Kamis, 27 Agustus 2015

Melukis Kita Dalam Cerita Aku dan Kamu - Part 2: Kita dan Bintang - You Can Count On Me, Rho

Sebelumnya : Part 1, Awal

Part 2 : Kita dan Bintang - You Can Count On Me, Rho

"Maaf Fa, sepertinya aku tidak bisa datang malam ini, " bunyi pesan Varrho.
Alfa menghela nafasnya dalam-dalam berusaha menenangkan hatinya yang tiba-tiba berdemo dengan banyak tanya karena kejadian itu bukanlah yang pertama. "Kalo boleh tahu alasannya, kenapa, Rho?" ketik Alfa.
"Gina baru saja telepon, dia minta aku menemani dia ke ulang tahun sahabatnya. Soalnya rencananya dari kafe mereka bakal langsung nonton film di bioskop. Midnight-an gitu. Aku nggak tega membiarkan Gina sendirian. Aku benar-benar minta maaf, ya Fa. Maaf lagi-lagi aku harus mengalahkan kamu buat Gina. Kita cari waktu lain lagi ya buat bercanda bersama bintang malamnya".
Alfa terdiam sejenak. "Bagaimana kalau besok malam?" tanya Alfa lagi. 
"Besok malam jadwal pekerjaanku sampai larut malam, Fa. Maaf banget ya. Bagaimana kalau kita ketemunya setelah minggu ini saja. Mungkin akan lebih leluasa, Fa".
"Kalau lusa, Jumat malam gimana, Rho?" Alfa masih tetap berusaha mencari celah di waktu Varrho sebelum dirinya berangkat ke Bandung.
"Jumat malam? Hmmm, aku belum ada jadwal sih, Fa. Nanti aku kabari lagi, ya. Kalau enggak, aku janji minggu depan aku akan meluangkan satu waktu malam aku yang luang untuk kamu. Bagaimana? Kamu tidak apa-apa kan, Fa?"
Agak lama, Alfa kemudian baru menjawab. "It's okay Rho, aku berharap kita bisa bertemu Jumat ini, Rho. Kabari aku, ya. By the way, bagaimana dengan besok pagi, jadi atau diundur juga? Soalnya kamu kan mungkin baru pulang dini hari," tanya Alfa.
"Hmmm, kalau seandainya aku boleh memilih, aku pasti ingin kita mengundurkan rencana pagi,senja, malam kita sampai minggu depan, Fa. Minggu ini begitu sibuk soalnya. Bagaimana?"
Alfa memandangi pesan dari Varrho lekat-lekat. Dia tetap bertekad tidak akan memberitahu Varrho apa alasan dirinya ingin menghabiskan tiga waktu sejenak bersama Varrho di minggu itu. 
"Aku sangat berharap kita bisa melakukannya minggu ini, Rho. Bukan berarti harus, tapi sebisa mungkin aku berharap bisa mewujudkannya sebelum hari minggu tiba".
Tiba-tiba ada tanda panggilan masuk dari Varrho di HP Alfa. 
"Fa, jujur aku ngerasa kamu aneh tentang permintaan kamu ini. Seolah kamu itu mau pergi. Apa ada yang kamu sembunyikan dari aku, Fa? Ada apa?" ujar Varrho langsung memberondong Alfa dengan pertanyaan. Alfa terdiam. "Alfa... ?" ujar Varrho menaikkan nada suaranya. 
"Aku cuma berharap kita bisa melakukannya minggu ini, Rho. Tentang alasannya, aku baru akan bilang saat kita bertemu di waktu-waktu itu. Kamu tidak perlu berpikir macam-macam, intinya aku ingin kita bercanda lagi sejenak," jawab Alfa terdengar tertawa kecil.
Kini Varrho yang ganti terdiam. Meski ia bisa mendengar tawa Alfa, tapi ada resah dan sedih yang menyeruak di hatinya. "Ya sudah, Fa. Besok pagi, insyaa Allah aku ke rumah kamu biar kita bisa melihat matahari terbit sama-sama. Soal senja dan petang, kita bicarakan lagi setelahnya, ya. Semoga aku nggak ngecewain kamu lagi besok".
"Makasih ya, Rho. Aku ingin kamu ingat satu hal. Aku memang berharap kita bisa bertemu di pagi, senja, dan petang sebelum hari minggu ini, tapi aku nggak mau kamu melakukannya karena terpaksa dan hanya sekedar tidak ingin merasa bersalah. Kalau kamu merasa terpaksa, kamu tidak perlu datang. Ya sudah, kamu siap-siap sana, kan mau pergi menemani Gina," jawab Alfa berusaha mengakhiri kalimatnya dengan ceria. Setelah berbalas salam, komunikasi Varrho dan Alfa pun berakhir. Varrho masih terdiam di ujung memandangi HP-nya. Entah kenapa, perasaannya tidak tenang saat itu, rasa bersalah ke Alfa itu semakin menghantui dirinya. Ia merasa jarak diantara dirinya dan Alfa makin lebar, meski di lain sisi, ia sadar dirinya yang meminta Alfa berjarak darinya. Sementara itu, di waktu yang sama, Alfa sedang merenung sejenak menatap langit yang sedang berhiaskan bulan hampir penuh malam itu. Ia mengajak bintang-bintang tersenyum, seolah ia ingin menghibur hatinya yang sedang nano-nano tidak terdefinisi dengan jelas. Alfa melirik ke coklat hangat dan gitar yang sudah bersiap-siap menemani Alfa juga malam itu, memandangi mereka sejenak ketika sebuah ide muncul di otaknya. Alfa pun kemudian mengambil kamera miliknya di kamar. Ia kembali keluar, memainkan mode merekam video bersama langit, gitar, coklat hangat dan tentu saja dirinya. 
"Tes tes... selamat malam, langit, bintang-bintang, bulan, gitar, dan coklat  hangat. Selamat malam juga pastinya Alfa serta Varrho. Malam ini sebenarnya aku ingin berbagi cerita sejenak dengan kamu, Rho. Tapi berhubung kamu berhalangan hadir, jadi aku buat rekaman ini. Kamu tahu kenapa aku ingin kita bertemu sejenak saat malam? Karena malam juga menggambarkan persahabatan kita berdua. Kita berdua adalah penyuka malam yang berhiaskan bintang, bahkan kita beberapa kali mencari waktu untuk saling berbagi cerita saat langit malam sedang cerah bertabur bintang. Bintang yang seolah tersenyum itu mencairkan dan menghangatkan kebersamaan kita berbagi banyak hal tentang hidup. Dan bintang di langit malam itu juga menggambarkan persahabatan kita. Bintang yang saling berbagi sinar itu seperti aku dan kamu. Aku dan kamu bersahabat untuk saling berbagi satu sama lain. Kita ada untuk saling berbagi senyuman, tawa, kebaikan satu sama lain. Kita ada saling melengkapi, melengkapi saat salah satu ada di titik lemah, tentunya dengan gaya kita masing-masing.
Ada kalanya kita tidak bisa melihat keberadaan bintang di langit malam. Seperti itu pun persahabatan kita. Ada kalanya aku tidak bisa selalu ada disisi kamu begitupun kamu tidak bisa selalu ada menemani aku. Ada kalanya aku tidak bisa melihat kamu, tapi aku tahu kamu itu selalu ada. Aku tetap merasakan hadir kamu dihati aku. Begitu juga aku ingin kamu selalu ingat, Rho. Mungkin ada saatnya kamu tidak bisa melihatku, mungkin kita sedang berjauhan, dan aku tidak menemani kamu menghilangkan sedih atau gundah kamu, tapi aku akan tetap ada buat kamu lewat doa-doa, tetap tersenyum untukmu dari kejauhan, Rho. 
Sebagaimana dikatakan dalam sebuah quote. Teman-teman yang baik itu seperti bintang. Mungkin kita tidak bisa selalu melihat mereka, tapi kita tahu bahwa mereka selalu ada disana," ujar Alfa bermonolog dan mengakhirnya dengan mengarahkan tangannya ke bintang-bintang di langit sambil tersenyum lebar kearah kamera yang tetap merekam.
Alfa kemudian menuangkan coklat hangat itu ke cangkir. "Cangkir pertama ini karena aku suka coklat". Alfa menikmati menghabiskan coklat hangat itu sambil tetap menyunggingkan senyum lebarnya. Ia kemudian tuangkan coklat kedua kalinya di cangkir yang sama tetap dengan satu tangan dia memegang kamera yang masih merekam itu. "Coklat cangkir kedua ini, aku ngewakilin kamu, Rho. Salah sendiri kamu nggak bisa datang," ucap Alfa sambil menjulurkan lidahnya keluar kemudian tertawa kecil ke arah kamera, seolah menggoda Varrho. Alfa kemudian letakkan kamera yang masih merekam itu kearah langit lalu mulai memainkan gitarnya. 
"If you ever find yourself stuck in the middle of the sea. 
I'll sail the world to find you
If you ever find yourself lost in the dark and you can't see. 
I'll be the light to guide you
We find out what we're made of
When we are called to help our friends in need...
You can count on me like 1, 2, 3
I'll be there
And I know when I need it
I can count on you like 4, 3, 2
And you'll be there
'Cause that's what friends are supposed to do, oh yeah
If you're tossin' and you're turnin'
And you just can't fall asleep
I'll sing a song beside you
And if you ever forget how much you really mean to me
Every day I will remind you.. oooh
We find out what we're made of
When we are called to help our friends in need...
You can count on me like 1, 2, 3
I'll be there
And I know when I need it
I can count on you like 4, 3, 2
And you'll be there
'Cause that's what friends are supposed to do, oh yeah
You'll always have my shoulder when you cry
I'll never let go, never say goodbye
You know...
You can count on me like 1, 2, 3
I'll be there
And I know when I need it
I can count on you like 4, 3, 2
And you'll be there
'Cause that's what friends are supposed to do, oh yeah...

You can count on me 'cause I can count on you"

Dan lagu Count On Me dari Bruno Mars versi Alfa pun menutup rekaman kamera Alfa malam itu. Lagu itu seolah menjadi pesan yang ingin Alfa tinggalkan buat Varrho. "You can count on me, Rho... Meski aku jauh dari sempurna, aku akan berusaha menjadi sahabat yang baik untuk kamu semampuku, Rho..., " ujar Alfa dalam hati sambil tersenyum ke salah satu bintang di langit yang makin mesra didekap malam. Seolah ia sedang tersenyum pada Varrho.

Setelahnya : Part 3, Pagi Yang Tertunda, Kenangan Senja dan Petang, Serta Kita

Senin, 06 Juli 2015

Sebuah Monolog Di Ruang Rindu Akan Pelangi



Untuk kalian, pemilik pedar indah warna pelangi....

Aku bukan fans mereka, baik Rizky maupun Anisa, tapi aku penyuka energi positif mereka yang sangat indah. Energi yang seolah karunia langit yang diberikan kepada mereka agar mereka bisa membagikan banyak senyum dan tawa kepada sesamanya. Bermula dari sana, aku memutuskan menitipkan rasa sayang untuk keduanya. Apa aku salah menyayangi kalian? Tidak, aku tidak pernah menyesalinya. Ya, aku menyayangi Rizky dan Anisa. Bukan sebagai artis, tapi sebagai manusia.
Percaya atau tidak, aku selalu yakin mereka adalah dua orang baik, punya beberapa kesamaan seperti rasa sayang mereka ke mama mereka masing-masing, dan keinginan mereka untuk membuat orang lain bahagia. Mereka juga dua orang yang punya kemauan kuat untuk maju.
Melihat perjalanan mereka dalam membagi senyum dan tawa tiap kali terlibat dalam project yang sama, selalu berhasil membuat hati ini tertular virus mereka. Bahkan virus itu datang dan kemudian seolah enggan untuk pergi meninggalkan hati orang-orang yang mereka tulari. Itulah virus mereka, virus positif mereka yang menular melalui hal-hal yang sederhana tapi tidak berlebihan, semua berjalan alami alias natural, tapi sungguh indah. Apakah hanya kami yang merasakan itu, sementara mereka yang diberikan karunia energi positif itu justru tidak bisa merasakannya? Semoga tidak, karena yang terlihat, setiap kali kebersamaan terajut dalam project yang sama, sepertinya Tuhan juga memberikan kesempatan untuk mereka saling berbagi kebaikan, saling berbagi hal-hal positif meski itu pun semakin langka entah karena apa ☺✌.

-Bersambung di monolog selanjutnya, he he. Iseng menulis ini karena hati sepertinya ingin menuangkan monolog yang terselip dalam ruang akan rindu-

Cerbung : Melukis Kita Dalam Cerita Aku dan Kamu - Rizky Nazar as Varrho dan Anisa Rahma as Alfa

Rizky Nazar as Varrho dan Anisa Rahma as Alfa

Part 1: AWAL

"Apa kamu pikir hati ini dari pualam? Kamu dengan mudah berbuat seenaknya, menyanjung kemudian menghempaskannya? Bukankah kamu pernah bilang bahwa hati itu seperti kaca? Sekali dia pecah atau retak, sulit membuatnya kembali sama seperti semula".


Jam di dinding kamar Alfa menunjuk jarum 01.00 pagi saat Alfa masih memandangi langit-langit kamarnya, sambil sesekali dia mengusap air mata yang tidak mau berkompromi untuk tidak keluar. Ada yang berhasil meninggalkan luka dihatinya yang selama ini berusaha untuk ia beri benteng kuat untuk tidak mudah jatuh dalam luka.  
“Fa, kita agak menjaga jarak ya sementara ini. Gina, cewek aku, lagi sensitif ke kamu sepertinya, dia agak keberatan kalau kita terlalu dekat.,” suara Varrho beberapa hari sebelumnya kembali terngiang di telinga Alfa. Alfa yang baru duduk dengan berusaha terburu-buru demi memenuhi janjinya dengan sahabat baiknya itu pun langsung terdiam. Senyuman manis yang berusaha ia berikan ke Varrho pun langsung memudar. 
“Memangnya ada sikap aku yang membuat Gina ngerasa tidak nyaman, Rho? Apa aku sudah berbuat sesuatu yang salah?” tanya Alfa serius sambil berusaha untuk tersenyum lagi memandang ke arah Varrho. Varrho balas menatap Alfa tanpa suara. Varrho bingung bagaimana menjelaskan ke Alfa bahwa sebenarnya ceweknya itu cemburu dengan hubungan diantara Varrho dan Alfa. “Intinya, aku ga bisa sering-sering main bareng kamu lagi, Fa.. Dan aku harap kamu mau mengerti dan mengalah. Sementara ini kamu main aja dulu sama Beta ya”. 
“Tapi Rho, kamu sudah janji, di hari ulang tahun aku tiga hari lagi, kamu bakal meluangkan waktu kamu di hari itu untuk bercanda dan berbagi cerita denganku, seperti yang biasa kita lakukan dulu”.
“Kalau soal itu, kamu nggak usah khawatir, Fa... aku bakal datang menepati janji aku. Kita akan bercanda, main gitar dan nyanyi bareng juga dibawah langit yang penuh bintang seperti dulu lagi . Okay! Kita berdoa saja semoga di hari ulang tahun kamu, bintang-bintang tersenyum merayakannya”.
“Aamiin aamiin aamiin,” ujar Alfa seraya mengangguk angguk penuh semangat, ia kembali tersenyum lebar seolah permintaan Varrho agar dirinya menjaga jarak dengan Varrho dan sempat menghadirkan sedih di hatinya tadi terlupakan sejenak.   
Alfa dan Varrho adalah dua orang sahabat yang selalu mempunyai cara sendiri memaknai persahabatan mereka dalam rupa demi rupa yang sederhana. Mereka tidak bertemu setiap hari untuk menguatkan tali persahabatan mereka, tapi tiap kali bertemu mereka selalu menemukan cara untuk memaknai persahabatan itu meski dengan sangat sederhana. Tiap kali bertemu Alfa dan Varrho selalu memancing tawa demi tawa diantara mereka itu hadir menghangatkan perjumpaan mereka. Mereka membiarkan cerita demi cerita itu mengalir dengan sebebas-bebasnya untuk dibagi agar mereka lebih mengenal satu sama lain baik kelebihan maupun kekurangannya. Dan pada akhirnya di setiap perjumpaan itu pula mereka akan menarik simpulan akan hal-hal yang mereka lontarkan satu sama lain, bersama-sama mencari pembelajaran dibaliknya agar mereka menjadi manusia yang lebih baik, bijak, ceria, dan lebih mensyukuri hidup apapun suka dan dukanya. Mereka memang bukan dua orang sahabat yang saling mengenal sejak kecil, tapi kebersamaan mereka cukup mampu menghangatkan arti persahabatan itu sendiri karena seolah mereka memiliki kesepahaman meskipun mereka berbeda latar belakang dan beberapa pemikiran. Mereka selalu punya ruang dimana mereka kompak memandang sesuatu akan hidup. Hingga kemudian, Varrho pun mulai terbuka menceritakan tentang gadis yang ada di hatinya kepada Alfa, Gina namanya. Gadis itu bahkan hadir sebelum Alfa dan Varrho menjadi dua orang sahabat. Cerita hati Varrho tentang Gina tidaklah membuat Alfa merasa terganggu dan justru berusaha untuk menghargai keberadaan Gina, lebih memahami posisi dia terhadap Varrho. Hingga lambat laun ternyata persahabatan dan cinta itu tidaklah mudah bersanding tanpa ada gesekan diantaranya, apalagi mereka bertiga adalah tiga orang dewasa. 
“Oh ya, Rho... nanti kamu mau disiapin makanan apa buat menemani kita bercerita dan bercanda bersama bintang-bintang?” tanya Alfa tetap dengan semangat. 
 “Apa saja, Fa.. pasti ludes aku makan dan minum,” jawab Varrho sambil meringis. “Oh ya, Fa... aku pergi dulu ya, aku ada janji sama Gina he he...,” ujar Varrho sambil berdiri. Alfa langsung menganggukan kepalanya tanda paham, “Oh iya Rho, hati-hati ya...”. Setelah saling berbalas senyum lebar, Varrho pun pergi meninggalkan Alfa sendiri di tempat itu. 
Tiga hari kemudian, Alfa sengaja mampir ke toko roti membeli beberapa donat buat dirinya dan Varrho. Alfa juga sengaja menyiapkan coklat untuk minuman mereka berdua. Tak lupa Alfa juga membeli beberapa biskuit. Alfa sudah lama menunggu hari itu, beberapa waktu terakhir mereka seolah kesulitan bercanda bersama. Selepas menyelesaikan sholat Maghribnya, Alfa langsung mengeluarkan makanan dan minumannya di halaman rumahnya, siap menunggu kedatangan Varrho. Bintang di langit sudah tersenyum dengan terang dan tulusnya seolah ingin menemani Alfa di hari spesialnya itu. Alfa memetik gitarnya dan mulai menyenandungkan lagu demi lagu kesukaannya sambil menunggu kedatangan Varrho. Sesekali dia memandangi langit luas di malam itu, tersenyum menatap bintang-bintang yang terlihat tulus menemaninya dan hatinya. Detik demi detik pun berlalu... Alfa beberapa kali melirik arlojinya sambil sesekali melihati pintu pagar rumahnya, siapa tahu Varrho muncul disana. Detik demi detik pun terakumulasi dalam jam, bahkan Alfa sempat berbincang-bincang di telepon bersama Beta sambil menunggu kedatangan Varrho. Alfa kembali melirik arlojinya yang menunjukkan pukul 00.15. Tak ada sms atau panggilan atau notifikasi pesan masuk satu pun dari Varrho di HP Alfa. Alfa memandangi makanan dan minuman yang sudah disiapkannya. Sambil tersenyum, ia kemudian mengambil kue itu dan memakannya, serta meminum coklat yang disiapkannya. “Selamat ulang tahun, ya Fa... Semoga berkurangnya jatah usia kamu, menjadikan kamu manusia yang lebih baik dan dewasa. Jadi manusia yang lebih kuat, ya Fa,” ujarnya kepada bayangannya sendiri sambil tersenyum dan kemudian sekali lagi menatap langit membagi senyum itu kepada bintang. “Mungkin Varrho lupa atau ada hal yang lebih penting untuk dilakukannya dibandingkan sekedar berbagi cerita dan canda bersamaku,” ujar Alfa sambil berusaha tersenyum diantara air matanya yang tiba-tiba ingin keluar. Alfa pun kemudian bergegas masuk ke dalam rumah, membereskan semua makanan dan minuman yang ia siapkan kemudian masuk ke dalam kamarnya.   
 Alfa terbangun dari lamunannya, sekali lagi ia buka HP-nya tapi tetap tidak ada notifikasi satu pun dari Varrho untuknya. Alfa kemudian memasang headsetnya dan memutar lagu-lagu kesayangannya hingga matanya akhirnya terlelap diantara air matanya yang masih tersisa malam itu. Tak ada rasa marah kepada Varrho, hanya terselip kecewa yang berusaha Alfa abaikan. Alfa selalu berprinsip dia tidak ingin mengingat orang dengan kekurangannya, tapi dia ingin mengingat orang dengan senyuman yang pernah mereka hadirkan untuknya. Meski Alfa juga gagal mengelak, saat perasaannya merasa sakit saat itu karena apa yang Varrho lakukan padanya.
 Keesokan harinya, Alfa berjanji datang ke sebuah acara bersama Beta. Sebenarnya Varrho juga diundang dalam acara itu, tapi Alfa seolah tahu diri, tidak mungkin Varrho memilihnya untuk datang bersama. Apalagi setelah permintaan Varrho agar Alfa menjaga jarak darinya. Alfa dan Beta pun janji bertemu langsung di tempat acara berlangsung. Beta sedang asyik menunggu Alfa yang sedang diperjalanan ketika Varrho tiba-tiba datang menghampiri Beta. “Ta, ada lihat Alfa?” tanya Varrho sambil tersenyum. “Tumben kamu ingat sama Alfa, Rho. Setelah kemarin kamu buat Alfa menunggu kamu sampai tengah malam karena dia percaya dan memegang janji kamu. Kamu sudah menyakiti Alfa dengan sukses, Rho. Kamu benar-benar tega,” cecar Beta setengah emosi sebagai sahabat Alfa. Varrho terdiam. Jujur di dalam hatinya, dia merasa bersalah, beberapa kali dia memang mengorbankan perasaan Alfa, meski disisi lain dia merasa tidak punya pilihan lain. “Maafkan aku, Ta... Aku memang bersalah ke Alfa, tapi aku punya alasan dan aku ingin menjelaskannya ke Alfa. Dia bakal datang ke acara ini kan, Ta? Aku berusaha telepon dan hubungi dia beberapa kali pagi ini, tapi dia sama sekali tidak menjawab. Aku harus bicara sama dia, Ta... . Aku...”.
Varrho belum menyelesaikan kalimatnya ketika ia melihat Alfa baru saja tiba. Wajah Alfa selalu saja tidak pernah lepas dari senyuman yang seolah tak pernah lelah ia bagi ke sekitarnya. “Alfaaa..., “ ujar Varrho pelan dan bergegas menghampiri Alfa diikuti dengan Beta dibelakangnya. Melihat Varrho yang berjalan kearahnya, sejenak Alfa memperlambat langkahnya meski senyuman itu tetap berusaha ia sunggingkan. Alfa berusaha lebih menguatkan hatinya di hadapan Varrho. “Alfa, ternyata kamu baru datang, aku menunggu kamu, aku ingin bicara sama kamu, Fa...,” ujar Varrho.
Alfa menatap Varrho sejenak. “Sorry Rho, bukan apa-apa tapi aku sudah berjanji dengan Beta sekarang. Kalau kamu mau bicara soal tadi malam, aku ngerti kok Rho. Pasti kamu nggak bisa datang karena ada hal yang lebih penting kan? Aku yakin kamu punya alasan, ya kan?” Susah payah Alfa berusaha tetap tersenyum ke laki-laki yang sedang menatapnya itu.
“Aku... aku benar-benar minta maaf Fa, maaf aku membuat kamu menunggu sampai tengah malam tanpa memberi kabar. Gina... Gina tiba-tiba mengajak keluar dan HP aku mati dan aku tinggal di kamar. Aku baru sampai rumah sekitar jam 01.00. Aku coba telepon dan mengirim pesan ke kamu selepas Shubuh, tapi kamu sama sekali tidak menjawab. Kamu pasti marah ke aku, ya Fa?” Varrho berusaha menjelaskan dengan raut wajah bersalahnya. Alfa menunduk sejenak kemudian tersenyum lagi ke Varrho, “Aku berusaha memahami posisi kamu, Rho. Aku tidak apa-apa. Maaf kalau aku tidak merespon tadi. Aku percaya kamu tidak datang tadi malam pasti ada alasannya. Makasih kamu sudah jelasin barusan. Sekarang kita lupakan saja ya, aku mau ngobrol sama Beta, Rho karena aku sudah janjian dengan Beta. Kamu... have fun ya”.
Alfa tersenyum lebar ke Varrho, seolah tidak terjadi apa-apa di hatinya seraya memberi isyarat ajakan pergi ke Betha. Sementara itu, Varrho hanya bisa memandangi Alfa yang menjauh darinya. Entah kenapa, rasa bersalah itu makin memenuhi hatinya meski Alfa tersenyum lebar sebelumnya. Seolah ada hal yang Alfa berusaha sembunyikan dari Varrho, semacam kecewa yang berusaha diabaikan Alfa. 
Alfa sedang asyik mengobrol dengan Beta dan beberapa teman lainnya ketika Alfa melihat Varrho yang sedang duduk menyendiri di acara itu. Sebenarnya sudah beberapa kali Alfa mencuri pandang memperhatikan gerak gerik Varrho yang seperti orang canggung di acara itu. Bahkan Alfa juga menyadari bahwa Varrho ada kalanya memerhatikan dirinya yang asyik dengan Betha. “   
“Kamu sedang memerhatikan Varrho ya, Fa? Sudahlah, Fa... ingat dia kemarin membuat kamu menunggu sampai tengah malam. Sewajarnya kamu marah ke Varrho kali Fa,” tanya Beta mengagetkan Alfa. 
Alfa tersenyum, “Kasihan Varrho, Ta, dia sendirian dan seperti orang yang bingung begitu. Dia bahkan tidak berusaha bergabung dengan teman-teman cowok yang lainnya”. Alfa terdiam sejenak. “Aku hampiri Varrho dulu, ya Ta. Kita disini ngobrol rame-rame berlima, sementara Varrho sendirian disana. Kamu nggak keberatan kan, Tha?”
“Aku sih sama sekali nggak keberatan Fa, tapi aku ikut kesal saja kalau ingat apa yang sudah diperbuat Varrho ke kamu. Harusnya kamu juga bisa ganti tidak peduli ke dia, nggak perlu mencemaskan dia seperti ini”.
Alfa lagi-lagi tersenyum kearah Beta. Alfa tahu sahabat baik yang ada dihadapannya itu berusaha memahami apa yang dirasakan oleh Alfa, berusaha ikut merasakan apa yang Alfa rasakan. Alfa kemudian merangkul bahu Beta seolah menenangkan sahabatnya itu. “Aku baik-baik saja, kok Ta. Kamu jangan mencemaskan aku, ya,” ujar Alfa sambil menepuk-nepuk lembut bahu Betha sambil menyunggingkan senyuman lebarnya ke Beta membuat Beta pun mengangguk akhirnya. Sepanjang yang Beta kenal, Alfa adalah sosok yang cukup tulus dalam berteman dengan siapapun termasuk dirinya maupun Varrho. Sosok teman yang asyik dan berusaha memahami orang dari sudut pandang orang itu dan bukan hanya sudut pandang dirinya. 
Alfa pun bergegas menghampiri tempat Varrho duduk sendirian. “Kok sendirian saja, Rho,” ujar Alfa tersenyum sambil menyodorkan sekotak susu coklat kearah Varrho. Varrho pun menoleh, “Alfa,... kok bisa ada susu coklat kotak? Kamu ambil dari hidangan sebelah mana, Fa?” balik Varrho bertanya sembari balas tersenyum ke Alfa. Alfa pun tertawa kecil, “Kebetulan aku bawa satu dari rumah buat jaga-jaga kalau tiba-tiba diperlukan, he he. Mau nggak, Rho?”. Varrho ikut tergelak sambil mengangguk dan mengambil sekotak susu dari tangan Alfa itu. “Makasih ya, Fa”.
“Gina belum datang ya, Rho kok kamu duduk sendirian saja disini dan tidak gabung dengan teman-teman cowok yang lain?”
“Aku tidak menunggu Gina kok Fa karena Gina memang tidak bakal datang juga, Fa”. Varrho memandangi Alfa sambil mulai meminum susu coklat pemberian dari Alfa itu. Alfa pun tersenyum kearah orang yang sedang memandanginya itu. “Keberatan kalau duduk disini menemani kamu, Rho?” tanya Alfa membuat Varrho pun tertegun. Varrho terdiam sejenak, “Bukannya kamu harus menemani Beta, Fa?” ujar Varrho balik bertanya. “Beta sedang asyik mengobrol dengan beberapa teman lamanya juga. Jadi nggak masalah kalau aku tinggal. Kecuali... kamu keberatan kalau aku temani...”
“Sama sekali nggak keberatan, Fa. Aku justru senang kamu masih mau menemani aku disini setelah apa yang sudah aku lakukan kemarin. Sekali lagi, maafin aku ya Fa,” balas Varrho dengan wajah kembali dihinggapi rasa bersalah .
Alfa pun balas melebarkan senyumannya untuk Varrho. “Sudah Rho, kita nggak usah bahas lagi soal semalam ya”. Meski hati Alfa masih dihinggapi rasa sakit tiap kali mengingat Varrho mengungkit kejadian di hari ulang tahunnya itu, tapi dia berusaha menyingkirkan rasa itu dengan rasa sayang dirinya untuk Varrho.
Alfa pun mengambil tempat duduk di sebelah Varrho Ia letakkan kue yang sengaja ia ambil sebelum menghampiri Varrho di meja depan tempat duduk mereka. “Daripada bengong, mending kita makan kue ini saja, Rho. Ini aku juga bawa biskuit coklat dari rumah, ayolah kita makan sampai habis,” ujar Alfa sambil tertawa renyah ke Varrho. “Kamu tuh, Fa... masih saja suka bawa stock makanan ya kemana-mana,” balas Varrho sambil tertawa lebar memandangi gadis di depannya yang menularkan tawa padanya. “Makasih banyak ya, Fa... sudah menemani aku ngobrol disini,” ucap Varrho kemudian. “Kamu tidak perlu mengucapkan terima kasih, Rho. Itulah sahabat Rho, saling menemani saat satu sama lain memerlukan, hmmm meski mungkin aku juga tidak selalu ada saat kamu perlukan. Maaf ya, Rho,” balas Alfa sambil tersenyum lebar. Dengan raut setengah tertegun, Varrho memandangi Alfa tanpa bersuara. Varrho tidak menyangka Alfa akan berkata seperti itu, padahal dirinya lebih sering bertindak egois dibandingkan Alfa dalam persahabatan mereka. Senyum Alfa masih tersungging dengan lebar ke Varrho, senyuman yang entah kenapa membuat hati Varrho perlahan menjadi tenang kembali. Varrho pun mengangguk, “Maafkan aku juga ya, Fa... aku belum jadi sahabat yang baik buat kamu, aku beberapa kali membuat kamu kecewa”. “Sahabat itu juga berarti berusaha saling memahami satu sama lain. Jadi...sudah cukup melonya ah Rho, mending kita nikmati kebersamaan kita ini dengan berbagi senyum dan tawa, Ok,” balas Alfa sambil tertawa kecil menatap Varrho sambil menyodorkan jari kelingkingnya ke Varrho tanda baikan membuat Varrho pun akhirnya ikut tergelak dan melingkarkan jari kelingkingnya ke kelingking Alfa. Mereka pun akhirnya menghabiskan kebersamaan mereka dengan menghabiskan makanan yang ada sambil tergelak dalam canda. Persahabatan mereka mungkin seumur jagung dan tidaklah seperti sepasang sepatu yang selalu bersama, tapi mereka utamanya Alfa ingin selalu mengisi kebersamaan mereka dengan bingkai senyum dan tawa meski mungkin didalamnya ada air mata yang mengalir. Persahabatan bukan hanya tentang berbagi sedih dan bahagia, tapi membalut sedih dengan bahagia saat dikenang nantinya.
 Seminggu berlalu, Alfa dan Varrho sama-sama sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Sesekali mereka saling berkomunikasi via whatsapp atau SMS, sekedar memastikan satu sama lain baik-baik saja. Mereka tak sempat berbagi cerita tentang hal-hal yang terjadi di hidup mereka termasuk tentang perihal Alfa yang diterima bekerja di Kota Bandung, disebuah salah satu perusahaan yang sudah lama Alfa incar dan idam-idamkan. Namun, fakta itu justru menjadi kabar bahagia sekaligus sedih bagi Alfa. Sedih karena itu berarti, persahabatannya dengan Varrho mungkin akan semakin menjauh meski sebenarnya tidak ada yang perlu dipermasalahkan dengan semakin mudahnya sarana untuk berkomunikasi dimana pun mereka berada. Entah kenapa, masih saja ada kecemasan yang tiba-tiba muncul di hati Alfa, seolah dia akan kehilangan sahabatnya itu. Sementara itu, Varrho sendiri minggu itu disibukkan dengan jadwal pekerjaannya yang semakin padat ditambah dengan waktu yang harus dibaginya untuk Gina sehingga membuat Alfa menjadi urutan yang harus mengalah. Sepertinya Varrho selalu percaya bahwa Alfa adalah seseorang yang akan mampu memahami dan memaklumi dirinya, tanpa ia sadari kadang kepercayaan saja tak cukup tangguh untuk menghindarkan hati Alfa dari luka.      
“Wah, serius Fa, kamu diterima di perusahaan yang sudah lama jadi salah satu target kamu itu?” tanya Beta via telepon.
“Iya Ta, alhamdulillaah, benar-benar tidak menyangka saat menerima surat panggilan itu, he he. One of my dreams comes true. Tapi selama dua tahun aku bakal ditempatkan di Kota Bandung, Ta sebelum nanti bisa dipertimbangkan untuk dipindah ke kantor pusat di Jakarta,” balas Alfa.
“Selamat ya Fa, ikut senang mendengarnya. BTW, kok terdengar ada sedikit keraguan di suara kamu, Fa, ada apa? Kamu berat meninggalkan Jakarta tercinta ini buat stay di Bandung ya?”. Alfa masih terdiam. “Kamu berat meninggalkan sahabat-sahabat kamu yang ada di Jakarta ya?he he..Sok Pede ceritanya,” ujar Beta lagi.
“Meski Bandung dan Jakarta jaraknya sangat terjangkau, tapi pastinya aku harus tinggal di Kota Bandung dengan ritme kerja di perusahaan aku itu. Aku nggak mungkin bolak balik, Ta. Iya nih, entah kenapa, ada rasa sedih aja tiba-tiba harus meninggalkan Jakarta dan semua hal yang aku miliki disini, meski seminggu sekali tetap bisa pulang. Pastinya aku ga bisa sesering sebelumnya bertemu kamu Ta, apalagi... “. Alfa memilih tidak meneruskan ucapannya. Entah kenapa, rasa cemas itu kembali hadir dengan tiba-tiba di hati Alfa.
“Soal Varrho? Kamu mengkhawatirkan persahabatan kamu dengan Varrho ya, Fa?”
Alfa masih terdiam di tempatnya menelepon. 
“Wajar sih, Fa...apalagi dengan beberapa kejadian diantara kalian akhir-akhir ini. Kalian berdekatan tempat saja, dia kadang mengalahkan keberadaan kamu, apalagi kalian bertambah jauh, ya”.
“Entahlah Ta, jujur aku tiba-tiba merasa takut kehilangan Varrho sebagai sahabat, Ta. Bukannya aku tidak percaya Varrho, tapi persahabatan aku dan dia sekarang ini seperti menyimpan bom waktu. Aku takut, suatu saat, baik aku dan Varrho lelah dan tak ada lagi daya untuk menjaga persahabatan ini tetap hangat, kami akan kembali menjadi asing bahkan lebih asing daripada seorang teman sekalipun. Mungkin kecemasan aku ini terlalu berlebihan kali ya, Ta.”
“By the way, reaksi Varrho gimana Fa dengan kabar ini? Kamu sudah memberitahu Varrho kan?“ sambung Beta lagi.
“Aku belum mengabari Varrho, tentang ini, Ta. Dia lagi sibuk banget minggu ini, bahkan komunikasi via SMS atau WA pun sebatas pendek-pendek saja, sekedar menanyakan apa masing-masing diantara kami baik-baik saja. Tapi aku punya rencana Ta, setidaknya sebelum berangkat aku ingin meninggalkan kesan manis buat Varrho tentang persahabatan kami. Apapun yang terjadi setelah aku berangkat nanti, setidaknya tidak ada penyesalan yang akan aku rasakan tentang Varrho karena aku sudah memperjuangkan persahabatan kami,” jelas Alfa panjang lebar disertai dengan gelak tawa kecilnya seolah ia ingin menunjukkan semangatnya ke Beta.
“Good luck ya, Fa. Kalau kamu perlu bantuan tentang Varrho, aku siap membantu semampu aku, Fa. Berjuang dan semangat Alfa. Mungkin Varrho saat ini sedang sibuk dengan kehidupannya yang bahagia dan tidak bisa melihat arti kamu dengan jelas, tapi akan ada masanya, Varrho akan menyadari bahwa puzzle hidupnya tak kan lengkap tanpa adanya kamu, Fa.”
Alfa tersenyum mendengar ucapan Beta, setelah mengucapkan terima kasih dan membuat janji akan hangout bareng sebelum Alfa berangkat ke Bandung, pembicaraan telepon diantara keduanya pun terputus.
Alfa masih terdiam memandangi surat pemberitahuan panggilan kerja itu sembari tersenyum. Matanya sejenak menyapu ruangan kamarnya seolah membiarkan otak dan hatinya riuh berpendapat. Tak seberapa lama kemudian, Alfa pun memutuskan untuk menghubungi Varrho.
“Rho, lagi sibuk nggak?” ketik Alfa via WA. Ketika kemudian ada balasan dari Varrho, “Ada apa, Fa?” 
“Maaf ya, Rho kalau sebelumnya aku mengganggu waktu kamu. Aku cuma ingin mengajak kamu, sekali aja dalam minggu ini untuk kita bisa menikmati waktu matahari terbit, waktu senja dan waktu malam, sebentar saja bersama. Aku harap ada diantara pagi, sore dan malam kamu di minggu ini yang bisa terluangkan sejenak untuk kita bersama. Aku akan menunggu kabar dari kamu, semoga luang kamu masih ada. Tetap jaga diri dan kesehatan sesibuk apapun kamu, ya Rho”.
“Maaf ya, Fa aku benar-benar sibuk sampai satu minggu ke depan. Gina meminta aku menemaninya di beberapa project kerjaannya dan pekerjaan aku sendiri juga menyita waktu. Maafkan aku ya, aku tidak bisa berjanji ke kamu tapi kita usahakan ya, Fa. ”
Alfa memandangi jawaban Varrho tersebut sejenak. “Sahabat itu harus memahami satu sama lain, Fa. Jika sama-sama tidak ada yang bisa atau ingin memahami, maka sahabat hanya akan menjadi sekedar status tanpa nyawa dan makna,” tegas Alfa ke dirinya sendiri. 
“Iya Rho, nggak apa-apa. Aku bakal mengingatkan kamu, ya. Siapa tahu kamu ada waktu luang,” ketik Alfa lagi.
“Sip, Fa. Makasih ya, untuk doanya, kamu juga jaga kesehatan kamu, ya”. Dengan emotion senyum dari Alfa, percakapan mereka pun berakhir.  
“Aku bakal tunggu jawaban kamu, Rho,” bisik Alfa sambil melihati handphonenya sambil tersenyum. Alfa sengaja tidak memberitahu bahwa dirinya akan berangkat ke Bandung minggu depan ke Varrho. Dia ingin memberi tahu Varrho saat mereka bertemu dan bercengkerama sejenak bersama pagi, atau senja, ataupun gulita. 
Setiap hari, Alfa selalu mengirim pesan ke Varrho. Meski Varrho tak kunjung bisa mengabulkan permintaan Alfa karena waktunya habis untuk kesibukan kerjanya dan juga Gina. Namun, Alfa tidak pernah menyerah. Alfa tetap ingin mewujudkan kebersamaaan dia sejenak di pagi, senja, dan malam sejenak bersama Varrho sebelum dia berangkat. Hari itu hari ketiga, empat hari lagi sebelum Alfa berangkat ke Bandung. 
Alfa kembali mengirim pesan ke Varrho
“Rho, apa kamu ada waktu luang? apa bisa kita bertemu sejenak di pagi, senja, atau malam?” ketik Alfa.
Varrho pun balas menelepon ke Alfa.
“Assalaamualaikum, Fa.”
“Waalaikumsalam, Rho”.
“Fa, malam ini sepertinya kita bisa bercengkerama bersama bintang sekitar jam 7 malam. Insya Allah aku nanti aku ke rumah kamu ya,” ujar Varrho bersemangat.
Alfa pun tersenyum lebar, “Siap, Rho. Makasih banyak, ya Rho”.
“Oh ya, Fa, ajakan kamu soal pagi, senja, dan malam kemarin itu cukup terpenuhi salah satu atau gimana? Aku jadi bertanya-bertanya, Fa kenapa kamu ingin kita bertemu di tiga waktu itu? Ada apa sebenarnya, Fa?” terdengar suara yang penasaran bertanya.
Lagi-lagi Alfa tersenyum meski Varrho tak bisa melihatnya.”Nanti juga kamu bakal tahu kenapa aku mengajak kamu di tiga waktu itu. Aku berharapnya kita bisa mewujudkan ketiga waktu tersebut, Rho sebelum...”. Ucapan Alfa terhenti.
“Sebelum apa, Fa? Sepertinya ada yang aneh dengan kamu, Fa. Ada apa sebenarnya, Fa?” tanya Varrho semakin penasaran.
Alfa tertawa kecil di telepon sengaja supaya terdengar oleh Varrho. “Nggak apa-apa kok, Rho. Toh kita udah lama juga tidak bercanda, sejak kamu makin sibuk dengan kerjaan kamu dan juga Gina. Aku cuma ingin meluangkan waktu sejenak untuk persahabatan kita, Rho.”
“Hmmm, kamu benar Fa. Aku yang meminta kamu berjarak dan mengalah beberapa waktu terakhir ini. Maaf ya. Ya sudah, soal pagi, gimana kalau besok pagi kita bertemu. Kebetulan jadwal aku besok, masih bisa menyisipkan pagi untuk luang, Fa. Soal senja kita bicarakan lagi nanti, ya Fa.”
“It’s okay, Rho. Sampai jumpa nanti malam, ya. Terima kasih banyak kamu sudah meluangkan waktu kamu”.
“Tidak perlu berterima kasih Fa. Aku yang harusnya minta maaf, semakin tidak punya waktu dengan persahabatan kita akhir-akhir ini. Aku harap kamu bisa memahaminya ya, Fa. See you...”
“Insyaa Allah aku berusaha memahami kita, Rho. Sampai jumpa nanti ya Rho. Tetap semangat beraktivitas ya”.
  “Jangan lupa siapin coklat hangat dan gitar ya Fa,” sambung Varrho sambil tertawa di ujung telepon membuat Alfa pun tergelak bersama sahabatnya itu.
Sehabis maghrib, Alfa bersemangat membuat coklat hangat buat dirinya dan Varrho. Dia siapkan gitar dan beberapa cemilan juga sambil bersiap menunggu Varrho di tempat duduk di teras depan rumahnya. Bintang dan bulan sedang asyik bercengkrama malam itu membuat mata Alfa jatuh hati untuk kesekian kalinya. Tanpa sadar Alfa pun memetik gitarnya seolah ingin bergabung membagi canda bersama bintang dan bulan di langit. Tiba-tiba handphone Alfa berbunyi, sebuah pesan dari Beta. “Sedang apa, Fa?”
“Sedang menunggu Varrho datang, Ta,” balas Alfa. 
“Berarti kamu bakal memberitahu Varrho soal kabar gembira itu, ya Fa?”
“Iya, Ta. Doain aku bisa meninggalkan kesan yang indah ya bersama Varrho diantara kebersamaan aku dan dia yang makin langka ini, ya”. 
“Good luck ya, Alfa sayang”. Setelah saling berbagi icon senyuman, percakapan Alfa dengan Beta pun berakhir. 
Alfa membunuh waktunya dengan bersenandung sembari menatap langit yang dipenuhi bintang itu ketika sebuah pesan masuk di handphonenya.


Bersambung kembali, he he. 
Kata masih kelu bercengkerama mesra dengan ide dan tangan, malah sok puitis, ha ha. Ingin sekali meminta Rizky dan Anisa menjawab rindu tapi sekedar meminta pun seolah tak berhak meski kadang rindu itu menjadi liar, he he... malah melo lebay ngelantur, nggak penting dan lupakan, wkwkwkwk ☺✌. Penulisnya lagi galau belum bisa menyelesaikan cerita ini dalam rupa kalimat ☺✌.

Kamis, 25 Juni 2015

Senandung Sepasang Hati (Bagian 2- tamat) - Gamma Tetha

Rizky Nazar sebagai Gamma dan Anisa Rahma sebagai Tetha :)
Niatnya ingin membuat cerita pendek alias cerpen, tapi malah jadi cerita super duper panjang, ha ha. Seperti sedang menulis dialog untuk sebuah drama, ha ha.  Tapi alhamdulillaah akhirnya berhasil mencapai endingnya :). Sekali lagi, aku wujudkan rindu ini untuk kalian, Rizky dan Nisa. Semoga kalian selalu ditunjukkan yang terbaik dan sehat selalu :).

Part Sebelumnya

Gamma tersenyum lembut kearah Tetha meski kondisinya masih lemah, ia memberikan isyarat agar Tetha duduk di sebelah tempat tidurnya. "Bagaimana luka di kepala kamu, Ma? Aku benar-benar minta maaf," ujar Tetha lirih dengan balas tersenyum ke Gamma dengan dipenuhi rasa khawatir dan bersalah. Gamma tetap memandangi Tetha. "Aku cuma gegar otak ringan, Tha. Aku baik-baik saja. Kamu jangan menyalahkan diri kamu sendiri ya, Tha".
"Ma, seharusnya kamu berpikir panjang dulu sebelum melakukan hal yang bisa membahayakan diri kamu seperti tadi," jawab Tetha kemudian masih menatap Gamma. Sejenak Gamma memandangi Tetha tanpa berucap. "Melihat kamu dalam bahaya seperti tadi membuat pikiran aku mengalah kepada hati, membiarkan hati melakukan apa yang dimauinya. Pikiranku seolah memahami senandung hati aku kepada kamu, Tha," ucap Gamma di dalam hatinya dengan tetap memandangi gadis yang ada di hadapannya itu. Mereka saling tersenyum membiarkan kata membisu dalam senandung hati yang tersirat dalam pandangan.
"Makasih untuk kebaikan hati kamu, Ma. Kamu itu benar-benar orang yang baik, tetap baik dari awal kita saling mengenal," ujar Tetha masih tetap tersenyum ke Gamma. "Oh iya, ada Kak Adhit dan Kak Rani di depan, pasti mereka juga ingin melihat keadaan kamu. Aku keluar dulu, ya Ma...". Gamma menatap Tetha dalam diam sejenak kemudian mengangguk pelan dan Tetha pun bangkit dari duduknya.
"Tante, kalau ada perlu apa-apa, jangan sungkan-sungkan bilang ke Tetha ya. Tetha akan tetap disini dan menunggu di luar," ujar Tetha sembari tersenyum kepada Ibu Gamma diikuti dengan anggukan dan ucapan terima kasih dari Ibu Gamma.
Adhit dan Rani baru saja masuk ke kamar Gamma bergantian dengan Tetha ketika pihak manajemen Gamma baru tiba disana. Perempuan usia sekitar 35 tahunan itu terkejut melihat keberadaan Tetha sendirian duduk di ruang tunggu di depan kamar Gamma. "Kenapa kamu masih disini, Tha? Belum cukup kamu menimbulkan masalah buat Gamma hari ini? Selama ini Gamma berusaha agar tidak se-project lagi dengan kamu, dan hidup Gamma cukup tenang selama itu, tapi kenapa kamu mengacaukannya lagi, Tha?" Tetha berusaha tetap tersenyum dalam diamnya. Dia sadar, manajemen Gamma tidak terlalu menyukainya karena mereka menganggap kehadiran Tetha hanya membuat hidup Gamma semakin banyak masalah dan tidak tenang seperti sebelumnya. "Maaf Kak, aku sama sekali tidak ada niat mendatangkan masalah buat Gamma, apalagi membuat dia terluka. Aku... benar-benar tidak tahu kalau kami akan bertemu lagi hari ini".
Fia, pihak manajemen dari Gamma itu pun memandangi Tetha sejenak. "Maaf ya Tha, aku tidak bermaksud menyinggung kamu, hanya saja Gamma agak berubah menjadi lebih lemah sejak mengenal kamu terlebih sejak kalian beberapa kali main bersama, dan aku pikir itu tidak baik buat karier dan image Gamma. Termasuk juga tentang cewek Gamma. Hadirnya kamu sempat membuat dia merasa risih dan itu pastinya berpengaruh ke Gamma, menambah beban pikirannya. Aku harap kamu bisa mengerti, Tha," ujar Fia serius. Tetha terdiam sejenak. "Iya, aku bisa dan berusaha memahaminya, Kak... maaf kalau hadirnya Tetha justru menimbulkan masalah baru," ujar Tetha masih berusaha tetap tersenyum.
"Kalau kamu peduli sama Gamma sedikit saja, tidak seharusnya kamu disini, Tha. Kalau cewek dan fans Gamma datang, mereka bisa merasa tidak nyaman dengan keberadaan kamu disini," sambung Fia lagi. Tetha kembali terdiam. Disatu sisi dia tidak mungkin pergi meninggalkan rumah sakit karena sebab Gamma dirawat di rumah sakit adalah dirinya. Disisi lain, Tetha juga paham bahwa keberadaan dirinya di rumah sakit bisa menimbulkan masalah baru. "Tetha akan berusaha tidak menimbulkan masalah baru, Kak Fia jangan khawatir ya". Tetha baru selesai bicara saat Ibu Gamma muncul dari dalam kamar Gamma. "Fia, ayo masuk. Gammanya sudah siuman dan sudah bisa diajak ngobrol meskipun terbatas karena kepalanya masih sangat sakit". Fia menoleh sejenak ke Tetha kemudian bergegas masuk ke kamar Gamma. Sementara itu Tetha masih terdiam saat Ibu Gamma tersenyum kearahnya. "Ada yang bisa Tetha lakuin, Tante? Mungkin Tante ingin beli sesuatu untuk Gamma juga, biar Tetha belikan," ujar Tetha seraya tersenyum lembut. "Iya, Tante mau beli air mineral sama roti dan beberapa makanan juga buah, Tetha bersedia temani Tante?"
Tetha tersenyum sambil mengangguk. "Atau kalau nggak, Tante disini saja, siapa tahu Gamma memerlukan Tante biar Tetha yang beli. Biar Tetha catat apa saja yang ingin Tante beli".
"Insyaa Allah Gamma tidak apa-apa ditinggal sebentar, lagi pula ada Fia juga di dalam".
Akhirnya Tetha menemani Ibu Gamma pergi membeli makanan dan minuman. Hampir 30 menit mereka pergi ketika mereka akhirnya kembali dan sampai di depan kamar Gamma. Tetha menahan langkahnya untuk masuk ketika ia teringat kata-kata Fia kepadanya.
"Tante, maaf... sepertinya Tetha tidak bisa ikut masuk. Tetha duduk di samping kamar Gamma saja".
Rani dan Adhit sudah tidak ada lagi disana, kembali ke lokasi syuting dan Tetha juga sudah mengetahuinya karena Rani tadi sempat menghubungi Tetha. Di kamar itu kini hanya ada Fia dan Gamma.
"Kenapa, Tha? Ayo masuk saja ke dalam," ujar Ibu Gamma agak heran.
Tetha menggelengkan kepalanya pelan sambil tetap tersenyum. "Tetha tidak mau menimbulkan masalah baru buat Gamma, Tante. Sudah cukup Gamma terluka karena menolong Tetha. Kalau Tetha masuk atau duduk di ruang tunggu depan kamar ini dan nantinya ada cewek atau fans Gamma datang, takutnya malah menimbulkan tanda tanya dan kesalahpahaman baru, Tante. Tapi Tante tenang saja, kalau ada yang diperlukan, Tetha tidak akan kemana-mana, Tetha ada disini".
Ibu Gamma balas tersenyum kepada Tetha dan mengangguk bahwa beliau mengerti alasan Tetha itu.
Tetha akhirnya duduk di kursi yang ada di samping kamar Gamma sendirian. Setelah mengambil wudlu, Tetha pun memutuskan untuk mengaji dengan menggunakan aplikasi Alquran digital yang ada di HP-nya, kembali meneruskan senandung demi senandung doa untuk Gamma.
Tetha masih asyik dengan senandungnya yang ia rangkai untuk Gamma melalui ayat-ayat suci yang dibacanya, saat Ibu Gamma melihatnya. Gadis di depannya itu sedang asyik dalam bacaannya yang nyaris tanpa suara. Ibu Gamma pun tersenyum. Beliau seolah tahu untuk siapa hal itu dilakukan Tetha. Tetha kemudian sadar ada sepasang mata yang sedang mengawasinya, ia menoleh dan melihat Ibu Gamma sedang tersenyum kepadanya. "Sudah selesai mengajinya, Tha? Kalo Ibu boleh GeER, apa kamu sedang mendoakan Gamma, Nak?" Tetha tersenyum lembut. "Tetha berharap semakin banyak doa untuk Gamma, insyaa Allah Gamma bisa segera pulih, Tante. Lewat ini salah satunya Tetha bisa menebus rasa bersalah Tetha ke Gamma."
"Daripada, kamu disini sendirian, sebaiknya kamu ke dalam Nak, cuma ada Fia di dalam bersama Gamma, cewek atau fans Gamma juga belum ada yang menjenguk," ujar Ibu Gamma tiba-tiba membelai lembut rambut Tetha. Tetha terdiam sebelum kemudian kembali menggelengkan kepalanya pelan. "Tetha disini saja, Tante".
20 menit kemudian, terdengar dari tempat Tetha duduk, Fia berpamitan pergi mengurus beberapa keperluan Gamma. Tinggallah Gamma berdua dengan ibunya di dalam kamar sementara Tetha memilih tetap duduk di tempatnya.
"Bu..., Tetha sudah pergi ya?" tanya Gamma lirih sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit.
"Tetha masih disini menunggui kamu, Nak. Dia duduk di ruang tunggu samping belokan kamar kamu, sambil mendoakan kamu. Ibu sudah meminta dia masuk tapi dia tidak mau, dia tidak mau menimbulkan masalah baru lagi dengan keberadaan dia disini katanya".
Gamma terdiam berpikir sejenak. Dia memahami posisi Tetha yang agak sulit, terlebih Fia tadi sempat mempermasalahkan keberadaan Tetha disana. Belum lagi saat cewek dan fans dia mungkin datang menjenguk, keberadaan Tetha justru akan semakin menjadi tanda tanya. Padahal bukan salah Tetha saat dia ada di rumah sakit. Gamma yang membuat Tetha jadi ada disana. Dan kalaupun hatinya boleh sejenak jujur tanpa ada pengingkaran, Gamma menginginkan Tetha ada disana. Bukan berarti Gamma ingin berpaling hati dari ceweknya, tapi saat Tetha didekatnya, Gamma merasa hatinya nyaman dan dibuai senandung yang menenangkan hatinya, meski hanya di satu sudut hati dan Gamma mendefinisikan itu bukan sebagai cinta.
"Apa cewek kamu bakal datang kesini, Sayang?" tanya Ibu Gamma lembut membuat Gamma tersadar dari lamunan sebentarnya. "Iya, Bu... Silva tadi sempat telpon mengkhawatirkan Gamma, mungkin agak sore dia kesini," ujar Gamma sambil tersenyum diantara sakit di bagian belakang kepalanya yang datang dan pergi.
Silva, perempuan itu yang mengisi hati Gamma sebagai pacarnya selama 2 tahun terakhir ini. Perempuan yang dicintai dan ditempatkan Gamma di dalam hatinya. Demi Silva juga, Gamma memutuskan untuk tidak mengambil project bersama Tetha lagi.Kembali Gamma teringat akan Tetha.Gamma pun menelepon Tetha. "Tha, aku mohon kamu mau masuk ke kamar, lagipula hanya ada aku dan ibuku. Kamu tidak perlu merasa khawatir".
5 menit kemudian, Tetha pun memutuskan masuk ke kamar Gamma. Lagi-lagi, dengan ragu Tetha melangkah mendekati tempat Gamma berbaring sementara Gamma seolah menunggu Tetha mendekat.
"Apa ada yang bisa aku lakuin, Ma?" tanya Tetha cemas meski berusaha memasang ekspresi netral saat melihat Gamma yang berusaha menahan rasa sakit seraya tetap menatapnya. "Kata ibu, kamu habis mendoakan aku. Terima kasih banyak ya, Tha. Doa kamu pasti berwujud dalam senandung yang indah," ucap Gamma lirih sambil tersenyum pada Tetha .
"Senandung", kembali Tetha teringat kalimat Adhit dan Rani.
"Tha, aku ingin kamu mendengarnya sekali lagi, kamu sama sekali tidak bersalah Tha, aku yang memilih luka ini tanpa kamu minta. Dan aku ingin kamu tahu, kamu tidak punya kewajiban untuk tetap disini menunggui aku hanya karena rasa bersalah dan ingin membalas budi," lanjut Gamma pelan. Tetha memandangi Gamma tanpa bersuara, hanya senyuman tulus yang ingin tetap ia jaga tiap kali Gamma melihatnya. "Kalau kamu ingin pulang, pulanglah Tha, aku tidak apa-apa".
Tetha masih memandangi Gamma, "Kamu lebih senang aku disini atau pergi, Ma? Kalau memang kamu kurang nyaman dengan keberadaan aku disini, aku akan pergi meski aku juga belum bisa pulang saat ini. Rasa bersalah aku terlalu kuat jika aku meninggalkan kamu saat ini. Luka dan sakit kamu menahan langkah aku untuk pergi, Ma. Tapi aku juga tidak ingin menambah masalah kamu, salah satu manusia pemilik hati yang baik. Tapi aku mohon izinkan aku menunggui kamu, Ma meski hanya di luar kamar".
Gamma tersenyum merasakan tulus yang ditawarkan oleh senyuman gadis yang ada didepannya itu. Hatinya tiba-tiba mulai bersenandung, senandung yang ingin menahan gadis itu untuk pergi. Tapi dalam pikirannya, membiarkan Tetha pergi adalah hal yang terbaik karena adanya Tetha menimbulkan banyak masalah dalam hidupnya, masalah yang sebenarnya bukan salah Tetha, tapi masalah itu hadir bersamaan dengan hadirnya Tetha. Tetha memandangi Gamma yang masih terdiam menatapnya, Gamma seolah larut dalam pikirannya dan Tetha pun bersiap beranjak keluar seolah dia membaca apa yang ada di pikiran Gamma tentang dirinya.
"Kamu istirahat ya Ma, jangan terlalu banyak berpikir, yang terpenting kamu segera pulih. Aku keluar dulu ya, Ma," ujar Tetha lagi-lagi dengan memperlebar senyumannya sambil menepuk lembut punggung telapak tangan Gamma sejenak.
Tetha baru beranjak pergi ketika tangan Gamma memegang lengannya, menahannya pergi. Tetha tertegun dan hendak melepaskan lengannya dari Gamma, saat ia menoleh ke Gamma yang terlihat terpejam kesakitan di bagian kepalanya. "Gamma..., kamu kenapa?" tanya Tetha. "Aku mohon jangan pergi..., " ucap Gamma lirih. Tetha memandang kearah Gamma. Gamma pun balas memandang Tetha dalam diam. Meski pikirannya ingin membiarkan Tetha pergi, tapi hatinya seperti bersenandung lebih keras meminta Tetha tetap menemaninya.
Gamma baru akan melepaskan tangannya dari lengan Tetha ketika Gamma berteriak karena kepalanya tiba-tiba terasa sangat kesakitan sehingga ia urung melakukannya. Ibu Gamma dan Tetha pun menjadi khawatir. "Biar Tetha panggilkan Dokter buat Gamma, Tante," ujar Tetha bergegas hendak pergi ketika Gamma tak juga melepaskan genggamannya di lengan Tetha. "Aku panggilkan Dokter untuk memeriksa kondisi kamu sebentar, ya Ma. Aku akan balik kesini lagi secepatnya," ujar Tetha pelan sambil tersenyum seolah berusaha menenangkan Gamma. Tetha seolah bisa membaca apa yang dimaui Gamma. Perlahan Gamma yang masih kesakitan itu melepaskan pegangannya pada Tetha.
5 menit kemudian Tetha sudah berada di depan ruang perawat jaga. Untunglah, Dokter yang menangani Gamma sedang ada disana sehingga tanpa menunggu lama, Dokter dan Tetha bergegas kembali ke kamar Gamma. Saat itu, Tetha tidak sengaja melihat kearah lain, saat dia melihat Silva, cewek Gamma berjalan dari kejauhan menuju kamar Gamma. Tetha yang berjalan cepat di samping Dokter pun meminta izin tidak ikut masuk dengan alasan tertentu sesampai mereka di depan kamar Gamma. Tetha pun kembali duduk di ruang tunggu di samping kamar Gamma. "Aku tidak mungkin masuk saat ini, lebih baik aku menunggu disini. Kehadiran aku saat ini akan membuat masalah baru buat Gamma". Tetha kembali teringat janjinya ke Gamma bahwa dia akan pergi sebentar dan akan kembali ke samping Gamma. "Maaf Ma, aku tidak bisa masuk sekarang. Tapi aku tidak pergi, aku tetap menunggui kamu disini, Ma," ujar Tetha dalam hati. Terdengar suara pintu kamar Gamma terbuka, cewek Gamma baru saja masuk ke dalam. "Aku tidak melakukan sesuatu yang salah, tapi kenapa aku harus main petak umpet seperti ini. Seolah aku dan Gamma melakukan hubungan yang salah. Nggak Tha, kamu tidak berbuat salah. Kamu disini karena Gamma terluka gara-gara menolong kamu," lanjut Tetha dalam hati berdiskusi dengan dirinya sendiri.
Sementara itu di dalam kamar, Dokter sedang memeriksa kondisi Gamma ditemani ibunya dan Silva. Dokter meminta Gamma untuk lebih banyak istirahat dan tidak terlalu mengobrol banyak dengan pembesuknya. Tak ada nama Tetha disebut di dalam kamar seolah kondisi dan situasi memahami apa yang terjadi. Gamma pun hanya diam saat Tetha tidak kembali bersama Dokter meski awalnya dipenuhi tanda tanya yang pada akhirnya terjawab saat Silva datang. "Ya, mungkin tidak seharusnya aku mengizinkan hati ini menahan Tetha pergi," pikirnya sempat dalam hati diantara sakit yang dirasakan kepalanya.
Tetha masih terdiam dalam duduknya, diantara doa-doanya untuk Gamma ketika terdengar pintu kamar Gamma dibuka. Terdengar suara Ibu Gamma yang mengucapkan terima kasih ke dokter saat itu. "Semoga sakit di kepala kamu berkurang, Ma. Semoga kepala kamu tidak apa-apa," ujar Tetha dalam hati. Cinta itu datang dalam hati Tetha dengan anehnya. Saat dia merasakan rasa itu ke Gamma, dia bahkan tidak tahu dari mana datangnya. Semua mengalir begitu saja meski Tetha sadar rasa itu hanyalah sebuah rasa yang ia rasakan sendiri. Semakin lama, Tetha semakin yakin bahwa rasa itu hanya bisa tersembunyi di sudut hati melalui senandung yang kerap kali menemani hatinya, tanpa orang lain tahu tentang itu. Dan Gamma, laki-laki baik itu adalah seseorang yang selalu baik kepadanya seolah menghargai meski tak mendengar senandung hati Tetha kepadanya.
"Tetha...," terdengar suara Ibu Gamma lembut memanggil namanya menyadarkan Tetha dari diamnya. "Tante... bagaimana sakit di kepala Gamma?" tanya Tetha sontak berdiri. "Kata Dokter, Gamma perlu lebih banyak istirahat saja, tidak boleh terlalu banyak pikiran dan tidak boleh terlalu lelah sementara. Lukanya kan masih belum kering Tha". Tetha kembali dipenuhi rasa bersalah, "Sekali lagi, maafkan Tetha, Tante". Ibu Gamma tersenyum lembut sambil membelai rambut Tetha, "Berhenti menyalahkan diri sendiri, Sayang. Ini musibah". Tetha pun balas tersenyum.
"Oh ya, Tante..., apa ada yang bisa Tetha bantu?" ujar Tetha seolah siap menerima perintah. Tak lupa senyum tetap ia selipkan disana. Ibu Gamma menggelengkan kepala kemudian tersenyum, meminta Tetha duduk kembali. "Tante cuma ingin melihat keadaan kamu, Tha. Saat Dokter masuk hampir bersamaan dengan Silva, Tante sudah mengira kamu disini".
Tetha tersenyum, "Iya, Tante. Tetha tidak mungkin masuk karena ada Silva di dalam. Kalau Tetha masuk, malah akan jadi aneh dan mengganggu mereka. Biar Tetha menunggu disini saja, siapa tahu nanti Tante atau Gamma perlu sesuatu. Kalau Tante mau masuk lagi, silahkan saja". Selama hampir 30 menit Ibu Gamma menemani Tetha di ruang tunggu, mengobrol akan banyak hal-hal sederhana tentang hidup. Bahkan Ibu Gamma sempat menanyakan hubungan diantara Gamma dan Tetha yang renggang seperti yang pernah diceritakan Gamma pada beliau. "Hubungan diantara Tetha dan Gamma hanya sebatas partner main di FTV atau sinetron, Tante, tidak lebih. Kalaupun kami kemudian memutuskan untuk tidak menjadi partner lagi, itu demi kebaikan masing-masing," jelas Tetha. "Gamma juga bilang begitu, semua demi kebaikan kalian, orang-orang disekitar kalian, dan fans kalian. Tapi apa iya keputusan itu harus berhenti menjadi partner main, Tha. Bukankah itu berarti kalian memutus tali silahturrahim diantara kalian? Kecuali ada sesuatu yang lebih beralasan yang kalian sembunyikan atau tidak mungkin dijelaskan".
Tetha memandangi Ibu Gamma sejenak tetap dengan senyumnya. "Saya dan Gamma cuma sebatas partner kerja, Tante. Dan karena kami hanya partner kerja, itu sebabnya mungkin keputusan ini diambil. Selama ini Tetha berusaha ingin menempatkan partner kerja, fans, teman, dan sahabat sepertinya layaknya teman baik dan semuanya bisa berjalan beriringan dengan kehidupan kita. Tapi Tetha juga perlahan belajar Tante, dalam hidup tidak semua bisa berjalan sesuai yang kita harapkan. Ada kalanya, kita harus memilih mana yang lebih baik diantara pilihan yang tersedia. Sepertinya itu juga yang terjadi diantara Gamma dan Tetha. Baik Tetha maupun Gamma memilih untuk berhenti menjadi partner kerja karena itu membawa kebaikan yang lebih banyak buat kehidupan kita masing-masing. Partner kerja hanya teman saat kita se-project, tapi fans, teman, pacar, mereka adalah teman yang lebih nyata dan ada di kehidupan kita. Kalau dibilang memutuskan silahturrahim, Tetha dan Gamma insyaa Allah berusaha tetap baik meski kami jarang berkomunikasi atau bertemu," sambung Tetha berusaha menjelaskan lebih lanjut. Ibu Gamma mengangguk pelan sambil tersenyum lembut ke gadis di depannya itu. Beliau semakin memahami kenapa Gamma bersikap sama layaknya Tetha ke Gamma, meski disatu sisi terbelesit tanya, sebenarnya apa yang Tetha dan putranya rasakan satu sama lain saat menjauh. Karena melihat sejenak kebersamaan bersama Tetha di kamar Gamma, seolah ada ingin, ada sesuatu yang tertahan diantara keduanya, meski mereka mungkin tidak menyadarinya. Ibu Gamma kemudian kembali masuk ke kamar, tidak ingin terlalu lama meninggalkan Gamma dan Silva sendirian. Meski beliau mempercayai keduanya, beliau tetaplah seorang ibu yang pasti tidak akan bisa lepas dari rasa khawatir kepada anaknya sebagai wujud kasih sayangnya.
Jarum di arloji Tetha menunjukkan jam 04.00 sore, saat Silva meninggalkan kamar Gamma. Tetha masih setia duduk di ruang tunggu di belokan buntu sebelah kamar Gamma, seolah stand by siap menerima perintah apa saja jika Gamma atau ibu Gamma memerlukan dirinya diantara senandung doa yang tetap ia kirimkan untuk Gamma. Rasa syok atas kejadian kecelakaan tadi mulai berkurang di hati Tetha, meski rasa bersalah dan penyesalan itu masih bergelayut di pikiran dan hatinya.
Di dalam kamar, Gamma terlihat mulai memejamkan mata, setengah tertidur untuk beberapa saat diantara sakitnya ketika tiba-tiba ia teringat Tetha. "Bu, apa Tetha masih menunggui Gamma di ruang tunggu sebelah?" Ibu Gamma mengangguk pelan, "Itu sebabnya Ibu tadi agak lama meninggalkan kamu dan Silva, Ibu menemani Tetha mengobrol sejenak. Kasihan dia sendirian, seperti main petak umpet untuk bisa mencemaskan kamu". Gamma menatap Ibunya dengan lembut, "Tapi Ibu jadi semakin mengerti kenapa kalian seperti ini, keputusan yang kalian anggap paling baik diantara pilihan yang ada. Bukan tentang siapa benar dan siapa yang salah". "Menurut Ibu, apa bijak kalau Gamma meminta Tetha tetap disini menemani Gamma?" tanya Gamma pelan. Ibu Gamma tersenyum, "Ikuti kata hati kamu, Sayang. Pikiran kita mungkin adalah hal logis yang memikirkan mana yang baik dan buruk. Tapi hati membuat kita tahu apa yang kita inginkan. Meski mungkin ada kalanya nafsu itu mengotori dan menyamar di hati kita, tapi coba kamu rasakan sejenak dengan tenang, Nak".
Gamma akhirnya meminta Ibunya untuk memanggil Tetha. Perlahan Tetha mendekat kearah Gamma yang memandangnya. "Kamu tidak menepati janji kamu ke aku, Tha. Kamu bilang kamu akan segera balik, ternyata baru sekarang kamu balik," ujar Gamma lirih dan parau. Terlihat kondisi Gamma yang kelelahan saat itu. Tetha balas memandang Gamma, Tetha tersenyum lembut sambil mengangguk pelan. "Iya, maaf Ma, aku ingkar janji. Tapi kita juga tahu, ada alasan untuk itu. Aku yakin kamu pasti mengerti alasannya. Sekarang kamu tidur ya, kata dokter kamu harus banyak istirahat dan tidak boleh terlalu capek kan. Aku nyanyiin kamu lagu biar kamu cepat tidur ya". Gamma mengangguk pelan, berusaha tetap tersenyum ketika kepalanya tiba-tiba kembali sakit. Ia pejamkan matanya rapat untuk menahan rasa sakit itu, sembari mendengarkan suara Tetha yang entah kenapa berhasil membuat hatinya ikut bersenandung saat itu. Tetha, meski mereka lama tak ber-partner lagi, tapi senandung suaranya entah kenapa selalu sampai di hatinya, membuat ruang rindu itu terbuka dan menawarkan rasa bernama bahagia. "Terkadang malaikat, tak bersayap tak cemerlang tak rupawan... Namun hati ini silahkan kau adu...malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya". Bait demi bait lagu Dee itu terdengar merdu di telinga Gamma dan membelai lembut hatinya meski sakit di kepalanya menguat, membuat Gamma tidak bisa membuka matanya dan hanya terpejam untuk menahan sakitnya. Tangan Tetha menepuk-nepuk pelan punggung telapak tangan Gamma, seperti seseorang yang sedang meninabobokan anak kecil. Penggalan lagu Dee itu pun sampai di ujungnya dan Tetha masih tetap menepuk-nepuk pelan punggung tangan Gamma. Gamma masih tak bisa terlelap karena sakit dikepalanya seolah tak mengizinkannya untuk bisa tidur dan melupakan sakitnya dengan mudah. Hanya saja sejenak, Gamma merasa agak tenang saat Tetha menghiburnya. Seolah senandung rasa sakit itu terkalahkan oleh senandung Tetha untuknya. Tetha sedang menatap Gamma yang terpejam, dia merasa Gamma sepertinya belum juga terlelap saat itu. "Ma, apa kamu kesakitan dan tidak bisa tidur?" tanya Tetha pelan. Gamma berusaha membuka matanya dan melawan rasa sakitnya ketika tiba-tiba semuanya terlihat gelap olehnya.
Tiba-tiba tangan Gamma menggenggam erat telapak tangan Tetha membuat Tetha terkejut. "Tha, kenapa semuanya gelap ya, Tha. Aku nggak bisa lihat kamu dan Ibu," ujarnya mulai panik dan semakin erat menggenggam tangan Tetha. Tetha dan Ibu Gamma pun ikut panik mendengarnya. "Sayang, kamu nggak sedang bercanda kan, Nak?" tanya Ibu Gamma terlihat cemas seraya mengusap lembut rambut Gamma sambil menatap mata Gamma. "Semuanya gelap, Bu. Gamma tidak bisa melihat apa-apa," tampak Gamma terlihat semakin panik. Sementara itu, Tetha yang menggenggam tangan Gamma pun menjadi syok mengetahui kenyataan itu. Tetha berusaha menatap dari dekat ke arah mata Gamma sambil menggerakkan tangannya di depan mata Gamma persis. Tak ada respon dari Gamma saat itu terhadap gerakan tangan Tetha, membuat Tetha semakin syok. "Aku panggilkan Dokter ya, Ma. Kamu sabar ya, tunggu sebentar...," ujar Tetha segera berdiri tanpa banyak berpikir lagi ketika pegangan tangan Gamma menahan langkahnya. "Kamu janji kamu bakal balik kesini segera, ya Tha. Aku mohon temani aku," pinta Gamma lirih. "Aku pasti kembali sesegera mungkin dan nggak akan meninggalkan kamu, Ma," jawab Tetha pelan sambil berusaha menahan air matanya yang ingin keluar diantara rasa bersalah dan syok yang dirasakannya.
Dokter pun melakukan pemeriksaan. Kebutaan yang dialami Gamma adalah efek dari gegar otak ringan yang dialaminya. Namun, itu hanya bersifat sementara. Tetha masih berdiri di samping Gamma, air matanya gagal ia tahan mengetahui kondisi Gamma itu, terlebih Gamma mengalaminya karena dirinya. Ibu Gamma terlihat duduk sambil mengusap lembut rambut Gamma yang masih agak kaget dengan kondisi yang dia alami. Dokter pun memberikan obat penenang agar Gamma bisa istirahat.
Perlahan Gamma pun akhirnya terlelap sementara Tetha masih setia berdiri disamping Gamma menunaikan janjinya untuk tetap menemani Gamma. "Maafkan aku, Ma. Gara-gara aku, kamu mengalami kebutaan sementara. Aku benar-benar menyesal. Maafkan aku...," ujar Tetha didalam hati diantara air matanya yang makin sulit ia tahan untuk keluar sembari menatap lekat-lekat wajah Gamma yang sedang terlelap itu.
Waktu menunjukkan pukul 18.25 saat Tetha menggantikan ibu Gamma menjaga Gamma sementara beliau sholat. Tetha duduk di sebelah Gamma sambil menyenandungkan doa-doa. Tiap kali dia mengingat kebutaan Gamma, air mata Tetha selalu tak bisa ia tahan untuk keluar.
"Maafkan aku, Ma... gara-gara aku, kamu terbaring disini dan syuting hari terakhir kamu pun terhenti," ucap Tetha lirih sambil terisak dan menepuk-nepuk pelan punggung telapak tangan Gamma.
"Jangan terlalu menyalahkan diri kamu, Tha. Tante juga kaget dengan kenyataan ini, tapi seperti Dokter bilang ini hanya sementara. Dengan terapi rutin, insyaa Allah penglihatan Gamma bisa segera kembali," terdengar suara ibu Gamma sambil membelai rambut Tetha.Tetha pun segera mengusap air matanya.
"Andai Gamma tidak menolong Tetha, pasti dia bisa menyelesaikan syutingnya hari ini. Kenapa harus Gamma yang terbaring sakit Tante, harusnya Tetha yang mengalami kebutaan sementara itu. Mungkin, ini memang pertanda bahwa Gamma dan Tetha tidak bisa menjadi partner kerja lagi, Tante...," ujar Tetha berusaha menahan isaknya.
"Tha, Gamma itu orangnya cukup sensitif, dia hanya mengikuti kata hatinya saat menolong kamu, dia tidak bisa melihat kamu terluka, Nak. Mungkin dia syok dengan kebutaan sementara yang dialaminya ini, tapi Tante tahu Gamma tidak pernah menyesal menolong kamu, Tha". Tetha pun kemudian berdiri dan menyilahkan ibu Gamma untuk duduk kembali.
Gamma belum juga terbangun dari tidurnya ketika Fia, pihak manajemen Gamma memasuki kamar Gamma dan terkejut melihat Tetha masih ada disana.
Fia mendekati ibu Gamma dan menanyakan keadaan Gamma dan terkejut saat tahu bahwa Gamma mengalami kebutaan sementara. Fia pun menghibur Ibu Gamma agar bersabar dan tidak usah khawatir dengan urusan pekerjaan Gamma. Fia juga membawakan makan malam untuk Gamma dan Ibu Gamma. Fia kemudian meminta izin ke Ibu Gamma untuk berbicara dengan Tetha di luar kamar.
"Kenapa kamu masih disini Tha? Bukannya sudah aku bilang kamu itu tidak seharusnya disini. Kamu hanya menimbulkan lebih banyak masalah buat Gamma. Dan sekarang kamu lihat, Gamma mengalami kebutaan sementara. Mau tidak mau project demi project-nya harus di-cancel karena ini. Dan ini semua gara-gara kamu, Tha. Aku bisa lihat Gamma itu terlalu baik saat bersama kamu dan itu melahirkan masalah demi masalah untuk dia, itu sebabnya aku sarankan dia menjauhi kamu dan tidak menerima project apapun yang ada kaitannya dengan kamu".
Tetha terdiam dan menunduk, hatinya saat itu dipenuhi senandung rasa bersalah akan kondisi yang dialami Gamma. "Maafkan aku, Kak Fia. Maaf kalau penilaian Kakak tentang Tetha seperti itu. Maaf karena Tetha sudah membuat Gamma buta sementara. Tapi Tetha tidak mungkin meninggalkan rumah sakit ini, Gamma sakit karena Tetha, Kak".
"Tapi keberadaan kamu disini tidak diharapkan Tha, oleh cewek dan fans Gamma juga aku. Cukup Gamma yang kamu rugikan dan sakiti, jangan kamu tambah orang-orang disekitarnya. Kamu tahu, gara-gara ini Gamma mengalami kerugian secara finansial, dia sementara tidak bisa syuting dan syuting hari terakhir ini bahkan tertunda. Apa kamu belum puas, Tha?"
"Maafkan aku, Kak Fia".
"Maaf saja nggak cukup Tha, harusnya kamu juga mengganti sebagian kerugian yang Gamma tanggung".
Tetha menunduk, "Aku akan menanggung biaya pengobatan Gamma selama sakit. Dan Tetha akan memberikan sebagian penghasilan Tetha buat Gamma selama Gamma sakit. Tapi Tetha harus konsultasikan dulu berapa persentase penghasilan Tetha yang bisa Tetha berikan," ujar Tetha pelan.
"Tetha nggak perlu melakukan hal itu, Fia. Gamma sakit karena dia yang ingin menolong Tetha, jadi ini bukan salah Tetha," tiba-tiba Ibu Gamma muncul dari dalam kamar. Beliau ternyata mendengarkan percakapan Tetha dan Fia dari balik pintu kamar.
"Tapi Bu, keberadaan Tetha selalu membawa masalah buat Gamma," ujar Fia berusaha menjelaskan, "dan sekarang Gamma buta sementara gara-gara Tetha, Bu".
"Tante, apa yang dikatakan Kak Fia itu benar. Sudah seharusnya Tetha melakukan hal ini untuk semua kerugian finansial yang dialami Gamma gara-gara Tetha. Tetha ikhlas, Tante," ujar Tetha sambil tersenyum dan menggenggam tangan Ibu Gamma lembut.
Ibu Gamma menggelengkan kepalanya pelan meminta Tetha mengurungkan niatnya, tapi Tetha makin menggenggam erat tangan beliau berusaha menyakinkannya bahwa itu adalah hal yang sepantasnya dilakukan oleh Tetha.
"Fia, Ibu mohon jangan suruh Tetha pergi, setidaknya sebelum Gamma terbangun dari tidurnya," ucap Ibu Gamma.
"Tapi Bu, kehadiran Tetha di dekat Gamma akan membuat banyak masalah. Kalau Silva atau fans Gamma tahu, Ibu bisa bayangkan bagaimana jadinya. Ini malah akan membuat Gamma banyak masalah, Bu".
Tetha hanya terdiam saat itu, dia seperti terdakwa yang bersalah akan kondisi Gamma.
"Ya sudah Fi... malam ini Ibu akan bilang ke perawat, untuk malam ini biar Gamma tidak menerima kunjungan dari siapapun lagi. Tolong izinkan Tetha disini setidaknya sampai Gamma bangun, Fi. Bukannya Ibu membela Tetha dalam hal ini, tapi Ibu mengerti perasaan Tetha. Lagi pula Silva mungkin baru datang lagi besok".
Fia akhirnya mengendurkan egonya, dia kemudian menatap ke arah Tetha. "Seperti yang Ibu Gamma bilang, kamu boleh disini malam ini. Tapi tolong jangan muncul lagi esok hari. Lakukan ini setidaknya untuk kebaikan Gamma, Tha. Aku bukan benci ke kamu Tha, tapi kenyataannya keberadaan kamu di hidup Gamma cenderung menimbulkan banyak masalah buat dia".
Tetha balas memandang ke arah Fia sebelum akhirnya ia mengangguk pelan.
"Oh ya, tentang bagi hasil penghasilan selama Gamma buta seperti yang kamu bilang tadi, aku tunggu kabar kamu secepatnya. Jika mungkin besok".
Tetha kembali mengangguk. Setelah bertukar nomor HP, Fia pun berpamitan ke Ibu Gamma dan kemudian meninggalkan rumah sakit. Setelah memberi tahu perawat bahwa Gamma tidak ingin menerima kunjungan untuk malam itu, Tetha dan Ibu Gamma pun kembali ke kamar dan duduk di dekat Gamma. Ibu Gamma duduk di kursi dihadapan Gamma berbaring sedangkan Tetha duduk di tempat tidur Gamma di belakang kepala Gamma yang tertidur dalam posisi miring itu.
"Tetha, kamu yakin dengan keputusan yang kamu sampaikan ke Fia tadi? Tante pikir seandainya Gamma tahu, dia pasti tidak akan setuju, Tha. Dia tulus menolong kamu, Tha".
Tetha tersenyum lembut. "Sudah seharusnya Tetha melakukan ini, Tante. Tetha minta tolong, jangan beritahu Gamma tentang ini ya".
"Tapi Nak...".
Ucapan Ibu Gamma terhenti melihat Tetha balas memandang beliau dengan wajah memelas meski berusaha tetap tersenyum. "Cuma ini yang bisa Tetha lakukan untuk mengurangi rasa bersalah Tetha selain mendoakan Gamma, Tante".
Tetha dan Ibu Gamma larut dalam doa masing-masing untuk Gamma ketika Gamma membuka matanya. "Kamu sudah bangun, Sayang?" ujar Ibu Gamma membelai lembut rambut Gamma.
"Bu, apa Tetha sudah pulang?" tanya Gamma. "Aku disini, Ma.. aku nggak akan ingkar janji lagi, bukankah kamu minta aku menemani kamu?"
Ibu Gamma meminta Tetha duduk di sebelah Gamma seolah ingin memberikan kesempatan untuk mereka bicara sementara beliau menyantap makanan yang dibawa Fia sebelumnya.
"Maafin aku ya, Ma...," Tetha berusaha menahan isakannya diantara air matanya yang tidak bisa ia tahan untuk keluar.
"Tha, ini bukan salah kamu. Aku yang ingin menolong kamu dan aku tulus melakukannya dari hati. Maafkan aku ya Tha, kalau tadi mungkin aku sempat syok saat baru tahu aku tidak bisa melihat apa-apa. Tapi aku sama sekali tidak menyalahkan kamu, Tha".
Tetha masih terdiam, karena dia tidak ingin Gamma mendengarkan isakan tangisnya karena air matanya makin deras menggenangi matanya. Tetha tidak tega melihat Gamma dalam kondisi seperti ini, apalagi semua itu setelah Gamma menolong dirinya.
"Kamu nangis Tha?" tanya Gamma. Tetha buru-buru mengusap air matanya. "Aku tidak menangis kok, Ma...," ujar Tetha berusaha ceria menjawab pertanyaan Gamma.
Gamma terdiam sejenak, mencoba meraba-raba ekspresi Tetha saat itu. "Aku tahu kamu sudah mengusap air mata kamu Tha, aku yakin kamu habis menangis, kan Tha? Aku bisa merasakannya, Tha," ucap Gamma pelan. Kini gantian balik Gamma yang khawatir kepada Tetha. Sementara itu Tetha terdiam, ia bingung harus menjawab apa kepada Gamma. Tetha pun kembali menepuk-nepuk pelan punggung tangan Gamma.
"Aku mohon jangan salahkan diri kamu ya, Tha. Kalau kamu menyalahkan diri kamu, aku akan lebih menyalahkan diri sendiri, Tha. Aku bersyukur kamu baik-baik saja Tha dan aku tidak menyesal sudah menolong kamu. Lagipula, tadi Dokter bilang kan bahwa kebutaan aku ini cuma sementara, Tha. Insyaa Allah dengan terapi rutin, aku pasti bisa melihat lagi".
"Iya, Ma...insyaa Allah kamu pasti akan segera melihat lagi. Kamu harus tetap semangat ya," sambung Tetha dengan riang dan optimis, ingin menyemangati Gamma.
Hening sejenak diantara mereka ketika kemudian Tetha kembali berucap, "Oh ya, Ma, janji aku untuk menemani kamu hanya sampai malam ini saja, kan?"
"Kenapa Tha, kamu nggak ingin menemani aku? Kamu sudah ingin pulang ya... Kalau kamu ingin pulang, silahkan pulang, Tha. Bukan suatu kewajiban buat kamu menemani aku. Dan aku tidak ingin kamu melakukan ini karena ingin membalas budi alias terpaksa. Lagi pula kita juga bukan siapa-siapa".
Tetha tersenyum lebar kearah Gamma, meski ia tahu Gamma mungkin tak bisa melihatnya, tapi seolah ia yakin Gamma bisa merasakan ketulusan senyumannya itu.
"Aku tidak pernah keberatan menemani kamu disini, Ma. Aku peduli sama kamu dan sama sekali tidak merasa terpaksa. Tapi baik aku maupun kamu juga tahu, kalau aku tetap disini, aku akan meninggalkan masalah yang lebih banyak untuk kamu, tentang Silva, fans kamu, juga manajemen kamu. Seperti keputusan kita tidak lagi menjadi partner kerja beberapa bulan ini, semua itu pasti untuk kebaikan yang lebih banyak lagi kan, Ma. Seperti yang kamu bilang tadi, kita bukan siapa-siapa Ma, hanya dua orang asing yang pernah bertemu sebagai partner kerja," ujar Tetha lembut sambil tersenyum. "Tapi, kamu tidak usah khawatir, dimana pun aku berada, aku pasti selalu mendoakan kesembuhan kamu Ma, dan kalau ternyata kondisi memungkinkan dan kamu ingin aku datang, kamu bisa hubungi aku". Hati Gamma seolah merasakan senyum tulus yang Tetha persembahkan untuk dirinya, meski matanya tak bisa melihat apa-apa. Gamma pun terdiam sejenak sebelum kemudian dia balas tersenyum lebar ke Tetha sambil mengangguk pelan. Gamma juga ingin Tetha tahu bahwa dirinya tidak pernah menyesal menolong Tetha. Tetha kemudian melanjutkan lagi senandung lagu Dee sesuai permintaan Gamma. Lagu Dee adalah salah satu lagu yang berkesan bagi keduanya, bukan karena maknanya sesuai dengan kisah mereka, tapi Gamma terbiasa mendengarkan Tetha menyenandungkan lagu itu saat mereka satu project bareng dan entah kenapa perlahan Gamma jadi menyukai lagu itu apalagi saat yang menyanyikannya adalah Tetha. Dan saat itu, Gamma tiba-tiba merasakan rindu mendengarkan Tetha menyanyikan lagu itu. Setelah Gamma kembali terlelap, Tetha pun akhirnya berpamitan pulang kepada Ibu Gamma.

Beberapa hari kedepan setelah itu, Tetha tidak pernah datang lagi menemui Gamma. Dia berusaha menepati permintaan Fia kepadanya malam itu. Tetha melakukannya demi kebaikan Gamma dan banyak orang juga mungkin demi kebaikan dirinya sendiri. Tetha hanya mencuri-curi tanya informasi tentang perkembangan kondisi Gamma.
Satu bulan berlalu, ketika entah kenapa hati Tetha begitu riuh mendesak Tetha untuk menjenguk Gamma di rumahnya. Seolah ia mendengar Gamma memintanya datang untuk menemaninya bercanda sejenak. Setelah lama menimbang-nimbang, akhirnya Tetha pun memutuskan pergi ke rumah Gamma.
Rumah Gamma terlihat lengang. Dengan setengah ragu Tetha mengetuk pintu rumah Gamma ketika Ibu Gamma yang langsung membukanya. "Tetha, akhirnya kamu datang lagi menjenguk Gamma, Nak," ujar Ibu Gamma sambil mencium kedua pipi Tetha setelah Tetha mengecup punggung tangan beliau.
Tetha kemudian duduk di ruang tamu rumah Gamma. "Bagaimana kondisi Gamma, Tante?"
"Gamma masih terus terapi, tapi akhir-akhir ini dia sering murung karena merasa dirinya tidak berguna. Dia sempat 1-2 kali menanyakan kamu, Tha, apa kamu ada datang lagi atau tidak, tapi saat Tante bilang kamu tidak datang dia hanya diam sejenak kemudian larut dalam pikirannya sendiri untuk beberapa saat".
Tetha menunduk sejenak. "Maafkan Tetha karena tidak pernah datang lagi setelah malam itu. Tetha cuma berusaha memenuhi permintaan manajemen Gamma yang menurut Tetha memang baik untuk Gamma. Tapi cewek dan fans Gamma pasti setia menghibur Gamma, kan Tante?"
Ibu Gamma mengangguk pelan, "Iya beberapa kali fans Gamma datang waktu Gamma di rumah sakit dan Silva juga beberapa kali datang ke rumah menemani Gamma seperti biasa seperti saat sebelum Gamma sakit".
Tetha tersenyum kearah Ibu Gamma, "Syukurlah Tante, setidaknya Gamma tidak merasa kesepian".
"Ya sudah, sekarang Tetha langsung ke kamar Gamma saja ya. Sejak dia sering murung, dia lebih banyak diam dan menyendiri di kamar, sambil mendengarkan lagu-lagu kesukaannya".
Perlahan Tetha membuka kamar Gamma, tampak Gamma sedang asyik duduk di kamar tidurnya dengan headset melekat di kepalanya. Ibu Gamma pun meninggalkan Tetha sendirian dan kembali ke dapur. Tetha membawa susu milo kaleng dingin ditangannya yang baru dibelinya di toko dekat rumah Gamma. Berusaha tanpa suara, Tetha pun mendekat ke arah Gamma sambil mengambil gitar Gamma yang tergeletak di ujung kamar Gamma.
Tetha menempelkan kaleng milo dingin itu ke pipi Gamma, membuat Gamma terkejut dan langsung melepas headsetnya. "Siapa ya?" Tetha masih saja diam meski Gamma memegang tangan Tetha dan sekaleng milo itu. Tetha kemudian tersenyum lembut sambil memandang kearah mata Gamma yang terlihat berusaha menerka-nerka orang yang ada di hadapannya.
Tetha pun meletakkan kaleng susu milo dingin itu di genggaman tangan Gamma dan kemudian Tetha mulai memetik gitar Gamma. "Lelahmu jadi lelahku juga. Bahagiamu bahagiaku pasti... ... ...," lirik lagu Malaikat Juga Tahu pun mengalun merdu di telinga Gamma membuat senyuman Gamma pun mengembang lebar saat itu juga. "Tethaaa...," ujar Gamma membuat tawa Tetha pun pecah.
"Susu milonya mau diminum nggak, Ma?" tanya Tetha dengan nada ceria. Gamma pun mengangguk pasti sambil tersenyum. Tetha membukakan tutup kaleng milo itu untuk Gamma dan Gamma pun dengan semangat segera meminumnya. Bahkan saking semangatnya, Gamma sempat tersedak, "Pelan-pelan, Ma... Ga bakal aku minta, Ma," ucap Tetha sambil menepuk-nepuk punggung Gamma dan Gamma pun tertawa.
"Aku seneng banget akhirnya kamu datang lagi, Tha". Tetha tersenyum lembut memandang kearah Gamma seolah Gamma bisa melihatnya. "Maafin aku, Ma karena aku baru datang lagi sekarang. Entah kenapa hari ini hati aku bersenandung keras sekali meminta aku menemui kamu. Mungkin karena aku sudah terlalu lama tidak menjenguk kamu, orang yang sudah menolong aku, makanya hati mengingatkan aku".
Gamma balas tersenyum lembut.
"Tapi kamu tidak kesepian pastinya ya Ma, kan ada Silva dan fans kamu yang setia menghibur kamu ya... Pastinya karena itu juga ya Ma, kamu tidak menghubungi aku dan meminta aku datang".
Gamma terdiam sejenak, kemudian kembali tersenyum "Iya, Tha... Silva dan fans aku, mereka setia menghibur aku". Padahal di dalam hati Gamma, sebenarnya ada hal yang tidak bisa diungkapkannya. Meski banyak yang menghiburnya termasuk Silva, tapi tetap saja ada yang ia rasakan kurang di dalam hatinya dan itu ternyata tentang Tetha. Tapi dia juga ragu tiap kali ingin menghubungi Tetha karena semua yang terjadi diantara mereka berdua, meski mereka bukan siapa-siapa.
"Tha, apa kamu sekarang lagi tersenyum tepat didepan mata aku?" tanya Gamma sambil tersenyum.
"Iya, Ma dan kamu juga sedang tersenyum tepat menghadap aku". Gamma makin melebarkan senyumnya. "Aku ingin membayangkan  wajah kamu sekarang, Tha. Tidak perlu sampai menyentuh wajah kamu, tapi tolong kamu gerakin tangan aku sambil menjelaskan muka kamu ya,... ".
Tetha mengambil kaleng milo yang sudah habis itu dari tangan Gamma. Tetha pun memegang tangan Gamma dan mendekatkan tangan Gamma ke mukanya. "Ini ... mata aku... ini hidung aku.. ini bibir aku yang sedang membentuk senyum lebar untuk kamu, Ma". Perlahan Tetha menggerakkan tangan Gamma beberapa centimeter dari wajah Tetha. Gamma pun tersenyum, entah kenapa hatinya bersenandung bahagia lagi saat itu, senandung yang lama tidak ia rasakan.
Mata Tetha pun berkaca-kaca melihat kondisi Gamma yang tak kunjung mampu melihat, membuat rasa bersalah itu menyeruak keras dari hatinya. Bahkan Tetha akhirnya tak mampu menahan air matanya untuk keluar, meski Tetha berusaha untuk tanpa suara agar Gamma tidak mengetahuinya.
"Sekali lagi maafin aku, Ma. Gara-gara menolong aku, kamu mengalami kebutaan meski cuma sementara. Ibu kamu bilang kamu sering murung dan jadi banyak diam akhir-akhir ini karena kamu merasa tidak berguna. Aku benar-benar minta maaf, Ma," ucap Tetha lirih.
"Tha... berapa kali aku harus bilang, aku tidak pernah menyesal menolong kamu dan tidak pernah menyalahkan kamu, Tha. Aku mungkin sering murung akhir-akhir ini, tapi lebih karena aku hampir tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa berdiam diri di rumah Tha. Tapi aku yakin, dengan terapi rutin aku pasti bisa melihat lagi. Jadi kamu nggak perlu merasa bersalah ya Tha. Ini cuma sisi lemah seorang Gamma saja". Gamma kembali tersenyum ke Tetha seolah ingin menghibur Tetha. Tetha masih terdiam menatap kedua mata Gamma, air matanya semakin tidak bisa ia hentikan untuk keluar saat itu. "Thaaa... ," panggil Gamma. Tetha masih saja terdiam karena dia tidak ingin Gamma tahu dia sedang menangis saat itu.
"Kamu sedang menangis ya, Tha?" tanya Gamma dengan raut dan nada khawatir. Tetha cepat-cepat mengusap air matanya.
"Enggak kok, Ma," jawab Tetha pendek dengan suara dibuat senormal mungkin.
"Aku yakin kamu sedang menangis di depan mata aku, Tha. Hati aku bisa merasakan ada senandung sedih itu".
Tetha kembali diam, menatap Gamma  yang terlihat mencemaskannya.
"Aku baik-baik saja Tha, bukankah kamu pernah bilang bahwa aku harus tetap semangat dan yakin aku pasti bisa segera melihat lagi?"
Tetha pun tersenyum di depan Gamma, "Maafkan aku, Ma. Iya kamu benar, harus tetap semangat, kamu pasti bisa segera melihat lagi, insyaa Allah". Gamma pun kemudian tersenyum lebar seolah bisa melihat senyuman Tetha untuknya.
"Semangat, Gamma....," lanjut Tetha dengan optimis dan tersenyum lebih lebar membuat Gamma tertawa sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Gamma dan Tetha sedang asyik mengobrol ketika ibu Gamma masuk. "Ma, sudah saatnya makan siang, Nak. Ini ibu bawakan makan siang kesukaan kamu," ujar Ibu Gamma lembut menghampiri Gamma dan Tetha.
"Terima kasih, Bu".
"Oh ya, Tetha sekalian makan siang yuk Nak, biar bareng-bareng sama Gamma".
"Terima kasih banyak Tante, tapi Tetha masih kenyang, soalnya tadi Tetha sarapannya agak kesiangan juga, he he".
"Iya, Tha ayo makan sekalian. Masakan ibu aku ditanggung bikin ketagihan, Tha," ujar Gamma sambil tertawa kecil. Ibu Gamma pun sangat senang melihatnya, kehadiran Tetha seperti kehadiran seorang teman yang mampu menghibur dan menghadirkan keceriaan Gamma.
"Ya sudah, kalau begitu Tetha minum dulu ya. Tante sudah buatin coklat hangat buat Tetha".
Tetha pun tersenyum kepada ibu Gamma, "Iya Tante, terima kasih banyak".
Tetha pun tetap duduk disamping Gamma, menikmati coklat buatan Ibu Gamma untuknya, sambil memperhatikan Gamma yang sedang makan siang dengan lahapnya. Ibu Gamma juga terlihat mengamati Gamma yang lahap menghabiskan makanannya. Sejak beberapa hari terakhir, baru hari ini, beliau bisa melihat Gamma kembali bersemangat. Ibu Gamma pun tersenyum bahagia melihatnya.
Ibu Gamma sudah kembali ke tempat makan ketika Gamma masih menyelesaikan makan siangnya. Terlihat beberapa kali nasi Gamma jatuh tidak pada piringnya sehingga Tetha pun membantu Gamma memunguti nasi Gamma itu tanpa suara, berusaha agar Gamma tidak menyadarinya. Beberapa menit kemudian makanan di piring Gamma sudah habis dan Gamma mencari-cari nasi yang berserakan tidak pada piringnya seperti yang biasa ia lakukan, tapi ia tidak menemukannya. "Kamu ya Tha, yang sudah mengambili nasi-nasi aku yang berserakan?" tanya Gamma. Tetha tersenyum, "Mungkin... memang tidak ada lagi nasi yang berserakan, Ma". Gamma terdiam sejenak kemudian setengah tertawa. "Nggak mungkin Tha, pasti ada, jadi kalau sekarang nggak ada, pasti kamu tersangka pengambilnya". Tetha pun tersenyum lebar seolah membalas tawa Gamma, "Iya... iya aku ngaku deh, aku tersangkanya...". Mereka pun tertawa bersama.
Mereka kemudian makan buah bersama sambil bercanda. Meski mereka hanya dua orang asing, tapi senandung diantara mereka selalu menyisakan bahagia saat mereka membaginya.
"Hmmm kalau habis makan siang, berarti saatnya kamu tidur, ya Ma. Aku nyanyiin lagu Dee lagi ya buat pengantar tidur kamu, baru aku pulang".
"Kamu ada jadwal ya Tha?"
"Hari ini aku free, Ma".
"Kalau begitu, kamu disini aja ya, ngobrol ngalor ngidul sama aku, kita berbagi cerita lucu. Aku nggak tidur siang kok, Tha. Tapi sekarang, aku mau mendengar petikan gitar kamu Tha menyanyikan lagu Dee lagi, aku kan tadi belum ikut nyanyi," ujar Gamma sambil meringis.
Tetha pun balas meringis didepan Gamma dan mulai memetik gitar Gamma menyenandungkan lagu Dee. Kali ini Gamma terlihat penuh semangat menimpali Tetha dengan suaranya sehingga mereka pun duet dadakan seketika itu, sambil ada kalanya mereka tertawa saat Gamma lupa akan liriknya dan cuma bisa berucap na na na na na saja.
Mereka sedang asyik menyenandungkan lagu Dee ketika Fia masuk ke kamar Gamma.
"Kamu ngapain lagi, Tha disini? Apa kamu tidak ingat janji kamu untuk tidak lagi muncul di hadapan Gamma demi kebaikan Gamma malam itu?" Senandung Dee Gamma dan Tetha pun langsung terhenti dan Tetha pun langsung berdiri.
"Kak Fia, kenapa Kak Fia bicara seperti itu, Kak? Tetha hanya ingin menjenguk aku, Kak. Memang salah ya?" tanya Gamma.
"Jelas salah Ma. Kamu masih ingat kan, kamu sengaja tidak mengambil project bareng Tetha lagi karena alasan yang sangat kuat. Jadi nggak seharusnya Tetha disini, Ma. Ini semua demi kebaikan kamu dan banyak orang, Ma," ujar Fia lembut tapi tegas. Gamma terdiam, disatu sisi hatinya bahagia saat Tetha menjenguknya hari itu, tapi disisi yang lain, apa yang dikatakan Fia, pihak manajemennya, pun benar adanya.
"Apa yang dikatakan Kak Fia benar, Ma. Tidak seharusnya aku ada disini. Aku dan kamu sama-sama tahu kenapa kita memutuskan tidak ber-partner lagi, demi kebaikan masing-masing dan banyak orang. Maafkan aku Kak Fia. Sebaiknya aku pulang sekarang sebelum aku mendatangkan masalah yang baru buat kamu, Ma". Gamma masih terdiam, dia ingin sekali menahan Tetha untuk tidak pergi, tapi mulutnya tertahan untuk bersuara. "Semoga kamu bisa segera melihat lagi, ya Ma. Tetap semangat," ujar Tetha sambil tersenyum sebelum ia bergegas keluar dari kamar Gamma. Gamma masih terdiam di tempatnya, ketika Fia menepuk lembut bahunya. "Sudahlah Ma, tidak usah terlalu dipikirkan lagi ya. Aku yakin kamu juga tahu ini semua demi kebaikan kamu dan banyak orang, Ma". Gamma mengangguk pelan, meski hatinya saat itu ramai, ada yang memintanya memanggil Tetha kembali. Gamma kemudian tersenyum. "Nah gitu, harus tetap tersenyum, Ma. Ini memang yang terbaik Ma. Oh iya, aku sudah cancel semua project yang tidak bisa kamu jalankan selama kamu sakit, Ma. Dan syuting hari terakhir pada waktu kamu kecelakaan, pihak PH bilang mereka akan tetap menunggu kamu sampai sembuh baru melanjutkannya.
Gamma mengangguk. "Terima kasih banyak ya, Kak Fia. Semoga dengan terapi yang rutin aku jalani, aku bisa segera melihat lagi. Suka merasa sayang juga sih, kehilangan penghasilan, he he".
"Tapi kamu nggak perlu merasa terlalu khawatir ya, Ma. Untuk mengurangi kerugian finansial yang harus kamu tanggung akibat kecelakaan itu, Tetha bersedia memberikan 25 persen dari tiap penghasilannya untuk kamu sampai kamu bisa melihat lagi".
Gamma pun sontak tertegun. "Maksud Kak Fia, Tetha memberikan sebagian penghasilannya buat aku, Kak?" tanya Gamma memastikan yang didengarnya
"Iya, Ma," jawab Fia singkat.
Gamma langsung berdiri dari duduknya. Dengan meraba-raba dia berusaha mencari jalan keluar dari kamarnya.
"Kamu mau kemana, Ma?" tanya Fia berusaha memegangi Gamma.
"Tolong jangan pegang aku, Kak. Aku ingin sendiri. Aku harus menyusul Tetha," ujar Gamma berusaha melepaskan genggaman Fia.
"Ma, tenangkan diri kamu. Tetha ikhlas memberikan sebagian penghasilannya itu buat kamu sebagai kompensasi kerugian finansial yang kamu tanggung gara-gara dirinya".
"Tapi sakit dan kebutaan sementara aku ini bukan salah Tetha, Kak Fia. Jadi Tetha nggak perlu melakukan hal itu. Aku yang ingin menolong Tetha. Lagipula kenapa Kak Fia baru bilang ke aku tentang ini," sambung Gamma dengan nada agak tinggi. Gamma kemudian lanjut meraba-meraba mencari jalan keluar. "Tetha... Tetha... kamu dimana Tha? Kita harus bicara, aku mohon kamu jangan pergi dulu Tha". Gamma tetap menolak tawaran Fia yang ingin membantunya. Gamma terus berjalan pelan-pelan sambil terus memanggil nama Tetha ketika kemudian Gamma tergelincir di tangga di depan kamarnya dan terjatuh. Kepala Gamma membentur dinding dan Fia pun terkejut dan langsung menghampiri Gamma yang tidak sadarkan diri itu.
"Gamma, bangun Ma... tolong... tolong...," dengan panik Fia pun setengah berteriak. Ibu Gamma dan Tetha pun bergegas berdatangan ke tempat Gamma tidak sadarkan diri. Ternyata, Tetha tidak langsung pulang saat itu karena Ibu Gamma menahannya sejenak untuk makan siang bersama.
"Ya Allah, Gamma kenapa, Fia?"tanya Ibu Gamma panik. "Gamma tergelincir di tangga Bu, aku sudah berusaha memegangi Gamma, tapi Gamma tetap saja menolak".
"Bangun Ma," ujar Tetha tak kalah panik sambil menepuk-nepuk pipi Gamma. Namun, Gamma tak jua kunjung sadarkan diri. Akhirnya Gamma pun dilarikan ke rumah sakit terdekat. Tidak ada darah di kepala Gamma, hanya memar akibat benturan dengan dinding.
Tetha yang syok dengan apa yang dialami Gamma pun memutuskan untuk menuju musholla rumah sakit itu, untuk mendoakan dan mengaji agar tidak terjadi apa-apa pada Gamma, sementara Fia dan Ibu Gamma menemani Gamma di kamarnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi sampai Gamma memaksakan diri jalan ke bawah tanpa mau dibantu?" tanya Ibu Gamma kepada Fia. "Gamma ingin menyusul Tetha, Bu. Dia kaget saat aku beritahu bahwa Tetha bersedia memberikan 25 persen penghasilannya untuk Gamma sampai Gamma sembuh".
Ibu Gamma membelai rambut Gamma. "Seharusnya kamu tidak perlu memberitahunya, Fia. Sejak awal, Ibu juga tahu bahwa Gamma pasti tidak menyetujui ide itu".
"Fia memberitahu Gamma karena Gamma sempat bilang kalau dia menyayangkan karena harus kehilangan penghasilannya, Bu".
"Fi, Ibu mohon ke kamu tolong jangan minta Tetha pergi kali ini. Biarkan Tetha menemui Gamma ya. Jujur sejak beberapa hari terakhir Gamma selalu berwajah murung, baru hari ini Ibu melihat dia tersenyum dan tertawa lepas lagi saat Tetha datang dan menghiburnya".
Fia terdiam, ada rasa bersalah ia rasakan dengan apa yang Gamma alami baru saja. Gamma yang tanpa berpikir panjang mengejar Tetha tanpa mau menerima bantuan dari dirinya.
15 menit kemudian, perlahan mata Gamma terbuka. "Bu...," ucap Gamma pelan.
"Alhamdulillaah, kamu sudah sadar, Sayang," balas Ibu Gamma lembut sambil mengusap rambut Gamma. "Bu, Gamma tidak sedang bermimpi kan, Bu... Gamma bisa melihat Ibu lagi. Ibu dengan baju warna biru itu".
Ibu Gamma pun menangis bahagia mengetahui Gamma bisa melihat lagi. "Penglihatan kamu benar-benar sudah kembali, Nak?"
Gamma tersenyum lebar sambil mengangguk. Fia dan Ibu Gamma pun tersenyum bahagia mengetahui hal itu.
"Ma, aku minta maaf ya, " ujar Fia pelan kemudian.
Gamma terdiam sejenak lalu tersenyum. "Nggak apa-apa Kak Fia, aku tahu Kak Fia melakukan ini mungkin untuk kebaikan aku juga. Tapi sekali lagi, ini bukan salah Tetha, Kak. Aku tidak mau menerima sebagian penghasilan Tetha, Kak. Aku mohon, tolong kembalikan kepada Tetha ya. Lagi pula, sekarang aku sudah bisa melihat lagi, jadi aku bisa ambil project demi project lagi, Kak," pinta Gamma kepada Fia. Fia memandang kearah Gamma sambil mengangguk pelan.
"Bu, apa Tetha sudah pulang tadi? Gamma ingin bertemu dengan Tetha, Bu. Tadi Gamma seperti mendengar suara Tetha memanggil nama Gamma".
Ibu Gamma tersenyum ke arah Gamma. "Tetha ada disini kok Nak, dia tapi berpamitan ke musholla setelah Dokter selesai memeriksa kamu. Biar Ibu panggilkan Tetha kesini ya ".
Gamma mengangguk pelan, kepalanya masih sakit karena memar akibat terbentur dinding tadi. "Terima kasih, Bu. Tapi tolong jangan beritahu Tetha ya Bu, kalau Gamma sudah bisa melihat lagi. Gamma ingin memberi kejutan buat Tetha".
Ibu Gamma lagi-lagi tersenyum sambil mengangguk pelan.
10 Menit kemudian, Tetha memasuki kamar Gamma bersama Ibu Gamma. Perlahan Tetha mendekat ke tempat Gamma berbaring dan Ibu Gamma pun mengajak Fia untuk keluar, memberikan waktu buat Tetha dan Gamma untuk bicara.
"Alhamdulillah, kamu sudah sadar, Ma. Mana yang sakit Ma? Harusnya kamu lebih hati-hati," ujar Tetha sambil menatap ke mata Gamma.
Gamma tersenyum, "Aku cuma memar biasa kok, Tha. Aku baik-baik saja," jawab Gamma memandang kearah Tetha. Tiba-tiba air mata Tetha keluar, dia teringat Gamma jatuh hari ini juga tak lepas karena dirinya. Tetha benar-benar merasa bersalah kepada Gamma. Seolah masalah datang ke Gamma saat dia ada didekatnya.
"Kamu menangis Tha? Jangan menangis Tha," ujar Gamma saat itu. "Aku baik-baik saja dan ini juga bukan salah kamu".
Tetha tertegun sejenak mendengar Gamma yang bisa membaca ekspresinya. Tetha mengusap air matanya. "Nggak kok, Ma. Aku nggak nangis," jawab Tetha sambil mengembangkan senyumnya. Meski Gamma tidak bisa melihatnya, Tetha yakin Gamma bisa merasakan senyumannya.
Gamma tersenyum lebar sambil memandang kearah Tetha, membalas senyuman Tetha kepadanya.
"Kamu nggak perlu bohong untuk menenangkan hati aku, Tha. Jelas-jelas aku melihat kalau kamu sedang menangis di depan mata aku, Tha," sambung Gamma lagi.
Tetha dipenuhi tanda tanya saat itu mendengar ucapan Gamma. "Maksud kamu, Ma?" tanyanya.
"Iya Tha, sekarang aku sudah bisa melihat lagi. Makanya aku tahu kamu sedang menangis di depanku," jelas Gamma sambil tersenyum. Sejenak, Tetha pun tertegun seolah tak percaya. "Serius Ma, kamu sudah bisa melihat lagi? Kamu nggak bercanda kan?"
Gamma tertawa kecil memandang kearah Tetha sambil mengangguk pelan. "Iya Tha, sekarang aku sudah bisa melihat lagi.
Tetha langsung mencecar Gamma beberapa pertanyaan untuk memastikan perkataan Gamma. "Ini berapa Ma? tanya Tetha sambil mengacungkan tiga jarinya. Gamma tertawa kecil, "Tiga, Tetha".
"Ini...?" lanjut Tetha sambil mengacungkan delapan jarinya. Gamma pun tergelak. "Delapan".
Tetha pun tertawa bahagia setelah ia benar-benar yakin Gamma sudah bisa kembali melihat. "Alhamdulillaah, Ma... aku senang banget, Ma". Gamma tersenyum lebar sambil tetap memandang ke arah Tetha. Tawa lepas gadis yang ada didepannya itu selalu berhasil menularkan bahagia di hatinya, membuat hatinya ikut bersenandung bahagia. "Tha, aku benar-benar minta maaf karena aku baru tahu kalau kamu memberikan sebagian penghasilan kamu buat aku selama aku sakit. Aku akan mengembalikannya Tha".
Tapi Ma, aku ikhlas kok, Ma. Sudah sewajarnya juga, karena kamu sakit juga karena aku, Ma. Jadi sudah seharusnya aku ikut menanggung kerugian finansial kamu selama kamu sakit termasuk menanggung semua biaya pengobatan kamu. Hanya ini yang bisa aku lakukan, Ma, tolong izinkan aku, ya".
Gamma menggelengkan kepalanya. "Harus berapa kali aku bilang ke kamu Tha, ini bukan salah kamu, aku yang ingin menolong kamu. Dan ini juga bukan tentang balas jasa, Tha. Jadi aku benar-benar tidak bisa menerimanya, Tha. Aku bakal kembalikan semuanya itu ke kamu, Tha". Tetha terdiam sejenak menatap Gamma, lalu Tetha pun tersenyum sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Tapi aku mohon banget, Ma. Izinkan aku untuk menanggung semua biaya pengobatan kamu. Tolong kamu mau menerimanya untuk hal itu saja, Ma". Gamma terdiam memandangi wajah Tetha yang memohon kepadanya. Dengan beberapa pertimbangan, akhirnya Gamma pun mengangguk, mengabulkan permohonan Tetha, "Ya sudah, aku bakal mengizinkan kamu ikut membiayai pengobatan aku, tapi aku akan kembalikan separuhnya ya. Please". Gamma pun tersenyum lebar kepada Tetha membuat Tetha menghentikan tawar menawar tentang biaya pengobatan Gamma itu. Tetha seolah memahami hati Gamma. Tetha kemudian balas tersenyum lebar kepada Gamma. Dalam sejenak mereka pun kembali larut dalam cerita-cerita lucu yang bergantian mereka bagikan satu sama lain. Saat itu, Gamma semakin menyadari ada sebuah rasa yang selama ini tak bernama tentang Tetha di hatinya. Mungkin juga ia tidak berani menamainya dengan semua hal yang terjadi. Namun Gamma tersadarkan, Tetha punya arti yang spesial di hatinya, spesial karena tidak ada yang bisa menggantikan ruang itu dan hanya Tetha yang bisa membukanya. Tetha mempunyai senandung khusus di hatinya yang mampu menularkan bahagia ke seluruh penjuru hatinya tiap kali Gamma melihat senyum dan tawa Tetha. Detik itu juga, Gamma pun mulai menamai rasanya kepada Tetha, meski ia tahu rasa itu tak boleh terungkapkan dalam kata demi kata, bahkan kepada Tetha sekalipun. Gamma ingin membiarkan waktu bicara apa yang akan terjadi nantinya karena di sisi yang lain, Gamma juga sadar adanya Silva, fans-fansnya dan orang lain yang peduli kepada dirinya.

Enam bulan berlalu, Gamma dan Tetha tak pernah bertemu lagi sejak Gamma kembali bisa melihat saat itu. Baik Gamma dan Tetha tetap setia dengan keputusannya untuk tidak menjadi partner lagi dalam project yang sama. Hingga tibalah hari itu, saat mereka dipertemukan lagi dalam satu cerita besar film tapi berbeda ruang di cerita kecilnya. Itu sebabnya juga mereka akhirnya menerima tawaran project itu. Tetha baru saja tiba di lokasi briefing ketika ia berpapasan dengan Gamma yang sepertinya juga baru datang. Mereka saling tersenyum dalam diam untuk sejenak. “Tha, apa kabar? Lama kita tidak pernah bertemu lagi sejak aku kembali bisa melihat,” ujar Gamma berusaha bersikap netral.
Tetha mengangguk pelan, “Iya ya, Ma nggak terasa kira-kira sudah setengah tahun kita tidak pernah bertemu lagi. Kabar aku alhamdulillaah baik. Aku berharap kamu dan Ibu kamu juga sehat-sehat dan dalam kondisi yang baik”.
“Aku dan Ibu alhamdulillah baik-baik saja, Tha. Hmmm, meskipun kita lama tidak bertemu, tapi aku mengikuti karier kamu di TV dan melalui social media kok, Tha. Alhamdulillah karier kamu semakin menanjak dan kamu makin kebanjiran job, aku ikut senang, Tha”.
Tetha tertawa kecil. “Makasih, Ma. Ternyata kamu ngepoin aku juga, ya Ma. Tapi jujur aku juga sama, suka mengikuti perkembangan karier kamu dari TV dan social media juga. Aku bahkan termasuk orang yang setia mengikuti setiap kali kamu main di ftv atau sinetron, Ma. Mungkin karena sebenarnya aku juga sudah menjadi salah satu fans kamu kali ya he he”. Tawa kecil Gamma dan Tetha pun pecah. Mereka saling menertawakan satu sama lain yang sama-sama peduli meski tak bisa ber-partner lagi.
“Apa kamu juga mengikuti perjalanan pribadi aku, Tha?”
Tetha menatap Gamma sejenak. “Maksud kamu gosip tentang kamu?” Gamma mengangguk yang kemudian dibalas anggukan oleh Tetha satu menit kemudian.
“Berarti kamu tahu aku sudah putus dengan Silva?” tanya Gamma lagi. Tetha memandang Gamma, kemudian mengangguk. “Meski aku nggak tahu penyebab putus kalian apa, tapi semoga memang keputusan yang terbaik buat kalian ya, Ma”.
Gamma tersenyum balas memandang Tetha dalam diam beberapa saat. “Semoga saja, ya Tha. Aku cuma ingin hati aku melihat segala sesuatunya dengan lebih leluasa dan objektif, Tha. Itu sebabnya aku memutuskan untuk tidak pacaran dulu. Aku tidak ingin menyakiti Silva dan aku juga ingin tahu apa yang diinginkan oleh hati aku sebenarnya”.
Tetha kembali tersenyum sambil mengacungkan jempolnya buat Gamma.
“Kamu sendiri masih betah memutuskan tetap ngejomblo, Tha?” tanya Gamma tiba-tiba membuat Tetha sempat tertegun meski kemudian Tetha pun melebarkan senyumnya kearah Gamma. “Hmmm mungkin ada sedikit kemiripan dengan apa yang kamu bilang tadi, Ma. Aku mungkin masih memerlukan waktu yang lebih panjang untuk bisa menetapkan hati aku kepada seseorang. Seseorang yang bisa menerima rasa aku untuk bersenandung di hati dia seperti aku juga bisa menerima rasa dia untuk bersenandung di hati aku, Ma. Semoga kita sama-sama ditunjukkan yang terbaik ya, Ma,” ujar Tetha bersemangat. Gamma menatap Tetha agak lama. Dia tahu, ini mungkin belumlah waktu yang tepat buat dia mengungkapkan nama rasa buat Tetha yang ada di hatinya. Mungkin akan terlalu cepat buat Tetha untuk mengetahui apa yang dirasakan Gamma kepadanya yang Gamma sadari sejak kejadian kecelakaan itu. Meskipun disatu sisi hatinya, entah kenapa Gamma seolah yakin Tetha pun memiliki ruang untuk dirinya di hatinya. Ruang yang Tetha simpan rapi untuk Gamma meski tak pernah Tetha ungkapkan.
“Tha, menurut kamu, apa mungkin suatu hari nanti aku dan kamu saling menitipkan hati satu sama lain?” tanya Gamma lagi-lagi membuat Tetha terkejut. Mereka saling berpandangan, tanpa suara untuk sejenak. Tetha pun kemudian tersenyum, “Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi, Ma. Kalau memang suatu hari nanti kamu memercayakan hati kamu ke aku, aku tetap berharap aku pun masih mempercayakan hati aku ke kamu, Ma”. Gamma pun balas tersenyum, “Mari kita biarkan waktu bicara ya, Tha”. Mereka berdua pun saling berbagi senyum berdua. Baik Gamma maupun Tetha seolah memahami senandung hati yang mereka rasakan satu sama lain saat itu, meski senandung itu masih harus tertahan di hati masing-masing untuk sementara waktu. Tetha dan Gamma ingin membiarkan hati mereka masing-masing mengartikan apa yang dimauinya dengan baik. Bukan hanya sekedar tarian nafsu yang mengotori hati sesaat, melainkan senandung hati yang sebenarnya.
“Tetha...,” terdengar suara Rani memanggilnya membuat Tetha pun bergegas menghampirinya setelah ia berpamitan kepada Gamma.
“Cieee... yang sudah lama nggak pernah ketemu dan akhirnya ketemu lagi sekarang,” goda Rani sambil mencubit lembut pipi Tetha.
“Apaan sih Kak Rani, masih saja suka menggoda Tetha soal Gamma. Memang salah ya kalau kami ngobrol?” tanya Tetha sambil tersenyum.
Rani tertawa kecil. “Nggak salah kok Tha, tapi nggak tahu kenapa, tiap kali melihat kamu dan Gamma, bawaannya Kak Rani ikut senang saja. Apalagi sekarang Gamma kan jomblo, Tha. Makin bertambah deh keinginan buat ngegodain kalian, he he”.
Tetha ikut tertawa kecil menimpali tawa Rani sambil menggelengkan kepalanya melihat Rani yang masih tetap menggodanya.
“Dengar-dengar dari sumber yang dapat dipercaya, Gamma sudah putus dari ceweknya sejak enam bulan yang lalu, Tha. Berarti sudah lama juga ya...”.
Tetha terdiam meski senyum tetap tersungging di bibirnya ke Rani. Meski Tetha tahu bahwa Gamma dan Silva sudah putus, tapi informasi dari Rani itu pun baru Tetha ketahui. Informasi itu membuat Tetha semakin menyadari maksud kalimat Gamma sebelumnya.
“Gamma, apa mungkin kamu memutuskan Silva karena kamu akhirnya mendengar senandung hati aku saat itu, Ma? Namun, aku tahu dan tetap yakin kamu adalah salah satu laki-laki baik yang tidak akan mempermainkan hati perempuan. Itu sebabnya pula kamu tetap menjaga diri kamu untuk tidak berkomunikasi dengan aku meski kamu sudah tidak berhubungan lagi dengan Silva. Seperti yang kamu bilang Ma, biar waktu yang menjawab. Saat nanti ada masanya kita memang diizinkan saling menitipkan hati satu sama lain, semoga indah, ketulusan, dan kebaikan yang akan membingkai kebersamaan kita, Ma,” ujar Tetha dalam hati.
Tetha pun kembali tersenyum lebar menatap langit yang ramai berhiaskan awan pagi itu. Dia seolah ingin membagi senandung hatinya yang terdengar riang saat itu. Senandung cinta yang mungkin masih tertahan tapi mulai memiliki ruang yang lebih terbuka untuk bisa bersemi. Dari kejauhan, Gamma pun tersenyum melihat Tetha yang tersenyum menghadap langit. Gamma pun merasakan senandung riang yang Tetha bagi kepada langit. Senandung yang serupa dengan apa yang Gamma rasakan dihatinya saat itu. Senandung hati, senandung cinta.
“Tunggu aku, Tha... tunggu hati aku memaknai apa yang diinginkannya dengan baik. Tunggu aku menempatkan beberapa hal dengan bijak. Saat waktu yang tepat itu tiba, aku akan mendatangi kamu dengan penuh keberanian, Tha. Aku akan memperdengarkan senandung hati aku secara langsung buat kamu sebagaimana aku akan bisa lebih jelas mendengar setiap senandung hati kamu. Semoga waktu itu akan segera tiba, Tha”.
Gamma dan Tetha pun tersenyum bersama memandang langit yang sama. Langit seolah menjadi pendengar bisu akan senandung sepasang hati itu yang sedang ingin membagi bahagia.

-Tamat-