Malam ini hujan mengguyur Depok. Aku pulang melalui jalanan
yang mulai lengang, di jalan-jalan tembus yang bertemankan dingin malam sehabis
bercanda dengan hujan. Aku suka segarnya, tapi aku disuguhkan dengan suasana
yang berbeda malam ini. Jakarta atau lebih luas lagi Jabodetabek, megapolitan
Indonesia. Malam disini diisi oleh penghuninya dengan bermacam aktivitas. Ada
yang menghidupkan malamnya di tempat hiburan, tempat nongkrong, ada yang lelap
dalam istirahat malamnya melepas penat seharian, ada pula yang masih harus
bekerja menekuri malam. Aku melewati gang tembus itu, gang di dekat kali kecil
itu. Aku melihat mereka, beberapa orang tidur di gang itu hanya beralas
seadanya, beratap seadanya berselimut dinginnya sisa hujan. Mereka tertidur
diantara lalu lalang orang yang melaluinya. Mereka, entah siapa. Mereka yang
bertahan di Kota ini tanpa pekerjaan yang jelas. Mereka yang bertahan dengan
dinginnya malam tanpa rumah tanpa kasur yang layak untuk alas tidurnya. Siapakah
mereka? Apakah mereka salah satu yang tergiur dengan gemerlapnya ibu kota dan
sekitarnya yang seolah menjanjikan kesejahteraan bagi mereka sehingga mereka
mendatangi tempat ini?
Aku berjalan melalui mereka. Hawa dingin itu sangat terasa
di tubuhku yang hanya lewat di lorong kecil itu. Aku tak sempat membayangkan
bagaimana dingin saat tubuh menyentuh semen cor hanya dipisah dengan kardus
diantara sisa air hujan yang masih segar menghiasi malam. Mereka dan dingin
itu. Mereka yang terlelap tanpa sempat menikmati kehangatan.
Aku menyusuri jalanan di dalam kampus UI ini. Halte depan
stasiun menjadi pilihan seseorang untuk tidur disana. Entah siapa dia, dia
sudah terlelap saat aku melewatinya. Aku melihat sejenak danau di dekat
balairung ini. Sunyi, gelap, pekat, tenang, dingin menyatu dengan air tenang
itu.
Aku bukan penyair, aku juga bukan Gie, aku hanya seorang
perempuan yang mencoba menikmati jalanan kampus malam ini dengan lebih membuka
mataku. Aku belajar tentang hidup malam ini, ya meski setiap hari aku belajar
tentang itu. Kota, selalu menyisakan dua sisi, seperti gambaranku tentangnya
dulu, sisi megah dan sisi kumuh, sisi terang dan sisi gelap.
Selamat tidur saudaraku, baik kalian yang bisa menikmati
empuknya kasur atau apapun sebutannya itu juga buat kalian yang terlelap
sekedar menitip penat di tempat yang tak menawarkan alas yang seharusnya
Depok, suatu malam di awal November 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar