Kamis, 11 Februari 2016

See You Again When The Next Blue Moon Appears : Ahsan Hasna Part 5 Perhatian yang Aneh?

Part Sebelumnya 


Part 5 Ahsan dan Hasna : Perhatian yang Aneh?

Beberapa hari kemudian, tak terasa Sabtu pun menjelang ketika Hasna sudah berada di KRL saat itu. Waktu di arlojinya menunjukkan pukul 13.58 ketika sebuah pesan masuk di handphone Hasna dari Ahsan. "Aku tunggu di tempat biasa ya, Na".
Hasna tersenyum dan bergegas mengetikkan pesan balasannya. "Thanks, San. Insyaa Allah aku sudah hafal jalan, San. Kalo kamu mau duluan, silahkan aja. Sampai ketemu di kelas :)".
35 menit kemudian, Hasna baru turun dari KRL ketika hujan gerimis menyambut kedatangannya. Hasna bergegas berlari kecil menuju pintu keluar biasanya ketika terlihat Ahsan berdiri di tempat biasa mereka bertemu. Hasna tersenyum ke arah Ahsan yang sedang melihat dan tersenyum ke Hasna.
"Kok masih disini, San? Kan aku sudah bilang kalau aku sudah hafal jalan ke kelas," sapa Hasna sambil mengelap bajunya yang terkena rintik hujan. Lagi-lagi Ahsan hanya tersenyum. "It's ok, Na. Hujan sudah turun saat aku turun dari KRL, aku takut kamu ga bawa payung". Hasna tersenyum lebar sambil mengucapkan terima kasih ke laki-laki di hadapannya itu. Perhatian-perhatian kecilnya itu kadang membuat benteng kokoh hati Hasna sedikit retak juga. Sebenarnya hujan hanya kebetulan turun di saat bersamaan sore itu hingga Ahsan bisa menjadikan hujan sebagai alasan menunggu Hasna. Padahal kalaupun hujan tidak turun sore itu, Ahsan akan tetap menunggu Hasna disana. Ia seperti mulai terbiasa menunggu Hasna di stasiun setiap Rabu atau Sabtu. Dan sepertinya Ahsan mulai ketagihan untuk melakukan hal itu.
"Ya sudah, Na. Ayo kita cari ojek payung," ajak Ahsan membuat Hasna sedikit tertegun kemudian tertawa kecil, "Kirain kamu menunggu aku karena kamu bawa payung, San".
Ahsan balas tertawa kecil sambil tersipu dan menggelengkan kepalanya.
Hasna pun mengeluarkan payung dari tas ranselnya. "Ya udah kalau gitu kita sepayung berdua pakai payung aku saja, San. Insyaa Allah muat, soalnya kan hujannya cuma gerimis saja," balas Hasna masih tertawa kecil ke Ahsan. Ahsan pun menganggukkan kepalanya sambil tertawa, ia meminta payung Hasna itu dari tangan Hasna. Mereka pun berjalan berdua menuju kelas sambil Ahsan memegangi payung yang menaungi mereka berdua itu.
Gerimis membuat jalanan menuju kelas sedikit becek bahkan sebagian mulai tergenang sehingga Ahsan dan Hasna memelankan langkah mereka agar pakaian mereka tidak kotor. Mereka sedang berjalan di tengah gerimis sore itu, ketika Hasna memecah hening diantara keduanya.
"By the way, tumben hari ini kamu pakai jaket, San. Wajah kamu juga kelihatan capek dan agak pucat. Kamu lagi ga  enak badan?" tanya Hasna menoleh ke Ahsan yang balik menoleh kepadanya.
Ahsan tersenyum ke Hasna. "Biasa, Na, habis begadang ngerjain tugas kuliah yang lagi padat-padatnya dua hari ini, jadi capek karena kurang tidur, he he".
Hasna balas tersenyum lebar ke Ahsan. "Iya, kantong mata kamu itu ga bisa bohong kalau kamu kurang tidur, San. Kalau memang lagi nggak enak badan kenapa kamu nggak izin aja hari ini? Kan masih ada aku dan volunteer yang lain buat mengajar bahasa inggris," sambung Hasna menunjukkan perhatiannya meski ia berusaha bersikap biasa saja.
"Volunteer yang lain tidak bisa datang, Na. Seperti Sabtu kemarin, kali ini kita bakal mengajar berdua lagi. Soalnya teman-teman ada tugas kuliah sifatnya praktik yang nggak mungkin ditinggal selama sebulanan ini terutama di hari Sabtu. Dan aku kebetulan sudah ambil tugas itu sebelum mereka. Kalau aku ga datang hari ini, kasihan kamunya Na jadi mengajar sendirian," jelas Ahsan. Lagi-lagi Hasna tersenyum, "So sweet sekali laki-laki ini," pikirnya dalam hati kemudian menertawakan dirinya sendiri karena lagi-lagi ada retakan di benteng kokoh hatinya, "jaga hati, Hasna... ingat dia lebih muda dari kamu...". Tanpa sadar bibir Hasna ikut tersenyum dengan pandangan Hasna sedikit menunduk.
"Lagipula, aku juga ga mau kamu berpikir kalau kami berlima ngebully kamu, ngerjain kamu biar mengajar sendirian... ," sambung Ahsan tersenyum dan tiba-tiba menoleh kearah Hasna. Ahsan merasa sedikit heran melihat ekspresi Hasna yang senyum-senyum sendiri itu. Begitu juga Hasna pun kaget karena Ahsan tiba-tiba menoleh kearahnya. Hasna langsung tersenyum lebar ke Ahsan, berusaha menetralkan situasi diantara mereka. "Aku percaya kamu ... emmm maksud aku kalian tidak sekejam itu, berniat ngebully aku," ujar Hasna sambil menganggukkan kepalanya sambil memandang Ahsan yang kemudian balas tersenyum. Hasna kembali teringat asal mula pembicaraan mereka adalah membahas kondisi Ahsan yang tidak fit hari itu.
"Sini, biar aku yang gantian pegangi payungnya, San. Kamu kan lagi kurang enak badan," tawar Hasna lagi.
Ahsan tertawa mendengar ucapan Hasna. "Aku kuat, Hasna dan aku laki-laki. Memangnya aku semenyedihkan dan selemah apa sampai aku ga kuat pegang payung?" ujar Ahsan dibalas Hasna dengan tertawa kecil sambil mengucapkan kata maaf.
"Oh iya, karena kamu lagi ga fit, kalau kamu nggak keberatan, nanti biar aku yang berdiri mengajar adik-adiknya di depan. Kamu duduk saja menemani di belakang adik-adiknya sambil mengarahkan aku dari belakang," sambung Hasna lagi-lagi tersenyum. Ahsan menoleh kearah Hasna, balas tersenyum lebar sambil menganggukkan kepalanya. "Makasih ya, Na. Maaf jadi merepotkan kamu dan membuat kamu jadi khawatir". Ada rasa senang menyusup di hati Ahsan akan perhatian kecil Hasna itu. Begitu pun Hasna, ada rasa lega saat Ahsan seolah memahami rasa khawatir Hasna untuknya. Entah kenapa.
Waktu di arloji Hasna menunjukkan pukul 15.10 ketika keduanya akhirnya sampai di kelas. Terlihat sebagian adik-adik laki dan perempuan sudah siap untuk sholat berjamaah. Ahsan dan Hasna pun tersenyum  bangga melihat adik-adik disana sudah menyiapkan ruangan tempat belajar tanpa menunggu kakak-kakak pengajarnya datang. Tanpa banyak mengulur waktu, Ahsan dan Hasna pun bergegas mengambil wudlu lalu segera bergabung dengan adik-adik yang sudah siap. Ahsan dan Hasna pun mengajak sebagian adik-adik yang sedang asyik bermain dan berlarian di dalam kelas dan mereka pun sholat berjamaah, dipimpin Ahsan.
Pelajaran bahasa inggris pun dimulai, terlihat Hasna bergegas maju berdiri di dekat papan tulis (white board) dan mengucap salam dan memintakan maaf karena kakak volunteer lainnya terpaksa tidak bisa hadir hari itu karena tugas kuliah. Sementara Ahsan duduk membaur bersama adik-adik disana. Hasna membagikan soal latihan kepada adik-adik berdasarkan kelompoknya kemudian ia bergegas menuliskan materi bergantian untuk masing-masing kelompok. Setiap satu materi kelompok selesai, adik-adik di kelompok yang bersangkutan langsung mengerjakan soal latihan yang sudah dibagikan.
Putri yang duduk tak jauh dari tempat Ahsan duduk pun bergegas mendekati Ahsan. Sejak Ahsan datang, Putri sudah mengamati penampilan Ahsan yang tidak seperti biasanya.
"Kak Ahsan lagi sakit ya kak, kok pake jaket dan kelihatan capek begitu sejak datang tadi?"
Ahsan menoleh kearah Putri dan tersenyum. "Kak Ahsan baik-baik saja, Putri. Ayo Putri segera selesaikan latihan soal dari Kak Hasna, ya".
Putri mengangguk. "Kalau Kak Ahsan baik-baik saja, kenapa Kak Hasna yang berdiri depan? Kak Ahsan pasti sedang sakit kan?" sambung Putri dengan raut wajah yang terlihat sedikit khawatir.
Lagi-lagi Ahsan tersenyum, "Kak Ahsan cuma agak ga enak badan aja karena kurang tidur, Putri jangan khawatir ya".
"Ayo Putri, dikerjain sampai selesai dulu latihan bahasa inggrisnya, baru kemudian boleh ngobrol sama Kak Ahsan," ujar Hasna sambil membelai rambut Putri dibalas dengan anggukan kepala dan senyuman Putri. Ahsan tersenyum kearah Hasna, kemudian ia melihati adik-adik di dekatnya yang sedang asyik mengerjakan soal latihan masing-masing.
"Kamu melihati jawaban adik-adik yang dekat dengan tempat kamu duduk aja ya, San. Biar aku yang berkeliling memeriksa jawaban adik-adik yang agak jauh duduknya dari kamu," ujar Hasna kepada Ahsan sembari bergegas mendekati adik-adik yang berada agak jauh dari Ahsan. Ahsan mengamati gerak-gerik Hasna sejenak lalu tersenyum melihat kepedulian Hasna kepadanya yang terbungkus biasa tapi terasa istimewa. Hasna yang tanpa banyak ekspresi, tiba-tiba mengambil alih tugas Ahsan, memberikan banyak kesempatan bagi Ahsan untuk lebih bersantai di kelas daripada biasanya.
Hasna terlihat sedang membahas latihan yang tadi dikerjakan adik-adik secara bergiliran per kelompok di papan tulis. Sementara Ahsan terlihat membantu adik-adiknya lebih memahami penjelasan Hasna.
Hasna sedang membahas jawaban latihan untuk kelompok terakhir saat Ahsan memberi isyarat ke Hasna, izin keluar sebentar. Perut Ahsan tiba-tiba terasa mual dan entah kenapa tubuhnya tiba-tiba kedinginan padahal dia sudah memakai jaket yang cukup tebal.
10 menit berlalu, ketika Ridwan yang pamit buang air kecil masuk ke kelas dengan terburu-buru.
"Kak Hasna, Kak Ahsan jatuh kak di dekat tempat wudlu," ujar Ridwan sambil berdiri di dekat pintu kelas itu dengan raut sedikit panik. "Innalillaah, Kak Ahsan jatuh? Sekarang Kak Ahsannya dimana?" Hasna pun menghentikan penjelasannya di papan tulis, dengan raut panik menghampiri Ridwan yang menganggukkan kepalanya sambil menunjukkan jarinya keluar. Hasna menoleh ke adik-adik yang lain, "Kak Hasna tinggal sebentar melihat kondisi Kak Ahsan dulu, ya adik-adik, jangan rame yaa," ucapnya berusaha tenang dan menenangkan. Hasna baru akan beranjak keluar saat Ahsan yang terlihat sedikit pucat  tiba-tiba muncul di pintu kelas dipapah seorang adik remaja, salah seorang warga yang tinggal disana.
"Ahsan...," ujar Hasna. Ahsan langsung tersenyum kearah Hasna kemudian mengucapkan terima kasih ke adik yang membantu memapahnya tadi. Ahsan pun duduk di tengah pintu kelas itu, sementara Hasna masih terdiam di tempatnya, bingung harus melakukan apa.
"Aku cuma kepeleset tadi di dekat tempat wudlu, Na. Kaki aku sedikit terkilir sepertinya, untung aja ga sampai jatuh. Aku baik-baik aja, kok Na," ujar Ahsan lagi-lagi tersenyum seolah berusaha menenangkan Hasna yang terlihat khawatir itu. Sesekali terlihat Ahsan meringis kesakitan sambil memegangi bagian kakinya yang terkilir. "Yakin kamu baik-baik saja, San? tanya Hasna akhirnya sembari duduk di dekat Ahsan. Ahsan mengangguk sembari tersenyum ke Hasna. "Sebaiknya kita lanjutkan pelajaran bahasa inggris adik-adiknya, Na". Hasna pun akhirnya balas tersenyum sembari mengangguk dengan bersemangat.
Ahsan terlihat berusaha berdiri dengan agak kesulitan.
"Apa kamu perlu bantuan buat memegangi kamu berdiri dan jalan ke dalam, San?" tanya Hasna ragu dengan raut khawatirnya.
Ahsan menggelengkan kepalanya pelan, lagi-lagi tersenyum lebar kepada Hasna. "I'm okay, Hasna. Aku bisa sendiri kok, Na. Mending kamu lanjutin mengajarnya lagi ya. Maaf jadi mengganggu konsetrasi kamu dan membuat kamu cemas". Hasna pun membalas dengan senyuman yang lebih lebar, "Tidak ada yang merasa terganggu, San".
Hasna bergegas melanjutkan pembahasannya untuk kelompok terakhir di papan tulis dengan bersemangat. Sesekali pandangannya pun tertuju ke Ahsan yang berusaha duduk di dekat adik-adiknya lagi sambil berusaha bersikap tidak terjadi apa-apa dengan kakinya. Hasna sekedar ingin memastikan kondisi Ahsan. Sementara itu, dengan berusaha riang dan tak ingin kalah semangat dengan Hasna, Ahsan kembali membantu Hasna mengulangi dan meneruskan penjelasan Hasna satu per satu ke adik-adik yang ada di dekatnya. Hasna pun ikut tersenyum melihatnya. Hasna makin kagum melihat pribadi Ahsan itu.
Sebelum pulang seperti biasa adik-adik harus menyetor hafalan kata dalam bahasa inggrisnya sekaligus cara mengejanya. Seperti yang disampaikan Sabtu sebelumnya, kali ini adik-adik menghafal nama peralatan rumah tangga, 5 kata untuk kelompok satu, 10 kata untuk kelompok dua, dan 15 kata untuk kelompok tiga. Ahsan meminta Hasna untuk mengizinkan Ahsan mengecek hafalan kelompok satu dan dua, sementara Hasna mengecek hafalan kelompok tiga. Melihat Ahsan yang bersemangat itu pun membuat Hasna menyetujui permintaan Ahsan tersebut.
Sesekali, Ahsan melihat kearah Hasna yang bersemangat mengecek hafalan kata adik-adik di kelompok tiga dari tempatnya duduk. Ahsan selalu suka melihat senyuman lepas Hasna itu. Meski hanya sejenak melihatnya, tapi senyuman Hasna selalu berhasil menularkan senyum dan semangat bagi Ahsan. Begitu pula Hasna, sesekali Hasna pun tersenyum lebar melihat Ahsan yang terlihat bersemangat disertai senyumannya mengecek hafalan adik-adiknya. Baik Hasna maupun Ahsan tidak menyadari bahwa mereka saling menularkan senyum dan semangat itu satu sama lain.
Waktu menunjukkan pukul 17.15 saat kelas bahasa inggris hari Sabtu itu pun selesai. Adik-adik pun bergegas pulang setelah mencium tangan Ahsan dan Hasna bergantian, kecuali Putri dan Ridwan serta dua orang adik lainnya, Zein dan Lili. Mereka terlihat duduk berkerumun di dekat Ahsan.
"Mana yang sakit, Kak Ahsan?" tanya Putri terlihat mencemaskan Ahsan.
"Iya, yakin Kak Ahsan bisa pulang sendiri?" sambung Ridwan diikuti anggukan kepala dari Zein dan Lili.
Ahsan tersenyum lebar ke keempat adik itu sambil menganggukkan kepalanya pelan. "Kak Ahsan cuma terkilir sedikit, kok. Kak Ahsan baik-baik dan pastinya bisa pulang sendiri," jelas Ahsan sambil menunjukkan bagian kakinya yang terkilir. Hasna yang sedang merapikan buku dan kamus yang digunakan untuk mengajar tadi pun ikut menyimak obrolan itu ketika Hasna teringat sesuatu. Hasna bergegas merogoh tas ranselnya, mencari counter pain buat dioleskan ke kaki Ahsan yang terkilir itu. Hasna pun bergabung duduk di dekat Ahsan. "Oleskan ini dulu sementara, San. Semoga bisa mengurangi rasa nyeri di otot kamu yang terkilir," ujar Hasna. Ahsan menatap Hasna sejenak dan membalas senyuman Hasna untuknya kemudian mengambil counter pain di tangan Hasna itu, perlahan dioleskannya ke bagian kakinya yang terkilir, sambil sesekali meringis kesakitan lalu mengembalikannya ke Hasna seraya mengucapkan terima kasih.
"Udah kamu simpan dan bawa saja, San. Siapa tahu kamu memerlukannya lagi di jalan nanti," jawab Hasna tersenyum, menyodorkan kembali counter pain itu ke Ahsan. Ahsan mengangguk pelan dan tersenyum.
"Kak Ahsan beneran gapapa? Soalnya tadi Ridwan sempat denger Kak Ahsan sepertinya muntah di kamar mandi ya," ujar Ridwan tiba-tiba membuat semua mata di ruang itu tertuju ke Ahsan tak terkecuali Hasna.
"Kak Ahsan habis muntah? Dari sejak datang, Putri udah curiga kalau ada yang nggak beres sama Kak Ahsan. Mana yang sakit, Kak? Kepala atau perut Kak Ahsan sakit?" tanya Putri panjang lebar dengan raut khawatir  seolah mewakili tiga temannya yang lain. Lagi-lagi, Ahsan tersenyum lebar sambil bergantian menatap keempat adik yang duduk di hadapannya itu. "Kak Ahsan cuma masuk angin aja sepertinya, ga perlu khawatir ya, Kak Ahsan baik-baik saja". Ahsan kemudian menoleh kearah Hasna. Tampak Hasna sedang menatapnya, ada khawatir disana yang berusaha Hasna tahan dalam diam. Sejenak hening menyapa diantara Ahsan dan Hasna sebelum akhirnya senyuman itu terbentuk di bibir Hasna diikuti Ahsan yang balas tersenyum. Pelan, Hasna pun menganggukkan kepalanya, seolah menyemangati Ahsan. Lagi-lagi Hasna teringat sesuatu dan merogoh tas ranselnya. Sebotol minyak kayu putih tampak sedang dipegang Hasna. "Coba kamu olesin badan kamu, perut, dada, punggung, leher, dan telapak tangan kaki kamu dengan minyak kayu putih saja, San, biar hangat," ujar Hasna menyodorkan minyak kayu putih itu ke Ahsan. "Ayo Putri sama Lili ikut Kak Hasna sebentar ya, soalnya Kak Ahsan harus buka sebagian bajunya biar bisa diolesin minyak kayu putih. Ridwan dan Zein, tolong bantu Kak Ahsan mengoleskan minyak kayu putih di bagian belakang tubuh Kak Ahsan yang ga bisa Kak Ahsan jangkau ya," sambung Hasna lagi sambil tersenyum lembut ke adik-adik yang ada disana. Ahsan menatap Hasna sejenak lalu mengangguk dan tersenyum menerima minyak kayu putih itu dari Hasna. Hasna bergegas mengajak Putri dan Lili menjauh dari Ahsan, ketiganya duduk di dekat papan tulis membelakangi Ahsan. Terlihat sambil setengah bercanda dengan kedua adik perempuan itu, Hasna menutup mata keduanya supaya tidak mengintip. Hasna juga berusaha menghibur Putri yang mencemaskan Ahsan. Ahsan pun tertawa kecil melihat tingkah laku Hasna dan kedua adik perempuan itu. Kehadiran Hasna sebagai volunteer perempuan satu-satunya, membuat adik-adik perempuan seperti punya tempat bercanda dan bermanja dengan lebih dekat dan leluasa dibandingkan yang mereka bisa lakukan dengan kakak volunteer laki-laki. Selain itu, Hasna pun mengajarkan batasan-batasan antara laki-laki dan perempuan ke adik-adik itu dari sudut pandang perempuan dengan caranya yang sederhana tapi bisa dipahami adik-adik disana, dan tentu saja tetap dengan ceria.
Lima menit kemudian Ahsan sudah selesai mengoleskan minyak kayu putih sesuai saran Hasna sebelumnya. "Kak Hasna, Kak Ahsan sudah selesai nich acara buka sedikit bajunya. Sekarang Putri, Lili, dan Kak Hasna sudah boleh mengintip dan melihat Kak Ahsan yang ganteng ini lagi," ujar Ahsan disambut tawa Hasna dan keempat adik-adik itu. Hasna, Putri dan Lili pun duduk kembali di dekat Ahsan. "Sepertinya, kelas kita perlu kotak obat-obatan alias kotak P3K, San. Aku baru sadar kalau kita nggak punya tempat itu disini," ujar Hasna menatap Ahsan sejenak.
"Apa memang perlu, Na? Selama ini sepertinya tidak diperlukan sih. Masak iya bikin kotak P3K cuma gara-gara aku terkilir dan masuk angin hari ini?" lanjut Ahsan sambil tersenyum lebar ke Hasna.
Hasna ikut tersenyum, "Bukan begitu, San. Memang gara-gara kamu terkilir dan masuk angin, aku jadi menyadari kalau perlu juga ada kotak obat-obatan di kelas ini. Bukan berarti kita berharap ada adik-adik atau kakak-kakak yang sakit, tapi sekedar buat jaga-jaga saja. Nanti biar aku yang bawa deh kotak obat dan isinya buat ditaruh di dinding kelas," jawab Hasna dengan riang dan bersemangat membuat Ahsan hanya bisa menatap Hasna sambil tersenyum merasakan ketulusan perempuan itu.
"Kak Ahsan yakin bisa pulang sendiri? Wajah Kak Ahsan masih kelihatan capek dan kaki Kak Ahsan juga keseleo, kan? Biar Kak Ahsan pulangnya ditemenin Kakaknya Ridwan aja, ya... kakaknya cowok kok, Kak," ujar Putri masih saja terlihat sedikit khawatir dengan kondisi Ahsan.
"Terima kasih banyak, Putri, Ridwan, Lili dan juga Zein. Jangan khawatirin Kak Ahsan ya. Kak Ahsan baik-baik saja kok," ujar Ahsan tersenyum lembut sambil berpose seperti pamer otot. Ahsan berusaha melucu dihadapan adik-adiknya saat itu. Jawaban Ahsan itu, meski menghadirkan tawa sejenak, tidak juga berhasil menghilangkan rasa khawatir Putri ke Ahsan. Hasna yang melihatnya pun bisa memahami kekhawatiran Putri itu. Putri memang termasuk yang paling dekat dengan Ahsan diantara adik-adik yang lain. Ahsan pernah bercerita ke Hasna bahwa Putri merasa mendapatkan kakak lagi setelah mengenal Ahsan selain juga Putri juga menyukai Ahsan karena tampannya sepertinya. Putri, ayahnya adalah buruh bangunan serabutan, sedangkan ibunya bekerja sebagai buruh cuci keliling. Putri pernah punya seorang kakak laki-laki, usianya mungkin lebih muda dua tahun dibanding Ahsan, tapi setahun yang lalu kakak putri meninggal karena demam tinggi beberapa hari yang ternyata sakit demam berdarah. Karena terlambat ditangani dengan benar, nyawa Kakak Putri tidak terselamatkan. Sejak kematian kakaknya itu, Putri yang biasanya sangat riang, sempat terlihat murung beberapa minggu. Oleh karena sejak Ahsan dkk membuka kelas bantaran rel itu Putri sudah jatuh hati dengan Ahsan, dengan dorongan dari volunteer yang lain juga, Ahsan pun berusaha lebih mendekati Putri, berusaha mengembalikan keceriaannya lagi. Sejak saat itu, Putri terlihat semakin dekat dan perhatian dengan Ahsan. Dan ketika Ahsan sakit hari ini, meski hanya terkilir dan masuk angin, wajar buat Hasna melihat Putri khawatir seperti itu. Jangankan Putri, Hasna yang baru mengenal Ahsan seminggu yang lalu pun mengkhawatirkan Ahsan meski Hasna berusaha tidak terlalu menampakkannya, hanya mewujudkannya lewat perhatian kecilnya seperti tentang counter pain dan minyak kayu putih tadi. Padahal, seperti yang Ahsan bilang, Ahsan cuma sekedar sedikit terkilir dan masuk angin saja. Mungkin ketulusan Ahsan yang tetap bersemangat mengajar di kelas bantaran rel meski sedang sakit itu yang membuat Hasna semakin menaruh simpati kepada sosok Ahsan itu. Entahlah.
"Mau ya, Kak Ahsan?" tanya Putri lagi dengan sedikit memohon diikuti anggukan kepala ketiga temannya yang lain.
Ahsan tetap menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum lebar. "Kak Ahsan insyaa Allah bisa pulang sendiri," ujar Ahsan ceria. Hasna masih terdiam di tempatnya mengamati obrolan Ahsan dan adik-adik itu ketika Putri menoleh kearahnya.
"Kak Hasna..., boleh tidak Putri dan teman-teman punya satu permintaan ke Kak Hasna?" ujar Putri sambil tersenyum.
Wajah Ahsan terlihat bertanya-tanya meski tidak mengucapkan apa-apa, sedangkan Hasna menganggukkan kepalanya pelan sambil membelai lembut rambut Putri dan membalas senyuman Putri dengan senyuman lebih lebar lagi. "Kalau Kak Hasna mampu, insyaa Allah Kak Hasna kabulin. Memang permintaan apa?" tanya Hasna.
"Tolong temani Kak Ahsan pulang sampai rumahnya...," sambung Putri ragu.
"Putri,... " potong Ahsan kemudian melihat kearah Hasna sambil menggelengkan kepalanya. Hasna pun tersenyum kemudian meyodorkan jari kelingkingnya ke Putri sambil tersenyum lebar.
Putri balik melingkarkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Hasna kemudian Hasna menyatukan jempolnya dengan jempol putri, membentuk simbol janji, "Kak Hasna janji akan menemani Kak Ahsan pulang hari ini dan memastikan kakak cakepnya Putri dan adik-adik disini ini  tiba dengan selamat sampai rumah, insyaa Allah. Oke... ".
"Hasnaaaa..." sela Ahsan meski ia akhirnya tidak melanjutkan kalimatnya melihat keempat adik-adik di hadapannya itu terlihat berterima kasih dan mengangguk senang dengan janji yang diucapkan Hasna itu. Ahsan pun memutuskan diam, hanya tersenyum kepada mereka, menoleh sejenak ke Hasna dan tersenyum  padanya.
Setelah berterima kasih ke Hasna, Putri dan ketiga temannya pun berpamitan pulang dengan wajah lebih ceria. Kini tersisa Ahsan dan Hasna di kelas itu, Hasna pun berdiri hendak membersihkan papan tulis ketika Ahsan dengan agak susah payah ingin menggulung tikar di kelas. "Sudah San, biar aku saja yang merapikan kelas, kamu lebih baik duduk saja," ujar Hasna berusaha  mencegah Ahsan.
"Hasna, aku baik-baik saja. Meski terkilir, aku masih bisa menggulung tikar, Na," jawab Ahsan. Ahsan dan Hasna sedang berdebat kecil perihal itu ketika terlihat empat kepala menyembul dari balik pintu, kepala Putri, Ridwan, Lili, dan Zein. Ahsan dan Hasna pun melihat kearah mereka yang sedang tersenyum lebar ke Ahsan dan Hasna.
"Kalian belum pulang?" tanya Ahsan.
"He he, belum Kak. Kita habis beli es dan cilok di sebelah," jawab Zein sambil meringis memamerkan giginya.
Ahsan dan Hasna pun tertawa mendengarnya.
"Boleh nggak Kak, kalau kita mau bantuin merapikan kelas?" sambung Ridwan lagi.
Hasna tersenyum lebar dan mengangguk pelan, "Tentu boleh, makasih banyak sebelumnya. Kalian memang terbaik" jawab Hasna dengan riang sambil menirukan gaya tokoh di BoBoiBoy disambut tawa kecil adik-adiknya. Ahsan menoleh kearah Hasna, senyuman Hasna itu seperti mengatakan bahwa Hasna sedang tersenyum yakin akan memenangkan perdebatan kecil diantara Ahsan dan Hasna sebelumnya. Meskipun demikian, Ahsan tetap saja tertular untuk ikut tersenyum melihat kelakuan Hasna itu.
Dengan riang, adik-adik itu pun masuk kembali ke kelas. Terlihat mereka mendekati Ahsan. "Kak Ahsan duduk manis saja, serahkan semuanya ke kita dan Kak Hasna," ujar Putri tegas sambil tersenyum lebar kemudian menoleh ke Hasna yang balas mengangguk dan tersenyum lebar. Adik-adik yang lain juga terlihat mengangguk setuju membuat Ahsan pun pasrah dan akhirnya memilih duduk di dekat pintu kelas, menunggui Hasna dan keempat adik-adik yang bergotong royong merapikan kelas, tetap dengan keceriaan mereka. Ada kalanya, Ahsan tertawa kecil merasa perhatian mereka terlalu berlebihan mengkhawatirkan Ahsan, tapi Ahsan pun sangat menghargai perhatian itu yang terasa tulus untuknya.
Sepuluh menit kemudian, kelas pun sudah dalam kondisi rapi. Putri, Ridwan, Zein, dan Lili mencium tangan Ahsan dan  Hasna lagi kemudian berpamitan pulang. Hasna teringat sesuatu, "Oh ya, Putri... Kak Hasna hampir lupa memberikan ini, janji Kak Hasna ke Putri, Rabu kemarin," ujar Hasna sambil menyerahkan kantong plastik hitam berisi celengan kaleng itu. Setelah memasukkannya ke tas dan mengucapkan terima kasih dengan senyuman manisnya, Putri pun bergegas menyusul teman-temannya yang sudah ada di depan kelas. "Semoga cepat sehat, ya Kak Ahsan...," ucap Putri sambil tersenyum. Terlihat keempatnya melambaikan tangan ke arah Hasna dan Ahsan sambil mengucapkan salam sembari berlari kecil. Ahsan yang duduk di pintu dan Hasna yang berdiri di sebelahnya pun tertawa melihatnya sambil balas melambaikan tangan. Anak-anak selalu punya caranya membagi tawa kepada orang dewasa seperti Ahsan dan Hasna, termasuk juga adik-adik yang tinggal di bantaran rel itu. Dengan keterbatasan lingkungan yang mereka miliki, mereka tetap tahu memaknai berbagi dan peduli, meski ada kalanya juga adik-adik itu menguji kesabaran kakak volunteer saat iseng dan nakal mereka muncul.
Waktu menunjukkan pukul 17.45 saat Ahsan dan Hasna berjalan berdua menuju stasiun. Meski tak lagi hujan, jalanan yang mereka lalui becek sehingga mereka memelankan kecepatan berjalan mereka, terlebih lagi kaki Ahsan sedang terkilir. "Na, makasih ya buat semuanya hari ini," ucap Ahsan sambil tersenyum kearah Hasna. Hasna balas tersenyum lebar, "Aku yang harusnya berterima kasih, meski kamu dalam kondisi sakit, kamu tetap semangat mengajari adik-adik di kelas tadi, San".
"Cuma masuk angin dan sedikit terkilir doank, Na," balas Ahsan dengan ekspresi lucunya. Ahsan dan Hasna tertawa kecil sejenak.
"Oh ya, Na. Kamu ga perlu temenin aku pulang, aku bisa pulang sendiri. Aku tahu kamu tadi berjanji karena ingin menenangkan mereka," ujar Ahsan sembari tesenyum menatap Hasna.
"Gapapa, San. Aku sudah berjanji ke Putri dan teman-temannya, jadi aku harus menepatinya," balas Hasna.
"Kalau kamu antar aku, kamu bakal kemalaman pulangnya, Na. Aku janji aku bakal kabari kamu setiba aku di rumah, okeee.... ," lanjut Ahsan lagi-lagi menatap Hasna. Hasna balik menatap Ahsan sambil tersenyum tanpa kata kemudian mengalihkan pandangannya kearah lain. Sesekali ia melirik ke Ahsan yang beberapa kali terlihat meringis menahan sakit di otot kakinya yang terkilir itu. Wajah pucat Ahsan itu pun masih terlihat jelas oleh Hasna sehingga masih menyisakan khawatir di hatinya. Begitu pun sebaliknya Ahsan, sesekali ia melirik kearah Hasna, seolah menunggu Hasna bicara, tapi Hasna hanya diam dan sesekali tersenyum kearah langit atau melihati sekitarnya. Mereka berdua pun membisu dalam kata.
Ahsan dan Hasna tiba di stasiun saat arloji Hasna menunjukkan pukul 18.25. Mereka baru akan antri masuk ketika itu saat Hasna memanggil Ahsan pelan.
"Janji tetaplah janji dan itu hutang. Aku sudah berjanji ke Putri dan teman-temannya, jadi aku harus menepatinya, San," ucap Hasna sambil tersenyum ke Ahsan.
Ahsan memandangi Hasna sejenak kemudian balas tersenyum pasrah. Di satu sisi, dia merasa risih kalau Hasna menemaninya pulang, padahal Ahsan cuma tidak enak badan biasa saja. Ahsan tidak terbiasa menerima perhatian seperti itu dari perempuan dan selama ini dirinya berusaha untuk menghindarinya saat beberapa perempuan menawarkan perhatian kepadanya meski dalam wujud yang berbeda. Di sisi lain Ahsan juga merasa khawatir Hasna akan pulang kemalaman. Walaupun demikian, Ahsan suka melihat niat Hasna untuk menepati janjinya kepada Putri dan teman-temannya, sebuah prinsip sederhana yang selama ini juga berusaha dipegang Ahsan dalam kehidupannya, berusaha menghargai dan memegang janji dengan siapapun itu termasuk janji kepada adik-adik di bantaran rel itu.
"Anggap saja, kita tidak sedang bareng, San. Anggap saja, aku kebetulan sedang searah dengan kamu. Aku janji aku bakal tetap menjaga jarak biar kamu nggak risih dan bisa tetap menebarkan pesona kamu,"  sambung Hasna dengan riang menggoda Ahsan, membuat Ahsan pun mengalah dan mengangguk sembari tersenyum lebar padanya.
Ahsan dan Hasna pun memutuskan sholat maghrib di mushalla stasiun kemudian menunggu KRL kearah rumah Ahsan datang. Hasna memegang kata-katanya sebelumnya, ia sengaja mengambil tempat duduk agak berjarak dengan Ahsan di stasiun dan melanjutkan obrolannya dengan Ahsan melalui whatsapp. Meski sempat merasa aneh, Ahsan pun tidak keberatan dengan apa yang dilakukan Hasna, perempuan pemilik senyum lepas itu. "Jangan menghilang dari pandanganku ya, San :p" tulis Hasna. Ahsan menoleh ke Hasna yang terlihat juga sedang memandanginya. "Iya, tenang saja Hasna. Lagipula aku tidak punya ilmu menghilang kok, he he. Hmmm aku berasa punya bodyguard atau pengagum bayangan yang mengikuti aku kemana-mana, Na.... he he," jawab Ahsan.
Hasna tersenyum membacanya. "Gapapa deh, yang penting aku bodyguard dan pengagum bayangan yang santun dan menepati janji, ha ha :D"
Ahsan tertawa di tempat duduknya. Hasna yang melihatnya dari tempatnya duduk pun ikut tertawa.
Ahsan dan Hasna pun bergegas berdiri ketika kereta yang ditunggu datang. Hasna terlihat melihati Ahsan yang sedikit kesusahan berdiri menahan sakit di bagian kakinya yang terkilir itu. Meski di satu sisi Hasna ingin membantu Ahsan, tapi disisi lain dia percaya Ahsan, laki-laki itu, tangguh. Pelan-pelan Ahsan masuk ke dalam kereta, Hasna mendekati Ahsan tanpa mengucapkan apa-apa, hanya berusaha memastikan Ahsan naik ke KRL dengan aman tanpa tergencet kaki atau terdorong-dorong atau tersenggol penumpang lainnya. Setelah Ahsan mendapatkan tempat duduk di dalam kereta, barulah Hasna bergegas mencari tempat duduk buat dirinya sendiri. Meski di sebelah Ahsan duduk, sebenarnya masih muat untuk satu orang lagi, Hasna memilih mencari tempat duduk beberapa meter dari tempat Ahsan duduk tapi masih dalam satu gerbong. Ahsan memerhatikan semua yang dilakukan Hasna tanpa Ahsan minta itu. Meski Ahsan merasa tidak enak sendiri ke Hasna karena Ahsan merasa merepotkan Hasna, tapi ada bagian di hatinya yang merasa senang menerima perhatian-perhatian kecil Hasna kepadanya, meski Ahsan pun tak mau mengupas apa yang dirasakannya itu lebih jauh.
Ahsan terlihat mengoleskan lagi counter pain di bagian ototnya yang terkilir itu, sementara Hasna hanya memerhatikannya dari tempatnya duduk. Hasna sadar, laki-laki muda yang sedang dilihatnya itu, sudah menarik perhatian Hasna untuk peduli kepadanya, meski Hasna tidak mau mengartikan lebih jauh apa yang dirasakannya sebenarnya. Bagi Hasna, Ahsan adalah laki-laki yang baik, tidak kurang dan tidak lebih. Hasna seolah berusaha membatasi dirinya lebih hati-hati tentang Ahsan. Ada begitu banyak perbedaan diantara mereka berdua, terutama tentang umur dan komitmen, meski secara banyak pemikiran lainnya, Hasna tidak terlalu merasakannya dan justru merasa nyambung dengan Ahsan. Terlepas dari semuanya, Hasna tidak pernah tahu bagaimana retakan kecil yang Ahsan timbulkan di benteng hati Hasna itu akan membekas atau mungkin menghilang seiring dengan waktu.
"Hasna, dua stasiun lagi kita turun. Hati-hati jangan sampai kamu menghilang ya :P" ketik Ahsan menggoda Hasna.
Hasna tersenyum membacanya, "Mana ada ceritanya bodyguard yang menghilang, Ahsan :D. Yang ada kamunya tuh yang bisa aja sewaktu-waktu menghilang dari radar aku, he he". Ahsan tertawa kecil membaca pesan Hasna itu.
Ahsan terlihat perlahan berdiri dari tempat duduknya, sambil menahan rasa nyeri di otot kakinya itu dan perlahan berdiri di dekat pintu keluar kereta. Hasna pun bergegas menuju pintu keluar yang sama dengan Ahsan, tanpa  berkata-kata Hasna berdiri berseberangan dengan Ahsan. Mereka hanya saling bertukar senyum satu sama lain.
Ahsan hendak keluar stasiun ketika kemudian ia menoleh ke Hasna yang berdiri beberapa langkah di belakangnya. Hasna menatap ke arah Ahsan sejenak lalu mengeluarkan handphonenya dari sakunya. "What's wrong, Ahsan(ind: apa yang salah, Ahsan)?" ketik Hasna.
Hasna melihati Ahsan yang sedang mengetik itu, "Hari sudah malam, Na. Kamu cukup mengantarku sampai sini aja. Aku masih harus naik angkot sekali soalnya".
Untuk sejenak, Ahsan dan Hasna saling berpandangan dalam diam. Kemudian Hasna menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum lebar ke Ahsan, "Jangan membuat aku menjadi Kak Hasna yang ingkar janji, Kak Ahsan. Udaaah, kamu pura-pura nggak kenal aku aja :D".  Ahsan pun akhirnya mengangguk pelan sambil balas tersenyum lebar ke Hasna sambil mengucapkan maaf dengan gerakan  bibirnya.
Setelah keluar dari stasiun, Ahsan berjalan pelan menuju sebuah jembatan penyeberangan. Ahsan harus naik angkot dari jalur di seberang jalan tempat dirinya berada sekarang. Ahsan berhenti dan terlihat mengamati jembatan yang biasa ia lewati itu.
"Kenapa? Jembatan penyeberangannya tidak cocok buat orang yang sedang sakit dan terkilir sepertinya ya, San :)," sebuah pesan dari Hasna.
Ahsan menoleh ke belakang, terlihat Hasna sedang mengamatinya beberapa langkah di belakangnya sambil tersenyum ke Ahsan. Ahsan pun berjalan menghampiri Hasna sambil tersenyum lebar, "Iya nih, Na. Jembatannya tinggi, otot kaki berasa makin nyeri membayangkan harus naik dan turun lewat jembatan itu. Mana pandangan mata makin kabur aja nih, he he. Baru nyadar kalau jembatan penyeberangan ini tidak sesuai untuk pejalan kaki lanjut usia atau punya keterbatasan atau juga pejalan kaki yang sedang terkilir seperti aku ini". Hasna mengangguk setuju sambil tersenyum. Beberapa kali Hasna mengamati jembatan penyeberangan di sekitarnya, dan Hasna sering berpikir bahwa jembatan penyeberangan itu tidak cukup ramah untuk sebagian pejalan kaki, terutama mereka yang lanjut usia, cacat, atau sedang hamil juga yang sedang sakit. Dan lagi-lagi Ahsan memiliki pemikiran yang sama dengannya. "Ya udah, San... kita menyeberang lewat bawah aja, ya. Aku temani kamu menyeberang pelan-pelan ya," ujar Hasna lagi. Ahsan tersenyum, meski Ahsan sadar bahwa kondisi badannya sedang tidak fit ditambah dengan kakinya yang terkilir, tetap saja dirinya tidak biasa menjadi seseorang yang dilindungi oleh perempuan, terlebih perempuan itu Hasna. Sejak awal ia melihat perempuan pemilik senyum lepas itu di foto profil wa-nya, dia seolah ingin menjadi pelindung buat Hasna, tanpa alasan, hanya sekedar ingin melindungi saja.
"Kamu temani aku menyeberang pelan-pelan di sebelahku ya, Na. Tapi tetap biarkan aku berada di sisi yang melindungi bukan dilindungi. Okeee...,” ujar Ahsan sambil tersenyum lebar. Hasna menatap Ahsan sejenak, kemudian menganggukkan kepalanya sambil balas tersenyum. Meski ada rasa khawatir dengan kondisi Ahsan, Hasna tetap memercayai Ahsan sebagai seseorang yang bisa diandalkan.
Setelah menyeberang jalan, Ahsan kemudian menyetop sebuah angkot dan perlahan naik ke dalamnya. Hasna pun ikut naik di belakang Ahsan. Di sepanjang perjalanan, lagi-lagi mereka tidak mengobrol langsung satu sama lain. Ahsan dan Hasna hanya saling melempar senyum dari tempat duduk mereka yang saling berhadapan itu.
"San, berapa ongkos angkot ke rumah kamu?" ketik Hasna ke Ahsan.
"Biar sekalian aku yang bayar aja, Na," balas Ahsan.
"Ga mau, kan kesepakatannya kita tidak sedang bareng, cuma kebetulan menuju arah yang sama. Jadi ongkosnya berapa?" ketik Hasna lagi.
Ahsan tersenyum menatap Hasna yang balas tersenyum juga.
"5 ribu, Na. Maaf ya jadi merepotkan kamu :)," balas Ahsan lagi.
"Aku tidak merasa repot, jadi santai saja, San :)," ketik Hasna lagi.
Dan untuk beberapa saat baik Ahsan maupun Hasna hanya terdiam di tempat duduknya masing-masing.  Mereka sibuk memandangi pemandangan di luar angkot yang dilihatnya, meski sesekali Hasna terlihat mengamati kaki Ahsan yang terkilir dan melirik sejenak melihat wajah Ahsan seolah memastikan bahwa Ahsan baik-baik saja.  Begitu pun Ahsan, sesekali ia melirik sejenak ke Hasna, meski entah ingin memastikan apa.
Arloji Hasna menunjukkan pukul 19.30 ketika Hasna dan Ahsan sampai di pintu gerbang kompleks Ahsan tinggal. Hasna tetap menjaga jarak beberapa meter dari Ahsan yang berdiri di depannya.
"Na, aku sudah sampai di depan kompleks, aku. Rumah aku sekitar 20 meter dari gerbang. Kamu sebaiknya pulang aja, ya. Anggap aja, janji kamu ke Putri dan teman-temannya sudah kamu tepati. Sudah terlalu malam, Na. Aku khawatir kalau kamu pulang terlalu malam sendirian," ketik Ahsan.
Hasna tersenyum, "Nanggung, San. Bukannya kalau melakukan sesuatu itu ga baik kalo setengah setengah. Udah kamu jalan aja, biarkan aku menyelesaikan tugas aku dengan baik sampai kamu benar-benar di depan rumah kamu :D," ketik Hasna.
Ahsan tertawa membacanya, kemudian bergegas melanjutkan langkahnya dengan Hasna berjalan mengikutinya beberapa langkah di belakangnya. Meski Ahsan memahami apa yang dilakukan Hasna saat itu, tapi dia tetap merasa aneh dengan perhatian Hasna itu. Hasna yang tetap berjalan beberapa langkah di belakangnya tanpa ia minta seolah memahami rasa risih yang sempat Ahsan rasakan di hatinya sebelumnya.
15 menit kemudian Ahsan akhirnya sampai di depan pagar rumahnya. Ahsan kembali menoleh ke belakang, Hasna terlihat berdiri beberapa meter dari tempatnya, masih dengan senyuman lebarnya.
"Aku sudah sampai di depan rumah aku, Na," ketik Ahsan sambil memandang kearah Hasna.
"Ya udah kalo begitu, tugas aku hari ini sudah selesai, San. Aku pamit pulang dulu ya :)," balas Hasna.
Ahsan dan Hasna saling berpandangan dan melempar senyuman, Hasna tetap berdiri di tempatnya, tidak berjalan mendekat kearah Ahsan.
"Mungkin kamu mau mampir, Na...? Istirahat sebentar mungkin?" ketik Ahsan lagi. Saat mengetiknya, Ahsan sempat ragu karena ia hampir tidak pernah mengajak teman perempuannya ke rumahnya sendirian. Namun Ahsan tetap mengetikkannya.
Hasna tersenyum membacanya, "Terima kasih, San. Aku langsung pulang saja. Sudah malam. Kamu istirahat ya, semoga cepat sembuh ya," ketik Hasna lagi.
Ahsan menatap Hasna beberapa saat. "Kamu yakin gapapa pulang sendirian, Na? Kalau nggak biar aku carikan seseorang buat mengantarkan kamu pulang," ketik Ahsan.
Hasna menggelengkan kepalanya pelan ke Ahsan dari tempatnya berdiri. "Aku bisa pulang sendiri, Ahsan. Lagipula aku tidak sedang sakit seperti kamu. Jadi jangan gantian mengkhawatirkan aku ya :D," ketik Hasna lagi.
Ahsan tersenyum lebar kearah Hasna, "Ya udah, kamu hati-hati ya. Makasih sekali lagi untuk semuanya. Sampai jumpa hari Rabu ya... :) :D," ketik Ahsan lagi.
Lagi-lagi Ahsan dan Hasna saling berpandangan dan melemparkan senyuman. Hasna kemudian melambaikan tangannya ke Ahsan sebagai tanda berpamitan kemudian membalikkan badannya, bergegas pulang.
Beberapa saat, Ahsan mengamati Hasna yang berjalan menjauh. Apa yang terjadi hari ini terutama diantara dirinya dan Hasna membuat Ahsan merasa bersalah ke Hasna tapi sekaligus bahagia diantara nyeri otot kakinya yang terkilir dan badannya yang terasa tidak karuan. Yaaa, perhatian aneh Hasna hari ini sangat berkesan di hatinya.

~ Kamu punya cara yang unik untuk membuatku tersenyum dan merasa damai  apa pun yang terjadi. Yang kamu lakukan membuat aku ingin bertemu kamu lagi dan lagi. Meskipun kita bukan kekasih atau dua orang yang memadu hati, tapi aku merasa kamu layaknya teman sejati. ~


 

Kamis, 04 Februari 2016

See You Again When The Next Blue Moon Appears Part 4 Ahsan Hasna : Kamu dan Kelas Rabu Itu

Part Sebelumnya  

Part 4 Ahsan Hasna : Kamu dan Kelas Rabu Itu


Rabu pun menjelang, waktu menunjukkan pukul 13.45 saat Hasna sedang berada di KRL dalam perjalanan menuju kelas bantaran rel kedua kalinya. Sebuah pesan masuk di handphone Hasna.
"Hasna, kita ketemu di stasiun seperti sebelumnya ya, sekitar jam 14.30. Ahsan :)".
Hasna tersenyum dan bergegas menyimpan nomer Ahsan di handphonenya.
"Iya terima kasih banyak, San. Tahu aja kalo aku belum hafal letak kelas kemarin. Maaf merepotkan ya :D ," ketik Hasna. Kali ini giliran Hasna penasaran mengintip foto profil di whatsapp Ahsan. Seorang laki-laki terlihat sedang jongkok sambil mengelus kepala seekor kucing sambil tertawa kearah kamera. Bibir Hasna pun otomatis tertawa melihatnya. "Very cute and natural... (ind: sangat lucu dan alami)," ujar Hasna dalam hati. Hasna semakin tidak menyangsikan sangat wajar Ahsan menjadi idola banyak kaum hawa di kampusnya. Sejauh yang Hasna kenal, Ahsan laki-laki yang punya banyak kelebihan. Sayangnya ia jauh terlalu muda untuk seorang Hasna. Ahsan bahkan belum punya gambaran apapun tentang komitmen yang selama ini menjadi sesuatu yang dipegang teguh oleh Hasna. Dan yang paling mendasar, Hasna pun sadar dirinya sepertinya bukan sosok yang cukup sepadan untuk masuk kriteria seorang pendamping bagi laki-laki semacam Ahsan.
Hasna kembali larut membaca cerita anak-anak yang menjadi koleksi di handphonenya. Buat seorang Hasna, memiliki banyak persediaan cerita lucu dan mendidik akan memudahkan dirinya lebih dekat dengan anak-anak kecil.
Waktu menunjukkan pukul 14.23 ketika Hasna sampai di stasiun dan menunggu Ahsan di dekat pintu keluar seperti sebelumnya. Hasna terlihat mengamati sekelilingnya ketika ia melihat Ahsan diantara kerumunan manusia yang baru turun dari KRL. Ahsan terlihat memandang kearah tempatnya menunggu dan Hasna pun melambaikan tangannya dengan wajah tersenyum. Namun Ahsan seolah tak melihatnya. Ahsan masih mengedarkan pandangannya mencari Hasna. Hasna pun menghampiri Ahsan yang berdiri tak jauh darinya.
"Assalaamualaikum Ahsan". Ahsan segera menutup handphonenya dan menoleh keasal suara yang tak asing lagi baginya itu. "Waalaikumsalam wr wb,...  Hasnaaa...". Sejenak Ahsan tertegun mengamati perempuan yang sedang tersenyum padanya itu. Wajah dan senyum itu tak asing baginya, tapi penampilan Hasna yang berjilbab itu sempat membuat Ahsan tak mengenalinya. Hasna terlihat anggun dengan rok panjang marun dan kemeja hitam polosnya dipadu dengan jilbab segi empat pink muda motif bunga-bunga yang menjuntai menutupi dadanya.
"Ahsan...," panggil Hasna menyadarkan Ahsan dari ketertegunannya. Ahsan pun buru-buru minta maaf ke Hasna.
"Kamu kenapa, San kok terlihat kaget seperti itu? Ada yang salah ya dengan penampilan aku? Jilbab aku berantakan ya?" tanya Hasna sambil mencari tempat di sekitar tempatnya berdiri yang bisa dipakai buat bercermin. Reaksi Ahsan membuat Hasna jadi tidak percaya diri.
"Sama sekali nggak ada yang salah dengan penampilan kamu kok, Na. Hanya saja kamu terlihat beda," ujar Ahsan sembari tersenyum ke Hasna. "Kamu terlihat lebih cantik dengan jilbab itu, Na," lanjut Ahsan di dalam hatinya.
"Aku pikir karena Rabu adalah jadwal kelas mengaji, makanya aku pakai jilbab. San, apa aku salah kostum?" tanya Hasna lagi. Lagi-lagi Ahsan menggelengkan kepalanya. "Kostum kamu sudah pas kok, Na. Aku hanya sempat pangling dan tidak mengenali kamu aja tadi," jawab Ahsan sambil tersenyum. "Hmmm pantesan waktu tadi aku lambaikan tangan, kamu diam aja," sahut Hasna balas tersenyum lebar. "Maaf maaf, Na," ujar Ahsan sambil tertawa malu.
Waktu menunjukkan pukul 15.00 ketika Ahsan dan Hasna tiba di kelas bantaran rel itu dan disambut oleh adik-adik kecil yang langsung mencium tangan mereka. Terlihat keempat volunteer (relawan), rekan Ahsan, sudah tiba terlebih dahulu disana. Mereka pun menghampiri Ahsan dan Hasna. Raka mengenalkan dirinya dan volunteer lainnya dengan Hasna. Ini kali pertama, Hasna bertemu dengan semua volunteer yang mengajar di kelas itu. Selain Raka dan Ahsan, ada juga Ardi yang pertama bertemu Hasna di kantin, Azka, dan Bayu. Adzan Ashar pun terdengar berkumandang mengakhiri perkenalan singkat Hasna dengan keempatnya, Hasna bergegas mengambil wudlu ditemani Ahsan yang juga belum berwudlu. Hasna pun segera bergabung bersama-sama adik-adik perempuan, begitu pun Ahsan mengambil tempat di sebelah adik laki-laki dan mereka pun sholat berjamaah dipimpin Raka.
Seusai sholat, seperti biasa adik-adik pun segera membuka meja belajar lipatnya masing-masing kemudian membuka bukunya. Dalam kelas mengaji, adik-adik di kelas itu terbagi menjadi tiga kelompok, mereka yang belajar mengeja huruf arab, belajar surat-surat pendek, dan juga mereka yang sudah belajar Alquran. Oleh karena jumlah volunteer ada 5 laki-laki plus Hasna, maka satu kelompok dipegang oleh dua volunteer.
"Hasna, karena kamu baru, kamu silahkan memilih mau bergabung dengan kelompok adik-adik yang mana," ujar Raka.
"Kalau boleh, aku bergabung dengan kelompok yang paling mudah aja, Ka. Aku ikut kelompok adik-adik yang mengeja huruf aja, walaupun sebenarnya itu susah susah gampang dan menantang sih ya," jawab Hasna sambil tersenyum.
"Ya udah, berarti kamu bareng sama Ahsan ya mengajarnya," balas Raka sambil menunjuk ke Ahsan yang berjalan ke mereka dengan buku ditangannya. Ahsan memandangi Raka dan Hasna. "Memang nggak apa-apa, Ka aku bareng lagi sama Ahsan?" tanya Hasna dengan senyum tertahan bergantian melihat Ahsan dan Raka.
"Emang ada masalah, Na kalau kamu bareng Ahsan lagi?" ujar Raka balik bertanya, dibalas Hasna dengan menggelengkan kepala dan tersenyum.
"Kalo aku sih nggak masalah, Ka selama Ahsannya mau aja".
Ahsan menatap Hasna sejenak. "Iya, Ka. Masak aku bareng melulu sama Hasna, kali aja Hasna bosen dan pingin kenal lebih dekat sama volunteer yang lain?" timpal Ahsan sambil tersenyum.
"Bukan begitu juga sih San, aku sama siapa aja nggak masalah kok. Seiring waktu, aku pasti bisa lebih dekat dan mengenal volunteer disini. Lagian, aku gabung disini kan ingin jadi relawan, bukan mau PeDeKaTe atau taaruf sama volunteer cowok disini," balas Hasna mencandai Ahsan. Mereka pun tertawa.
"Ya udah, biar Hasna bareng kamu aja, San. Toh, buku yang ada ditangan kamu buku iqra (buku buat belajar membaca huruf arab) kan," sambung Raka lagi.
"Iya, San... biar Hasna bareng kamu aja. Gapapa sering-sering bareng, biar lebih mengenal dekat. Yaaa siapa tau berjodoh, Bro.. ," ujar Ardi menimpali. Ahsan menatap ke Ardi yang terlihat tersenyum lebar menggodanya.
Hasna, Raka, Bayu, dan Azka hanya tersenyum. "Ya nggak mungkin lah Ar, perempuan biasa seperti aku begini bisa mencuri hati Ahsan yang popular di kampus. Mana lebih tua pula,  pastinyaaa aku beda kelas sama selera Ahsan. Ibarat kalau ada antrian kandidat perempuan yang disukai Ahsan, aku sudah tertolak masuk di dalam antrian," sambung Hasna menimpali candaan Ardi. Semuanya tertawa kecuali Ahsan. Ahsan menatap Hasna dalam diam sejenak dan Hasna menyadari raut Ahsan yang berbeda itu.
"Becanda, San," ujar Hasna sambil menunjukkan jarinya yang membentuk tanda "peace" ke Ahsan sambil tersenyum lebih lebar. Ahsan pun akhirnya ikut tersenyum bergabung dengan tawa teman-temannya yang lain.
"Udah cukup ah, becandanya. Ayo segera bertugas di pos masing-masing," ujar Ahsan  sambil sok memberi komando membubarkan teman-temannya itu diiringi dengan senyuman keenamnya.
Ada empat orang adik di kelompok mengeja huruf Arab yang dihadapi Ahsan dan Hasna. Ahsan dan Hasna duduk menghadap mereka, seperti sebelumnya Ahsan bertindak mengajar di depan, sementara Hasna lebih "merangkul" di dekat adik-adiknya. Ahsan kemudian memanggil adik-adik itu satu demi satu untuk membaca beberapa halaman huruf arab di buku iqra itu dan Hasna membantu yang lainnya, termasuk membetulkan cara pengucapannya dan panjang pendeknya. Ahsan sesekali melirik Hasna yang membantu adik-adiknya dengan ekspresif dan membuat adik-adiknya ikut ekspresif menjadi lebih riang dan bersemangat. Ahsan jadi tertular untuk ikut tersenyum dan lebih bersemangat. Setelah pelajaran mengeja dan membaca serta menulis huruf selesai, sebelum pulang seperti biasa adik-adik menyetor 2 hafalan doa harian yang doanya dipilih secara acak oleh Ahsan dan Hasna dari kumpulan doa harian yang sudah diajarkan. Ahsan dan Hasna masing-masing menghadapi 2 orang adik.
Waktu menunjukkan pukul 17.03 saat kelas mengaji pun akhirnya selesai. Raka menahan adik-adiknya untuk tidak langsung pulang karena ada permintaan dari tempat kerja Hasna untuk membuat dokumentasi, salah satunya foto bersama semua adik-adik yang belajar dan volunteer disana. Terlihat Bayu, Azka dan Ardi sedang memanggil 3 adik yang bukan beragama islam yang hanya mengikuti kelas bahasa inggris. Sementara itu Raka, Ahsan, dan Hasna menunggu di kelas sambil merapikan kelas dan bercanda dengan adik-adik disana. Hasna sedang merapikan buku-buku di raknya ketika Putri tiba-tiba mendekatinya. "Kak Hasna terlihat lebih cantik deh kalau pakai jilbab begini," ujar Putri sambil tersenyum lebar. Hasna tersenyum lebih lebar, "makasih, Putri".
"Putri juga suka sama jilbab Kak Hasna, bagus dan cantik, Kak. Kak Hasna beli dimana? Pasti mahal ya, Kak?" tanya Putri lagi dengan polosnya.
"Putri mau?" tanya Hasna diikuti dengan anggukan antusias dari Putri.
"Kalau Putri mau, jilbab Kak Hasna bisa buat Putri. Tapi nanti hari Sabtu ya Kak Hasna bawain biar dicuci bersih dulu," jawab Hasna memandang lembut Putri sambil tangannya merapikan beberapa buku yang kurang rapi.
Putri menggelengkan kepalanya pelan. "Putri nggak mau jilbab Kak Hasna, Kak. Kata Kak Ahsan dan kakak-kakak yang lain, tangan diatas itu lebih baik dari tangan di bawah Kak. Iya kan, Kak Ahsan?" ujar Putri sambil memandang ke belakang Hasna. Hasna pun menoleh ke belakang, ternyata ada Ahsan disana, sedang menyusun rapi meja lipat yang biasa digunakan adik-adik belajar. Ahsan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, "Betul sekali, Putri. Seratus buat Putri". Hasna pun ikut tersenyum dan menganggukkan kepalanya, bergantian memandang kearah Ahsan dan Putri. "Putri pingin beli jilbab seperti punya Kak Hasna, tapi Putri belum ada uang. Putri harus nabung dulu, Kak Hasna," sambung Putri sambil tertawa kecil. Hasna tersenyum lebih lebar kearah Putri, "Ya udah, kebetulan Kak Hasna punya celengan kaleng yang belum terpakai, besok Sabtu Kak Hasna bawain buat Putri biar bisa menabung di celengan itu buat beli jilbab. Nanti kalau celengan itu udah penuh, kita beli jilbab seperti jilbab Kak Hasna buat Putri. Setuju?" Kalimat Hasna itu pun langsung disambut dengan anggukan Putri yang tertawa riang. Ahsan yang ikut mendengar pembicaraan keduanya meski sambil disambi mengerjakan yang lain pun ikut tertawa melihat Putri dan Hasna yang sedang tertawa riang itu.
"Putri sukaaaa banget melihat Kak Hasna pakai jilbab. Semoga nanti Kak Hasna bisa berjilbab seterusnya, ya Kak," sambung Putri dengan riang yang disambut Hasna dengan tersenyum lebar. "Insyaa Allah, doain Kak Hasna ya Putri, semoga suatu saat Kak Hasna berjilbab seterusnya," balas Hasna.
"Aamiin," tiba-tiba terdengar suara Ahsan ikut mengaminkan membuat Hasna sedikit tertegun dan menoleh kearah Ahsan yang sedang tersenyum kearahnya. "Aamiin, makasih sudah ikut mengaminkan, San," ujar Hasna sambil balas tersenyum lebih lebar ke Ahsan kemudian diikuti kata aamiin dari Putri dengan nada ceria.
Beberapa menit kemudian, setelah semua adik yang belajar disana sudah terkumpul lengkap, dibantu seorang warga disana, mereka pun berfoto bersama dengan tema acak tapi ceria. Hasna membaur diantara adik-adik perempuan yang berdiri dan berpose tertawa bersama mereka, sementara Ahsan dan Raka ada diujung berbeda barisan adik-adik yang berdiri sambil merangkul adik-adik laki-laki dengan ceria. Sebaliknya Bayu, Azka dan Ardi pun membaur bersama adik-adik di barisan yang dalam posisi duduk.
Selepas foto bersama, adik-adik pun berpamitan pulang setelah mencium tangan semua kakak-kakak volunteer. Sementara itu, Hasna, Raka, Ahsan dkk tidak langsung pulang, mereka melakukan rapat sejenak terkait program mengajar mereka dan rencana tempat kerja Hasna membantu apa-apa yang diperlukan tapi belum tersedia di kelas tersebut. Mereka membuat daftar apa-apa saja yang diperlukan dan kegiatan-kegiatan tambahan yang bisa dilakukan untuk lebih bisa menghidupkan kelas.
Waktu menunjukkan pukul 17.45 saat mereka beranjak pulang. Raka berboncengan sepeda motor dengan Bayu, sedangkan Ardi berboncengan sepeda motor dengan Azka.
"Oh ya, Hasna dan Ahsan, perlu tumpangan nggak ke stasiun, biar kita antar," ujar Raka menawari. "Makasih, Ka tapi biar aku jalan aja ke stasiun," balas Hasna sambil tersenyum.
"Biar gue yang nemanin Hasna jalan, Ka. Gue dan Hasna kan sama-sama naik kereta meskipun beda arah," sahut Ahsan sambil tersenyum. Kata gue dan loe pun kembali mereka berlima gunakan karena sudah di luar kelas. Mereka sepakat tidak menggunakan kata itu di depan adik-adik yang belajar, melainkan menggunakan kata aku, kamu, dan saya. Meskipun demikian, khusus kepada Hasna mereka tidak menggunakan kata loe gue juga, apalagi Hasna juga lebih tua dibandingkan mereka.
"Oh iya, loe bilang kan mau insyaf ya mengurangi pergi-pergi pake kendaraan pribadi bermotor dan lebih banyak naik kendaraan umum  terhitung sejak kemarin," timpal Azka sambil tertawa kecil. Ahsan balas tertawa.
"Mengurangi emisi gas karbon karena kendaraan bermotor pribadi katanya," sambung Ardi disambut dengan acungan jempol Raka dan Bayu. Hasna pun menoleh kearah Ahsan. Ahsan yang tadinya tertawa pun tersenyum tersipu kearah Hasna yang kemudian tersenyum lebar kepada Ahsan. Ya, baru Senin kemarin Hasna melontarkan itu kepada Ahsan sambil bercanda. Hasna tidak menyangka Ahsan langsung memutuskan mengubah kebiasaannya secepat itu. Setelah mengucap salam, Raka dkk meninggalkan Ahsan dan Hasna.
Hasna pun berjalan beriringan dengan Ahsan menuju stasiun. Sesekali, Hasna melirik kearah Ahsan. Ada sesuatu yang Hasna ingin ucapkan kepada Ahsan meskipun ia ragu memulainya dari mana.
"Oh iya, San... soal bercandaan aku tadi sebelum proses belajar mulai, aku minta maaf yaaa kalau bercandaku keterlaluan," ucap Hasna akhirnya. Ahsan menoleh ke Hasna, setengah tertegun karena tidak menyangka Hasna masih mengambil hati tentang itu.
"Gapapa, Na. Akunya aja yang terlalu sensitif," ujar Ahsan sembari tersenyum.
Hasna tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan, jilbab bunga-bunga-nya sedikit berkibar karena gerakannya. "Meski niat aku memang bercanda, tapi bisa jadi candaan itu mungkin melukai hati kamu. Apa yang menurut aku gurauan bisa jadi bukan bagi kamu, San. Dari ekspresi wajah kamu, aku bisa merasakan kamu tidak nyaman dengan perkataan aku tadi. Maaf ya".
Ahsan terdiam, dia bingung bagaimana menjelaskan ketidaknyamannya kepada Hasna. Rasa tidak nyaman itu hinggap di hatinya tanpa Ahsan tahu apa alasannya. Dia hanya tidak suka saat mendengar Hasna mengucapkan kalimat itu, meski Ahsan tahu Hasna hanya bercanda.
"Kamu mau maafin aku kan, San?" Suara Hasna membuat Ahsan kembali menoleh ke gadis berjilbab bunga-bunga di sebelahnya itu. Ahsan tersenyum lebar sambil pura-pura berpikir kemudian mengangguk. "Tidak ada yang perlu dimaafkan sebenarnya, Na tapi aku terima permintaan maaf kamu. Kamu juga maafin aku ya kalau ada yang tidak berkenan". Hasna pun balas tersenyum lebar sembari mengangguk.
"Oh iya Na, setiap Rabu, kamu bakal pakai jilbab kan di kelas mengaji?" tanya Ahsan kemudian dibalas Hasna dengan tersenyum dan mengangguk, "Nggak apa-apa kan, San?"
Ahsan pun tersenyum. "Pastinya nggak apa-apa, Na. Seperti yang Putri bilang tadi, kamu terlihat lebih cantik mengenakan jilbab, Hasna".
"Terima kasih," ujar Hasna sembari membalas senyuman Ahsan dengan senyuman yang riang. Perlahan senyum Ahsan dan Hasna berubah menjadi tawa riang diantara keduanya, membaur bersama senja yang tersenyum bersama keduanya.

Mengenalmu membuat hati tak bisa mengabaikan tentangmu. Tentangmu adalah istimewa hingga memori menyediakan ruang khusus buatmu, meski hanya ruang tak bernama. Dan bersamamu, selalu terselip senyum dan tawa  

Tokoh imajinasi :
Anisa Rahma as Hasna
Rizky Nazar as Ahsan

Catatan kecil : semoga Tuhan selalu menjaga kalian berdua, Rizky dan Anisa :)

Part Setelahnya

Sabtu, 23 Januari 2016

See You Again When The Next Blue Moon Appears : Ahsan Hasna Part 1 s.d. 3

Blue moon malam itu sangat indah. Membuat mereka bertemu disana. Pandangan yang dibuai rindu menantikan seseorang untuk mengisi hati mereka. Seseorang yang berusaha untuk ditemukan sekaligus selalu dinanti. Seseorang yang belum menjelma bahkan meski hanya dalam nama. Mereka hanya tersenyum memandangi makhluk malam yang indah diterangi sinar makhluk siang bernama matahari itu. Pandangan mereka beradu meski waktu masih menjaga mereka untuk bisa bertemu. Pandangan Ahsan dan Hasna. "Apa aku dan kamu sedang memandang bulan yang sama, seseorang tak bernama? Aku menunggumu. Semoga saat blue moon selanjutnya berbagi indahnya, aku dan kamu bisa melihatnya bersama, kita duduk bersebelahan, tersenyum bersama dan blue moon gantian memandangi kita yang saling berpandangan tanpa lagi menitipkan rindu kepadanya".

Tokoh Imajinasi : Rizky as Ahsan dan Anisa as Hasna 

PART 1 Intro : Ahsan dan Hasna
Ahsan adalah seseorang mahasiswa usia 20 tahun. Dia adalah salah satu aktivis kampus yang menjadi idola banyak perempuan. Berwajah tampan, nilai mata kuliahnya pun cemerlang, jago bermain futsal, dan aktif di sebuah wadah debat bahasa inggris di kampusnya. Selain itu, dia bersama teman-temannya aktif mengajar bahasa Inggris dan mengaji untuk adik-adik yang tinggal di daerah kumuh dekat bantaran rel yang memang menjadi binaan organisasinya. Semua pesona yang ada didirinya membuat banyak perempuan jatuh hati sekaligus penasaran kepadanya. Pasalnya, Ahsan selalu ramah, peduli dan humble kepada teman-temannya, baik laki-laki maupun perempuan. Namun demikian, sejak masuk kuliah, tak pernah sekalipun terdengar Ahsan menobatkan satu perempuan pun sebagai pacarnya. Meski dia bukan barisan ikhwan yang aktif di rohis kampusnya, tapi dia salah satu high quality single, sebagaimana doa orang tuanya "semoga dia menjadi laki-laki terbaik" lewat namanya, Ahsan.

Hasna, seperti doa orang tuanya lewat namanya, adalah perempuan cantik yang mandiri berusia 25 tahun. Dia sedang mengambil pendidikan masternya di bidang perencanaan perkotaan diantara kesibukannya bekerja di NGO yang peduli tentang anak-anak. Kecantikan Hasna yang terpancar dari hatinya dan semangat serta sifat cerianya, membuat beberapa laki-laki ingin mendekatinya. Meskipun demikian, laki-laki tersebut mundur teratur saat Hasna mengatakan pandangannya tentang hidup dan pilihannya untuk berkomitmen bukan hanya sekedar hubungan bersenang-senang tanpa arah. Meski heran dan sedikit trauma, Hasna tetap memegang apa yang diyakininya itu. Ia percaya bahwa Tuhan menciptakan seseorang yang tepat menjadi pasangannya, meski Hasna pun tak tahu sampai kapan ia harus menunggu. Hasna akan tetap bersabar dan berusaha tetap terlihat agar bisa ditemukan oleh dia yang belum punya nama di hatinya, kecuali nama panggilan yang diberikan Hasna di tiap doanya yaitu CINTA. Bersama CINTA dia punya satu impian sederhana, melakukan volunteering bersamanya, merajut bahagia mereka bersama dengan menjadi manusia yang berbagi manfaat. Bersama CINTA dia ingin menjadi tetap dan lebih baik bersama. Bersama CINTA dia ingin menghabiskan hidup bersamanya. 

PART 2 Blue Moon dan Pertemuan Pertama

31 Mei 2015
Ahsan sedang memandangi fenomena blue moon malam itu. Purnama kedua di bulan Mei itu memang dinantinya, sesuai perkiraan yang sudah tersebar luas di internet dan media lainnya. Ahsan selalu mengagumi purnama. Purnama membuat bintang-bintang memiliki kawan untuk menerangi langit malam meski bulan hanya meminjam cahaya matahari. Ahsan menatap takjub kebesaran Tuhan malam itu yang membuatnya ingin bercanda lama bersama langit kelam yang terang. Ahsan berdiri di pinggir jendela kamarnya yang lampunya sengaja ia padamkan ketika kemudian  handphonenya bergetar. 
"San, ini nomer Hasna, volunteer (relawan) yang akan bergabung dengan kita. Besok, tolong temui dia di stasiun jam 14.30. Perkenalkan dia dengan adik-adik dan kegiatan kita ya. I count on you, Bro. Thank you (Aku mengandalkanmu, terima kasih)". Ahsan memandangi pesan whatsapp dari Raka, koordinator mengajar di kelas bantaran rel kereta dan menyimpan kontak bernama Hasna itu. Iseng Ahsan membuka kontak itu di whatsapp ketika ia melihat seorang perempuan tersenyum manis bersama dua orang anak kecil di foto profilnya. Senyuman itu terlihat lepas dan posenya pun terlihat alami. Bibir Ahsan otomatis ikut membentuk raut senyum melihatnya. "Semoga volunteer perempuan kali ini tidak akan bermasalah seperti sebelumnya," ucap Ahsan dalam hati. Ahsan punya alasan berharap seperti itu, dia pernah mengizinkan dua cewek adik kelasnya untuk ikut menjadi volunteer selama satu hari mendampingi Ahsan, tapi hal itu justru membawa pengaruh yang kurang baik bagi adik-adik kecil di bantaran rel yang diajarnya. Kedua cewek adik kelasnya itu tidak terbiasa dengan kondisi di bantaran rel yang serba terbatas sehingga kehadiran mereka justru menyusahkan adik-adik yang belajar disana sehingga tidak bisa berkonsentrasi seperti biasa. Beberapa hari setelahnya, Ahsan baru tahu bahwa motif adik kelasnya ikut hanya ingin menarik perhatian Ahsan saja. Ahsan kembali memandangi blue moon dengan senyumnya kemudian kembali melihat ke foto profil perempuan bernama Hasna itu lalu menutupnya. Entah kenapa hatinya optimis dan mempercayai kesungguhan dan ketulusan Hasna, perempuan pemilik senyum lepas itu.
Di tempat lain, Hasna terlihat juga sedang asyik bercanda dengan blue moon dan bintang-bintang dari balik jendela kamarnya di lantai 2. Bibirnya bergantian menyunggingkan senyum dan tawa. Ada kalanya, tangannya menggoreskan kata demi kata bersama tinta bolpoinnya. 
"Ada yang bilang blue moon mencerminkan penghianatan purnama kepada siklus seharusnya dimana jika biasanya purnama hanya sekali muncul dalam satu bulan, tapi blue moon muncul sebagai purnama kedua pada bulan yang sama. Namun, bagi aku penyuka bulan purnama, blue moon adalah even istimewa dimana bulan purnama memiliki kawan di bulan yang sama," tulis Hasna sambil lirih mengucapkannya. Blue moon malam itu seolah mengingatkan Hasna bahwa meski mungkin ada banyak bulan purnama tak berkawan di tiap bulannya, akan tiba masanya purnama kedua akan muncul di bulan yang sama. Sebuah analogi yang membangkitkan semangat Hasna tentang teman hidup yang masih tak mampu Hasna lihat tapi selalu ditunggunya. Beberapa tahun ini, Hasna tak pernah berkawan seperti purnama yang tak punya kawan sesamanya di bulan yang sama. Namun Hasna percaya, akan tiba masanya blue moon akan muncul, Hasna akan menemukan seseorang untuk berkawan dalam komitmen yang Hasna impikan. Dirinya hanya perlu bersabar, tetap bersinar, dan tidak putus asa menanti seorang kawan yang tepat untuknya, teman hidup baginya, seseorang yang tetap dirindukannya di dalam hati.

Blue moon malam itu sangat indah. Membuat mereka bertemu  disana. Pandangan yang dibuai rindu menantikan seseorang untuk mengisi hati mereka. Seseorang yang berusaha untuk ditemukan sekaligus selalu dinanti. Seseorang yang belum menjelma bahkan meski hanya dalam nama. Mereka hanya tersenyum memandangi makhluk malam yang indah diterangi sinar makhluk siang bernama matahari itu. Pandangan mereka beradu meski waktu masih menjaga mereka untuk bisa bertemu. Pandangan Ahsan dan Hasna. "Apa aku dan kamu sedang memandang bulan yang sama, seseorang tak bernama? Aku menunggumu. Semoga saat blue moon selanjutnya berbagi indahnya, aku dan kamu bisa melihatnya bersama, kita duduk bersebelahan, tersenyum bersama dan blue moon gantian memandangi kita yang saling berpandangan tanpa lagi menitipkan rindu kepadanya".

Keesokan harinya, Ahsan baru keluar dari kelasnya ketika seseorang menepuk bahunya. "Buru-buru amat, Bro". Terlihat Ardi berdiri menyejajarinya. 
"Iya nich, mau pulang dulu, kan nanti sore ada jadual ngajar di kelas bantaran rel," jawab Ahsan sambil tersenyum lebar.
"Oh iya, ini hari Sabtu ya. Btw, loe udah tahu kan San, teman-teman pada ga bisa nanti sore?"
Ahsan menganggukkan kepalanya. "Iya, Raka kemarin nitip kelas ke gue, katanya ada volunteer yang mau gabung ngajar disana. Gue diminta sekalian menyambut dia sore ini mewakili dia sebagai koordinator". Ardi menganggukkan kepalanya. "Loe tuh emang cowok paket komplit ya, San, pantes aja cewek-cewek pada ngefans ke loe. Ini ada titipan kado dan surat dari beberapa fans loe," ujar Ardi sambil menyerahkan sebuah kantong plastik kepada Ahsan dan tertawa ngakak. Ahsan menerimanya dengan ekspresi bertanya-tanya. "Aku cuma menyampaikan, selanjutnya kamu yang memutuskan,"sambung Ardi dibalas Ahsan dengan anggukan sembari tertawa pasrah. Mereka berdua pun berpisah jalan. Ini memang bukan kali pertama Ahsan menerima hal-hal yang semacam itu. Ahsan tidak keberatan, seperti yang sudah-sudah ia dengan santai dan sabar membalas dengan baik surat-surat untuknya dari cewek-cewek di kampusnya, mulai dari surat pernyataan cinta, rasa kagum, atau bahkan surat iseng dan tak jelas maksudnya. Begitu pun dengan kado-kado yang diterimanya. Ahsan dengan sabar mengembalikan kado-kado itu kepada pemiliknya, meski sebagian dari mereka menolak kadonya dikembalikan sehingga Ahsan meminta izin kepada mereka untuk memberikan kado itu ke adik-adik di bantaran rel atau jika berupa makanan, ia juga membagikannya kepada teman-temannya di kampus atau organisasi. Ahsan berusaha menghargai mereka sebisa mungkin ia bisa lakukan. Namun, dari sekian banyak perempuan itu, tak satupun diantaranya menempati ruang hatinya. Ahsan seolah menikmati kesendiriannya dengan segudang aktivitasnya. Ahsan pun tak mau memberi harapan kepada satu perempuan pun tentang dirinya. "Semua akan indah pada waktunya dan aku akan berjuang saat waktu itu telah tiba," kalimat itu yang selalu Ahsan pegang untuk dirinya sendiri. 10 menit kemudian Ahsan sudah duduk manis di dalam mobil jenis sport miliknya dan ia pun bergegas pulang.
Waktu menunjukkan pukul 02.00 siang saat Hasna keluar dari kereta rel listrik (KRL). Kantor NGO tempat Hasna bekerja menugasi dia ikut menjadi volunteer (relawan) bekerja sama dengan salah satu organisasi yang bergerak di bidang pendidikan anak marjinal, salah satunya anak-anak yang hidup di bantaran rel setiap hari Rabu dan Sabtu. Selain karena tugas kantor, Hasna memang tertarik berinteraksi dengan anak-anak kecil dan belajar serta bermain bersama mereka. Hasna sudah menghubungi koordinator organisasi tersebut dan Hasna diminta menunggu di pintu keluar stasiun KRL yang berada tak jauh dari kelas mereka jam 14.30. Hasna sedang asyik mengamati kondisi pemukiman di dekat stasiun itu ketika ada yang memanggil namanya. "Mbak Hasna...". 
Seorang laki-laki asing berdiri beberapa langkah di depannya sambil tersenyum.
"Aku Ahsan, teman Raka yang mengajar di kelas bantaran rel. Maaf agak terlambat, jalanan lumayan macet tadi," ujarnya sambil melirik arlojinya yang menunjukkan pukul 14.35.
Hasna tersenyum, "Tidak apa-apa, aku juga baru datang".
Ahsan dan Hasna pun berjalan beriringan. Obrolan perkenalan mereka pun berlanjut tentang siapa mereka masing-masing. Ahsan juga menjelaskan tentang gambaran kelas yang akan mereka ajar. 
"Oh iya, Ahsan, panggil aku Hasna saja," pinta Hasna sambil tersenyum.
"Memang tidak apa-apa?" balas Ahsan bertanya balik.
Hasna mengangguk." Meski aku lebih tua dari kamu, tapi aku ga ingin ada jarak antara aku dan kamu juga teman-teman kamu. Jadi tolong jangan sungkan ke aku. Di tempat aku bekerja, orang terbiasa memanggil namaku baik itu senior maupun junior aku," jelas Hasna sambil tersenyum lebih lebar memandang kearah Ahsan.
Ahsan balas memandangi Hasna sejenak dengan tersenyum makin lebar. "Oke, deal Mbak Has ups Hasna maksudnya. Untuk pertama kalinya, tawa pun pecah diantara Ahsan dan Hasna. 
Beberapa menit kemudian, setelah melewati beberapa jalan tikus, Ahsan dan Hasna pun tiba di sebuah bangunan dari kayu berukuran 5 meter × 5 meter yang difungsikan sebagai kelas. Di depan kelas terpampang sebuah tulisan dari kertas tempel "Let's be brave to have a dream". Kemudian ada tulisan berbahasa indonesia di bawahnya "(Ayo berani memiliki mimpi)". Terlihat beberapa anak kecil usia 7-12 tahun keluar menyambut kedatangan Ahsan dengan ceria dan mencium tangan Ahsan. "Mana Kak Raka dan kakak yang lainnya, Kak? Kak Ahsan datang sama siapa?" tanya seorang adik diikuti raut penasaran dan sependapat dari adik-adik yang lain.
"Nanti Kak Ahsan akan kenalin ke adik-adik. Sekarang kita sholat Ashar berjamaah dulu yuk, Kak Ahsan yang jadi imamnya. Ayo yang belum wudlu segera ambil wudlu ya".
"Sebelum kelas mulai, kami biasanya sholat Ashar berjamaah dulu, Hasna. Raka memberitahu kamu untuk membawa mukena kan?" ucap Ahsan menoleh kearah Hasna.
Hasna menggelengkan kepalanya tetap tersenyum, "Hmmm sepertinya Raka lupa memberitahu tentang ini ke aku. Tapi, kebetulan aku sedang berhalangan sholat, San. Pertemuan selanjutnya aku bakal bawa mukena biar bisa sholat bareng".
Ahsan mengangguk sambil tersenyum. "Kalau begitu aku tinggal ambil wudlu dulu, ya Na. Kamu duduk saja dulu di dalam kelas," ujar Ahsan menyilahkan dibalas Hasna dengan anggukan kepalanya.
Hasna melepas sepatu ketsnya dan duduk di bagian belakang kelas yang ada disebelah timur.
Di ruangan kelas itu tak ada bangku, hanya beberapa tikar terhampar rapi disana. Terlihat beberapa meja belajar lipat tersandar di tepi kelas itu. Beberapa sajadah tersusun rapi, beberapa adik laki-laki mengambil tempat di depan dan adik-adik perempuan mengambil tempat di belakang. Sesekali adik-adik itu melihati Hasna dan Hasna pun tersenyum lebar dan ramah kearah mereka meski dengan sedikit rasa canggung. Adik-adik itupun balas tersenyum padanya.
Hasna membuka sebuah lemari yang berisi buku diktat belajar bahasa inggris dan membacanya ketika ia melihat Ahsan masuk dan lagi-lagi tersenyum kearahnya. "Aku tinggal sholat dulu, Hasna," ucapnya dibalas anggukan Hasna sembari tersenyum.
Hasna sesekali mengamati Ahsan dan adik-adik yang sedang sholat berjamaah itu dengan tersenyum. Sudah lama dia tidak pernah melihat pemandangan semacam itu dan ia merindukannya. 
Terdengar suara Ahsan mengucapkan salam tanda selesainya sholat Ashar, adik laki-laki pun berhambur mencium tangan Ahsan. Hasna hanya tertawa kecil melihatinya.
"Oh iya, adik-adik yang perempuan, ayo salamin tangan kakak perempuan yang duduk di belakang ya," ujar Ahsan memberitahu adik-adik perempuan yang sedang asyik melipat mukena. Ahsan dan Hasna pun saling bertukar pandang dan senyuman sejenak. Dan tanpa perlu waktu lama, Hasna pun "diserbu" oleh beberapa adik perempuan yang ingin mencium tangannya. Hasna pun hanya tersenyum lebar, ia sambut tangan-tangan kecil itu dengan mengusap lembut kepala mereka. Ahsan pun ikut tersenyum lebar melihatnya.
Adik-adik itu pun mulai membuka meja belajar lipat masing-masing dan Ahsan mulai membersihkan tulisan di white board sisa mereka belajar hari rabu sebelumnya. Ahsan memanggil Hasna yang masih duduk di belakang untuk maju berdiri di sebelahnya.
"Adik-adik, hari ini Kak Raka dan kakak yang lainnya tidak bisa datang karena ada kesibukan terkait kuliah. Jadi hari ini belajar bahasa inggrisnya sama Kak Ahsan. Tapi Kak Ahsan nggak sendirian. Perkenalkan ini Kak Hasna yang akan ikut mengajar disini," ujar Ahsan sambil tersenyum ramah melirik kearah Hasna. "Ayo ucapin salam perkenalan," sambung Ahsan bersemangat.
"Good afternoon, Kak Hasna...," ucap adik-adik di kelas itu penuh semangat dan senyuman ramah.
"Good afternoon. Nice to meet you. Senang bertemu kalian semua, adik-adik," balas Hasna dengan senyum mengembang dan wajah riang.
"Welcome to our class, Kak Hasna. Thank you for joining our class. I hope you'll enjoy every moment here. Selamat datang di kelas kami, Kak Hasna. Terima kasih sudah bergabung dengan kelas ini. Semoga Kak Hasna menikmati kebersamaan disini," sambung Ahsan sambil tersenyum lebar.
"Thank you, Kak Ahsan," balas Hasna sembari tertawa kecil. 
Terlihat seorang adik usia sekitar 11 tahun mengangkat jarinya.
"Ya Ridwan," sahut Ahsan.
"Jadi Kak Hasna akan mengajar hari ini saja seperti teman cewek Kak Ahsan sebelumnya atau berlanjut seterusnya, Kak Ahsan?"
Ahsan tersenyum merasa geli mengingat insiden volunteer perempuan sebelumnya. Ahsan melirik Hasna memintanya untuk menjawab pertanyaan itu.
"Insyaa Allah Kak Hasna bakal ikut menemani adik-adik disini belajar sampai beberapa bulan kedepan," jawab Hasna dengan ramah.
Terlihat seseorang yang lain mengangkat tangannya sambil tersenyum tersipu.
"Ada apa Putri?" jawab Ahsan ke adik perempuan usia sekitar 10 tahun itu.
"Emmmmm... emmm.. apa Kak Hasna ini  ceweknya Kak Ahsan?" tanya adik bernama Putri itu agak ragu dan salah tingkah. Kontan saja pertanyaannya itu membuat teman-teman di kelas ribut dan tertawa. "Cieee Putri cemburu Kak Ahsan". Spontan Putri sambil malu-malu langsung melakukan pembelaan diri ke teman-temannya yang menggodanya.
Sementara Ahsan dan Hasna terlihat saling berpandangan. Ahsan terlihat tersenyum dan sedikit salah tingkah sedangkan Hasna terlihat sedikit bengong tapi balas tertawa kecil. Ahsan pun ikut tertawa bersama Hasna menanggapi pertanyaan lucu itu.
"Kak Ahsan sama Kak Hasna itu teman, sama seperti dengan Kak Raka, Kak Ardi dan kakak-kakak yang lain," jawab Ahsan kemudian sambil menenangkan kelas yang sempat ribut. Hasna yang berdiri di sebelah Ahsan pun ikut menganggukkan kepalanya. 
Ahsan memulai membagikan selembar kertas latihan buat adik-adik disana. Kelas itu dibagi menjadi tiga kelompok sesuai kemampuan adik-adik disana. Ahsan terlihat menjelaskan materi ke ketiga kelompok itu sementara Hasna membantu Ahsan, ia berkeliling dari satu kelompok ke kelompok lain menanyai kesulitan adik-adiknya lebih dekat.
Setelah adik-adik itu selesai menjawab, Ahsan mengoreksi sementara Hasna diminta Ahsan membantu untuk menangani adik-adiknya setor hafalan bahasa inggris tentang nama-nama buah dan cara mengejanya.
Dengan penuh semangat Hasna melakukan tugasnya. Sesekali ia pun tertawa bersama adik-adik itu yang kadang suka lupa dengan hafalannya atau salah mengeja. Ahsan sesekali mengamati Hasna yang bercanda tawa dengan adik-adik yang baru dikenalnya itu. Senyuman dan tawa lepas Hasna itu membuatnya ikut tersenyum lebar dan Ahsan menyukainya.
Ahsan kemudian membahas jawaban latihan soal yang diberikan secara bergantian untuk ketiga kelompok itu, sementara Hasna lagi-lagi bertindak membantu Ahsan layaknya asisten. 
Waktu di arloji Ahsan menunjukkan pukul 17.15 ketika belajar bahasa inggris hari itu akhirnya selesai. Adik-adik itu berhamburan pulang setelah mencium tangan Ahsan dan Hasna.
Ahsan bergegas merapikan buku dan kamus bahasa inggrisnya, sementara Hasna pun memutuskan untuk membantu menghapus papan tulis sembari menunggu Ahsan. Ahsan kemudian melipat tikar bersama Hasna. Setelah semuanya rapi, mereka pun beranjak pulang menyusuri jalan yang sama dengan ketika mereka datang tadi.
Beberapa jalanan di gang terlihat sedikit tergenang. Hujan sempat mengguyur daerah itu ketika mereka sedang berada di tengah pelajaran.
Ahsan menoleh ke Hasna. Perempuan itu terlihat santai  menikmati perjalanannya sambil mengamati pemukiman yang super rapat di bantaran rel itu meski sesekali dia terlihat berjingkat menghindari genangan air agar sepatunya tidak basah.
"Kamu tidak apa-apa dengan kondisi di sekitar kelas yang seperti ini, kalo hujan becek kalo panas berdebu?" tanya Ahsan.
Hasna balas menoleh ke Ahsan sambil tersenyum, ia menggelengkan kepalanya. "Gapapa, San. Memang seperti ini fenomena di daerah perkotaan kita yang masih menjadi PeEr bersama buat dicari solusinya". 
Ahsan balas tersenyum lebar sambil mengangguk. "Kamu nggak risih dengan semua ketebatasan yang ada di lingkungan kelas kita, Na?" tanya Ahsan lagi. Ahsan seolah ingin meyakinkan hatinya yang memercayai ketulusan perempuan itu.
Hasna tertawa kecil lagi-lagi menggelengkan kepalanya. "Bukannya itu salah satu tantangan voluntarisme, San. Kita ingin mereka yang hidup dengan lingkungan penuh keterbatasan memiliki keberanian untuk menjadi lebih baik". Ahsan pun mengangguk setuju. Lagi-lagi Ahsan dan Hasna tertawa bersama.
Setelah sampai di stasiun, Ahsan dan Hasna berpisah. Mereka naik KRL yang berlainan arah.
"Sampai jumpa hari Rabu, Hasna," ujar Ahsan sambil tersenyum lebar.
"Insyaa Allah, San. Sampai bertemu lagi, balas Hasna tersenyum lebih lebar. Setelah saling berbalas salam, Hasna bergegas berlari buru-buru masuk kedalam KRL yang baru datang sementara Ahsan memandangi Hasna yang berlarian itu sambil menunggu kereta yang dinaiki Hasna berangkat dan ia bisa menyeberang di jalur KRL yang akan dinaikinya.

PART 3 Bertemu Lagi
Siang itu, Ahsan sedang asyik menikmati makan siangnya bersama dua teman laki-lakinya di kantin fakultasnya. Mereka larut dalam canda tawa ala ala cowok ketika Ahsan tiba-tiba melihat sosok Hasna masuk ke kantin, mengedarkan pandangannya mencari tempat duduk.  
"Hasna... kenapa dia bisa ada disini?" tanya Ahsan dalam hati tak habis pikir karena fakultas Ahsan dan Hasna memang berbeda.
Ahsan menghampiri Hasna.
"Hasnaaa... kok kamu bisa ada disini?"
Sapaan Ahsan yang tiba-tiba sudah berada di hadapan Hasna dengan senyum ramahnya pun membuat Hasna sedikit tertegun.
"Ahsan..., " ujar Hasna balas tersenyum, "iya kebetulan ada penelitian yang aku cari di perpustakaan fakultas ekonomi". 
"Kamu mau makan siang ya, kalau kamu nggak keberatan, gabung semeja sama aku dan teman-teman yuk," lanjut Ahsan sambil menunjuk kearah tempat duduk dia dan teman-temannya. Kantin fakultas ekonomi terlihat sangat rame siang itu, maklum alarm perut makan siang mahasiwa, pegawai, dan pengunjung fakultas  terjadual di jam yang sama. Hasna menoleh kearah yang ditunjuk oleh Ahsan. Terlihat ada dua mahasiswa laki-laki sebaya Ahsan di tempat duduk yang diperuntukkan buat empat orang itu. Untuk sejenak, Hasna bingung menjawab, ia sekali lagi mengedarkan pandangannya ke sekitar, tetap tak ia temukan satu tempat pun kosong.
"Hasnaaa... ," panggil Ahsan lagi membuat Hasna menoleh pada laki-laki yang baru dijumpainya sekali beberapa hari sebelumnya itu. Hasna tersenyum dan mengangguk, ia pun menerima ajakan Ahsan buat makan semeja siang itu. Hasna berjalan mensejajari Ahsan ketika Hasna merasa ada beberapa pasang mata yang memandang kepadanya dan kebanyakan diantaranya adalah perempuan. 
"Apa ada yang salah ya denganku, ya? Atau ini hanya perasaanku saja?" tanya Hasna dalam hati. 
Hasna berusaha tidak terlalu memikirkannya, sesekali ia beranikan diri balas menatap mereka yang memandanginya. Terlihat perempuan itu sedang berbisik dengan temannya sambil memandangi Hasna dengan aneh kemudian bergantian melihati Ahsan dengan binar kekaguman.
"Apa gara-gara aku jalan bersama Ahsan?" tanya Hasna lagi sambil menunduk ketika suara Ahsan menyadarkan Hasna dari monolognya.
"Kita sudah sampai, Hasna. Ayo duduk," terlihat Ahsan sedang tersenyum ramah menyilahkan Hasna duduk di sebelahnya.
"Terima kasih".
Ahsan langsung mengenalkan Hasna kepada dua temannya itu. 
"Kamu mau pesan apa, Hasna. Biar aku pesanin," ujar Ahsan lagi menawarkan ke Hasna. 
Hasna tersenyum lebar. "Aku bisa pesan sendiri, San," jawabnya.
"Saat ini aku adalah tuan rumah disini dan kamu adalah tamu, sudah sewajarnya aku membantumu, Na".
Hasna menggelengkan kepalanya sambil mengucapkan terima kasih. "Laki-laki yang cukup perhatian," batin Hasna sembari melirik sejenak ke Ahsan kemudian lagi-lagi tersenyum. Hasna beranjak mengitari stand makanan yang ada di kantin itu.
Ahsan masih memandangi punggung Hasna ketika suara temannya mengagetkannya.
"Ehm ehm... emang siapa sih dia, Bro.. sampe segitunya loe perhatiin dia?"
Ahsan menatap kedua temannya sambil tersenyum. "Volunteer baru yang gabung di project bantaran rel. Dia lagi ambil S2 di jurusan perencanaan perkotaan, tapi dia peduli ke anak kecil. Perasaan biasa aja perhatian aku sama dia, emang ada yang aneh?"
"Loe selalu ramah sih sama semua cewek, tapi gue ngerasanya perhatian loe ke Hasna ga seperti biasa deh. Jangan-jangan selera loe emang cewek yang lebih tua dari loe ya?" tanya teman Ahsan lagi sambil setengah ribut menggoda Ahsan. Ahsan menggelengkan kepalanya pelan sambil menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya, apalagi Hasna pun sudah datang. Ahsan tidak merasa bahwa perhatiannya ke Hasna berlebihan, tapi yang Ahsan tahu dia ingin dan suka melakukannya buat Hasna.
Lima menit kemudian, pesanan makanan Hasna pun datang. Kedua teman Ahsan terlihat cepat-cepat menghabiskan makanan dan minuman mereka, hal itu berlawanan dengan Ahsan yang justru memperlambat kecepatan makannya untuk menemani Hasna. 
"Kita duluan ya, San. Mau sholat di musalla," ujar Ardi salah satu teman Ahsan. Tanpa membuang waktu, keduanya langsung berdiri dan mengucap salam ke Ahsan dan Hasna sambil tersenyum. Sementara itu Ahsan hanya bisa bengong sejenak, merasa dikerjain oleh kedua temannya itu, sedangkan Hasna hanya bisa mengangguk dan tersenyum lebar sambil merasa sedikit canggung karena tiba-tiba ditinggalkan semeja berdua dengan Ahsan.
Kini tersisa Ahsan dan Hasna yang duduk berhadapan di meja yang sama. Sejenak mereka membisu tanpa kata, Hasna berkonsentrasi penuh menghabiskan makanannya.
"Habis makan, kamu mau ke perpus atau udah mau pulang, Na?" tanya Ahsan akhirnya memecah kesunyian. 
"Aku baru sampai, San. Berhubung perut sudah laper, jadinya ke kantin dulu baru ke perpus, he he," jawab Hasna sambil tersenyum lebar mencairkan rasa canggungnya. 
Hasna memberitahu Ahsan bahwa ini baru pertama kali dia ingin meminjam atau mencari referensi disana, makanya Hasna serba  meraba-raba kondisi dan lokasi di fakultas tempat Ahsan belajar itu. 
"Kalo kamu ga keberatan, aku bersedia menemani kamu ke perpus siapa tahu ada yang bisa aku bantu," Ahsan menawarkan bantuannya kepada Hasna.
"Emang kamu ga ada kuliah habis ini? Aku ga mau mengganggu aktivitas kamu, San," jawab Hasna.
"Aku senang kalo bisa membantu kamu kok, Na. Aku sama sekali tidak merasa terganggu dan direpotkan. Lagi pula aku ga ada kuliah lagi," sambung Ahsan dengan tersenyum tetap dengan tawarannya. Hasna pun tersenyum, "Kalau memang kamu bersedia, aku terima tawaran kamu. Hmmm lagi pula aku merasa ga berhak melarang kamu berbuat baik," jawab Hasna riang. Hasna terlihat tersenyum super lebar membuat Ahsan ikut tertawa lebar. Senyuman lepas  Hasna seperti medan magnit yang membuat Ahsan ingin ikut tersenyum saat melihatnya. 
Beberapa menit kemudian, Hasna sudah jalan berdua di sebelah Ahsan yang hari itu menjadi pemandu (guide) gratisan buat Hasna menuju ke perpustakaan fakultas. Suasana diantaranya sudah cair sehingga obrolan diantara mereka mengalir dengan sendirinya dengan tema yang sangat acak. Meskipun demikian, lagi-lagi Hasna tidak bisa cuek melihat pandangan beberapa perempuan yang berpapasan dengan mereka, pandangan yang sama ketika Hasna sedang di kantin sebelumnya.
"San... yakin gapapa kita jalan berdua seperti ini?" tanya Hasna tiba-tiba membuat Ahsan menghentikan langkahnya dan menoleh kepadanya dengan raut bertanya-tanya.
Hasna tersenyum lebar, "Dari tadi di kantin dan juga sekarang saat kita berdua, aku melihat banyak mata, kebanyakan perempuan yang memerhatikan ketika aku jalan bareng kamu. Sepertinya aku sedang berjalan dengan salah satu laki-laki yang diidolakan di fakultas ini".
Ahsan balas tersenyum, "Nggak usah terlalu dipikirkan, Na. Mungkin mereka cuma penasaran siapa kamu". 
"Lebih tepatnya penasaran apa hubungan aku dengan kamu kali, San. Siapa perempuan biasa yang dengan santai berjalan dengan laki-laki spesial ini, he he," jawab Hasna santai. Ahsan dan Hasna lagi-lagi saling berbalas senyum. 
"Hmmm... so Ahsan, as one of popular guys here, do you have a special girl friend or some special girl friends maybe? (Ind: Hmmm..., jadi Ahsan, sebagai salah satu cowok populer disini, apa kamu punya seorang teman cewek istimewa atau mungkin beberapa teman cewek istimewa?)" tanya Hasna iseng menggoda Ahsan sambil tertawa kecil. Ahsan balas tertawa entah kenapa ia selalu bersemangat membalas setiap senyuman dan tawa Hasna untuknya. Ahsan kemudian menggelengkan kepalanya saat mata keduanya beradu sejenak. 
"Aku laki-laki yang belum siap berkomitmen dengan perempuan, Hasna. Komitmen buat aku adalah sesuatu yang jauh diawang-awang," jawab Ahsan ringan. Hasna terdiam tetap menatap Ahsan sejenak. Kalimat Ahsan mengingatkan Hasna pada beberapa laki-laki yang pernah dikenalnya, tentang ketakutan mereka akan komitmen, meskipun mungkin definisi komitmen menurut Ahsan dan dirinya sepertinya berbeda. Ahsan dengan usianya yang masih relatif muda darinya mungkin menganggap sekedar pacaran adalah sebuah komitmen, sementara buat Hasna komitmen adalah menjalani sebuah hubungan dengan tujuan yang satu, menuju sebuah ikatan sakral bernama pernikahan terlepas apakah hubungan itu nantinya akan berujung di pernikahan atau sebaliknya. 
"Hasna...," panggil Ahsan terlihat bingung dan sedikit salah tingkah melihat Hasna yang sejenak diam terlihat melamun menatapnya.
Hasna tersadar dan buru-buru tersenyum lebar kepada Ahsan, "Maaf, San tiba-tiba aku merasa familiar dengan kalimat kamu tadi, he he".
"Apa ada yang salah dengan kalimatku?" tanya Ahsan penasaran.
Hasna menggelengkan kepalanya masih dengan senyumnya kemudian ia mengalihkan obrolan bertanya-tanya tentang tempat-tempat yang mereka lalui. Sejenak, Ahsan beberapa kali memandangi Hasna, seolah ingin meyakinkan dirinya bahwa Hasna baik-baik saja, sambil menjawab pertanyaan demi pertanyaan Hasna dengan semangat.
Tak berapa lama kemudian, mereka akhirnya sampai di perpus. Dengan sigap Ahsan membantu Hasna terkait prosedur administrasi di perpustakaan fakultasnya itu. 
"Oh iya, Na... aku mau sholat dulu di mushalla atas, apa kamu juga mau sholat?" tanya Ahsan sambil tersenyum lebar ke Hasna. Hasna pun mengangguk dan mengikuti Ahsan ke ruang sholat.
Ruang sholat terlihat sepi, hanya beberapa orang terlihat baru menyelesaikan sholatnya. 
Hasna baru menyelesaikan wudlunya dan mengeluarkan mukena dari tasnya ketika Ahsan yang ada di depannya menoleh padanya. "Kita sholat berjamaah yuk, Na," ujarnya sambil tersenyum. Hasna pun menganggukkan kepalanya dan segera memasang mukenanya, tak ingin membuat Ahsan lebih lama menunggunya. Ini kali pertama Hasna diajak sholat berjamaah berdua oleh seorang laki-laki, itu sebabnya Hasna sempat tertegun saat Ahsan mengatakannya. Seusai sholat, keduanya pun langsung mencari referensi yang Hasna cari. Ahsan dengan semangat membantu dan setia menemani Hasna. 
Waktu menunjukkan pukul 15.30 ketika Ahsan dan Hasna keluar dari perpustakaan.
"Terima kasih banyak ya San sudah baik banget menemani aku di perpus hari ini. Semoga menjadi amal baik buat kamu, ya, " ucap Hasna tersenyum lebar. 
"Sama-sama, Na. Aamiin". Ahsan dan Hasna berpisah, Ahsan menuju tempat parkir mobilnya, sedangkan Hasna bergegas berjalan ke pintu keluar. 
Hasna sedang berjalan kaki menuju stasiun kereta terdekat ketika sebuah mobil berhenti di sebelahnya.
"Hasna...,  mau bareng nggak? Kamu mau kemana?" Suara Ahsan itupun menghentikan langkah Hasna.
"Terima kasih banyak, San. Aku mau ke stasiun dekat sini, jadi aku jalan saja. Itung-itung mengurangi emisi gas karbon akibat kendaraan bermotor he he (catatan: emisi gas karbon adalah semacam polusi udara akibat produksi karbon dioksida bisa dari bahan bakar kendaraan bermotor, manusia, asap pabrik, dll)," tolak Hasna halus sambil tertawa kecil. Ahsan tergelak mendengar jawaban Hasna itu sambil menganggukkan kepalanya.
"Hmmm aku sependapat dengan ide kamu itu, Na. Tapi emisi karbon yang kamu keluarkan saat jalan akan lebih banyak sepertinya daripada kalau kamu setuju bareng aku naik mobil. Satu mobil satu emisi karbon kendaraan bermotor kan berapa pun penumpangnya," ujar Ahsan sambil tersenyum lebar mencoba berargumen dengan Hasna.
Hasna terlihat berpikir sejenak. Kemudian balas tersenyum lebar sambil menganggukkan kepalanya. "Kamu benar...". Hasna pun bergegas masuk ke mobil Ahsan dan duduk di sebelah Ahsan. Terlihat Ahsan puas dan berwajah riang karena kali ini dirinya memenangkan adu pendapat dengan Hasna. 
"Oh iya, Na. Tentang komitmen yang tadi kita obrolkan menuju perpus, aku minta maaf kalau kalimatku ada yang tidak berkenan atau mengganggu hati kamu," ujar Ahsan langsung membuka percakapan. Hasna menoleh ke Ahsan dengan sedikit tertegun karena tidak menyangka Ahsan masih mengingat-ingat obrolan itu. 
"Ga ada yang perlu dimaafkan, San. Kalimat kamu tadi cuma mengingatkan aku tentang beberapa laki-laki yang sempat dekat dan takut memiliki komitmen. Tapi aku sadar, arti komitmen buat kamu dan buat aku pasti beda, kamu masih terlalu muda". Hasna kemudian menjelaskan arti komitmen buat dia, begitupun Ahsan, dan arti tersebut menurut keduanya memang sesuai dugaan Hasna sebelumnya saat mereka sedang menuju perpustakaan. Apa yang dipikirkan Ahsan berbeda dengan apa yang dipikirkan Hasna tentang komitmen.
Ahsan sengaja mengemudikan mobilnya agak pelan karena memang jarak stasiun yang dituju Hasna tidak terlalu jauh. 
Beberapa kali, Ahsan melirik Hasna dari balik kaca spionnya. Hasna terlihat tersenyum lebar kepadanya.
"Aku yakin, kamu pasti akan menemukan laki-laki yang berani berkomitmen menuju pernikahan dengan kamu, Hasna. Tuhan menyiapkan laki-laki untuk kamu tunggu dengan sabar, Na," lanjut Ahsan sambil tersenyum lebih lebar membalas Hasna. Hasna menganggukkan kepalanya sambil mengamini kalimat Ahsan itu.
"Seperti saat blue moon menemani purnama agar tidak sendirian di bulan yang sama, aku yakin di saat yang tepat nanti seseorang istimewa itu akan datang menemani aku," sambung Hasna terdengar optimis. Ahsan menoleh sejenak kepada Hasna. Ia tertegun saat Hasna mengaitkan obrolan mereka dengan blue moon, salah satu fenomena alam yang sangat  disukai dan punya arti istimewa bagi Ahsan.
"Tapi pastinya bukan tentang blue moon yang datang sekali kemudian perlu waktu panjang untuk bisa melihatnya lagi kan Na. Cuma saat momen satu blue moon itu hadir kan?" tanya Ahsan setengah menggoda Hasna.
Hasna pun tertawa lepas sambil mengangguk. "Intinya bersabar menunggu waktu yang tepat itu tiba, he he. Mungkin waktu itu sangat langka di hidup seperti hadirnya blue moon, tapi waktu itu pasti tiba".
Ahsan dan Hasna kembali berbagi senyum sambil menganggukkan kepalanya tanda mereka sependapat.
"Meski kamu lebih muda dari aku, tapi ada kalanya aku merasa  kita tidak berjarak secara pemikiran. Kamu bisa mengimbangi aku saat kita ngobrol begini," ucap Hasna sambil tertawa kecil. 
"Kebetulan lagi kambuh sok bijaknya, Na," jawab Ahsan balas tertawa lepas. 
Tanpa sadar, mobil Ahsan sudah berada di dekat stasiun yang Hasna tuju.
Setelah mengucapkan terima kasih, Hasna bergegas keluar dari mobil Ahsan.
"Sampai jumpa hari Rabu, Hasna," ujar Ahsan. Hasna mengangguk dan mereka pun saling berbalas senyum. Setelah saling berbalas salam, Hasna pun bergegas berlari masuk ke dalam stasiun karena kereta yang akan dinaikinya akan segera datang.
Dari kejauhan Ahsan terlihat mengamati gerak gerik Hasna hingga bayangan perempuan itu menghilang. Tiba-tiba ucapan Hasna tentang mengurangi emisi karbon itu kembali muncul di pikirannya. Alasan Hasna itu masuk akal dan Ahsan juga sudah membaca dan mendengar tentang ide perlunya pengurangan emisi karbon itu baik di internet, media massa, dan dari beberapa dosen di kampusnya. Namun, karena Ahsan sudah terbiasa naik kendaraan bermotor pribadi kemana-mana, selama ini dia membuat pengecualian buat dirinya. 
Ahsan tersenyum menertawai dirinya sendiri. Ia bertekad akan lebih banyak naik alat  tranportasi umum mulai besok untuk mengurangi emisi karbon kendaraan bermotor. Bukankah kebaikan dan hal positif dimulai dari hal-hal yang kecil yang diri sendiri lakukan?

Hadirmu membuatku mengingat hal-hal yang terlupa. Hadirmu mengundang senyum dan tawa semakin akrab denganku. Hadirmu memberi warna yang berbeda... .

Part Setelahnya