Minggu, 06 Desember 2015

Konstelasi Hati Bintang Buat Ara Part 3 : Teman Hidup ?

Part Sebelumnya 

Keesokan harinya, Ara menjalani rutinitas pekerjaannya seperti biasa sebagai petugas yang melayani tamu di perpustakaan sebuah lembaga penelitian. Ara menyukai pekerjaannya itu, dirinya jadi banyak belajar bermacam referensi yang ada di perpustakaan tempat ia bekerja. Tak jarang, tamu yang datang pun menanyakan detail isi dari publikasi yang tersaji disana. Bahkan Ara pun jadi belajar lebih banyak tahu bagaimana menyampaikan informasi yang ada di perpustakaannya secara digital melalui website. Ara sangat menikmati pekerjaannya.
Sementara itu, di tempat lain Bintang pun tenggelam dalam pekerjaannya. Deadline pekerjaan untuk hari Senin akhirnya terselesaikan juga setelah dirinya begadang sepulangnya dari bioskop tadi malam. Deadline demi deadline pekerjaan baru pun sudah menunggu dan mengantri pada Bintang. Untungnya, Bintang orang yang cukup tangguh dan sangat mencintai pekerjaannya. Meskipun dirinya sedang jenuh, dia selalu berusaha menyelesaikan apapun tugasnya dengan sebaik-baiknya meski kadang membuatnya lupa akan dirinya sendiri. Bahkan ada kalanya dia menjadi seperti robot saat ia tenggelam dalam pekerjaannya.
Senin pun berlalu dengan cepat, waktu menunjukkan pukul 7 malam saat Bintang bersiap-siap pulang dan ada panggilan masuk dari ibunya yang tinggal di beda kota karena harus menemani ayahnya yang ditugaskan berpindah-pindah. Mereka pun melakukan komunikasi melalui video call.
"Bintang, apa kabarnya, Sayang? Kenapa jagoan tampan ibu terlihat makin tidak terurus begini sih?" sapa ibunya dengan penuh sayang.
Bintang pun tersenyum. "Bintang baik-baik saja, Bu. Cuma sedang banyak deadline saja di kantor, he he".
"Tapi ibu lihat kamu kurusan Nak, apa kamu habis sakit? Soalnya perasaan ibu akhir-akhir ini agak nggak enak. Cuma ayah kamu selalu bilang, kamu sudah dewasa dan pasti bisa jaga diri".
Lagi-lagi Bintang tersenyum. "Benar kata Ayah, Ibu jangan terlalu mengkhawatirkan Bintang. Oh iya, Ayah dan Ibu sehat-sehat kan disana?" kini gantian Bintang bertanya dijawab dengan anggukan ibunya.
"Oh iya, Bin... sudah ada belum perempuan buat dikenalkan ke ayah dan ibu sebagai calon kamu? Kamu sepertinya sudah saatnya punya seseorang buat menemani kamu biar kamu lebih terurus, Sayang. Maksud ibu teman hidup, Bin," sambung ibu Bintang setengah serius dan setengah menggoda anak semata wayangnya itu.
Bintang tertawa kecil. "Belum ada, Bu. Yang ada cuma teman main saja," jawab Bintang teringat pada ceweknya, Zetta.
"Teman main juga penting, nggak ada salahnya, Bin, tapi sudah saatnya juga kamu mulai memikirkan tentang seseorang untuk calon teman hidup kamu. Apa teman main kamu tidak bisa berubah menjadi teman hidup, Bin?"
Bintang terdiam sejenak seolah sedang berpikir. Kemudian ia kembali tertawa sedikit manja ke ibunya. "Ibu tidak perlu khawatir ya, nanti di waktu yang tepat Bintang insyaa Allah bakal kenalkan calon teman hidup Bintang ke Ayah dan Ibu tentunya setelah Bintang menemukannya. Mohon doakan Bintang diberikan yang terbaik saja ya, Bu".
Setelah mengucapkan doa-doa tulus seorang ibu untuk buah hatinya, percakapan Bintang dan ibunya pun berakhir.
Bintang kembali melanjutkan mengemaskan barang-barangnya kemudian bergegas pulang ke apartemen dengan motornya. Meski sebagian orang merasa bahwa mengendarai mobil menempatkan kita di status sosial yang terkesan lebih keren, tapi tidak begitu dianggapan Bintang yang lebih memilih sesuatu dari manfaatnya. Ia lebih sering memarkir mobilnya di tempat parkir apartemennya di hari kerja.
Sembari mengendarai motornya, Bintang kembali teringat obrolan dengan ibunya
"Teman hidup???" pikir dan ucapnya dalam hati. Bintang kembali menarik nafasnya dalam-dalam. Baru kali ini ia kembali menyadari tentang hal itu setelah sekian lama ia tak memikirkannya dan tenggelam dengan pekerjaannya. Kesunyian itu kembali menyergap di hati Bintang. "Hmmm dimana aku harus menemukannya? Entah kenapa, tiba-tiba aku merindukannya," lanjutnya bertanya ke dirinya sendiri.
"Apa mungkin dia itu Zetta?" sambung Bintang lagi berdialog dengan bayangannya sendiri ketika bayangan perempuan yang hadir di mimpinya itu tiba-tiba melintas di benaknya. Perempuan itu yang menawarkan senyum padanya.
"Aaaaah mana mungkin dia, aku bahkan tidak tahu siapa dia," ucap Bintang lirih menghalau pikirannya berkembang kemana-mana.
Waktu menunjukkan pukul 9 malam saat ada panggilan masuk di handphone Bintang. Pemberitahuan dari pihak kepolisian bahwa Rion mengalami kecelakaan dan dirawat di sebuah rumah sakit. Tanpa berpikir panjang lagi, Bintang pun bergegas memutar motornya. Setengah jam kemudian, Bintang sudah berada di luar kamar penanganan Rion. Rion mengalami patah tulang dan pendarahan yang cukup banyak sementara kantong persediaan darah yang tersedia terbatas. Bintang diminta mencari tahu kemungkinan calon pendonor yang lain untuk berjaga-jaga jika nanti diperlukan. Bintang sudah menghubungi orang tua Rion yang tinggal di luar pulau. Mereka baru bisa berangkat esok paginya karena penerbangan sudah tidak ada lagi untuk hari itu. Berusaha menenangkan, Bintang berjanji akan menjaga Rion semampunya sampai mereka datang.
Bintang terduduk di depan ruangan Rion. Kondisi Rion masih belum stabil. Bintang pun sedang berpikir mencari orang yang bisa dimintai tolong sebagai calon pendonor darah untuk berjaga-jaga. Dia setengah menyesal karena dia tidak bisa mendonorkan darahnya karena golongan darahnya tidak sama, dia O sementara Rion AB. Beberapa orang yang ia kontak, tidak ada yang memiliki golongan darah yang sama.
Bintang kehabisan pikir, bingung ia harus mencari kemana pendonor itu. Ditambah lagi, malam ini ia harus menyelesaikan deadline untuk presentasi di rapat esok siang tentang sebuah proyek penting bagi perusahaannya. Pekerjaan yang sayangnya tidak bisa ia delegasikan ke orang lain karena murni terkait idenya. Tiba-tiba Bintang merasa lelah saat itu.
Sementara itu di tempat lain, Ara sudah terlelap dalam tidurnya. Hari Senin benar-benar melelahkannya, banyak sekali pengunjung yang dilayaninya hari itu. Malam merangkak naik dan perlahan berganti pagi, Ara kembali dihampiri mimpi. Kali ini ia melihat bangunan rumah sakit, ia mengenalinya karena rumah sakit itu dekat dengan tempat kerjanya. Lagi-lagi ia melihat laki-laki asing itu, ia sedang tertidur sambil duduk di ruang tunggu rumah sakit. Wajah itu terlihat lelah ketika laki-laki itu kemudian terbangun dengan setengah kaget. Ia bangun dan masuk ke dalam ruangan. Terlihat seseorang sedang terbaring dengan beberapa perban dengan selang untuk darah dan infus. "Cepet stabil ya, Rion. Insyaa Allah besok papa dan mama kamu bakal datang. Istirahat yang tenang ya. Semoga kamu tidak memerlukan tambahan darah lagi, tapi tenang saja aku pasti akan tetap berusaha mendapatkan pendonor darah buat kamu," ujar laki-laki asing itu tersenyum sambil menepuk pelan bahu orang yang disebutnya dengan nama Rion itu. "Andai aja, golongan darah aku AB, kamu perlu dua kantong pun bakal aku kasih demi kamu, Rion," lanjut laki-laki itu dengan setengah tertawa. Ada gurat sesal dan sedih di wajah laki-laki itu, semacam rasa bersalah yang bercampur dengan rasa lelahnya. Laki-laki asing itu duduk di sebelah orang bernama Rion itu, ia buka tas ranselnya, menyalakan laptopnya dan tenggelam dalam kesibukannya sambil sesekali melihati kondisi orang yang disebutnya dengan nama Rion itu. Laki-laki asing itu terlihat memasang earphonenya, lirih terdengar ia menyenandungkan lagu Bintang Kecil.
Ara terbangun dari tidurnya. Waktu menunjukkan pukul 03.00 saat itu. Mimpi aneh itu terasa nyata di pikiran Ara. "Apa yang terjadi sebenarnya dengan laki-laki itu? Siapa orang yang terbaring dihadapannya sehingga laki-laki itu terlihat khawatir dan sedih? Dan kenapa aku memimpikannya?" tanya Ara sambil menopangkan kedua tangannya di dagunya. Hatinya ikut cemas tanpa sebab melihat wajah sedih laki-laki itu. "Aku tidak tahu, kenapa aku memimpikan kamu lagi. Tapi jika ini benar, semoga kamu baik-baik saja". Ara terdiam merenungi mimpi anehnya itu sejenak sebelum akhirnya dia memutuskan bersiap-siap menyambut paginya.
Waktu di arloji Ara menunjukkan pukul 06.00 saat Ara dengan ragu melangkah masuk ke rumah sakit yang ia lihat di mimpinya semalam. Ara sengaja berangkat kerja lebih awal, ingin memastikan mimpinya. Ia menyusuri lorong dan mencari ruang ICCU dengan berbekal apa yang dikatakan laki-laki asing itu dalam mimpinya.
"Maaf, apa benar ada pasien bernama Rion di ruang ICCU?" tanya Ara ke perawat penjaga disana.
"Ada mbak, dia pasien kecelakaan yang masuk tadi malam, tapi cuma satu orang yang diperbolehkan masuk ke dalam karena kondisi pasien juga belum stabil. Mbak lurus saja, nanti ada tulisan ICCU disana".
Setelah mengucapkan terima kasih, Ara bergegas menuju ruangan yang ditunjukkan oleh perawat. Ragu, Ara mengintip dari kaca di pintu kamar itu. Terlihat laki-laki di mimpinya itu sedang tertidur dalam posisi duduk di sebelah orang yang berbaring belum sadarkan diri itu yang ia dengar bernama Rion. Laki-laki asing itu menghadap laptop dengan berkas-berkas dokumen ditangannya. Wajahnya terlihat sangat lelah dan sedikit pucat. Ara memandanginya beberapa saat. Entah apa namanya rasa peduli yang dirasakannya saat itu.
Ara pun bergegas kembali ke tempat jaga perawat tadi. Ia menanyakan apakah benar Rion memerlukan pendonor darah. Setelah memastikannya, ia pun menyampaikan keinginan dia untuk mendonorkan darahnya buat Rion karena ia sama-sama berdarah AB.
"Mbak temannya Mas Rion?" tanya perawat itu.
"Bukan Suster, saya teman dari teman Rion yang sekarang sedang menjaga Rion di dalam ICCU. Dari dia saya tahu kalau Rion perlu pendonor darah tambahan".
"Oh begitu, ya sudah kalau begitu langsung saya antar Mbak untuk pemeriksaan pendonor. Kita langsung ke ruang transfusi saja," sambung perawat itu lagi.
"Oh ya, Suster.. kalau boleh saya titip makanan ini buat sarapan teman Rion karena saya tidak bisa masuk kesana," pinta Ara disertai anggukan tak keberatan dari perawat tersebut. Ara pun kemudian bergegas ke ruang transfusi. Ara memutuskan memberikan bekal makanannya untuk laki-laki di mimpinya itu. Ia merasa laki-laki itu memerlukannya.
Pengambilan darah Ara untuk didonorkan buat Rion pun berjalan lancar dan relatif cepat. Selepas itu, Ara pun bergegas menuju kantornya yang tak jauh dari rumah sakit itu. Hati Ara sudah terasa lebih lega, setidaknya ia sudah melakukan apa yang bisa ia lakukan untuk laki-laki di mimpinya itu. "Aku harap kamu bisa sedikit tersenyum, penyuka Bintang Kecil," ujar Ara lirih seraya tersenyum.
Sementara itu, di ruang ICCU, Bintang masih terlelap ketika ia lagi-lagi melihat perempuan asing itu di mimpinya. Perempuan itu memandanginya dengan tersenyum meski terlihat guratan khawatir di wajah sederhana itu. "Kamu jangan bersedih lagi ya. Teman kamu insyaa Allah kuat dan akan membaik segera. Jangan abaikan kesehatan kamu, ya," ujarnya lirih memandang Bintang sejenak lalu pergi. Bintang pun terbangun ketika seorang perawat membuka pintu ruangan itu. Bintang tersadar bahwa dirinya tertidur selepas fajar terbit, hampir 2 jam. Bintang mengamati Rion yang masih tak kunjung sadar meski nafas Rion cukup teratur. Bintang sengaja izin ke kantor agak siang menunggu sampai papa dan mama Rion datang.
Terlihat perawat memeriksa kondisi Rion. "Meski belum sadar, sepertinya kondisi Mas Rion lumayan stabil," ucap perawat itu kepada Bintang. Bintang tersenyum. Bintang kemudian mengamati kantong darah disamping Rion yang sisa sepertiga lagi dan raut Bintang kembali terlihat khawatir. "Oh ya, Sus saya belum berhasil mendapatkan pendonor untuk berjaga-jaga jika Rion masih memerlukan tambahan darah lagi. Apa ada kabar dari PMI mungkin, Sus, terkait stok darah AB?" tanya Bintang kembali diliputi rasa khawatir.
"Belum ada kabar dari PMI tapi tadi ada teman Mas yang datang dan mendonorkan darahnya buat Mas Rion. Insyaa Allah darahnya cukup".
"Teman saya, Sus?" tanya Bintang heran karena dari semua yang dihubunginya, mereka tidak ada yang berdarah AB.
"Iya, perempuan, namanya Ara. Katanya Mas memberitahu dia bahwa Mas perlu pendonor darah buat Mas Rion".
"Ara?" ucap Bintang seraya berusaha mengingat-ingat. Tak ada orang yang dikenalnya bernama Ara. Teman Rion pun tak pernah terdengar ada yang bernama Ara sepengetahuan Bintang. Tiba-tiba bayangan perempuan asing itu terlintas di pikiran Bintang. "Apa mungkin dia? Hmmm, nggak..., mana mungkin dia...," elak Bintang di dalam hati.
"Oh ya, Mbak Ara juga menitipkan makanan ini, buat Mas sarapan katanya," sambung perawat sambil menyerahkan kotak makan ke Bintang. Bintang memandangi kotak makanan sederhana di tangannya itu. "Oh iya, apa dia sudah lama meninggalkan rumah sakit?" tanya Bintang lagi.
"Tadi waktu saya antarkan dia ke ruang pemeriksaan pendonor, dia bilang bahwa dia sengaja datang pagi-pagi menyempatkan diri sebelum berangkat kerja, mungkin dia sudah pergi sekitar 15 menit yang lalu, Mas". Setelah Bintang mengucapkan terima kasih, perawat itu pun pergi.
"Alhamdulillah Rion, akhirnya kamu dapat juga pendonor meski aku belum tahu pasti siapa dia," ujar Bintang tersenyum lebar kearah Rion yang masih terpejam, "Kamu musti berusaha buat cepat sembuh ya". Beban di hati dan pikiran Bintang sedikit berkurang, ia merasa bisa bernafas sedikit lega. Mata Bintang kembali tertuju ke kotak makanan dari seseorang bernama Ara tadi ketika Bintang kemudian membukanya. Ada dua potong roti berisi selai coklat didalam kotak itu. Tiba-tiba Bintang teringat dengan bekal sekolahnya dulu saat ia sedang kelas 6 SD dan ada les tambahan menjelang ujian. Tiap kali ibunya membawakan bekal roti, ia hanya mau roti tawar dan selai coklat saja sampai-sampai suatu ketika selai coklat habis. Bintang yang tetap setia dengan roti tawar dan coklat, tetap meminta bekal roti tawar. Sebagai pengganti selai coklat, akhirnya Bintang membeli coklat batangan dan memakan rotinya dengan menyelipkan coklat batangan kedalamnya. Bintang pun tersenyum geli mengingat hal itu. Bintang kemudian membuka lipatan kertas yang tertempel ditutup kotak makanan itu.
"Meski cuma roti, tolong dimakan dan dihabiskan ya, Penyuka Bintang Kecil. Anggap saja sebagai pengganjal lapar sementara".
Bintang tertegun untuk sejenak. Ternyata dugaan selintas lalunya tadi adalah benar. Ara adalah perempuan asing yang muncul didalam mimpinya beberapa kali akhir-akhir ini sekaligus orang yang menyanyikan lagu Bintang Kecil untuknya dan suaranya ia rekam dan dengarkan berulang akhir-akhir ini. Bintang tak pernah menyangka mimpi-mimpi anehnya itu ternyata bukan sekedar bunga tidur, melainkan menghubungkan dirinya dan Ara dalam dunia nyata. Suara Ara di mimpi Bintang yang menenangkannya tadi pagi kembali terdengar jelas oleh Bintang. Bintang baru menyadari maksud mimpinya itu.
"Siapa kamu sebenarnya, Ara? Kenapa kamu bisa hadir dalam mimpi-mimpi dan hidup aku dengan cara yang tidak biasa? Kenapa kamu datang menemani aku dalam sunyi ini?" tanya Bintang. Tiba-tiba saja Bintang merasa bersalah saat ia teringat dirinya buru-buru meninggalkan Ara saat mereka bertemu di taman dekat danau hari Minggu kemarin.
"Aku harus menemui Ara. Aku harus berterima kasih padanya. Aku harus mencarinya...," ujar Bintang dalam hati seraya menghabiskan roti tawar selai coklat dari Ara dengan lahap.
~ Bersambung ~

Rabu, 02 Desember 2015

Konstelasi Hati Bintang Buat Ara Part 2 : Aku, Kamu, Mimpi ? Kita ?

Part Sebelumnya 

Waktu menunjukkan pukul 08.00 malam ketika Ara sedang menunggu kedatangan Lintang di tempat kos Lintang. Ara berencana menginap di tempat Lintang malam minggu itu. Tak lama kemudian, Lintang pun pulang menyambut Ara dengan senyuman lebar. "Hai Ra, bagaimana pengalaman menyanyi di kafe tadi, seru nggak?" tanya Lintang sambil menyilahkan Ara masuk ke kamarnya.
Ara membuntuti Lintang masuk. "Lumayanlah, mungkin karena akustik, sedikit lebih PeDe. Senang bisa melihat senyum pelanggan kafe tempat kerja kamu di penghujung penampilan aku. Btw, ini honor kamu, Tang".
"Lah kan kamu yang perform, berarti honor itu yaa honor kamu, Ara sayang," jawab Lintang.
"Aku sudah cukup senang dapat kesempatan menyanyi di depan banyak orang, Tang. Cukup traktir makan aja, oke," lanjut Ara sambil tersenyum lebar dan menyerahkan amplop honor itu ke sahabatnya. Dengan ragu, Lintang menerimanya dengan berpikir-pikir sejenak. Akhirnya mereka berdua pun pergi keluar makan di warung tenda di sekitar kosan Lintang.
Sambil makan, Ara dan Lintang kembali asyik dalam cerita.
"Btw, gimana obrolan kamu dengan Oktan, Tang? Apa semuanya sudah clear diantara kalian?"
Lintang tersenyum lebar. "Aku dan Oktan sudah memutuskan untuk menjadi teman biasa lagi. Kedekatan kami terlalu dipaksakan. Dia memilih aku karena dia tidak punya cukup keberanian mendekati orang yang disukainya, sedangkan aku menerimanya karena momennya memang sesuai saat aku baru putus, he he. Jadilah hubungan kami dipenuhi dengan rekayasa hati".
"Bukannya kalian bisa menerima satu sama lain selama ini, Tang? Everything's gonna be alright between both of you, isn't it?" tanya Ara serius sambil melahap mie goreng seafood pesanannya.
Lintang terdiam sejenak memandangi Ara, ia sedang memikirkan kalimat yang pas untuk sahabatnya itu. "Awalnya baik aku maupun Oktan berpikir bahwa mungkin kami bisa menitipkan rasa pelan-pelan ke satu sama lain. Sampai di satu titik kami menyadari sesuatu, bahwa kami mengabaikan kejujuran hati kita masing-masing. Hmmm yaaa intinya kembali menjadi teman biasa sepertinya pilihan yang terbaik, Ra".
"Oktan menyukai kamu, Ara. Sayangnya Oktan hanya punya keberanian menyatakan perasaannya ke sahabat orang yang disukainya saja, Ra," lanjut Lintang lagi.
Bola mata Ara membulat, ia terkejut mengetahui hal itu tanpa bisa mengucap apa-apa.
"Kenapa kamu tidak mencoba membuka hati kamu buat dia, Ra?" sambung Lintang tersenyum ceria.
Ara memandangi lebih seksama wajah sahabatnya itu. Ia tahu ada sedih dan rasa kehilangan yang berusaha disembunyikan disana dibalik ekspresi ceria itu.
"Di hati aku sudah ada seseorang, Tang," jawab Ara ringan sambil tersenyum ragu. Wajah laki-laki asing di mimpinya yang tadi sempat ia jumpai itu tiba-tiba muncul. Hanya laki-laki itu yang beberapa waktu terakhir ini menghiasi hati dan pikirannya meski dengan cara yang aneh dan selintas lalu. Sekarang giliran Lintang yang terkejut dengan muka bertanya-tanya ke Ara. Ara tersenyum.
"Aku baru bertemu dengannya sekali, Tang, itu juga ga sengaja. Bahkan namanya pun aku belum tahu. Doakan saja aku dan dia bisa punya cerita bersama, ha ha".
"Maksud kamu, suka pada kesan pertama, Ra?"
"Hmmm, apa ya... aku sendiri belum jelas tentang ini, tapi yang pasti dia laki-laki yang ada di hati aku, he he. Nanti kalau sudah jelas, baru bisa aku cerita, Tang".
Keduanya pun tergelak dalam tawa.
"Satu hal, Tang. Kalau kamu sayang sama Oktan, perjuangkan dia, toh kalian sudah terbuka satu sama lain? Kalian bisa memulainya lagi dari awal dengan rasa yang tercipta," ujar Ara menyemangati Lintang.
Lintang tegas menggelengkan kepalanya. "Berteman adalah pilihan yang terbaik saat ini Ra. Toh kalau ternyata kita berjodoh dengan seseorang, kita akan ditunjukkan jalannya," ucap Lintang optimis. Ara pun tersenyum sembari mengangguk setuju. Mereka pun asyik menghabiskan makanan mereka
Sebenarnya, Ara kaget mengetahui bahwa Oktan menyukainya. Namun Ara sengaja mengalihkan pertanyaan Lintang soal Oktan karena sebenarnya Ara pernah memendam rasanya buat Oktan ketika Lintang belum jadian dengan Oktan dan mereka masih lebih sering berkomunikasi. Ara menunggu dan berharap dengan rasanya itu meski ia tidak terlalu fokus pada hal tersebut ketika ia kemudian menjadi saksi kedekatan Lintang dengan Oktan kemudian mendengar Oktan menembak Lintang. Sejak saat itu, Ara berusaha untuk perlahan melupakan perasaannya untuk Oktan. Bukan hal yang mudah, tapi Ara belajar mengikhlaskan. Seperti dia pernah belajar mengikhlaskan seorang anak laki-laki yang pertama singgah di hatinya untuk tujuh tahun lamanya yang kemudian harus berpisah dengannya karena sebuah takdir Tuhan bernama kematian. Sejak saat itu, Ara semakin belajar memasrahkan hatinya. Dia yakin cinta yang tepat akan hadir di saat yang tepat untuknya. Bahwa setiap perjalanan hati yang ia rasakan, menyukai atau disukai orang lain adalah proses pembelajaran untuk dirinya. Termasuk Oktan, Oktan menyapa hati Ara dengan senyuman, perhatian-perhatian Oktan kepadanya sebelum Oktan dan Lintang jadian membuat Ara mencoba menaruh harapan, belajar mencintai seseorang lagi. Sampai kemudian Lintang membuatnya mengalah. Ara mengalah karena hadirnya Oktan membuat Lintang lebih banyak tersenyum lepas lagi selepas Lintang patah hati selama beberapa bulan terakhir. Oktan mampu membuat Lintang merasa nyaman dengan kesedehanaan dan perhatian kecilnya. Oktan membuat bayangan yang menyisakan kesedihan di muka Lintang itu mau untuk perlahan menjaga jarak membiarkan bahagia terukir dengan lebih jelas di wajah Lintang.
Di tempat lain, Bintang baru saja memasuki apartemennya yang ditinggali bersama teman dekatnya sejak kuliah, Rion. Tidak terlihat batang hidung Rion disana, Bintang sudah menduga Rion pasti sedang hangout saat itu. Bintang bergegas mandi dan melanjutkan deadline pekerjaannya yang terpaksa harus ia bawa pulang. Sejenak ia buka aplikasi linenya ketika ia membaca status ceweknya. "Kamu berubah menjadi asing dan nyaris tak kukenali. Tapi kamu bahkan tidak merasa perlu mengucap sekedar kata maaf. Apa sebenarnya arti aku dan hubungan kita buat kamu?"
Bintang melemparkan HP-nya ke tempat tidurnya dan kembali larut dengan pekerjaannya. Waktu menunjukkan pukul 12.00 malam saat hujan terdengar memulai nyanyiannya di telinga Bintang. Bintang pun membuka balkon apartemennya, memandangi air hujan yang memecah sunyi di tengah malam itu. Tiba-tiba bayangan itu terlintas lagi, bayangan saat Bintang yang masih duduk di bangku kelas 3 SD itu tak pernah bisa dicegah untuk mandi dan bermain-main dalam hujan. Suara lembut neneknya kembali terdengar sayup sayup menemaninya menyanyikan lagu Tik Tik Bunyi Hujan. Dirinya tertawa kala itu, dan mencari cara untuk kabur ke jalan raya di dekat rumahnya ketika Neneknya berusaha mengejarnya karena khawatir dengan kendaraan yang berlalu lalang.
"Buuuk" terdengar bunyi sesuatu terjatuh. Keriangan Bintang pun hilang ketika ia melihat neneknya tergeletak tak sadarkan diri karena terpeleset dan terjatuh saat mengejarnya. Berkali-kali ia memanggil neneknya sembari mengguncangkan tubuh neneknya. "Nek, bangun... Bintang janji ga akan hujan-hujanan di jalan raya lagi". Sejak hari itu Bintang tak lagi bisa mendengar nyanyian Neneknya. Nenek Bintang koma selama beberapa bulan sebelum akhirnya pergi meninggalkan Bintang selamanya akibat pendarahan di kepala saat terjatuh.
Suara petir menyadarkan Bintang dari bayangan masa lalunya. Air mata Bintang sudah menggenangi pelupuk matanya meski ia kemudian memutuskan untuk tidak mengeluarkannya dengan tangis.
"Kamu laki-laki, Bintang sayang. Laki-laki harus kuat, tidak boleh cengeng dan harus bisa menjaga Mama, Nenek, dan orang-orang yang dicintainya". Suara lembut neneknya sambil mengusap lembut rambut Bintang kala itu kembali terdengar jelas. Itu alasannya juga kenapa Bintang nyaris tak pernah menangis. Ia ingin memenuhi harapan Neneknya berharap bisa melihat Neneknya sedikit tersenyum dengan apa yang dilakukannya.
Bintang bergegas masuk ke kamarnya untuk mengambil HP yang dilemparnya tadi. Ia lalu duduk di kursi malas dari karet yang ada di balkon apartemennya sambil memasang earphonenya, mendengarkan berulang-ulang rekaman lagu Bintang Kecil dari suara perempuan yang ditemuinya tadi sore di kafe. Entah kenapa hatinya merasa sedikit tenang saat itu. Beberapa saat, Bintang asyik duduk di kursi malas itu sambil memandang butir-butir hujan yang makin deras meramaikan dini hari sebelum akhirnya matanya terpejam dibuai lagu Bintang Kecil itu.
Di tempat lain, Ara sudah terlelap dalam tidurnya ketika tiba-tiba mimpi aneh itu kembali datang. Laki-laki berwajah sedih di mimpinya sebelumnya terlihat sedang duduk di balkon sebuah apartemen. Dia terdiam lama memandangi hujan, lirih terdengar ia menyanyikan lagu Bintang Kecil dengan earphone terpasang di telinganya. Suaranya pun terdengar sendu meski laki-laki itu berusaha tersenyum menatap hujan. Tak berapa lama, laki-laki itu tertidur di balkon masih dalam posisi duduk dan tempias hujan mengenai wajah dan tubuhnya tanpa membangunkannya.
"Hai, ayo bangun... jangan tidur di luar dan terkena hujan seperti itu, nanti kamu sakit. Udara sangat dingin di luar, sebaiknya kamu berbaring di kamar kamu," ujar Ara masih dalam mimpinya berusaha membangunkan laki-laki itu meski laki-laki itu tak bereaksi sedikitpun dan tetap terpejam. Ara tetap berusaha membangunkan laki-laki itu ketika tiba tiba suara petir membangunkan Ara dari mimpinya.
Ara menoleh kearah Lintang yang terlihat lelap dalam tidurnya di sebelahnya. Sejenak Ara terpaku dalam duduk memikirkan mimpi anehnya itu. Ara kemudian membuka kerai di jendela kamar Lintang mengamati hujan yang makin deras meramaikan awal pagi di hari minggu itu ketika bayangan laki-laki yang tertidur dalam hujan itu hadir kembali. "Kenapa aku bermimpi lagi tentang laki-laki itu? Ia terpejam membiarkan dirinya terkena hujan. Aku bisa melihat seulas senyum di bibirnya tapi kenapa ada sebutir air mata di ujung kelopak matanya? Apa yang sebenarnya ia rasakan dan alami?" tanya Ara pada dirinya sendiri ketika Lintang memegang bahu Ara, membuat Ara sedikit terkejut.
"Kamu ngapain melihat hujan sambil terlihat memikirkan sesuatu, Ra? Kamu ga sengaja kebangun ya?"
Ara menoleh ke Lintang seraya tersenyum
"Aku barusan mimpi aneh, Tang. Laki-laki asing itu kembali hadir di mimpi aku dengan ekspresi sendunya. Entah siapa dia dan apa yang terjadi padanya. Aku cuma pernah bertemu dengannya sekali, tadi sore waktu aku menyanyi di kafe kamu. Tiba-tiba dia datang minta aku menyanyikan lagu Bintang Kecil. Ini kali keempatnya dia muncul di mimpi aku".
Lintang mengerutkan dahinya. "Jangan-jangan laki-laki yang kamu bilang ada di hati kamu adalah laki-laki asing itu?"
Ara tersenyum tak menjawab lebih jauh lagi. "Sudahlah, ga perlu diperpanjang lagi. Tidur lagi yuk, Tang. Dingin-dingin begini enaknya memang tidur". Setelah menutup kembali kerai jendela kamar Lintang, mereka kembali berbaring."Cakep nggak Ra, cowok asing itu?" sambung Lintang penasaran. Lagi-lagi Ara hanya tersenyum dan menaikkan selimutnya, menarik badannya bertolak belakang dengan Lintang. Bayangan laki-laki asing yang tetap tertidur meski terkena tempias hujan itu kembali berkelebat di pikirannya sejenak sebelum akhirnya Ara kembali terlelap.
Malam pun berganti dan matahari malu-malu bersinar ketika Rion baru pulang. Sepi, lampu ruang tamu pun tak menyala, hanya pintu kamar Bintang terlihat setengah terbuka dengan lampu menyala.
Rion memanggil nama Bintang sambil mengetuk pintu kamarnya, tapi tak kunjung ada jawaban. Tempat tidur Bintang tampak rapi, terlihat tak tertiduri oleh pemiliknya.
"Kemana si Bintang? Apa dia sedang keluar jogging?"
Rion hendak masuk ke kamarnya ketika ia melihat bayangan seseorang sedang duduk di kursi malas yang ada di balkon.
Tampak Bintang sedang terpejam dalam posisi duduk dengan earphone di telinganya. Tubuhnya terlihat agak basah seperti balkon yang juga agak basah karena tempias hujan malam tadi.
Rion pun membangunkan Bintang seraya menggoyang lengan Bintang. Bintang pun terbangun, terlihat bibir Bintang sedikit gemetar dan pucat. "Kamu menggigil Bin? Kamu sakit?" selidik Rion. Bintang menggelengkan kepalanya perlahan.
Bintang kembali memejamkan matanya, kepalanya tiba-tiba terasa berat dan tubuhnya terasa kedinginan.
"Jangan bilang kamu tidur disini semalaman dan terkena hujan?"
Bintang menguatkan dirinya dan menoleh ke Rion. "Aku ketiduran memandangi hujan sambil mendengarkan lagu tadi malam. Sepertinya aku demam".
"Mau aku temani ke dokter?" tanya Rion.
Bintang menggelengkan kepalanya. "Cuma demam biasa kok, Rion. Minum obat penurun demam juga bakal mendingan. Kamu baru pulang?"
Rion menganggukkan kepalanya. "Yakin kamu bakal baik-baik aja, Bin?"
"Iya, Rion. Mendingan kamu segera membayar tidur. Mata kamu terlihat ngantuk banget tuh".
Perbincangan mereka pun berakhir. Bintang melangkah pelan menuju kamarnya. Setelah memakan roti dan minum obat, ia pun bergegas menyelimuti seluruh tubuhnya yang menggigil kemudian perlahan memejamkan matanya di tempat tidurnya.
"Semoga kamu baik-baik saja ya". Suara itu terdengar jelas oleh Bintang dalam mimpinya, suara yang sudah tak asing lagi di telinga Bintang. Suara yang sama dengan yang menyanyikan lagu Bintang Kecil yang direkamnya. Perempuan itu berdiri dengan seulas senyum, memandanginya yang sedang terbaring. Selepas itu semuanya kembali gelap, Bintang tak lagi bermimpi apa-apa.
Hari Minggu pun merangkak siang saat Ara asyik bersantai sambil membereskan kamar kosnya. Sementara itu Bintang menghabiskan waktunya untuk menyembuhkan demamnya. Waktu di jam dinding apartemen Bintang menunjukkan pukul satu siang saat ia terbangun. Demamnya masih tersisa tapi sudah jauh lebih baik. Dengan mengabaikan pusing yang masih tersisa, Bintang bergegas mandi dan melanjutkan menyelesaikan deadline pekerjaannya. Bintang cukup menjadi andalan di tempat kerjanya. Kemampuan Bintang yang termasuk komplit menjadi daya tarik pimpinan untuk selalu mengandalkannya meski kadang itu membuat waktu Bintang habis untuk pekerjaannya dan ia pun jadi mengabaikan sisi lain dirinya. Waktu menunjukkan pukul 3 sore saat sebuah sms masuk di HP-nya dari ceweknya. "Mau sampai kapan kamu cuekin aku? Kamu yang salah, kenapa kamu yang harus marah? Harusnya kamu menghibur hatiku, Bin".
Bintang memejamkan matanya sambil menarik nafas dalam-dalam. Jujur ia lelah untuk membahas masalah itu dengan ceweknya. Dia merasa sedang ada di puncak titik jenuhnya tanpa tahu harus berbuat apa sebaiknya. Bintang pun mengambil earphonenya, lagi-lagi ia putar rekaman lagu Bintang Kecil itu. Entah kenapa mendengarnya membuat hati dan pikirannya sedikit relaks. Tiba-tiba saja bayangan neneknya menyanyikan lagu Bintang Kecil disuatu malam menjelang ia tidur beberapa tahun silam hadir di pikirannya. Dipenghujung lagu pengantar tidurnya itu, Neneknya berucap sambil mengecup lembut ubun-ubun kepalanya. "Bintang harus jadi laki-laki yang baik. Harus bisa menjaga perasaan perempuan dan sebisa mungkin tidak menyakitinya. Selamat tidur, Cucu Nenek yang Tampan".
Bintang membuka matanya. Ragu, ia membalas SMS ceweknya. "Aku minta maaf kalau aku menyakiti kamu. Bagaimana kalau kita nonton malam ini. Aku jemput kamu jam 5 sore". Bintang melanjutkan sebentar pekerjaannya. Selain hanya ingin mengikuti nasihat neneknya, ia bahkan tak tahu apa yang dirasakan hatinya.
Waktu di arloji Ara menunjukkan pukul 18.30 ketika Ara dan Lintang sedang asyik menikmati makan mereka di food court sebuah mall. Mereka menunggu jam 19.00 karena mereka berencana nonton di jam itu. Tak berapa lama mereka pun sudah duduk manis di bangku masing-masing sambil sesekali terdengar canda tawa mereka tentang obrolan tanpa fokus yang jelas.
Di baris yang berbeda agak berjauhan di studio yang sama, Bintang sedang mengobrol dengan ceweknya. Tak banyak kata yang terucap oleh Bintang, ia menjadi pendengar yang cukup setia, mendengarkan keluh kesah dan cerita ceweknya. Sesekali saja ia menimpali. Film dimulai dan berjalan sekitar 30 menit ketika Bintang beranjak dari tempat duduknya hendak ke toilet. Beberapa menit kemudian, Bintang baru saja keluar dari toilet ketika Ara yang kebetulan juga dari toilet itu melihatnya. Penasaran, Ara pun langsung membuntuti Bintang dengan sengaja mengambil jarak beberapa langkah di belakang Bintang agar Bintang tidak menyadari Ara. Ternyata Bintang berjalan kearah luar mall. Di dekat mall itu terdapat sebuah taman kota yang berbatas dengan danau buatan. Bintang pun duduk bersandar di bawah salah satu pohon disana yang agak sunyi. Bintang terlihat mengamati air danau yang tenang itu kemudian memandangi langit yang bertabur bintang malam itu. Ia pun tersenyum sejenak ke salah satu bintang yang terang di langit. Entah kenapa sunyi dan lelah itu masih mendekap erat hatinya padahal film yang ia tonton pun bertema komedi. Kebersamaan dengan ceweknya pun tak bisa mengusir rasa lelahnya. Bintang menarik nafas dalam-dalam. Ia keluarkan handphone dari sakunya dan lagi-lagi memutar lagu Bintang Kecil, meski kali ini Bintang mendengarnya tanpa earphone. Mendengarnya membuat bibirnya otomatis tersenyum dan melupakan sejenak lelahnya.
Tak jauh dari tempat Bintang, Ara tampak mengamati setiap gerak gerik Bintang dengan sembunyi-sembunyi. Ia pun tertegun saat mendengar suaranya yang ternyata direkam oleh Bintang. Wajah itu, wajah sendu yang selalu membuat hati Ara tersentuh. 10 menit kemudian, dengan ragu Ara pun melangkah mendekat ke arah Bintang.
"Apa kamu baik- baik saja?" tanya Ara menyapa telinga Bintang yang sedang bersandar sambil memejamkan matanya.
Bintang menoleh ke asal suara itu dan tertegun sejenak. "Apa ada yang bisa aku bantu?" sambung Ara lagi.
Bintang mengamati perempuan asing itu dan kemudian buru-buru mematikan lagu rekaman yang ia dengar.
"Ternyata kamu merekam suara aku menyanyikan Bintang Kecil kemarin...," ujar Ara sambil tersenyum lembut.
"Apa kamu keberatan?" tanya Bintang singkat. Ara menggelengkan kepalanya. "Kalau mendengarnya, bisa hadirkan sedikit senyuman di wajah kamu, aku merasa senang". Bintang mencermati wajah perempuan yang beberapa kali hadir dalam mimpinya itu. Bintang masih saja terdiam dengan ekspresi coolnya tanpa memberikan senyuman balasan.
"Sebenarnya kamu siapa? Kenapa kamu bisa ada disini?" tanya Bintang lagi dengan raut penasaran.
"Aku kebetulan melihat kamu di dekat toilet bioskop dan maaf entah kenapa aku kemudian membuntuti kamu hingga kemari. Kamu kenapa kemari memilih menyepi dari keramaian dan bersandar dibawah pohon pula? Bukannya bersandar dibawah pohon malam hari tidak bagus karena pohon mengeluarkan carbon dioksida? Apa kamu sedang ada masalah dan perlu teman bicara?" sambung Ara.
Bintang kembali tertegun, perempuan didepannya itu seolah bisa membaca lelahnya, seperti ia yang tiba-tiba hadir di mimpi Bintang. "Maaf, tapi kita tidak saling mengenal, jadi apa yang terjadi denganku bukan urusan kamu. Aku baik-baik saja, cuma sekedar mencari udara segar sejenak. Terima kasih sudah mengingatkan. Terima kasih juga untuk lagunya. Aku harus kembali masuk ke bioskop, teman aku pasti bingung karena aku perginya lama". Bintang buru-buru beranjak dari duduknya, menganggukkan kepalanya pelan memberi tanda pamit kepada Ara.
Ara terdiam di tempatnya berdiri. Matanya mengamati Bintang yang berjalan masuk ke dalam mall. Tiba-tiba ia dihinggapi rasa bersalah karena merasa lancang ingin tahu tentang laki-laki itu padahal mereka tidak saling mengenal. Namun, ia juga tidak bisa mengingkari hatinya, ada rasa khawatir yang ia rasakan sejak laki-laki asing itu hadir beberapa kali dalam mimpinya dengan wajah sedihnya.

Jumat, 13 November 2015

Renungan Malam Dalam Perjalanan Seorang Penakut yang Peduli

Malam ini hujan mengguyur Depok. Aku pulang melalui jalanan yang mulai lengang, di jalan-jalan tembus yang bertemankan dingin malam sehabis bercanda dengan hujan. Aku suka segarnya, tapi aku disuguhkan dengan suasana yang berbeda malam ini. Jakarta atau lebih luas lagi Jabodetabek, megapolitan Indonesia. Malam disini diisi oleh penghuninya dengan bermacam aktivitas. Ada yang menghidupkan malamnya di tempat hiburan, tempat nongkrong, ada yang lelap dalam istirahat malamnya melepas penat seharian, ada pula yang masih harus bekerja menekuri malam. Aku melewati gang tembus itu, gang di dekat kali kecil itu. Aku melihat mereka, beberapa orang tidur di gang itu hanya beralas seadanya, beratap seadanya berselimut dinginnya sisa hujan. Mereka tertidur diantara lalu lalang orang yang melaluinya. Mereka, entah siapa. Mereka yang bertahan di Kota ini tanpa pekerjaan yang jelas. Mereka yang bertahan dengan dinginnya malam tanpa rumah tanpa kasur yang layak untuk alas tidurnya. Siapakah mereka? Apakah mereka salah satu yang tergiur dengan gemerlapnya ibu kota dan sekitarnya yang seolah menjanjikan kesejahteraan bagi mereka sehingga mereka mendatangi tempat ini?
Aku berjalan melalui mereka. Hawa dingin itu sangat terasa di tubuhku yang hanya lewat di lorong kecil itu. Aku tak sempat membayangkan bagaimana dingin saat tubuh menyentuh semen cor hanya dipisah dengan kardus diantara sisa air hujan yang masih segar menghiasi malam. Mereka dan dingin itu. Mereka yang terlelap tanpa sempat menikmati kehangatan.
Aku menyusuri jalanan di dalam kampus UI ini. Halte depan stasiun menjadi pilihan seseorang untuk tidur disana. Entah siapa dia, dia sudah terlelap saat aku melewatinya. Aku melihat sejenak danau di dekat balairung ini. Sunyi, gelap, pekat, tenang, dingin menyatu dengan air tenang itu.
Aku bukan penyair, aku juga bukan Gie, aku hanya seorang perempuan yang mencoba menikmati jalanan kampus malam ini dengan lebih membuka mataku. Aku belajar tentang hidup malam ini, ya meski setiap hari aku belajar tentang itu. Kota, selalu menyisakan dua sisi, seperti gambaranku tentangnya dulu, sisi megah dan sisi kumuh, sisi terang dan sisi gelap.

Selamat tidur saudaraku, baik kalian yang bisa menikmati empuknya kasur atau apapun sebutannya itu juga buat kalian yang terlelap sekedar menitip penat di tempat yang tak menawarkan alas yang seharusnya

Depok, suatu malam di awal November 2015


Senin, 02 November 2015

Konstelasi Hati BINTANG Buat ARA Part 1 : Intro - Bintang dan Ara

Ketika ide itu terus mengalir dan melahirkan judul baru lagi, menyisakan banyak ending untuk diselesaikan :). Terima kasih Rizky dan Anisa :).


Karena namamu seperti nama konstelasi bintang dan namaku adalah BINTANG, aku akan membuat konstelasi hati aku untukmu, ARA. Konstelasi Ara adalah salah satu yang cantik. Ia membuatku tersentuh, membuatku ingin melihatnya lagi dan lagi seperti halnya kamu. Kamu menyentuh hatiku. Kamu membuatku ingin melihatmu lagi dan lagi. Kemudian, aku berpikir lebih dalam. Hmmm, aku menyadari bahwa aku menyukai konstelasi Ara karena kamu. Ia mengingatkanku padamu, ARA ~ BINTANG.

Because your name is like a constellation (constellation of stars) name and my name is BINTANG (= star), i will make my heart constellation for you, ARA ❤☺. I think that Ara constellation is a beautiful one. It touches me, i want to see it again and again. It looks like you, ARA. You touch my heart. You make me want to see you again and again. Then, i think more deeply. I think that i love Ara constellation because of you. It makes me remember you, ARA ☺~ BINTANG.


Rizky Nazar sebagai BINTANG
Anisa Rahma sebagai ARA 

Dia terdiam di tempat itu sendiri. Dia merasa sendiri, sunyi sepi meski tempat itu menawarkan riuh. Dia menunggu seseorang yang bahkan ia sendiri tak tahu siapa orang itu. Dia menunggu seseorang untuk menemaninya bangkit dari lelah yang dirasakannya. "Letih, aku sungguh sangat letih di titik ini. Hati dan diri ini terasa sunyi", ujarnya. Tak ada air mata yang terurai. Baginya sebagai laki-laki tak boleh dengan mudah memperlihatkan lemah dan rapuhnya. Dia hanya bisa terdiam di salah satu ruangan itu, ruangan dimana dirinya menjadi asing disana. "Kamu tidak sendiri. Aku akan menemani kamu". Suara lembut seorang gadis itu tiba-tiba menyapanya. Gadis itu, entah bagaimana dia sudah ada disana, tersenyum manis duduk disampingnya menawarkan ketulusan untuknya bisa membagi lelahnya. Gadis itu menawarkan "genggaman" hangat untuk menenangkannya. Gadis itu yang tersenyum dengan uniknya yang ternyata berhasil membuat pergi perlahan demi perlahan rasa kesendiriannya. "Siapa kamu sehingga aku merasa ingin berbagi denganmu, sehingga hati aku yang beku dan sunyi ini perlahan melunak dan terasa hangat?" ujarnya.
Gadis itu tetap tersenyum hangat. Meski ada segurat sedih yang berusaha ia abaikan dan sembunyikan,  dia tetap berusaha menawarkan rasa tenang dan damai untuknya. "Aku akan menemani kamu agar tidak merasa sendiri, agar kamu bisa melepaskan lelah kamu dan melanjutkan langkah kamu lagi".

Bintang tiba-tiba terbangun dari mimpi anehnya karena bunyi petir yang menggelegar di malam itu. 
"Siapa sebenarnya perempuan itu?" ucapnya lirih. Setelah meminum segelas air putih dan satu pil obat tidur untuk menenangkan dirinya, Bintang pun kembali mencoba untuk tertidur.

Bukan hanya Bintang yang mengalaminya, di tempat lain ada seseorang yang juga mengalami mimpi yang sama. Ia adalah Ara yang malam itu terbangun karena lupa mematikan alarm tengah malamnya yang sengaja ia setel untuk malam sebelumnya karena ada kerjaan kantor yang harus diselesaikannya.
"Siapa laki-laki itu? Kenapa mimpi yang sama itu datang kembali untuk ketiga kalinya?" tanyanya pada diri sendiri. Sejenak terdengar hujan sedang bernyanyi lantang di tengah malam itu di telinga Ara yang sedang memikirkan mimpi anehnya itu. Setelah beberapa saat, akhirnya Ara pun kembali terlelap. 

Esok paginya Ara pun bermalas-malasan di tempat tidurnya. Hari itu adalah hari Sabtu, hari yang selalu dinantikan Ara setiap minggunya selain hari Minggu. Tiba-tiba terdengar seseorang mengetuk pintu kamarnya, "Araaa, ini aku Lintang. Boleh aku masuk?"
Ara pun membukakan pintu kamar kosnya untuk sahabat dekatnya itu. 
"Ara, please gantiin aku menyanyi di kafe sore ini ya," ujar Lintang dengan ekspresi membujuk dan memelas itu.  "Lintang sayang, bukannya aku nggak mau bantuin kamu, tapi kamu kan tahu sendiri, aku itu menyanyi cuma sebatas hobby saja, bukan buat ditonton banyak orang termasuk pengunjung kafe". 
Sudah dua hari Lintang berusaha membujuk Ara agar bersedia menggantikannya. Dan Ara masih dengan pendiriannya menolak permintaan sahabatnya itu. 
"Ara, aku harus selesaikan semuanya sore ini dengan Oktan. Aku tidak mau menundanya lagi,"ujar Lintang, "please sekali ini aja, Ra".
Ara memandangi wajah Lintang yang masih memohon itu. Akhirnya, dengan setengah ragu, Ara pun mengangguk menyanggupinya. 

Sore itu, Ara tiba di kafe tempat Lintang bekerja jam 03.04 sore. Meski ini kali pertama Ara menyanyi di depan umum, tapi suasana kafe itu sudah tak asing baginya. Lintang sudah beberapa kali mengajaknya kesana, sekedar janjian bertemu atau bahkan menunggui sahabatnya itu menyanyi. Ara juga mengenal beberapa orang yang bekerja disana. Ara sengaja datang satu jam sebelum waktunya untuk menenangkan dirinya dan menyatukan suasana kafe itu dengan suasana hatinya.

Sementara itu, di tempat lain Bintang tampak sedang menyisir jalanan dengan motornya. Malam sebelumnya, ia dan pacarnya bertengkar. Pertengkaran yang dipicu karena waktu Bintang seminggu ini seolah tersita dengan kerjaannya dan membuat dia harus menomorduakan pacarnya itu. Hari Sabtu biasanya dihabiskan Bintang untuk memprioritaskan pacarnya, tapi entah kenapa sejak pertengkaran terakhir semalam, Bintang belum tergerak untuk mengalah dan berbaikan lagi dengan pacarnya itu. Beberapa minggu terakhir ini, Bintang merasa hidupnya sangat letih dan sunyi. Pertengkaran dengan pacarnya pun seolah membuat Bintang cuek menanggapinya karena ia merasa "kehabisan tenaga" alias kelelahan di titik ini. Bintang sedang menyusuri jalan tanpa tujuan ketika pandangannya terhenti pada satu bangunan yang tak asing baginya. Sebuah kafe yang mirip sekali dengan yang ada di mimpi anehnya semalam. Sejenak, Bintang mengamati kafe itu dengan seksama seolah memastikan apakah memang kafe itu kafe yang ada di mimpinya. Beberapa saat kemudian, Bintang pun memutuskan.untuk masuk ke dalam kafe tersebut. Bintang mengamati sekeliling kafe itu, sampai ia dapati satu tempat duduk di pojokan yang mirip sekali dengan mimpinya. Kafe sore itu sangat rame dengan pengunjung. Dan dari kejauhan terlihat di panggung, seorang perempuan sedang asyik menyiapkan gitar dan dirinya untuk bernyanyi. Ara memutuskan untuk menyanyi dengan akustik sore itu. 
Waktu pun berlalu dan Bintang pun sudah memesan segelas kopi dan sepiring klapertart. Dia terdiam duduk di pojok kafe itu, merasakan sunyi diantara ramainya kafe saat itu.
Bintang seperti sedang berada di dalam mimpinya.
Arloji di tangan Ara menunjukkan pukul 15. 56 ketika Ara mulai menyanyi. Ia harus membawakan lima lagu saat itu. Untunglah performa Ara mampu membuat pengunjung kafe menikmatinya ketika kemudian Ara sampai di lagu yang terakhir.
"Untuk lagu terakhir, saya akan menyanyikan lagu anak-anak yang sudah pasti familiar di telinga kita semua, dengan sedikit modifikasi. Semoga kalian dan anda semua suka". Ara pun mulai menyenandungkan lagu Tit Tik Bunyi Hujan dan Pelangi dengan akustik tapi dengan nada ceria. Tak disangka, lirik lagu anak-anak itu ternyata menarik hati Bintang untuk tersenyum mengenang masa kecilnya, saat Nenek atau Bundanya menyanyikannya lagu itu seolah sunyi itu terpinggirkan sejenak ketika lagu itu mengalun dengan sederhana tapi merdu di telinganya. 
Bintang mengamati penyanyi itu dan menikmati suaranya beberapa saat ketika ia menyadari bahwa wajah itu sepertinya pernah dilihatnya. Penyanyi itu adalah perempuan yang ada di mimpinya semalam. Meskipun ia tertegun mengetahuinya, tapi entah kenapa suara merdu perempuan itu menyanyikan lagu anak-anak seolah menghadirkan sedikit ceria di hatinya dan mampu membuatnya mengabaikan hal lain yang dirasakannya.

Beberapa saat kemudian, akhirnya Ara berhasil menyelesaikan tugasnya sebagai penyanyi pengganti Lintang. Tanpa disangka, respons pengunjung sangat melegakannya karena ia mendapatkan applause yang sangat meriah setelah ia menyelesaikan lagu anak-anak sebagai penutup penampilannya. Tak terkecuali applause dari Bintang meski Ara tidak melihat keberadaannya yang agak tersembunyi di pojokan. Ara merasa senang sekali karena ternyata lagu penutupnya itu mampu menghadirkan senyum ceria pengunjung kafe itu, seolah mereka kembali ke masa kanak-kanak mereka.
Ara baru saja menerima honornya dan hendak keluar dari kafe itu ketika seseorang memanggilnya.
"Tunggu, mbak penyanyi. Tolong jangan pergi dulu...," terdengar suara laki-laki itu membuat Ara menghentikan langkahnya kemudian menoleh padanya. Ara terkejut melihat laki-laki itu. Laki-laki yang beberapa kali hadir dalam mimpi anehnya kini sedang berdiri di hadapannya. 
"Aku sangat suka lagu penutup kamu, tentang hujan dan pelangi tadi. Bagus banget," ujar laki-laki itu tersenyum tipis sejenak.
"Terima kasih. Syukurlah kalau kamu menyukainya". Ara balas tersenyum. Ia berusaha senetral mungkin bersikap di depan laki-laki itu meski ketertegunan tentang mimpi itu terus menghinggapi pikirannya.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya laki-laki itu tiba-tiba membuat Ara bengong untuk sesaat sebelum akhirnya ia kemudian menggelengkan kepalanya.
Bintang pun balas mengangguk. Ia seolah mendapatkan dukungan yang meyakinkan dirinya bahwa ia memang belum pernah bertemu dengan perempuan itu di dunia nyata.
"Apa boleh aku meminta kamu menyanyikan satu lagu lagi? Satu lagu anak-anak yang jadi kenangan aku bersama nenek aku," ujar Bintang dengan wajah netral sedikit memohon.
Ara terdiam sejenak mengamati laki-laki di depannya itu. "Maaf, tapi tugas aku untuk menyanyi disini sudah selesai dan aku harus pergi. Aku cuma penyanyi pengganti disini. Sekali lagi, aku minta maaf banget, ya," jawab Ara dengan muka menyesal.
Bintang masih terdiam di tempatnya ketika Ara memberi isyarat hendak pergi.
"Aku mohon, tolong nyanyikan Lagu Bintang Kecil sekali saja buat aku," sambung Bintang tiba-tiba membuat Ara pun tertegun dan menatap laki-laki di hadapannya itu. Wajah itu, wajah yang dipenuhi kesunyian, wajah yang membuat hatinya tersentuh didalam mimpinya, kembali terbayang dengan jelas di pikiran Ara. Akhirnya Ara pun mengangguk sambil tersenyum kepada laki-laki itu. "Ya sudah, aku akan menyanyikan lagu itu untuk kamu, aku tanya dulu ke pengelola kafenya ya, semoga diperbolehkan. Kamu duduk saja kembali di tempat duduk kamu tadi". Bintang pun balas tersenyum.
Ara menghampiri pengelola kafe dan menjelaskan permintaan laki-laki itu. Tanpa keberatan sama sekali, pengelola kafe menyanggupi permintaan itu, apalagi permintaan itu datang dari pengunjung baru kafe itu. Dengan wajah ceria, akhirnya Ara kembali naik panggung dengan gitarnya.
"Maaf, karena ada permintaan dari salah satu pengunjung kafe, saya akan menyanyikan satu lagi lagu anak-anak berjudul Bintang Kecil. Semoga lagu ini bisa menghibur dan membawa keceriaan. Semoga pengunjung yang lain juga bisa menikmatinya, terima kasih". Ara pun mulai bernyanyi sambil tersenyum dan tertawa ceria. Ia seolah ingin menghibur laki-laki yang ada di mimpinya itu meski hanya dengan lagu. Sementara itu, Bintang yang kembali duduk di tempatnya semula terlihat asyik menikmati lagu yang dibawakan Ara. Lagu dan suara itu mampu membuatnya tersenyum dari awal sampai akhir dinyanyikan.

Tak terasa lagu Bintang Kecil itu pun sampai di penghujungnya saat applause yang sangat meriah diterima Ara termasuk dari Bintang yang sengaja memberikan standing applause di tempat ia duduk. Mereka sempat saling bertukar senyum sejenak. Setelah itu, Ara terlihat sedang mengobrol dengan pengelola kafe sehingga Bintang yang ingin mengucapkan terima kasih memutuskan menunggu sembari menghabiskan makanan dan minumannya sambil meminta bill pembayaran. Untuk sejenak kemudian, Bintang sibuk membereskan barangnya dan ia pun tak sempat menyadari kepergian Ara. Saat Bintang menoleh ke arah dekat  panggung, tempat Ara terlihat mengobrol sebelumnya, dan sekitarnya ia tak lagi menemukan bayangan Ara. 
"Aku bahkan tak sempat mengucapkan terima kasih pada perempuan tadi...," ujar Bintang dalam hati sembari tersenyum sejenak sebelum kemudian ia bergegas pulang ke apartemennya. 

~ Bersambung ~

Selasa, 27 Oktober 2015

Misi Peri Baik dan Kurcaci Raksasa (Superman) - Ada Kisah Kita Diantara Kamu dan Aku (AKKDKdA) Part Khusus 4 : Kita Merajut Sederhana (2)

Alur Sebelumnya Kita Merajut Sederhana (1)

Kita Merajut Sederhana (2)
Ara baru saja mengganti bajunya yang basah setelah menerobos hujan, ia sekalian mengambil wudlu karena kebetulan dirinya belum sholat Isya. Selepas menyelesaikan doa-doanya, Ara bergegas hendak bersiap tidur saat tiba-tiba ia teringat sebuah obrolan lama dengan Rizzar tentang malam jumat dan amalan surat Al Kahfi. Ara urung membuka mukenanya, dia ambil Alquran kecilnya dan i-phonenya, kemudian mulai mengaji ayat demi ayat surat tersebut. Waktu menunjukkan pukul 23.30 ketika Ara menyelesaikan surat Al Kahfinya. Ia buka chatnya dengan Kurcaci Raksasa.
"Sudah sampai rumah belum, Riz?" ketik Ara
Tak ada jawaban dari Rizzar, Ara pun memutuskan untuk bergegas berangkat tidur. "Semoga Allah selalu menjaga kamu dimana pun dan kapan pun, Riz," ujar Ara dalam hati. Tak lupa sebelum tidur, Ara mengirimkan sebuah pesan suara ke Rizzar disertai kalimat pengantar “Kamu mengingatkanku tentang ini. Aku cuma mengirimkan bacaan aku di awal-awal. Apa kamu keberatan membetulkan bacaan aku dari awal hingga akhir, Riz?”
Waktu di i-phone Ara menunjukkan pukul 05.00 pagi saat suara alarm membangunkan Ara. Ara melirik ke i-phonenya sejenak sekaligus mematikan alarm saat ia lihat ada notifikasi atas nama Kurcaci Raksasa.
“Maaf Ra, i-phone aku mati dan baru aku nyalakan. Alhamdulillaah aku sampai dengan selamat dan tidur dengan lumayan nyenyak semalam. Semoga kamu pun demikian.  Selamat beraktivitas, Peri Baik... see you soon. I cann’t wait it (ind: sampai jumpa secepatnya. Sudah tidak sabar untuk itu),” tulis Rizzar diakhiri dengan emotion senyum.
Ara tersenyum membacanya. “Alhamdulillaah, senang membacanya. Semangat buat kita semua, Kurcaci Raksasa. I wish that our journey, our little mission today will make more happiness and positive spirit for me and especially for you (ind: aku berharap bahwa perjalanan kita, misi kecil kita hari ini akan melahirkan lebih banyak kebahagiaan dan semangat positif untukku dan khususnya untukmu),” balas Ara sambil mengakhiri kalimatnya dengan emotion senyum dan semangat.
Rizzar pun membalas dengan memasang emotion tawa lebar. “Soal permintaan kamu tentang bacaan Al Kahfi kamu, tentu saja aku tidak keberatan, tapi tentunya semampuku, Peri Baik. Terima kasih juga karena Peri Baik sudah membuatku ingat akan hal-hal yang kulewatkan beberapa minggu terakhir ini karena kesibukanku”.
Ara kembali mengetik, “It’s okay, Riz, terima kasih banyak ya. Sama-sama Kurcaci Raksasa. Aku senang kita masih bisa saling mengingatkan dalam kebaikan meski kita nyaris tidak pernah berkomunikasi”.
Baik Rizzar dan Ara sama-sama tersenyum di tempat mereka masing-masing. Percakapan mereka di Jumat pagi itu pun berakhir tanpa ada yang mengakhiri, seolah saling memahami.
Waktu di arloji Ara menunjukkan pukul 11.44 ketika Ara tiba di Stasiun Jakarta Kota. Ara bergegas memarkirkan mobilnya setelah ia memastikan semua barang yang mungkin diperlukan untuk misi dia bersama Rizzar sudah masuk di tas ranselnya. Saat itu Ara berpenampilan casual, hanya menggunakan celana jeans dan kaos serta menambahkan jaket pinknya. Setelah memasang topi di kepalanya dan tak lupa mengenakan masker di wajahnya yang nyaris tanpa make up itu, Ara pun bergegas menuju loket, membeli dua kartu multi trip buat dirinya dan Rizzar. Sambil menunggu Rizzar, Ara bergegas ke musholla stasiun menunggu saat Sholat Zhuhur tiba.
Waktu menunjukkan pukul 13.30 saat ada notifikasi dari Kurcaci Raksasa di i-phone Ara yang sedang menunggu Rizzar sambil menikmati segelas kopi di Starbucks Stasiun Kota.
“Peri Baik, dimana? Aku baru sampai di Stasiun Jakarta Kota, di dekat BNI Kota,” tulis Rizzar.
“Oke, tunggu sebentar, aku segera kesana, Riz. Jangan kemana-mana ya, nanti kamu hilang di stasiun lagi,” balas Ara sambil mengakhiri dengan emotion menjulurkan lidah, menggoda Rizzar.
Beberapa menit kemudian Ara pun menemukan mobil Rizzar dan menghampirinya lalu mengetuk kaca mobil Rizzar. “Selamat siang, Kurcaci Raksasa...,” ujar Ara menyapa Rizzar sambil menurunkan maskernya agar Rizzar bisa melihat senyumannya. Rizzar balas tersenyum, “Peri Baik...., pangling lihat kamu dengan penampilan seperti ini. Ayo masuk dulu ke mobil, Peri...”.
Ara tertawa kecil sambil mengangguk lalu bergegas masuk dan duduk di sebelah Rizzar.
“Masih semangat, kan Kurcaci Raksasa?” tanya Ara membuka maskernya sambil tertawa bersemangat serta seraya menyodorkan segelas coklat dingin ke Rizzar. Rizzar mengangguk sambil meringis dan segera meminum coklat dingin yang disodorkan Ara setelah sebelumnya tak lupa mengucapkan terima kasih. “Memang kita mau kemana sih, Peri Baik?” tanya Rizar lagi dengan raut penasaran.
Ara tertawa lebar melihat kelakuan Rizzar yang kehausan dan dengan super cepat menyeruput coklat dingin itu.” Misi kita hari ini adalah naik commuter line alias KRL ke Bogor kemudian balik lagi kesini, Kurcaci”.
Rizzar melebarkan bola matanya, “Panas-panas begini kita naik KRL, Peri?” Ara mengangguk sambil mengedipkan satu matanya. “Kenapa? Kurcaci Raksasa jangan-jangan takut hitam atau takut gerah ya?” goda Ara. “Belum juga mulai, wajah Kurcaci sudah berkeringat banyak soalnya, ha ha”. Rizzar pun memanyunkan bibirnya sambil kemudian tersenyum ke Ara. “Siapa juga yang takut hitam, tapi serius deh Peri. Siang ini hawanya berasa lumayan panas”.
“Hmmm, jadi Kurcaci Raksasa menyerah nih ceritanya, mau membatalkan misi siang ini?” tanya Ara.
Rizzar menggelengkan kepalanya dengan pasti sembari tertawa lebar. “Nggak lah, Peri Baik, Peri sudah berniat baik untuk mengajak dan menemani Kurcaci siang ini. Lagipula kalau pun harus berpanas-panas ria kan nggak sendiri juga alias ditemani Peri Baik. Jadi tetap berasa adem”.
“Ishh mulai deh nakalnya,” jawab Ara sambil tergelak membuat Rizzar ikut tertular buat tertawa.
“Hmm..., tapi jujur penampilan Peri Baik hari ini benar-benar beda. Sederhana, sudah siap buat menyamar, tapi... tetap cantik kok,” sambung Rizzar lagi.
Ara menggeleng-gelengkan kepalanya karena menganggap Rizzar sedang ngegombal.
“Pastinya, makin jauh dari kriteria perempuan yang ada di bayangan Superman, ya Riz...,” timpal Ara ganti meledek Rizzar.
Rizzar menatap Ara tanpa berucap apa-apa membuat Ara menjadi salah tingkah dan mengalihkan pandangannya kearah lain. “Memangnya penilaian aku tentang perempuan membuat kamu sedih, ya Peri? Memangnya Peri Baik peduli dengan penilaian aku?” tanya Rizzar dengan raut serius.
Ara menoleh kembali kearah Rizzar kemudian tersenyum. “Hal yang wajar saat laki-laki, termasuk kamu tentunya, menyukai keindahan termasuk kecantikan seorang perempuan, Riz. Kalau kamu menanyakan apakah aku peduli dengan penilaian kamu, hmmmm... anggap saja tidak, Riz. Meskipun aku menyisakan sedikit peduli, tapi ada hal  di hati aku yang meyakini bahwa aku percaya menjadi diriku sendiri, apa adanya aku. Buat aku make up adalah alat, tapi berusaha mempercantik hati jauh lebih penting meski menjaga kecantikan fisik pun tidak kalah penting”.
Rizzar tersenyum masih menatap Ara yang masih tetap tersenyum manis di hadapannya itu.
“Kamu mungkin bukan yang tercantik dalam hal fisik yang ada di bayanganku, tapi... hati kamu itu salah satu yang terindah dan mempunyai tempat yang istimewa, tidak tergantikan, di ruang hati aku, Peri...,. ucap Rizzar dalam hati. Rizzar sadar kalimat itu hanya bisa dipendamnya untuk dirinya sendiri.
“Oh ya, bagaimana kalau kita segera memulai misi kita sekarang, Riz? Soalnya kalau keburu sore, KRL bakal penuh dan sangat berdesakan, Riz”. Ucapan Ara itu pun membuyarkan keheningan sejenak diantara mereka. Rizzar mengangguk sambil tersenyum lebar. Setelah memarkir mobilnya dan mengenakan masker dan topi, Rizzar dan Ara pun bergegas masuk menunggu kedatangan KRL jurusan Stasiun Bogor.
“Btw, aku kan Superman, Peri Baik. Harusnya bukan pakai masker wajah seperti ini kalau mau menyamar, melainkan pakai topeng”. Ara tergelak, ”Beneran nih mau pakai topeng ala Superman? Sekalian saja pakai kostumnya, “ goda Ara membuat Rizzar tergelak.
“Nggak mau ah, nanti banyak yang minta foto-foto lagi,” balas Rizzar makin membuat tawa mereka mengembang.
Rizzar dan Ara sedang asyik bercanda ketika KRL jurusan Bogor tiba. Rizzar dan Ara bergegas menyusuri gerbong KRL, mencari tempat duduk untuk mereka. Hingga beberapa stasiun selanjutnya KRL pun masih terlihat lengang, Rizzar dan Ara pun asyik dalam obrolan mereka tentang bermacam manusia di sekitar mereka dan pemandangan di luar yang terlihat dari KRL.
“Kadang ada kalanya, aku itu merasa lelah banget baik di hati maupun pikiran, Riz. Tapi kemudian aku diperlihatkan hal-hal yang sederhana di sekitar yang membuat aku sadar bahwa ternyata masih banyak yang kurang beruntung dibandingkan aku. Salah satunya, lewat apa yang kita lihat di sekitar kita selama di KRL ini,” ujar Ara ke Rizzar.
Rizzar tersenyum mengangguk. “Dulu waktu aku masih tidak terlalu sibuk dengan aktivitas kerja, aku juga suka mengamati hal-hal sederhana yang ada disekitarku, Ra. Yaa meskipun dulu aku mikirnya simpel dan kekanakan, ha ha. Tapi, berarti kamu sering juga menyusuri rute KRL seperti ini, Ra?”
Ara menggelengkan kepalanya pelan dengan ekspresinya yang menunjukkan bahwa dia sedang tersenyum. “Jujur, ini yang pertama buat aku menyusuri rute KRL meskipun kalau rencana melakukan ini sudah beberapa kali terlintas di pikiran. Aku juga sudah googling rute KRL dan semua aktivitas yang terkait ini. Justru kamu yang membuat aku mantap untuk melakukannya hari ini”.
Rizzar tergelak, “Kadang kesibukan dan kecintaan kita akan duniawi membuat kita lupa akan hal-hal sederhana seperti ini, ya Ra. Aku bangga dengan pencapaian diri aku sendiri yang alhamdulillaah menurut aku sesuai dengan yang kuinginkan. Ketenaran, rizki yang buat aku lumayan cukup untuk membeli apa yang aku dan keluarga aku inginkan, dan banyak hal lainnya. Namun, ada kalanya di satu ruang hati, muncul perasaan bahwa ada sesuatu yang belum terpuaskan, tetap merasa kurang,” ujar Rizzar sambil tersenyum ke Ara yang mengangguk pelan. “ Kamu benar, tapi melihat sekitar kita, ada pejuang kehidupan yang harus berjuang lebih keras untuk bisa makan dan menghidupi keluarganya, membuat kita tersadarkan bahwa kita seharusnya bisa lebih bersyukur. Kalau kita lihat para pedagang kaki lima misalnya yang bersabar menunggu pembeli dan berpanas-panas ria dan itu pun belum tentu laku semua, kita jadi diingatkan bahwa hidup itu keras. Kalau orang-orang seperti mereka masih bisa tertawa dan tersenyum, kita jadi diingatkan bahwa cara kita memandang kehidupanlah yang akan membuat hidup kita jadi bermakna dan indah sekeras apapun kehidupan yang harus dihadapi,” ujar Ara dibalas dengan ekspresi Rizzar yang tersenyum dan mengangguk setuju.
“Kalau kita lihat rumah-rumah kumuh di luar sana, aku jadi lebih bersyukur kita bisa hidup di rumah yang lebih layak”. Ganti Ara yang sekarang mengangguk setuju.
Rizzar dan Ara terus berbagi obrolan tentang hidup ketika KRL berhenti di Stasiun Juanda. Banyak penumpang yang naik kala itu sehingga KRL pun mulai terisi lumayan penuh. Semakin banyak penumpang yang berdiri saat itu ketika Ara melihat seorang ibu tua dan cucunya sekitar 10 tahunan yang baru naik, berdiri karena tidak dapat tempat duduk.
“Riz, ayo kita berdiri dan memberikan tempat duduk kita buat nenek itu dan cucunya,” bisik Ara ke Rizzar. Rizzar menoleh ke Ara sejenak kemudian kearah yang ditunjukkan Ara. “Memangnya kamu tidak apa-apa berdiri Ra?” tanya Rizzar yang dibalas dengan anggukan pelan dari Ara yang terlihat tersenyum lebar. Ara pun bergegas memanggil dan menyilahkan  nenek dan cucu tadi untuk duduk di tempat Rizzar dan Ara sementara mereka berdua pun berdiri bersebelahan.
“Kamu nggak apa-apa kan kita berdiri seperti ini, Riz?” tanya Ara pelan.
“Aku nggak apa-apa Ra, tapi aku justru khawatir ke kamu Ra. Kamu beneran nggak apa-apa berdiri? Bagaimana kalau nanti ternyata kita harus berdiri sampai Stasiun Bogor? Masih banyak stasiun lagi yang tersisa lho, Ra”. Ara makin melebarkan senyumannya ke Rizzar sambil mengangguk-anggukkan kepalanya pasti seolah ingin menenangkan Rizzar. “Aku insyaa Allah nggak apa-apa, Riz. Dibandingkan mereka, kita jauh lebih kuat secara fisik untuk berdiri, Riz”. Rizzar tersenyum memandangi Ara yang tetap ceria dan bersemangat dihadapannya itu sejenak. “Terima kasih ya, Ra. Kamu sudah mengingatkan aku kebaikan kecil ini yang nyaris aku lupa karena sudah lama tidak melakukannya”. Ara tersenyum lembut, “Sama-sama, Riz. Karena kamu juga, kita bisa naik KRL sekarang dan bisa melakukannya. Terima kasih banyak buat Kurcaci Raksasa”. Rizzar tertawa kecil. Peri Baik di hadapannya itu selalu punya cara buat menyemangati hatinya. Rizzar dan Ara asyik melihati pemandangan di luar KRL dan sekitar mereka, sesekali obrolan dan candaan saling mereka lontarkan satu sama lain. Sementara itu, KRL pun semakin dipenuhi penumpang. KRL sedang berada diantara Manggarai Tebet ketika Ara menoleh ke Rizzar yang terdiam dengan ekspresi aneh dan dipenuhi keringat di wajahnya padahal AC di dalam KRL cukup terasa.
“Kamu baik-baik saja, Riz?” tanya Ara sambil menepuk bahu Rizzar pelan. Rizzar menoleh ke Ara sambil tersenyum dan mengangguk pelan. “Aku baik-baik saja, Ra. Cuma sedikit pusing saja, sudah beberapa hari ini suka pusing tiba-tiba. Ga tau kenapa”.
Ara pun menjadi khawatir, “Kalau begitu kita turun saja dari KRL ya? Kita balik saja ke Stasiun Kota biar kamu bisa segera istirahat di rumah”.
Rizzar memandangi Ara seraya berusaha melebarkan senyumannya seolah ingin menenangkan Ara.  “Aku nggak apa-apa Ra. Di lokasi juga kadang suka pusing tiba-tiba gini dan itu cuma sebentar kemudian bakal hilang dengan sendirinya. I’m fine, Ra”.
Ara memandangi Rizzar tanpa suara. Entah kenapa meski Rizzar berucap baik-baik saja, hatinya tidak bisa berhenti mencemaskan Rizzar. Ia ambil beberapa helai tissue dari ranselnya dan memberikannya ke Rizzar untuk menyeka keringat di wajah Rizzar, sementara Rizzar hanya terdiam menerimanya dan hanya tersenyum kecil.
“Kenapa kamu tidak bilang soal pusing kamu akhir-akhir ini, Riz. Andai aku tahu, aku tidak akan ajak kamu pergi hari ini biar kamu bisa memanfaatkan waktu libur kamu buat istirahat di rumah,” sambung Ara lirih.
Rizzar hanya menggelengkan kepalanya pelan sambil berusaha melebarkan senyumannya.
“Aku menginginkan perjalanan kita kali ini, Ra. Jarang-jarang kita bisa jalan seperti ini. Dan aku ingin menyelesaikan perjalanan kita ini, Ra”.
Rizzar dan Ara saling menatap sambil melebarkan senyuman masing-masing. Wajah Ara masih saja menyiratkan rasa cemasnya akan Rizzar ketika Rizzar berbisik di dekat telinga Ara, “Wajah Peri Baik jangan cemas begitu donk, bukannya misi kali ini adalah membuat Superman menjadi lebih tangguh lagi dan makin banyak tersenyum? Kalau wajah Peri Baik seperti ini, boro-boro menjelma menjadi Superman, Kurcaci Raksasa jadi takut dan susah tersenyum”. Ara tertawa kecil mendengarnya. Ia segera berusaha menyembunyikan ekspresi cemasnya itu dan kemudian menoleh kearah Rizzar dengan wajah ceria dan senyum yang super lebar. “Kalau begini, Kurcaci masih takut nggak?” tanya Ara.
“Sudah enggak takut lagi,” Rizzar balas tersenyum dan mengedipkan matanya. Mereka kembali terdiam, pusing yang dirasakan Rizzar pun masih bergelayut di kepalanya, bahkan semakin terasa.
KRL memasuki Stasiun Kalibata saat Rizzar tiba-tiba menyenggol pelan tangan Ara. “Ra, kita turun dari KRL sebentar ya..., sepertinya aku perlu udara segar sejenak”.
Ara memandangi wajah Rizzar, wajah itu terlihat agak pucat dan dipenuhi keringat dingin.
“Kamu masih kuat jalan, Riz? Pusing banget ya?” tanya Ara dengan raut cemas.
“Aku nggak apa-apa, Ra dan masih kuat jalan pastinya. Aku cuma perlu break sebentar dari perjalanan kita ini. Cuma perlu duduk sambil menghirup udara segar saja,” sahut Rizzar lirih berusaha tetap tersenyum.
Akhirnya Ara dan Rizzar pun turun di Stasiun Pasar Minggu Baru. Meski kepalanya pusing, Rizzar tetap berusaha melindungi Ara sepanjang perjalanan itu termasuk ketika mereka berjalan kearah pintu kereta.
Mereka berdua pun duduk di salah satu kursi tunggu kosong yang ada di stasiun yang cukup lengang itu. Rizzar segera mengambil air putih di ranselnya sementara Ara segera mengeluarkan tissue dan sekotak susu coklat.
Rizzar menurunkan maskernya kebawah hidung dan segera menyeka keringat dinginnya serta meminum air putihnya. Kemudian ia meminum susu coklat pemberian Ara itu.
“Apa yang kamu rasakan, Riz? Yakin kita masih mau melanjutkan misi ini, Kurcaci?”
Rizzar memandangi Ara sambil mengangguk pelan. “Aku cuma perlu break sebentar kok, Peri Baik. Maaf membuat Peri jadi khawatir. Pusing ini juga sebentar lagi pasti hilang dan badan aku pasti enakan”.
“Apa nggak sebaiknya kamu periksa ke dokter, Kurcaci? Soalnya sudah beberapa hari ini kamu merasakan pusing yang datang dengan tiba-tiba,” tanya Ara berusaha membalut raut cemasnya dengan tenang.
“Cuma pusing biasa kok, Peri Baik. Insyaa Allah nggak apa-apa. Mungkin kurang zat besi kali, ya” balas Rizzar meringis dan tetap tersenyum.
Ara teringat sesuatu, ia segera membuka ranselnya.
“Alhamdulillaah aku bawa pil penambah darah, kamu makan roti ini dulu baru minum pilnya ya”.
Rizzar merasa heran sejenak mengetahui ternyata Ara membawa bekal yang benar-benar siap untuk berbagai kondisi.
“Sebegitu khawatirnya kah Peri Baik terhadap Kurcaci Raksasa sampai-sampai Peri bawa bekalnya komplit banget seperti ini?” tanya Rizzar sambil tersenyum.
Ara menggelengkan kepalanya pelan sambil menjulurkan lidahnya keluar. “Aku membawa ini bukan semata-mata untuk Kurcaci kok. Sekedar jaga-jaga siapa tahu diperlukan”. Ara tersenyum lebar ke Rizzar sementara Rizzar masih menatapnya.
“Jangan terlalu mengkhawatirkan aku, Peri Baik. Biarkan aku mengkhawatirkan kamu dan menjadi pelindungmu dengan cara aku sendiri,” ujar Rizzar dalam hati.
“Kok malah bengong, Kurcaci. Ayo segera dimakan rotinya”. Suara lembut Ara menyadarkan Rizzar. Dengan lahap Rizzar menghabiskan roti dan kemudian segera menelan pil zat besi pemberian Ara itu.
Untuk beberapa saat Ara dan Rizzar pun larut dalam diam mengamati kondisi di sekitar stasiun tempat mereka berhenti itu.  
“Lihat Peri, pemulung itu. Dia mengumpulkan barang bekas di jalan dan tempat sampah untuk dijual lagi agar bisa membawa uang untuk makan keluarganya,” ujar Rizzar memulai obrolan lagi setelah tubuhnya berasa cukup enakan.
“Iya, mereka berpanas-panas ria untuk bisa tetap makan setiap harinya. Sementara kita, meski kita juga bekerja keras dalam kehidupan kita masing-masing, setidaknya kita bisa bertanya, kita ingin makan apa hari ini bukan apakah kita bisa makan hari ini”.
Rizzar dan Ara saling memandang dan tersenyum.
“Mungkin bagi sebagian kita atau sebagian orang, pekerjaan mereka terlihat rendah, tapi jujur aku lebih menghargai mereka yang berpeluh-peluh untuk mencari rizki yang halal untuk keluarganya meski tidak seberapa dibandingkan mereka yang mengambil yang bukan haknya atau hanya sekedar menjadi peminta-minta,” sambung Ara diikuti dengan anggukan kepala Rizzar.
“Oh iya, bagaimana pusing kamu, Kurcaci? Sudah merasa enakan belum?” tanya Ara berusaha tidak menampakkan raut cemasnya dan melebarkan senyumannya.
“Alhamdulillaah sudah enakan, Peri Baik. Tapi, tunggu beberapa menit lagi ya buat meneruskan perjalanan kita ke Bogor. Masih ingin menikmati udara segar soalnya, ha ha”.
Ara tersenyum. Mereka pun kembali melanjutkan obrolannya.
“Dulu, aku selalu membayangkan bahwa Superman itu adalah super hero yang tampan, badannya atletis, pokoknya keren seperti yang ada di televisi. Tapi seiring waktu, aku jadi menyadari Peri, Superman sesungguhnya banyak di sekitar kita. Mereka, para laki-laki yang melakukan kebaikan untuk orang lain, mereka yang bekerja keras dan berjuang untuk keluarga mereka, mereka Superman sesungguhnya. Dan aku ingin menjadi bagian dari mereka, menjadi Superman yang sesungguhnya,” ujar Rizzar sambil tersenyum.
“Kamu sudah menjadi bagian dari Superman yang sesungguhnya, Kurcaci. Kamu dan kerja keras kamu, kamu yang selalu berusaha untuk melindungi dan membahagiakan keluarga kamu terutama Mama, kamu yang berusaha untuk membahagiakan orang lain, orang-orang  yang kamu sayangi dan menyayangi kamu, cewek dan fans kamu. Bahkan menurut aku selain menjadi Superman sesungguhnya, fisik kamu pun mencerminkan tokoh Superman yang ada di televisi. Kamu itu kombinasi keduanya, Superman dalam kehidupan dan Superman sosok superhero itu,” balas Ara sambil tersenyum lebar kearah Rizzar sambil mengangguk yakin. Rizzar menatap Ara dengan tersenyum, sedikit tersipu ia mendengar ucapan Ara buat dirinya itu. Entah kenapa, Peri Baik dihadapannya ini seolah tak lelah menyemangatinya untuk selalu percaya bahwa dia bisa menjadi Superman yang tangguh.
“Terima kasih karena Peri Baik selalu percaya bahwa Kurcaci Raksasa ini bisa menjadi Superman yang tangguh. Padahal saat aku menjelma menjadi Superman, aku mungkin seringkali mengabaikan keberadaan Peri Baik. Bahkan beberapa kali Peri Baik juga melihat sisi lemah aku,” balas Rizzar sambil memandang kearah Ara .  
Ara menggelengkan kepalanya, “Aku percaya sama kamu, Riz. Kamu itu bisa menjadi Superman yang tangguh. Kalaupun kamu mengabaikan aku, aku percaya bahwa kamu punya alasan melakukannya, Riz, dan aku percaya salah satu diantaranya adalah untuk kebaikan aku juga”. Ara melebarkan senyumannya kepada Rizzar, ”Dan sekali lagi, menjadi Superman yang tangguh bukan berarti kamu tidak boleh merasa lelah atau sedih atau lemah, Riz. Setangguh apapun Superman, dia tetaplah manusia”.
Rizzar melebarkan senyumannya untuk Ara dan mengangguk pelan. Untuk sesaat mereka kehilangan kalimat untuk melanjutkan obrolan diantara keduanya selain berbagi senyuman satu sama lain.
Waktu menunjukkan pukul 15.30 ketika Rizzar mengajak Ara meneruskan perjalanan mereka naik KRL ke Stasiun Bogor.
Baik Ara dan Rizzar masih mendapatkan tempat duduk bersebelahan waktu itu karena kebetulan ada beberapa orang yang turun di gerbong yang mereka naiki.
“Alhamdulillaah, masih dapat tempat duduk, ya Riz,” ucap Ara lirih berbisik ke Rizzar yang dibalas Rizzar dengan anggukan dan senyuman meski tertutup masker.
KRL berhenti di Stasiun Pasar Minggu ketika beberapa orang terlihat naik di gerbong tempat Rizzar dan Ara berada. Terlihat seorang ibu membawa balita sedang mencari tempat duduk. Ara yang melihatnya hendak memanggil beliau ketika Rizzar menyilahkan ibu itu untuk duduk di tempatnya dan Rizzar pun berdiri di depan tempat duduk Ara. Ara menarik jaket Rizzar pelan, memanggilnya dan membuat Rizzar menoleh kepadanya. “Kamu duduk saja, Riz. Biar aku saja yang berdiri,” ucap Ara tanpa suara, hanya menurunkan maskernya ke bawah mulut sejenak agar Rizzar memahami bahasa bibirnya. Rizzar tersenyum lebar sambil menggelengkan kepalanya dan mengambil i-phone dari jaketnya.
“Kamu saja yang duduk, Peri Baik. Aku baik-baik saja. Jangan khawatirkan aku. Aku kan Superman, Peri,” ketik Rizzar kepada Ara.
Ara membaca pesan Rizzar itu dan tersenyum. “Tapi tadi kamu habis pusing Kurcaci, sekarang baru satu stasiun sudah berdiri lagi. Izinkan Peri Baik memberikan tempat duduknya buat Kurcaci ya,” balas Ara.
Rizzar membaca pesan Ara itu kemudian menoleh ke Ara sambil tersenyum lebar sambil menggelengkan kepalanya pasti.
“Aku baik-baik saja, Peri,” balas Rizzar lagi dan kemudian menaruh i-phonenya kembali ke sakunya.
Ara memandangi Rizzar yang masih dengan ekspresi tersenyum kepadanya dibalik maskernya itu. Ara kemudian memutuskan berdiri disamping Rizzar membuat Rizzar pun terkejut melihatnya. “Kok kamu ikutan berdiri, Ra? Sudah kamu duduk saja sebelum ditempati orang lain. Stasiun Bogor masih jauh lho, Ra. Aku baik-baik saja kok, bukannya kamu tadi bilang bahwa kamu percaya kalau aku itu Superman tangguh?”
Kini Ara yang menggelengkan kepalanya ke Rizzar menolak untuk duduk kembali sambil tersenyum lebih lebar.
“Suatu kehormatan buat Peri Baik bisa menemani berdiri disebelah Superman yang tangguh dan cakep ini, apalagi Superman baru saja memberikan tempat duduknya buat seorang ibu dan anak balitanya. Sebuah hal kecil yang mulia apalagi kalau mengingat Superman yang baru saja pusing sebelumnya,” ucap Ara lirih di dekat Rizzar sambil menatap lembut Rizzar.
Rizzar pun tergelak mendengarnya dan kemudian balas menatap Ara dengan senyuman tersipu. Kalimat Ara yang terasa tulus itu menyentuh hatinya dengan indah, membakar semangat Rizzar untuk menjadi Superman yang lebih tangguh lagi.
“Peri  bisa aja membesarkan hal-hal yang kecil,” sambung Rizzar kemudian sambil memanyunkan bibirnya.
Ara pun mengedipkan matanya sambil tertawa kecil ke Rizzar. “Hal yang kecil menurut kita bisa jadi hal besar bagi orang lain, Riz. Dan perlu diingat, bahwa kebaikan besar pun bisa dimulai dari kebaikan-kebaikan kecil. Jadi kebaikan kecil yang kamu lakukan barusan sangat berharga di mata Peri Baik, Superman”. Lagi-lagi Rizzar tersenyum memandangi Ara yang berdiri di sebelahnya itu. “Dan alasan lain kenapa Peri ingin berdiri disebelah Superman, karena Peri ingin Superman tahu bahwa Superman tidak sendiri. Peri ingin menemani Kurcaci yang menjelma menjadi Superman ini, meski cuma sekedar menemani berdiri, he he,” sambung Ara tertawa kecil.
“Terima kasih banyak, Peri Baik...” hanya ucapan itu yang keluar dari mulut Rizzar yang masih menatap Ara. Kalimat Ara membuat Rizzar kehilangan kata-kata untuk menjawabnya dengan kalimat yang lebih panjang. Ara berhasil menyentuh hatinya untuk makin tersenyum sekaligus berhasil membuatnya tenang dan damai.
Beberapa saat kemudian, Rizzar dan Ara pun menghabiskan waktu melihat pemandangan sepanjang perjalanan KRL, sambil mengamati manusia-manusia di sekitar mereka, bertukar cerita tentang nilai-nilai di kehidupan mereka, berbagi cerita aktivitas mereka dan hal-hal lucu. Ada kalanya, Rizzar tidak bisa menahan kantuknya di siang itu dan Ara pun berusaha terjaga seolah ingin menjaga Rizzar yang terpejam sejenak dalam posisi berdiri. Begitu pun sebaliknya Rizzar, Rizzar berusaha untuk menjaga Ara ketika mata Ara beberapa kali terpejam karena kantuk. Perjalanan KRL Jakarta Kota – Bogor mungkin hanya perjalanan yang sederhana bahkan sangat biasa, tapi buat Rizzar Ara perjalanan itu istimewa karena mereka jarang melakukannya. Menyusuri rute KRL itu memberikan nuansa yang berbeda dari rutinitas mereka biasanya. Mengamati manusia dan sekitar selama perjalanan KRL, membuat mereka ingat dan menyadari hal-hal sederhana yang suka terlupakan saat mereka bersentuhan dengan “kemewahan” dan kepopuleran.
Waktu menunjukkan pukul 17.10 saat Rizzar dan Ara berada dalam perjalanan mereka dari arah Bogor-Jakarta dan sampai di Stasiun Depok Baru. “Setelah stasiun ini, kita tiba di Stasiun Pondok Cina, Riz. Nanti kita turun disana ya,” ujar Ara ke Rizzar yang duduk disebelahnya. Rizzar menoleh ke Ara  dengan ekspresi bertanya-tanya. “Hmmm, memang kita mau ngapain, Ra?”
“Kita melihat matahari terbenam di danau UI, mau nggak?”
Rizzar melebarkan bola matanya sambil menatap Ara. “Oke, siapa takut... Sekalian habis itu kita Maghriban di Masjid UI ya, kan masjidnya dekat danau seingatku”. Rizzar dan Ara pun tertawa bersama.
Beberapa menit selanjutnya, Ara dan Rizzar pun asyik berjalan cepat menuju danau UI di dekat balairung itu dan mencari tempat duduk diatas rumput yang strategis untuk melihat matahari terbenam. Terlihat ada beberapa pedagang di sekitar mereka, mulai dari pedagang kopi/teh dan siomay yang menggunakan sepeda. Ada juga pedagang mainan kertas yang juga asyik menata dagangannya sambil menunggu pembelinya.
“Lihat mereka para pejuang kehidupan itu, Superman. Meski pembeli mereka belum tentu banyak, tapi mereka tetap berjuang menjual dagangan mereka. Kita jauh lebih beruntung secara materi dari mereka,” ujar Ara menyambung lagi diskusi ringan mereka akan kehidupan.
“Iya, Peri Baik benar. Apalagi bapak tua yang berjualan mainan kertas itu. Coba lihat, dagangannya masih tersisa banyak, entah siapa yang bakal membelinya kecuali orang-orang tertentu, Peri Baik”.
Ara mengamati bapak tua yang tak jauh dari tempat mereka duduk itu kemudian menoleh ke Rizzar seraya tersenyum lembut.
“Tunggu sebentar disini ya, Superman”. Ara tiba-tiba bangkit dan menghampiri bapak tua dan dagangan mainan kertasnya itu kemudian membeli 3 mainan kertas itu. Rizzar yang mengamati tingkah laku Ara tertegun pada awalnya kemudian tersenyum lebar. Terlihat Ara sedang memainkan mainan kertas di tangannya itu dengan wajah ceria serta tawa lebar sambil menatap dan menghampiri Rizzar.
“Ternyata orang-orang tertentu itu salah satunya kamu ya, Peri Baik,” ujar Rizzar lembut sambil tersenyum lebar dan mengedipkan matanya.
Ara memberikan satu mainan kertas yang dibelinya itu kepada Rizzar. “Anggap kenang-kenangan kita saat menyusuri rute KRL bersama, Superman. Meskipun kamu tidak suka, tolong jangan dibuang, disimpan aja di laci kamar kamu. Setidaknya bapak tua tadi sudah berusaha membuat mainan kertas sederhana ini,” ucap Ara ke Rizzar dengan ceria dan bersemangat.
Rizzar mengangguk pasti, “Pasti,  insyaa Allah aku simpan, Peri Baik. Salah satu pemberian dari  Peri Baik, meski mainan ini sederhana, tapi niat Peri Baik membantu bapak tua itu dengan membeli mainan kertas ini membuatnya jadi berharga”. Ara tersenyum sedikit tersipu mendengar ucapan Rizzar itu membuat Rizzar pun iseng untuk menggoda Ara. “Ehm ehm ada yang tersipu malu sepertinya”. Ara dan Rizzar pun tenggelam dalam gelak tawa. Perjalanan mereka seolah membuat baik Rizzar maupun Ara memaknai sederhana menjadi berharga dengan bermacam hal yang mereka temui di sepanjang perjalanan. Rizzar dan Ara pun kembali larut duduk melihat matahari yang mulai terbenam di ujung barat. Bias cahayanya, memantulkan indah di danau yang ada di depan mereka. Senja menyisakan tenang bagi mereka yang sejenak mau menikmatinya. Begitu pula yang dirasakan Rizzar dan Ara saat itu. Biasanya waktu senja, dihabiskan mereka untuk segudang aktivitas dan kesibukan. Apalagi Rizzar, hampir setiap harinya senja ia habiskan dengan aktivitasnya di lokasi syuting, tanpa sempat menikmatinya. Bahkan di hari libur sekalipun, ia jarang meluangkan waktunya sejenak untuk menikmati senja,  merasakan tenang bersamanya. Dan sekarang, setelah sekian lama akhirnya ia kembali menikmati senja bersama Ara, seseorang yang istimewa tapi langka untuk dirinya bisa menghabiskan waktu bersamanya.
“Can you feel the warmth of this sunset, Superman (ind: Apakah kamu bisa merasakan kehangatan matahari yang terbenam ini, Superman)?” tanya Ara tiba-tiba menoleh kearah Rizzar sambil tersenyum lembut membuat Rizzar sempat tertegun sejenak, terbangun dari lamunannya.
Rizzar mengangguk dan membalas senyuman Ara dengan lebih lebar lagi. “Hangat dan damai rasanya, Peri Baik”. Ara pun mengangguk mantap tanda setuju dengan kalimat Rizzar itu. Melihat Rizzar dengan senyuman lebarnya beberapa kali selama hari ini membuat Ara merasakan bahagia yang berlebih selain bahagia yang ia rasakan bersama senja saat itu.
Matahari pun perlahan menghilang dari pandangan mereka dan menyisakan langit yang memerah ketika Ara dan Rizzar mendengarkan adzan berkumandang dari masjid UI di dekat danau itu.
Ara dan Rizzar pun bergegas berdiri, berjalan menuju masjid itu untuk melakukan sholat maghrib.
Seusai sholat, Ara dan Rizzar kembali bertemu di beranda masjid. Mereka duduk sejenak disana.
“UI adalah salah satu universitas yang menjadi tujuan aku selepas SMA, Peri Baik. Tapi... sampai sekarang aku masih asyik menikmati karier aku. Entah masih ada harapan atau nggak aku bakal kuliah disini,” ujar Rizzar memulai perbincangan.
“Selalu ada harapan, Superman. Selama kamu masih punya tekad dan niat, aku yakin kamu pasti bisa meraih apapun yang kamu inginkan, termasuk kuliah di UI ini. Mungkin kamu masih mencari waktu yang tepat saja. Semangaaat,” balas Ara lembut sambil tersenyum kearah Rizzar.
Rizzar tersenyum melihat tulus dan rasa percaya Ara terhadap dirinya yang tergambar dari senyuman Ara. “Tapi aku pernah mencobanya dan gagal, Peri Baik..., “ lanjut Rizzar lagi.
Ara semakin tersenyum lebar kearah Rizzar dengan wajah yang lebih ceria dan bersemangat. “Kegagalan itu selangkah lebih dekat dari kesuksesan Superman, sepanjang kita tetap berusaha dan tidak menyerah”. Rizzar mengangguk pelan sambil mengepalkan tangannya tanda bersemangat, “Semangatttt, pasti bisa, dan mencari waktu yang tepat!!!!”
Ara dan Rizzar pun kembali tergelak bersama meski dengan suara lirih karena mereka sedang berada di lingkungan masjid.
Oh iya, Peri Baik. Kebetulan kita sedang di masjid, tiba-tiba aku ingat soal bacaan Al Kahfi. Andai waktunya memungkinkan, seru juga sepertinya kita bisa saling mengoreksi bacaan kita disini ya, sambil mengaji bareng,”ujar Rizzar lagi.
Ara mengangguk setuju, “Sayangnya waktunya tidak memungkinkan, Superman. Kita saling tukar rekaman suara kita saja ya buat saling mengoreksi”.
Ara dan Rizzar pun saling mengirimkan rekaman suara bacaan Al Kahfi mereka ke satu sama lain. “Mohon bantuannya, untuk mengoreksi, ya Superman yang baik. Terima kasih banyak sebelumnya,” lanjut Ara sambil sedikit membungkukkan badannya.
 Rizzar pun tertawa kecil melihat ulah Ara itu. Ia pun ganti sedikit membungkukkan badannya ke Ara, “Insyaa Allah Peri Baik. Superman juga mohon bantuan Peri Baik untuk mengoreksi bacaannya juga ya. Thank you so much before (ind: terima kasih banyak sebelumnya)“. Baik Ara dan Rizzar pun kembali tergelak. Tak lama kemudian, mereka pun bergegas menuju ke stasiun terdekat untuk meneruskan perjalanan balik mereka ke Stasiun Jakarta Kota.
KRL yang mereka naiki cukup lengang dan mereka berdua masih bisa memilih tempat duduk bersebelahan. Sepanjang perjalanan itu sesekali mereka bercanda dan berbagi cerita lucu selebihnya mereka habiskan untuk diam dalam kantuk yang menyerang bersama musik yang menemani mereka via earphone masing-masing. Rizzar melihat kearah Ara yang sedang terkantuk dengan ekspresi yang menurut Rizzar lucu ketika Ara kembali terbangun dan menyadari Rizzar yang sedang melihat kearahnya. “Kenapa kamu senyum-senyum melihatku, Riz?”
Rizzar tertawa kecil. “Muka kamu itu lucu kalau lagi menahan kantuk begitu, Ra. Kalau kamu mau tidur, kamu boleh kok Ra bersandar di bahu aku. I’m ready (ind: aku siap),” ujar Rizzar tersenyum lebar sambil menawarkan bahunya buat Ara. Bola mata Ara melebar, rasa kantuknya tiba-tiba hilang mendengar ucapan Rizzar itu. “Hmmmm mulai lagi nakalnya deh, kamu siapa dan aku siapa, pakai acara meminjamkan bahu segala...,” ucap Ara sambil memanyunkan bibirnya di balik maskernya.
“Memangnya salah ya Ra kalau aku menawarkan bahu aku agar kamu yang mengantuk itu bisa tidur?” tanya Rizzar polos tidak memahami perkataan Ara itu.
Ara menatap Rizzar sejenak, dari mata Rizzar, Ara tahu niat Rizzar meminjami bahu untuk dia bersandar itu tulus, tanpa niat apa-apa. Rizzar melakukannya karena ia menganggap hal tersebut adalah hal yang lumrah alias wajar. Ara tersenyum lebar, memandang Rizzar yang sedang menatapnya dengan raut bertanya.
“Terima kasih untuk tawaran kamu, Riz. Maaf, tapi aku tidak bisa menerimanya. Mungkin buat kamu itu adalah hal yang biasa saja, tapi buat aku bersandar di bahu laki-laki apalagi laki-laki itu adalah kamu adalah bukan hal yang biasa. Kita sudah beberapa kali melakukannya saat adegan syuting sebenarnya, tapi itu sekedar acting, bukan untuk realita. Aku harap kamu bisa memahaminya”.
Rizzar tersenyum seraya memandang lembut Ara. Perempuan ini selalu istimewa di matanya. Ara berusaha selalu menjaga diri dari dirinya meski dulu mereka sempat terlibat beberapa scene romantis karena tuntutan acting. Dan begitupun Rizzar, dia selalu ingin memuliakan perempuan istimewa ini dengan perlakuan yang terjaga. Apalagi saat rumit semakin menyapa keduanya dan membuat jarak itu semakin jauh untuk mereka. Ara seolah rela berjauhan mengambil kutub yang berbeda selama tetap bisa melihat Rizzar baik-baik saja meski dari kejauhan.
“Ya sudah, kamu kan ngantuk. Sekarang kamu tidur ya, Ra. Biar aku tetap terjaga agar bisa menjaga kamu. Aku janji, aku tidak bakal macam-macam, termasuk menyandarkan kepala kamu di bahu aku. Trust me, okay (ind: Percaya sama aku, oke)...,” sambung Rizzar lembut.
Ara tersenyum, “Kamu tidak perlu terjaga buat terus menjaga aku, Riz. Kamu sudah menjaga aku sejak tadi kita berangkat. Insyaa Allah aku baik-baik saja. Aku tahu kamu juga mengantuk, jadi lebih baik kita memanfaatkan sisa perjalanan KRL kita ini untuk tidur. Bukan hanya aku yang tidur, tapi kamu juga tidur, Riz. Lumayan buat mengistirahatkan mata dan pikiran, ya nggak?”
Rizzar menatap Ara sejenak kemudian lagi-lagi ia tersenyum dan menganggukan kepalanya. Dan beberapa stasiun sisa perjalanan mereka pun mereka lalui dengan memejamkan mata sejenak.

Jam di Stasiun Jakarta Kota menunjukkan pukul 20.15 ketika Ara dan Rizzar akhirnya tiba kembali ke titik awal mereka memulai perjalanan hari Jumat itu.
“Ra, bagaimana kalau kita makan malam dulu?” tanya Rizzar ke Ara.
Ara menatap Rizzar sejenak seolah sedang berpikir sesuatu. “Kamu sudah lapar ya, Superman?” tanya Ara diikuti dengan anggukan dari Rizzar.
“Ya sudah, bagaimana kalau makannya dibungkus dan dimakan di mobil saja. Riz?”
“Memangnya kenapa, Ra? Kamu nggak mau makan bareng aku ya, Ra?”
Ara menggelengkan kepalanya pelan. “Bukan begitu, Riz. Bukannya kamu yang bilang semalam bahwa kamu tidak ingin ada kesalahpahaman baru tentang kita. Kalau kita makan di suatu tempat, kita pasti copot masker wajah, dan kita tidak pernah bisa memastikan apakah tidak akan ada orang yang mengenali aku atau kamu. Hal paling aman yang bisa dilakukan, makan di mobil. Itupun kalau kamu mau Riz. Kalau pun enggak biar kita makan malam di rumah atau di suatu tempat secara terpisah saja,” ujar Ara sambil tersenyum.
Rizzar memandangi Ara sejenak tanpa suara. Rizzar tertegun karena saat ia nyaris melupakan  dinding yang selalu ia bangun untuk Ara, justru Ara yang ganti mengingatkannya. “Tolong berhenti untuk mengkhawatirkan  aku, Peri Baik, cukup aku yang mungkin terpaksa meninggalkan sebentuk rasa sedih untukmu, tak perlu kamu ikut meninggalkan  sedih untuk diri kamu sendiri,” ujar Rizzar didalam hati. Ada rasa sakit yang ia rasakan sejenak karena ketidakberdayaannya melakukan sesuatu untuk menghindarkan sedih untuk Ara karena dirinya, terlebih saat Ara justru membantunya membangun dinding Rizzar itu dengan menomorduakan perasaannya sendiri. Rizzar pun kemudian tersenyum dan menatap lembut Ara yang sedang memandangnya dengan ekspresi bertanya-tanya. “Ya sudah, kita makan malamnya di mobil kamu ya, Peri Baik”.
Setelah membungkus makanan untuk berdua dari salah satu tempat makan cepat saji yang ada di Stasiun Jakarta Kota, Rizzar dan Ara pun bergegas berjalan menuju mobil Ara. Rizzar sengaja memilih mobil Ara karena kemungkinan salah paham itu lebih besar jika mereka ada di mobil Rizzar. Selain itu, Rizzar ingin Ara tidak perlu keluar mobil lagi setelahnya dan bisa langsung pulang. Sejenak Ara dan Rizzar larut menikmati makan malam mereka. Perjalanan mereka tak dipungkiri menyisakan lapar bagi keduanya. Lagu-lagu evergreen pun menemani mereka dari salah satu saluran radio yang menjadi kesukaan baik Rizzar maupun Ara.
 “Peri Baik, boleh tidak Superman mengajukan satu permohonan?” tanya Rizzar memulai kembali perbincangan di tengah makan malam ala Rizzar Ara. Ara yang sedang menggigit potongannya ayamnya pun menatap kearah Rizzar sambil tersenyum, “Permohonan apa Superman?”
“Aku mohon Peri Baik tidak perlu mengkhawatirkan Superman lagi. Jangan bantu Superman membangun dinding untuk Peri Baik jika itu membuat Peri jadi bersedih atau bahkan terluka. Seperti   Peri mengingatkan Superman untuk tidak makan malam bersama tadi misalnya. Izinkan aku menjadi pelindung buat Peri Baik meski dengan cara yang tidak biasa,” pinta Rizzar sambil menatap serius ke Ara. Ara menghentikan makannya dan balas menatap Rizzar sejenak kemudian tersenyum lembut kepadanya. “Aku cuma melakukan apa yang aku yakini benar dan harus aku lakukan, Riz. Kalau aku membantu Superman membangun dinding antara kita, itu karena ada sebentuk bahagia yang aku titipkan saat Superman atau Kurcaci Raksasa atau Rizzar atau kamu bahagia. Saat kamu bahagia, aku juga ikut bahagia, Riz,” ujar Ara sambil menganggukkan kepalanya dan tersenyum lebar seolah ingin meyakinkan Rizzar bahwa dirinya baik-baik saja.
“Kadang bahkan aku suka bertanya-tanya sendiri buat apa dinding itu aku bangun, Peri Baik. Tapi aku tetap harus membangunnya,” sambung Rizzar pelan dan ragu. Rizzar kembali balas tersenyum melihat Ara yang masih tersenyum dengan tulusnya dihadapan Rizzar.
“Kamu punya alasan membangunnnya dan aku percaya salah satu dari banyak alasan itu adalah untuk kebaikan aku juga. Kadang melindungi seseorang tidak berarti kita bisa menghindarkannya dari rasa sakit atau sedih sama sekali, Superman. Namun aku percaya Superman sudah berusaha sebaiknya menjadi pelindung Peri meski dengan cara yang tidak biasa. Terima kasih, Superman,” lanjut Ara sambil sedikit membungkukkan badannya dan tertawa kecil membuat Rizzar pun tertular untuk ikut tergelak.
“Superman jangan khawatir, aku bukan perempuan yang lemah. Kan aku Peri dan aku ingin menjadi Peri Baik yang tangguh. Dan seperti obrolan kita di awal perjalanan tadi, apa yang kita rasakan tentang hidup bergantung bagaimana kita memandang kehidupan itu sendiri. Seperti halnya bicara soal dinding yang dibangun Superman tadi,” ujar Ara sambil tersenyum lebar kemudian melanjutkan menggigit potongan ayamnya.
Rizzar menatap Ara dan  tersenyum melihat tingkahnya. Peri Baik yang sedang dilihatnya ini adalah perempuan yang selalu berusaha membungkus sedih dalam bahagia, membungkus lemah dalam kuat, membungkus sakit dalam senyum. Bukan berarti bahwa ia tidak merasakan sedih, lemah, dan sakit itu, sebagai perempuan ia pasti merasakannya. Namun ia berusaha menjadi Peri Baik yang tangguh. Dan Rizzar berharap dirinya bisa melakukan yang lebih baik untuk menjadi pelindung bagi Ara.
Baik Rizzar dan Ara akhirnya menyelesaikan makan malam mereka dengan hening beberapa saat kemudian ketika Ara menyambung perbincangan kembali.
“Jadi seperti apa kesan Superman dengan misi alias perjalanan hari ini? Apa misi sederhana ini bisa melahirkan bahagia dan semangat positif atau jangan-jangan cuma berasa capeknya?” tanya Ara sambil tersenyum.
Rizzar balas tersenyum lebar. “Terima kasih banyak untuk misi istimewa hari ini, Peri Baik. Perjalanan kita hari ini mengingatkanku banyak hal, tentang hal baik sederhana yang tenggelam bersama kesibukan. Hati aku ikut tersenyum bahkan tertawa sepanjang perjalanan ini, saat kita merenungi dan belajar dari kehidupan di sekitar yang kita lihat termasuk tentang rasa syukur, saat kita melakukan kebaikan-kebaikan kecil di perjalanan, saat kita berbagi senyum dan tawa bersama senja atau bacaan Al Kahfi itu. Perjalanan ini membuat Kurcaci Raksasa semakin yakin dan bersemangat untuk menjadi Superman yang lebih tangguh lagi, Peri Baik. Terima kasih sudah mengajak dan menemani aku merasakan banyak kebahagiaan dan semangat positif hari ini”.
Ara masih tersenyum dan menatap Rizzar dalam diam  sejenak.
“Sama-sama, Superman. Mungkin kalau bukan karena kamu, aku belum tentu bisa mewujudkan perjalanan ini dan merasakan kebahagiaan hari ini. Terima kasih sudah melakukan misi sederhana ini bersama, Riz. Misi ini bukan hanya untuk Kurcaci Raksasa agar ia bisa menjelma menjadi Superman yang lebih tangguh lagi, melainkan juga untuk Peri agar bisa menjadi Peri Baik yang lebih tangguh lagi,” ujar Ara kemudian.
Rizzar dan Ara saling menatap satu sama lain, mereka saling berbagi senyum, seolah masing-masing ingin memberikan senyuman terindahnya untuk yang lainnya. Senyuman yang sepadan dengan senyuman demi senyuman yang mereka bagi satu sama lain sepanjang perjalanan hari ini.
 “Ya sudah Superman, sekarang sudah malam dan sebaiknya kita segera pulang dan beristirahat. Apalagi besok kamu harus syuting seharian kan,” sambung Ara.
Rizzar tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya. “Apa Peri Baik perlu pengawalan sepanjang perjalanan pulang?”
Ara menggelengkan kepalanya mantap, “Insyaa Allah aku baik-baik saja, Superman. Aku kan Peri Baik yang tangguh, jadi Superman tidak perlu terlalu khawatir”. Mereka kembali tertawa bersama.
“Oh iya, hampir lupa mengembalikan tiket multi trip punya Peri Baik,” ujar Rizzar sambil merogoh saku jaketnya dan menyerahkan tiket itu ke Ara.
“Kamu simpan saja tiket itu, Superman. Siapa tahu suatu saat nanti kamu akan menggunakannya lagi. Siapa tahu nanti kamu ingin melakukan perjalanan seperti hari ini lagi. Anggap saja, itu kenang-kenangan perjalanan hari ini dari Peri buat Superman selain mainan kertas tadi, he he”.
“Kalau suatu saat aku ingin melakukan perjalanan seperti hari ini lagi, apa Peri Baik masih mau menemani aku?” tanya Rizzar sambil tersenyum. “Insyaa Allah aku mau,” balas Ara spontan sambil tertawa kecil diikuti dengan anggukan kepalanya.
Rizzar pun ikut tergelak, “Terima kasih sekali lagi, Peri Baik. Insyaa Allah Superman akan simpan pemberian Peri dengan baik. Selamat beristirahat Peri Baik, hati-hati di sepanjang perjalanan pulang, ya”.
“Kamu juga hati-hati di perjalanan, Superman. Jangan ngebut dan tergesa-gesa ingin sampai rumah. Selamat beristirahat juga, semoga tidur nyenyak dan mimpi indah ya. Dan tetap semangat buat kita,” ujar Ara dengan wajah ceria diikuti dengan anggukan kepala dan tawa lepas Rizzar.
Rizzar keluar dari mobil Ara, tak lupa sebelum menutup kembali pintu mobil Ara, Rizzar menatap ke Ara dan membungkukkan sedikit badannya sambil tersenyum. Ganti Ara yang tertawa kecil melihat tingkah Rizzar itu dan ia pun segera balas sedikit membungkukkan badannya kearah Rizzar.
“Assalaamulaikum, Ara...,” ucap Rizzar
“Waalaikumsalam, Rizzar...,” balas Ara.
Perjalanan bersama mereka pun diakhiri dengan saling bertukar senyum dan tawa diantara keduanya.
Ara mengamati Rizzar yang berjalan menuju mobilnya yang diparkir tak jauh dari mobil Ara. Senyum tetap menghiasi wajah Ara. “Sampai jumpa untuk berbagi kebaikan lagi, Superman atau Kurcaci Raksasa atau Rizzar. Semoga Allah selalu menjaga kita, Riz,” ujar Ara sebelum kemudian menghidupkan mesin mobilnya
Sementara itu Rizzar yang baru masuk kedalam mobilnya pun segera memanaskan mesin mobilnya. Ia ambil mainan kertas dan tiket multi trip itu dari tas ranselnya dan memandanginya sejenak. Kemudian Rizzar pun tertawa kecil. “Bahkan hanya dengan melihat pemberian kamu ini, sudah memutar kembali ingatan tentang apa yang kita lalui hari ini, Ra. Bukan hanya menyisakan tawa di bibir aku, melainkan senyum dan tawa di hati aku. Terima kasih banyak, Ara. Semoga aku bisa menjadi Superman yang lebih tangguh bukan hanya untuk mereka, tetapi juga untuk kamu, Ra”.
Senyuman itu mewarnai hari Jumat Rizzar dan Ara. Senyuman yang terajut melalui hal-hal sederhana tapi bermakna. Senyuman saat aku dan kamu, saat kita merajut sederhana.

-  Bersambung  -

Catatan : menulis alur ini seperti melakukan perjalanan panjang. Rizzar Ara yang selalu tersenyum di sepanjang perjalanan, tapi tangan seperti sedang mencari polanya bersama imajinasi yang ada. Lega akhirnya bisa menyelesaikan alur misi sederhana ini meski ala kadarnya. Plong karena bisa menyampaikan hal-hal yang sederhana itu bersama mereka dan virus senyum dan tawa itu :). Semoga ada hal positif yang bisa diambil :). See you ... .