, aku melihat wajah kamu yang terbalut sedih, Bin dan aku tidak tahu apa sebabnya. Bukan kali ini saja aku melihat kamu tertidur dalam hujan, beberapa minggu lalu aku bermimpi melihat kamu tertidur di sebuah balkon semacam apartemen, kamu pun tertidur dalam hujan. Apa itu hanya mimpi atau memang benar-benar terjadi, Bin?"
Bintang tertegun menatap Ara tanpa sepatah kalimat yang keluar dari mulutnya. Bintang tidak menyangka Ara pun memimpikannya saat itu, saat dimana suara Ara sempat ia dengar dalam mimpinya. 
"Sebenarnya apa yang membuat kamu sedih, Bin? Apa ada yang bisa aku lakukan untuk membantu kamu?" tanya Ara meski kemudian ia akhirnya meminta maaf ke Bintang karena merasa menyesal mengatakannya. Ara merasa lancang menanyakannya padahal dirinya baru mengenal Bintang.
Bintang tersenyum ke Ara, "Aku baik-baik saja, Ra... Maaf sudah membuat kamu bermimpi buruk gara-gara aku, ya. Mungkin aku terlalu lelah aja dengan kerjaan yang padat banget akhir-akhir ini. Maaf ya.... ". Ara tersenyum tipis sejenak kearah Bintang kemudian mengalihkan pandangannya kearah lain. Sementara itu Bintang masih tetap tidak melepaskan pandangannya ke perempuan bernama Ara yang duduk disebelahnya itu. Bintang merasa bahwa Ara tidak mempercayai ucapannya barusan tapi Ara juga tidak ingin membahas dan memaksa Bintang untuk bercerita.
"Maaf kalau aku belum bisa bercerita lebih jauh tentang aku ke kamu, Ra. Aku....".
Ara kembali menoleh kepada Bintang sembari tersenyum manis, "Aku mengerti Bintang dan aku tidak akan memaksa kamu. Hmmm, tapi ada satu hal yang aku bisa paksakan ke kamu sekarang. Ayo kita makan, Bin. Biar badan kamu yang kedinginan itu ga sampai sakit. Yukkk". Ara bergegas berdiri, mengambil mangkok ronde di tangan Bintang yang sudah tidak berisi dan mengembalikannya kepada penjualnya. Bintang hanya mengamati Ara dan mengikuti Ara yang sedang membuka payungnya kembali. "Kamu mau makan apa, Bin?" tanya Ara ke Bintang. 
"Apa saja sih, Ra yang panas-panas. Tapi.... perut aku berasa nggak enak banget, Ra. Sepertinya aku masuk angin. Aku takut kalau dipaksa masuk makanan, takutnya keluar lagi," jawab Bintang balas tersenyum tipis ke Ara.
Ara memandangi Bintang sejenak, "Kalau begitu kamu tunggu disini sebentar, ya Bin. Aku ke warung di depan sana sebentar buat beli tolak angin buat kamu. Soalnya kamu harus makan, Bin. Tunggu sebentar dan jangan hujan-hujanan lagi," ujar Ara langsung berlari di tengah hujan. Bahkan Bintang yang ingin menahan Ara untuk tidak pergi pun tak sempat mencegah Ara. Bintang hanya bisa melihat Ara yang berlari kecil dengan payungnya di tengah rintik hujan malam itu. 
"Kenapa kamu begitu mencemaskan aku, Ra? Bahkan kita baru saja kenal," ujar Bintang dalam hati.
Di tempat lain, Ara pun merasa heran dengan dirinya sendiri kenapa ia begitu peduli dengan Bintang. Apa yang dilakukannya seolah refleks dilakukannya tanpa sempat berpikir terlebih dahulu. "Bagaimana kalau Bintang menyangka aku suka sama dia? Apa mungkin aku suka sama Bintang gara-gara mimpi?" tanya Ara dalam hatinya sembari mengelengkan kepalanya pelan kemudian agar pikirannya tidak berkembang tanpa arah dan kejelasan.
Tak sampai sepuluh menit kemudian, Ara sudah ada di hadapan Bintang, menyodorkan sekotak tolak angin buat Bintang. 
"Kamu segera minum satu bungkus, Bin biar perut kamu enakan dan kamu bisa makan. Sisanya, kamu simpan siapa tahu kamu memerlukannya lagi nanti," ucap Ara sambil tersenyum ke Bintang yang memandanginya. Terlihat nafas Ara sedikit terengah-engah setelah berlari. 
"Terima kasih, Ra. Tapi kamu tidak perlu mencemaskan aku seperti ini. Aku laki-laki, aku yang seharusnya menjadi sosok pelindung, bukan yang dilindungi. Kamu tidak perlu membelikanku obat atau tolak angin, aku bisa membelinya sendiri," jelas Bintang sambil meneguk sebungkus tolak angin. 
Ara pun terdiam menatap Bintang dengan rasa bersalah. "Maaf Bin kalau aku lagi-lagi lancang dan sok perduli. Maaf kalau aku membuat kamu tersinggung," ujar Ara pelan. Menyadari raut wajah Ara berubah gara-gara kalimatnya barusan pun membuat Bintang merasa menyesal dan bersalah kepada perempuan di depannya yang selalu hadir berusaha menghiburnya itu. Bintang merasa egois kepada Ara, menyalahkan Ara padahal Ara hanya berusaha peduli kepadanya. 
Bintang mengambil handphone dari sakunya dan menyodorkan earphonenya ke Ara. "Coba kamu dengar sejenak lagu ini, Ra...," ucapnya pelan kepada Ara yang masih menundukkan wajahnya. Ara menatap Bintang dengan raut bertanya yang dibalas Bintang tersenyum sambil menganggukkan kepalanya meminta Ara mengabulkan permintaannya itu. Dengan ragu, Ara memasang earphone yang terhubung dengan handphone Bintang di telinganya. Ara pun langsung tersenyum kembali seketika itu saat mendengarnya, membuat Bintang yang melihatnya pun merasa lega dan tersenyum lebih lebar lagi. "Aku selalu teringat wajah kamu yang ceria dan penuh dengan senyum tawa saat kamu menyanyikan lagu Bintang Kecil yang aku request saat itu. Dan aku mau melihat kamu selalu tersenyum seperti saat itu". Ara hanya tersenyum menatap Bintang sejenak. 
"Aku sudah sering merepotkan kamu melihat wajahku yang tanpa senyuman di dalam mimpi, tapi kamu selalu tersenyum menghibur aku. Tidak seharusnya aku menghilangkan senyuman di wajah kamu. Maaf untuk kalimatku tadi yang terkesan egois memikirkan diri sendiri dan tidak memikirkan perasaan kamu, Ra," sambung Bintang lagi.
Ara melepaskan earphone milik Bintang dari telinganya dan mengembalikannya ke Bintang," Kamu tidak perlu minta maaf Bintang. Wajar naluri seorang laki-laki tidak ingin terlihat lemah apalagi di depan perempuan, perempuan asing pula. Maaf kalau rasa peduliku terlalu berlebihan dan mengusik naluri kamu sebagai laki-laki," jawab Ara.
Bintang tersenyum lebar kearah Ara. "Aku akui itu naluri laki-laki yang ingin terlihat kuat dan bisa diandalkan terutama di mata perempuan. Tapi aku menyadari sesuatu, Ra. Lewat mimpi-mimpi yang menghubungkan kita, Tuhan mungkin ingin mengingatkan aku, sekuat apa pun laki-laki, dia butuh teman untuk berbagi. Dalam hal ini, Tuhan hadirkan kamu untuk bisa melihat sisi lemah aku. Tuhan hadirkan kamu buat menghiburku dan membuatku bisa tersenyum lagi. Aku sangat berterima kasih, Ara. Terima kasih karena kamu mau bersusah payah menemani aku dan membantu aku tersenyum lagi". 
Ara hanya memandangi Bintang yang masih tersenyum menatapnya. Ucapan Bintang barusan membuat Ara bingung untuk berkata-kata. Ara hanya bisa membalas senyuman Bintang dengan senyumannya yang tak kalah lebar, sembari bersusah payah berusaha menetralkan hatinya yang tiba-tiba merasa berbunga-bunga saat itu. Ada bisikan di hati Ara yang mengingatkannya untuk tetap menjaga hatinya lebih hati-hati tentang Bintang.
"Jadi kita makan, Ra?" tanya Bintang menyadarkan Ara dari dialog hatinya. Ara pun mengangguk, dengan sepayung berdua dan berjalan kaki, mereka berdua pun bergegas masuk ke salah satu tempat makan yang ada di sekitar taman itu.

Bintang dan Ara pun duduk berhadapan sambil menunggu pesanan mereka datang. Sejenak Ara melihati handphonenya, seolah ingin menyamarkan rasa canggungnya di hadapan Bintang. Sementara itu, Bintang masih saja tetap asyik menatap Ara. Ada banyak tanya dan kalimat yang ingin dia perbincangkan dengan Ara tapi seolah ia bingung memulainya dari mana.
"Oh iya, Ra. Aku benar-benar minta maaf sudah membuat Lintang merasa ga nyaman gara-gara teman aku yang tiba-tiba datang dan salah paham di kafe kemarin," ujar Bintang memulai lagi percakapan.
"Teman? Bukannya dia cewek kamu, Bin?" Ara balas bertanya sambil tersenyum ke Bintang.
"Kami sudah putus semalam, Ra," jawab Bintang pelan dengan senyum tertahan.
"Putus?"
Bintang mengangguk membalas Ara yang sedang menatapnya dengan ekpresi penuh tanya dan setengah terkejut. Bintang pun tersenyum lebih lebar. "Kamu tenang aja, Ra. Keputusan aku memutuskan Zetta, nama cewek itu, tidak ada hubungannya dengan kamu atau Lintang, Ra, " sambung Bintang berusaha menjelaskan ke Ara, "aku memutuskan Zetta karena aku tidak ingin membuat dia menangis karena aku lagi. Meski aku tidak berniat membuatnya menangis, tapi aku juga tidak bisa mencegahnya menangis karena aku. Aku benar-benar laki-laki yang payah, ya Ra...". Bintang tertawa kecil terdengar menertawakan diri sendiri, Ara menatap Bintang sambil tersenyum tipis. 
"Aku juga sudah membuat Lintang merasa tidak nyaman gara-gara aku ingin bertemu kamu sampai-sampai dia mencegah aku untuk bisa bertemu kamu karena takut kamu terluka karena aku. Apa Lintang tidak mencegah kamu juga, Ra agar tidak menemui aku?" tanya Bintang lagi. Ara tersenyum kepada Bintang.
"Lintang memang meminta aku untuk tidak menemui kamu dan tidak memedulikan apapun terkait kamu lagi, Bin. Bahkan dia berusaha mendekatkan aku dengan seorang laki-laki karena dia takut aku tetap peduli ke kamu dan kamu akan menyakiti aku," lanjut Ara sambil tertawa kecil mengingat apa yang dilakukan sahabatnya itu."Tapi aku percaya Lintang melakukannya karena dia sayang sama aku". 
Bintang memandangi Ara yang sedang tersenyum lebar di hadapannya.
"Hmmm mungkin Lintang benar, Ra. Mungkin seharusnya kamu tidak datang menemuiku disini. Aku sudah menyusahkan kamu karena membagi mimpi yang tidak menyenangkan itu ke kamu. Seharusnya aku tidak boleh lebih merepotkan kamu lagi di dunia nyata".
Bintang terlihat tertawa kecil kemudian tersenyum ke Ara. Ara bisa melihat ada yang tertahan dan tidak bisa terungkapkan oleh Bintang kepadanya.
"Kamu menunggu aku disini, jadi aku sudah seharusnya datang, Bin".
Lagi-lagi mereka saling berbalas senyum satu sama lain.
"Yaaa.. aku memang menunggu kamu dan ingin bertemu kamu, Ra, tapi kamu bisa saja mengabaikannya Ra, menganggapnya hanya mimpi yang numpang lewat saja. Maaf ya, Ra karena aku egois ingin bertemu kamu dan mungkin akhirnya memaksa kamu lewat mimpi untuk datang kesini".
Ara tersenyum lebar kearah Bintang yang terlihat tersenyum dengan raut menyesal. 
"Aku datang karena aku memang ingin datang, Bin. Kamu tidak memaksa aku. Aku harus datang menemui kamu karena aku pernah berjanji ke kamu di mimpi-mimpi awal tentang kamu, aku ingin membantu kamu untuk tidak bersedih lagi. Meski aku juga menyadari aku tidak berhak memaksa kamu untuk berbagi cerita denganku di dunia nyata kita yang hanya dua orang baru mengenal ini". Bintang tersenyum lebar mendengar ucapan Ara. Meski Bintang baru bertemu dan mengenal Ara, Bintang merasa nyaman bersama Ara. Bintang bisa lebih melihat ketulusan Ara melalui senyuman-senyuman yang Ara bagi kepadanya selama mereka bertemu.
"Bagaimana kalau aku ternyata akan menyakiti kamu seperti yang sudah aku lakukan ke Zetta dan Lintang, Ra? Apa kamu tidak takut aku menyakitimu?"
Ara menatap Bintang sejenak.
"Aku tidak takut Bintang, aku percaya kamu tidak punya niat untuk menyakitiku atau juga orang lain. Kamu cuma perlu seseorang menemani kamu buat tersenyum lagi," jawab Ara sambil tersenyum tulus ke Bintang seolah ia ingin meyakinkan laki-laki didepannya bahwa dia mempercayai Bintang.
"Terima kasih banyak, Ara," kali ini Bintang tertawa kearah Ara dengan penuh semangat membuat Ara pun ikut tertawa.
"Kamu harus lebih banyak tertawa dan tersenyum lepas seperti ini, Bintang. Aku merasa lega dan ikut terbawa bahagia melihatnya". Bintang pun mengangguk dan keduanya larut berbagi tawa sejenak ketika kemudian makanan mereka datang.
Untuk beberapa saat Bintang dan Ara asyik menghangatkan perut mereka dengan makanan yang dipesannya. Sesekali terdengar Bintang bertanya tentang pekerjaan Ara dan Ara pun menanyakan sebaliknya. Berusaha tanpa beban dan feel free, Ara dengan semangat menceritakan dunia kerjanya kepada Bintang sehingga Bintang pun tak canggung menceritakan tentang pekerjaannya kepada Ara termasuk tentang rasa jenuh yang menghampirinya akhir-akhir ini diantara tekanan pekerjaannya. Obrolan diantara mereka pun semakin terjalin, mereka mulai berbagi cerita tentang kehidupan masing-masing, termasuk tentang kesukaan dan keluarga mereka. Bintang pun menceritakan tentang neneknya ke Ara, tentang kenangannya bersama neneknya saat dirinya masih kecil termasuk kenangannya dengan lagu Bintang Kecil. 
"Oh iya, Bin. Aku melihat sebuah siluet tentang anak laki-laki kecil dan neneknya tadi saat aku memimpikan kamu. Apa itu kamu dan nenek kamu, Bin?"
Bintang menatap Ara, ia kaget mengetahui Ara juga melihat tentang siluet itu. 
"Iya, Ra. Itu aku dan nenekku. Seperti yang aku bilang tadi, kami suka menyanyi lagu anak-anak sebelum aku tidur atau saat kami bersantai melihat hujan. Nenek aku selalu menyelipkan doanya buat aku. Andai aku tidak lari karena ingin bemain hujan di jalan waktu itu, nenek aku ga akan jatuh saat menyusulku. Nenek aku...," Bintang terdiam, wajahnya berubah murung meski ia berusaha untuk tetap tersenyum.
"Jangan terlalu menyalahkan diri kamu, Bintang. Aku percaya kamu sayang sama nenek kamu dan tidak ada niat sedikit pun membuat beliau jatuh. Aku percaya nenek kamu tidak marah ke kamu, Bintang," ucap Ara pelan sembari tersenyum lembut berusaha menenangkan laki-laki dihadapannya itu.
"Seperti yang kamu bilang sebelumnya, kamu sudah berusaha menjadi laki-laki yang baik seperti yang nenek kamu inginkan. Dan aku yakin, kalau nenek kamu ada saat ini, beliau akan bangga kepadamu, Bintang. Yang terpenting kamu selalu berusaha tetap menjadi orang yang baik,.... ," lanjut Ara dengan senyum lebarnya, menyemangati Bintang yang sedang menatapnya. Bintang tersenyum lebar ke arah Ara dan mengangguk. "I will try Ra...and i'll never give up easily to be the best for her," sambung Bintang. 
Baik Bintang maupun Ara saling membagi senyum satu sama lain untuk beberapa saat. Meski Ara bisa melihat ada sedih yang berusaha Bintang sembunyikan dari wajahnya, Ara ingin Bintang bisa lebih tersenyum lagi. 
Waktu menunjukkan pukul 11.12 malam di arloji Ara, ketika mereka keluar dari tempat makan itu. Hujan sudah berhenti bercanda dengan malam menyisakan dingin bagi para menusia yang masih mendekap malam. 
"Hari sudah malam banget Bin, dan besok aku dan kamu juga harus memulai rutinitas kita dengan semangat yang selalu fresh apapun yang terjadi. Aku pamit pulang, ya Bin. Kamu juga sebaiknya pulang, Bin," ujar Ara masih berdiri di samping Bintang. 
"Aku antar kamu pulang naik motor aku, ya Ra," tawar Bintang sambil tersenyum ke Ara. 
"Terima kasih, Bin tapi aku bisa pulang naik taksi. Lagian aku yakin kamu cuma punya satu helm. Lagipula hawa malam ini juga cukup dingin Bintang, aku nggak mau kamu makin masuk angin gara-gara mengantarkan aku, apalagi setelah kamu tertidur dalam hujan tadi," jawab Ara. Bukan hanya itu alasan Ara sebenarnya menolak tawaran Bintang. Ara tidak bisa menerima tawaran itu juga karena hatinya selalu mengingatkannya untuk tetap menjaga jarak dengan Bintang. Bagaimanapun juga Ara peduli ke Bintang, Bintang tetaplah laki-laki dan Ara perempuan, ada jarak yang harus mereka jaga demi kebaikan keduanya. 
"Kalau begitu biar aku temani dan antar kamu naik taksi sampai kosan kamu ya, Ra. Aku tidak bisa membiarkan kamu pulang sendiri malam-malam begini, Ra. Sudah menjadi tugas aku sebagai laki-laki untuk menjaga kamu sebagai perempuan, aku harus memastikan kamu sampai di kosan kamu dengan baik. Baru setelah itu, aku bisa pulang ke apartemenku. Biar aku titipkan motor aku di penitipan kendaraan di sekitar sini, aku ambil besok pagi". Ara tersenyum mendengarkan perkataan Bintang yang tersenyum lembut tapi tegas kepadanya. Ara mengangguk setuju. 
15 menit kemudian, Ara dan Bintang sudah berada di dalam taksi menuju kosan Ara. Bintang sengaja memilih duduk di sebelah sopir, membiarkan Ara lebih leluasa dan nyaman duduk di kursi belakang. 
Sekali dua kali, Bintang menoleh kearah belakang sambil tersenyum ke Ara, seolah memastikan Ara merasa nyaman disana. 
"Aku baik-baik saja, Bintang. Terima kasih kamu sudah menjaga aku," ujar Ara seolah bisa membaca pikiran Bintang. Lagi-lagi mereka saling bertukar senyum, Bintang kembali mengarahkan pandangannya ke depan. Sementara itu, Ara mengarahkan pandangannya ke sebelah kiri, melihati situasi malam di sepanjang perjalanan. Sesekali ia bisa melihat Bintang yang mencuri pandang mengamatinya dari kaca spion. Bintang seolah ingin lebih mengenali sosok Ara yang hadir menemaninya tanpa pernah ia duga. Tiba-tiba suara ibunya beberapa waktu lalu tentang teman hidup kembali terdengar oleh Bintang. Bintang menggelengkan kepalanya pelan dan tersenyum ke dirinya sendiri. "Kamu baru mengenal Ara, Bintang. Terlalu terburu-buru rasanya untuk mempertanyakan Ara sebagai teman hidup. Lagipula kamu juga baru putus dari Zetta. Ini pasti hanya pikiran aneh sesaat aja," ujar Bintang di dalam hatinya, menasihati diri sendiri.
Kembali bayangan neneknya hadir di hadapan Bintang. Neneknya yang selalu tersenyum kepadanya. Bintang kembali didekap kerinduannya akan neneknya. Bintang pun memasang sebelah earphonenya, mendengarkan kembali suara Ara menyanyikan lagu Bintang Kecil untuk mengurangi kerinduannya saat itu. "Kamu bisa memuaskan kerinduan ke nenek kamu dengan mendoakannya, Bin". Suara Ara menyadarkan Bintang dari lamunannya. Bintang tidak menyangka Ara seolah bisa membaca kerinduannya walau hanya dengan mengamatinya.
Bintang menoleh ke Ara sambil tersenyum lebar dan mengangguk. 
"Kamu benar, Ra. Akhir-akhir ini, jujur aku kangen banget sama nenek aku, kangen doa-doa beliau, nyanyian beliau, senyuman beliau, dan juga belaian sayang beliau," ujar Bintang tertawa kecil. Ada segurat ekspresi rindu berbungkus haru yang berusaha Bintang tahan di matanya.
"Bagaimana kalau kita pergi ke panti jompo, Bin? Kebetulan beberapa bulan yang lalu, aku pernah ikut penelitian kecil, bertempat di sebuah panti jompo tidak jauh dari sini. Kami berbaur dengan para lansia disana. Sekaligus memaknai dan belajar kehangatan bersama mereka disana. Dan aku merasakan kebahagiaan tersendiri saat bersama para lansia itu. Siapa tahu, dengan pergi mengunjungi mereka, kamu bisa sedikit mengobati kangen kamu terhadap nenek kamu," jelas Ara kepada Bintang yang terdiam mendengarkan idenya sambil memandangnya. 
"Panti jompo, Ra?"
Ara mengangguk pelan sambil tersenyum lebar ke Bintang. 
"Iya, kita berkunjung ke panti jompo, ngobrol dengan kakek nenek yang ada disana, membantu merawat mereka, membawakan makanan buat mereka, membantu menghibur mereka selama seharian," sambung Ara dengan penuh semangat.
Bintang masih memandangi Ara yang tampak antusias dengan idenya itu. Ada ragu yang jelas terlihat di wajah Bintang karena dia belum pernah pergi sekalipun ke tempat itu. "Apa kamu yakin kita bisa melakukannya berdua saja, Ra?"
Ara tersenyum memahami kerisauan yang dirasakan Bintang. "Setidaknya berdua jauh lebih baik dibandingkan kesana sendirian, Bin. Lagipula aku kenal dengan nenek yang bertanggung jawab mengelola panti jompo itu, beliau baik banget dan sangat hangat menerima siapa pun yang ingin berkunjung disana. Mengenal beliau, aku seperti mendapatkan satu nenek lagi," ujar Ara lagi berusaha meyakinkan Bintang.
Bintang tersenyum memandangi Ara yang tersenyum lebar penuh semangat itu dan ia pun akhirnya mengangguk menerima tawaran Ara itu. Meski ada ragu di hatinya apakah ia bisa melakukan apa yang dikatakan Ara dengan baik, entah kenapa senyuman dan semangat Ara meyakinkannya untuk ingin melakukannya. Bintang dan Ara pun memutuskan untuk mengunjungi panti jompo itu Sabtu depan saat keduanya sama-sama libur. Selama beberapa menit kemudian, Bintang dan Ara pun larut dalam diskusi ringan mereka terkait rencana mereka itu ketika kemudian taksi yang mereka naiki sudah sampai di depan kosan Ara.
"Terima kasih sudah mengantarkanku sampai depan kosan, Bin," ujar Ara sambil tersenyum lebar.
Bintang menganggukkan kepalanya pelan sembari tertawa kecil, "Sama-sama, Ra, Terima kasih kamu sudah datang menemui dan menemani aku di taman malam ini. Maaf ya sudah membuat kamu jadi khawatir".
Ara balas tertawa kecil melihat Bintang yang tersenyum lebar kepadanya.
"Aku bakal hubungi kamu lagi ya, Ra untuk membicarakan rencana kita ke panti jompo tadi. Selamat istirahat, Ara. Semoga aku tidak menyusahkan kamu lagi lewat mimpi malam ini. Senang bisa mengenal kamu, Ara," sambung Bintang diikuti dengan anggukan Ara. Bintang dan Ara pun tertawa sejenak.
"Aku juga senang mengenal kamu, Bin, apalagi bisa melihat kamu lebih banyak tersenyum malam ini. Hati-hati di jalan dan selamat istirahat juga yaaa. Sampai jumpa Sabtu depan, Bintang".
Setelah saling bertukar senyum dan salam, Ara pun bergegas masuk ke dalam kosannya dan Bintang mengamati Ara hingga Ara benar-benar masuk kedalam rumah, baru kemudian melanjutkan perjalanan pulangnya.


Minggu, 20 Desember 2015

Menyapa Cinta Bersama Bintang Part 2 - Bertaut Dengan Bintang

Part Sebelumnya

  PART 2 : BERTAUT DENGAN BINTANG

Sejenak, tak ada kata terucap diantara ketiganya kecuali Bintang yang berusaha menangkap kupu-kupu yang terbang didekatnya. Andromeda pun tersenyum melihat tingkah Bintang yang lucu dan bersemangat itu meski dalam diam. "Bintaaang, Kak Andro boleh nanya, nggak?"
Bintang menghentikan aktivitasnya dan langsung menatap Andromeda sambil menganggukkan kepalanya dan memamerkan giginya.
"Kenapa Bintang pake kursi roda? Bintang habis jatuh?" lanjut Andromeda.
Bintang menggelengkan kepalanya, "Bintang kurang hati-hati aja, Kak Andro. Papa dan Mama juga Kak Tari sudah sering ngingetin Bintang, lihat-lihat dulu kalau mau nyeberang atau kalo lagi di jalan, tapi Bintang lupa hari itu, habisnya ada layangan jatuh sih. Jadinya ketabrak motor deh, he he," jawab Bintang.
 "Lagian anak perempuan masih aja ngejar layangan putus," sambung Mentari. Bintang menoleh kearah Mentari seraya nyengir. Mentari pun mencubit lembut pipi Bintang seraya tersenyum, sedangkan Andromeda masih tetap cuek ke gadis bernama Mentari itu.
"Sekarang giliran Bintang nanya Kak Andro, kenapa Kak Andro sering duduk sendirian disini? Kak Andro ga punya teman?" tanya Bintang polos disambut tawa Andromeda yang mendengarnya. 
"Bintang, kan tadi Kak Andro sudah jelasin, kadang ada kalanya seseorang itu pingin menyendiri, Kak Tari juga begitu. Bintang ga boleh mudah berprasangka buruk," tegur Mentari lembut. 
"Maaf Kak Tari, tapi Kak Andro terlalu sering Bintang lihat sendiri, nggak pernah ada yang nemenin. Wajah Kak Andro juga sering kelihatan murung, mirip seperti wajah Bintang kalau temen Bintang ga mau main sama Bintang".
Andromeda lagi-lagi tertawa melihat kepolosan Bintang.
"Kak Andro punya teman, tapi Kak Andro ga pernah ngajakin mereka duduk bareng disini karena rumah mereka jauh dari sini," jelas Andromeda.
"Kak Andro kuliah?" tanya Bintang
"Iya Bintang, Kak Andro kuliah, tapi sementara ambil cuti satu tahun".
Bintang menoleh ke Mentari. "Emang kuliah sama seperti kerja ya Kak Tari, dapat jatah cuti seperti Papa Bintang di kantor?"
"Cuti saat kerja dan kuliah itu agak berbeda, Bintang. Kalau Papanya Bintang ambil cuti, itu karena kantor memberi kesempatan buat istirahat setelah Papa Bintang bekerja untuk kantornya. Nah kalo seseorang cuti kuliah, itu artinya dia sedang ada alasan penting sehingga dia nggak bisa kuliah sementara tapi tetap harus bayar uang kuliah, Bintang. Kak Andro pasti punya alasan kenapa cuti kuliah," jawab Mentari berusaha memberi pengertian yang bisa dipahami Bintang.
"Kak Tari benar, Kak Andro cuti kuliah karena Kak Andro sakit dan perlu perawatan," sambung Andromeda tersenyum dengan tingkah Bintang.
Bintang langsung memasang mimik serius. "Kak Andro sakit? Tapi kok kelihatannya sehat-sehat aja. Nggak seperti Bintang diperban di kaki dan pake kursi roda". Andromeda tak bisa menahan tawanya mendengar kepolosan gadis kecil dihadapannya itu.
Mentari yang melihatnya pun ikut tersenyum, laki-laki dingin itu terlihat hangat tiap kali ia tersenyum dan tertawa karena tingkah laku Bintang.
"Memang kamu sakit apa kalau boleh tahu?" tanya Mentari sambil berusaha tetap tersenyum. Ini untuk kali pertama, Andromeda menoleh ke Mentari dan tersenyum tipis kepadanya. Kemudian Andromeda balik menoleh kearah Bintang
"Kak Andro sakit ginjal. Ginjal itu letaknya didalam sini jadi nggak bisa diperban seperti kaki Bintang meskipun lagi sakit," ujar Andro sambil menunjukkan letak ginjal kepada Bintang sembari tertawa kecil ke Bintang yang mengangguk-anggukan kepalanya.
"Hmmm meskipun kita beda sakitnya, Bintang yakin Kak Andro juga pasti sembuh. Kata Kak Tari yang terpenting kita nggak menyerah, berobat dan berdoa. Bintang berdoa semoga Bintang dan Kak Andro sembuhnya barengan, aamiin".
Andromeda pun kembali tersenyum sambil mengaminkan.
"Kak Tari mau kan ikutan mendoakan Kak Andro biar cepat sembuh?" lanjut Bintang lagi.
Mentari tersenyum lebar kepada Bintang, "Iya, Bintang. Kak Tari berdoa semoga Bintang cepat sembuh. Kak Tari juga berdoa semoga Kak Andro segera diangkat penyakitnya. Yang penting, Bintang dan Kak Andro harus tetap semangat buat sembuh, oke," jawab Mentari penuh semangat memandang bergantian kepada Bintang dan Andromeda. Bintang menganggukkan kepalanya tak kalah semangat, sementara Andromeda hanya memandang Mentari sejenak, mengucapkan terima kasih dan kembali tersenyum melihat Bintang.
"Karena Bintang sudah membuat Kak Andro banyak tertawa dan tersenyum lagi, Kak Andro pingin menghadiahkan sesuatu buat Bintang. Bintang mau nggak kalau Kak Andro tangkepin satu kupu-kupu buat Bintang?" tanya Andro penuh semangat dan langsung dijawab teriakan mau dari Bintang sambil tertawa.
Andromeda bergegas berdiri dan mencari kupu-kupu diantara bunga-bunga yang ada di taman itu ketika Andromeda membungkuk memegangi ginjalnya karena  tiba-tiba ginjalnya terasa sakit. Mentari yang curiga pun bergegas menghampirinya. "Apa ginjal kamu sakit?" tanya Mentari. Andromeda menoleh ke Mentari yang ada di sebelahnya. "Aku nggak apa-apa, cuma sakit sedikit aja. Sudah sering seperti ini," jawab Andromeda pelan.
"Wajah kamu terlihat memucat, Dro...," sambung Mentari ikut sedikit membungkukkan badannya. "Aku baik-baik aja, Tari. Tolong kamu pegangin kupu-kupu ini dan berikan ke Bintang ya, aku takut kupu-kupu itu terlepas sebelum diterima Bintang," ujar Andromeda menyerahkan kupu-kupu yang berhasil ditangkapnya. Tangan Andromeda terlihat sedikit gemetar, tapi Mentari tahu Andromeda tidak ingin membahasnya lebih jauh. Mentari pun bergegas menghampiri Bintang sementara Andromeda terlihat berjalan agak pelan menyusulnya.
"Ini kupu-kupu dari Kak Andro buat Bintang," ujar Mentari sambil tersenyum lebar kepada Bintang, "Kak Andro sudah capek-capek menangkap kupu-kupu itu buat Bintang, Bintang jangan lupa bilang terima kasih ya". Bintang mengangguk sambil tersenyum kepada Mentari. Bintang terlihat bahagia memegang kupu-kupu hasil tangkapan Andromeda. Dengan senyuman lebarmya Bintang tak sabar menunggu Andromeda yang sedang berjalan kearahnya.
"Makasih banyak ya Kak Andro, kupu-kupunya cantik banget," ucap Bintang membuat Andromeda ikutan tersenyum.
"Kupu-kupunya cantik secantik Bintang. Karena Bintang udah bikin Kak Andro senyum dan tertawa," sambung Andromeda. Bintang tertawa kecil. "Berarti kupu-kupu ini juga secantik Kak Tari. Karena Kak Tari sudah membuat Bintang kembali tersenyum dan tertawa hari ini. Kak Andro setuju?" ujar Bintang lagi. Andromeda menoleh sejenak ke Mentari, kemudian tersenyum lebar kepada Bintang. "Iya Bintang, kupu-kupu ini cantik, secantik Bintang dan Kak Tari". Mentari tersenyum melihat Bintang yang tersenyum bergantian kepadanya dan Andromeda. "Jadi kupu-kupu cantiknya kapan mau dilepaskan lagi terbang bebas di alam?" tanya Mentari sambil membelai lembut rambut Bintang.
"Seperti yang Kak Tari pernah bilang ke Bintang, kupu-kupu itu indah saat dia dibiarkan terbang bebas. Kupu-kupu cantik, terima kasih sudah mampir yaaa..," ujar Bintang sembari melepaskan kupu-kupu di tangannya. "Aaaahhh....," tiba-tiba terdengar Andromeda setengah berteriak membuat Bintang dan Mentari terkejut. "Kak Andro marah ya karena Bintang melepas kupu-kupu pemberian Kak Andro?" tanya Bintang spontan. "Enggak, Bintang. Kak Andro setuju dengan apa yang dikatakan Kak Tari ke Bintang..., tadi Kak Andro spontan teriak aja kok," jawab Andromeda sambil tersenyum. Mentari bisa melihat, Andromeda menahan sakit itu, wajahnya juga terlihat pucat saat dia tersenyum.
"Yakin kamu baik-baik saja, Dro? Wajah kamu pucat soalnya," ujar Mentari dibalas dengan anggukan kepala oleh Andromeda. "Kak Andro kesakitan, ya?" tanya Bintang ikut khawatir. Andromeda makin melebarkan senyumnya. "Kak Andro baik-baik saja, Bintang. Cuma nyeri sedikit aja, seperti Bintang yang merasa sedikit nyeri di lukanya yang belum benar-benar kering, seperti itu juga Kak Andro merasa sedikit nyeri di ginjalnya. Iya kan, Kak Tari?" jawab Andromeda sambil menoleh dan tersenyum ke Mentari. Bintang pun menoleh ke Mentari seolah menunggu jawaban Mentari. "Iya, Bintang. Kak Andromeda nggak apa-apa, kok. Kak Tari cuma memastikan aja tadi," jawab Mentari sambil tersenyum.
"Oh iya, kalau Kak Andro pingin ketemu Bintang lagi, boleh nggak? Soalnya Kak Andro senang lihat Bintang, Bintang lucu sih bisa bikin Kak Andro tertawa".
Bintang mengangguk sambil tersenyum lebar. "Pasti boleh. Bintang juga seneng lihat Kak Andro sama Kak Tari tertawa bersama Bintang. Gimana kalo kita bertemu di taman ini setiap Senin, Rabu, dan Kamis di jam yang sama, Kak Andro?" tawar Bintang.
"Kalau Kak Andro pingin ketemu tiap hari, memangnya ga bisa?" tanya Andromeda sambil tertawa.
"Kak Tari mengajar Bintang tiga hari itu saja, Kak Andro...," balas Bintang sambil tersenyum kearah Mentari. "Kak Tari mau kan menemui Kak Andro lagi bersama Bintang?" tanya Bintang dengan memasang mimik berharap-harap cemas. Andromeda dan Mentari, yang melihat mimik Bintang, pun saling berpandangan sejenak kemudian sama-sama tertawa.
Waktu pun semakin sore, matahari tinggal menunggu setengah jam lagi sebelum terbenam. Bintang dan Mentari berpamitan pulang. Andromeda melepas keduanya dengan senyum lebar diantara sakit di ginjalnya yang makin terasa meski berusaha ia tahan.
Mentari baru selesai mengantarkan Bintang ke rumahnya ketika ia melewati taman itu lagi menuju jalur angkutan terdekat dan melihat Andromeda masih tidak beranjak dari tempatnya padahal matahari pun sudah terbenam.
"Kamu baik-baik saja, Dro?" tanya Mentari yang memutuskan menghampiri Andromeda karena ia khawatir laki-laki itu kenapa-napa. Sedikit tertegun, Andromeda menoleh keasal suara, terlihat Mentari sudah ada di sebelahnya. Ia masih terdiam menatap Mentari, ekspresinya berusaha menahan sakit.
"Ginjal kamu terasa sakit banget ya?" tanya Mentari lembut dengan raut khawatir. Andromeda mengangguk pelan.
"Dari tadi aku berusaha tahan, tapi malah makin sakit. Aku nggak kuat berdiri, Tari. Bisa tolong panggilkan taksi?" ucap Andromeda lirih.
"Iya aku bakal dapatin taksi secepatnya. Kamu tunggu disini sebentar ya," sambung Mentari. Mentari bergegas menuju jalan raya mencari taksi yang kosong. 15 menit kemudian, Mentari membantu sopir taksi memapah Andromeda kedalam taksi dan menemaninya pulang. Meski wajahnya pucat, Andromeda tetap berusaha tenang dan menahan rasa sakitnya.
"Maaf jadi ngrepotin kamu, Tari. Terima kasih sudah menolong dan menemani aku pulang," ujar Andromeda sambil tersenyum agak lama ke Mentari. Ini kali pertama Andromeda benar-benar tersenyum kepada Mentari. Mentari balas tersenyum. "Aku sama sekali tidak merasa direpotkan, Dro. Kamu sering sakit tiba-tiba seperti ini ketika sedang di taman?"
Andromeda menggelengkan kepalanya pelan. "Dua atau tiga kali mungkin termasuk hari ini. Biasanya meskipun sakit aku masih bisa bawa motor pulang dan dua kali sebelumnya aku ga kuat bawa motor sendiri, tapi aku bawa handphone, jadi bisa menghubungi orang rumah. Tapi hari ini handphone aku tertinggal di kamar, untung ada kamu, Tari. Sekali lagi, makasih ya".
Mentari menganggukkan kepalanya pelan. Andromeda terlihat kesakitan sehingga Mentari memintanya tidak lagi bicara.
20 menit kemudian, mereka akhirnya di rumah Andromeda. Rumah itu cukup besar dan asri, terlihat Andromeda berasal dari keluarga yang sangat berada. Mentari kembali membantu memapah Andromeda berjalan ketika seorang laki-laki tua menghampiri mereka dari dalam rumah dan segera mengambil alih tugas Mentari memapah Andromeda. "Mas Andro kok nggak menghubungi Pak Ahmad kalau ginjalnya sakit lagi seperti ini. Bapak kan bisa jemput," ujar laki-laki tua itu berusaha tetap tenang meskipun jelas terlihat ia mengkhawatirkan Andromeda.
"Iya, Pak maaf, handphone aku tertinggal di kamar," jawab Andromeda pelan tapi berusaha menenangkan laki-laki tua itu.
Terlihat perempuan sebaya dengan laki-laki tua itu membukakan pintu sebuah kamar di rumah itu, sepertinya kamar Andromeda.
"Bu Aisyah, tolong buatin coklat hangat ya buat teman Andro, dia yang bantu mengantarkan Andro pulang. Tolong temani dia ngobrol ya, Bu, " ujar Andro lirih ditanggapi dengan anggukan kepala perempuan tua itu.
Andromeda menoleh sejenak ke Mentari yang hanya bisa mengamati diri Andromeda dan bingung musti berbuat apa untuk membantu Andromeda. "Tari, aku tinggal istirahat di kamar dulu, maaf tidak bisa menemani kamu, sekali lagi terima kasih,"  sambung Andro berusaha tersenyum dibalas Mentari dengan senyuman dan anggukan kepala.
Mentari pun duduk di ruang tamu rumah Andromeda, segelas coklat hangat menemaninya bersama Bu Aisyah. "Makasih banyak ya, Nak Tari, sudah menemani Mas Andro pulang. Tadi kami sudah khawatir setelah Maghrib tapi Mas Andro nggak pulang-pulang, biasanya dia pulang sebelum maghrib. Pak Ahmad sudah mau nyariin, alhamdulillaah ternyata ada yang menolong Mas Andro pulang".
Mentari tersenyum. "Kalau boleh Tari tahu, Bapak dan Ibu siapanya Andromeda?"
"Kami yang membantu di rumah ini, Nak. Nama saya Aisyah dan laki-laki tadi suami saya, namanya Ahmad. Kami sudah lama bekerja dengan ortunya Mas Andro, sejak Mas Andro masih TK. Orang tua dan kakak satu satunya Mas Andro semuanya tinggal di luar negeri karena tuntutan pekerjaan, tapi Mas Andro tetap pingin tinggal dan kuliah di Indonesia. Jadinya, kami yang ditugasi menjaga Mas Andro disini, apalagi sejak Mas Andro sering sakit beberapa bulan ini, jelas Ibu Aisyah kepada Mentari.
"Memang seberapa serius sakit ginjal Andro, Bu?"
"Kedua ginjal Mas Andro sudah tidak berfungsi dengan baik, Nak Tari. Sudah beberapa bulan ini, keluarga Mas Andro mencari donor ginjal buat Mas Andro, tapi belum juga ada yang cocok. Bapak dan ibu Mas Andro pernah menawarkan satu ginjal mereka untuk diperiksa siapa tahu ada yang cocok, tapi Mas Andro dengan tegas menolaknya. Dia mengkhawatirkan kesehatan orang tuanya," lanjut Ibu Aisyah.
Terlihat Pak Ahmad menghampiri ke ruang tamu.
"Bagaimana kondisi Andro sekarang, Pak? Apa dia masih kesakitan? Apa tidak sebaiknya diperiksakan ke dokter, Pak? tanya Mentari spontan dengan cemasnya. Entah mengapa Mentari mencemaskan Andromeda seperti dia mencemaskan Bintang padahal mereka baru saling mengenal. 
"Mas Andro sekarang sudah tertidur. Dia sudah minum obat juga untuk mengurangi rasa sakitnya. Mas Andro bilang nggak mau dipanggilkan dokter, tapi barusan bapak sudah telepon dokter yang merawat sakit Mas Andro, sengaja menunggu Mas Andro tertidur dulu, insyaa Allah beliau datang satu atau dua jam lagi". 
"Kalau begitu, Mentari pamit pulang dulu," ujar Mentari hendak berdiri dari duduknya ketika kertas sketsa milik Andromeda yang tadi sengaja dipungut Mentari saat terjatuh di bangku taman, terjatuh ke lantai. Ada beberapa sketsa mimik wajah disana, Andromeda sengaja membuatnya bertahap lapis demi lapis. Di lapisan paling bawah, terlihat mimik penuh senyuman disana dan sebuah kata "HOPE ?". 
"Biar Pak Ahmad antar Nak Tari pulang ya, tadi Mas Andro berpesan seperti itu," ujar Pak Ahmad membuat Mentari mendongakkan kepalanya dari ketertegunannya sejenak.
Mentari tersenyum kepada kedua suami istri di hadapannya yang sedang tersenyum kepadanya. "Terima kasih banyak tawarannya, tapi saya bisa pulang sendiri. Jam segini angkutan masih ramai. Lagipula Andromeda dan Bu Aisyah membutuhkan Pak Ahmad disini". 
Mentari kembali memandangi kertas sketsa milik Andromeda yang masih ada di tangannya, 
"Pak Ahmad dan Bu Aisyah, apa saya boleh melihat Andro sebentar?" tanya Mentari. Pak Ahmad dan Bu Aisyah pun menyilahkan dan menemani Mentari masuk ke kamar Andromeda. Andromeda terlihat tertidur pulas meski wajahnya terlihat pucat. Melihat Andromeda saat itu, membuat Mentari teringat Bintang. 
"Tiga hari terakhir, Mas Andro sepertinya kurang tidur padahal Dokter bilang menjaga stamina Mas Andro biar tidak drop itu penting. Kami nggak tahu apa yang sedang membuat Mas Andro risau. Makanya kami khawatir saat dia ga kunjung pulang tadi," ujar Pak Ahmad. Mentari duduk di samping ranjang Andromeda, memandangi laki-laki yang sore tadi berbagi senyum tawa bersama Bintang dan dirinya itu lalu menuliskan sesuatu di kertas sketsa Andromeda di lapisan paling akhir alias bawah. 
"Harapan itu selalu ada selama kita tidak pernah menyerah berusaha dan berdoa. Kamu insyaa Allah bisa tersenyum seperti dulu lagi. Seperti hari ini, siapa yang sangka laki-laki yang dingin dan berwajah murung di taman itu akhirnya bisa tersenyum dan tertawa setelah bertemu BINTANG. Di perjalanan pulang, Bintang dengan ceria bilang, dia senang sekali akhirnya bisa melihat senyum dan tawa kamu. Bintang akan selalu menunggu melihat senyum dan tawa kamu lagi dan lagi. See you with your smile again, Dro. BINTANG AND I BELIEVE THAT YOUR HOPE WILL BE TRUE SOON, ANDROMEDA". 
Mentari letakkan kertas sketsa itu dibawah tangan Andromeda yang berada diatas dada Andromeda sembari membetulkan selimut Andromeda. Lalu Mentari pun pamit pulang.
~ Bersambung ~

CAST : Rizzar as Andromeda; Ara as Mentari; X  as Bintang
DOUBLE CAST : Rizky Nazar as Rizzar and Anisa Rahma as Ara

Part Setelahnya