Minggu, 30 Juli 2017

- KAMU DAN CINTA -



Note:
Anisa sebagai Anisa, Rizky sebagai Rizky.
Sebuah paragraf super singkat tentang analogi rasa.
Sebuah analog dari sekumpulan kata nasihat buat sebagian mereka yang mencari makna "cinta".
Sebuah ilustrasi pengingat bagi penulisnya.

"Aku menyukaimu sebagai tontonan, tapi aku ingin mencintaimu sebagai tuntunan" – Anisa 

"Kenapa kamu memutuskan berjilbab, Nis? Kenapa kamu rela menanggalkan keindahan penampilan kamu? Kenapa kamu meninggalkan kepopuleran yang bisa kamu raih?"
Itulah pertanyaan Rizky yang membuat Anisa hanya bisa tersenyum balas menatapnya sekilas. Anisa tak menyangka kalimat itu yang pertama ditanyakan laki-laki itu setelah sekian lama mereka tak pernah bertemu. Bahkan pertemuan itu tak terbayangkan keduanya.
"Aku memakai jilbab ini untuk memenuhi kewajibanku ke Tuhan, Riz. Aku juga memakai jilbab ini untuk orang tuaku, aku ingin menjadi anak yang baik untuk mereka. Aku juga memakai jilbab ini untuk menjaga kehormatanku sebagai perempuan," ucap Anisa dengan senyuman tulusnya yang tak pernah berubah.
"Aku memakai jilbab ini juga untuk seseorang dalam doa-doaku..., seseorang yang akan menemani dan melengkapi hidup aku, aku ingin menjaga hatinya meski saat ini hati aku dan dia belum menyatu," sambung Anisa membuat Rizky terdiam mencerna ucapan gadis itu yang entah kenapa mengena di hatinya. Padahal Anisa menyebut laki-laki itu 'DIA', tak bernama, tapi entah kenapa hati Rizky justru bergetar mendengarnya, seolah perempuan itu menjaga hatinya.
"Aku senang kita bisa bertemu disini, Riz. Akhirnya kita bertemu bukan sebagai tontonan melainkan sebagai dua orang manusia yang saling mengenal tapi lama tak berjumpa".
Ada lengkung senyum perlahan di bibir Rizky mendengar ucapan Anisa. Gadis itu benar, mereka bertemu gara-gara hal sepele, Rizky menjemput Mamanya yang ada sedikit urusan terkait bisnis baju muslimnya dan Anisa berada di tempat yang sama karena dia ingin membelikan Mamanya sebuah hadiah untuk menghadirkan lebih banyak senyum untuk perempuan yang paling berjasa di kehidupannya itu. Mereka bertemu bukan sebagai public figure tapi sebagai laki-laki dan perempuan biasa.
"Apakah kamu menyayangkan keputusan aku berjilbab, Riz?" tanya Anisa ke laki-laki itu.
Rizky menggelengkan kepalanya pelan. "Satu-satunya yang kusayangkan dari kamu berjilbab hanya kita semakin sulit bersama, Nisa. Dunia di sekeliling kita terlihat semakin berbeda dan itu membuat aku sedih, Nis. Kita semakin sulit untuk bisa mendekat".
Anisa tersenyum tipis mendengarnya. Andai saja Rizky tahu kegalauan yang sempat melanda hatinya gara-gara laki-laki itu sebelum akhirnya Anisa memutuskan untuk mengikhlaskan perasaannya, menitipkannya pada Tuhan lewat doa.
Rizky, laki-laki itu telah membuat Anisa suka dengan wajah tampannya terlebih Rizky merupakan artis yang jadi tontonan banyak orang, digilai banyak kaum hawa termasuk mungkin dirinya.
Namun, lebih dari itu, Rizky membuat hatinya terpaut justru saat laki-laki itu teguh menjalankan ibadahnya diantara kesibukannya syuting, beberapa kali Anisa melihat sifatnya yang gentle sebagai laki-laki dewasa di hadapannya serta laki-laki itu menghormati sekaligus berbakti kepada Mamanya dengan penuh tanggung jawab dan kasih sayangnya. Rizky juga sosok yang pekerja keras dimata Anisa. Ditambah lagi dengan sikap humoris laki-laki itu, menambah hati Anisa semakin yakin padanya bahwa laki-laki itu bisa menjadi tuntunan baginya.
Kini bagi Anisa, Rizky adalah nama yang ia titipkan di langit-langit doanya menjadi salah satu kemungkinan diantara ketidaktahuannya dan kepasrahannya akan sosok teman hidupnya. Gadis itu hanya bisa berharap kemudian memasrahkan segala sesuatunya. Anisa percaya bahwa cinta terbaik adalah cinta yang membuat keimanan dan ketaatannya bertambah, seseorang yang membantunya di dunia karena laki-laki ini ingin bertemu lagi dengan dirinya di surga-NYA seperti juga Anisa yang menginginkan hal yang sama.

-Selesai-

YOU ARE THE ONE: "Maukah Kamu Menikah Denganku?" - Part 8.1

 PART 8.1: SAAT BAHAGIA YANG TAK SEMPURNA

Akhirnya hari yang tak sabar ditunggu-tunggu itu tiba, hari yang bukan hanya membahagiakan Riza tapi juga Nisa setelah rentetan suka duka penyusunan skripsi, sidang, dan revisi mereka jalani.
Hari ini sehari menjelang wisuda, Riza sedang mencoba setelan tuxedo baru hadiah kelulusan dari kedua orang tuanya. Sebenarnya, Riza tak meminta hadiah apa-apa, bagi laki-laki itu melihat papa dan mamanya tersenyum bangga padanya dan hadir menemani di acara wisudanya, itu sudah cukup jadi hadiah terindah buatnya.
"Anak Mama ganteng banget pakai tuxedo baru," ucap Mama Riza dengan raut bahagia melihat Riza yang sedang bercermin di kamarnya. Ada bangga di raut wajah perempuan itu.
Riza tersenyum, "Sebenarnya ga perlu bikin setelan baru buat wisuda, Ma. Setelan jas Riza yang dulu kan masih bagus dan jarang dipakai".
Mama Riza terlihat merapikan bagian kerah baju Riza dengan penuh rasa sayang.
"Gapapa, Nak. Toh selepas kuliah dan masuk ke dunia kerja, Riza bakal makin sering pakai baju-baju semacam ini".
Riza tersenyum manja ke Mamanya sambil menganggukkan kepalanya.
"Lagi pula, kan kamu bilang kalau besok mau ngenalin seseorang yang istimewa ke Mama Papa, Nak. Jadi kamu harus kelihatan super gantengnya biar dapat jawaban 'iya' dari Nisa," jelas Mama Riza sambil tertawa membuat Riza tersenyum tersipu.
"Makasih banyak, ya Ma...," balas Riza kemudian mengecup lembut kedua pipi Mamanya. "Tolong doakan Riza ya, Ma".
Mama Riza mengelus pipi laki-laki itu penuh cinta. "Mama dan Papa pasti selalu mendoakan yang terbaik buat Riza. Papa Mama selalu mendoakan kebahagiaan dan kebaikan buat Riza, termasuk soal Nisa," lanjutnya kemudian mendekatkan kepala Riza dan mengecup kening putranya itu agak lama.
Riza akhirnya menceritakan tentang Nisa kepada keluarganya setelah dia dinyatakan lulus kuliah beberapa minggu sebelumnya. Riza juga menceritakan garis besar yang terjadi diantara keduanya termasuk alasan Nisa belum mau menjawab 'iya'. Riza pun menceritakan bahwa selama beberapa bulan ini dirinya memutuskan 'belajar' bekerja, sengaja di luar perusahaan Papanya, karena ia ingin menjadi laki-laki yang bertanggung jawab buat Nisa.
Selepas mencoba tuxedo barunya, Riza buru-buru mengambil handphone-nya dan melakukan agenda rutinnya.
"Would you be my BFF forever and ever, Nisa? Maukah kamu menikah denganku? :)"
Di tempat lain, Nisa sedang asyik menyempurnakan sketsa tamannya di kamar kosnya. Seperti janjinya ke Riza, dia ingin menunjukkan sketsanya itu di hari wisuda. Seminggu terakhir ini, gadis itu ngebut menyelesaikan sketsanya setelah imajinasi dan mood menggambarnya sempat tersendat selama beberapa minggu paska revisi skripsinya.
Ayah dan kakak Nisa baru tiba nanti sore atau malam, Nisa sudah menyewa sebuah kamar apartemen harian untuk keluarganya menginap selama dua malam.
Nisa sedang memandangi sketsa tamannya yang nyaris sempurna sesuai harapan Nisa ketika mata dan kepala Nisa kembali terasa sakit dan tiba-tiba ia merasa mual. Gadis itu buru-buru mengambil obat di laci meja belajarnya dan meneguknya kemudian membaringkan dirinya di tempat tidur.
Sudah beberapa hari ini, sakit di mata dan kepalanya dirasakannya tapi dia berusaha mengabaikannya karena Nisa asyik menyelesaikan sketsa tamannya itu memanfaatkan imajinasi dan mood-nya yang sedang on fire. Meski demikian, Nisa selalu rutin meminum obatnya agar penyakit glaukomanya itu tidak sampai kambuh.
Nisa memiringkan tubuhnya sambil membuka handphone-nya, ada beberapa pesan masuk salah satunya dari Riza membuat Nisa kesekian kali terharu membacanya.
"Kamu benar-benar pantang menyerah, ya Riz," ucapnya pelan sambil tersenyum mengusap-usap layar handphone-nya itu tanpa membalas pesan Riza. Pandangan Nisa mengabur, Nisa memejamkan matanya. Tak berapa lama Nisa pun terlelap sekaligus berusaha mengusir sakit yang dirasakannya.
Waktu di jam beker Nisa menunjukkan pukul 11.06 ketika gadis itu terbangun dari tidurnya. Tak terasa ia sudah terpejam selama kurang lebih satu jam. Sakit di kepala dan matanya masih saja tidak berkurang.
"Kamu harus bisa mengalahkan sakit kamu, Nis... kamu ga boleh lemah, Nisa," ucapnya lirih menyemangati diri sendiri.
Nisa pun kembali duduk menghadap meja belajarnya, kembali mengamati sketsa tamannya itu dengan raut puas, tak sabar Nisa ingin menunjukkannya ke Riza dan mendengar pendapat laki-laki luar biasanya itu. Nisa pun memasukkan gulungan sketsa tamannya itu ke tempatnya, menggantungnya di sebelah baju toga hitam dan kebaya pink untuk wisudanya. Nisa kembali teringat pesan Riza yang belum dibalasnya, ia pun bergegas mengambil handphonenya.
"Sampai bertemu di tempat wisuda ya, Riz :). Sesuai janji, aku bakal tunjukin sketsa taman aku ke kamu untuk pertama kalinya :D," jawab Nisa akhirnya, mengalihkan jawabannya akan permintaan Riza, berusaha membuat laki-laki itu tidak terlalu kecewa. Nisa pun mengambil diary dari laci mejanya.
"Kalimat ajaib Riza yang ke 1101 hari ini, entah kenapa membuatku tiba-tiba ingin memarahi diri sendiri karena masih membiarkan Riza meminta kesekian kalinya dengan jawaban yang sama.
Riza..., hatiku ikut tertolak dan sakit tiap kali aku menahan tangan dan mulut aku untuk menjawab 'iya'.
I love you but sorry, Riz," tulisnya.
Nisa mengambil bungkusan kotak kecil berwarna biru di lacinya kemudian tersenyum lebar kearahnya, "Semoga kamu suka dengan hadiah kecil ini, Riza".
Lagi-lagi ada pesan masuk dari Riza.
":D. Aku sudah tidak sabar melihatnya, Nis he he. Seperti halnya aku tidak sabar bertemu dengan ayah kamu dan mengenalkan kamu ke orang tua aku besok :D. See you, Nisa :)".
Nisa tersipu dan tersenyum simpul beberapa kali membacanya. Ada rasa deg-degan yang tiba-tiba Nisa rasakan membaca kalimat Riza itu seolah Riza akan melamarnya.
Di satu sisi, Nisa penasaran bagaimana raut wajah Riza saat itu membaca balasan pesannya. Ada rasa bersalah ke Riza yang menghantui Nisa karena belum bisa menjawab 'iya'.
Nisa pun akhirnya memutuskan merapikan kamarnya dan memasukkan barang-barangnya yang akan dibawanya ke wisuda esok hari, termasuk kado kecil buat Riza. Tak terasa 30 menit Nisa melakukannya ketika perutnya semakin mual, membuat Nisa buru-buru masuk ke tempat mandinya dan langsung mengeluarkan semua isi perutnya.
Sakit di mata dan kepalanya makin menjadi setelahnya, membuat Nisa terhuyung-huyung berusaha menggapai tempat tidurnya. Namun baru tiga langkah, Nisa tak kuat lagi menahan keseimbangan tubuhnya dan terjatuh mulai kehilangan kesadarannya.
"Aku ga boleh menyerah... aku ga boleh ngecewain dan bikin sedih ayah dan Riza," batin Nisa pelan memandangi baju wisudanya dan sketsanya sebelum akhirnya benar-benar kehilangan kesadarannya. Beberapa bulir air mata mengalir di pipi cantiknya yang pucat itu.
"Bangun, Nis... hari ini kan kita mau menikah, kok kamu malah tidur?" tanya Riza yang terlihat tampan dengan balutan tuxedo hitamnya saat itu. Mata Nisa perlahan terbuka, terlihat kakak Nisa tersenyum kepadanya selain Riza.
"Menikah? Memangnya aku sudah bilang iya ke kamu, Riz?" tanya Nisa tertegun dengan suara seraknya.
Laki-laki itu tersenyum lebar menganggukkan kepalanya, menunjukkan cincin di tangannya yang sama dengan cincin yang dipakai Nisa".
Mata Nisa perlahan terbuka, gadis itu pun menyadari ternyata ia baru saja bermimpi. Bibirnya otomatis tersenyum mengingat mimpinya, membayangkan kebahagiaan andaikan mimpi itu nyata. Nisa kemudian menyadari dirinya tergeletak pingsan di lantai kamarnya, entah sudah berapa lama. Nisa pun berusaha berdiri, tubuhnya terasa lemah tak bertenaga.
Kepala dan matanya masih terasa sakit meski tak seberapa, Nisa pun meneguk air putih di botol minumnya lalu mengambil susu dan roti simpanannya dan bergegas menghabiskannya.
Ia lirik jam bekernya, jam 13.57... itu artinya satu jam lebih Nisa tergeletak pingsan di lantai.
Setelah meminum obat dan menenangkan dirinya, Nisa pun bergegas mengambil wudlu, Nisa teringat ia belum menunaikan sholat zhuhurnya. Seusai sholat, Nisa mengambil handphone-nya, siapa tahu ada kabar dari ayah atau kakaknya, tapi yang tertera di layar justru pesan masuk dan beberapa miscall dari Riza.
Pesan Riza yang pertama tertera jam 12.20. "Nisa, kok perasaanku tiba-tiba ga enak ya. Apa kamu baik-baik aja?"
Kemudian diikuti miscall Riza dari whatsapp tiga kali dan dari telepon biasa dua kali. Nisa tidak menyangka kenapa perasaan Riza seolah terhubung saat dirinya seperti itu dan ini adalah kali kedua.
"Maaf Riz, aku baru bangun. Aku baik-baik aja, mungkin itu tadi cuma perasaan selintas lalu kamu aja. Anyway, makasih ya untuk semua perhatian kamu buat aku :). Riza is the best man that Nisa ever had :P :D".
Nisa tersenyum lebar mengetikkannya, lagi-lagi ia sengaja tak menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Seperti yang pernah ia bilang ke Riza, ia lebih ingin berbagi senyum dan tawa dengan laki-laki luar biasanya itu, bukan menambah khawatir di hati Riza meski sebenarnya ia ingin sekali berbagi hati dan hidup serta banyak hal dengan Riza sepanjang usianya.
Waktu menunjukkan pukul 15.19 ketika terdengar suara pintu kamarnya diketuk beberapa kali tanpa henti. Terdengar suara Ana memanggil beberapa kali namanya, membuat Nisa buru-buru mengenakan jilbab langsungnya.
"Kamu baik-baik aja kan, Nis? Sakit mata kamu ga kambuh kan? Soalnya tadi Riza ngejapri nanyain. Tadi aku lagi menjemput mama papa di airport soalnya," ucap Ana langsung memberondong Nisa dengan beberapa pertanyaan dan penjelasan membuat Nisa sempat tertegun mendengarnya.
Nisa pun tertawa kecil. "Aku baik-baik aja, Na. Aku juga sudah memberitahu Riza kok. Atau kamu mau fotoin aku buat dikirim ke Riza biar dia yakin kalo aku baik-baik aja?" jawab Nisa setengah bercanda membuat Ana tergelak dalam tawa.
Nisa tak menyangka Riza sampai menghubungi Ana buat memastikan kondisinya.
Pembicaraan terkait Riza pun langsung beralih seketika saat Ana melihat baju kebaya Nisa yang tergantung di dinding kamarnya. Mereka pun larut dalam obrolan kerempongan perempuan menjelang wisuda, termasuk rencana "make up" keduanya esok pagi di kamar Nisa. Setelahnya, Ana pun berpamitan ke Nisa.
"Jangan lupa siapkan hati kamu buat menjawab 'iya' ke Riza ya, Nis".
Kalimat penghujung Ana langsung membuat gadis itu tertegun di tempatnya.
"Emang Riza bilang apa ke kamu, Na?"
Ana tersenyum lebar kearah Nisa.
"Ga ada, dia cuma minta doain biar jawaban kamu bisa berubah jadi 'iya' aja dan aku ada sebagai Tim Riza sekaligus Tim Nisa he he".
Nisa tersenyum lebih lebar mendengarnya. Entah kenapa Nisa suka dag dig dug membayangkan tingkah laku Riza yang kadang susah ditebak.
Malam itu, Nisa menemani ayah dan kakaknya makan malam dan mengobrol bersama di kamar apartemen yang disewanya. Terlihat raut bangga di wajah ayah tercintanya ketika Nisa mencoba baju toganya di depan keluarganya.
"Anak bungsu Ayah makin cantik dan dewasa aja," ujar ayah Nisa membuat Nisa tertawa manja.
"Mama pasti bangga kalau bisa melihat Nisa seperti sekarang sama sepertinya bangganya Ayah ke Nisa," lanjut ayahnya membuat suasana hening sejenak. Nisa menghambur ke pelukan ayahnya, matanya berkaca-kaca tapi ia berusaha agar air matanya tidak jatuh.
"Andai mama masih ada, kebahagiaan Nisa pasti semakin sempurna, Yah".
"Nisa jangan jadi sedih ya, Nak. Yang terpenting kita selalu doakan mama, Sayang. Meski mama sudah tidak disini lagi bersama kita, mama selalu ada di hati kita semua," lanjut ayah Nisa lagi mengecup kening putri bungsunya itu penuh kasih sayang.
Terdengar celotehan keponakan Anisa yang masih balita bernama Nuna itu merangkak di karpet ruang bersama di kamar itu, persis di depan Nisa. Nisa pun menggendong keponakannya itu dan mengajaknya bercanda. Keponakannya terlihat memainkan topi toga Nisa.
"Sepertinya sebentar lagi Tante Nisa bakal ngenalin calon Om-nya Nuna ke keluarga besar nih. Atau jangan-jangan besok pas wisuda bakal ada cowok yang nemuin Kakek buat ngelamar Tante Nisa," sahut kakak Nisa yang duduk di sofa samping ayah Nisa, tersenyum lebar menggoda Nisa.
Terlihat wajah ayah dan kakak iparnya ikutan tersenyum memandang kearah Nisa, membuat Nisa tersipu.
"Apaan sih Kak Nina, Nisa kan baru selesai kuliah... jadi Nisa mau kerja dulu, belum kepikiran buat nikah. Lagipula calonnya juga belum ada he he". Tiba-tiba bayangan Riza yang tersenyum lebar tergambar jelas di pikirannya seolah ingin membantah ucapan Nisa dan mengingatkan gadis itu bahwa ada Riza yang ribuan kali meminta Nisa menikah dengannya. Entah apa reaksi keluarga Nisa saat esok Riza muncul mengenalkan dirinya ke ayah dan kakaknya, semoga saja laki-laki itu tidak berbuat nekat melamarnya. Nisa pun tak berani membayangkan bagaimana nanti saat Riza mengenalkannya ke orang tua Riza, ia takut Riza semakin berani memintanya menjawab 'iya'.
Waktu di arlojinya menunjuk ke angka sembilan malam saat Nisa pulang dari kamar apartemen itu ke tempat kosnya. Esok pagi, jam 6 keluarga Nisa akan menjemput Nisa di kosannya setelah gadis itu selesai dirias. Mereka akan bersama-sama menuju tempat wisuda.
Nisa mengambil handphone-nya yang ia simpan di sakunya. Ada pesan masuk dari Riza sejam sebelumnya.
"Apa keluarga kamu sudah datang, Nisa? Besok selepas prosesi wisuda kita bertemu di pintu keluar A ya, Nis. Kamu bilang kalau keluarga kamu dapat tempat duduk di dekat situ kan? Aku akan bawa kedua orang tuaku kesana. Aku mau kita foto bersama, Nisa :)".
Nisa tersenyum membacanya.
"Keluargaku udah datang menjelang maghrib tadi, Riz :). Iya, besok aku tunggu kamu di pintu keluar A, Riz... , tapi aku harap kamu besok jangan bicara yang aneh-aneh ya di depan ayahku. Aku benar-benar belum bisa menjawab iya, Riza. Maaf ya...".
Lama tak ada jawaban dari Riza hingga Nisa merasa mungkin permintaannya barusan menyinggung hati Riza ketika lima menit kemudian terlihat di layarnya Riza is typing
" :D :).
Maukah kamu menikah denganku, Nisa? :) Please... please... please kali ini kamu tenangkan diri kamu dan pikirkan masak-masak permintaanku malam ini, Nis. Aku tunggu jawaban kamu besok :)".
Nisa menarik nafasnya dalam-dalam, air mata mengalir disudut mata gadis itu gara-gara Riza. Laki-laki itu tetap tak peduli dengan semua penolakan Nisa dan tetap pada keyakinannya untuk menikahi Nisa. Padahal membayangkan dirinya menjawab 'tidak' ke Riza di depan keluarganya bahkan di depan ortu Riza membuat hatinya semakin terasa sakit dan bersalah ke laki-laki itu.
Setelah sholat, Nisa pun bergegas menyetrika kembali baju toganya. Makin malam, sakit di kepala dan mata Nisa makin terasa. Nisa pun meminum obatnya dan berusaha memejamkan matanya. Namun, permintaan Riza selalu datang menyela dan malah menambah sakit kepalanya, membuat Nisa tak kunjung terlelap. Hampir dua jam Nisa menahan rasa sakit di kepala dan matanya ketika akhirnya gadis itu pun berhasil tertidur.
Waktu di jam beker Nisa menunjuk ke angka 01.00 pagi ketika Nisa terbangun dengan keringat dingin hampir di sekujur tubuhnya. Gadis itu terlihat kesakitan, memegang kepalanya. Perutnya kembali mual, membuat Nisa memaksakan dirinya tertatih berjalan menuju kamar mandinya dan beberapa saat kembali muntah hebat seperti sehari sebelumnya. Air mata Nisa mengalir deras dini hari itu, antara rasa sakit yang semakin tak tertahankan dan rasa takut yang tiba-tiba menyergap Nisa bahwa dia tidak bisa ikut wisuda esok harinya serta membuat kecewa ayah juga keluarganya yang jauh-jauh datang untuk melihatnya diwisuda.
Dengan berpegangan di dinding, Nisa berusaha keluar dari kamar mandinya. Susah payah Nisa meraih pinggiran tempat tidurnya dan terduduk di lantai dengan kepala tersandar diatas kasurnya.
"Tuhan, tolong kuatkan hamba melawan rasa sakit ini. Hamba tidak ingin membuat khawatir ayah. Hamba mohon hilangkan rasa sakit ini setidaknya sampai hamba selesai wisuda," batin Nisa sambil menangis tanpa suara memandangi baju wisudanya.
Sesekali Nisa mengerang lirih kesakitan saat sakit di kepala dan matanya menguat sampai kemudian lagi-lagi kepala Nisa seperti terkena hantaman palu membuat gadis itu kehilangan kesadarannya.
Waktu menunjukkan pukul 04.00 ketika terdengar suara Ana memanggil nama Nisa sambil mengetuk pintu kamar gadis itu.
Nisa perlahan terbangun dari pingsan dan tidur panjangnya, masih dalam posisi terduduk di lantai di pinggiran kasurnya.
Dengan lunglai, Nisa membukakan pintu kamarnya buat Ana.
"Na, apa tukang riasnya udah datang?" tanya Nisa berusaha tersenyum lebar ke Ana yang terlihat beberapa kali menguap di hadapannya itu.
"Belum, Nis... aku cuma memastikan kamu sudah bangun dan bersiap-siap sebelum dirias aja".
Ana pun kembali ke kamarnya dan bergegas mandi serta bersiap-siap sementara Nisa masih terduduk di meja belajarnya, memakan roti dan coklat untuk membuat tubuhnya kembali bertenaga. Tak lupa ia kembali meminum obatnya.
"Bismillah, Nisa. Kamu pasti kuat insyaa Allah. Kamu akan baik-baik aja," ucap Nisa lirih kemudian bergegas bersiap-siap.
Selepas sholat Subuh, Nisa pun sudah memakai baju kebayanya dan siap menunggu gilirannya dirias setelah Ana. Ana terlihat cantik dan makin segar dengan make up naturalnya dipadu kebaya hijaunya. Kemudian tiba saatnya Nisa untuk dirias, gadis itu pun menyiapkan jilbab soft pink-nya yang akan dipadukan dengan kebaya pinknya.
"Mbak Nisa kok kelihatan pucat? Apa Mbaknya sakit?" tanya perias itu membuat Ana menyadari ada yang tidak biasa dengan Nisa.
"Iya, Nis... aku baru nyadar kamu kelihatan pucat. Apa mata kamu sakit lagi?"
Nisa menggelengkan kepalanya sambil melebarkan senyumannya. Sakit di mata dan kepalanya masih terasa, tapi Nisa bertekad untuk berjuang keras melawan rasa sakitnya itu.
"Aku baik-baik aja, kok Mbak... Na... cuma semalam agak susah tidur aja he he".
"Tapi kening Mbak Nisa panas banget lho Mbak".
Ana langsung menghampiri Nisa dan menempelkan tangannya ke kening Nisa.
"Iya, Nis... panas banget...kamu demam ya?"
Nisa lagi-lagi tersenyum dan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.
Waktu menunjukkan pukul 05.45 ketika gadis itu sudah selesai dirias dan menjelma menjadi perempuan yang sangat cantik dan anggun.
"Wah kalau Riza melihat kamu seperti ini, dia pasti makin bersemangat buat ngelamar kamu jadi istrinya, Nis".
Nisa tergelak mendengarnya, wajahnya sedikit merona merah mendengar ucapan spontan Ana itu.
"Cie... yang tersipu malu...," goda Ana lagi membuat Nisa makin tertawa.
"Kita foto berdua dulu yuk Nis, mumpung masih fresh riasannya".
Nisa dan Ana pun berfoto berdua beberapa kali menggunakan handphone Ana.
Ana hendak bangkit dari duduknya dan kembali ke kamarnya ketika Nisa menahannya. Beberapa saat Nisa terlihat ragu untuk bicara.
"Na, aku mau minta tolong ke kamu sebagai Tim Riza sekaligus Tim Nisa ya".
"Minta tolong apa, Nis?" tanya Ana tersenyum sekaligus penasaran.
"Kalau hari ini... ternyata... aku ga bisa ikut wisuda, tolong jangan beritahu Riza kalau aku sakit setidaknya sampai prosesi wisuda selesai ya".
Ana tertegun mendengarnya, raut wajahnya berubah khawatir, "Jadi beneran mata kamu sakit lagi, Nis?"
Nisa tersenyum, "Sejauh ini, aku baik-baik aja kok, Na meski mata dan kepala aku terasa sakit. Hanya saja tiba-tiba aku merasa takut kalau kemungkinan terburuk itu terjadi tanpa diduga-duga. Tapi aku berharap dan berdoa semoga hal terburuk itu ga akan terjadi sekarang. Aku optimis sakit di kepala dan mata aku akan hilang perlahan, terlebih aku sudah meminum obat dari dokter... dan semuanya akan baik-baik aja".
Ana menyanggupi permintaan Nisa itu kemudian tersenyum dan menyemangati Nisa.
Waktu menunjukkan pukul 06.00 ketika Kakak Nisa bersama keponakan kecilnya sudah berdiri di pintu kamar Nisa yang terbuka itu.
"Wah, lihat Tante Nisa kelihatan cantik ya, Sayang, " ucap Kakak Nisa dengan raut ceria. Nisa pun tersipu dan tertawa mendengarnya sambil mencium gemas pipi keponakannya itu. Nisa pun bergegas mengambil tas tangannya, tas kertas berisi toganya, dan tak lupa sketsa tamannya. Sakit di kepala dan matanya tiba-tiba kembali terasa menguat membuat Nisa berusaha lebih keras melawan sakitnya.
Nisa baru saja keluar dari pintu rumah kosnya, berjalan beriringan dengan kakak dan keponakannya menghampiri ayah dan kakak iparnya yang menunggu di mobil untuk berangkat ke tempat wisuda, ketika Nisa tiba-tiba memegang erat lengan kiri kakaknya itu.
"Kenapa Nisa?"
"Mata dan kepala Nisa sakit banget, Kak," ucapnya lirih dengan ekspresi kesakitan. Tiba-tiba Nisa mengerang kesakitan dan langsung terkulai pingsan, membuat kakaknya yang menahan kepala Nisa dipangkuannya dengan tangan kirinya panik menepuk-nepuk pipi dan memanggil-manggil nama Nisa.
Ayah dan kakak ipar Nisa langsung bergegas keluar dari mobil, penjaga kos dan sebagian penghuni kosan Nisa itu pun ikut keluar dan panik termasuk Ana yang langsung berjongkok di dekat Nisa berusaha ikut menyadarkannya. Tanpa banyak membuang waktu, keluarga Nisa membawa Nisa ke rumah sakit ditemani penjaga kosan Nisa.
Waktu menunjukkan pukul 07.00 ketika mobil Riza dan orang tuanya tiba di parkiran tempat wisuda.
Penampilan Riza dan tuxedo barunya itu membuat beberapa pasang mata, entah itu wisudawan/wati, orang tua wisudawan/wati, atau bahkan keluarga wisudawan/wati tertuju padanya, laki-laki itu benar-benar terlihat tampan ditambah dengan raut bahagianya. Beberapa adik kelas bahkan terlihat berkasak kusuk melihat penampilan Riza pagi itu. Namun seperti biasa, Riza tidak terlalu peduli dengan penilaian orang padanya. Ia hanya penasaran bagaimana Nisa akan mengomentari penampilannya.
Riza mengantarkan papa dan mamanya menuju tempat duduk mereka sebelum kemudian dia bergabung dengan barisan wisudawan. Riza tak langsung menuju barisan fakultas ekonomi, melainkan singgah sejenak di barisan fakultas teknik mencari keberadaan Nisa. Entah kenapa perasaannya lagi-lagi tidak enak sejak dirinya masih di jalan tadi dan Riza teringat Nisa.
"Nisa, kamu dimana? Aku sedang di barisan fakultas teknik, nyari-nyari kamu tapi ga ketemu".
Tak ada balasan dari gadis itu bahkan dibaca pun tidak.
"Apa kamu masih di jalan dan sibuk dengan keluarga kamu, Nis?" batin Riza kemudian memutuskan kembali ke barisannya. Riza baru bergabung dengan rekan-rekannya di fakultas ekonomi ketika ia melihat Ana baru saja datang dan masuk ke barisan. Riza pun langsung mendekati gadis itu karena Riza sempat melihat foto profil Ana, foto Ana berdua dengan Nisa dengan busana kebaya mereka.
"Na, apa kamu lihat Nisa?" tanya Riza membuat Ana sedikit kaget menoleh ke laki-laki itu.
"Tadi aku cari Nisa di barisan fakultas teknik tapi nggak ketemu. Aku WA dia, terkirim tapi nggak dibaca," sambung Riza.
Ana teringat janjinya kepada Nisa, membuat mata gadis itu tiba-tiba berkaca-kaca mengingat yang terjadi pada Nisa.
"Na... kamu kenapa diam dan malah berkaca-kaca gitu?" tanya Riza dengan nada khawatir, hatinya tiba-tiba merasa resah dan tidak enak. Ana buru-buru tersenyum ke Riza, tak ingin membuat laki-laki itu curiga.
"Nisa... tadi Nisa jalan duluan sama keluarganya. Mungkin dia belum datang aja, Riz... masih di jalan. Tahu sendiri gimana macetnya jalanan seputar kampus kalau wisuda gini. Kalau soal pesan WA kamu yang ga dibaca...., mungkin aja Nisa ga megang HP-nya Riz... tahu sendiri ga ada saku di baju toga dan kebaya," jelas Ana berusaha berbicara senormal mungkin.
Riza balas tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Iya juga sih, mungkin Nisa masih di jalan ya. Setahu kamu sampai kalian foto berdua tadi, dia sehat-sehat aja kan, Na?"
Ana lagi-lagi tersenyum. Gadis itu bingung bagaimana harus menjawab Riza tanpa berbohong.
"Lah... menurut kamu kalau lihat foto aku sama Nisa tadi, Nisa baik-baik aja apa nggak?" jawab Ana mengembalikan pertanyaan Riza ke laki-laki itu.
Riza meringis dan tersenyum simpul. "Di foto itu kalian berdua cantik banget sih, Nisa juga tersenyum tulus seperti biasa".
Ana balas tersenyum lebar, tak menjawab apa-apa, tukang rias mereka memang berhasil menyamarkan wajah pucat Nisa saat itu. Setelah berterima kasih ke Ana, Riza pun bergegas bergabung dengan barisan rekan-rekan cowoknya.
Prosesi wisuda berjalan sakral seperti biasa, Riza menjalaninya dengan penuh suka cita dan rasa lega serta bangga. Ia membayangkan ekspresi bangga dan bahagia di raut kedua orang tuanya saat itu. Riza juga tak sabar ingin berfoto bersama Nisa dan keluarganya sekaligus berkenalan dengan ayah Nisa.
Acara wisuda baru saja selesai termasuk foto-foto bersama rekan sejurusannya ketika Riza hendak keluar barisan menjemput kedua orang tuanya dan membawa mereka ke pintu keluar A, ke tempat ia janjian bertemu dengan Nisa dan ayahnya. Riza pun kembali menulis pesan ke gadis itu. "Nis, aku mau jemput papa dan mama aku buat ketemu kamu dan ayah kamu di dekat pintu A. Kamu jangan kemana-mana ya :)".
Riza memandangi layar percakapannya dengan Nisa itu. Ia heran karena lagi-lagi pesan itu terkirim tapi tak juga dibaca Nisa. Bahkan pesan sebelumnya pun sama, belum juga dibaca gadis itu.
Riza baru berjalan beberapa langkah ketika Ana memanggilnya.
"Ada apa, Na?"
Ana terdiam, berusaha memilih kalimat yang pas untuk Riza. Wajah Ana terlihat serius kali ini.
"Riz.... , sebenernya Nisa ga jadi ikut wisuda hari ini, tadi sakit matanya kambuh dan dia jatuh pingsan di depan kosan ketika mau berangkat menuju tempat wisuda. Keluarga Nisa dan penjaga kos langsung membawa Nisa ke rumah sakit," jelas Ana hati-hati dan pelan-pelan berusaha menjelaskan ke Riza.
Laki-laki itu terlihat kaget dan tertegun mendengarnya. Bahkan bungkusan berwarna pink di tangannya itu sempat terlepas dari genggamannya.
"Maaf kalau aku baru memberitahu kamu sekarang, Riz. Sebelum pingsan, seolah udah merasa, Nisa sempat meminta aku berjanji untuk merahasiakan sakitnya dari kamu kalau sampai benar-benar terjadi ia akhirnya tidak bisa ikut wisuda, Riz. Setidaknya sampai kamu selesai menjalani prosesi wisuda katanya," sambung Ana kemudian terdiam sejenak, air mata gadis itu mengalir di sudut matanya mengingat obrolannya dengan Nisa pagi tadi.
Sementara itu, Riza masih tetap diam di hadapannya, ia berkali-kali men-scroll, melihati layar percakapannya dengan Nisa.
Mata laki-laki itu terlihat sedikit berkaca-kaca diantara rasa terkejutnya.
"Riza..." panggil Ana ketika laki-laki itu hanya diam mematung di depannya.
"Nisa... Nisa... Nisa dirawat dimana, Na? Apa dia sudah sadar? Gimana kondisi Nisa sekarang, Na?" Riza pun memberondong Ana dengan beberapa pertanyaan dengan suara lirihnya.
"Aku barusan telpon kakak Nisa, Kak Nina, katanya Nisa masih belum juga sadar dari pingsannya, Riz". Ana pun menyerahkan secarik kertas bertuliskan alamat kamar tempat Nisa dirawat ke Riza.
"Makasih, Na. Aku harus pergi menemui Nisa sekarang," ucap Riza lagi terdengar serak meski ia berusaha memaksa untuk tersenyum kepada Ana.
Waktu menunjukkan pukul 12.07 saat Riza tetap terdiam di dalam mobilnya ditengah perjalanannya menuju rumah sakit. Terlihat papa dan mamanya beberapa kali menatap prihatin kearah putra mereka itu. Wajah Riza terlihat sedih dan khawatir sejak dia memberitahu kondisi Nisa kepada keduanya.
Sejak naik mobil, tak sekalipun Riza bicara, ia hanya berkali-kali melihati handphone-nya dan mengusap bungkusan pink di pangkuannya.
"Ma, Nisa kira-kira Nisa bakal suka nggak dengan hadiah dari Riza ini?" tanyanya beberapa hari lalu ketika ia minta ditemani Mamanya pergi ke sebuah toko baju muslimah. Riza sengaja ingin membelikan baju buat dua perempuan istimewanya, mamanya dan juga Nisa, dengan menggunakan uang hasil jerih payahnya bekerja beberapa bulan terakhir.
"Bagus, Riz... Nisa pasti akan terlihat makin calm dan elegan memakainya. Mama yakin dia bakal langsung tersenyum senang saat melihatnya".
Riza pun tersenyum lebar sambil mengangguk-anggukan kepalanya setuju.
Riza menarik nafasnya dalam-dalam, ia buka foto profil Ana kemudian men-screenshot-nya. Terlihat disana Nisa tersenyum bahagia sebelum serangan glaukoma itu mengambil senyuman indah Nisa akan wisuda. Dan sekarang, glaukoma Nisa itu pun merenggut senyuman Riza, menunda semua rencana yang sudah dipersiapkan laki-laki itu untuk Nisa.
"Kamu terlihat sangat cantik hari ini, Nisa," ucap Riza di dalam hatinya sembari berkaca-kaca menatap foto gadis itu lama ketika Riza merasakan usapan lembut di kepalanya. Mamanya terlihat tersenyum lembut kepadanya di sampingnya.
"Nisa insyaa Allah akan baik-baik saja, Sayang," ucap Mama Riza tersenyum lembut berusaha menenangkan Riza.
Riza pun tersenyum lebih lebar menganggukkan kepalanya pelan. Perlahan, Riza menyandarkan kepalanya dibahu Mamanya, mencoba menemukan rasa nyaman diantara semua kegelisahannya saat itu. "Semua akan baik-baik saja, Nak," ujar Mamanya lagi mengecup puncak kepalanya lama. 

YOU ARE THE ONE: "Maukah Kamu Menikah Denganku?" - Part 7



PART 7 : PERMINTAAN RIZA

Begitu pun seminggu setelahnya dimana Riza dan Ana giliran menjalani sidang di hari yang sama, di waktu yang berurutan karena memang mereka dibimbing oleh dosen yang sama. Hari itu, Nisa sengaja meluangkan waktunya untuk mendatangi fakultas ekonomi dengan membawa dua batang coklat. Sebenarnya Nisa tidak terbiasa memberi coklat seperti itu, terlebih ke Riza, tapi dia ingin menghargai kebiasaan di lingkungan Riza dan Ana itu. Sebenarnya Nisa pun awalnya ragu untuk datang dan menunggui Riza sidang, ia merasa hal itu sedikit berlebihan sebagai perempuan apalagi dia beda fakultas dan sendirian. Namun, pesan dari Riza sehari sebelumnya berhasil membuat Nisa memutuskan datang. Bagaimana tidak, Riza memberinya dua pilihan dan permintaan setengah 'memaksa', yaitu "Nisa boleh tidak datang tapi artinya dia menerima lamaran Riza untuk menikah dengannya ATAU Nisa datang ke sidangnya". Ya, laki-laki itu semakin berani mendesak jawaban 'ya' dari Nisa, membuat Nisa semakin sulit melakukan penolakan karena kegigihannya. Untungnya, jadwal sidang Riza bertepatan setelah sidang Ana selesai sehingga Nisa merasa punya alasan yang lebih wajar untuk dirinya datang kesana. Meski demikian, sebait doa untuk kesuksesan dan kelancaran urusan Riza tak pernah Nisa lupa untuk ia selipkan diantara doa-doa rutinnya. Terlepas dari jawaban 'tidak'nya, perasaan gadis itu masih sama untuk Riza.
Pagi itu, Nisa sengaja berangkat bersama Ana dari tempat kos mereka menuju tempat sidang Ana. Nisa ingin menemani Ana dan memberikan dukungan moral untuk teman satu kosannya itu. Waktu menunjukkan pukul 08.25 saat Ana memasuki ruang sidang skripsinya, hanya ada dua orang teman dekat Ana yang ikut menunggui di depan ruang sidang selain Nisa. Laki-laki luar biasanya itu belum datang, ya mungkin karena memang jadwal sidang Riza masih cukup lama, jam 10.30. Nisa membaca lagi layar chat-nya dengan Riza pagi itu selepas subuh sambil mengisi waktunya.
"Assalaamualaikum, Riza... sudah bangun? Akhirnya hari sidang skripsi kamu datang juga. Semangat ya. Bismillaah pasti bisa.. Fighting aka berjuang Riza! :)".
"Waalaikumsalam warrahmatullaahi wabarakaatuh. Alhamdulillah sudah bangun dan sedang latihan presentasi di depan cermin he he. Makasih banyak ya, Nisa... iya harus semangat! Bismillaah. Deg deg-an juga ngebayangin penguji, soalnya terkenal killer sih he he. Tolong tetap bantu doain aku, ya calon teman hidupku... :D"
"Hmmm calon teman hidup? :P :P :P. Iya, aku bantu doa semoga sidang kamu lancar dan dimudahkan insyaa Allah. Semoga penguji 'killer'-nya juga dilunakkan hatinya untuk tidak membantai kamu di sidang he he. Kalau deg-deg an, perbanyak dzikkir dan shalawat aja, Riz biar hati kamu jadi tenang (jangan malah mikirin aku... ntar malah galau lagi he he he :P). Aku percaya kamu sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik untuk hari ini, Riza. Insyaa Allah hasil tidak akan menghianati usaha yang sungguh-sungguh. Good luck :)" .
":D :D :D. Iya, makasih. Semangaaaaat! Aku tunggu kedatangan kamu di ruang sidang ya, Nis. Hari ini kurang lengkap tanpa kehadiranmu he he :D".
Nisa tertawa sendiri membaca kalimat Riza itu. Ada kalanya Nisa merasa Riza kadang berlebihan menggodanya. Terlebih beberapa hari terakhir ini, laki-laki itu seolah makin berusaha bahkan dengan cara yang makin terang-terangan mendapatkan jawaban 'ya' darinya, benar-benar laki-laki yang luar biasa. Kalimat "Maukah kamu menikah denganku?" Riza yang hampir seribu kali disampaikan ke Nisa entah kenapa makin lama makin membuat perasaan gadis itu bimbang untuk tetap pada jawaban 'tidak'-nya. Tak banyak laki-laki segigih dan sekeras usaha seperti itu, apalagi yang seperti Riza... laki-laki yang sepertinya banyak jadi incaran kaum hawa dengan kelebihannya terutama kelebihan fisiknya.
"Andai aku bisa menjawab 'iya', Riz... tapi bukannya itu artinya aku egois, hanya memikirkan kebahagiaan aku sendiri dan bukan kebahagiaan untuk Riza? Ya, Riza berhak mendapatkan yang lebih baik," ucap Nisa dalam hatinya. Lamunan Nisa berakhir ketika terdengar suara yang agak rame memecah keheningan di ruangan tersebut. Nisa melirik ke arlojinya, pukul 09.03. Beberapa mahasiswa cewek terlihat membawa selempang, balon, coklat, dan bunga. Tak berapa lama kemudian, terlihat Tia juga datang bersama seorang temannya dan duduk tak jauh dari Nisa.
"Apa mereka mau mengucapkan selamat buat Ana ya?" pikir Nisa sambil melihati pintu ruangan sidang skripsi Ana. Nisa pun kembali asyik mengisi waktunya dengan aktivitas browsing sambil melihati model-model baju dan jilbab di online-shop lewat handphone-nya.
"Kamu datang kemari buat Riza juga ya, Nis?"
Suara Tia itu menghentikan aktivitas Nisa, gadis itu sudah berdiri di hadapannya.
"Eh... Tia... aku... menunggui Ana yang sekarang lagi sidang, dia teman satu kosku. Berhubung Ana dan Riza sidangnya berurutan, jadinya sekalian deh he he," jawab Nisa, "Kamu datang kemari buat Riza?"
Tia tersenyum lebar sambil menganggukkan kepalanya.
"Menurut kamu, Riza bakal suka nggak?" tanya Tia sambil menyodorkan sebuah cake black forest lengkap dengan tempatnya kepada Nisa. "Selamat LuLus Sidang, Riza" tertulis diatasnya, membuat Nisa terdiam sejenak, hatinya terusik melihat perhatian Tia kepada Riza. Tia...., perempuan itu sepertinya benar-benar menyukai Riza dan serius memperjuangkan perasaannya. Sebaliknya dirinya malah dengan tega berkali-kali menolak lamaran Riza, laki-laki luar biasanya itu. "Maafin aku, Riz".
Nisa pun melebarkan senyumannya dan menganggukkan kepalanya. "Elegant dan so sweet banget cake-nya, Tia. Riza insyaa Allah bakal suka," ucap Nisa dengan ceria, terlihat senyuman Tia makin mengembang mendengarnya. Nisa baru saja hendak menanyakan kapan gadis cantik itu sidang ketika Tia sudah kembali ke tempat duduknya semula.
Nisa membuka tas ranselnya, memegang coklat yang dibelinya buat Riza dan Ana, menyadari coklat itu tak ada apa-apanya dibandingkan black forest milik Tia tadi.
Nisa pun tersenyum minder untuk sesaat. "Yang terpenting niat memberinya, Nisa," ucap gadis itu di dalam hati, berusaha menyemangati dirinya sendiri sambil melebarkan senyumannya.
Beberapa saat Nisa larut membunuh waktunya dengan main game di handphone-nya ketika terdengar suara Riza. Terlihat cewek-cewek yang berdatangan beberapa saat sebelumnya itu bergantian mendekati laki-laki itu memberi semangat untuknya termasuk Tia.
"Ah Riza, ternyata benar kata Ana, kamu tuh termasuk cowok populer disini ya. Sidang aja udah banyak suporter ceweknya," batin Nisa menarik nafas panjang sambil melirik kearah Riza dan cewek-cewek di dekatnya itu. Riza terlihat sedikit tegang tapi tetap cool dan elegan dengan celana hitam dan atasan hem putih panjangnya. Hanya satu yang sedikit mengganggu penampilan nyaris sempurna laki-laki itu, kantung matanya agak terlihat, pasti karena efek begadang. Lagi-lagi Nisa tersenyum sendiri mengamati laki-laki luar biasanya itu dalam diam dari kejauhan, "Semangat, Riza".
Waktu menunjukkan pukul 10.08 ketika pintu ruang sidang skripsi terbuka dan Ana keluar dari sana. Dua orang teman Ana yang menemani sejak Ana masuk ruang sidang terlihat menghampiri Ana disusul Nisa, sementara cewek-cewek lain yang datang belakangan terlihat tetap tenang di tempatnya. Ternyata mereka memang datang bukan buat Ana, tapi untuk Riza. Nisa memeluk Ana, mengucapkan selamat dan menyerahkan sebatang coklat untuk teman satu kos-nya itu. Sejenak Nisa ikut larut merasakan kelegaan Ana.
"Selamat ya, Na... ," terdengar suara Riza menghampiri Ana dan Nisa sambil mengulurkan tangannya kepada Ana, "sekarang tegangnya pindah ke aku".
Nisa menoleh kearah laki-laki yang sudah berdiri di sebelahnya itu, laki-laki itu melihat kearahnya dengan raut tegangnya.
"Bismillah, Riza... insyaa Allah kamu bisa. Stay relax and calm but keep focus (ind: tetap santai dan tenang, tapi fokus)," ucap Nisa lirih hampir seperti bahasa isyarat dengan senyumnya yang lebar. Riza ikut tersenyum sambil menganggukkan kepalanya pelan.
"Iya, tolong terus temani aku lewat doa ya, Nis dan jangan kemana-mana selama aku di dalam. Aku ingin melihat kamu menyambut aku dengan senyuman nanti sekeluarnya aku dari ruang sidang," sambung Riza lagi-lagi berhasil membuat Nisa tersipu. Perlakuan laki-laki itu entah kenapa membuatnya merasa istimewa.
"Ehm ehm...," suara lirih deheman Ana yang tiba-tiba itu pun langsung membuat Nisa dan Riza menoleh kearah Ana.
"Aku berasa jadi obat nyamuk disini," ucap Ana lagi sambil senyum-senyum setengah menggoda Nisa dan Riza. Nisa pun tertawa kecil menundukkan kepalanya, berusaha menutupi rasa malunya, sementara Riza terlihat kembali ke senyum cool-nya.
"Eemmmm ya udah, aku pergi dulu, Na ... Nis... . Wish me luck ya," pamit laki-laki itu seolah tidak terjadi apa-apa, kembali fokus pada ketegangannya menjelang sidang. Terdengar suara Tia menyemangati Riza, laki-laki itu berusaha menghargainya dengan melempar senyum tipisnya ke arah Tia dan para 'suporter' ceweknya berada. Kemudian Riza terlihat kembali, lagi-lagi memandangi Nisa seolah gadis itu punya medan magnit yang menenangkan untuk Riza. Kali ini Riza dengan kombinasi raut dag dig dug-nya dan senyuman serta tatapan lembutnya untuk gadis itu dibalas Nisa dengan senyuman tulusnya, menemani langkah kaki laki-laki itu menuju ruang sidang skripsinya.
Waktu menunjukkan pukul 10.30 ketika hening kembali menyapa ruang tunggu sidang. Nisa terlihat khusyuk menunaikan janjinya menemani Riza yang berjuang di ruang sidang lewat doa-doanya sambil sesekali Nisa mengobrol ringan dengan Ana yang duduk di sampingnya dan asyik menghabiskan coklat pemberiannya. Beberapa kali terlihat Tia mondar-mandir mengintip Riza dari kaca pintu masuk ruang sidang, berhasil menyisakan cemburu di hati Nisa karena perhatian gadis itu ke Riza.
"Nisa, sebenarnya ada hubungan apa diantara kamu dan Riza?" tanya Tia tiba-tiba sudah berdiri di hadapan Nisa, memandang serius kearahnya.
"Seperti yang aku pernah bilang, kami temenan, Tia," jawab Nisa sembari tersenyum.
"Yakin cuma teman?"
Nisa lagi-lagi mengangguk.
"Tapi aku merasa cara Riza menatap kamu nggak biasa, Nisa... bahkan lebih dalam dari tatapan Riza ke aku dulu waktu aku masih pacaran sama dia, Nis," lanjut Tia lagi, gadis itu masih menatap tajam kearah Nisa.
Nisa terdiam mendengarnya, hanya tersenyum. Entah kenapa pertanyaan Tia itu mengena di hati Nisa. Tia benar, Riza yang berkali-kali melamarnya tak mungkin menganggap Nisa biasa.
"Apa kalian pacaran, Nis?"
Nisa menggelengkan kepalanya.
"Apa kalian HTS-an atau TTM-an?" sambung Tia lagi-lagi dijawab gelengan kepala Nisa. Tia terlihat tidak puas dengan jawaban Nisa.
"Apa kamu menyukai Riza, Nis?" Kali ini pertanyaan Tia berhasil membuat Nisa terdiam, gadis itu tak menggelengkan maupun menganggukkan kepalanya. Nisa terlihat bingung menjawab apa. Ia tak ingin berbohong, tapi ia pun ragu untuk jujur. Nisa tak ingin mengusik perasaan Tia dengan jawaban jujurnya. Namun Nisa lebih tak ingin lagi menyakiti Riza dengan jawaban bohongnya.
"Kenapa kamu diam, Nis? Oooo jadi benar kamu menyukai Riza...," ucap Tia dengan nada meninggi, sementara Nisa hanya diam menatap ragu gadis itu. Terlihat beberapa pasang mata menatap ke keduanya, mata beberapa 'suporter' perempuan Riza dan juga mata Ana yang duduk di sebelah Nisa
"Perasaan kamu ke Riza bukan urusanku, Nis...tapi kamu harus ingat satu hal. Aku mencintai Riza dan sangat menginginkan Riza. Aku ga akan menyerah berjuang mendapatkan hati Riza lagi, Nis... seperti yang pernah kamu bilang di perpus dulu. Kamu ingat itu". Tia pun melangkah menjauhi Nisa.
Sementara itu, Nisa kembali fokus melihati handphone-nya berusaha mengalihkan perasaan tidak nyaman yang dirasakannya.
"Sekarang bukan saatnya terlalu mempersoalkan tentang rasa, Nisa. Riza sedang memerlukan orang-orang yang menemaninya lewat doa demi doa untuk kebaikannya," batin Nisa. Selama lima menit kemudian Nisa kembali larut dalam heningnya.
"Nisa..., aku dengar Riza pernah meminta kamu untuk menikah dengannya ya?" Pertanyaan Ana terdengar setengah berbisik itu membuat Nisa menoleh ke Ana dengan raut agak terkejut. "Dengar dari siapa, Na?"
"Dari Riza," jawab Ana tetap memelankan suaranya, "tapi kata Riza kamunya belum mau".
"Riza cerita soal itu ke kamu, Na?" tanya Nisa lagi dengan raut tertegunnya.
Ana tersenyum lebar menepuk lembut bahu Nisa, "Sebenarnya kebetulan akhirnya aku jadi tahu, Nis. Gara-garanya dosen pembimbing kami tiba-tiba menanyai setiap anak bimbingnya tentang rencana menikah selepas wisuda nanti, mulai dari aku satu-satunya anak bimbingan perempuan apa sudah ada yang meminang, sampai kemudian ke anak bimbingan laki-laki termasuk Riza, sudah ada keberanian dan kesiapan belum buat meminang seseorang. Jadilah aku tahu sekilas tentang cerita kalian. Ditambah lagi sepulang dari bimbingan hari itu, Riza menghampiri aku dan minta tolong buat bantuin dia menyakinkan kamu agar mau menikah dengannya".
Nisa balas tersenyum menoleh kearah Ana. "Sebenarnya..., Riza sudah ratusan kali meminta aku menikah dengan dia, Na. Dan sebanyak itu pula aku memberikan jawaban tidak ke Riza". Kalimat Nisa yang pelan itu berhasil membuat raut Ana berubah, ada rasa terkejut disana, seolah tak menyangka kegigihan teman satu bimbingannya yang sedang berada di dalam ruang sidang itu.
"Kenapa kamu tidak mau menerima Riza, Nis? Bukannya kalian saling menyukai satu sama lain? Apa ada sesuatu tentang Riza yang membuat hati kamu tidak bisa menjawab iya?"
Nisa tetap diam, lagi-lagi hanya tersenyum.
"Apa kamu ragu tentang perasaan Riza? Apa ini kaitannya dengan mantan Riza?"
Nisa menggelengkan kepalanya pelan.
"Ini bukan tentang Riza, Na..., tapi tentang aku... . Aku ingin melihat Riza merasakan banyak kebahagiaan sepanjang hidupnya, tapi aku takut tidak bisa menghadirkannya buat Riza," jelas Nisa membuat Ana justru terlihat semakin bertanya-tanya dalam diamnya.
"Sejak aku pernah pingsan di kosan beberapa bulan lalu, waktu kamu kebetulan mau ngajakin aku jalan saat itu, ketika di rumah sakit dokter memberitahu aku kalau aku menderita glaukoma sudut tertutup yang berisiko menyebabkan kebutaan permanen, Na. Sejak saat itu, aku mengubah harapan aku tentang apa yang kurasakan ke Riza bahkan sejak awal dia menyatakan perasaannya ke aku beberapa minggu setelahnya dan Riza tahu alasan aku menolaknya dari awal. Riza berhak mendapatkan teman hidup yang jauh lebih baik, Na".
"Tapi Nis..., seingat aku dokter waktu itu bilang kalau sakit kamu mungkin disembuhkan lewat operasi mata...," ucapan Ana terhenti ketika Nisa melebarkan senyumannya dengan raut mukanya yang sendu.
"Itu letak masalahnya, Na. Sampai saat ini, aku belum bisa mengalahkan trauma aku tentang operasi, saat ibu dan calon adik aku meninggalkan kami sekeluarga. Aku memilih rutin berobat jalan saja dengan resiko kebutaan itu bisa saja terjadi kapan saja. Dan itu artinya juga aku tidak bisa menjawab iya ke Riza".
Ana mengusap-usap lembut punggung Nisa, seolah ingin menyemangati temannya itu.
"Aku paham apa yang kamu rasakan, Nis. Tapi... kalau Riza sudah tahu dari awal tentang itu dan dia tetap gigih memperjuangkan jawaban 'iya' dari kamu, itu artinya dia sudah benar-benar yakin untuk menikahi kamu, Nis... apapun yang akan kalian lewati bersama nantinya. Ada baiknya kamu pikirin lagi ya..., ga banyak laki-laki yang memperjuangkan jawaban 'iya' segigih Riza, Nisa".
Nisa pun kembali melebarkan senyumannya ke teman sekosannya itu kemudian keduanya asyik dengan aktivitas masing-masing, Ana terlihat asyik mem-browsing model-model baju kebaya untuk wisuda sementara Nisa meneruskan doa-doanya untuk laki-laki luar biasanya itu sambil sesekali mengomentari model-model baju yang diperlihatkan Ana kepadanya. Meski perbaikan skripsi masih menjadi syarat sebelum mereka bisa wisuda, memikirkan tentang detail saat wisuda salah satunya baju kebaya merupakan hal yang menyenangkan dan menambah semangat mereka untuk sampai di garis finish kuliah.
Menit demi menit pun terus berjalan ketika Riza terlihat keluar dari ruang sidang dengan raut lega bercampur lelah. Laki-laki itu sepertinya baru saja 'bertempur' habis-habisan di dalam sana. Meski begitu, senyuman kelegaan terlukis di wajah Riza yang menatap kearah Nisa. "Alhamdulillaah, Riz," batin Nisa belum beranjak dari tempat duduknya, hanya senyuman lebar dan tatapannya yang tertuju pada Riza.
Tia dan para suporter cewek Riza terlihat menyerbu Riza dengan rangkaian 'perayaan' habis sidang ala mereka. Riza terlihat menerima semua perlakuan mereka dengan sikap berusaha menghargai mereka.
"Kamu ga mau menghampiri dan memberi selamat ke Riza, Nis?" tanya Ana membuat Nisa menggelengkan kepalanya pelan.
"Nanti aja, Na, gantian sama mereka. Mereka kelihatan bersemangat banget soalnya".
"Tia kelihatan perhatian banget ke Riza ya, Nis. Kamu ga cemburu ngelihatnya? Kamu ga takut Tia berhasil membuat Riza suka lagi ke dia?"
Nisa terdiam sejenak, lagi-lagi tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Jujur aku cemburu, Na meski aku tahu aku ga berhak. Tapi aku juga belum bisa menjawab 'iya' ke Riza, jadi aku berusaha nggak boleh baper saat Riza didekati perempuan lain, termasuk Tia. Di sisi lain, ga tau kenapa hati aku memercayai Riza dengan semua kegigihannya selama ini mengajakku nikah".
"Aku sependapat dengan kamu, Nis. Lagian meski kamu bukan orang pertama yang menyambutnya, tapi aku bisa lihat kamu orang yang pertama kali dicarinya saat dia keluar dari ruang sidang. Pandangan Riza langsung tertuju ke bangku kamu tadi, Nis".
Nisa tersenyum kearah Ana, "Kamu terdengar seperti sedang membantu Riza meyakinkan aku buat menjawab 'iya' ke Riza, Na".
"Memang iya," jawab Ana sambil meringis, "soalnya aku ngerasa Riza ga main-main dengan keinginannya itu dan ga bakal mundur kecuali kamu menikah sama orang lain, Nis. Perasaan dia ke kamu benar-benar tulus sepertinya, Nis".
Nisa tersenyum mendengarnya. Tanpa Ana mengatakannya, Nisa mengetahui hal itu. Namun perkataan Ana itu berhasil semakin membuat hatinya bimbang untuk tetap bertahan dengan jawaban 'tidak'-nya. Nisa menatap kearah Riza yang dikelilingi beberapa perempuan. Terlihat Tia hendak menyuapkan potongan kue ke mulut Riza, membuat Nisa lagi-lagi berusaha menahan perasaannya yang mulai mengajukan protes melihatnya, tapi Riza langsung menolak keinginan Tia itu dan mengambil potongan kue dari tangan Tia baru menyuapkan kue itu ke mulutnya dengan tangannya sendiri. Sempat dua kali, Nisa melihat saat Riza sesekali memandang kearahnya.
"Riza, habis ini kita makan siang bareng yuk," terdengar Tia mengajak laki-laki luar biasanya itu.
"Maaf, Tia... aku ga bisa. Habis ini aku ada acara dengan Nisa. Makasih banyak buat kue dan support-nya. Aku pergi dulu ya".
Terdengar suara Riza juga mengucapkan terima kasih dan berpamitan ke cewek yang lainnya kemudian berjalan menuju tempat Nisa duduk. Nisa dan Ana pun langsung berdiri menyambut pejuang skripsi yang baru selesai sidang itu dengan memasang senyum lebar mereka.
"Selamat lulus sidang, Riza," ucap Nisa dengan ceria sambil menyerahkan sebatang coklat buat Riza diikuti Ana yang juga mengucapkan selamat. Terdengar ucapan terima kasih dari mulut laki-laki itu ke Nisa dan Ana dengan senyuman yang tak kalah lebar. Setelah Riza memasukkan coklat dan jasnya kedalam tas, ketiganya pun jalan bareng menuju taman di fakultas ekonomi tersebut sebelum akhirnya Ana memisahkan diri.
"Ya udah aku sepertinya pamit dulu, Nis Riz... aku ga mau jadi obat nyamuk kalian lebih lama lagi, Sepertinya kalian perlu waktu buat ngobrol berdua aja tentang masa depan. Aku pergi dulu ya," pamit Ana tertawa kecil ke Nisa dan Riza kemudian mengerdipkan mata ke Nisa. Nisa dan Riza hanya balas tersenyum sambil saling berpandangan sejenak. Setelah Nisa cipika cipiki dengan Ana, Nisa dan Riza pun bergegas mencari bangku kosong di tempat terbuka itu untuk melanjutkan obrolan mereka.
"Gimana perasaan kamu sekarang Riz?"
"Capek, berasa kehabisan tenaga tapi lega, Nis. Seperti baru selesai berjuang habis-habisan aja he he". Riza beberapa kali menarik nafasnya dalam-dalam.
Nisa menganggukkan kepalanya, setuju dengan kalimat Riza itu. "Sedikit lagi menuju garis finish kuliah S1, Riz," sambung Nisa tersenyum lebar menyemangati laki-laki itu.
"Gimana tadi di dalam ruang sidang? Apa kamu merasa puas dengan pencapaian kamu hari ini, Riz?"
"Not bad. Setidaknya aku sudah memperjuangkan dan mempertahankan skripsi aku sebaik mungkin, Nis. Ada beberapa Pe Er perbaikan tapi dosen pengujinya tidak semenakutkan yang aku kira ha ha".
Nisa ikut tertawa menemani tawa Riza.
Riza tiba-tiba menoleh kearahnya. "Aku percaya ada banyak doa yang membantu aku melewati sidang tadi dengan baik, salah satunya doa kamu, Nis...," ucap Riza sambil melebarkan senyuman manisnya, membuat Nisa pun tersipu di tempatnya, "makasih banyak untuk semua doa, semangat, dan dukungan kamu buat aku ya, Nis".
Perempuan itu hanya bisa balas tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan.
"Hmmm sekarang waktunya kita makan coklat dari kamu," sambung Riza tetap dengan senyum lebarnya sambil mengeluarkan coklat pemberian Nisa dari tas ranselnya.
"Emangnya perut kamu belum kekenyangan coklat, Riza? Bukannya kamu habis makan kue black forest lezat dari Tia?"
Riza menatap Nisa kemudian makin melebarkan senyumannya, "Sepertinya aku mencium aroma-aroma jealous nich. Jangan-jangan kamu cemburu sama Tia ya, Nis?"
Nisa menggigit bibirnya, tak bicara apa-apa. Laki-laki di sebelahnya terlihat bersemangat mencandai sekaligus mendapatkan pengakuan cemburu dari dirinya.
Laki-laki itu tetap saja senyum-senyum menatapnya membuat Nisa makin tak tenang dan risih di tempat duduknya.
"Apaan sih Riz ngelihatin aku seperti itu? Aku bicara sesuai kenyataan aja. Coklat black forest Tia tadi emang nyata-nyata lebih mahal dan spesial dibandingkan coklat pemberian dari aku yang biasa-biasa aja, Riza," jelas Nisa berusaha menarik bibirnya tersenyum seperti biasa, menyamarkan rasa kagoknya. Riza justru makin cekikikan meski tanpa suara mendengar jawaban Nisa itu, ekpresi Nisa terlihat lucu di matanya. Tingkah laku Riza itu membuat Nisa tak tahan menahan tawanya sambil mengalihkan pandangannya kearah pancuran air di depan mereka.
"Meski kamu nggak mau mengakuinya dengan jelas, setidaknya kamu juga tidak menyangkalnya seperti ketika awal-awal aku mengenalkan kamu dengan Tia di perpus dulu, Nis," batin Riza.
"Ga nyangka Tia ternyata masih inget soal kue black forest kesukaan aku. Tia kayaknya serius banget pingin kami balikan lagi seperti dulu," sambung Riza sengaja memancing Nisa, ingin melihat ekspresi gadis itu.
Nisa terlihat langsung menundukkan kepalanya sejenak kemudian buru-buru melebarkan senyumannya kembali. Perempuan itu terlihat berusaha keras untuk tidak menampakkan ketidaknyamanan yang dirasakan hatinya saat itu.
"Seperti yang kamu lihat... kamu sudah bisa menilai sendiri kan siapa perempuan yang lebih perhatian ke kamu dan lebih layak buat kamu ajak menikah, Riz? Bahkan dibandingkan Tia, aku ga ada apa-apanya, Riz," jawab Nisa sambil menatap laki-laki itu.
Riza balas menatap Nisa yang duduk berjarak setengah meter di sebelahnya itu. Riza tidak menyukai ekspresi Nisa saat itu, ada sedih di raut itu meski berusaha Nisa sembunyikan lewat senyumnya, membuat hati Riza ikut sedih dan malah merasa bersalah.
Riza membagi dua coklat pemberian Nisa di tangannya lalu memberikan satu bagiannya ke Nisa. "Black forest dari Tia tadi memang mahal dan enak banget, tapi tetap nggak akan bisa mengalahkan cokelat pemberian kamu, Nisa. Buat aku, bukan mahalnya pemberian yang terpenting, tapi siapa orang yang memberikannya. Cokelat ini justru spesial karena cokelat ini dari kamu, Nisa... seseorang yang punya arti istimewa di hati aku. Lebih dari sekedar rasa coklatnya, melainkan rasa senang dan bahagia yang hadir ketika aku memakannya. Lebih-lebih ketika aku bisa membagi coklatnya dan makan coklat ini bareng kamu, Nisa," ucap Riza menarik bibirnya tersenyum lebih lebar kearah gadis itu, membuat Nisa speechless sejenak hanya bisa membalas tersenyum lebih lebar sambil menerima coklat dari tangan Riza. Tanpa perlu aba-aba, Nisa dan Riza pun mulai menghabiskan coklat mereka. Tawa dan candaan demi candaan pun kembali pecah diantara mereka, mengalihkan ketegangan hati keduanya.
"Oh ya, sketsa taman kamu apa kabarnya, Nis? Kan kamu pernah bilang kalau kamu bakal memperlihatkannya ke aku saat wisuda," tanya Riza.
"Insyaa Allah hampir selesai Riz. Kamu akan jadi orang pertama yang akan melihat sketsa itu nanti saat kita wisuda, Oke!"
Riza terlihat antusias mengangguk-anggukkan kepalanya. Keduanya saling tertawa.
"By the way, Jadi apa jawaban kamu soal ajakan nikah aku, Nis? Kamu mau kan menikah denganku setelah kita wisuda?" tanya Riza kemudian. Makin hari laki-laki itu makin yakin bahwa Nisa akan nengubah jawabannya.
Nisa balas menatap Riza sejenak, hatinya makin bimbang untuk tetap memberi jawaban 'tidak' dengan semua usaha yang dilakukan Riza untuknya.
"Nisa?" tanya Riza lagi ketika Nisa masih tetap memilih diam.
"Selangkah lagi, tanggung jawab kuliah aku sudah selesai dan aku juga sudah berpenghasilan. Meski pekerjaan aku belum benar-benar mapan, tapi secara penghasilan aku siap menafkahi kamu, Nisa. Mau ya, Nis?"
Nisa masih tetap diam tak menjawab. Dia percaya kesungguhan dan ketulusan laki-laki itu, tapi dia justru tidak yakin dengan dirinya sendiri.
"Nisa?"
Nisa menarik nafasnya dalam-dalam. "Maaf Riza, jawaban aku masih sama. Aku tidak mau menikah dengan kamu," ucap Nisa akhirnya menoleh kearah Riza, "aku mohon kamu berhenti meminta aku menikah dengan kamu karena aku merasa makin bersalah tiap kali aku menjawab 'tidak' ke kamu, Riz. Jangan buang waktu kamu lagi, Riza.. lebih baik kamu fokus untuk masa depan kamu, karier dan mempersiapkan diri buat seseorang yang lebih pantas buat kamu perjuangkan nantinya. Dan kitaaa.. kita akan tetap berteman baik seterusnya, Riza".
Riza diam menatap sekaligus mendengarkan ucapan gadis itu, entah kenapa hatinya sangat-sangat kecewa saat itu. Riza sepertinya tidak siap menerima jawaban 'tidak' dari Nisa kali ini. Tidak seperti biasanya, Riza merasa benar-benar kelelahan memperjuangkan Nisa. Desahan nafas Riza terdengar berat. Laki-laki itu terlihat mematung memandangi coklat di tangannya yang masih tersisa setengahnya sementara Nisa memperhatikan laki-laki itu dengan rasa bersalah tampak jelas di wajahnya.
"Aku benar-benar minta maaf, Riz," sambung Nisa lagi.
Riza masih tetap diam, laki-laki itu memasukkan sisa coklatnya ke salah satu saku tas ranselnya.
"Aku mengerti. Hari ini aku benar-benar ngerasa capek banget, Nis. Sepertinya aku mau pulang aja," ucap Riza kemudian berdiri dari duduknya. Laki-laki itu lagi-lagi memandangi Nisa dengan tatapan agak dingin. "Meski kamu tidak mau menikah denganku, aku tetap ingin mengenalkan kamu ke orang tua aku saat wisuda dan aku harap kamu juga ga keberatan mengenalkan aku dengan keluarga kamu saat itu," sambung Riza membuat Nisa makin merasa bersalah melihat sikap Riza yang langsung berubah dingin itu. Nisa hanya menganggukkan kepalanya pelan.
"Maaf kalau aku sudah membuat kamu merasa bersalah tiap kali aku meminta kamu menikah dengan aku. Duluan ya, Nis," ucap Riza lalu beranjak pergi meninggalkan Nisa yang makin terdiam di tempat duduknya.
Riza bergegas berjalan menuju parkir hendak mengambil motornya, hari ini ia merasa benar-benar capek. Jawaban Nisa yang belum berubah kepadanya semakin memperparah mood-nya. Semakin Riza berusaha tidak terlalu memikirkannya, perbaikan skripsi justru unjuk gigi menghantui pikirannya. Beberapa kali laki-laki itu terlihat menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya kembali sekuat-kuatnya, berusaha mengusir kerisauan hatinya. Tiba-tiba Riza merasa pusing, pikirannya dipenuhi jawaban Nisa dan perbaikan skripsi yang datang dan pergi bergantian. Riza pun menghentikan langkahnya, memutuskan duduk di lantai di depan kelas tak jauh dari parkiran. Riza ingin menenangkan pikirannya dan mengusir pusing yang membuat pandangannya tiba-tiba terasa sedikit berkunang-kunang.
Suasana di sekitar laki-laki terlihat sepi, hanya ada beberapa orang terlihat berjalan menuju parkiran atau lalu lalang di depannya.
"Kenapa tiba-tiba ga bertenaga gini sih? Mana cuacanya panas banget pula," batin Riza sambil memijit-mijit kepalanya yang terasa sakit.
"Apa kamu sakit, Riz?"
Riza mendongakkan kepalanya, terlihat Ana sedang berdiri di hadapannya, mengamatinya.
Riza tersenyum tipis, "Aku baik-baik aja, Na ... cuma sedikit pusing aja,... makanya istirahat duduk sebentar disini sebelum pulang".
Raut laki-laki itu terlihat kusut, berbeda dengan saat dia baru keluar dari ruang sidang tadi.
"Nisa mana?"
Riza menggelengkan kepalanya ragu. "Nisa... mungkin dia sudah pulang, Na," jawab Riza kemudian mengalihkan pandangannya melihat kearah lain.
"Apa Nisa tahu kamu disini?"
Riza menoleh sejenak kearah Ana, menggelengkan kepalanya pelan lalu kembali diam.
"Ya udah, duluan ya Riz," ucap Ana akhirnya dijawab anggukan pelan Riza. Ana merasa teman sebimbingannya ini sedang ada masalah dan entah kenapa Ana justru teringat Nisa. Setelah berjalan beberapa langkah menjauhi Riza, Ana pun bergegas menelepon Nisa.
"Kamu dimana, Nis?"
"Aku masih duduk di taman dekat pancuran air, Na. Kenapa, Na?"
"Aku barusan ketemu Riza. Dia kelihatan kusut banget duduk sendirian di lantai depan kelas dekat parkiran. Apa ada masalah diantara kalian, Nis? Dia bilang kepalanya agak pusing padahal perasaan tadi dia kelihatan baik-baik aja, Nis".
Sesaat tak ada sahutan dari Nisa, hanya terdengar nafas gadis itu.
"Riza dimana, Na?"
"Kalau dari tempat kamu, kamu jalan ke arah depan terus belok kanan lewatin kelas-kelas sampai mentog tempat parkiran sepeda motor, Nis. Riza duduk sendirian di dekat situ".
Setelah mengucapkan terima kasih ke Ana, tanpa buang-buang waktu, Nisa pun bergegas mencari Riza.
"Riza...," panggil Nisa setelah ia akhirnya menemukan laki-laki itu yang terlihat sedang duduk sendirian menyandarkan kepalanya di dinding kelas sambil memejamkan matanya. Wajah laki-laki itu terlihat lelah. Suara gadis itu langsung membuat Riza membuka matanya, menatap kearah Nisa yang berdiri pas di depannya.
"Nisa...," jawab Riza lirih, dengan raut wajah setengah tertegun.
"Maaf sudah bikin kamu bertambah lelah, Riz".
"Kamu nggak salah apa-apa, Nis. Akunya aja yang terlalu baper, terbawa perasaan. Mungkin efek habis sidang yang menguras energi kali ya," jawab Riza lalu lagi-lagi diam menatap kearah lain. Nisa memperhatikan laki-laki itu dengan seksama. Nisa tahu laki-laki itu kecewa gara-gara jawabannya tadi.
"Kita makan siang bareng di kantin yuk, Riz," ajak Nisa membuat Riza kembali menatap ke perempuan itu.
"Kamu perlu makan buat mengisi penuh energi kamu lagi setelah berjuang habis-habisan di sidang, Riz. Apalagi ditambah perkataan aku tadi yang bikin kamu jadi bad mood, Riz". Nisa terlihat tersenyum kepadanya meski ada penyesalan tergambar di wajah gadis itu.
Riza pun menganggukkan kepalanya pelan. Meski perasaannya masih tidak nyaman, ia tidak menolak ajakan Nisa itu. Riza tahu Nisa peduli padanya.
Kantin fakultas ekonomi tidak terlalu rame saat Nisa memilihkan tempat duduk buat mereka berdua. Riza nyaris tak bicara, laki-laki itu langsung mengambil tempat duduk berhadapan dengan Nisa.
"Kamu mau makan apa, Riz?" tanya Nisa tersenyum lembut kepadanya.
"Terserah kamu aja, Nis," jawab Riza tersenyum tipis tak punya bayangan apa yang ingin dimakannya.
"Aku mau makan nasi goreng, apa kamu mau nasi goreng juga?" tanya Nisa lagi dibalas anggukan pelan Riza. Nisa pun bergegas memesan makan siang mereka lalu kembali ke tempat duduk mereka dengan membawakan air mineral dan segelas kopi buat Riza.
Hening lagi-lagi menyapa diantara Nisa dan Riza, Riza terlihat mengetuk-ngetuk meja setengah melamun sementara Nisa terlihat memerhatikan gerak-gerik laki-laki yang duduk persis di depannya itu.
"Kata Ana kamu sedikit pusing, apa sekarang masih, Riz?" tanya Nisa membuat Riza menghentikan gerakan isengnya dan menoleh ke Nisa, "Sekali lagi aku minta maaf sudah merusak mood kamu gara-gara jawaban aku di taman tadi, Riz".
"Aku baik-baik aja. Seperti yang tadi aku bilang, aku terlalu baper aja sepertinya hari ini, Nis. Padahal selama ini sudah ratusan kali aku meminta kamu menikah denganku, sebanyak itu juga kamu menjawab 'tidak' dan itu sama sekali tidak membuat aku ingin menyerah, Nisa," jelas Riza tersenyum kearah Nisa, "mungkin aku cuma lagi benar-benar kehabisan tenaga selepas sidang tadi,... jadi mungkin kebawa capeknya. Maaf ya, Nis.. aku cuma perlu istirahat sebentar".
Nisa balas tersenyum lebar ke laki-laki itu. "Ya udah, kalau begitu sebagai permintaan maaf aku dan buat mengembalikan mood kamu jadi baik kembali, aku bakal memenuhi tiga permintaan kamu hari ini, Riz... tapi selain meminta aku menikah dengan kamu. Gimana?"
"Tiga permintaan?" tanya Riza penasaran.
Nisa menganggukkan kepalanya. "Iya, kamu boleh mengajukan tiga permintaan, tiga hal yang kamu ingin aku penuhi untuk kamu, tapi berlaku sampai hari ini saja," jawab Nisa riang dan bersemangat.
Riza terlihat mencerna perkataan Nisa itu dengan serius. "Aku boleh minta apa aja?"
"Iya Riz, selama tidak melanggar norma agama, hukum, susila, dan kesopanan, he he he". Riza ikutan tertawa mendengar syarat Nisa itu lalu menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Oh iya satu lagi, tiga permintaan itu akan aku penuhi dengan syarat kamu harus habiskan dulu makan siang kamu," sambung Nisa membuat laki-laki itu tersenyum lebar lalu menganggukkan kepalanya.
Nisa dan Riza pun menyantap makanan pesanan mereka. Terlihat Riza bersemangat menghabiskan makanannya sambil memikirkan tiga permintaan yang akan diajukannya ke Nisa setelah itu. Nisa terlihat beberapa kali tersenyum lebar memerhatikan raut Riza, ada ceria disana setidaknya sedikit mengurangi rasa bersalahnya ke laki-laki luar biasanya itu.
Nisa masih menghabiskan nasi goreng miliknya saat piring laki-laki di hadapannya itu terlihat sudah bersih, hanya menyisakan dua butir nasi. Minuman kopi Riza juga terlihat sudah tak bersisa dan laki-laki itu terlihat sedang menghabiskan coklat pemberian Nisa yang sempat tertunda tak dihabiskannya tadi.
Sesekali Nisa tersenyum lebar ke Riza yang balas tersenyum tak kalah lebar, entah apa yang ada di pikiran laki-laki itu hingga wajahnya berubah perlahan dari mendung menjadi cerah.
"Oke, sekarang kamu boleh sebutin permintaan kamu, Riza," ucap Nisa setelah menyelesaikan makannya.
Riza lagi-lagi tersenyum. "Permintaan pertama, aku mau kamu menemani aku teriak di atap gedung tinggi, Nisa". Nisa terlihat mengernyitkan dahinya sejenak mencoba menyelami pikiran Riza yang tak tertebak itu meski kemudian pasrah melebarkan senyumannya dan menganggukkan kepalanya setuju.
"Permintaan kedua, aku mau kamu menemani aku ke toko perhiasan tepatnya toko yang jual aneka model cincin pernikahan. Tapi sebelumnya aku mau tahu ukuran jari manis kamu, Nisa," sambung Riza membuat Nisa sempat terdiam.
"Tapi Riz... kamu kan sudah tahu jawaban aku soal itu, Rizaaa...," protes Nisa.
Riza tersenyum menatap sejenak Nisa.
"Aku nggak minta kamu menjawab 'iya', Nisa... kan kamu tadi juga sudah bilang permintaan ini diluar meminta jawaban soal itu. Aku cuma ingin tahu ukuran jari manis kamu dan model cincin seperti apa yang kamu suka untuk pernikahan kamu nantinya," jelas Riza melebarkan senyumannya, membuat Nisa pun akhirnya mengangguk setuju. Ia sudah berjanji kepada laki-laki itu untuk memenuhi tiga permintaannya hari itu.
Riza terlihat mencari sesuatu di dalam tasnya, ternyata sebuah pulpen bertali yang bisa digantungkan di leher.
"Apa kamu punya cutter, Nis?" tanya Riza lagi. Nisa pun mengeluarkan cutter-nya dari tempat pensilnya, masih bertanya-tanya maksud laki-laki itu.
Riza terlihat memotong tali pulpennya itu kemudian menjulurkannya ke Nisa, "Buat mengukur jari manis kamu, Nis". Lagi-lagi Nisa tertegun sejenak dengan tingkah Riza itu, tapi kemudian ia pun balas tersenyum pada laki-laki itu dan menuruti permintaannya. Setelah menge-pas-kan panjang tali itu sesuai dengan diameter (ukuran) jari manisnya, Nisa menyerahkan tali itu kembali ke Riza. Riza terlihat tersenyum lebar menerimanya dan langsung menyimpan tali itu di dalam dompetnya sementara Nisa hanya bisa tersenyum pasrah. Entah apa yang ada di pikiran Riza saat itu, tapi Nisa merasa laki-laki itu pantang menyerah tentangnya.
"Lalu yang terakhir...," sambung Riza membuat Nisa makin dag dig dug mendengarkan permintaan selanjutnya laki-laki itu. Nisa takut, permintaan Riza makin mengejutkan dan tidak ia sangka-sangka.
"Kenapa kamu kelihatan tegang, Nis?" tanya Riza tertawa kecil melihat raut wajah gadis di depannya itu. Nisa buru-buru tertawa sambil menggelengkan kepalanya.
"Enggak,... penasaran aja he he," jawab Nisa berusaha menutupi perasaannya, membuat Riza makin pecah dalam tawanya.
"Jangan-jangan kamu takut kalau aku minta kamu mengukur baju pengantin kamu di desainer baju pernikahan ya, Nis?" tanya Riza terkekeh membuat Nisa pun pecah dalam tawa dengan wajah bersemu merah.
"Udahan ah bercandanya, Riz. Sekarang sebutin permintaan ketiga kamu," jawab Nisa kembali tersenyum berusaha menetralkan perasaan dan ekspresinya.
Riza terlihat tersenyum lebar, "Permintaan aku yang ketiga... aku minta kamu yang mengatakannya, Nisa. Kira-kira kamu ingin kita ngapain hari ini?"
Nisa pun tersenyum. Terlihat Nisa sedang memikirkan apa yang ingin dilakukannya bersama Riza ketika kemudian ia melebarkan senyumannya menatap Riza. "Aku pingin menemani kamu makan ice cream, Riz... biar mendinginkan hati dan pikiran kamu sejenak, he he he".
Riza pun tergelak sambil menganggukkan kepalanya setuju. Nisa..., perempuan itu selalu menghadirkan bahagia di hatinya dengan cara sederhana.
Setelah sholat Zhuhur di musholla kampus, Nisa pun menemani Riza memenuhi tiga permintaan laki-laki itu.
Perjalanan mereka dimulai dengan mendatangi sebuah gedung tinggi yang sepertinya sudah beberapa kali didatangi Riza, sebuah gedung berlantai 20. Riza langsung mengajak Nisa menemaninya menuju atap gedung itu.
Nisa mengira Riza ingin teriak melepaskan beban pikirannya setelah sidang skripsi disana, tapi ternyata perkiraan gadis itu salah.
Sesampai di atap gedung, Riza mengajak Nisa berdiri di sebelahnya dan mendengarkan teriakannya.
"Apa kamu mau menikah denganku, Nisa? Would you be my best friend forever, Nisa?" teriak laki-laki itu membuat Nisa terdiam di tempatnya. Suara Riza yang lantang diantara udara dan cahaya matahari siang hari itu berhasil menggetarkan hati Nisa dan membuatnya sejenak berkaca-kaca meski Nisa berusaha menyembunyikannya dari Riza. Nisa buru-buru menetralkan raut wajahnya ketika Riza menoleh kepadanya dengan senyum lebarnya. Nisa berusaha balas tersenyum dengan sebiasa mungkin.
Setelah dari sana, perjalanan mereka pun berlanjut ke sebuah toko perhiasan yang lumayan besar tempatnya. Riza bilang, dia tahu tempat itu karena pernah mengantarkan sepupunya mencari cincin pernikahannya disana. Riza meminta Nisa memilih model cincin pernikahan yang disukainya.
"Kenapa kamu melakukan ini, Riz...?" tanya Nisa saat itu. Nisa takut Riza nekat membelikannya cincin pernikahan meski gadis itu tetap pada jawaban 'tidak'-nya.
Riza tersenyum menatap Nisa. "Kamu sudah janji kalau kamu akan mengabulkan tiga permintaan aku hari ini, Nis. Aku tidak sedang meminta jawaban kamu saat ini. Aku cuma pingin tahu model cincin yang kamu sukai, Nisa. Tenang aja, Nis... aku ga bakal beliin kamu cincin nikah sekarang," jawab Riza seolah bisa membaca pikiran Nisa, membuat Nisa akhirnya memberitahu Riza model cincin pernikahan yang paling disukainya di toko itu. Setelah itu Nisa dan Riza pun menuju parkiran toko, bersiap melakukan permintaan terakhir Riza.
"Jadi kita mau makan ice cream dimana, Nis?" tanya Riza sambil tersenyum lebar memasang helmnya.
Nisa tertawa kecil, "Terserah aja, Riz... beli ice cream di Indomart, Alfamart, McD, KFC, atau mana aja juga boleh he he. Yang penting kita makan ice cream-nya bareng he he".
Riza tertawa mendengar ucapan Nisa itu. Bahagia dimata gadis itu memang sederhana, tapi kadang terlalu sederhana bagi Riza.
"Ya udah, kalau gitu biar aku yang menentukan tempatnya ya, Nis. Aku tahu tempat cozy yang menyediakan aneka menu ice cream. Tempatnya enak juga buat ngobrol panas-panas gini he he".
Nisa pun mengangguk setuju.
Lima belas menit kemudian, Riza dan Nisa sudah asyik menikmati ice cream masing-masing, itu pun setelah keduanya saling beradu argumen siapa yang menraktir. Nisa berpendapat harusnya dia yang menraktir Riza karena dia yang mengajaknya makan ice cream. Sebaliknya Riza bersikeras dia yang menraktir karena dia yang mau makan di tempat itu dan itu masih bagian dari tiga permintaan Riza hingga akhirnya Nisa pun pasrah membiarkan Riza menraktirnya.
"Enak nggak, Nis?" tanya Riza dijawab dengan anggukan dan senyuman lebar Nisa.
"Makasih ya udah menraktir aku ice cream yang enak ini, Riza," jawab Nisa dengan riang.
Riza tertawa mendengarnya.
"Sama-sama, Nis. Makasih ya kamu sudah mau menemani aku dan memenuhi tiga permintaan aku hari ini".
"Apa mood kamu udah membaik, Riz?" tanya Nisa dibalas anggukan kepala Riza yang terlihat senang.
"Makan ice cream ini ternyata memang bisa mendinginkan hati dan pikiran juga ya, Nis. Baper aku udah hilang aja sekarang, mungkin karena udah kenyang dan melakukan hal-hal yang menyenangkan ya".
Nisa tertawa kecil sambil menganggukkan kepalanya. "Alhamdulillaah, itu artinya besok kamu bisa kembali fokus dan semangat sama perbaikan skripsi kamu, Riz".
"Siap, insyaa Allah," ucap Riza tersenyum lebar lagi-lagi mengangguk-anggukkan kepalanya, "Bukan hanya perbaikan skripsi, Nisa. Semangat dan mood aku juga sudah kembali seperti semula buat memperjuangkan jawaban 'iya' dari kamu lagi. Aku ga akan menyerah dengan jawaban 'tidak' kamu, Nis. Aku akan terus meminta kamu menikah denganku sampai kamu mau karena aku semakin yakin bahwa perempuan itu memang kamu".
Kalimat terakhir Riza itu pun membuat Nisa tertegun di tempatnya, lagi dan lagi laki-laki itu membuat hatinya tersentuh dan makin susah mengatakan 'tidak' padanya.
Riza terlihat tersenyum lebar kearahnya, dari tatapan Riza, Nisa tahu laki-laki itu tulus dan bersungguh-sungguh memperjuangkan jawaban 'iya' darinya.
"Makasih sudah membantu aku mengembalikan semangat juang dan mood aku lagi, Nisa," ucap Riza lagi sementara Nisa hanya bisa membalas senyum laki-laki itu tak kalah lebar tanpa satu kata terucap dari mulutnya.
-Bersambung-

Setelahnya : Saat Bahagia yang Tak Sempurna