Begitu pun seminggu
setelahnya dimana Riza dan Ana giliran menjalani sidang di hari yang
sama, di waktu yang berurutan karena memang mereka dibimbing oleh dosen
yang sama. Hari itu, Nisa sengaja meluangkan waktunya untuk mendatangi
fakultas ekonomi dengan membawa dua batang coklat. Sebenarnya Nisa tidak
terbiasa memberi coklat seperti itu, terlebih ke Riza, tapi dia ingin
menghargai kebiasaan di lingkungan Riza dan Ana itu. Sebenarnya Nisa pun
awalnya ragu untuk datang dan menunggui Riza sidang, ia merasa hal itu
sedikit berlebihan sebagai perempuan apalagi dia beda fakultas dan
sendirian. Namun, pesan dari Riza sehari sebelumnya berhasil membuat
Nisa memutuskan datang. Bagaimana tidak, Riza memberinya dua pilihan dan
permintaan setengah 'memaksa', yaitu "Nisa boleh tidak datang tapi
artinya dia menerima lamaran Riza untuk menikah dengannya ATAU Nisa
datang ke sidangnya". Ya, laki-laki itu semakin berani mendesak jawaban
'ya' dari Nisa, membuat Nisa semakin sulit melakukan penolakan karena
kegigihannya. Untungnya, jadwal sidang Riza bertepatan setelah sidang
Ana selesai sehingga Nisa merasa punya alasan yang lebih wajar untuk
dirinya datang kesana. Meski demikian, sebait doa untuk kesuksesan dan
kelancaran urusan Riza tak pernah Nisa lupa untuk ia selipkan diantara
doa-doa rutinnya. Terlepas dari jawaban 'tidak'nya, perasaan gadis itu
masih sama untuk Riza.
Pagi itu, Nisa sengaja
berangkat bersama Ana dari tempat kos mereka menuju tempat sidang Ana.
Nisa ingin menemani Ana dan memberikan dukungan moral untuk teman satu
kosannya itu. Waktu menunjukkan pukul 08.25 saat Ana memasuki ruang
sidang skripsinya, hanya ada dua orang teman dekat Ana yang ikut
menunggui di depan ruang sidang selain Nisa. Laki-laki luar biasanya itu
belum datang, ya mungkin karena memang jadwal sidang Riza masih cukup
lama, jam 10.30. Nisa membaca lagi layar chat-nya dengan Riza pagi itu
selepas subuh sambil mengisi waktunya.
"Assalaamualaikum,
Riza... sudah bangun? Akhirnya hari sidang skripsi kamu datang juga.
Semangat ya. Bismillaah pasti bisa.. Fighting aka berjuang Riza! :)".
"Waalaikumsalam
warrahmatullaahi wabarakaatuh. Alhamdulillah sudah bangun dan sedang
latihan presentasi di depan cermin he he. Makasih banyak ya, Nisa... iya
harus semangat! Bismillaah. Deg deg-an juga ngebayangin penguji,
soalnya terkenal killer sih he he. Tolong tetap bantu doain aku, ya
calon teman hidupku... :D"
"Hmmm calon teman
hidup? :P :P :P. Iya, aku bantu doa semoga sidang kamu lancar dan
dimudahkan insyaa Allah. Semoga penguji 'killer'-nya juga dilunakkan
hatinya untuk tidak membantai kamu di sidang he he. Kalau deg-deg an,
perbanyak dzikkir dan shalawat aja, Riz biar hati kamu jadi tenang
(jangan malah mikirin aku... ntar malah galau lagi he he he :P). Aku
percaya kamu sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik untuk
hari ini, Riza. Insyaa Allah hasil tidak akan menghianati usaha yang
sungguh-sungguh. Good luck :)" .
":D :D :D. Iya,
makasih. Semangaaaaat! Aku tunggu kedatangan kamu di ruang sidang ya,
Nis. Hari ini kurang lengkap tanpa kehadiranmu he he :D".
Nisa tertawa sendiri
membaca kalimat Riza itu. Ada kalanya Nisa merasa Riza kadang berlebihan
menggodanya. Terlebih beberapa hari terakhir ini, laki-laki itu seolah
makin berusaha bahkan dengan cara yang makin terang-terangan mendapatkan
jawaban 'ya' darinya, benar-benar laki-laki yang luar biasa. Kalimat
"Maukah kamu menikah denganku?" Riza yang hampir seribu kali disampaikan
ke Nisa entah kenapa makin lama makin membuat perasaan gadis itu
bimbang untuk tetap pada jawaban 'tidak'-nya. Tak banyak laki-laki
segigih dan sekeras usaha seperti itu, apalagi yang seperti Riza...
laki-laki yang sepertinya banyak jadi incaran kaum hawa dengan
kelebihannya terutama kelebihan fisiknya.
"Andai aku bisa
menjawab 'iya', Riz... tapi bukannya itu artinya aku egois, hanya
memikirkan kebahagiaan aku sendiri dan bukan kebahagiaan untuk Riza? Ya,
Riza berhak mendapatkan yang lebih baik," ucap Nisa dalam hatinya.
Lamunan Nisa berakhir ketika terdengar suara yang agak rame memecah
keheningan di ruangan tersebut. Nisa melirik ke arlojinya, pukul 09.03.
Beberapa mahasiswa cewek terlihat membawa selempang, balon, coklat, dan
bunga. Tak berapa lama kemudian, terlihat Tia juga datang bersama
seorang temannya dan duduk tak jauh dari Nisa.
"Apa mereka mau mengucapkan selamat buat Ana ya?" pikir Nisa sambil melihati pintu ruangan sidang skripsi Ana. Nisa pun kembali asyik mengisi waktunya dengan aktivitas browsing sambil melihati model-model baju dan jilbab di online-shop lewat handphone-nya.
"Kamu datang kemari buat Riza juga ya, Nis?"
Suara Tia itu menghentikan aktivitas Nisa, gadis itu sudah berdiri di hadapannya.
"Eh... Tia... aku...
menunggui Ana yang sekarang lagi sidang, dia teman satu kosku. Berhubung
Ana dan Riza sidangnya berurutan, jadinya sekalian deh he he," jawab
Nisa, "Kamu datang kemari buat Riza?"
Tia tersenyum lebar sambil menganggukkan kepalanya.
"Menurut kamu, Riza bakal suka nggak?" tanya Tia sambil menyodorkan sebuah cake black forest lengkap
dengan tempatnya kepada Nisa. "Selamat LuLus Sidang, Riza" tertulis
diatasnya, membuat Nisa terdiam sejenak, hatinya terusik melihat
perhatian Tia kepada Riza. Tia...., perempuan itu sepertinya benar-benar
menyukai Riza dan serius memperjuangkan perasaannya. Sebaliknya dirinya
malah dengan tega berkali-kali menolak lamaran Riza, laki-laki luar
biasanya itu. "Maafin aku, Riz".
Nisa pun melebarkan senyumannya dan menganggukkan kepalanya. "Elegant dan so sweet banget cake-nya,
Tia. Riza insyaa Allah bakal suka," ucap Nisa dengan ceria, terlihat
senyuman Tia makin mengembang mendengarnya. Nisa baru saja hendak
menanyakan kapan gadis cantik itu sidang ketika Tia sudah kembali ke
tempat duduknya semula.
Nisa membuka tas
ranselnya, memegang coklat yang dibelinya buat Riza dan Ana, menyadari
coklat itu tak ada apa-apanya dibandingkan black forest milik Tia tadi.
Nisa pun tersenyum minder untuk sesaat. "Yang terpenting niat memberinya, Nisa," ucap gadis itu di dalam hati, berusaha menyemangati dirinya sendiri sambil melebarkan senyumannya.
Beberapa saat Nisa larut membunuh waktunya dengan main game di handphone-nya
ketika terdengar suara Riza. Terlihat cewek-cewek yang berdatangan
beberapa saat sebelumnya itu bergantian mendekati laki-laki itu memberi
semangat untuknya termasuk Tia.
"Ah Riza, ternyata benar kata Ana, kamu tuh termasuk cowok populer disini ya. Sidang aja udah banyak suporter ceweknya,"
batin Nisa menarik nafas panjang sambil melirik kearah Riza dan
cewek-cewek di dekatnya itu. Riza terlihat sedikit tegang tapi tetap cool
dan elegan dengan celana hitam dan atasan hem putih panjangnya. Hanya
satu yang sedikit mengganggu penampilan nyaris sempurna laki-laki itu,
kantung matanya agak terlihat, pasti karena efek begadang. Lagi-lagi
Nisa tersenyum sendiri mengamati laki-laki luar biasanya itu dalam diam
dari kejauhan, "Semangat, Riza".
Waktu menunjukkan pukul
10.08 ketika pintu ruang sidang skripsi terbuka dan Ana keluar dari
sana. Dua orang teman Ana yang menemani sejak Ana masuk ruang sidang
terlihat menghampiri Ana disusul Nisa, sementara cewek-cewek lain yang
datang belakangan terlihat tetap tenang di tempatnya. Ternyata mereka
memang datang bukan buat Ana, tapi untuk Riza. Nisa memeluk Ana,
mengucapkan selamat dan menyerahkan sebatang coklat untuk teman satu
kos-nya itu. Sejenak Nisa ikut larut merasakan kelegaan Ana.
"Selamat ya, Na... ,"
terdengar suara Riza menghampiri Ana dan Nisa sambil mengulurkan
tangannya kepada Ana, "sekarang tegangnya pindah ke aku".
Nisa menoleh kearah laki-laki yang sudah berdiri di sebelahnya itu, laki-laki itu melihat kearahnya dengan raut tegangnya.
"Bismillah, Riza... insyaa Allah kamu bisa. Stay relax and calm but keep focus (ind: tetap santai dan tenang, tapi fokus),"
ucap Nisa lirih hampir seperti bahasa isyarat dengan senyumnya yang
lebar. Riza ikut tersenyum sambil menganggukkan kepalanya pelan.
"Iya, tolong terus
temani aku lewat doa ya, Nis dan jangan kemana-mana selama aku di dalam.
Aku ingin melihat kamu menyambut aku dengan senyuman nanti sekeluarnya
aku dari ruang sidang," sambung Riza lagi-lagi berhasil membuat Nisa
tersipu. Perlakuan laki-laki itu entah kenapa membuatnya merasa
istimewa.
"Ehm ehm...," suara lirih deheman Ana yang tiba-tiba itu pun langsung membuat Nisa dan Riza menoleh kearah Ana.
"Aku berasa jadi obat
nyamuk disini," ucap Ana lagi sambil senyum-senyum setengah menggoda
Nisa dan Riza. Nisa pun tertawa kecil menundukkan kepalanya, berusaha
menutupi rasa malunya, sementara Riza terlihat kembali ke senyum cool-nya.
"Eemmmm ya udah, aku pergi dulu, Na ... Nis... . Wish me luck
ya," pamit laki-laki itu seolah tidak terjadi apa-apa, kembali fokus
pada ketegangannya menjelang sidang. Terdengar suara Tia menyemangati
Riza, laki-laki itu berusaha menghargainya dengan melempar senyum
tipisnya ke arah Tia dan para 'suporter' ceweknya berada. Kemudian Riza
terlihat kembali, lagi-lagi memandangi Nisa seolah gadis itu punya medan
magnit yang menenangkan untuk Riza. Kali ini Riza dengan kombinasi raut
dag dig dug-nya dan senyuman serta tatapan lembutnya untuk gadis itu
dibalas Nisa dengan senyuman tulusnya, menemani langkah kaki laki-laki
itu menuju ruang sidang skripsinya.
Waktu menunjukkan pukul
10.30 ketika hening kembali menyapa ruang tunggu sidang. Nisa terlihat
khusyuk menunaikan janjinya menemani Riza yang berjuang di ruang sidang
lewat doa-doanya sambil sesekali Nisa mengobrol ringan dengan Ana yang
duduk di sampingnya dan asyik menghabiskan coklat pemberiannya. Beberapa
kali terlihat Tia mondar-mandir mengintip Riza dari kaca pintu masuk
ruang sidang, berhasil menyisakan cemburu di hati Nisa karena perhatian
gadis itu ke Riza.
"Nisa, sebenarnya ada
hubungan apa diantara kamu dan Riza?" tanya Tia tiba-tiba sudah berdiri
di hadapan Nisa, memandang serius kearahnya.
"Seperti yang aku pernah bilang, kami temenan, Tia," jawab Nisa sembari tersenyum.
"Yakin cuma teman?"
Nisa lagi-lagi mengangguk.
"Tapi aku merasa cara
Riza menatap kamu nggak biasa, Nisa... bahkan lebih dalam dari tatapan
Riza ke aku dulu waktu aku masih pacaran sama dia, Nis," lanjut Tia
lagi, gadis itu masih menatap tajam kearah Nisa.
Nisa terdiam
mendengarnya, hanya tersenyum. Entah kenapa pertanyaan Tia itu mengena
di hati Nisa. Tia benar, Riza yang berkali-kali melamarnya tak mungkin
menganggap Nisa biasa.
"Apa kalian pacaran, Nis?"
Nisa menggelengkan kepalanya.
"Apa kalian HTS-an atau
TTM-an?" sambung Tia lagi-lagi dijawab gelengan kepala Nisa. Tia
terlihat tidak puas dengan jawaban Nisa.
"Apa kamu menyukai Riza,
Nis?" Kali ini pertanyaan Tia berhasil membuat Nisa terdiam, gadis itu
tak menggelengkan maupun menganggukkan kepalanya. Nisa terlihat bingung
menjawab apa. Ia tak ingin berbohong, tapi ia pun ragu untuk jujur. Nisa
tak ingin mengusik perasaan Tia dengan jawaban jujurnya. Namun Nisa
lebih tak ingin lagi menyakiti Riza dengan jawaban bohongnya.
"Kenapa kamu diam, Nis?
Oooo jadi benar kamu menyukai Riza...," ucap Tia dengan nada meninggi,
sementara Nisa hanya diam menatap ragu gadis itu. Terlihat beberapa
pasang mata menatap ke keduanya, mata beberapa 'suporter' perempuan Riza
dan juga mata Ana yang duduk di sebelah Nisa
"Perasaan kamu ke Riza
bukan urusanku, Nis...tapi kamu harus ingat satu hal. Aku mencintai Riza
dan sangat menginginkan Riza. Aku ga akan menyerah berjuang mendapatkan
hati Riza lagi, Nis... seperti yang pernah kamu bilang di perpus dulu.
Kamu ingat itu". Tia pun melangkah menjauhi Nisa.
Sementara itu, Nisa kembali fokus melihati handphone-nya berusaha mengalihkan perasaan tidak nyaman yang dirasakannya.
"Sekarang bukan
saatnya terlalu mempersoalkan tentang rasa, Nisa. Riza sedang memerlukan
orang-orang yang menemaninya lewat doa demi doa untuk kebaikannya," batin Nisa. Selama lima menit kemudian Nisa kembali larut dalam heningnya.
"Nisa..., aku dengar
Riza pernah meminta kamu untuk menikah dengannya ya?" Pertanyaan Ana
terdengar setengah berbisik itu membuat Nisa menoleh ke Ana dengan raut
agak terkejut. "Dengar dari siapa, Na?"
"Dari Riza," jawab Ana tetap memelankan suaranya, "tapi kata Riza kamunya belum mau".
"Riza cerita soal itu ke kamu, Na?" tanya Nisa lagi dengan raut tertegunnya.
Ana tersenyum lebar
menepuk lembut bahu Nisa, "Sebenarnya kebetulan akhirnya aku jadi tahu,
Nis. Gara-garanya dosen pembimbing kami tiba-tiba menanyai setiap anak
bimbingnya tentang rencana menikah selepas wisuda nanti, mulai dari aku
satu-satunya anak bimbingan perempuan apa sudah ada yang meminang,
sampai kemudian ke anak bimbingan laki-laki termasuk Riza, sudah ada
keberanian dan kesiapan belum buat meminang seseorang. Jadilah aku tahu
sekilas tentang cerita kalian. Ditambah lagi sepulang dari bimbingan
hari itu, Riza menghampiri aku dan minta tolong buat bantuin dia
menyakinkan kamu agar mau menikah dengannya".
Nisa balas tersenyum
menoleh kearah Ana. "Sebenarnya..., Riza sudah ratusan kali meminta aku
menikah dengan dia, Na. Dan sebanyak itu pula aku memberikan jawaban
tidak ke Riza". Kalimat Nisa yang pelan itu berhasil membuat raut Ana
berubah, ada rasa terkejut disana, seolah tak menyangka kegigihan teman
satu bimbingannya yang sedang berada di dalam ruang sidang itu.
"Kenapa kamu tidak mau
menerima Riza, Nis? Bukannya kalian saling menyukai satu sama lain? Apa
ada sesuatu tentang Riza yang membuat hati kamu tidak bisa menjawab
iya?"
Nisa tetap diam, lagi-lagi hanya tersenyum.
"Apa kamu ragu tentang perasaan Riza? Apa ini kaitannya dengan mantan Riza?"
Nisa menggelengkan kepalanya pelan.
"Ini bukan tentang Riza,
Na..., tapi tentang aku... . Aku ingin melihat Riza merasakan banyak
kebahagiaan sepanjang hidupnya, tapi aku takut tidak bisa
menghadirkannya buat Riza," jelas Nisa membuat Ana justru terlihat
semakin bertanya-tanya dalam diamnya.
"Sejak aku pernah
pingsan di kosan beberapa bulan lalu, waktu kamu kebetulan mau ngajakin
aku jalan saat itu, ketika di rumah sakit dokter memberitahu aku kalau
aku menderita glaukoma sudut tertutup yang berisiko menyebabkan kebutaan
permanen, Na. Sejak saat itu, aku mengubah harapan aku tentang apa yang
kurasakan ke Riza bahkan sejak awal dia menyatakan perasaannya ke aku
beberapa minggu setelahnya dan Riza tahu alasan aku menolaknya dari
awal. Riza berhak mendapatkan teman hidup yang jauh lebih baik, Na".
"Tapi Nis..., seingat
aku dokter waktu itu bilang kalau sakit kamu mungkin disembuhkan lewat
operasi mata...," ucapan Ana terhenti ketika Nisa melebarkan senyumannya
dengan raut mukanya yang sendu.
"Itu letak masalahnya,
Na. Sampai saat ini, aku belum bisa mengalahkan trauma aku tentang
operasi, saat ibu dan calon adik aku meninggalkan kami sekeluarga. Aku
memilih rutin berobat jalan saja dengan resiko kebutaan itu bisa saja
terjadi kapan saja. Dan itu artinya juga aku tidak bisa menjawab iya ke
Riza".
Ana mengusap-usap lembut punggung Nisa, seolah ingin menyemangati temannya itu.
"Aku paham apa yang kamu
rasakan, Nis. Tapi... kalau Riza sudah tahu dari awal tentang itu dan
dia tetap gigih memperjuangkan jawaban 'iya' dari kamu, itu artinya dia
sudah benar-benar yakin untuk menikahi kamu, Nis... apapun yang akan
kalian lewati bersama nantinya. Ada baiknya kamu pikirin lagi ya..., ga
banyak laki-laki yang memperjuangkan jawaban 'iya' segigih Riza, Nisa".
Nisa pun kembali
melebarkan senyumannya ke teman sekosannya itu kemudian keduanya asyik
dengan aktivitas masing-masing, Ana terlihat asyik mem-browsing
model-model baju kebaya untuk wisuda sementara Nisa meneruskan
doa-doanya untuk laki-laki luar biasanya itu sambil sesekali
mengomentari model-model baju yang diperlihatkan Ana kepadanya. Meski
perbaikan skripsi masih menjadi syarat sebelum mereka bisa wisuda,
memikirkan tentang detail saat wisuda salah satunya baju kebaya
merupakan hal yang menyenangkan dan menambah semangat mereka untuk
sampai di garis finish kuliah.
Menit demi menit pun
terus berjalan ketika Riza terlihat keluar dari ruang sidang dengan raut
lega bercampur lelah. Laki-laki itu sepertinya baru saja 'bertempur'
habis-habisan di dalam sana. Meski begitu, senyuman kelegaan terlukis di
wajah Riza yang menatap kearah Nisa. "Alhamdulillaah, Riz," batin Nisa belum beranjak dari tempat duduknya, hanya senyuman lebar dan tatapannya yang tertuju pada Riza.
Tia dan para suporter
cewek Riza terlihat menyerbu Riza dengan rangkaian 'perayaan' habis
sidang ala mereka. Riza terlihat menerima semua perlakuan mereka dengan
sikap berusaha menghargai mereka.
"Kamu ga mau menghampiri dan memberi selamat ke Riza, Nis?" tanya Ana membuat Nisa menggelengkan kepalanya pelan.
"Nanti aja, Na, gantian sama mereka. Mereka kelihatan bersemangat banget soalnya".
"Tia kelihatan perhatian
banget ke Riza ya, Nis. Kamu ga cemburu ngelihatnya? Kamu ga takut Tia
berhasil membuat Riza suka lagi ke dia?"
Nisa terdiam sejenak, lagi-lagi tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Jujur aku cemburu, Na
meski aku tahu aku ga berhak. Tapi aku juga belum bisa menjawab 'iya' ke
Riza, jadi aku berusaha nggak boleh baper saat Riza didekati perempuan
lain, termasuk Tia. Di sisi lain, ga tau kenapa hati aku memercayai Riza
dengan semua kegigihannya selama ini mengajakku nikah".
"Aku sependapat dengan
kamu, Nis. Lagian meski kamu bukan orang pertama yang menyambutnya, tapi
aku bisa lihat kamu orang yang pertama kali dicarinya saat dia keluar
dari ruang sidang. Pandangan Riza langsung tertuju ke bangku kamu tadi,
Nis".
Nisa tersenyum kearah Ana, "Kamu terdengar seperti sedang membantu Riza meyakinkan aku buat menjawab 'iya' ke Riza, Na".
"Memang iya," jawab Ana
sambil meringis, "soalnya aku ngerasa Riza ga main-main dengan
keinginannya itu dan ga bakal mundur kecuali kamu menikah sama orang
lain, Nis. Perasaan dia ke kamu benar-benar tulus sepertinya, Nis".
Nisa tersenyum
mendengarnya. Tanpa Ana mengatakannya, Nisa mengetahui hal itu. Namun
perkataan Ana itu berhasil semakin membuat hatinya bimbang untuk tetap
bertahan dengan jawaban 'tidak'-nya. Nisa menatap kearah Riza yang
dikelilingi beberapa perempuan. Terlihat Tia hendak menyuapkan potongan
kue ke mulut Riza, membuat Nisa lagi-lagi berusaha menahan perasaannya
yang mulai mengajukan protes melihatnya, tapi Riza langsung menolak
keinginan Tia itu dan mengambil potongan kue dari tangan Tia baru
menyuapkan kue itu ke mulutnya dengan tangannya sendiri. Sempat dua
kali, Nisa melihat saat Riza sesekali memandang kearahnya.
"Riza, habis ini kita makan siang bareng yuk," terdengar Tia mengajak laki-laki luar biasanya itu.
"Maaf, Tia... aku ga bisa. Habis ini aku ada acara dengan Nisa. Makasih banyak buat kue dan support-nya. Aku pergi dulu ya".
Terdengar suara Riza
juga mengucapkan terima kasih dan berpamitan ke cewek yang lainnya
kemudian berjalan menuju tempat Nisa duduk. Nisa dan Ana pun langsung
berdiri menyambut pejuang skripsi yang baru selesai sidang itu dengan
memasang senyum lebar mereka.
"Selamat lulus sidang,
Riza," ucap Nisa dengan ceria sambil menyerahkan sebatang coklat buat
Riza diikuti Ana yang juga mengucapkan selamat. Terdengar ucapan terima
kasih dari mulut laki-laki itu ke Nisa dan Ana dengan senyuman yang tak
kalah lebar. Setelah Riza memasukkan coklat dan jasnya kedalam tas,
ketiganya pun jalan bareng menuju taman di fakultas ekonomi tersebut
sebelum akhirnya Ana memisahkan diri.
"Ya udah aku sepertinya
pamit dulu, Nis Riz... aku ga mau jadi obat nyamuk kalian lebih lama
lagi, Sepertinya kalian perlu waktu buat ngobrol berdua aja tentang masa
depan. Aku pergi dulu ya," pamit Ana tertawa kecil ke Nisa dan Riza
kemudian mengerdipkan mata ke Nisa. Nisa dan Riza hanya balas tersenyum
sambil saling berpandangan sejenak. Setelah Nisa cipika cipiki dengan
Ana, Nisa dan Riza pun bergegas mencari bangku kosong di tempat terbuka
itu untuk melanjutkan obrolan mereka.
"Gimana perasaan kamu sekarang Riz?"
"Capek, berasa kehabisan
tenaga tapi lega, Nis. Seperti baru selesai berjuang habis-habisan aja
he he". Riza beberapa kali menarik nafasnya dalam-dalam.
Nisa menganggukkan kepalanya, setuju dengan kalimat Riza itu. "Sedikit lagi menuju garis finish kuliah S1, Riz," sambung Nisa tersenyum lebar menyemangati laki-laki itu.
"Gimana tadi di dalam ruang sidang? Apa kamu merasa puas dengan pencapaian kamu hari ini, Riz?"
"Not bad.
Setidaknya aku sudah memperjuangkan dan mempertahankan skripsi aku
sebaik mungkin, Nis. Ada beberapa Pe Er perbaikan tapi dosen pengujinya
tidak semenakutkan yang aku kira ha ha".
Nisa ikut tertawa menemani tawa Riza.
Riza tiba-tiba menoleh
kearahnya. "Aku percaya ada banyak doa yang membantu aku melewati sidang
tadi dengan baik, salah satunya doa kamu, Nis...," ucap Riza sambil
melebarkan senyuman manisnya, membuat Nisa pun tersipu di tempatnya,
"makasih banyak untuk semua doa, semangat, dan dukungan kamu buat aku
ya, Nis".
Perempuan itu hanya bisa balas tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan.
"Hmmm sekarang waktunya
kita makan coklat dari kamu," sambung Riza tetap dengan senyum lebarnya
sambil mengeluarkan coklat pemberian Nisa dari tas ranselnya.
"Emangnya perut kamu belum kekenyangan coklat, Riza? Bukannya kamu habis makan kue black forest lezat dari Tia?"
Riza menatap Nisa kemudian makin melebarkan senyumannya, "Sepertinya aku mencium aroma-aroma jealous nich. Jangan-jangan kamu cemburu sama Tia ya, Nis?"
Nisa menggigit bibirnya,
tak bicara apa-apa. Laki-laki di sebelahnya terlihat bersemangat
mencandai sekaligus mendapatkan pengakuan cemburu dari dirinya.
Laki-laki itu tetap saja senyum-senyum menatapnya membuat Nisa makin tak tenang dan risih di tempat duduknya.
"Apaan sih Riz ngelihatin aku seperti itu? Aku bicara sesuai kenyataan aja. Coklat black forest
Tia tadi emang nyata-nyata lebih mahal dan spesial dibandingkan coklat
pemberian dari aku yang biasa-biasa aja, Riza," jelas Nisa berusaha
menarik bibirnya tersenyum seperti biasa, menyamarkan rasa kagoknya.
Riza justru makin cekikikan meski tanpa suara mendengar jawaban Nisa
itu, ekpresi Nisa terlihat lucu di matanya. Tingkah laku Riza itu
membuat Nisa tak tahan menahan tawanya sambil mengalihkan pandangannya
kearah pancuran air di depan mereka.
"Meski kamu nggak mau
mengakuinya dengan jelas, setidaknya kamu juga tidak menyangkalnya
seperti ketika awal-awal aku mengenalkan kamu dengan Tia di perpus dulu,
Nis," batin Riza.
"Ga nyangka Tia ternyata masih inget soal kue black forest
kesukaan aku. Tia kayaknya serius banget pingin kami balikan lagi
seperti dulu," sambung Riza sengaja memancing Nisa, ingin melihat
ekspresi gadis itu.
Nisa terlihat langsung
menundukkan kepalanya sejenak kemudian buru-buru melebarkan senyumannya
kembali. Perempuan itu terlihat berusaha keras untuk tidak menampakkan
ketidaknyamanan yang dirasakan hatinya saat itu.
"Seperti yang kamu
lihat... kamu sudah bisa menilai sendiri kan siapa perempuan yang lebih
perhatian ke kamu dan lebih layak buat kamu ajak menikah, Riz? Bahkan
dibandingkan Tia, aku ga ada apa-apanya, Riz," jawab Nisa sambil menatap
laki-laki itu.
Riza balas menatap Nisa
yang duduk berjarak setengah meter di sebelahnya itu. Riza tidak
menyukai ekspresi Nisa saat itu, ada sedih di raut itu meski berusaha
Nisa sembunyikan lewat senyumnya, membuat hati Riza ikut sedih dan malah
merasa bersalah.
Riza membagi dua coklat pemberian Nisa di tangannya lalu memberikan satu bagiannya ke Nisa. "Black forest dari
Tia tadi memang mahal dan enak banget, tapi tetap nggak akan bisa
mengalahkan cokelat pemberian kamu, Nisa. Buat aku, bukan mahalnya
pemberian yang terpenting, tapi siapa orang yang memberikannya. Cokelat
ini justru spesial karena cokelat ini dari kamu, Nisa... seseorang yang
punya arti istimewa di hati aku. Lebih dari sekedar rasa coklatnya,
melainkan rasa senang dan bahagia yang hadir ketika aku memakannya.
Lebih-lebih ketika aku bisa membagi coklatnya dan makan coklat ini
bareng kamu, Nisa," ucap Riza menarik bibirnya tersenyum lebih lebar
kearah gadis itu, membuat Nisa speechless sejenak hanya bisa
membalas tersenyum lebih lebar sambil menerima coklat dari tangan Riza.
Tanpa perlu aba-aba, Nisa dan Riza pun mulai menghabiskan coklat mereka.
Tawa dan candaan demi candaan pun kembali pecah diantara mereka,
mengalihkan ketegangan hati keduanya.
"Oh ya, sketsa taman
kamu apa kabarnya, Nis? Kan kamu pernah bilang kalau kamu bakal
memperlihatkannya ke aku saat wisuda," tanya Riza.
"Insyaa Allah hampir selesai Riz. Kamu akan jadi orang pertama yang akan melihat sketsa itu nanti saat kita wisuda, Oke!"
Riza terlihat antusias mengangguk-anggukkan kepalanya. Keduanya saling tertawa.
"By the way, Jadi
apa jawaban kamu soal ajakan nikah aku, Nis? Kamu mau kan menikah
denganku setelah kita wisuda?" tanya Riza kemudian. Makin hari laki-laki
itu makin yakin bahwa Nisa akan nengubah jawabannya.
Nisa balas menatap Riza
sejenak, hatinya makin bimbang untuk tetap memberi jawaban 'tidak'
dengan semua usaha yang dilakukan Riza untuknya.
"Nisa?" tanya Riza lagi ketika Nisa masih tetap memilih diam.
"Selangkah lagi,
tanggung jawab kuliah aku sudah selesai dan aku juga sudah
berpenghasilan. Meski pekerjaan aku belum benar-benar mapan, tapi secara
penghasilan aku siap menafkahi kamu, Nisa. Mau ya, Nis?"
Nisa masih tetap diam
tak menjawab. Dia percaya kesungguhan dan ketulusan laki-laki itu, tapi
dia justru tidak yakin dengan dirinya sendiri.
"Nisa?"
Nisa menarik nafasnya
dalam-dalam. "Maaf Riza, jawaban aku masih sama. Aku tidak mau menikah
dengan kamu," ucap Nisa akhirnya menoleh kearah Riza, "aku mohon kamu
berhenti meminta aku menikah dengan kamu karena aku merasa makin
bersalah tiap kali aku menjawab 'tidak' ke kamu, Riz. Jangan buang waktu
kamu lagi, Riza.. lebih baik kamu fokus untuk masa depan kamu, karier
dan mempersiapkan diri buat seseorang yang lebih pantas buat kamu
perjuangkan nantinya. Dan kitaaa.. kita akan tetap berteman baik
seterusnya, Riza".
Riza diam menatap
sekaligus mendengarkan ucapan gadis itu, entah kenapa hatinya
sangat-sangat kecewa saat itu. Riza sepertinya tidak siap menerima
jawaban 'tidak' dari Nisa kali ini. Tidak seperti biasanya, Riza merasa
benar-benar kelelahan memperjuangkan Nisa. Desahan nafas Riza terdengar
berat. Laki-laki itu terlihat mematung memandangi coklat di tangannya
yang masih tersisa setengahnya sementara Nisa memperhatikan laki-laki
itu dengan rasa bersalah tampak jelas di wajahnya.
"Aku benar-benar minta maaf, Riz," sambung Nisa lagi.
Riza masih tetap diam, laki-laki itu memasukkan sisa coklatnya ke salah satu saku tas ranselnya.
"Aku mengerti. Hari ini
aku benar-benar ngerasa capek banget, Nis. Sepertinya aku mau pulang
aja," ucap Riza kemudian berdiri dari duduknya. Laki-laki itu lagi-lagi
memandangi Nisa dengan tatapan agak dingin. "Meski kamu tidak mau
menikah denganku, aku tetap ingin mengenalkan kamu ke orang tua aku saat
wisuda dan aku harap kamu juga ga keberatan mengenalkan aku dengan
keluarga kamu saat itu," sambung Riza membuat Nisa makin merasa bersalah
melihat sikap Riza yang langsung berubah dingin itu. Nisa hanya
menganggukkan kepalanya pelan.
"Maaf kalau aku sudah
membuat kamu merasa bersalah tiap kali aku meminta kamu menikah dengan
aku. Duluan ya, Nis," ucap Riza lalu beranjak pergi meninggalkan Nisa
yang makin terdiam di tempat duduknya.
Riza bergegas berjalan
menuju parkir hendak mengambil motornya, hari ini ia merasa benar-benar
capek. Jawaban Nisa yang belum berubah kepadanya semakin memperparah mood-nya.
Semakin Riza berusaha tidak terlalu memikirkannya, perbaikan skripsi
justru unjuk gigi menghantui pikirannya. Beberapa kali laki-laki itu
terlihat menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya kembali
sekuat-kuatnya, berusaha mengusir kerisauan hatinya. Tiba-tiba Riza
merasa pusing, pikirannya dipenuhi jawaban Nisa dan perbaikan skripsi
yang datang dan pergi bergantian. Riza pun menghentikan langkahnya,
memutuskan duduk di lantai di depan kelas tak jauh dari parkiran. Riza
ingin menenangkan pikirannya dan mengusir pusing yang membuat
pandangannya tiba-tiba terasa sedikit berkunang-kunang.
Suasana di sekitar laki-laki terlihat sepi, hanya ada beberapa orang terlihat berjalan menuju parkiran atau lalu lalang di depannya.
Suasana di sekitar laki-laki terlihat sepi, hanya ada beberapa orang terlihat berjalan menuju parkiran atau lalu lalang di depannya.
"Kenapa tiba-tiba ga bertenaga gini sih? Mana cuacanya panas banget pula," batin Riza sambil memijit-mijit kepalanya yang terasa sakit.
"Apa kamu sakit, Riz?"
Riza mendongakkan kepalanya, terlihat Ana sedang berdiri di hadapannya, mengamatinya.
Riza tersenyum tipis,
"Aku baik-baik aja, Na ... cuma sedikit pusing aja,... makanya istirahat
duduk sebentar disini sebelum pulang".
Raut laki-laki itu terlihat kusut, berbeda dengan saat dia baru keluar dari ruang sidang tadi.
"Nisa mana?"
"Nisa mana?"
Riza menggelengkan
kepalanya ragu. "Nisa... mungkin dia sudah pulang, Na," jawab Riza
kemudian mengalihkan pandangannya melihat kearah lain.
"Apa Nisa tahu kamu disini?"
Riza menoleh sejenak kearah Ana, menggelengkan kepalanya pelan lalu kembali diam.
"Ya udah, duluan ya
Riz," ucap Ana akhirnya dijawab anggukan pelan Riza. Ana merasa teman
sebimbingannya ini sedang ada masalah dan entah kenapa Ana justru
teringat Nisa. Setelah berjalan beberapa langkah menjauhi Riza, Ana pun
bergegas menelepon Nisa.
"Kamu dimana, Nis?"
"Aku masih duduk di taman dekat pancuran air, Na. Kenapa, Na?"
"Aku barusan ketemu Riza. Dia kelihatan kusut banget duduk sendirian di lantai depan kelas dekat parkiran. Apa ada masalah diantara kalian, Nis? Dia bilang kepalanya agak pusing padahal perasaan tadi dia kelihatan baik-baik aja, Nis".
"Aku masih duduk di taman dekat pancuran air, Na. Kenapa, Na?"
"Aku barusan ketemu Riza. Dia kelihatan kusut banget duduk sendirian di lantai depan kelas dekat parkiran. Apa ada masalah diantara kalian, Nis? Dia bilang kepalanya agak pusing padahal perasaan tadi dia kelihatan baik-baik aja, Nis".
Sesaat tak ada sahutan dari Nisa, hanya terdengar nafas gadis itu.
"Riza dimana, Na?"
"Kalau dari tempat kamu,
kamu jalan ke arah depan terus belok kanan lewatin kelas-kelas sampai
mentog tempat parkiran sepeda motor, Nis. Riza duduk sendirian di dekat
situ".
Setelah mengucapkan terima kasih ke Ana, tanpa buang-buang waktu, Nisa pun bergegas mencari Riza.
"Riza...," panggil Nisa
setelah ia akhirnya menemukan laki-laki itu yang terlihat sedang duduk
sendirian menyandarkan kepalanya di dinding kelas sambil memejamkan
matanya. Wajah laki-laki itu terlihat lelah. Suara gadis itu langsung
membuat Riza membuka matanya, menatap kearah Nisa yang berdiri pas di
depannya.
"Nisa...," jawab Riza lirih, dengan raut wajah setengah tertegun.
"Maaf sudah bikin kamu bertambah lelah, Riz".
"Kamu nggak salah
apa-apa, Nis. Akunya aja yang terlalu baper, terbawa perasaan. Mungkin
efek habis sidang yang menguras energi kali ya," jawab Riza lalu
lagi-lagi diam menatap kearah lain. Nisa memperhatikan laki-laki itu
dengan seksama. Nisa tahu laki-laki itu kecewa gara-gara jawabannya
tadi.
"Kita makan siang bareng di kantin yuk, Riz," ajak Nisa membuat Riza kembali menatap ke perempuan itu.
"Kamu perlu makan buat
mengisi penuh energi kamu lagi setelah berjuang habis-habisan di sidang,
Riz. Apalagi ditambah perkataan aku tadi yang bikin kamu jadi bad mood, Riz". Nisa terlihat tersenyum kepadanya meski ada penyesalan tergambar di wajah gadis itu.
Riza pun menganggukkan
kepalanya pelan. Meski perasaannya masih tidak nyaman, ia tidak menolak
ajakan Nisa itu. Riza tahu Nisa peduli padanya.
Kantin fakultas ekonomi
tidak terlalu rame saat Nisa memilihkan tempat duduk buat mereka berdua.
Riza nyaris tak bicara, laki-laki itu langsung mengambil tempat duduk
berhadapan dengan Nisa.
"Kamu mau makan apa, Riz?" tanya Nisa tersenyum lembut kepadanya.
"Terserah kamu aja, Nis," jawab Riza tersenyum tipis tak punya bayangan apa yang ingin dimakannya.
"Aku mau makan nasi
goreng, apa kamu mau nasi goreng juga?" tanya Nisa lagi dibalas anggukan
pelan Riza. Nisa pun bergegas memesan makan siang mereka lalu kembali
ke tempat duduk mereka dengan membawakan air mineral dan segelas kopi
buat Riza.
Hening lagi-lagi menyapa
diantara Nisa dan Riza, Riza terlihat mengetuk-ngetuk meja setengah
melamun sementara Nisa terlihat memerhatikan gerak-gerik laki-laki yang
duduk persis di depannya itu.
"Kata Ana kamu sedikit
pusing, apa sekarang masih, Riz?" tanya Nisa membuat Riza menghentikan
gerakan isengnya dan menoleh ke Nisa, "Sekali lagi aku minta maaf sudah
merusak mood kamu gara-gara jawaban aku di taman tadi, Riz".
"Aku baik-baik aja.
Seperti yang tadi aku bilang, aku terlalu baper aja sepertinya hari ini,
Nis. Padahal selama ini sudah ratusan kali aku meminta kamu menikah
denganku, sebanyak itu juga kamu menjawab 'tidak' dan itu sama sekali
tidak membuat aku ingin menyerah, Nisa," jelas Riza tersenyum kearah
Nisa, "mungkin aku cuma lagi benar-benar kehabisan tenaga selepas sidang
tadi,... jadi mungkin kebawa capeknya. Maaf ya, Nis.. aku cuma perlu
istirahat sebentar".
Nisa balas tersenyum lebar ke laki-laki itu. "Ya udah, kalau begitu sebagai permintaan maaf aku dan buat mengembalikan mood
kamu jadi baik kembali, aku bakal memenuhi tiga permintaan kamu hari
ini, Riz... tapi selain meminta aku menikah dengan kamu. Gimana?"
"Tiga permintaan?" tanya Riza penasaran.
Nisa menganggukkan
kepalanya. "Iya, kamu boleh mengajukan tiga permintaan, tiga hal yang
kamu ingin aku penuhi untuk kamu, tapi berlaku sampai hari ini saja,"
jawab Nisa riang dan bersemangat.
Riza terlihat mencerna perkataan Nisa itu dengan serius. "Aku boleh minta apa aja?"
"Iya Riz, selama tidak
melanggar norma agama, hukum, susila, dan kesopanan, he he he". Riza
ikutan tertawa mendengar syarat Nisa itu lalu menganggukkan kepalanya
tanda setuju.
"Oh iya satu lagi, tiga
permintaan itu akan aku penuhi dengan syarat kamu harus habiskan dulu
makan siang kamu," sambung Nisa membuat laki-laki itu tersenyum lebar
lalu menganggukkan kepalanya.
Nisa dan Riza pun
menyantap makanan pesanan mereka. Terlihat Riza bersemangat menghabiskan
makanannya sambil memikirkan tiga permintaan yang akan diajukannya ke
Nisa setelah itu. Nisa terlihat beberapa kali tersenyum lebar
memerhatikan raut Riza, ada ceria disana setidaknya sedikit mengurangi
rasa bersalahnya ke laki-laki luar biasanya itu.
Nisa masih menghabiskan
nasi goreng miliknya saat piring laki-laki di hadapannya itu terlihat
sudah bersih, hanya menyisakan dua butir nasi. Minuman kopi Riza juga
terlihat sudah tak bersisa dan laki-laki itu terlihat sedang
menghabiskan coklat pemberian Nisa yang sempat tertunda tak
dihabiskannya tadi.
Sesekali Nisa tersenyum
lebar ke Riza yang balas tersenyum tak kalah lebar, entah apa yang ada
di pikiran laki-laki itu hingga wajahnya berubah perlahan dari mendung
menjadi cerah.
"Oke, sekarang kamu boleh sebutin permintaan kamu, Riza," ucap Nisa setelah menyelesaikan makannya.
Riza lagi-lagi
tersenyum. "Permintaan pertama, aku mau kamu menemani aku teriak di atap
gedung tinggi, Nisa". Nisa terlihat mengernyitkan dahinya sejenak
mencoba menyelami pikiran Riza yang tak tertebak itu meski kemudian
pasrah melebarkan senyumannya dan menganggukkan kepalanya setuju.
"Permintaan kedua, aku
mau kamu menemani aku ke toko perhiasan tepatnya toko yang jual aneka
model cincin pernikahan. Tapi sebelumnya aku mau tahu ukuran jari manis
kamu, Nisa," sambung Riza membuat Nisa sempat terdiam.
"Tapi Riz... kamu kan sudah tahu jawaban aku soal itu, Rizaaa...," protes Nisa.
Riza tersenyum menatap sejenak Nisa.
"Aku nggak minta kamu
menjawab 'iya', Nisa... kan kamu tadi juga sudah bilang permintaan ini
diluar meminta jawaban soal itu. Aku cuma ingin tahu ukuran jari manis
kamu dan model cincin seperti apa yang kamu suka untuk pernikahan kamu
nantinya," jelas Riza melebarkan senyumannya, membuat Nisa pun akhirnya
mengangguk setuju. Ia sudah berjanji kepada laki-laki itu untuk memenuhi
tiga permintaannya hari itu.
Riza terlihat mencari sesuatu di dalam tasnya, ternyata sebuah pulpen bertali yang bisa digantungkan di leher.
"Apa kamu punya cutter, Nis?" tanya Riza lagi. Nisa pun mengeluarkan cutter-nya dari tempat pensilnya, masih bertanya-tanya maksud laki-laki itu.
Riza terlihat memotong
tali pulpennya itu kemudian menjulurkannya ke Nisa, "Buat mengukur jari
manis kamu, Nis". Lagi-lagi Nisa tertegun sejenak dengan tingkah Riza
itu, tapi kemudian ia pun balas tersenyum pada laki-laki itu dan
menuruti permintaannya. Setelah menge-pas-kan panjang tali itu sesuai
dengan diameter (ukuran) jari manisnya, Nisa menyerahkan tali itu
kembali ke Riza. Riza terlihat tersenyum lebar menerimanya dan langsung
menyimpan tali itu di dalam dompetnya sementara Nisa hanya bisa
tersenyum pasrah. Entah apa yang ada di pikiran Riza saat itu, tapi Nisa
merasa laki-laki itu pantang menyerah tentangnya.
"Lalu yang terakhir...,"
sambung Riza membuat Nisa makin dag dig dug mendengarkan permintaan
selanjutnya laki-laki itu. Nisa takut, permintaan Riza makin mengejutkan
dan tidak ia sangka-sangka.
"Kenapa kamu kelihatan
tegang, Nis?" tanya Riza tertawa kecil melihat raut wajah gadis di
depannya itu. Nisa buru-buru tertawa sambil menggelengkan kepalanya.
"Enggak,... penasaran aja he he," jawab Nisa berusaha menutupi perasaannya, membuat Riza makin pecah dalam tawanya.
"Jangan-jangan kamu
takut kalau aku minta kamu mengukur baju pengantin kamu di desainer baju
pernikahan ya, Nis?" tanya Riza terkekeh membuat Nisa pun pecah dalam
tawa dengan wajah bersemu merah.
"Udahan ah bercandanya,
Riz. Sekarang sebutin permintaan ketiga kamu," jawab Nisa kembali
tersenyum berusaha menetralkan perasaan dan ekspresinya.
Riza terlihat tersenyum
lebar, "Permintaan aku yang ketiga... aku minta kamu yang mengatakannya,
Nisa. Kira-kira kamu ingin kita ngapain hari ini?"
Nisa pun tersenyum.
Terlihat Nisa sedang memikirkan apa yang ingin dilakukannya bersama Riza
ketika kemudian ia melebarkan senyumannya menatap Riza. "Aku pingin
menemani kamu makan ice cream, Riz... biar mendinginkan hati dan pikiran kamu sejenak, he he he".
Riza pun tergelak sambil
menganggukkan kepalanya setuju. Nisa..., perempuan itu selalu
menghadirkan bahagia di hatinya dengan cara sederhana.
Setelah sholat Zhuhur di musholla kampus, Nisa pun menemani Riza memenuhi tiga permintaan laki-laki itu.
Perjalanan mereka
dimulai dengan mendatangi sebuah gedung tinggi yang sepertinya sudah
beberapa kali didatangi Riza, sebuah gedung berlantai 20. Riza langsung
mengajak Nisa menemaninya menuju atap gedung itu.
Nisa mengira Riza ingin
teriak melepaskan beban pikirannya setelah sidang skripsi disana, tapi
ternyata perkiraan gadis itu salah.
Sesampai di atap gedung, Riza mengajak Nisa berdiri di sebelahnya dan mendengarkan teriakannya.
"Apa kamu mau menikah denganku, Nisa? Would you be my best friend forever,
Nisa?" teriak laki-laki itu membuat Nisa terdiam di tempatnya. Suara
Riza yang lantang diantara udara dan cahaya matahari siang hari itu
berhasil menggetarkan hati Nisa dan membuatnya sejenak berkaca-kaca
meski Nisa berusaha menyembunyikannya dari Riza. Nisa buru-buru
menetralkan raut wajahnya ketika Riza menoleh kepadanya dengan senyum
lebarnya. Nisa berusaha balas tersenyum dengan sebiasa mungkin.
Setelah dari sana,
perjalanan mereka pun berlanjut ke sebuah toko perhiasan yang lumayan
besar tempatnya. Riza bilang, dia tahu tempat itu karena pernah
mengantarkan sepupunya mencari cincin pernikahannya disana. Riza meminta
Nisa memilih model cincin pernikahan yang disukainya.
"Kenapa kamu melakukan
ini, Riz...?" tanya Nisa saat itu. Nisa takut Riza nekat membelikannya
cincin pernikahan meski gadis itu tetap pada jawaban 'tidak'-nya.
Riza tersenyum menatap
Nisa. "Kamu sudah janji kalau kamu akan mengabulkan tiga permintaan aku
hari ini, Nis. Aku tidak sedang meminta jawaban kamu saat ini. Aku cuma
pingin tahu model cincin yang kamu sukai, Nisa. Tenang aja, Nis... aku
ga bakal beliin kamu cincin nikah sekarang," jawab Riza seolah bisa
membaca pikiran Nisa, membuat Nisa akhirnya memberitahu Riza model
cincin pernikahan yang paling disukainya di toko itu. Setelah itu Nisa
dan Riza pun menuju parkiran toko, bersiap melakukan permintaan terakhir
Riza.
"Jadi kita mau makan ice cream dimana, Nis?" tanya Riza sambil tersenyum lebar memasang helmnya.
Nisa tertawa kecil, "Terserah aja, Riz... beli ice cream di Indomart, Alfamart, McD, KFC, atau mana aja juga boleh he he. Yang penting kita makan ice cream-nya bareng he he".
Riza tertawa mendengar ucapan Nisa itu. Bahagia dimata gadis itu memang sederhana, tapi kadang terlalu sederhana bagi Riza.
"Ya udah, kalau gitu biar aku yang menentukan tempatnya ya, Nis. Aku tahu tempat cozy yang menyediakan aneka menu ice cream. Tempatnya enak juga buat ngobrol panas-panas gini he he".
Nisa pun mengangguk setuju.
Lima belas menit kemudian, Riza dan Nisa sudah asyik menikmati ice cream
masing-masing, itu pun setelah keduanya saling beradu argumen siapa
yang menraktir. Nisa berpendapat harusnya dia yang menraktir Riza karena
dia yang mengajaknya makan ice cream. Sebaliknya Riza bersikeras
dia yang menraktir karena dia yang mau makan di tempat itu dan itu
masih bagian dari tiga permintaan Riza hingga akhirnya Nisa pun pasrah
membiarkan Riza menraktirnya.
"Enak nggak, Nis?" tanya Riza dijawab dengan anggukan dan senyuman lebar Nisa.
"Makasih ya udah menraktir aku ice cream yang enak ini, Riza," jawab Nisa dengan riang.
Riza tertawa mendengarnya.
"Sama-sama, Nis. Makasih ya kamu sudah mau menemani aku dan memenuhi tiga permintaan aku hari ini".
"Apa mood kamu udah membaik, Riz?" tanya Nisa dibalas anggukan kepala Riza yang terlihat senang.
"Makan ice cream
ini ternyata memang bisa mendinginkan hati dan pikiran juga ya, Nis.
Baper aku udah hilang aja sekarang, mungkin karena udah kenyang dan
melakukan hal-hal yang menyenangkan ya".
Nisa tertawa kecil
sambil menganggukkan kepalanya. "Alhamdulillaah, itu artinya besok kamu
bisa kembali fokus dan semangat sama perbaikan skripsi kamu, Riz".
"Siap, insyaa Allah,"
ucap Riza tersenyum lebar lagi-lagi mengangguk-anggukkan kepalanya,
"Bukan hanya perbaikan skripsi, Nisa. Semangat dan mood aku juga
sudah kembali seperti semula buat memperjuangkan jawaban 'iya' dari kamu
lagi. Aku ga akan menyerah dengan jawaban 'tidak' kamu, Nis. Aku akan
terus meminta kamu menikah denganku sampai kamu mau karena aku semakin
yakin bahwa perempuan itu memang kamu".
Kalimat terakhir Riza
itu pun membuat Nisa tertegun di tempatnya, lagi dan lagi laki-laki itu
membuat hatinya tersentuh dan makin susah mengatakan 'tidak' padanya.
Riza terlihat tersenyum
lebar kearahnya, dari tatapan Riza, Nisa tahu laki-laki itu tulus dan
bersungguh-sungguh memperjuangkan jawaban 'iya' darinya.
"Makasih sudah membantu
aku mengembalikan semangat juang dan mood aku lagi, Nisa," ucap Riza
lagi sementara Nisa hanya bisa membalas senyum laki-laki itu tak kalah
lebar tanpa satu kata terucap dari mulutnya.
-Bersambung-
Setelahnya : Saat Bahagia yang Tak Sempurna
Tidak ada komentar:
Posting Komentar