Tampilkan postingan dengan label Varrho Alfa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Varrho Alfa. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Mei 2016

Melukis Kita Dalam Cerita Aku dan Kamu - Part 4: Senja Diantara Kita

Sebelumnya: Part 3

Kamis siang itu, Alfa menelepon Beta. Dia mengajak Beta bertemu malam harinya, berbincang sekalian makan malam sejenak. Alfa ingin melukis kebersamaan dengan sahabat dekatnya salah satunya Beta menjadi bermakna meski mereka tidak sering bertemu. Alfa pun sudah menyiapkan sebuah kado kecil buat Beta sekedar ungkapan sayang dan terima kasih sudah menjadi teman yang baik untuknya. Waktu di kamar Alfa menunjukkan pukul 17.00 ketika Alfa sedang bersiap-siap dan membalas sebuah pesan dari Beta. Alfa hendak meletakkan handphone-nya ketika hatinya menggerakkan Alfa membuka sebuah folder foto. Ada beberapa foto dirinya, Varrho, dan Beta disana. Alfa membuka setiap foto disana sambil mengingat kembali waktu saat foto itu diambil saat kemudian ia sampai di sebuah foto dirinya dan Varrho. Alfa sangat ingat Beta yang mengambil foto mereka berdua, bergantian setelah Varrho mengambil foto Alfa dan Beta. Baik Alfa dan Varrho terlihat tertawa lepas menghadap kamera setelah beberapa kali “take” dipaksa Beta.
“Katanya kalian itu sahabat, ga ada salahnya sekali-kali kalian foto bareng kali,” terngiang kalimat Beta saat itu, tiga bulan setelah Varrho dan Alfa bersahabat. Alfa dan Varrho memang belum pernah foto bersama terlebih Varrho memang tidak terlalu suka difoto, berbeda 135 derajat dengan Alfa dan Beta yang doyan foto. Alhasil, canggung menyelimuti baik Alfa maupun Varrho beberapa saat.
“Varrho... kalau senyum atau tertawa di depan kamera yang ikhlas donk...,” kalimat Beta itu kembali teringat oleh Alfa, menyisakan senyum di bibir Alfa. Gara-gara kalimat Beta itu, Varrho akhirnya meminta waktu sejenak ke Beta berlatih senyum di depan kamera. Beberapa kali Varrho dan Alfa berlatih senyum dengan menggunakan kamera depan handphone Varrho lalu menghapus semua foto latihan itu. Alhasil tersisa satu foto dengan tawa lepas keduanya di kamera Alfa, itupun dipilih dari puluhan foto yang diambil Beta sebelum akhirnya yang lainnya dihapus.  Alfa tersenyum mengingat masa itu kemudian beralih ke foto selanjutnya sampai ia tiba di sebuah foto dirinya bareng Varrho. Foto itu diambil beberapa bulan yang lalu saat Alfa dan Varrho sedang duduk menikmati senja dari atap gedung tempat Varrho bekerja. Hari itu, Alfa sengaja menghampiri Varrho di tempat kerjanya karena Varrho meminta Alfa menemaninya membeli kado buat ulang tahun Gina. Sambil menunggu waktu maghrib tiba, keduanya berbincang dan bercanda bersama senja. Sesekali terlihat Varrho asyik dengan chat-nya bersama Gina sehingga Alfa memutuskan untuk mengisi saat-saat itu dengan iseng foto selfie. “Dari tadi foto selfie sendiri melulu, Fa. Kita foto selfie berdua yuk,” ujar Varrho tiba-tiba membuat Alfa sedikit tertegun menatap Varrho sejenak.
“Kamu serius dengan kalimat barusan, Rho?”
Varrho mengangguk sambil tersenyum dan langsung berdiri seraya memberi isyarat ke Alfa untuk ikut berdiri. Mereka berdiri beberapa langkah dari ujung atap gedung, dan berdiri membelakangi matahari yang mulai terbenam. Alfa pun mengambil gambar dirinya dan Varrho dengan menggunakan handphone Alfa seperti keinginan Varrho meski dengan setengah bertanya akan sikap sahabatnya itu yang diluar biasanya.
“Hmmm, not bad, senyum aku lumayan tulus kan, Fa?” tanya Varrho melihati foto mereka berdua itu.
Alfa tertawa kecil dan mengangguk setuju, “Buat seorang Varrho yang tidak suka selfie, foto ini sudah oke banget, apalagi tadi tanpa latihan dan sekali jepret”. Varrho balas tertawa lebar dan mengangguk setuju.     
Alfa kembali tersenyum mengingat kenangan itu dan beranjak ke foto selanjutnya, sebuah foto Varrho yang diambilnya sembunyi-sembunyi masih disaat senja yang sama. Selepas foto selfie berdua dengan Alfa, Varrho bergegas kembali duduk menghadap matahari yang tersenyum menyudahi tugasnya hari itu. Varrho memang penyuka matahari. Alfa yang masih berdiri di tempat mereka berfoto tadi pun mendapatkan ide untuk mengambil foto candid dari sahabatnya itu. Sebuah foto yang memperlihatkan seorang laki-laki yang sedang menatap matahari terbenam dan langit yang mulai memerah. Hanya itu satu-satunya foto Varrho yang dipunyai Alfa dan buat Alfa itu sudah cukup. Lagi-lagi terngiang kalimat Beta suatu ketika saat Alfa menginap di rumahnya dan Beta membuka folder foto di handphone Alfa, hendak men-copy foto-foto dirinya dan fotonya bareng Alfa. “Kalau dilihat-lihat foto kalian berdua, sebenarnya kamu sama Varrho itu serasi deh, Fa. Sayang ya dia udah punya cewek,” ujar Beta sambil mengamati foto Alfa bersama Varrho di atap kantor Varrho itu.
“Apaan sih, Ta... aku sama Varrho itu cuma sahabat, jadi kalaupun serasi ya sebatas sebagai sahabat aja,” jawab Alfa sambil tersenyum ikut memandangi foto dirinya bersama Varrho itu.
“Aku serius, Alfa... di foto ini kalian nge-blend banget. Ekspresi kalian itu saling melengkapi satu sama lain, Fa. Bukan hanya sebagai sahabat, tapi juga sebagai laki-laki dan perempuan,” sambung Beta serius dan senyum-senyum sendiri sambil membesarkan ukuran foto itu, membuat Alfa langsung menekan tombol panah next. “Jangan melemparkan pendapat yang nggak-nggak, Beta. Aku sama Varrho itu cuma sahabat, titik,” ujar Alfa sambil mencubit pipi sahabatnya itu.
Alfa tertawa kecil mengingatnya lalu buru-buru menutup folder foto di handphone-nya dan segera menyelesaikan ritual ganti baju serta berdandan secukupnya. Senja terlihat samar dari jendela kamarnya. Alfa pun bergegas mengambil kamera sakunya dan keluar ke halaman rumahnya, Alfa tiba-tiba rindu senja yang meninggalkan beberapa kenangan indah antara dirinya dan Varrho.
Alfa pun memulai rekaman via kamera sakunya.

“Selamat sore, Varrho dan senja... . Senja hari ini begitu mesra bercanda dengan langit yang cerah dan awan yang berarak. Aku kembali menyadari senja seringkali hadir diantara aku dan kamu serta kebersamaan kita, Rho. Saat kita bertemu pertama kali, senja pun mengukir senyum diantara kita bersama misi kemanusiaan sederhana kita, menolong seorang nenek yang terkilir menjualkan kue dagangannya. Kita juga pernah bercanda bersama senja dari atap kantor kamu. Apa kamu ingat, Rho? Hari ini aku menikmati hari menjelang senja dari tempatku sendirian tanpa kamu, Rho. Namun aku berharap semoga dibalik kaca kantor kamu, diantara aktivitas kerja kamu, kamu juga melihat senja yang sama. Kita sama-sama tersenyum melihat senja yang meneduhkan hati ini meski di tempat berbeda.  Senja..., senja tiba-tiba mengingatkanku akan persahabatan kita, Rho. Senja menandai pergantian siang menjadi malam. Matahari menghilang sementara berganti bintang malam yang memberikan pemandangan yang berbeda tapi tetap indah. Senja yang indah menjadi simbol pembelajaran dari alam tentang indahnya berbagi, bintang siang terbenam meninggalkan keindahan menyambut malam sebagaimana bintang malam tersenyum indah berterima kasih kepada bintang siang. Itulah senja. Kalau diibaratkan kamu adalah bintang siang dan aku adalah bintang malam, ada kalanya kita mempunyai kepentingan, prioritas, dan sudut pandang yang tak sama, kamu menyukai dan betah akan siang, sementara aku mungkin menyukai malam. Namun, saat kita mau dan berusaha memahami satu sama lain, bicara apa yang masing-masing kita inginkan dengan baik, maka disana senja yang indah itu hadir diantara kita. Saat kamu mencoba memberitahu aku, si bintang malam, akan indahnya siang begitupun aku mencoba bercerita kepada kamu, si bintang siang, akan indahnya malam meski mungkin tidak semuanya bisa berujung dengan rasa mengerti dan senyuman. Bukankah tidak semuanya harus disamakan? Justru tetap adanya beda yang menjadikan siang dan malam itu ada mewarnai hari dengan indah. Namun, layaknya senja, diantara siang dan malam, kita akan merasakan teduh dan indah yang sama saat kita berbagi dan berusaha memahami satu sama lain, Rho. Oh iya, satu lagi senja juga menjadi pengantar yang mendinginkan hari kita selepas panas di siang hari, seperti itu pula aku selalu berharap persahabatan kita bisa mendinginkan konflik dan beda pendapat apapun yang mungkin terjadi diantara kita, Rho”.

Alfa mematikan rekaman di kamera sakunya setelah sebelumnya mengakhiri rekamannya itu dengan senyuman lebarnya untuk Varrho. Alfa ingin membuat sebuah video rekaman sederhana tentang persahabatan mereka buat Varrho. Seperti tekadnya, Alfa ingin apapun yang terjadi diantara dirinya dan Varrho nanti, keduanya bisa tetap mengenang persahabatan mereka dengan indah dan tersenyum.

Waktu menunjukkan pukul 19.00 ketika Alfa sampai di kafe tempat ia bertemu dengan Beta. Terlihat Beta sudah duduk manis di sebuah bangku sambil menikmati segelas lemon tea.
“Udah lama, Ta?” tanya Alfa sambil tersenyum lebar.
“Baru sepuluh menit yang lalu, Fa. Santai aja...,” balas Beta tersenyum tak kalah lebar.
Mereka pun mulai memesan makanan.  
“Apa kamu sudah berhasil memberitahu Varrho tentang kepindahan kamu ke Bandung, Fa?”
Alfa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan, “Varrho masih sibuk banget minggu ini, Ta, hari ini saja dia harus lembur sampai malam. Tersisa besok kesempatan untuk mewujudkan rencana aku, berbincang sejenak bersama Varrho, semoga bisa terwujud he he”.
Beta menatap Alfa, ada khawatir di ekspresi Alfa yang berusaha ia balut dengan tawanya. Beta pun tersenyum, “Bukannya kamu Minggu baru berangkat, Ta? Jadi masih ada hari Sabtu selain besok kan, Fa”.
Alfa tersenyum lebar, lagi-lagi menggelengkan kepalanya, “Aku nggak mau mengganggu Varrho di hari Sabtu, Ta. Sabtu Varrho pasti dia prioritaskan buat dirinya dan Gina. Aku sebagai sahabatnya harus bisa mengerti itu, Beta”.
“Prioritas? Kamu berusaha untuk mengerti prioritas Varrho dan memahaminya, Fa. Apa Varrho juga melakukan hal yang sama, berusaha mengerti kamu, perasaan kamu? Maaf ya Alfa, tapi yang aku lihat dia beberapa kali mengabaikan perasaan kamu terlebih akhir-akhir ini. It’s okay seperti yang kamu bilang dia punya prioritas kalau persahabatan kalian itu di urutan kesekian, tapi bukan berarti dia boleh menyakiti dan tidak menganggap kamu penting, Fa,” jawab Beta sambil tersenyum tipis berempati sebagai sahabat.
“Itu pilihan, Ta dan Varrho sudah memilih apa yang menurutnya layak diprioritaskan. Aku yakin dia tidak berniat mencuekkan perasaan dan keberadaan aku, tapi mungkin dia terlalu percaya ke aku, he he,” jelas Alfa balas tersenyum lebar sebelum akhirnya kembali terdiam melihat raut serius dari Beta.
“Doakan aku dan Varrrho bisa melakukannya besok ya, Ta. Doakan persahabatan kami bisa sehangat persahabatan kita, Ta,” ucap Alfa kembali tersenyum lebar dengan penuh semangat. “Oh ya, daripada  terbawa perasaan bicara soal aku dan Varrho, mending kita bicara yang lain saja. By the way aku punya hadiah buat kamu, Ta”.
Alfa menyerahkan sebuah kotak kecil ke Beta yang terlihat terkejut dengan yang dilakukan Alfa. “Sudah lama aku nggak pernah lagi memberi kado ke kamu kan, Ta. Terakhir tiga tahun lalu sepertinya, pas ulang tahun kamu, he he. Anggap aja ini sekedar ungkapan terima kasih kecil-kecilan karena udah jadi sahabat yang baik buat aku selama ini,” sambung Alfa tersenyum lebih lebar.  
Beta yang terlihat penasaran menebak-nebak isi kado di tangannya itupun bergegas membuka kotak itu. Terlihat sebuah pigura foto berwarna pink bertuliskan “FRIENDSHIP” yang berbentuk seperti kalendar meja yang berisi beberapa lembar foto mereka berdua dalam bentuk antara siluet dan sketsa.
“Alfa... ini bagus banget.... Ini kamu bikin sendiri?” tanya Beta dengan wajah berbunga-bunga melihat hadiah dari Alfa.
Alfa tertawa kecil, “Tentu saja Beta.... tentu saja tidak mungkin he he he. Biasa, aku pakai bantuan photo editor buat melakukannya,...”. Beta pun ikut tergelak sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Semoga sketsa foto bareng kita ini bisa tetap mendekatkan hati kita dimanapun berada,” sambung Alfa sambil tersenyum manis ke Beta.
“Jauh dimata namun dekat di hati,” balas Beta tersenyum tak kalah manis menyenandungkan sepenggal lirik lagu Ran. Tawa pun kembali pecah diantara keduanya.
“Makasih banyak ya, Fa. By the way, apa kamu juga memberi hadiah yang sama buat Varrho?” tanya Beta sambil tersenyum lebar dan mengedipkan matanya. Alfa tersenyum memandangi sahabat perempuannya itu dalam diam. Pertanyaan Beta itu tiba-tiba memunculkan ide baru di kepalanya.
“Ta, mau nggak nemenin aku beli sesuatu di mall dekat sini setelah kita selesai makan? Setelahnya kita lanjut nonton disana. Bagaimana?” pinta Alfa.
Beta mengangguk tanda setuju. “Ehm, mau membelikan sesuatu buat Varrho ya, Fa?”
“Aku sebenarnya sedang menyiapkan sebuah video sederhana tentang persahabatan aku dan Varrho, Ta. Sekedar buat jaga-jaga kalau ternyata aku harus pergi sebelum sempat mewujudkan rencana aku menghabiskan waktu sejenak bersama Varrho. Sebuah pesan yang aku ingin sampaikan ke Varrho tentang persahabatan aku dan dia. Tapi pertanyaan kamu tadi memberi aku ide baru, Ta...,” jelas Alfa sambil mengerdipkan matanya sambil tersenyum, seolah sengaja menyisakan rasa penasaran buat Beta.
Baik Alfa maupun Beta pun kemudian asyik menikmati makan malam mereka ketika sebuah panggilan dari Varrho masuk di handphone Alfa.
“Assalaamualaikum, Rho...”.
“Waalaikumsalam, Alfa. Kamu sedang apa?”
“Aku sedang makan malam bareng Beta, Rho. Kamu sendiri sedang apa? Masih di kantor? Suara kamu terdengar serak, Rho. Apa kamu baik-baik saja?”
“Aku baik-baik saja, cuma agak kecapekan aja, Fa, don’t worry about me. Aku masih di kantor, ada beberapa kerjaan yang harus diselesaikan sebelum pulang”.
“Tetap semangat ya, Rho dan jangan lupa makan. Oh iya, ada apa kamu telepon?”
Sejenak hening menyapa diantara Alfa dan Varrho, hanya terdengar helaan nafas dari keduanya.
“Ada apa, Rho?” ulang Alfa pelan.
“Nggak ada apa-apa, Fa. Aku sedang melihati hujan dan tiba-tiba saja teringat kamu...”.
Alfa melihat kearah luar, hujan terlihat sedang meramaikan malam itu. Entah kenapa tiba-tiba ada sedih menyapa di hatinya.  
“Aku minta maaf ya kalau aku akhir-akhir ini kurang bisa menjaga perasaan kamu dan membuat kamu sedih, Fa. Maaf kalau aku belum bisa mewujudkan permintaan kamu buat berbagi waktu denganku minggu ini”.
Hening kembali menyapa diantara keduanya. Alfa bisa mendengar jelas helaan berat nafas Varrho untuk beberapa saat.
“Aku mengerti, Rho. Aku baik-baik saja, jangan khawatir ya,” balas Alfa sambil tertawa kecil. Saat itu ia tidak ingin membuat Varrho kepikiran tentang dirinya, meski di satu sisi ia ingin Varrho bisa lebih memahami perasaannya. Entah kenapa suara Varrho malam itu membuat Alfa menunda sejenak keinginannya.
“Ya udah, kamu nggak usah berpikir macam-macam ya, Rho. Tentang permintaan aku, kita pikirkan lagi nanti. Sekarang kamu selesaikan kerjaan kamu biar kamu bisa segera pulang dan istirahat. Jaga kesehatan sesibuk apapun kamu. Oke, Pecinta Bintang?” ujar Alfa dengan semangat dan nada ceria. Alfa ingin menularkan semangat buat sahabatnya itu sekaligus menenangkannya.
Terdengar Varrho tertawa mendengar kalimat Alfa,“Makasih, sesama Pecinta Bintang. See you soon, Fa”. 
"See you, Rho...".

Bersambung

Rabu, 30 September 2015

Melukis Kita Dalam Cerita Aku dan Kamu - Part 3: Pagi yang Tertunda, Kenangan Senja dan Petang, Serta Kita

Sebelumnya : Part 2, Kita dan Bintang - You Can Count On Me, Rho 

Part 3: Pagi yang Tertunda, Kenangan Senja dan Petang, Serta Kita

Jam dinding kamar Alfa menunjukkan pukul 03.30 pagi saat Alfa terbangun dari tidurnya. Setengah mengantuk Alfa pun bergegas ke kamar mandi, mengambil wudlu kemudian melakukan sholat malam dan mengaji. Waktu menunjukkan pukul 04.15, Alfa sedang memandangi sekeliling kamarnya dan matanya berhenti di kalender meja yang ada di dekatnya. Kini tersisa hari Kamis dan Jumat buat Alfa mungkin mewujudkan pagi, senja, dan malamnya sejenak bersama Varrho sebelum dia berangkat ke Bandung. Alfa seolah sadar posisinya, dia tidak ingin mengganggu hari Sabtu Varrho yang mungkin akan digunakan Varrho untuk beristirahat atau menghabiskan waktu liburnya bersama Gina. Alfa melempar pandangannya ke sudut kamar dimana kopernya berada. Apa dia akan membawa kenangan Varrho bersama baju-baju di koper itu nantinya. "Alfa, kamu tidak boleh pesimis. Kamu pasti bisa mewujudkan kebersamaan kamu bersama Varrho sebelum berangkat".
Adzan Shubuh berkumandang tak lama setelahnya. Alfa pun bergegas menunaikan sholat Shubuhnya kemudian bergegas membuat sebotol coklat panas. Tidak ada pesan atau notifikasi dari Varhho di HP Alfa padahal jam sudah menunjukkan pukul 05.00. "Apa mungkin Varrho kecapekan karena pulang terlalu larut ya?" Alfa pun tidak mau membiarkan prasangkanya berkembang lebih jauh. Dengan mengambil kamera sakunya, Alfa bergegas menuju halaman depan rumahnya. "Bunda, Alfa duduk-duduk di depan ya. Soalnya Alfa punya janji dengan Varrho mau berbincang sambil melihat matahari terbit," ujar Alfa memberitahu bundanya yang sedang asyik di dapur. "Wah yang mau pindahan ke Bandung padat banget agendanya dengan teman-temannya. Baju yang mau dibawa sudah mulai dimasukkan koper belum Fa?" Alfa tersenyum manis ke bundanya sambil menggelengkan kepala pelan. "Alfa mulai packingnya besok Sabtu saja, Bun he he. Alfa keluar dulu ya. Nanti biar Alfa saja yang membereskan dan mencuci piring kotor dan teman-temannya ya, Bun".
Alfa bergegas duduk di bangku taman yang ada di halaman rumahnya menunggu Varrho. Sambil menunggu Varrho, Alfa kembali teringat bagaimana dirinya dan Varrho bertemu dan kemudian perlahan menjadi dekat. Waktu itu, Alfa sedang menemani Beta datang ke pesta ulang tahun temannya ketika kemudian Alfa terpisah dengan Beta karena Beta bertemu dengan sahabat lamanya dan Alfa pun memutuskan memberikan waktu Beta untuk bernostalgia tanpa ingin mengganggunya. Alfa menunggu Beta dan berdiri sendirian di dekat tempat makanan dan minuman disediakan ketika ada seseorang laki-laki seusianya menghampirinya, mengajak kenalan, dan menggodanya. Alfa berusaha dengan halus menghindari laki-laki itu, tapi laki-laki itu terlihat semakin gigih mendekatinya ketika tiba-tiba ada seseorang yang berteriak. "Jangan macam-macam sama cewek aku". Seorang laki-laki yang kini dikenalnya dengan nama Varrho itu menghampiri Alfa, "Kita keluar dan ngobrol di teras kafe ini saja yuk, Say". Sejenak Alfa menatap laki-laki asing itu sejenak dan entah kenapa, Alfa menurut begitu saja saat itu, ia memutuskan mengikuti laki-laki asing itu keluar.
"Daripada kamu bengong seperti orang hilang didalam pesta, lebih baik menikmati udara segar di teras kafe ini". Alfa menatap laki-laki aneh di hadapannya itu. "Memang kamu siapa, tiba-tiba muncul menjadi sok pahlawan? Bagaimana aku bisa tahu, kamu lebih baik dari cowok tadi atau sama saja?" tanya Alfa datar. Laki-laki itu balas menantap Alfa dengan datar. Kemudian dia melihat ke arah matahari. "Matahari, tolong beritahu cewek aneh di sebelah aku ini, sudah ditolongin dari jeratan playboy, bukannya berterima kasih eh malah balik curiga dan bicara sinis ke aku". Alfa melirik ke laki-laki disampingnya sejenak kemudian ikut memandang ke arah matahari. "Wajar kan matahari kalau aku curiga ke dia. Aku tidak kenal dia, tiba-tiba dia datang menjadi pahlawan kesiangan. Siapa tahu dia juga sebelas duabelas playboy-nya sama cowok yang tadi. Ya nggak, matahari?"
"Memangnya kamu tidak bisa membedakan mana laki-laki baik dan playboy? Jangan-jangan kamu tidak pernah pacaran ya, hmmm kasihan sekali," ujar laki-laki itu lagi ke arah Alfa. Alfa memasang muka cemberut mendengarnya. Kemudian dia memandang ke arah matahari lagi. "Matahari, memang mudah ya membedakan mana laki-laki baik dan playboy? Sekarang kan banyak serigala berbulu domba. Hati manusia siapa yang tahu, ya kan matahari? Lagipula pacaran atau nggak itu kan soal pilihan". Alfa kemudian memandang ke laki-laki itu. "Lagi pula, setahu aku, laki-laki yang baik tidak akan mengaku dia baik dan pastinya akan berusaha menjaga perasaan perempuan, tidak asal bicara seperti yang kamu lakukan barusan".
Laki-laki itu terlihat tertegun sejenak mendengar ucapan Alfa meski ekspresinya berusaha tetap datar dan cool. "Maaf kalau omonganku keterlaluan, tapi kamu juga keterlaluan berprasangka buruk ke aku. Maaf kalau aku melukai perasaan kamu," ujar laki-laki itu dengan suara lebih pelan dan lembut. Pandangan Alfa pun melunak, ia sadar sudah keterlaluan juga mencurigai laki-laki aneh itu, meski itu ia lakukan dalam rangka waspada terhadap jebakan laki-laki hidung belang. "Aku... aku juga minta maaf karena mungkin sudah keterlaluan juga ke kamu. Itu semua aku lakukan karena aku berusaha waspada saja, aku kan tidak kenal siapa kamu, dan aku tidak bisa memastikan apakah kamu baik atau tidak. By the way, terima kasih atas bantuannya tadi. Lebih baik aku masuk lagi saja ke tempat tadi". Mereka saling berpandangan sejenak ketika laki-laki itu kembali berucap, "Aku mohon jangan ke tempat tadi lagi. Cowok playboy itu ada disana dan dia tidak sendirian. Dia tidak akan berhenti begitu saja menggoda kamu yang terlihat sendirian dan canggung disana. Demi kebaikan kamu, mending kamu menunggu teman kamu disini, sambil minum secangkir kopi atau makan kue". Alfa memandang dengan penuh selidik ke laki-laki di depannya itu. "Bagaimana kamu yakin kalau cowok tadi playboy dan bakal menggoda aku lagi? Memang kamu kenal dia? Dan bagaimana kamu tahu kalau aku menunggu teman aku? Sorry bukannya maksud ke-GeEr-an, jangan bilang kamu memata-matai aku".
Laki-laki itu menggelengkan kepalanya pelan sambil tertawa kecil, "Aku tidak kenal dia, tapi aku tahu kalau dia brengsek. Teman aku yang mengenalnya. Dan aku tahu kamu sedang menunggu teman kamu karena aku juga salah satu yang diundang di pesta itu dan karena aku ngerasa canggung sendirian di pesta tadi, jadinya aku mengalihkan perhatian ke hal-hal yang nggak penting sebenarnya, termasuk mengamati kamu sejak datang kemudian ditinggal teman kamu dan berdiri sendirian dengan canggung di dekat makanan dan minuman". Alfa memandang lagi laki-laki itu, kali ini dengan pandangan lebih lunak. "Aku tahu kamu ragu ke aku, apakah aku baik atau sama saja, tapi aku saranin kamu lebih baik menunggu teman kamu disini saja. Toh teman kamu pasti keluarnya lewat sini juga. Aku nggak akan mengganggu kamu dengan perdebatan atau obrolan lebih panjang lagi, aku akan cari tempat duduk yang berbeda dan menjaga kamu kalau-kalau cowok playboy itu datang lagi setidaknya sampai teman kamu datang". Alfa masih memikirkan kata-kata laki-laki aneh itu sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain ketika ia tiba-tiba melihat seorang nenek sedang terduduk karena terkilir kakinya. Nenek itu juga terlihat berusaha menyelematkan dagangannya agar tidak jatuh karena dirinya yang kehilangan keseimbangan itu.
"Lihat deh, sepertinya nenek yang disana itu perlu bantuan. Ayo kita bantu," ujar Alfa sembari menunjuk tempat nenek yang sedang terduduk itu, memberitahu sekaligus mengajak laki-laki didekatnya.
"Oh iya, ayo kita kesana...," jawab laki-laki itu singkat. Tanpa banyak pertimbangan mereka berdua pun menghampiri nenek itu. "Nek, kaki Nenek terkilir ya?" tanya Alfa. Nenek itu menatap Alfa dan laki-laki disebelahnya itu bergantian kemudian mengangguk pelan. "Iya, Nak.. tiba-tiba saja kaki Nenek terkilir, makanya jadi hilang keseimbangan buat berdiri. Alhamdulillah dagangan Nenek selamat dan tidak terjatuh ke tanah," jawab nenek itu dengan senyum ramahnya.
"Rumah Nenek masih jauh? Biar kami bantu antar Nenek sampai ke rumah," ujar Varrho menimpali yang disertai anggukan kepala Alfa. "Dekat kok, Nak ... Ini makanya Nenek mau pulang saja," jawab nenek itu lagi masih tetap tersenyum. "Ya sudah, biar aku bantu Nenek jalan ya sampai ke rumah dan biar teman aku yang membantu membawa dagangan Nenek ya," sambung Alfa disertai anggukan kepala Varrho. Akhirnya mereka pun membantu nenek itu pulang ke rumahnya. Sekitar 20 menit kemudian, akhirnya mereka sampai di rumah nenek tersebut, sebuah rumah petak yang sangat sederhana. "Nenek tinggal sendiri disini sampai Nenek masih berjualan keliling begini?" tanya Varrho. "Nggak Nak, Nenek tinggal dengan cucu Nenek. Kebetulan dia sedang bekerja dan belum pulang. Nenek jualan kue keliling biar ada kegiatan dan membantu menambah penghasilan saja. Oh iya, anak berdua, apa mau minum? Biar Nenek ambilkan," ujar nenek tersebut ke Alfa dan Varrho.
"Tidak usah repot-repot Nek, terima kasih. Kebetulan kami sudah minum juga tadi," jawab Varrho diikuti dengan anggukan Alfa yang tersenyum bergantian ke nenek itu dan Varrho.
"Terima kasih banyak sekali lagi karena sudah bersedia membantu Nenek pulang ke rumah ya, Nak. Kalian orang baik. Nenek doakan semoga hubungan kalian awet ya, Nak," sambung nenek itu lagi. Varrho dan Alfa saling berpandangan satu sama lain dengan ekspresi bengong dan sedikit kaget ketika kemudian Alfa menjelaskan kepada nenek tersebut. "Kami bukan pasangan kok, Nek. Kami cuma berteman, bahkan baru kenal," jelas Alfa sambil tersenyum dan tertawa kecil yang diikuti dengan anggukan kepala dari Varrho yang ikutan tertawa geli juga. Kini ganti nenek itu yang sedikit bengong dan tersipu malu. "Maaf, Nenek kira kalian itu pacaran. Maaf ya Nak kalau Nenek sok tahu". Alfa dan Varrho pun menggelengkan kepala sambil tertawa kecil mengisyaratkan bahwa mereka tidak mempermasalahkan ketidaktahuan nenek tersebut.
Varrho memberi isyarat ke Alfa untuk berpamitan ke nenek tersebut ketika pandangan Alfa kemudian tertuju pada kue jualan nenek tersebut yang masih banyak tersisa. "Wah kuenya masih banyak yang tersisa ya, Nek padahal kaki Nenek terkilir dan tidak bisa lanjut keliling buat jualan," ujar Alfa menunjukkan raut bersimpati.
"Tidak apa-apa, Nak. Namanya juga jualan Nak, kadang terjual habis kadang tersisa banyak. Itu wajar kok, Nak. Oh iya kalau kalian berdua mau, ayo silahkan dibawa kuenya. Insyaa Allah bersih kok Nak, tidak ada yang terjatuh ke tanah tadi".
"Makasih banyak sebelumnya, Nek. Maksud aku, kalau Nenek mengizinkan, aku sama teman aku mau bantu Nenek buat menjualkan kue ini keliling di dekat taman situ. Itu juga kalau Nenek percaya sama kami," tawar Alfa sambil tersenyum lebar. Alfa memandang sejenak ke laki-laki di sebelahnya itu yang juga sedang memandangnya sambil mengangguk setuju.
"Oh tidak usah repot-repot, Nak. Nenek sudah berterima kasih sekali karena dibantu pulang ke rumah. Kalau soal sisa kue ini, bisa dimakan sendiri atau dibawa anak berdua kalau memang mau".
"Tidak apa-apa, kok Nek. Kebetulan kita sedang tidak ada kerjaan juga. Daripada kita melakukan sesuatu yang tidak jelas manfaatnya, lebih baik kita membantu menjualkan kue Nenek di taman dekat sini," sambung Alfa tersenyum lebar. Nenek itu kembali tersenyum melihat Alfa dan Varrho yang bersemangat membantunya.
"Memangnya kalian tidak malu berjualan keliling soalnya kalau Nenek lihat dari pakaian dan muka kalian, kalian itu berpenampilan rapi dan sepertinya tidak pernah berjualan apalagi jualan keliling seperti Nenek. Iya kan?" tanya nenek itu lagi.
"Nenek tenang saja, kami akan berusaha sebisa kami menjualkan kue-kue milik Nenek. Iya sih, jujur ini memang pengalaman aku berjualan keliling Nek dan tidak terbayang sebelumnya. Tapi kan aku berjualannya berdua, jadi kalaupun malu, malunya dibagi dua sama dia," timpal Varrho sambil nyengir dan menunjukkan jarinya ke Alfa yang ikut nyengir juga. "Lagipula sebenarnya tidak seharusnya kami malu, Nek. Ini cuma masalah keberanian saja, kami mungkin kurang berani saja," ujar Varrho lagi sambil tertawa kecil menertawakan dirinya sendiri.
Melihat niat tulus keduanya pun, membuat Nenek itu akhirnya mengizinkan mereka untuk membantunya berjualan. "Berjualannya di taman di dekat sini saja, Nak. Kalau pun tidak habis, tidak usah dipaksa ditunggu sampai habis. Nenek sudah sangat berterima kasih untuk kebaikan hati kalian. Nenek senang melihat kalian berdua, Nenek doakan kalian berjodoh ya soalnya kalian sepertinya saling melengkapi satu sama lain dalam kebaikan, Nak," ujar Nenek itu dengan tulus.
"Berjodoh?" Varrho dan Alfa kembali saling memandangi satu sama lain dengan aneh. Nenek tersebut yang melihat keduanya bengong satu sama lain pun tidak bisa menahan tertawanya. "Berjodoh itu tidak selalu berjodoh menjadi pasangan, Nak. Menjadi sahabat atau teman dekat pun namanya berjodoh. Maksud Nenek barusan berjodoh agar bisa saling melengkapi untuk melakukan hal-hal baik". Kini giliran Alfa dan Varrho yang tertawa kecil memandang ke nenek tersebut. Mereka berdua malu karena sudah berpikiran aneh-aneh sebelumnya.
Akhirnya Varrho dan Alfa pun memulai pengalaman pertama mereka berjualan kue keliling demi sebuah misi yang mereka sepakati sebagai misi kemanusiaan membantu Nenek yang terkilir. Alfa pun mengirim pesan ke Beta bahwa dia izin tidak bisa pulang bersama Beta karena ada keperluan mendadak. Secara singkat ia ceritakan misi itu ke Beta. Meski dengan hati yang kadang masih dihinggapi malu dan takut, Alfa dan Varrho saling menopang satu sama lain untuk berani menawarkan kue itu ke pengunjung dan orang yang ada di sekitar taman sore itu. Mereka berusaha menyemangati satu sama lain dengan canda tawa dan saling mengingatkan niat mereka melakukan misi sederhana itu.
Waktu sudah berjalan 1 jam sejak mereka berjualan keliling taman, ketika hari makin senja. "Waaah, langit menjelang senjanya terlihat indah sekali," ujar Alfa memandang ke arah langit yang memerah saat itu. "Btw, kue Nenek tinggal berapa? Syukurlah semesta mendukung niat kita, pengunjung taman sore ini rame dan baik baaa". "Ssssst, jangan bicara dulu sejenak, ayo kita nikmati keindahan menjelang senja sore ini," Alfa memotong pertanyaan laki-laki yang berdiri disebelahnya itu. Varrho pun memandang ke perempuan aneh itu yang matanya masih tidak lepas memandang ke arah matahari yang perlahan terbenam kemudian Varrho pun ikut memandang ke arah yang sama. "Kamu sangat suka senja ya?" tanya Varrho ke Alfa. "Sukaaaa sekali, saat-saat matahari terbenam dan hari mulai senja itu sangat indah, sangat menenangkan. Memang kamu tidak suka senja?" tanya Alfa sambil memandang ke arah laki-laki di sebelahnya itu. Varrho tersenyum sejenak ke perempuan yang ada disebelahnya itu kemudian mereka balik memandang ke arah matahari yang mulai terbenam. "Aku suka matahari dan aku juga suka hari yang mulai senja seperti sore ini. Alam seperti sedang tersenyum kepada kita dengan teduhnya, sejenak membuat kita melupakan bahwa hidup itu tidak selalu teduh melainkan seperti gado-gado. Akan tetapi, menikmati hari yang mulai senja ini juga membuat aku sedih karena harus melihat matahari yang perlahan menghilang. Selamat tinggal matahari, " urai Varrho. Mata mereka tetap fokus memandangi matahari yang nyaris menghilang itu. "Mungkin lebih tepatnya, sampai berjumpa lagi esok pagi, matahari. Kalau kita renungi lagi, matahari terbenam setiap sore hari untuk memberikan kesempatan buat bintang malam berbagi sinar ke kita. Alam memberikan banyak sekali hikmah yang bisa dipelajari, salah satunya tentang berbagi," sambung Alfa sambil tertawa ceria. Varrho memandangi perempuan disebelahnya itu lagi, ikut larut dalam tawa sambil mengangguk-angguk setuju.
"Btw, kembali ke misi kemanusiaan kita hari ini, kue yang tersisa enam biji lagi," ujar Alfa sambil menghitung sisa kue di tempatnya.
"Sebentar lagi adzan maghrib tiba, lebih baik kita sholat maghrib dulu yuk. Terserah kalau memang mau lanjut jualan lagi setelahnya. Tapi kalau ide aku sih, sisa kue tadi mending aku beli saja semuanya, lagipula berjualan kue malam-malam juga kurang efektif sepertinya. Nanti 3 bijinya aku ambil, 3 lainnya kamu yang bawa ya. Soalnya kalau kebanyakan, takut tidak ada yang makan di rumahku," ujar Varrho ke arah Alfa.
"Oke, aku sepakat dengan ide kamu, tapi 3 kue yang jatah aku tadi biar aku sendiri yang bayar. Memang kamu pikir aku tidak punya uang buat beli kue itu sampai harus kamu yang bayar?" goda Alfa dengan tersenyum sinis.
"Hmmm, mulai lagi deh berprasangka nggak baiknya...," jawab Varrho sambil sedikit manyun, "aku tidak ada niat sok-sokan kali...".
Alfa pun tertawa kecil sambil menatap laki-laki di hadapannya itu. "Aku cuma bercanda, tapi memang benar aku ingin bayar sendiri. Kan misi kemanusiaan kali ini misi kita berdua, jadi segala sesuatu ditanggung berdua termasuk sisa kue ini". Ucapan Alfa itu pun membuat Varrho ikut tertawa bersama Alfa.
Alfa dan Varrho pun bergegas menuju musolla yang ada di dekat taman. Secara terpisah mereka pun melakukan sholat Maghribnya. Alfa sudah selesai menjalankan sholat maghribnya ketika ia melihat Varrho masih sedang sholat berjamaah bersama beberapa laki-laki lainnya. Alfa pun menunggu Varrho di teras luar musolla sambil membungkuskan 3 kue jatah Varrho dan 3 kue sisanya buat dirinya sendiri. Beberapa saat kemudian, Varrho terlihat menghampiri Alfa dan Alfa pun menyerahkan plastik berisi kue jatah Varrho. "Tiga kali dua ribu per kue, jadinya total enam ribu," ujar Alfa ke laki-laki yang berdiri di hadapannya itu. Varrho tersenyum kemudian menyerahkan uang enam ribu kepada Alfa. "Alhamdulillah, akhirnya misi kemanusiaan membantu menjualkan kue ini pun selesai," ucap Alfa puas diikuti dengan raut puas di wajah Varrho, "total kue yang berhasil kita jual sebanyak 34 kue, jadi uang yang terkumpul Rp 68.000,-".
"Biar aku genapkan jadi Rp 100.000,- saja", ujar Varrho sambil bersiap mengeluarkan uang dari dompetnya ketika perempuan di hadapannya itu mencegahnya dan menggelengkan kepalanya pelan. "Nenek tadi bukan orang yang suka dikasihani sepertinya, jadi mungkin jauh lebih baik kalau kita biarkan saja uang itu sebagaimana total harga kue yang terjual," saran Alfa sambil memandang ke arah Varrho.
Varrho terdiam sejenak memikirkan ucapan perempuan yang sedang memandangnya itu lalu akhirnya mengangguk setuju.
"Kita doakan saja, rezeki halal ini meski mungkin jumlahnya tidak seberapa tapi bisa membawa berkah buat nenek tadi dan cucunya," sambung Alfa kali ini tersenyum lebih lebar membuat Varrho pun tertular untuk ikut tersenyum lebih lebar. Tanpa menunda lebih lama lagi, akhirnya mereka berdua pun menyerahkan uang hasil penjualan kue tersebut ke rumah nenek yang terkilir tadi sekaligus berpamitan pulang. Mereka pun pulang dengan ucapan terima kasih yang tulus dari nenek tersebut dan banyak doa baik dari nenek tersebut.
Varrho dan Alfa baru keluar beberapa meter dari rumah nenek tersebut, ketika Varrho menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Alfa. "Kita makan yuk, lapar banget setelah berkeliling tadi," ajak Varrho disambut dengan anggukan setuju dari Alfa yang juga merasakan hal yang sama. Entah kenapa, meski laki-laki disebelahnya itu baru dikenalnya dan belum sepenuhnya dipercayainya sebagai laki-laki baik, tapi Alfa merasa aman bersamanya, terutama setelah misi kemanusiaan yang mereka lakukan berdua.
"Bagaimana kalau kita makan di kafe yang tadi saja," ujar Varrho menawarkan pilihan.
"Kita makan lalapan di warung tenda di pinggiran jalan dekat taman situ saja, tadi aku sempat mengintip saat kita menjajakan kue, lumayan bersih kok," jawab Alfa menanggapi.
"Memang kamu tidak apa-apa makan di pinggir jalan?" tanya Varrho lagi
"Memang ada yang salah dan aneh ya kalau makan di pinggir jalan? Perasaan yang aneh itu kalau makannya di tengah jalan kali. Soalnya bakal mengganggu pengguna jalan dan diteriakin orang banyak," jawab Alfa lagi sambil tertawa kecil. Varrho pun tertawa lepas karena geli mendengar jawaban perempuan di hadapannya yang tidak pernah ia sangka bakal seaneh itu.
Akhirnya mereka pun makan lalapan di warung tenda di dekat taman itu. Mereka pun memilih duduk di lesehan beratap langit. "Langit malam ini penuh bintang-bintang, indah sekali," ucap Varrho sambil menatap langit dan bintang-bintang sambil tersenyum. Alfa memandangi laki-laki yang duduk di hadapannya itu kemudian ia pun ikut menatap ke arah bintang-bintang dan tersenyum. "Kamu suka bintang?" tanya Varrho kemudian ganti menoleh ke Alfa yang kemudian dijawab Alfa dengan menganggukkan kepala sambil tersenyum lebar.
"Aku ingin menjadi seperti bintang. Bintang itu selalu bersinar apapun yang terjadi, aku ingin seperti itu. Aku ingin bersinar seperti bintang, menjadi orang sukses dalam kehidupan, berhasil mewujudkan mimpi-mimpi aku, dan bisa membahagiakan orang-orang yang aku sayangi," ujar Varrho lagi kembali menatap bintang-bintang. Alfa memandangi Varrho dengan tersenyum, "kamu benar-benar pecinta bintang ya. Kamu suka matahari alias si bintang di siang hari dan juga bintang-bintang malam". Varrho balas memandang dan tersenyum ke Alfa sambil mengangguk. Varrho kemudian kembali menatap bintang-bintang. "Kamu benar, aku suka sekali bintang dari kecil. Terlebih setelah meninggalnya papa aku beberapa tahun lalu, aku makin sering bercanda dengan bintang-bintang dan makin menyukainya. Dia seperti teman yang tersenyum dan memberi semangat terlebih saat aku teringat almarhum papa".
Alfa menatap laki-laki di hadapannya lama, ada simpati mendalam dalam ekspresinya kepada laki-laki itu, ketika tiba-tiba Varrho memandang kearahnya dan tertegun sejenak melihat Alfa yang sedang menatapnya dan mata mereka bertemu dalam diam sejenak. Varrho tersenyum lebar dan Alfa membalasnya dengan senyuman lebih lebar. "Selama kamu tetap mendoakan beliau, aku yakin papa kamu akan selalu hidup di hati kamu dan bintang-bintang akan selalu menemani kamu tersenyum bersama rasa rindu itu," ujar Alfa berusaha memberikan senyuman yang lebih manis untuk menyemangati laki-laki di hadapannya itu yang diikuti dengan anggukan penuh semangat dari Varrho.
"Kalau kamu sendiri kenapa suka bintang?" ujar Varrho balik bertanya sambil tersenyum ke perempuan yang ada di hadapannya itu. Alfa tersenyum kemudian kembali menatap ke arah bintang-bintang. "Seperti yang kamu bilang, bintang-bintang di langit itu meneduhkan mata dan menenangkan hati. Bintang-bintang dengan sinarnya itu seolah berbagi senyuman kepada kita yang melihatnya. Dan aku pun ingin seperti bintang yang bersinar, aku ingin menjadi seseorang yang baik dan bermanfaat dalam kehidupan aku, ... seperti bintang". Kini balik Varrho yang menatap agak lama perempuan di hadapannya yang sedang asyik tersenyum bersama bintang-bintang itu. Ada kagum yang tersirat dalam tatapan Varrho itu. Varrho merasa nyaman berada di dekat perempuan itu.
"Aku benar-benar tidak menyangka kita bakal akur, duduk bersama, dan berbagi cerita seperti sekarang setelah apa yang terjadi diantara kita tadi," sambung Varrho tersenyum ke arah Alfa. Alfa pun balas tertawa kecil sambil mengangguk, "Misi kemanusiaan tadi sepertinya menularkan hal-hal positif buat kita ya".
Keduanya pun tertawa lepas bersama mengingat semua yang terjadi hari ini sejak mereka mulai berinteraksi. "Oh ya baru ingat, perkenalkan nama aku Varrho," sambung Varrho baru teringat bahwa mereka belum saling tahu nama masing-masing. Varrho menjulurkan tangannya ke perempuan di hadapannya itu sambil tersenyum hangat. Alfa tersenyum sambil menjabat tangan Varrho, "Aku Alfa..., senang berkenalan dengan kamu...". "Semoga ini menjadi awal yang baik buat kita, seperti doa nenek tadi, semoga kita berjodoh untuk berbagi banyak kebaikan satu sama lain, Alfa...".

Alfa larut dalam senyumannya mengingat pertemuan awalnya dengan Varrho ketika terdengar sebuah panggilan masuk di handphonenya dari Varrho.
"Assalaamualaikum, pecinta bintang...pasti kesiangan bangun, ya," ucap Alfa memulai percakapan dengan semangat dan tersenyum.
"Waalaikumsalam wr wb, Fa. Pecinta bintang??? Hmmmm, maaaaaaaf banget, iya nih aku kesiangan. Lagi-lagi aku tidak menepati janji aku. Maaf ya, Fa".
"Aku sudah menduga kamu kesiangan, Rho soalnya kamu pulang larut banget pastinya".
Varrho terdiam sejenak.
"Ya sudah, Rho. Sekarang lebih baik kamu segera siap-siap, bukannya kamu bilang hari ini bakal lembur dari pagi sampai malam," sambung Alfa lagi dengan nada ceria.
"Aku benar-benar minta maaf, Fa. Aku sadar, aku benar-benar sahabat yang makin payah buat kamu akhir-akhir ini. Maafin aku ya, Fa. Insyaa Allah besok pagi aku akan berusaha menepati janji aku ke kamu, Fa," terdengar suara Varrho diliputi rasa bersalah ke Alfa.
"Sudah, jangan terlalu dipikirkan, Rho. Aku bisa mengerti kok. Aku memang ingin bisa menghabiskan pagi, senja, dan malam sejenak sebelum hari minggu ini bersama kamu, tapi bukan berarti harus dan memaksakan diri. Soal besok pagi, nanti malam kamu kabari aku lagi ya, Rho. Kalau kamu kecapekan hari ini karena habis lembur, kita bisa melakukannya lain kali insyaa Allah, Rho".
Lagi-lagi Varrho terdiam. "Aku tidak ingin mengecewakan kamu lagi, Fa," ujar Varrho dalam hati.
"Rho...Varrho... halo pecinta bintang?" panggil Alfa lagi. Entah kenapa Alfa seolah bisa merasakan rasa bersalah yang sedang dirasakan Varrho ke Alfa. Diam Varrho seolah mengatakan hal itu.
"Aku harap kamu tidak perlu merasa bersalah, Rho. Mungkin memang situasi dan kondisi diantara kita membuat kita tidak bisa sesering dulu menghabiskan waktu bersama".
Lagi-lagi terdengar desahan nafas Varrho, "sekali lagi aku minta maaf, Fa. Semoga besok aku bisa menunaikan janji aku ke kamu. Ya sudah, aku siap-siap kerja dulu, ya. Semoga hari kamu menyenangkan Alfa dan semoga kesalahan aku hari ini tidak mengurangi rasa bahagia di hati kamu ya," sambung Varrho.
"Tenang saja, Rho. Aku baik-baik saja kok. Makasih ya, Rho, have a great day for you too. Tetap jaga kesehatan dan jangan lupa makan ya sesibuk apapun kamu, pecinta bintang," lanjut Ara sambil tertawa kecil dan penuh semangat.
"Makasih banyak, sesama pecinta bintang. Jangan pernah lelah buat berbagi sinar dengan aku ya, Fa... ".
Telepon itu pun ditutup Alfa dan Varrho dengan berbagi gelak tawa.
Alfa memandangi matahari yang mulai menghiasi hari di ujung timur. Alfa tidak memungkiri terselip sedikit kecewa karena ia kembali gagal mewujudkan kebersamaannya bersama Varrho di pagi itu. Namun Alfa percaya Varrho tidak berniat mengecewakannya. Lagi pula kembali mengingat pertama kali mereka berdua berkenalan pagi itu, membuat Alfa kembali lebih yakin bahwa persahabatannya dengan Varrho begitu berharga. Dan Alfa semakin yakin untuk berusaha terus memperjuangkannya.

Bersambung

Kamis, 27 Agustus 2015

Melukis Kita Dalam Cerita Aku dan Kamu - Part 2: Kita dan Bintang - You Can Count On Me, Rho

Sebelumnya : Part 1, Awal

Part 2 : Kita dan Bintang - You Can Count On Me, Rho

"Maaf Fa, sepertinya aku tidak bisa datang malam ini, " bunyi pesan Varrho.
Alfa menghela nafasnya dalam-dalam berusaha menenangkan hatinya yang tiba-tiba berdemo dengan banyak tanya karena kejadian itu bukanlah yang pertama. "Kalo boleh tahu alasannya, kenapa, Rho?" ketik Alfa.
"Gina baru saja telepon, dia minta aku menemani dia ke ulang tahun sahabatnya. Soalnya rencananya dari kafe mereka bakal langsung nonton film di bioskop. Midnight-an gitu. Aku nggak tega membiarkan Gina sendirian. Aku benar-benar minta maaf, ya Fa. Maaf lagi-lagi aku harus mengalahkan kamu buat Gina. Kita cari waktu lain lagi ya buat bercanda bersama bintang malamnya".
Alfa terdiam sejenak. "Bagaimana kalau besok malam?" tanya Alfa lagi. 
"Besok malam jadwal pekerjaanku sampai larut malam, Fa. Maaf banget ya. Bagaimana kalau kita ketemunya setelah minggu ini saja. Mungkin akan lebih leluasa, Fa".
"Kalau lusa, Jumat malam gimana, Rho?" Alfa masih tetap berusaha mencari celah di waktu Varrho sebelum dirinya berangkat ke Bandung.
"Jumat malam? Hmmm, aku belum ada jadwal sih, Fa. Nanti aku kabari lagi, ya. Kalau enggak, aku janji minggu depan aku akan meluangkan satu waktu malam aku yang luang untuk kamu. Bagaimana? Kamu tidak apa-apa kan, Fa?"
Agak lama, Alfa kemudian baru menjawab. "It's okay Rho, aku berharap kita bisa bertemu Jumat ini, Rho. Kabari aku, ya. By the way, bagaimana dengan besok pagi, jadi atau diundur juga? Soalnya kamu kan mungkin baru pulang dini hari," tanya Alfa.
"Hmmm, kalau seandainya aku boleh memilih, aku pasti ingin kita mengundurkan rencana pagi,senja, malam kita sampai minggu depan, Fa. Minggu ini begitu sibuk soalnya. Bagaimana?"
Alfa memandangi pesan dari Varrho lekat-lekat. Dia tetap bertekad tidak akan memberitahu Varrho apa alasan dirinya ingin menghabiskan tiga waktu sejenak bersama Varrho di minggu itu. 
"Aku sangat berharap kita bisa melakukannya minggu ini, Rho. Bukan berarti harus, tapi sebisa mungkin aku berharap bisa mewujudkannya sebelum hari minggu tiba".
Tiba-tiba ada tanda panggilan masuk dari Varrho di HP Alfa. 
"Fa, jujur aku ngerasa kamu aneh tentang permintaan kamu ini. Seolah kamu itu mau pergi. Apa ada yang kamu sembunyikan dari aku, Fa? Ada apa?" ujar Varrho langsung memberondong Alfa dengan pertanyaan. Alfa terdiam. "Alfa... ?" ujar Varrho menaikkan nada suaranya. 
"Aku cuma berharap kita bisa melakukannya minggu ini, Rho. Tentang alasannya, aku baru akan bilang saat kita bertemu di waktu-waktu itu. Kamu tidak perlu berpikir macam-macam, intinya aku ingin kita bercanda lagi sejenak," jawab Alfa terdengar tertawa kecil.
Kini Varrho yang ganti terdiam. Meski ia bisa mendengar tawa Alfa, tapi ada resah dan sedih yang menyeruak di hatinya. "Ya sudah, Fa. Besok pagi, insyaa Allah aku ke rumah kamu biar kita bisa melihat matahari terbit sama-sama. Soal senja dan petang, kita bicarakan lagi setelahnya, ya. Semoga aku nggak ngecewain kamu lagi besok".
"Makasih ya, Rho. Aku ingin kamu ingat satu hal. Aku memang berharap kita bisa bertemu di pagi, senja, dan petang sebelum hari minggu ini, tapi aku nggak mau kamu melakukannya karena terpaksa dan hanya sekedar tidak ingin merasa bersalah. Kalau kamu merasa terpaksa, kamu tidak perlu datang. Ya sudah, kamu siap-siap sana, kan mau pergi menemani Gina," jawab Alfa berusaha mengakhiri kalimatnya dengan ceria. Setelah berbalas salam, komunikasi Varrho dan Alfa pun berakhir. Varrho masih terdiam di ujung memandangi HP-nya. Entah kenapa, perasaannya tidak tenang saat itu, rasa bersalah ke Alfa itu semakin menghantui dirinya. Ia merasa jarak diantara dirinya dan Alfa makin lebar, meski di lain sisi, ia sadar dirinya yang meminta Alfa berjarak darinya. Sementara itu, di waktu yang sama, Alfa sedang merenung sejenak menatap langit yang sedang berhiaskan bulan hampir penuh malam itu. Ia mengajak bintang-bintang tersenyum, seolah ia ingin menghibur hatinya yang sedang nano-nano tidak terdefinisi dengan jelas. Alfa melirik ke coklat hangat dan gitar yang sudah bersiap-siap menemani Alfa juga malam itu, memandangi mereka sejenak ketika sebuah ide muncul di otaknya. Alfa pun kemudian mengambil kamera miliknya di kamar. Ia kembali keluar, memainkan mode merekam video bersama langit, gitar, coklat hangat dan tentu saja dirinya. 
"Tes tes... selamat malam, langit, bintang-bintang, bulan, gitar, dan coklat  hangat. Selamat malam juga pastinya Alfa serta Varrho. Malam ini sebenarnya aku ingin berbagi cerita sejenak dengan kamu, Rho. Tapi berhubung kamu berhalangan hadir, jadi aku buat rekaman ini. Kamu tahu kenapa aku ingin kita bertemu sejenak saat malam? Karena malam juga menggambarkan persahabatan kita berdua. Kita berdua adalah penyuka malam yang berhiaskan bintang, bahkan kita beberapa kali mencari waktu untuk saling berbagi cerita saat langit malam sedang cerah bertabur bintang. Bintang yang seolah tersenyum itu mencairkan dan menghangatkan kebersamaan kita berbagi banyak hal tentang hidup. Dan bintang di langit malam itu juga menggambarkan persahabatan kita. Bintang yang saling berbagi sinar itu seperti aku dan kamu. Aku dan kamu bersahabat untuk saling berbagi satu sama lain. Kita ada untuk saling berbagi senyuman, tawa, kebaikan satu sama lain. Kita ada saling melengkapi, melengkapi saat salah satu ada di titik lemah, tentunya dengan gaya kita masing-masing.
Ada kalanya kita tidak bisa melihat keberadaan bintang di langit malam. Seperti itu pun persahabatan kita. Ada kalanya aku tidak bisa selalu ada disisi kamu begitupun kamu tidak bisa selalu ada menemani aku. Ada kalanya aku tidak bisa melihat kamu, tapi aku tahu kamu itu selalu ada. Aku tetap merasakan hadir kamu dihati aku. Begitu juga aku ingin kamu selalu ingat, Rho. Mungkin ada saatnya kamu tidak bisa melihatku, mungkin kita sedang berjauhan, dan aku tidak menemani kamu menghilangkan sedih atau gundah kamu, tapi aku akan tetap ada buat kamu lewat doa-doa, tetap tersenyum untukmu dari kejauhan, Rho. 
Sebagaimana dikatakan dalam sebuah quote. Teman-teman yang baik itu seperti bintang. Mungkin kita tidak bisa selalu melihat mereka, tapi kita tahu bahwa mereka selalu ada disana," ujar Alfa bermonolog dan mengakhirnya dengan mengarahkan tangannya ke bintang-bintang di langit sambil tersenyum lebar kearah kamera yang tetap merekam.
Alfa kemudian menuangkan coklat hangat itu ke cangkir. "Cangkir pertama ini karena aku suka coklat". Alfa menikmati menghabiskan coklat hangat itu sambil tetap menyunggingkan senyum lebarnya. Ia kemudian tuangkan coklat kedua kalinya di cangkir yang sama tetap dengan satu tangan dia memegang kamera yang masih merekam itu. "Coklat cangkir kedua ini, aku ngewakilin kamu, Rho. Salah sendiri kamu nggak bisa datang," ucap Alfa sambil menjulurkan lidahnya keluar kemudian tertawa kecil ke arah kamera, seolah menggoda Varrho. Alfa kemudian letakkan kamera yang masih merekam itu kearah langit lalu mulai memainkan gitarnya. 
"If you ever find yourself stuck in the middle of the sea. 
I'll sail the world to find you
If you ever find yourself lost in the dark and you can't see. 
I'll be the light to guide you
We find out what we're made of
When we are called to help our friends in need...
You can count on me like 1, 2, 3
I'll be there
And I know when I need it
I can count on you like 4, 3, 2
And you'll be there
'Cause that's what friends are supposed to do, oh yeah
If you're tossin' and you're turnin'
And you just can't fall asleep
I'll sing a song beside you
And if you ever forget how much you really mean to me
Every day I will remind you.. oooh
We find out what we're made of
When we are called to help our friends in need...
You can count on me like 1, 2, 3
I'll be there
And I know when I need it
I can count on you like 4, 3, 2
And you'll be there
'Cause that's what friends are supposed to do, oh yeah
You'll always have my shoulder when you cry
I'll never let go, never say goodbye
You know...
You can count on me like 1, 2, 3
I'll be there
And I know when I need it
I can count on you like 4, 3, 2
And you'll be there
'Cause that's what friends are supposed to do, oh yeah...

You can count on me 'cause I can count on you"

Dan lagu Count On Me dari Bruno Mars versi Alfa pun menutup rekaman kamera Alfa malam itu. Lagu itu seolah menjadi pesan yang ingin Alfa tinggalkan buat Varrho. "You can count on me, Rho... Meski aku jauh dari sempurna, aku akan berusaha menjadi sahabat yang baik untuk kamu semampuku, Rho..., " ujar Alfa dalam hati sambil tersenyum ke salah satu bintang di langit yang makin mesra didekap malam. Seolah ia sedang tersenyum pada Varrho.

Setelahnya : Part 3, Pagi Yang Tertunda, Kenangan Senja dan Petang, Serta Kita

Senin, 06 Juli 2015

Cerbung : Melukis Kita Dalam Cerita Aku dan Kamu - Rizky Nazar as Varrho dan Anisa Rahma as Alfa

Rizky Nazar as Varrho dan Anisa Rahma as Alfa

Part 1: AWAL

"Apa kamu pikir hati ini dari pualam? Kamu dengan mudah berbuat seenaknya, menyanjung kemudian menghempaskannya? Bukankah kamu pernah bilang bahwa hati itu seperti kaca? Sekali dia pecah atau retak, sulit membuatnya kembali sama seperti semula".


Jam di dinding kamar Alfa menunjuk jarum 01.00 pagi saat Alfa masih memandangi langit-langit kamarnya, sambil sesekali dia mengusap air mata yang tidak mau berkompromi untuk tidak keluar. Ada yang berhasil meninggalkan luka dihatinya yang selama ini berusaha untuk ia beri benteng kuat untuk tidak mudah jatuh dalam luka.  
“Fa, kita agak menjaga jarak ya sementara ini. Gina, cewek aku, lagi sensitif ke kamu sepertinya, dia agak keberatan kalau kita terlalu dekat.,” suara Varrho beberapa hari sebelumnya kembali terngiang di telinga Alfa. Alfa yang baru duduk dengan berusaha terburu-buru demi memenuhi janjinya dengan sahabat baiknya itu pun langsung terdiam. Senyuman manis yang berusaha ia berikan ke Varrho pun langsung memudar. 
“Memangnya ada sikap aku yang membuat Gina ngerasa tidak nyaman, Rho? Apa aku sudah berbuat sesuatu yang salah?” tanya Alfa serius sambil berusaha untuk tersenyum lagi memandang ke arah Varrho. Varrho balas menatap Alfa tanpa suara. Varrho bingung bagaimana menjelaskan ke Alfa bahwa sebenarnya ceweknya itu cemburu dengan hubungan diantara Varrho dan Alfa. “Intinya, aku ga bisa sering-sering main bareng kamu lagi, Fa.. Dan aku harap kamu mau mengerti dan mengalah. Sementara ini kamu main aja dulu sama Beta ya”. 
“Tapi Rho, kamu sudah janji, di hari ulang tahun aku tiga hari lagi, kamu bakal meluangkan waktu kamu di hari itu untuk bercanda dan berbagi cerita denganku, seperti yang biasa kita lakukan dulu”.
“Kalau soal itu, kamu nggak usah khawatir, Fa... aku bakal datang menepati janji aku. Kita akan bercanda, main gitar dan nyanyi bareng juga dibawah langit yang penuh bintang seperti dulu lagi . Okay! Kita berdoa saja semoga di hari ulang tahun kamu, bintang-bintang tersenyum merayakannya”.
“Aamiin aamiin aamiin,” ujar Alfa seraya mengangguk angguk penuh semangat, ia kembali tersenyum lebar seolah permintaan Varrho agar dirinya menjaga jarak dengan Varrho dan sempat menghadirkan sedih di hatinya tadi terlupakan sejenak.   
Alfa dan Varrho adalah dua orang sahabat yang selalu mempunyai cara sendiri memaknai persahabatan mereka dalam rupa demi rupa yang sederhana. Mereka tidak bertemu setiap hari untuk menguatkan tali persahabatan mereka, tapi tiap kali bertemu mereka selalu menemukan cara untuk memaknai persahabatan itu meski dengan sangat sederhana. Tiap kali bertemu Alfa dan Varrho selalu memancing tawa demi tawa diantara mereka itu hadir menghangatkan perjumpaan mereka. Mereka membiarkan cerita demi cerita itu mengalir dengan sebebas-bebasnya untuk dibagi agar mereka lebih mengenal satu sama lain baik kelebihan maupun kekurangannya. Dan pada akhirnya di setiap perjumpaan itu pula mereka akan menarik simpulan akan hal-hal yang mereka lontarkan satu sama lain, bersama-sama mencari pembelajaran dibaliknya agar mereka menjadi manusia yang lebih baik, bijak, ceria, dan lebih mensyukuri hidup apapun suka dan dukanya. Mereka memang bukan dua orang sahabat yang saling mengenal sejak kecil, tapi kebersamaan mereka cukup mampu menghangatkan arti persahabatan itu sendiri karena seolah mereka memiliki kesepahaman meskipun mereka berbeda latar belakang dan beberapa pemikiran. Mereka selalu punya ruang dimana mereka kompak memandang sesuatu akan hidup. Hingga kemudian, Varrho pun mulai terbuka menceritakan tentang gadis yang ada di hatinya kepada Alfa, Gina namanya. Gadis itu bahkan hadir sebelum Alfa dan Varrho menjadi dua orang sahabat. Cerita hati Varrho tentang Gina tidaklah membuat Alfa merasa terganggu dan justru berusaha untuk menghargai keberadaan Gina, lebih memahami posisi dia terhadap Varrho. Hingga lambat laun ternyata persahabatan dan cinta itu tidaklah mudah bersanding tanpa ada gesekan diantaranya, apalagi mereka bertiga adalah tiga orang dewasa. 
“Oh ya, Rho... nanti kamu mau disiapin makanan apa buat menemani kita bercerita dan bercanda bersama bintang-bintang?” tanya Alfa tetap dengan semangat. 
 “Apa saja, Fa.. pasti ludes aku makan dan minum,” jawab Varrho sambil meringis. “Oh ya, Fa... aku pergi dulu ya, aku ada janji sama Gina he he...,” ujar Varrho sambil berdiri. Alfa langsung menganggukan kepalanya tanda paham, “Oh iya Rho, hati-hati ya...”. Setelah saling berbalas senyum lebar, Varrho pun pergi meninggalkan Alfa sendiri di tempat itu. 
Tiga hari kemudian, Alfa sengaja mampir ke toko roti membeli beberapa donat buat dirinya dan Varrho. Alfa juga sengaja menyiapkan coklat untuk minuman mereka berdua. Tak lupa Alfa juga membeli beberapa biskuit. Alfa sudah lama menunggu hari itu, beberapa waktu terakhir mereka seolah kesulitan bercanda bersama. Selepas menyelesaikan sholat Maghribnya, Alfa langsung mengeluarkan makanan dan minumannya di halaman rumahnya, siap menunggu kedatangan Varrho. Bintang di langit sudah tersenyum dengan terang dan tulusnya seolah ingin menemani Alfa di hari spesialnya itu. Alfa memetik gitarnya dan mulai menyenandungkan lagu demi lagu kesukaannya sambil menunggu kedatangan Varrho. Sesekali dia memandangi langit luas di malam itu, tersenyum menatap bintang-bintang yang terlihat tulus menemaninya dan hatinya. Detik demi detik pun berlalu... Alfa beberapa kali melirik arlojinya sambil sesekali melihati pintu pagar rumahnya, siapa tahu Varrho muncul disana. Detik demi detik pun terakumulasi dalam jam, bahkan Alfa sempat berbincang-bincang di telepon bersama Beta sambil menunggu kedatangan Varrho. Alfa kembali melirik arlojinya yang menunjukkan pukul 00.15. Tak ada sms atau panggilan atau notifikasi pesan masuk satu pun dari Varrho di HP Alfa. Alfa memandangi makanan dan minuman yang sudah disiapkannya. Sambil tersenyum, ia kemudian mengambil kue itu dan memakannya, serta meminum coklat yang disiapkannya. “Selamat ulang tahun, ya Fa... Semoga berkurangnya jatah usia kamu, menjadikan kamu manusia yang lebih baik dan dewasa. Jadi manusia yang lebih kuat, ya Fa,” ujarnya kepada bayangannya sendiri sambil tersenyum dan kemudian sekali lagi menatap langit membagi senyum itu kepada bintang. “Mungkin Varrho lupa atau ada hal yang lebih penting untuk dilakukannya dibandingkan sekedar berbagi cerita dan canda bersamaku,” ujar Alfa sambil berusaha tersenyum diantara air matanya yang tiba-tiba ingin keluar. Alfa pun kemudian bergegas masuk ke dalam rumah, membereskan semua makanan dan minuman yang ia siapkan kemudian masuk ke dalam kamarnya.   
 Alfa terbangun dari lamunannya, sekali lagi ia buka HP-nya tapi tetap tidak ada notifikasi satu pun dari Varrho untuknya. Alfa kemudian memasang headsetnya dan memutar lagu-lagu kesayangannya hingga matanya akhirnya terlelap diantara air matanya yang masih tersisa malam itu. Tak ada rasa marah kepada Varrho, hanya terselip kecewa yang berusaha Alfa abaikan. Alfa selalu berprinsip dia tidak ingin mengingat orang dengan kekurangannya, tapi dia ingin mengingat orang dengan senyuman yang pernah mereka hadirkan untuknya. Meski Alfa juga gagal mengelak, saat perasaannya merasa sakit saat itu karena apa yang Varrho lakukan padanya.
 Keesokan harinya, Alfa berjanji datang ke sebuah acara bersama Beta. Sebenarnya Varrho juga diundang dalam acara itu, tapi Alfa seolah tahu diri, tidak mungkin Varrho memilihnya untuk datang bersama. Apalagi setelah permintaan Varrho agar Alfa menjaga jarak darinya. Alfa dan Beta pun janji bertemu langsung di tempat acara berlangsung. Beta sedang asyik menunggu Alfa yang sedang diperjalanan ketika Varrho tiba-tiba datang menghampiri Beta. “Ta, ada lihat Alfa?” tanya Varrho sambil tersenyum. “Tumben kamu ingat sama Alfa, Rho. Setelah kemarin kamu buat Alfa menunggu kamu sampai tengah malam karena dia percaya dan memegang janji kamu. Kamu sudah menyakiti Alfa dengan sukses, Rho. Kamu benar-benar tega,” cecar Beta setengah emosi sebagai sahabat Alfa. Varrho terdiam. Jujur di dalam hatinya, dia merasa bersalah, beberapa kali dia memang mengorbankan perasaan Alfa, meski disisi lain dia merasa tidak punya pilihan lain. “Maafkan aku, Ta... Aku memang bersalah ke Alfa, tapi aku punya alasan dan aku ingin menjelaskannya ke Alfa. Dia bakal datang ke acara ini kan, Ta? Aku berusaha telepon dan hubungi dia beberapa kali pagi ini, tapi dia sama sekali tidak menjawab. Aku harus bicara sama dia, Ta... . Aku...”.
Varrho belum menyelesaikan kalimatnya ketika ia melihat Alfa baru saja tiba. Wajah Alfa selalu saja tidak pernah lepas dari senyuman yang seolah tak pernah lelah ia bagi ke sekitarnya. “Alfaaa..., “ ujar Varrho pelan dan bergegas menghampiri Alfa diikuti dengan Beta dibelakangnya. Melihat Varrho yang berjalan kearahnya, sejenak Alfa memperlambat langkahnya meski senyuman itu tetap berusaha ia sunggingkan. Alfa berusaha lebih menguatkan hatinya di hadapan Varrho. “Alfa, ternyata kamu baru datang, aku menunggu kamu, aku ingin bicara sama kamu, Fa...,” ujar Varrho.
Alfa menatap Varrho sejenak. “Sorry Rho, bukan apa-apa tapi aku sudah berjanji dengan Beta sekarang. Kalau kamu mau bicara soal tadi malam, aku ngerti kok Rho. Pasti kamu nggak bisa datang karena ada hal yang lebih penting kan? Aku yakin kamu punya alasan, ya kan?” Susah payah Alfa berusaha tetap tersenyum ke laki-laki yang sedang menatapnya itu.
“Aku... aku benar-benar minta maaf Fa, maaf aku membuat kamu menunggu sampai tengah malam tanpa memberi kabar. Gina... Gina tiba-tiba mengajak keluar dan HP aku mati dan aku tinggal di kamar. Aku baru sampai rumah sekitar jam 01.00. Aku coba telepon dan mengirim pesan ke kamu selepas Shubuh, tapi kamu sama sekali tidak menjawab. Kamu pasti marah ke aku, ya Fa?” Varrho berusaha menjelaskan dengan raut wajah bersalahnya. Alfa menunduk sejenak kemudian tersenyum lagi ke Varrho, “Aku berusaha memahami posisi kamu, Rho. Aku tidak apa-apa. Maaf kalau aku tidak merespon tadi. Aku percaya kamu tidak datang tadi malam pasti ada alasannya. Makasih kamu sudah jelasin barusan. Sekarang kita lupakan saja ya, aku mau ngobrol sama Beta, Rho karena aku sudah janjian dengan Beta. Kamu... have fun ya”.
Alfa tersenyum lebar ke Varrho, seolah tidak terjadi apa-apa di hatinya seraya memberi isyarat ajakan pergi ke Betha. Sementara itu, Varrho hanya bisa memandangi Alfa yang menjauh darinya. Entah kenapa, rasa bersalah itu makin memenuhi hatinya meski Alfa tersenyum lebar sebelumnya. Seolah ada hal yang Alfa berusaha sembunyikan dari Varrho, semacam kecewa yang berusaha diabaikan Alfa. 
Alfa sedang asyik mengobrol dengan Beta dan beberapa teman lainnya ketika Alfa melihat Varrho yang sedang duduk menyendiri di acara itu. Sebenarnya sudah beberapa kali Alfa mencuri pandang memperhatikan gerak gerik Varrho yang seperti orang canggung di acara itu. Bahkan Alfa juga menyadari bahwa Varrho ada kalanya memerhatikan dirinya yang asyik dengan Betha. “   
“Kamu sedang memerhatikan Varrho ya, Fa? Sudahlah, Fa... ingat dia kemarin membuat kamu menunggu sampai tengah malam. Sewajarnya kamu marah ke Varrho kali Fa,” tanya Beta mengagetkan Alfa. 
Alfa tersenyum, “Kasihan Varrho, Ta, dia sendirian dan seperti orang yang bingung begitu. Dia bahkan tidak berusaha bergabung dengan teman-teman cowok yang lainnya”. Alfa terdiam sejenak. “Aku hampiri Varrho dulu, ya Ta. Kita disini ngobrol rame-rame berlima, sementara Varrho sendirian disana. Kamu nggak keberatan kan, Tha?”
“Aku sih sama sekali nggak keberatan Fa, tapi aku ikut kesal saja kalau ingat apa yang sudah diperbuat Varrho ke kamu. Harusnya kamu juga bisa ganti tidak peduli ke dia, nggak perlu mencemaskan dia seperti ini”.
Alfa lagi-lagi tersenyum kearah Beta. Alfa tahu sahabat baik yang ada dihadapannya itu berusaha memahami apa yang dirasakan oleh Alfa, berusaha ikut merasakan apa yang Alfa rasakan. Alfa kemudian merangkul bahu Beta seolah menenangkan sahabatnya itu. “Aku baik-baik saja, kok Ta. Kamu jangan mencemaskan aku, ya,” ujar Alfa sambil menepuk-nepuk lembut bahu Betha sambil menyunggingkan senyuman lebarnya ke Beta membuat Beta pun mengangguk akhirnya. Sepanjang yang Beta kenal, Alfa adalah sosok yang cukup tulus dalam berteman dengan siapapun termasuk dirinya maupun Varrho. Sosok teman yang asyik dan berusaha memahami orang dari sudut pandang orang itu dan bukan hanya sudut pandang dirinya. 
Alfa pun bergegas menghampiri tempat Varrho duduk sendirian. “Kok sendirian saja, Rho,” ujar Alfa tersenyum sambil menyodorkan sekotak susu coklat kearah Varrho. Varrho pun menoleh, “Alfa,... kok bisa ada susu coklat kotak? Kamu ambil dari hidangan sebelah mana, Fa?” balik Varrho bertanya sembari balas tersenyum ke Alfa. Alfa pun tertawa kecil, “Kebetulan aku bawa satu dari rumah buat jaga-jaga kalau tiba-tiba diperlukan, he he. Mau nggak, Rho?”. Varrho ikut tergelak sambil mengangguk dan mengambil sekotak susu dari tangan Alfa itu. “Makasih ya, Fa”.
“Gina belum datang ya, Rho kok kamu duduk sendirian saja disini dan tidak gabung dengan teman-teman cowok yang lain?”
“Aku tidak menunggu Gina kok Fa karena Gina memang tidak bakal datang juga, Fa”. Varrho memandangi Alfa sambil mulai meminum susu coklat pemberian dari Alfa itu. Alfa pun tersenyum kearah orang yang sedang memandanginya itu. “Keberatan kalau duduk disini menemani kamu, Rho?” tanya Alfa membuat Varrho pun tertegun. Varrho terdiam sejenak, “Bukannya kamu harus menemani Beta, Fa?” ujar Varrho balik bertanya. “Beta sedang asyik mengobrol dengan beberapa teman lamanya juga. Jadi nggak masalah kalau aku tinggal. Kecuali... kamu keberatan kalau aku temani...”
“Sama sekali nggak keberatan, Fa. Aku justru senang kamu masih mau menemani aku disini setelah apa yang sudah aku lakukan kemarin. Sekali lagi, maafin aku ya Fa,” balas Varrho dengan wajah kembali dihinggapi rasa bersalah .
Alfa pun balas melebarkan senyumannya untuk Varrho. “Sudah Rho, kita nggak usah bahas lagi soal semalam ya”. Meski hati Alfa masih dihinggapi rasa sakit tiap kali mengingat Varrho mengungkit kejadian di hari ulang tahunnya itu, tapi dia berusaha menyingkirkan rasa itu dengan rasa sayang dirinya untuk Varrho.
Alfa pun mengambil tempat duduk di sebelah Varrho Ia letakkan kue yang sengaja ia ambil sebelum menghampiri Varrho di meja depan tempat duduk mereka. “Daripada bengong, mending kita makan kue ini saja, Rho. Ini aku juga bawa biskuit coklat dari rumah, ayolah kita makan sampai habis,” ujar Alfa sambil tertawa renyah ke Varrho. “Kamu tuh, Fa... masih saja suka bawa stock makanan ya kemana-mana,” balas Varrho sambil tertawa lebar memandangi gadis di depannya yang menularkan tawa padanya. “Makasih banyak ya, Fa... sudah menemani aku ngobrol disini,” ucap Varrho kemudian. “Kamu tidak perlu mengucapkan terima kasih, Rho. Itulah sahabat Rho, saling menemani saat satu sama lain memerlukan, hmmm meski mungkin aku juga tidak selalu ada saat kamu perlukan. Maaf ya, Rho,” balas Alfa sambil tersenyum lebar. Dengan raut setengah tertegun, Varrho memandangi Alfa tanpa bersuara. Varrho tidak menyangka Alfa akan berkata seperti itu, padahal dirinya lebih sering bertindak egois dibandingkan Alfa dalam persahabatan mereka. Senyum Alfa masih tersungging dengan lebar ke Varrho, senyuman yang entah kenapa membuat hati Varrho perlahan menjadi tenang kembali. Varrho pun mengangguk, “Maafkan aku juga ya, Fa... aku belum jadi sahabat yang baik buat kamu, aku beberapa kali membuat kamu kecewa”. “Sahabat itu juga berarti berusaha saling memahami satu sama lain. Jadi...sudah cukup melonya ah Rho, mending kita nikmati kebersamaan kita ini dengan berbagi senyum dan tawa, Ok,” balas Alfa sambil tertawa kecil menatap Varrho sambil menyodorkan jari kelingkingnya ke Varrho tanda baikan membuat Varrho pun akhirnya ikut tergelak dan melingkarkan jari kelingkingnya ke kelingking Alfa. Mereka pun akhirnya menghabiskan kebersamaan mereka dengan menghabiskan makanan yang ada sambil tergelak dalam canda. Persahabatan mereka mungkin seumur jagung dan tidaklah seperti sepasang sepatu yang selalu bersama, tapi mereka utamanya Alfa ingin selalu mengisi kebersamaan mereka dengan bingkai senyum dan tawa meski mungkin didalamnya ada air mata yang mengalir. Persahabatan bukan hanya tentang berbagi sedih dan bahagia, tapi membalut sedih dengan bahagia saat dikenang nantinya.
 Seminggu berlalu, Alfa dan Varrho sama-sama sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Sesekali mereka saling berkomunikasi via whatsapp atau SMS, sekedar memastikan satu sama lain baik-baik saja. Mereka tak sempat berbagi cerita tentang hal-hal yang terjadi di hidup mereka termasuk tentang perihal Alfa yang diterima bekerja di Kota Bandung, disebuah salah satu perusahaan yang sudah lama Alfa incar dan idam-idamkan. Namun, fakta itu justru menjadi kabar bahagia sekaligus sedih bagi Alfa. Sedih karena itu berarti, persahabatannya dengan Varrho mungkin akan semakin menjauh meski sebenarnya tidak ada yang perlu dipermasalahkan dengan semakin mudahnya sarana untuk berkomunikasi dimana pun mereka berada. Entah kenapa, masih saja ada kecemasan yang tiba-tiba muncul di hati Alfa, seolah dia akan kehilangan sahabatnya itu. Sementara itu, Varrho sendiri minggu itu disibukkan dengan jadwal pekerjaannya yang semakin padat ditambah dengan waktu yang harus dibaginya untuk Gina sehingga membuat Alfa menjadi urutan yang harus mengalah. Sepertinya Varrho selalu percaya bahwa Alfa adalah seseorang yang akan mampu memahami dan memaklumi dirinya, tanpa ia sadari kadang kepercayaan saja tak cukup tangguh untuk menghindarkan hati Alfa dari luka.      
“Wah, serius Fa, kamu diterima di perusahaan yang sudah lama jadi salah satu target kamu itu?” tanya Beta via telepon.
“Iya Ta, alhamdulillaah, benar-benar tidak menyangka saat menerima surat panggilan itu, he he. One of my dreams comes true. Tapi selama dua tahun aku bakal ditempatkan di Kota Bandung, Ta sebelum nanti bisa dipertimbangkan untuk dipindah ke kantor pusat di Jakarta,” balas Alfa.
“Selamat ya Fa, ikut senang mendengarnya. BTW, kok terdengar ada sedikit keraguan di suara kamu, Fa, ada apa? Kamu berat meninggalkan Jakarta tercinta ini buat stay di Bandung ya?”. Alfa masih terdiam. “Kamu berat meninggalkan sahabat-sahabat kamu yang ada di Jakarta ya?he he..Sok Pede ceritanya,” ujar Beta lagi.
“Meski Bandung dan Jakarta jaraknya sangat terjangkau, tapi pastinya aku harus tinggal di Kota Bandung dengan ritme kerja di perusahaan aku itu. Aku nggak mungkin bolak balik, Ta. Iya nih, entah kenapa, ada rasa sedih aja tiba-tiba harus meninggalkan Jakarta dan semua hal yang aku miliki disini, meski seminggu sekali tetap bisa pulang. Pastinya aku ga bisa sesering sebelumnya bertemu kamu Ta, apalagi... “. Alfa memilih tidak meneruskan ucapannya. Entah kenapa, rasa cemas itu kembali hadir dengan tiba-tiba di hati Alfa.
“Soal Varrho? Kamu mengkhawatirkan persahabatan kamu dengan Varrho ya, Fa?”
Alfa masih terdiam di tempatnya menelepon. 
“Wajar sih, Fa...apalagi dengan beberapa kejadian diantara kalian akhir-akhir ini. Kalian berdekatan tempat saja, dia kadang mengalahkan keberadaan kamu, apalagi kalian bertambah jauh, ya”.
“Entahlah Ta, jujur aku tiba-tiba merasa takut kehilangan Varrho sebagai sahabat, Ta. Bukannya aku tidak percaya Varrho, tapi persahabatan aku dan dia sekarang ini seperti menyimpan bom waktu. Aku takut, suatu saat, baik aku dan Varrho lelah dan tak ada lagi daya untuk menjaga persahabatan ini tetap hangat, kami akan kembali menjadi asing bahkan lebih asing daripada seorang teman sekalipun. Mungkin kecemasan aku ini terlalu berlebihan kali ya, Ta.”
“By the way, reaksi Varrho gimana Fa dengan kabar ini? Kamu sudah memberitahu Varrho kan?“ sambung Beta lagi.
“Aku belum mengabari Varrho, tentang ini, Ta. Dia lagi sibuk banget minggu ini, bahkan komunikasi via SMS atau WA pun sebatas pendek-pendek saja, sekedar menanyakan apa masing-masing diantara kami baik-baik saja. Tapi aku punya rencana Ta, setidaknya sebelum berangkat aku ingin meninggalkan kesan manis buat Varrho tentang persahabatan kami. Apapun yang terjadi setelah aku berangkat nanti, setidaknya tidak ada penyesalan yang akan aku rasakan tentang Varrho karena aku sudah memperjuangkan persahabatan kami,” jelas Alfa panjang lebar disertai dengan gelak tawa kecilnya seolah ia ingin menunjukkan semangatnya ke Beta.
“Good luck ya, Fa. Kalau kamu perlu bantuan tentang Varrho, aku siap membantu semampu aku, Fa. Berjuang dan semangat Alfa. Mungkin Varrho saat ini sedang sibuk dengan kehidupannya yang bahagia dan tidak bisa melihat arti kamu dengan jelas, tapi akan ada masanya, Varrho akan menyadari bahwa puzzle hidupnya tak kan lengkap tanpa adanya kamu, Fa.”
Alfa tersenyum mendengar ucapan Beta, setelah mengucapkan terima kasih dan membuat janji akan hangout bareng sebelum Alfa berangkat ke Bandung, pembicaraan telepon diantara keduanya pun terputus.
Alfa masih terdiam memandangi surat pemberitahuan panggilan kerja itu sembari tersenyum. Matanya sejenak menyapu ruangan kamarnya seolah membiarkan otak dan hatinya riuh berpendapat. Tak seberapa lama kemudian, Alfa pun memutuskan untuk menghubungi Varrho.
“Rho, lagi sibuk nggak?” ketik Alfa via WA. Ketika kemudian ada balasan dari Varrho, “Ada apa, Fa?” 
“Maaf ya, Rho kalau sebelumnya aku mengganggu waktu kamu. Aku cuma ingin mengajak kamu, sekali aja dalam minggu ini untuk kita bisa menikmati waktu matahari terbit, waktu senja dan waktu malam, sebentar saja bersama. Aku harap ada diantara pagi, sore dan malam kamu di minggu ini yang bisa terluangkan sejenak untuk kita bersama. Aku akan menunggu kabar dari kamu, semoga luang kamu masih ada. Tetap jaga diri dan kesehatan sesibuk apapun kamu, ya Rho”.
“Maaf ya, Fa aku benar-benar sibuk sampai satu minggu ke depan. Gina meminta aku menemaninya di beberapa project kerjaannya dan pekerjaan aku sendiri juga menyita waktu. Maafkan aku ya, aku tidak bisa berjanji ke kamu tapi kita usahakan ya, Fa. ”
Alfa memandangi jawaban Varrho tersebut sejenak. “Sahabat itu harus memahami satu sama lain, Fa. Jika sama-sama tidak ada yang bisa atau ingin memahami, maka sahabat hanya akan menjadi sekedar status tanpa nyawa dan makna,” tegas Alfa ke dirinya sendiri. 
“Iya Rho, nggak apa-apa. Aku bakal mengingatkan kamu, ya. Siapa tahu kamu ada waktu luang,” ketik Alfa lagi.
“Sip, Fa. Makasih ya, untuk doanya, kamu juga jaga kesehatan kamu, ya”. Dengan emotion senyum dari Alfa, percakapan mereka pun berakhir.  
“Aku bakal tunggu jawaban kamu, Rho,” bisik Alfa sambil melihati handphonenya sambil tersenyum. Alfa sengaja tidak memberitahu bahwa dirinya akan berangkat ke Bandung minggu depan ke Varrho. Dia ingin memberi tahu Varrho saat mereka bertemu dan bercengkerama sejenak bersama pagi, atau senja, ataupun gulita. 
Setiap hari, Alfa selalu mengirim pesan ke Varrho. Meski Varrho tak kunjung bisa mengabulkan permintaan Alfa karena waktunya habis untuk kesibukan kerjanya dan juga Gina. Namun, Alfa tidak pernah menyerah. Alfa tetap ingin mewujudkan kebersamaaan dia sejenak di pagi, senja, dan malam sejenak bersama Varrho sebelum dia berangkat. Hari itu hari ketiga, empat hari lagi sebelum Alfa berangkat ke Bandung. 
Alfa kembali mengirim pesan ke Varrho
“Rho, apa kamu ada waktu luang? apa bisa kita bertemu sejenak di pagi, senja, atau malam?” ketik Alfa.
Varrho pun balas menelepon ke Alfa.
“Assalaamualaikum, Fa.”
“Waalaikumsalam, Rho”.
“Fa, malam ini sepertinya kita bisa bercengkerama bersama bintang sekitar jam 7 malam. Insya Allah aku nanti aku ke rumah kamu ya,” ujar Varrho bersemangat.
Alfa pun tersenyum lebar, “Siap, Rho. Makasih banyak, ya Rho”.
“Oh ya, Fa, ajakan kamu soal pagi, senja, dan malam kemarin itu cukup terpenuhi salah satu atau gimana? Aku jadi bertanya-bertanya, Fa kenapa kamu ingin kita bertemu di tiga waktu itu? Ada apa sebenarnya, Fa?” terdengar suara yang penasaran bertanya.
Lagi-lagi Alfa tersenyum meski Varrho tak bisa melihatnya.”Nanti juga kamu bakal tahu kenapa aku mengajak kamu di tiga waktu itu. Aku berharapnya kita bisa mewujudkan ketiga waktu tersebut, Rho sebelum...”. Ucapan Alfa terhenti.
“Sebelum apa, Fa? Sepertinya ada yang aneh dengan kamu, Fa. Ada apa sebenarnya, Fa?” tanya Varrho semakin penasaran.
Alfa tertawa kecil di telepon sengaja supaya terdengar oleh Varrho. “Nggak apa-apa kok, Rho. Toh kita udah lama juga tidak bercanda, sejak kamu makin sibuk dengan kerjaan kamu dan juga Gina. Aku cuma ingin meluangkan waktu sejenak untuk persahabatan kita, Rho.”
“Hmmm, kamu benar Fa. Aku yang meminta kamu berjarak dan mengalah beberapa waktu terakhir ini. Maaf ya. Ya sudah, soal pagi, gimana kalau besok pagi kita bertemu. Kebetulan jadwal aku besok, masih bisa menyisipkan pagi untuk luang, Fa. Soal senja kita bicarakan lagi nanti, ya Fa.”
“It’s okay, Rho. Sampai jumpa nanti malam, ya. Terima kasih banyak kamu sudah meluangkan waktu kamu”.
“Tidak perlu berterima kasih Fa. Aku yang harusnya minta maaf, semakin tidak punya waktu dengan persahabatan kita akhir-akhir ini. Aku harap kamu bisa memahaminya ya, Fa. See you...”
“Insyaa Allah aku berusaha memahami kita, Rho. Sampai jumpa nanti ya Rho. Tetap semangat beraktivitas ya”.
  “Jangan lupa siapin coklat hangat dan gitar ya Fa,” sambung Varrho sambil tertawa di ujung telepon membuat Alfa pun tergelak bersama sahabatnya itu.
Sehabis maghrib, Alfa bersemangat membuat coklat hangat buat dirinya dan Varrho. Dia siapkan gitar dan beberapa cemilan juga sambil bersiap menunggu Varrho di tempat duduk di teras depan rumahnya. Bintang dan bulan sedang asyik bercengkrama malam itu membuat mata Alfa jatuh hati untuk kesekian kalinya. Tanpa sadar Alfa pun memetik gitarnya seolah ingin bergabung membagi canda bersama bintang dan bulan di langit. Tiba-tiba handphone Alfa berbunyi, sebuah pesan dari Beta. “Sedang apa, Fa?”
“Sedang menunggu Varrho datang, Ta,” balas Alfa. 
“Berarti kamu bakal memberitahu Varrho soal kabar gembira itu, ya Fa?”
“Iya, Ta. Doain aku bisa meninggalkan kesan yang indah ya bersama Varrho diantara kebersamaan aku dan dia yang makin langka ini, ya”. 
“Good luck ya, Alfa sayang”. Setelah saling berbagi icon senyuman, percakapan Alfa dengan Beta pun berakhir. 
Alfa membunuh waktunya dengan bersenandung sembari menatap langit yang dipenuhi bintang itu ketika sebuah pesan masuk di handphonenya.


Bersambung kembali, he he. 
Kata masih kelu bercengkerama mesra dengan ide dan tangan, malah sok puitis, ha ha. Ingin sekali meminta Rizky dan Anisa menjawab rindu tapi sekedar meminta pun seolah tak berhak meski kadang rindu itu menjadi liar, he he... malah melo lebay ngelantur, nggak penting dan lupakan, wkwkwkwk ☺✌. Penulisnya lagi galau belum bisa menyelesaikan cerita ini dalam rupa kalimat ☺✌.