Senin, 17 Oktober 2016

See You Again When The Next Blue Moon Appears Part 8 Katakan dan Relakan! (1)

Sebelumnya : Bara Diantara Ahsan dan Hasna



Part 8: Katakan dan Relakan ! (1)
Part 8.1. Pelangi
Beberapa minggu setelahnya, Ahsan pun menjadi tukang antar jemput yang setia buat Hasna selama pemulihan kakinya. Bukan hanya sekedar mengantar jemput dari dan ke stasiun menggunakan sepeda milik Putri, Ahsan bahkan dengan senang hati menjemput dan mengantar Hasna dari dan ke rumah atau kantor Hasna tanpa diminta, meski tanpa mobil sportnya dan tetap menggunakan moda transportasi umum. Sementara Hasna, ia pun tak menolak saat tawaran baik itu disampaikan Ahsan saat mengantarkan Hasna pulang untuk kali pertama Sabtu itu. Hasna justru merasa senang dengan perhatian laki-laki itu, meski ia tahu diantara mereka tidak ada apa-apa selain pertemanan sebagai sesama volunteer. Ahsan pun tak pernah mengatakan apa-apa tentang perasaannya kepada Hasna, kecuali sekedar candaan-candaan yang bermuatan “ngemodus” meski selalu berakhir pada diam atau tawa dan senyum yang tak bernama. Ahsan masih tetap yakin bahwa apa yang dirasakannya ke Hasna bukan rasa suka apalagi cinta :) . Waktu berlalu, sebulan setengah sudah jasa eksklusif jemput antar Ahsan spesial buat Hasna berjalan dengan rutin tiap Rabu dan Sabtu saat kaki Hasna pun sudah pulih sepenuhnya. Itu berarti bahwa Ahsan tak perlu lagi menjemput dan mengantar Hasna.
Rabu itu, arloji Hasna menunjukkan pukul 13.40 saat gadis itu sudah duduk manis didalam KRL menuju kelas bantaran rel. Sebelum makan siang, divisinya melakukan rapat koordinasi kecil tentang sebuah project baru tentang pendidikan di salah satu pedalaman Papua. Pak Ryan menugaskan Bara dan dua orang lainnya sebagai volunteer yang bertanggung jawab disana selama 6 bulan, tapi mereka perlu tim kecil untuk terlibat selama beberapa minggu sampai project mereka dipastikan berjalan “cukup” lancar. Hasna pun ditawari Pak Ryan untuk mejadi salah satu anggota tim kecil yang terdiri dari dua orang diluar tiga orang volunteer yang menetap disana. Tentu saja Hasna menerima tawaran itu dengan senang hati, itu salah satu mimpinya bisa pergi ke pedalaman dan bisa melihat lebih dekat adik-adik disana.
“Tapi Na, bagaimana dengan kelas bantaran rel ? Apa perlu kita kirimkan orang buat menggantikan kamu selama pergi?” tanya Pak Ryan setelah Hasna menjawab setuju.
Gadis itu terdiam sejenak memikirkannya, “Coba nanti saya tanyakan dulu ke teman volunteer disana baiknya bagaimana, Pak”.
Hasna menoleh kearah luar KRL, gerimis dan matahari yang malu-malu itu sedang menemani perjalanannya. Hasna tersenyum, melihat gerimis membuatnya menitipkan rindu untuk melihat pelangi.
Waktu menunjukkan pukul 14.30 saat Hasna tiba di stasiun.  Gerimis sudah berhenti bercanda menyisakan matahari. Seperti biasa, pandangan Hasna tertuju ke salah satu di pintu keluar, yaaa laki-laki itu terlihat sedang menunggunya dengan senyumannya seperti biasa.
Hasna pun balas tersenyum lebar sambil mengucap salam. Keduanya bergegas berjalan menuju kelas bantaran rel.
"Kangen juga naik sepeda Putri ya, San," ujar Hasna riang seperti biasa dengan jilbabnya sedikit berkibar ditiup angin.
"Kangen sepeda Putri atau kangen aku boncengin, Na?" balas Ahsan dengan candaan modusnya seperti biasa dengan tersenyum tak kalah lebar menggoda Hasna.
Hasna tertawa kecil. "Dua-duanya sih Kak Ahsan yang baik he he".
Keduanya pun tertawa.
"Oh iya, kalau seadainya kamu harus mengajar sendiri tanpa aku beberapa minggu, kamu ga masalah kan, San?"
Ahsan menoleh kearah Hasna. "Memangnya kamu mau pergi, Na?"
Mata Ahsan beradu sejenak dengan Hasna, tatapan serius dan penuh tanda tanya Ahsan membuat gadis itu kemudian urung berbicara. Hasna tersenyum lebar kemudian menggelengkan kepalanya pelan. Hasna teringat bagaimana reaksi aneh Ahsan waktu Bara menemaninya beberapa waktu sebelumnya. Hasna khawatir membahas project barunya ke Ahsan berujung pada perbincangan aneh tentang Bara lagi. Yaaa, Hasna tidak suka "mengusik" laki-laki di sebelahnya itu meskipun tidak ada hubungan apa-apa diantara keduanya kecuali rekan mengajar.
“Kenapa juga aku jadi berpikir kalau Ahsan bakal ngerasa risih ya?Kenapa juga aku peduli dan takut mengusik perasaan Ahsan?” batin Hasna.
“Hasna...”. Panggilan Ahsan menyadarkan Hasna dari pikirannya sendiri. Hasna lagi-lagi tersenyum lebar ke Ahsan. Laki-laki itu terlihat tidak puas dengan jawaban Hasna itu. Ahsan merasa ada yang tidak terkatakan oleh Hasna.
“Kamu ada tugas dari kantor untuk pergi keluar kota, ya Na?”
Hasna hanya terdiam dan balik menoleh kearah langit.
“Wah... ada pelangi,” ujar Hasna tersenyum lebih lebar dengan wajah riang mengalihkan perhatian Ahsan untuk ikut melihat benda yang membuat perempuan di sebelahnya itu senang seketika.
Ahsan ikut tersenyum lebar, “Memang kamu sudah lama tidak melihat pelangi, Na? Ekspresi kamu itu seperti orang yang baru pertama kali melihat pelangi he he”.
Hasna tertawa kecil kearah Ahsan. “Setiap hujan turun, aku berharap bisa melihat pelangi. Tadi di kereta aku sempat berdoa bisa melihat pelangi, eh ternyata sekarang pelanginya beneran muncul”.
Ahsan mencuri pandang ke perempuan yang kembali melihati pelangi dengan takjub itu. Melihat keriangan Hasna diantara jilbabnya yang sedikit tertiup angin itu berhasil mengalihkan perhatian Ahsan.
“Mau aku fotoin berlatar pelangi nggak?” ujar Ahsan sambil tersenyum lebar.
Hasna menoleh sejenak ke Ahsan kemudian menganggukkan kepalanya. “Boleh,” ujarnya sambil tertawa kemudian memberikan handphonenya ke Ahsan, si relawan tukang potret dadakan.
Dengan sigap dan senang hati, Ahsan mengambil gambar Hasna beberapa kali dengan berlatar pelangi sore itu. Terdengar beberapa kali suara laki-laki itu mengarahkan Hasna seperti fotografer mengarahkan modelnya dengan kata-katanya, ‘majuan dikit Na...’, ‘kurang ke kanan, Na’, ‘coba lihatnya kearah sana, Na biar candid gitu...’, dan Hasna dengan senang hati mematuhinya. Terlihat Ahsan beberapa kali senyum-senyum sendiri bahkan terlihat lebih bahagia dari objek fotonya itu (he he:)).
Sambil terus berjalan menuju kelas bantaran rel, sejenak Hasna melihati hasil jepretan Ahsan itu setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih. Perempuan itu terlihat senyum-senyum sendiri melihatnya.
“Suka, ga Na? Kalau kurang bagus dan mau diulang, kamu bilang aja ya he he”.
“Aku suka hasil jepretannya, San... bagusss. Sepertinya kamu punya bakat terpendam jadi fotografer deh,” jawab Hasna sambil tersenyum lebar ke Ahsan. Ahsan tertawa mendengarnya.
“Sepertinya bakat terpendamku itu baru muncul di saat-saat tertentu aja deh, Na... salah satunya saat kamu yang jadi modelnya, he he”.
Hasna balik tertawa kecil mendengar Ahsan yang menggodanya itu membuat laki-laki itu makin tertawa lepas.
“Hmmm mungkin karena kamu melakukannya sepenuh hati kali ya... kamu ingin membuat orang yang difoto senang dengan hasil jepretan kamu,” sambung Hasna dengan riang berhasil membuat laki-laki itu sedikit tersipu meski tetap berusaha menutupinya lewat tawanya.
“Kamu mau aku fotoin bersama pelangi juga, nggak?” tanya Hasna.
Keduanya lagi-lagi saling tersenyum. Ahsan terlihat ragu menjawab apa.
“Pake HP aku juga gapapa, nanti aku kirim via WA,” sambung Hasna menawarkan diri.
Ahsan berpikir sejenak kemudian tersenyum lebih lebar sambil menganggukkan kepalanya meski setengah ragu.
“Bikin biar foto aku terlihat ganteng, ya Na ha ha”.
“Siappppp Ahsan,” jawab Hasna tertawa kecil.
Hasna mengambil gambar Ahsan sebanyak tiga kali dengan pose berbeda untuk dikirim ke laki-laki itu, ‘Ahsan yang tersenyum kearahnya’, Ahsan yang tertawa lepas melihat kearah lain’, dan terakhir ‘Ahsan yang tampak belakang sedang melihat pelangi’.
Ahsan tersenyum melihati foto-foto dirinya yang dikirimi Hasna itu. Ia suka dengan hasil jepretan Hasna membuat Hasna pun ikut senang melihat raut riang laki-laki itu.
“Masih kurang ganteng ga, San?” tanya Hasna tertawa kecil menggoda Ahsan.
Ahsan tersenyum lebar, “Cukupan lah, Na. Nanti kalau terlalu ganteng, takutnya kamu jatuh suka dan ga bisa tidur ngelihatin foto aku, Na ha ha ha”.
Tawa pun pecah diantara keduanya.
“Makasih ya, Na. Aku suka fotonya,” lanjut Ahsan tersenyum kepada Hasna dibalas dengan senyuman manis dan anggukan perempuan itu.
Kehadiran pelangi di langit sore itu berhasil mengalihkan pembicaraan mereka tentang rencana kepergian Hasna yang sempat ditanyakan Ahsan dan membuat Hasna urung ingin membicarakannya dengan laki-laki yang sedang berjalan bersamanya itu. Hasna hanya tidak ingin mengusik perasaan Ahsan atau tepatnya tidak ingin mengusik perasaan dirinya sendiri (?), setidak-tidaknya “tidak” saat itu. Hasna ingin menikmati kebersamaan mereka menuju kelas bantaran rel itu, sebelum dirinya pergi selama beberapa minggu, tetap terisi oleh senyum dan tawa.

Part 8.2. Cieee, Membara Lagi
 Sepuluh menit kemudian, Ahsan dan Hasna pun akhirnya sampai di kelas bantaran rel kemudian segera bergabung dengan volunteer yang lain. Selepas sholat Ashar berjamaah, terlihat adik-adik kecil dan para kakak volunteer menyiapkan kelas mengaji sore itu. Begitu pun Ahsan dan Hasna, mereka terlihat mendiskusikan materi kelompok adik-adik yang mereka pegang berdua beberapa saat ketika Putri menghampiri keduanya.
 “Kak Hasna, bagus nggak Putri pakai jilbab ini?” tanya Putri dengan ceria memperlihatkan jilbab barunya yang mirip dengan jilbab bunga-bunga Hasna. Saat Hasna datang tadi, Putri sudah menggunakan mukena sehingga Hasna belum sempat memerhatikan Putri dengan jilbab yang sebelumnya Putri minta tolong Hasna untuk membelikannya setelah uang tabungannya terkumpul seminggu yang lalu. 
Hasna tersenyum manis kearah gadis itu. “Putri terlihat makin cantik dengan jilbab itu,” ucap Hasna sambil membantu gadis kecil itu merapikan jilbab barunya itu. Putri terlihat senang mendengar ucapan Hasna itu. Sesekali Ahsan ikut tersenyum mengamati keduanya sembari melihati materi yang akan diajarkannya hari itu.
“Kak Ahsan, Putri cocok nggak pakai jilbab yang mirip seperti punya Kak Hasna ini?” tanya Putri kali ini kepada Ahsan.
Ahsan menoleh kearah gadis kecil itu kemudian bergantian menoleh kearah Hasna yang terlihat manis dengan senyumannya. Ia tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. “Putri terlihat cantik... secantik Kak Hasna”. Hasna melirik kearah Ahsan sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya, laki-laki itu terlihat senang mengatakan hal itu.
“Cie cie cieee...,” ucap Putri dengan tertawa kecil membuat Ahsan dan Hasna pecah dalam tawa. Gadis kecil itu pun meninggalkan Ahsan dan Hasna, bergabung lagi dengan teman-temannya.
“Cieee Kak Ahsan udah makin berani terang-terangan nih,” celetuk pelan Ardi yang tiba-tiba sudah duduk di belakang Ahsan.
“Kamu mau digodain sama Ahsan juga, ya Ar?” tanya Hasna tertawa kecil ganti menggoda Ardi sekaligus menyembunyikan rasa malu yang tiba-tiba ia rasakan, entah mengapa.
“Kamu tahu aja, Na... ha ha,” jawab Ardi membuat Ahsan ikut tertawa sambil menyikut pelan Ardi yang selalu bersemangat mengompori dirinya dan Hasna
Hasna bergegas menghampiri Raka yang berdiri tak jauh dari tempat ketiganya dan sedang menyiapkan diri sebelum membuka kelas hari itu.      
 Sementara itu  Ahsan dan Ardi terlihat melanjutkan obrolan “mengisi waktu” mereka.
“Jadi kapan loe berani ngomong serius ke Hasna, Bro? Kayaknya udah cukup deh kode-kodeannya,” bisik Ardi di dekat telinga Ahsan sambil tertawa kecil. Ahsan kembali menyikut temannya yang selalu usil dan bersemangat mendorong Ahsan buat mengakhiri status jomblonya.
“Siapa juga yang suka sama Hasna? Gue tuh cuma suka aja bercanda sama Hasna,” jawab Ahsan lebih lirih  balas berbisik agar tidak terdengar siapapun kecuali Ardi.
Keduanya saling melempar senyum satu sama lain.
“Yakiiin, San? Semua orang disini juga bisa melihat perhatian loe ke Hasna itu luaaar biasa,” jawab Ardi dengan muka tengilnya dan masih tetap berbisik.
“Sok tahu loe,” sikut Ahsan ke Ardi lagi, kali ini agak keras, sambil tersenyum.
Ardi tertawa lebar kepada Ahsan lalu ganti menoleh kearah Hasna yang sedang bersama Raka.
“Hasna kalau dilihat-lihat manis juga ya. Hmmm ya udah kalau loe memang ga ada rasa sama Hasna, gue mau nyoba ngemodusin Hasna ah. Siapa tahu jodoh, he he”.
Ahsan langsung menoleh kearah Ardi. “Loe pasti bercanda,” ucap Ahsan sambil tertawa kecil.
“Nggak, kali ini gue serius. Gue baru nyadar kalau gue ngelewatin cewek semanis Hasna padahal dia ada di dekat kita. Kalau loe emang ga ada rasa sama dia, berarti mungkin gue punya kesempatan ngedeketin Hasna,” balas Ardi sambil senyum-senyum sendiri melihati Hasna.
Ahsan menatap Ardi yang duduk disebelahnya itu beberapa saat kali ini dengan wajah berubah serius, “Loe... serius, Ar?”
Ardi terlihat tetap mengamati Hasna menganggukkan kepalanya sambil tetap tersenyum, merespon pertanyaan Ahsan, membuat mimik muka Ahsan makin serius menatap laki-laki itu.
“Serius loe mau ngedekatin Hasna, Ar?”
Ardi melirik kearah Ahsan yang wajahnya mendadak berubah serius itu, dia sengaja ingin melihat perubahan mimik Ahsan  dengan melontarkan pernyataan itu.
“Kenapa wajah loe jadi serius banget gitu, Bro? Cieee cemburu ya, katanya ga ada rasa apa-apa,” sambung Ardi berbisik dengan tertawa cekikikan.
Ahsan langsung menyadari kalau dirinya sedang dikerjai. Ahsan pun ikut tertawa cekikikan, berusaha tetap menutupi rasa malunya saat itu. “Gue... gue ga cemburu, gue...gue cuma ga yakin aja sama loe,” sambung Ahsan.
“Iya... iya gue percaya, San. Tapi tenang aja, gue juga cuma bercanda soal Hasna,” jelas Ardi mengangguk-anggukkan kepalanya dengan tawa yang makin menjadi tapi tetap lirih. Tawa Ahsan pun pecah. Ahsan tetap berusaha memasang tampang coolnya, tapi jauh di hatinya ia merasa sedikit lega.
Sementara itu, disaat yang bersamaan, Hasna meminta waktu bicara sejenak ke Raka sebelum kelas mengaji dimulai.
“Raka, aku dapat tugas dari kantor ke Papua selama beberapa minggu. Aku izin tidak bisa mengajar selama itu ya,” ujar Hasna.
“Wah, jauh banget, Na. Ada project baru tentang pendidikan lagi disana?”
Hasna tersenyum dan mengangguk. “Kira-kira perlu volunteer pengganti nggak selama aku di Papua? Tadi Pak Ryan, supervisorku nanyain. Kalau memang diperlukan, nanti kantorku bakal kirim orang”.
Raka masih diam dan berpikir.
“Aku yakin kalian sebenarnya tidak masalah kalau aku tidak ada, toh sebelum aku bergabung kelas ini sudah berjalan dengan baik, tapi siapa tahu kalian mau tambahan volunteer”.
Raka balas tersenyum lalu mengedarkan pandangannya ke penjuru kelas, pandangannya berhenti di Ahsan yang terlihat sedang bercanda dengan Ardi.
“Hmmm sepertinya kita perlu minta pendapat Ahsan, Na. Soalnya dia yang jadi pasangan mengajar kamu selama ini”.
Raka memanggil Ahsan untuk bergabung dengan dirinya dan Hasna.
“Ada apa, Ka?” ujar Ahsan kepada Raka dan Hasna sambil tersenyum lebar.
Raka menjelaskan tentang rencana kepergian Hasna ke Papua dan tawaran Hasna terkait volunteer pengganti itu. Ahsan terlihat menoleh kearah Hasna sejenak. Ahsan baru ingat obrolan dirinya dan Hasna sebelumnya yang terhenti karena pelangi, obrolan yang tidak Hasna teruskan ke Ahsan, entah kenapa. Sementara itu, Hasna terlihat diam tetap dengan senyumnya kepada Raka dan Ahsan. Ya, obrolan ini pasti harus dilakukan meski didalam hatinya ada sedikit khawatir yang ia rasakan saat membuka obrolan tentang ini didepan Ahsan.
“Jadi gimana, San.... apa kamu perlu volunteer sementara menggantikan Hasna nemenin kamu?” tanya Raka. Ahsan menoleh kearah Hasna.
“Ga perlu, Ka,” jawab Ahsan singkat.
“Siapa tahu kamu mau request volunteer muda dan cantik biar makin semangat mengajar selama Hasna pergi,” sambung Raka mencandai Ahsan membuat Ahsan tertawa mendengarnya. Sementara Hasna terlihat menganggukkan kepalanya pelan, ikut menggoda Ahsan.
Lagi-lagi Ahsan menatap Hasna dengan senyum dan rautnya yang berubah setengah serius.
“Cuma beberapa minggu kan, Na? Setelah itu, kamu bakal mengajar lagi disini kan? Kamu ga berhenti kan jadi volunteer disini?” lanjut Ahsan.
Hasna mengangguk pelan sambil tersenyum. “Iya, aku pasti balik insyaa Allah, San”.
“Nah, karena Ahsan sudah menjawab seperti itu, berarti kita ga butuh volunteer tambahan, Na. Nanti kita bisa gantian menemani Ahsan menggantikan kamu, Na,” ujar Raka dengan senyum lebarnya, “biar dia nggak terlalu galau ga ada kamu”.
Hasna tertawa kecil sementara Ahsan tetap tersenyum tanggung, ada malu yang berusaha disembunyikan laki-laki itu.
“Apa Bara juga pergi bareng kamu ke Papua, Na?” Pertanyaan Ahsan itu membuat senyuman di wajah Hasna perlahan memudar, hatinya terusik.
Hasna kembali menatap Ahsan dan menganggukkan kepalanya pelan lalu melebarkan kembali senyumnya. “Bara volunteer inti yang menjalankan project ini selama enam bulan disana, sedangkan aku cuma membantu Bara, memastikan program itu berjalan lancar, San”.
Ahsan hanya diam menganggukkan kepalanya. Raka tersenyum tipis mendengar perbincangan diantara keduanya itu, mengungkapkan rasa menjadi hal yang mahal untuk diungkapkan bagi Ahsan dan Hasna meski sekeliling mereka jelas-jelas merasakannya. Bagi Raka, Ahsan terlihat susah payah bersikap biasa dan melebarkan senyumannya saat itu berusaha menutupi bara di dalam hatinya.
 “Jadi kamu pergi ke Papua bareng Bara?” lanjut Ahsan ingin menuntaskan keingintahuan hatinya.
Hasna tersenyum meski sedikit canggung dan lagi-lagi menganggukkan kepalanya.
“Iya aku hari minggu besok pergi bareng Bara,” jawab Hasna singkat.
“Cuma berduaan sama Bara, Na?” sambung Ahsan penasaran sambil berusaha tersenyum lebar, membuat Raka yang berada diantara keduanya pun pecah dalam tawa kecilnya.
Hasna yang masih diam pun urung hendak menjawab, Ahsan dan Hasna langsung kompak menoleh kearah Raka.
“Kamu kenapa, Ka?” tanya Ahsan heran.
“Lucu aja ngelihat kamu ngepoin Hasna tentang Bara, San. Kelihatan penasaran banget ha ha”.
 Hasna melirik kearah Ahsan, laki-laki itu terlihat sedikit salah tingkah meski berusaha bersikap biasa.

“Nggak, ... aku cuma... aku cuma pingin tahu saja. Udah deh, nggak usah diterusin mendingan kita mulai kelas mengaji aja sekarang,” ujar Ahsan berjalan kearah adik-adik yang menjadi tanggung jawabnya disusul Hasna di belakangnya. Hasna merasa pembahasan tentang Bara sebenarnya belum usai bagi Ahsan.


Part 8.3. Diam?
Pelajaran mengaji pun berjalan seperti biasa, tak banyak perbincangan diantara Ahsan dan Hasna. Seperti biasa sesekali Ahsan mencuri-curi melihat senyuman Hasna ketika mengajar, begitu pun Hasna. Bisa hampir dipastikan keduanya akan sama-sama kehilangan momen itu selama Hasna di Papua. Waktu di dinding kelas menunjukkan pukul lima sore ketika pelajaran mengaji selesai. Sebelum adik-adik pulang terlihat Raka berdiri di depan kelas ingin memberikan pengumuman.
"Oh iya adik-adik, Kak Raka minta perhatiannya sebentar sebelum pulang. Kakak mau memberitahu kalau Kak Hasna akan izin tidak bisa ikutan mengajar di kelas ini karena ada tugas di Papua. Kak Hasna dan teman-teman kantornya ada proyek membantu sebagian adik-adik di Papua, daerah bagian timur dari Indonesia, untuk bisa belajar lebih baik. Kita doakan ya, semoga Kak Hasna sehat-sehat selalu disana dan proyek belajar adik-adik di Papua bisa berjalan lancar," jelas Raka diikuti suara aamiin dari kakak-kakak volunteer dan adik-adik di kelas itu tak terkecuali Hasna. Selanjutnya Raka memimpin doa buat Hasna selama lima menit.
Setelahnya, terlihat Ridwan unjuk tangan.
"Ya Ridwan...".
"Papua kan jauh ya, Kak. Kira-kira Kak Hasna bakal kembali mengajar disini lagi nggak?"
Raka tersenyum kemudian menoleh kearah Hasna dan meminta gadis itu maju. Terdengar beberapa suara adik-adik yang masih kelas 1 dan 2 masih saling berkasak-kusuk tentang dimana Papua.
Hasna tersenyum lebar ke adik-adik yang sedang memperhatikannya di depan kelas itu.
"Insyaa Allah Kak Hasna bakal balik lagi kesini kalau proyek kelas belajar disana sudah jalan. Kak Hasna boleh kan mengajar disini lagi?" tanya Hasna riang dijawab kompak dengan kata "boleh" dari mulut adik-adik disana.
"Oh iya, Kak Hasna dengar ada yang nanya Papua itu dimana. Kak Hasna coba gambarkan di papan ya," sambung Hasna. Hasna pun menggambarkan pulau-pulau besar di Indonesia meski tidak sama bentuknya dan lebih kearah gambaran posisinya. Kemudian ia pun menjelaskan posisi Papua dan posisi adik-adik itu berada, di pulau jawa. Terlihat adik-adik itu mengangguk-anggukkan kepala mendengarkan penjelasan dari Hasna. Ahsan yang duduk di barisan belakang adik-adik itu pun ikut tersenyum melihat semangat dan keriangan Hasna tiap kali mengajar itu.
"Kira-kira Kak Hasna pergi berapa lama, Kak?" tanya Putri tunjuk tangan.
"Sekitar satu bulan," jawab Hasna sambil tersenyum lebar.
"Wah... Kak Ahsan bakal kehilangan teman mengajar selama satu bulan dong. Kak Ahsan pasti sedih, Kak," sambung Putri ke Hasna membuat Hasna kehilangan kalimat sejenak sementara Ahsan menjadi seperti terdakwa yang salah tingkah. Kakak volunteer yang lain terlihat berusaha menahan tawa dan senyumnya di hadapan adik-adik itu. Hasna melihat kearah Ahsan sejenak yang terlihat bingung harus bicara apa kemudian Hasna tersenyum lebih lebar menatap Putri dan adik-adik di depannya. "Meski ga ada Kak Hasna, kan masih ada kakak-kakak yang lain buat menemani Kak Ahsan. Jadi Kak Ahsan ga bakal sedih dan kehilangan Kak Hasna, toh Kak Hasna nanti juga kembali. Iya kan, Kak Ahsan?"
Dalam seketika Ahsan menjadi pusat perhatian, mayoritas adik-adik dan juga kakak-kakak volunteer termasuk Hasna memandang kearahnya. Ahsan menatap Hasna sejenak lalu buru-buru tersenyum lebih lebar sambil menganggukkan kepalanya, "Iya, Kak Ahsan pasti baik-baik saja".
"Kak Hasna naik apa ke Papua, Kak?" tanya adik yang lainnya lagi.
"Naik pesawat," jawab Hasna tetap dengan senyum lebarnya.
"Waaah pasti seru ya, Kak. Aku belum pernah naik pesawat, kata Bapak naik pesawat itu mahaaaaal. Jangankan naik, lihat pesawat dari deket aja belum pernah he he," ujar seorang adik diikuti dengan komentar sependapat dari beberapa adik yang lain, membuat kelas kembali ramai. Ada juga yang bercerita kalau dia pernah mengantar keluarganya ke bandara dan melihat pesawat dari dekat. Hasna dan Raka yang berdiri berdekatan saling berpandangan dan tersenyum serta sedikit berbincang tentang sesuatu.
"Hmmm, jadi adik-adik mau melihat pesawat lebih dekat nih?" tanya Hasna bersemangat dijawab "mau" dari sebagian besar adik-adik itu dengan kompak dengan raut ceria dan penuh semangat.
"Ya udah, kalau begitu hari minggu nanti kita rame-rame antar Kak Hasna ke bandara, jadi adik-adik bisa melihat pesawat lebih dekat," ujar Raka dengan senyuman lebarnya dibalas senyuman riang dari adik-adik dan juga kakak-kakak volunteer yang duduk di belakang termasuk Ahsan.
"Kita mengantar Kak Hasnanya sampai dalam pesawat ya, Kak?" tanya adik bernama Lili dengan polosnya. Hasna tertawa kecil mendengarnya. "Sayangnya, pengantar tidak boleh masuk kedalam pesawat, Lili. Lili cuma bisa mengantarkan Kak Hasna sampai bandara," jelas Hasna beranjak duduk sambil membelai lembut kepala gadis kecil yang duduk di paling muka itu. Lagi-lagi bibir Ahsan ikut tersenyum melihati tingkah laku Hasna itu dari belakang. Terlepas apa yang ia rasakan terkait Bara, entah kenapa Hasna selalu mudah membuatnya ikut tersenyum.
"Ya udah sekarang adik-adik boleh pulang. Nanti hari Minggu kita naik mobil rame-rame mengantar Kak Hasna ke bandara kemudian mampir ke Monas dan makan siang disana. Oke!!!" jelas Raka bersemangat dibalas dengan anggukan kepala dari adik-adik itu serta jawaban "iya" yang tak kalah bersemangat. Setelah Raka menutup kelas dengan berdoa dan salam, adik-adik itu pun bergegas menyalami dan mencium tangan kakak-kakak volunteer bergantian kemudian meninggalkan kelas. Tersisa kakak-kakak volunteer disana melakukan rapat kecil sebelum pulang. Kelimanya duduk melingkar saling berdekatan, dan seperti sebelumnya mereka sengaja memposisikan Ahsan agar duduk bersebelahan dengan Hasna. Raka membahas tentang rencana mereka mengajak adik-adiknya berkemah sabtu dan minggu sekaligus sebagai sarana refreshing dan pembelajaran di alam terbuka yang sebelumnya dijadwalkan dua minggu lagi.
"Menurut pendapat kalian bagusnya bagaimana? Kita tetap jadwalkan dua minggu lagi atau menunggu Hasna balik dari Papua?" tanya Raka.
Hasna hanya tersenyum, gadis itu memilih ikut apapun keputusan volunteer yang lainnya.
"Kalau aku sih, tergantung jawaban Ahsan aja, Ka," jawab Ardi sambil tersenyum lebar diikuti anggukan setuju dari Bayu dan Azka sambil ikut senyum-senyum menggoda kearah Ahsan. Raka pun ikut tertawa kecil, "Jadi gimana, Kak Ahsan baiknya?"
Ahsan tersenyum melihat kelakuan teman-temannya yang semakin terang-terangan menggodanya di hadapan Hasna. Ia melirik ke perempuan yang duduk di sebelahnya itu, Hasna terlihat tersenyum agak tersipu tapi berusaha menyamarkannya memainkan pulpen yang dipegangnya. "Menurut aku lebih baik menunggu Hasna pulang dari Papua biar kakak volunteernya lengkap saat acara itu," ucap Ahsan bijak dengan senyumannya yang dibuat sebiasa mungkin diikuti dengan anggukan setuju volunteer yang lain yang masih saja senyum-senyum menggoda Ahsan.
"Jadi gimana, Kak Hasna mau nggak ditungguin kedatangannya sama Kak Ahsan eh sama kami semua maksudnya?" goda Ardi tertawa kecil membuat Hasna ikut tertawa. Hasna melirik kearah Ahsan, laki-laki itu terlihat sedang tersenyum kepadanya.
Akhirnya mereka memutuskan pelaksanaan kemah sabtu minggu akan diadakan lima minggu lagi, dengan anggapan Hasna sudah balik dari Papua saat itu. Para volunteer pun membicarakan lebih jauh rencana mengajak adik-adik jalan ke bandara hari minggu sekalian mengantar Hasna. Diputuskan bahwa Hasna akan menunggu kedatangan adik-adik itu di bandara, tidak ikut berangkat dari kelas bantaran rel mengingat Hasna harus membawa dua tas, tas baju dan tas buku buat perpustakaan keliling untuk proyek pendidikan di Papua tersebut. Para volunteer pun saling memberikan pendapat, kecuali Ahsan yang terlihat lebih banyak diam saat itu.
"Loe kenapa jadi pendiam banget, San? Sedih ya mau ditinggal Hasna pergi?" tanya Ardi sambil menyikut pelan Ahsan dan tertawa menggoda temannya itu.
"Apaan sih, Ar... dari tadi ngegodain gue melulu. Beberapa hari terakhir badan gue kadang suka lemes tiba-tiba aja, ga tau kenapa he he," balas Ahsan sambil nyengir dan tersenyum tipis.
"Kamu sakit, San?" Suara Hasna yang menyela diantara obrolan Ahsan dan Ardi itu pun membuat Ahsan tertegun dan buru-buru langsung menoleh ke perempuan yang ada di sampingnya itu sambil melebarkan senyumannya. "Aku baik-baik saja, Na. Mungkin agak kecapekan saja he he". Ada sedikit khawatir di raut wajah perempuan yang sedang saling bertatapan dengan Ahsan itu, meski Hasna berusaha membungkusnya dengan senyumannya.
"Tenang aja, Na... Ahsan sepertinya sehat-sehat aja, dia agak lesu mungkin karena mendadak galau mau ditinggal kamu agak lama he he he," goda Ardi membuat Ahsan langsung menyikut temannya itu sementara Hasna hanya tersenyum lebar sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ehm ehm," terdengar suara Azka membuat Hasna, Ahsan, dan juga Ardi langsung menoleh ke asal suara.
"Memangnya ga bisa ada volunteer tambahan kah, Na? Siapa tahu Ahsan bisa ikutan ke Papua bareng kamu, Na. Biar dia ga kepikiran kamu sama Bara disana. Sekalian juga bisa bantu-bantu jadi volunteer ngajar disana," tanya Raka membuat Ardi, Azka, dan Bayu tersenyum lebar sementara Ahsan dan Hasna tertegun sejenak mendengarnya, seperti tidak menyangka pertanyaan itu akan keluar dari mulut seorang Raka.
Hasna memilih tersenyum tak menjawab ketika ia melihat raut wajah Ahsan yang berubah jadi serius.
"Udah cukup bercandanya guys. Gue ga cemburu sama Bara. Lagian ngapain juga gue cemburu? Gue...". Ahsan tidak meneruskan kalimatnya ketika matanya bertemu dengan mata Hasna yang sedang memperhatikannya bicara, ada penasaran di raut wajah perempuan itu yang ia samarkan lewat senyum tipisnya. Ahsan buru-buru tersenyum, agak canggung, ada yang mengganjal di hati laki-laki itu.
"Maaf ya, Na... teman-teman aku bercandanya kelewatan. Maaf kalau terkesan kurang menghargai kamu padahal kamu jauh lebih senior secara umur dari kami," jelas Ahsan membuat Hasna terdiam dan kembali tertegun, senyuman Hasna sejenak menghilang dari wajahnya. Kalimat Ahsan menyadarkannya bahwa dia jauh lebih tua dari Ahsan dan teman-temannya, meski ada sebuah ruang hati untuk Ahsan bernama harapan yang akhir-akhir ini terasa semakin besar dirasakan Hasna. Hasna pun buru-buru tersadar dari rasa kecewa dan sedih yang tiba-tiba menyapa hatinya dan segera melebarkan senyumannya lagi.
"Gapapa, San. Tenang aja, aku tahu kok kalo itu cuma bercanda, ... anggap aja resiko jadi volunteer cewek sendirian ya begini ini, he he. Lagipula seorang Ahsan yang populer di cewek-cewek sebayanya pasti bakal mikir berkali-kali buat beneran suka sama perempuan biasa yang lebih tua, iya kan?" jawab Hasna berusaha ceria. Ahsan balas tersenyum kali ini lebih canggung dari sebelumnya. Entah kenapa Ahsan merasa ada yang tidak biasa dengan sikap dan kalimat Hasna gara-gara ucapannya. Ardi, Raka, Bayu, dan Azka terlihat memilih diam dan tersenyum, tidak lagi meneruskan bercandaan mereka lagi. Mereka tidak ingin niatan mereka sebenarnya memancing Ahsan untuk berani mengungkapkan perasaan ke Hasna justru menyakiti gadis itu.
"Ya udah, intinya kita dan adik-adik bertemu Hasna di bandara jam sembilan pagi hari minggu. Kita mantabkan lagi nanti hari Sabtu sekalian buat memastikan berapa jumlah mobil yang diperlukan untuk membawa adik-adiknya," ujar Raka akhirnya membelokkan kembali obrolan ke pembahasan semula. Setelah menutup rapat kecil dan merapikan kelas, mereka pun pulang, termasuk Ahsan dan Hasna yang berjalan berdua menuju stasiun seperti biasa.
Hening menyapa sejak keduanya keluar dari kelas bantaran rel. Hasna terlihat melihati anak-anak yang asyik berlarian di gang-gang menuju stasiun sementara Ahsan beberapa kali hanya mencuri pandang pada Hasna, seperti canggung memulai percakapan sejak ia merasa salah bicara kepada Hasna.
"Hasna...," panggil Ahsan membuat Hasna langsung menoleh ke laki-laki itu.
"Jangan lupa bawa pil kina atau obat sakit malaria ya. Dengar-dengar dari beberapa teman yang pernah kesana, di beberapa wilayah Papua termasuk endemi malaria katanya," lanjut Ahsan berhasil menghadirkan senyuman lebar di wajah Hasna sambil ia menganggukkan kepalanya. "Iya San, Bara sudah mempersiapkan obat-obatan termasuk pil kina. Maklumlah dia sudah berpengalaman banyak keluar masuk pedalaman," jawab Hasna membuat hati Ahsan kembali terusik mendengar nama Bara kembali disebut.
"Tapi terima kasih banyak ya sudah mengingatkan," sambung Hasna melebarkan senyumannya ke laki-laki yang terdiam di sebelahnya itu berhasil membuat Ahsan kembali ikutan tersenyum seakan merasakan ketulusan gadis itu.
"Oh iya, kamu beneran baik-baik aja, San? Soalnya aku perhatiin dari sejak rapat tadi kamu kelihatan agak lesu dan lemes dibandingkan biasanya. Kalau kamu ngerasa ada yang ga beres dengan tubuh kamu, ga ada salahnya periksa ke Dokter, San" tanya Hasna kembali memastikan jawaban Ahsan saat dikelas tadi, terselip khawatir di kalimat perempuan itu.
Ahsan tersenyum, entah kenapa hatinya merasa senang mengetahui Hasna yang terdengar peduli dan khawatir kepadanya.
"Insyaa Allah aku baik-baik aja, Na. Aku janji nanti malam bakal istirahat yang cukup bahkan lebih," ujar Ahsan terdengar berusaha menghapus rasa khawatir Hasna padanya. Hasna tersenyum, menganggukkan kepalanya pelan.
"Hasna...," panggil Ahsan lagi membuat Hasna memandangi Ahsan lebih seksama. Ini kali kedua laki-laki itu memanggilnya, tidak seperti biasanya.
"Ada apa, Ahsan? Sekali lagi kamu panggil nama aku, aku kasih hadiah permen nih," ujar Hasna lagi-lagi melebarkan senyumannya. Ahsan ikut melebarkan senyumnya sejenak.
"Sepertinya aku tadi salah bicara," ucap Ahsan berhenti sejenak, sedikit ragu meneruskan kalimatnya, "aku minta maaf ya, bukan maksud aku menyinggung umur kamu yang lebih tua. Aku... aku... ".
Hasna tertawa kecil melihati Ahsan yang kebingungan mencari kata-kata yang pas itu.
"Gapapa, San. Aku maafin..., maafin aku juga kalau ada salah bicara tadi". Keduanya saling menganggukkan kepalanya, saling tersenyum lebar.
Meski sedih dan kecewa sempat mampir di hati Hasna, tapi ruangan bernama harapan yang berhasil dibangun Ahsan di hati Hasna tetap saja menyala, sekecil apapun peluangnya bagi Hasna. Hasna bertekad menunggu walau tidak juga berani terlalu berharap laki-laki itu akan berani jujur mengatakan perasaannya. Di satu sisi Hasna juga tidak yakin sepenuhnya bahwa dugaannya tentang perasaan Ahsan kepadanya itu benar adanya.
Beberapa saat kemudian, perjalanan Ahsan dan Hasna diwarnai obrolan tentang kondisi sekitar di sepanjang jalan yang mereka lalui sore itu, tak lagi membahas tentang mereka hingga akhirnya mereka tiba dan berpisah di stasiun.
Keesokan harinya, Bayu, Azka, Ardi, dan Raka terlihat berkumpul di kantin kampus, ngobrol sekaligus makan siang ketika Ahsan bergabung duduk semeja dengan mereka. Muka Ahsan terlihat lesu dan kusut, sama seperti hari sebelumnya.
"Loe baik-baik aja, Bro? Wajah loe kusut amat, San," tanya Raka yang duduk persis di hadapan Ahsan. Ahsan tersenyum, "Gue baik-baik aja, Ka".
"Jangan-jangan ada kaitannya sama kepergian Hasna ya?" tanya Ardi kembali memulai menggoda Ahsan sambil setengah tertawa. Ahsan balas tertawa kecil sambil lagi-lagi menggelengkan kepalanya.
"Berapa kali aku harus bilang sih, guys. Gue dan Hasna itu cuma temen dan perasaan gue biasa aja ke dia," jelas Ahsan meski di dalam hatinya ada ragu tak bernama dirasakannya.
"Yakin loe ga ada rasa sedikit pun ke Hasna? Soalnya kita berempat disini yakin kalo loe suka sama Hasna. Perasaan loe ke Hasna itu terlihat jelas banget, San. Hasna juga sepertinya memilih menunggu loe buat jujur," ujar Bayu menambahkan.
"Intinya sebagai teman loe, kita ga pingin loe nyesel ketika nantinya Hasna terdengar jadian atau bahkan dilamar Bara sepulang dari Papua... gara-gara loe ga berani ungkapin perasaan loe ke dia," sambung Azka.
Ahsan terdiam, mencerna ucapan demi ucapan teman-temannya itu yang mendapatkan dukungan dari hatinya meski pikirannya berusaha mengelak dengan berbagai tawaran alasan.
"Oke, hati dan pikiran mari kita berdebat sendiri. Kalaupun aku suka sama Hasna dan terus terang ke Hasna, aku bahkan ga bisa menjanjikan kepastian buat Hasna, aku masih jauh dari kriteria laki-laki yang mapan. Aku tidak mau, tidak suka melihat raut sedih di wajah Hasna terlebih kalau sedih itu karena aku. Jadi yakin kamu siap benar-benar menyukai Hasna, San?" ucap Ahsan dalam hati seolah berdebat dengan dirinya sendiri beberapa saat sampai entah kenapa ia merasakan capek di tubuhnya dan terdengar suara teman-temannya yang memanggil beberapa kali namanya.
"Loe beneran baik-baik aja, San? Wajah loe kelihatan tegang campur lesu, Bro," ujar Bayu yang duduk di sebelah Ahsan menepuk bahu laki-laki itu.
"Gue baik-baik aja," jawab Ahsan melebarkan senyumannya dan memandangi satu demi satu kawan-kawan semejanya itu.
"Gue harap kita berhenti membahas Hasna ya, guys. Apapun perasaan gue, gue tahu dan yakin dengan apa yang gue putuskan. Menurut gue, ga ada yang perlu gue sampaikan ke Hasna saat ini soal rasa," sambung Ahsan disambut tatapan keempat temannya kepadanya. Keempatnya pun kemudian seolah kompak menganggukkan kepala mereka bersamaan.
"Baiklah... , kita ganti topik. Gue baru ingat dapat titipan dari seorang gadis cantik berjilbab seangkatan kita, anak jurusan sebelah buat kamu, San. Namanya Rana," ujar Ardi kembali ceria sambil menyerahkan sebuah sebuah amplop putih lengkap beserta isinya ke Ahsan.
"Ini apa, Ar?" tanya Ahsan dengan raut penasaran membolak balik amplop yang kini dipegangnya itu.
"Buka aja, San. Didalamnya juga ada fotonya kok, biar lebih jelas. Kemarin gue ragu mau ngasiin ke loe di kelas bantaran rel, gue pikir loe bakal nyatain perasaan loe ke Hasna. Ternyata nggak, ya udah gue kasih ke loe sekarang aja," lanjut Ardi dengan riangnya seperti biasa.
Ragu, Ahsan menyobek pinggiran amplop itu dan mengeluarkan selembar surat dan sebuah foto dari dalamnya kemudian melihatnya sejenak. "Ini surat apa sebenarnya sih, Ar?" tanya Ahsan lagi tetap tak membuka surat di tangannya itu.
"Surat cinta, Ahsan... siapa tahu kamu mau mencoba PeDeKaTe serius sama Rana...," jelas Ardi dengan senyum mengembang membuat Ahsan menatap tajam ke Ardi. "Emang loe pikir gue udah pingin nikah sekarang, Ar. Gue belum kepikiran soal itu, Ardi. Lagian kalau gue sudah kepikiran buat berkomitmen serius, ngapain juga gue susah payah mutusin ga ngomong jujur ke Hasna?" jelas Ahsan membuat keempat temannya itu kembali kompak menatap ke laki-laki itu.
"Loe ngomong apa barusan? Jadi maksudnya sebenarnya loe suka sama Hasna tapi loe ngerasa belum saatnya ngomong gitu?" tanya Raka penuh selidik seolah mewakili rasa penasaran dari Ardi, Bayu dan Azka.
Ahsan pun agak salah tingkah gara-gara dia kelepasan bicara. Ahsan melebarkan senyumannya meski setengah canggung. "Ehmmm maksud gue... intinya gue ga kepikiran apa-apa soal komitmen dengan perempuan manapun saat ini". Menyadari teman-temannya yang masih saja tidak puas, mencari jawaban dari Ahsan dengan menatapnya, Ahsan pun berusaha bersikap biasa dengan sengaja melihati sejenak foto perempuan bernama Rana itu. "Cantik," batin Ahsan menilai foto perempuan itu...., "sayangnya dia bukan Hasna... . Eh apaan sih Ahsan... kenapa jadi kepikiran Hasna?"
Ahsan tersadar dari pikirannya sambil menggelengkan kepalanya pelan kemudian memasukkan kembali foto dan surat itu ke amplopnya. "Gue bakal mengirimkan kembali surat ini ke Rana via pos, kalau loe ketemu sama Rana lagi, tolong bilangin permohonan maaf gue ga bisa menerimanya," ujar Ahsan diikuti dengan anggukan kepala Ardi, terlihat teman-teman Ahsan menyerah dan berhenti penasaran kepada Ahsan untuk sementara, mereka kembali asyik dengan makanan dan minuman mereka sambil bercanda.
"Loe ga pesan makan atau minum, San?" tanya Raka, menyadari dari tadi Ahsan satu-satunya yang belum memesan apa-apa.
Ahsan menggelengkan kepalanya, "Pencernaan gue bermasalah sepertinya beberapa hari ini, bawaannya jadi ga terlalu berselera he he".
"Pantesan loe kelihatan lemes, San. Mau gue temenin periksa ke dokter?" tanya Raka lagi.
Ahsan lagi-lagi menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis. "Belum perlu sepertinya, Ka. By the way, berhubung badan gue lagi berasa ga enak banget, gue cabut duluan ya... pingin buru-buru sampai rumah dan tidur". Ahsan meminta selembar amplop ke Raka yang selalu membawa cadangan amplop kosong kemana-mana kemudian menuliskan alamat gadis bernama Rana di amplop itu lalu memasukkan surat dan foto gadis itu utuh ke amplop kosong dan langsung mengelemnya. Dia berniat mengeposkan surat itu sekalian dalam perjalanan pulang. Setelah mengucapkan salam ke teman-temannya, Ahsan pun pergi menuju mobilnya. Ahsan sengaja naik mobil ke kampus setelah sekian lama dia memutuskan untuk naik kendaraan umum gara-gara kalimat Hasna hari itu. Hari ini Ahsan merasa tidak enak badan dan benar-benar kehilangan mood untuk naik kendaraan umum seperti biasanya.
Tak lama kemudian, Ahsan sudah duduk di dalam mobilnya, menyandarkan kepalanya ke kursi mobilnya. Entah kenapa, makin siang tubuhnya terasa makin lemas saja. Bisa jadi hal itu disebabkan oleh nafsu makannya yang terus menurun beberapa hari terakhir ini.
Ahsan memutar playlist di mobilnya, sejenak berusaha mengumpulkan energinya untuk mengemudi pulang ketika matanya tertuju ke surat dari perempuan bernama Rana yang ia geletakkan begitu saja di dekat kaca bagian depan mobil sportnya itu. Tiba-tiba Ahsan teringat Hasna, membayangkan Hasna menulis surat seperti itu kepadanya sambil menyelipkan foto Hasna dengan senyuman khasnya itu. Ahsan tersenyum. "Andai itu kamu, Na," ujar Ahsan lirih, entah kenapa laki-laki itu sedikit tersipu membayangkannya.
"Emangnya kalau Hasna yang mengirim surat itu ke kamu, kamu berani menjawab iya, Ahsan? Yakin kamu siap berkomitmen untuk tidak mengecewakan Hasna?" Ahsan kembali berdebat dengan dirinya sendirinya ketika kemudian ada pesan masuk di whatsapp laki-laki itu dari Hasna.
"Ahsan, maaf mengganggu. Aku mau minta tolong kalau kamu tidak keberatan. Gara-gara menggambar dadakan tentang letak Papua kemarin, aku jadi ingin membelikan peta Indonesia buat adik-adik di kelas bantaran rel, biar bisa dipajang di dinding kelas. Apa kamu bisa membelikan peta itu dulu, nanti aku transfer uangnya ke kamu. Terima kasih :) :D".
Ahsan tersenyum membacanya, ketulusan Hasna selalu menyentuh hati laki-laki itu sejak kali pertama dia melihat Hasna lewat profile picture di whatsapp-nya.
Ahsan baru akan mengetik balasan buat Hasna ketika ia baru menyadari tubuhnya termasuk tangannya gemetaran saat itu. Keringat dingin memenuhi wajah dan tubuhnya dan tiba-tiba tubuhnya terasa menggigil dan terasa benar-benar tidak bertenaga. Ahsan menarik nafasnya dalam-dalam, agak kesulitan membuka daftar kontak di handphone-nya. Ahsan menelepon Raka.

Bersambung (2)

Minggu, 09 Oktober 2016

Konstelasi Hati BINTANG Buat ARA - Part 7 : Merajut Konstelasi - Perlahan Menjelma Nyata

Part Sebelumnya

Merajut Konstelasi : Perlahan Menjelma Nyata

Sabtu malam itu, Ara menginap di tempat kos Lintang setelah dari siang hingga jam delapan malam, Ara menemani Lintang di tempat kerjanya. Seminggu pun berlalu sejak Bintang dan Ara menghabiskan waktu ke panti jompo, sejak itu pula tak ada komunikasi diantara keduanya meski sekedar lewat mimpi. Waktu pun sudah sangat larut, menunjuk ke angka setengah sebelas malam ketika Ara dan Lintang sama-sama sudah terlelap dalam tidurnya. Malam itu Ara kembali bermimpi. Ia melihat sosok Bintang sedang dipukuli oleh tiga orang dan Bintang yang berusaha memberi perlawanan terlihat tidak berdaya karena jumlah lawan yang tak seimbang. Tak ada seorang pun tampak membantu Bintang saat itu, Bintang seolah hanya bisa menerima ketika pukulan demi pukulan itu mendarat di tubuhnya.
"Tolong jangan pukul lagi... tolong hentikan... tolong tolong... tolong...," terdengar suara Ara, membuat Lintang yang tertidur disebelah Ara terbangun kemudian bergegas membangunkan Ara yang terlihat panik dalam tidurnya.
"Bintanggg...," ucap Ara lirih ketika ia terbangun dari tidurnya. Lintang terlihat sedang menatap agak cemas dan setengah bertanya-tanya kearahnya.
"Kamu mimpi buruk, Ra?"
Ara memandangi sahabatnya itu sejenak lalu mengangguk pelan. Ara mengatur nafasnya perlahan, tak ada satu kalimat keluar dari mulutnya. Bayangan Bintang di mimpinya membuat Ara buru-buru mengambil handphonenya yang ia letakkan di bawah bantalnya.
Bintang, apa kamu baik-baik saja?” ketik Ara.
Sementara itu Lintang hanya mengamati setiap gerak-gerik Ara, seolah menunggu sahabatnya itu sedikit lebih tenang untuk ia melanjutkan pertanyaannya.
 Ara masih menatap layar handphonenya. ”Semoga kamu baik-baik saja, Bin,” ujarnya di dalam hati ketika handphone Ara bergetar. Ada panggilan dari Bintang, Ara buru-buru mengangkatnya, rasa khawatir yang dirasakannya itu membuat Ara melupakan rasa malunya ke laki-laki itu.
“Assalaamualaikum, Bintang...,” ucap Ara.
“Waalaikumsalam. Raaa...”. Suara Bintang terdengar lirih dan parau seperti menahan sakit. 
“Ya...”, jawab Ara singkat, ia seolah menunggu Bintang untuk bicara meski kekhawatiran gadis itu makin menjadi.
“Ra..., aku habis dikeroyok orang di taman dekat tempat kita pernah bertemu. Aku...”.
“Jadi apa yang aku lihat di mimpi itu beneran terjadi. Aku segera kesana, Bin,” jawab Ara memotong ucapan Bintang sebelumnya.
 “Tapi Ra..., kamu perempuan dan ini sudah sangat malam, Ra,” ujar Bintang.
“Kamu tenang aja, Bin. Aku bakal minta tolong teman aku buat menemani aku kesana”.
“Makasih. Aku bakal tunggu kamu,” jawab Bintang mengakhiri percakapan diantara keduanya.
Ara menatap kearah Lintang.
“Bintang habis dikeroyok orang, dia butuh bantuan buat nganterin dia ke rumah sakit dan balik ke rumahnya, Tang. Aku harus kesana, apa kamu mau menemani aku?”
“Dikeroyok, kok bisa? Memangnya kondisi Bintang parah Ra? Dia nggak bisa minta tolong ke orang-orang di sekitar sana?” tanya Lintang.
“Bintang nggak bicara banyak, Tang.  Dan aku lupa menanyakan kondisi Bintang dan kemungkinan dia bisa meminta bantuan orang-orang di sekitar taman itu. Tapi... dari yang aku lihat di mimpi, Bintang sepertinya perlu bantuan, Tang...,” jawab Ara.
“Jadi tadi itu kamu panik dalam tidur karena kamu mimpi Bintang dan lihat dia dikeroyok?”
Ara mengangguk pelan. Lintang tak lagi menanyai sahabatnya itu. Meski ia tidak terlalu suka Ara berhubungan dengan Bintang, tapi sebagai sahabat, Lintang memahami apa yang dirasakan Ara saat itu. Tanpa mengulur waktu, Lintang bergegas menelepon tukang ojek langganannya di pangkalan depan kompleks tempat kos-nya.
“Makasih banyak ya, Tang. Kamu itu benar-benar sahabat yang baiiik banget,” ucap Ara tersenyum ke Lintang sambil mereka bersiap-siap.
Lintang balas tersenyum lebih lebar diantara rasa kantuknya. “Karena aku tahu sahabat aku ini orang yang baik dan tulus”.  Keduanya pun tertawa.
45 menit kemudian, Ara dan Lintang pun akhirnya sampai di taman itu. Tak banyak orang yang masih menghuni taman di malam itu. Ara pun bergegas mencari keberadaan Bintang ditemani Lintang.
Ara baru akan menelepon Bintang ketika ia melihat seseorang sedang terduduk setengah meringkuk sambil memegangi perutnya di salah satu bangku tak jauh dari tempat Ara bertemu Bintang sebelumnya di taman itu.
“Bintang, “ panggil Ara setelah ia melihat lebih jelas.
“Kamu datang, Ra,” jawab Bintang lirih berusaha tersenyum dan menegakkan tubuhnya untuk duduk sambil memandangi Ara dan Lintang.
Terlihat luka lebam di wajah laki-laki itu.
“Kamu kesini berdua sama Lintang, Ra? Aku pikir kamu bakal ajak teman laki-laki. Beresiko dan tidak aman perempuan seperti kalian keluar rumah malam-malam begini, Ra" sambung Bintang justru terdengar gantian  khawatir.
Ara tersenyum dan duduk di sebelah Bintang.
"Ini bukan waktunya kamu mengkhawatirkan aku dan Lintang. Gimana kondisi kamu, Bin?"
"Cuma lebam-lebam aja, Ra. Untungnya mereka mabuknya agak parah dan  ga bawa senjata tajam, jadinya akhirnya aku bisa melarikan diri dan sembunyi sampai mereka pergi,  Ra. Sekarang tolong temani aku pulang ya".
Ara mengangguk. "Iya, aku dan Lintang bakal temani kamu pulang setelah kita bawa kamu ke rumah sakit, Bin".
"Tapi Ra aku bisa kompres lebam-lebam aku sendiri...," jawab Bintang dengan ekspresi berusaha menahan sakit ketika matanya bertemu dengan mata Ara. Gadis itu terlihat mengkhawatirkannya sehingga Bintang pun memutuskan mengikuti ucapan gadis itu.
Bintang terlihat kesulitan untuk berdiri apalagi berjalan hingga Ara dan Lintang pun membantu memapah Bintang berjalan menuju taksi yang sebelumnya dipesan oleh Lintang. Ketiganya bergegas menuju ke rumah sakit terdekat yang searah dengan tempat tinggal Bintang. Lintang sengaja memilih duduk di sebelah sopir menyisakan Ara yang menemani Bintang di bangku belakang. Bintang terlihat duduk agak meringkuk kesakitan sambil memegangi perutnya.
"Sakit ya, Bin? Maaf aku lama datangnya," ujar Ara dengan nada sedikit khawatir.
"Gapapa, Ra. Terima kasih karena kamu mau datang. Maaf udah mengganggu istirahat kamu juga Lintang," sambung Bintang merasa tidak enak ke kedua gadis itu.
Baik Ara maupun Lintang menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kearah Bintang.
"Btw, kok kamu bisa sampai dikeroyok, Bin?" tanya Lintang.
"Aku lagi menghabiskan waktu duduk di taman melihati bintang-bintang yang lagi terang ketika pas mau pulang tiba-tiba aku lihat ada tiga orang mabuk malah mau menyiksa kucing. Aku berusaha nolongin kucing itu, eh malah jadinya dikeroyok he he". Bintang terlihat berusaha tertawa sambil meringis kesakitan.
"Sudah, jangan cerita lagi, Bintang... aku tahu kamu lagi kesakitan. Sebaiknya kamu coba pejamin mata kamu aja, biar sakitnya ga terlalu terasa," sambung Ara yang diiyakan oleh Lintang. Bintang tersenyum menganggukkan kepalanya pelan. Ia mengambil earphone dari saku jaketnya dan kemudian memejamkan matanya sambil memutar lagu di handphonenya. Sayup terdengar di telinga Ara yang duduk di sebelah Bintang, laki-laki itu sedang mendengarkan suara Ara dengan nyanyian bintang kecilnya. Ara pun tersenyum.
Dua puluh menit kemudian, mereka pun tiba di rumah sakit dan memeriksakan kondisi Bintang disana sebelum akhirnya pulang ke apartemen Bintang. Ara ingin memastikan bahwa kondisi laki-laki itu baik-baik saja, tidak ada luka dalam atau hal serius dialami laki-laki itu. Sepanjang perjalanan dari rumah sakit dan apartemen Bintang tak banyak percakapan diantara mereka, kecuali Bintang yang beberapa kali memberikan petunjuk arah kepada sopir taksi yang mereka naiki.
Waktu di arloji Ara menunjukkan lewat pukul satu malam ketika mereka tiba di depan apartemen Bintang. Seorang satpam terlihat buru-buru menghampiri Ara dan Lintang yang membantu memapah Bintang.
"Mas Bintang kenapa?" tanya satpam itu, menggantikan Ara dan Lintang untuk membantu Bintang berjalan. Bintang pun menjelaskan apa yang dialaminya sambil mereka berjalan menuju kamar Bintang yang berada di lantai 7 sekaligus mengenalkan Ara dan Lintang kepada satpam apartemen itu.
Lima belas kemudian, tinggallah Bintang, Ara, dan Lintang sedang duduk di ruang tamu apartemen Bintang selepas satpam berpamitan kepada ketiganya. Apartemen laki-laki itu cukup luas, ada ruang tamu, dapur sekaligus meja makan, kamar mandi, dan dua kamar serta balkon disana.
"Ini sudah dini hari, Ra. Sebaiknya kalian tinggal disini dulu, besok pagi biar aku antar kalian pulang. Kondisi aku insyaa Allah sudah enakan besok pagi," ucap Bintang membuat Ara dan Lintang saling berpandangan. Meski kalimat Bintang ada benarnya, ada ragu di hati Ara untuk bermalam di apartemen Bintang walau ia berdua dengan Lintang, terlebih Bintang laki-laki. Namun, Ara juga tidak tega meninggalkan Bintang dalam kondisi seperti itu, siapa tahu laki-laki itu perlu pertolongannya.
"Sebaiknya kamu sekarang istirahat di kamar kamu, Bin.... biar kondisi kamu segera membaik," ujar Ara tak memberi jawaban apa-apa untuk tawaran Bintang itu. Ara dan Lintang pun membantu memapah Bintang untuk berbaring di kamarnya.
"Aku sudah gapapa, kalian istirahat saja di kamar Rion, Ra. Dia masih lama balik lagi kesini".
"Kamu ga perlu khawatirkan aku dan Lintang, Bin. Kita bisa aja tidur di ruang tamu. Sekarang ijinin aku kompres lebam-lebam kamu ya," sambung Ara sambil tersenyum lebar.
Bintang pun memandangi Ara sejenak. Meski ia baru mengenal gadis itu, entah kenapa dia merasa nyaman bersamanya sekaligus memercayainya. Sebenarnya Bintang berniat mengompres sendiri luka memarnya. Namun mendengar tawaran Ara itu membuat Bintang pun mengangguk pelan. Ia memberi tahu Ara letak batu es dan juga kain untuk mengompres. Bintang juga memersilahkan Ara dan Lintang untuk tidak perlu sungkan di apartemennya termasuk kalau keduanya ingin menonton tv atau membuat minuman atau mengambil makanan yang ada disana. Beberapa menit kemudian, Ara pun sibuk mengompres luka lebam di tangan dan wajah Bintang sementara Bintang terlihat masih memegangi perutnya yang masih sakit.
"Perut kamu masih berasa sakit banget ya, Bin?" tanya Ara dijawab anggukan pelan Bintang. Ara pun mengambil sebotol kaca air es di lemari es Bintang kemudian menaruhnya persis diatas perut Bintang, membiarkan Bintang memegangi botol itu.
Lintang terlihat membawakan Bintang segelas coklat panas serta segelas air putih dan meletakkannya di meja sebelah tempat tidur Bintang.
"Makasih banyak buat semuanya," ucap Bintang tersenyum ke Ara dan Lintang dibalas senyuman yang lebih lebar dari keduanya. Ara pun membantu Bintang meminum coklat buatan Lintang kemudian melanjutkan mengompres lebam Bintang dengan es batu sementara Lintang terlihat duduk menemani Ara.
"Jadi kamu bermimpi aku dikeroyok, Ra?"  tanya Bintang. Ara menatap Bintang yang sedang menatapnya kemudian ia mengangguk pelan.
"Ara sampai teriak minta tolong didalam tidurnya, Bin, " jelas Lintang.
Bintang lagi-lagi menatap Ara, membuat gadis itu tiba-tiba salah tingkah dan memilih menatap ke luka-luka memar laki-laki itu sembari mengompresnya.
"Maaf sudah membuat kamu ikut khawatir, Ra. Maaf karena kamu jadi melihat sisi lemah aku yang tidak menyenangkan untuk dilihat," sambung Bintang. Ara tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Sebaiknya sekarang kamu tidur, Bintang". Pandangan Ara pun bertemu dengan mata sayu laki-laki yang mengangguk kepadanya itu.
"Kamu dan Lintang juga sebaiknya tidur, Ra. Kalau perlu selimut, ambil saja di lemari atau pake selimut di kamar Rion juga bebas saja".
Ara mengangguk. "Iya, aku dan Lintang akan tidur setelah kamu tidur, Bin," jawab Ara dibalas senyuman Bintang. Laki-laki itu pun mulai memejamkan matanya ketika Ara tiba-tiba teringat sesuatu.
"Bin, hampir lupa kamu belum minum obat penurun demamnya. Minum dulu ya, " ujar Ara pelan. Suhu badan Bintang memang naik setelah tubuhnya dipukuli, lumayan panas saat Ara mengompres luka lebamnya.
Mata Bintang kembali terbuka, lagi-lagi ia tersenyum ke Ara. "Aku baik-baik saja, Ra. Besok pagi juga demamnya bakal turun sendiri".
Bintang kembali terpejam, Ara pun menyelimuti tubuh Bintang sebelum kemudian ia dan Lintang keluar dari kamar Bintang. Lintang langsung berbaring di sofa ruang tamu Bintang yang berbentuk huruf L itu sementara Ara masih terduduk disisi satunya, memandangi tiap sudut apartemen laki-laki itu. Dimata Ara, kehidupan Bintang cukup mapan, tapi entah kenapa kemapanan dan semua kelebihan laki-laki itu tak bisa “membeli” kebahagiaan di hati Bintang. Ara hendak ke dapur, ingin membuat minuman hangat dan ingin menawari Lintang ketika ia lihat sahabatnya itu sudah terlelap.
“Kamu pasti kecapekan ya, Tang. Maaf jadi ngerepotin kamu, padahal nanti sore kamu harus kerja lagi” ujar Ara lirih merasa bersalah ke sahabatnya itu.
Ara hendak mengambilkan selimut untuk Lintang di lemari Bintang ketika ia lihat laki-laki itu menggigil dalam tidurnya. Ragu, Ara mendekati Bintang dan menempelkan punggung telapak tangannya ke kening Bintang, suhu badan Bintang lebih panas dari sebelumnya. Ara pun segera mengambil air dan mencuci handuk kecil untuk kembali mengompres Bintang setelah sebelumnya tak lupa ia menyelimuti Lintang.
Ara kembali duduk di sebelah Bintang dan mengompres kening laki-laki yang menggigil itu, ketika Bintang tiba-tiba membuka matanya dan menatap Ara.
“Kamu belum tidur, Ra?” tanyanya sambil tersenyum lirih.
Ara balas  tersenyum lebih lebar, “Kamu menggigil, Bintang..., badan kamu panas banget jadi aku kompres kening kamu. Kamu minum dulu obat penurun demamnya, ya”. Bintang menganggukkan kepalanya pelan. Setelah Ara membantu Bintang meminum obatnya, laki-laki itu kembali tertidur.
Waktu menunjukkan hampir jam tiga pagi dan Ara masih duduk di sebelah Bintang, beberapa kali mengganti kompres di kening Bintang yang masih panas itu ketika ia mendengar Bintang mengigau dalam demamnya. “Nek... Bintang kangen sama Nenek... jangan tinggalin Bintang, Nek... maafin Bintang, Nek...”.
Ara berusaha menenangkan Bintang yang terpejam itu. “Aku tahu kamu kangen sama Nenek kamu, Bin, tapi kamu harus mengikhlaskan kepergian beliau dan berhenti menyalahkan diri kamu, Bin. Meski Nenek kamu sudah tiada, beliau dan kasih sayang beliau akan selalu hidup di hati kamu”.
Bintang masih tetap mengigau memanggil neneknya, membuat Ara teringat sesuatu. Ara mengambil handphone berikut earphone Bintang yang tergeletak di atas meja di dekat tempat tidur Bintang ketika ia melihat foto hitam putih di sebuah figura, anak kecil dan juga seorang perempuan tua sedang tersenyum. “Ini pasti Bintang dan neneknya,” ujar Ara tersenyum lembut menyentuh gambar di figura itu ketika ia kembali mendengar Bintang lirih memanggil-manggil neneknya.
Ara membuka handphone Bintang dan mencari daftar putar musik Bintang ketika ia melihat sebuah judul lagu, “Bintang Kecil-Ara”, dan memutarnya pelan. Ara tersenyum mendengarkan suaranya sendiri yang direkam oleh Bintang itu. Ara pun mengatur daftar musik di handphone Bintang agar lagu itu bisa diputar berulang-ulang kemudian perlahan-lahan memasangkan earphone ke kedua telinga Bintang dan memutarkan lagu itu untuk Bintang. Ara tidak ingin membuat Bintang terbangun dan ia pun berharap lagu itu bisa membuat Bintang lebih tenang.  Sesuai dugaan, Bintang tak lagi terdengar memanggil neneknya setelah lagu itu diputarkan Ara. Ara tersenyum lega melihatnya.
Waktu menunjukkan pukul 04.49 ketika Bintang membuka matanya, bangun dari tidurnya, ketika lagu Bintang Kecil masih mengalun di telinganya dan ia melihat Ara sedang tertidur duduk di sebelah tempat tidurnya.
“Kamu yang memutarkan lagu ini di telinga aku ya, Ra?” batin Bintang sambil tersenyum kearah Ara dan mematikan pemutar musiknya lalu meletakkan kembali handphonenya di meja. Handuk kompresan itu masih menempel di keningnya meski demamnya sudah lumayan turun. Bintang hendak menyelimuti Ara dengan selimutnya ketika gadis itu tiba-tiba terbangun.
“Kamu bangun, Bintang? Maaf aku ketiduran,” ucap Ara sambil melirik ke arlojinya dan mengucek-ucek matanya.
Bintang tersenyum ke Ara, “Gapapa, Ra. Aku yang seharusnya minta maaf karena sudah membuat kamu ngejagain aku semalaman. Maaf merepotkan kamu, Ra”.
Ara balas tersenyum lebar sambil menggelengkan kepalanya. “Gimana demam kamu, Bin? Terakhir aku terjaga, seingatku kamu udah nggak menggigil lagi. Apa luka memar kamu masih terasa sakit?”.
“Aku udah ngerasa enakan kok, Ra”.
Ara menempelkan punggung telapak tangan Ara ke kening Bintang, suhu badan laki-laki itu masih hangat tapi tidak lagi panas seperti sebelumnya.
“Oh iya, Lintang tidur dimana jadinya, Ra?”
“Lintang tidur di sofa ruang tamu, Bin”.
Bintang menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Ara hendak membereskan baskom berisi air kompresan dan handuk kecil ke dapur ketika ia melihat lagi foto hitam putih Bintang dan neneknya itu, Ara pun memegangi foto itu.
“Ini foto kamu dan nenek kamu ya, Bin?” tanya Ara tersenyum lembut kepada Bintang.
Bintang menatap foto yang dipegang Ara itu kemudian tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
“Kamu lucu banget disini, Bin. Nenek kamu juga terlihat cantik dan sangat penyayang banget kelihatannya ya,” sambung Ara menoleh kearah Bintang.
Bintang menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, membalas senyum Ara kepadanya. Bintang mengambil figura yang dipegang Ara tersebut kemudian menatap foto itu agak lama dalam diam, membuat Ara yang memandangi laki-laki itu ikut merasakan kerinduan Bintang saat itu.  
“Dua minggu lagi, aku rencananya mau mengunjungi Nenek aku di daerah Puncak. Apa kamu mau ikut, Bintang?” tanya Ara akhirnya menawari Bintang meski ada ragu di hatinya mengajak laki-laki asing menemui neneknya. Ara hanya berpikir siapa tahu Nenek Ara yang ceria ke siapa saja itu bisa mengobati rasa kangen Bintang ke neneknya. Ara ingin Bintang bisa melepaskan perasaan Bintang tentang neneknya yang selama ini masih tetap tertahan di hati Bintang.
Bintang balas menatap kearah Ara yang tersenyum kepadanya.
“Nenek aku itu orangnya rame dan cepat akrab ke siapa aja, siapa tahu bisa mengobati rasa kangen kamu,” sambung Ara menjelaskan niatannya itu.
Terlihat Bintang sedang berpikir sejenak akan tawaran Ara itu ketika kemudian ia menganggukkan kepalanya pelan.
“Kalau kamu ga keberatan aku ikut, aku mau, Ra...,” jawab Bintang tersenyum lebih lebar. Ara pun menganggukkan kepalanya, ikut tersenyum lebih lebar.
“Gimana kalau kita ke tempat Nenek kamu naik mobil aku, Ra?” usul Bintang kemudian.
Ara tersenyum sambil menatap sejenak laki-laki itu kemudian menggelengkan kepalanya.
“Aku tetap naik bis aja kesana, Bin. Kalau kamu mau naik mobil kamu, terserah saja, nanti biar aku berikan rute dan alamatnya ke kamu,” jawab Ara. Meski Ara ingin membantu Bintang untuk melepaskan perasaannya dengan menemui Nenek Ara, tapi Ara dan Bintang tetap sepasang laki-laki dan perempuan. Ara merasa risih kalau  dia pergi berduaan dengan laki-laki itu naik mobil Bintang ke rumah Neneknya, meski tujuan mereka sama.
 Bintang menatap Ara sejenak kemudian tersenyum seolah memahami rasa risih gadis itu atas usulannya, “Kalau gitu, aku naik bis bareng kamu aja, Ra”. Keduanya pun saling berbalas senyum lebih lebar satu sama lain.
“Oh iya, Bin... aku mau numpang sholat, arah kiblatnya kemana ya?” tanya Ara melirik arlojinya yang sudah menunjukkan pukul 05.05.
Bintang pun mengambilkan sajadah miliknya dan memberikannya ke Ara sambil menunjukkan arah kiblat ke gadis itu.
“Atau kamu mau duluan sholatnya, Bin?” tanya Ara.
“Kamu duluan aja, Ra. Aku mau mandi dulu soalnya, biar agak segeran he he. Udah kamu wudlu dan sholat aja, Ra. Biar aku yang membawa baskom kompresan ini ke dapur ya”.
Ara baru menyelesaikan wudlunya dan Bintang baru keluar dari kamarnya hendak mandi ketika keduanya berpapasan.
“Kamu nggak bangunin Lintang, Ra?” tanya Bintang.
“Biarin aja Lintang tidur lebih lama, Bin.  Dia pasti kecapekan. Lagipula dia sedang nggak sholat juga,” jawab Ara melirihkan suaranya diikuti anggukan Bintang.
“Aku sudah mengganggu istirahat kamu dan Lintang, ya Ra... Maaf ya,” sambung Bintang merasa bersalah.
“Berhenti menyalahkan diri kamu, Bintang. Kamu ga pernah memaksa aku melakukan ini semua, aku melakukannya dengan sukarela. Dan Lintang, aku tahu dia melakukannya dengan sukarela karena dia sahabat yang baik,” jawab Ara tersenyum kearah Bintang kemudian memandangi Lintang yang masih lelap dalam tidurnya.      
Beberapa menit kemudian, Bintang baru selesai mandi dan berwudlu ketika ia melihat Ara yang masih mengenakan mukenanya sedang duduk di sebelah Lintang dan asyik mengaji dengan suara lirih menggunakan aplikasi Alquran di handphonenya. Bintang hanya tersenyum melihatnya kemudian segera masuk ke kamarnya untuk segera sholat.
Lima belas menit kemudian, Bintang terlihat sedang mengintip dari kamarnya, melihat Ara yang sedang membetulkan selimut Lintang dan memasukkan kembali mukenanya ke dalam tasnya. Sudah lima menit laki-laki itu berdiri dan mengintip disana, mengamati Ara. Bintang kadang merasa heran kenapa gadis itu sangat baik kepadanya dan entah kenapa dirinya pun semakin merasa nyaman menerima kebaikan gadis itu. Padahal mereka baru saja saling mengenal.
“Kamu dan Lintang mau sarapan apa, Ra?” tanya Bintang memelankan suaranya agar Lintang tidak terbangun.
“Terserah aja, Bin. Kita olah yang ada di dapur kamu saja,” jawab Ara pelan sambil tersenyum lebar dibalas anggukan Bintang dengan senyuman yang tak kalah lebar. Bintang dan Ara pun bergegas menuju dapur. Ada beberapa butir telur di lemari es Bintang dan sebungkus roti tawar di meja makan beserta mentega dan selai coklat.
“Kita bikin roti bakar sama telur orak-arik aja, ya Ra,” tawar Bintang dibalas anggukan kepala Ara yang terlihat ceria pagi itu.
“Udah, kamu duduk aja, Bin menunggu sarapannya jadi, kan kondisi kamu baru pulih. Lagipula menunya kan sederhana, aku bisa aja kok,” sambung Ara tertawa kecil.
Bintang pun menuruti perkataan Ara, ia duduk menghadap meja makan minimalis di dapurnya itu sambil memerhatikan gerak-gerik Ara. Ara terlihat sedang menyiapkan tiga gelas untuk membuat minuman buat dirinya, Bintang, dan Lintang
“Kamu mau minum apa?” tanya Ara.
“Kopi susu, Ra...,” jawab Bintang sambil mengeluarkan susu cair dari lemari es dan menaruhnya di sebelah Ara sambil memberikan mug yang biasanya ia gunakan ke Ara.
“Kopinya satu sendok takar, gulanya dua sendok, dan susu cairnya seperempat mug,” sambung Bintang tertawa kecil diikuti tawa Ara. Ara pun meracik minuman pesanan laki-laki itu sambil menyeduh teh untuk dirinya dan Lintang, sementara Bintang kembali duduk ke tempatnya.
“Tadi aku lihat kamu sedang mengaji, Ra. Sedang mengaji harian ya, Ra?” tanya Bintang menatap Ara yang berdiri membelakanginya.
Ara tersenyum tanpa menoleh, “Nggak... tadi aku membaca satu surat aja, Bin. Aku berdoa semoga makin banyak kebaikan dan kebahagiaan buat kamu di tempat ini, layaknya apartemen kamu yang indah ini”.
Ara menaruh minuman Bintang di hadapan Bintang yang mengucapkan terima kasih kepadanya, menyadari laki-laki itu sedang menatap kearahnya.
Ara tersenyum lebar kepadanya, “Dengan semua hal yang kamu miliki, seharusnya kamu bisa lebih bahagia, Bintang”.
Bintang balas tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Sayangnya tidak semua bisa dibeli dengan uang dan kemapanan, Ra”.
Ara mengambil tehnya dan Lintang, menaruhnya di meja makan kemudian duduk tak jauh dari Bintang. “Kamu benar, kadang saat kita meraih kemapanan, kita menukar kebahagiaan-kebahagiaan kecil dengannya. Tapi aku yakin kita bisa meraih lagi kebahagiaan-kebahagiaan kecil itu jika kita mau, Bin,” sambung Ara sambil tersenyum riang kepada Bintang. Gadis itu kembali melanjutkan aktivitasnya membuat telur orak-arik, sementara laki-laki bernama Bintang itu masih tetap mengamatinya sambil menyeruput kopi susunya.
Ara menaruh tiga piring berisi telur orak–arik itu ke meja makan kemudian kembali duduk di dekat Bintang, hendak menyiapkan membuat roti bakar.
“Kalau kamu pastinya roti rasa selai coklat, ya Bin?” tanya Ara dengan semangat, ia teringat Bintang pernah bercerita kepadanya tentang kesukaannya akan coklat.
Bintang mengangguk sambil tersenyum lebar.
“Oh iya Ra, bicara tentang roti,  kotak makan kamu masih di aku, tapi aku taruh di kantor,” ujar Bintang sambil meringis.
Ara tertawa kecil, “Gapapa, Bintang. Kamu bisa mengembalikannya lain kali”.
“Kalau kamu sama Lintang mau roti isi coklat juga, Ra?” ujar Bintang balik bertanya.
“Kami roti sama mentega aja,” jawab Ara balas tersenyum.
Ara terlihat mengolesi roti dengan selai coklat buat Bintang, sementara Bintang ikut mengolesi roti dengan mentega buat Ara dan Lintang.
“Terima kasih buat semua kebaikan kamu, Ra. Jujur aku suka bertanya, kenapa kamu baik banget ke aku, Ra...,” ujar Bintang menatap kearah Ara.
Ara tersenyum, menatap sejenak mata laki-laki itu kemudian memilih menatap roti-roti di hadapannya itu karena hatinya tiba-tiba merasa deg-deg-an kala itu, entah kenapa.
“Aku sendiri ga tau kenapa aku peduli ke kamu seperti ini, Bintang. Aku... aku cuma mengikuti kata hati aku aja. Aku berharap bisa membantu kamu lebih bahagia dan lebih banyak tersenyum, Bintang.  Aku berharap semoga apa yang aku lakukan tidak berlebihan ya,” sambung Ara sambil mengolesi mentega disisi luar dua roti yang sudah diberikan coklat dan mentega di tengahnya itu. Bintang masih tetap menatap perempuan itu. Dirinya sendiri pun bingung dengan semua yang terjadi diantara keduanya, dua orang asing yang perlahan-lahan mendekat dengan kejadian-kejadian yang tak pernah dibayangkan Bintang sebelumnya. Anehnya, Bintang memercayai ketulusan gadis itu, meski belum banyak yang ia tahu tentangnya.
 “Aku percaya kalau kamu itu orang baik, Ra. Tuhan mempertemukan aku dengan kamu mungkin karena kamu bisa menyeimbangkan aku, membantu aku menjadi manusia yang lebih banyak tersenyum, lebih banyak bersyukur dan lebih baik lagi,” sambung Bintang membuat Ara tertegun dan menoleh kearah laki-laki itu.
“Emmm...,emmm maksud aku sebagai teman, Ra,” jelas Bintang sambil tersenyum lebih lebar membuat Ara pun balas tersenyum canggung dan menganggukkan kepalanya pelan.
Ara pun berdiri, memasukkan roti ke alat pemanggang roti milik Bintang.
“Oh iya, apa kabarnya kamu dan mantan cewek kamu Bin? Apa hubungan pertemanan kalian sudah kembali baik?” tanya Ara berusaha mencairkan suasana diantara dirinya dan Bintang.
“Aku belum pernah bertemu dan berkomunikasi lagi dengan Zetta setelah kejadian di mall waktu itu, Ra... . Kamu sendiri, apa kamu pernah punya seseorang laki-laki yang istimewa di hati kamu, Ra?”
Ara tersenyum sambil menyusun roti yang matang itu di piring.
“Dulu aku pernah menyukai seseorang, teman kecil aku waktu SD. Kami bersahabat, sampai kemudian aku menyadari ada perasaan yang lain ke dia waktu aku dan dia duduk di kelas 3 SMP dan kami beda sekolah. Dia itu orang yang selalu ingin membuat aku tertawa dan tersenyum apapun situasinya. Tujuh tahun kami bersahabat, tiga tahun aku menyadari perasaan suka aku ke dia, sampai kemudian dia pergi selamanya, tanpa mengijinkan aku tahu tentang penyakitnya kecuali saat terakhir dia mau pergi”. Gadis itu menghentikan ceritanya, terdengar ia menarik nafasnya dalam-dalam seolah ingin menata perasaannya yang seolah kembali kepada kenangannya tentang cinta pertamanya. Sementara itu, Bintang terlihat memandangi punggung gadis itu.
Ara meletakkan piring yang berisi roti bakar itu ke piring masing-masing. Bintang terlihat mengamati gadis itu. “Maaf, aku tidak bermaksud membuat kamu jadi sedih, Ra,” ujar Bintang pelan.
Ara tersenyum lebar dan menggelengkan kepalanya pelan. “Aku sudah mengikhlaskan kepergian dia, Bin. Buat aku, dia akan selalu hidup di hati dan kenangan aku, salah satu laki-laki baik yang pernah Tuhan hadirkan dalam kehidupan aku. Kita harus hidup untuk masa sekarang dan masa depan, Bintang. Mendoakannya adalah hal terbaik yang bisa aku lakukan buat dia, tapi aku juga yakin Tuhan menyiapkan seseorang laki-laki baik sebagai teman hidup aku di waktu yang tepat”.
Bintang tersenyum tak kalah lebar, senyuman perempuan ini membuat Bintang menyadari bahwa kebahagiaan itu sederhana, termasuk saat kita bisa mengikhlaskan kesedihan dan lebih banyak berprasangka baik kepada Tuhan.
“Sarapan sudah siap, aku bangunin Lintang dulu ya,”ujar Ara diikuti anggukan Bintang.
Sepuluh menit kemudian, ketiganya pun sedang asyik mengobrol santai sambil menikmati sarapan di meja makan.
“Sekali lagi maaf ya Lintang untuk kejadian di kafe dulu waktu mantan pacar aku tiba-tiba ngelabrak kamu,” ujar Bintang kembali meminta maaf. Bintang merasa perlu mengulanginya lagi karena permintaan maafnya masih terasa belum tuntas buat Lintang.
Lintang tersenyum sambil menyantap roti bakarnya. “Aku sudah memaafkannya, Bin. Aku cuma ga ingin kamu menyakiti Ara, itu aja,” ujar Lintang sambil menatap serius ke laki-laki itu kemudian tersenyum kearah Ara yang balas tersenyum kepada Lintang.
Bintang menganggukkan kepalanya pelan, seolah berjanji dia akan berusaha untuk tidak menyakiti sahabat Lintang itu.
“Habis sarapan, biar aku antar kalian pulang ya. Terima kasih dan maaf sekali lagi karena udah merepotkan dan mengganggu waktu istirahat kalian berdua,” ujar Bintang tersenyum kepada Ara dan Lintang.
“Berapa kali harus aku katakan Bintang, ga ada yang perlu dimaafkan. Lagipula namanya juga musibah, ga ada yang tahu kapan terjadinya, Bin,” jawab Ara yang langsung diiyakan oleh Lintang.
“Tapi lain kali, kalau kamu mau bertindak meskipun itu niatnya baik, kamu juga harus memperhitungkan kemampuan kamu, jangan membahayakan diri sendiri. Lain kali lebih hati-hati ya,” lanjut Ara sambil tersenyum lebih lebar dibalas anggukan kepala dari Bintang.
Setelah Ara dan Lintang mencuci piring dan gelas serta perkakas kotor di dapur Bintang dan Bintang membersihkan meja makan, Bintang pun mengantarkan keduanya pulang ke tempat kos masing-masing.
Tak banyak perbincangan diantara ketiganya kecuali membahas tentang musik yang sedang diputar di mobil Bintang. Bintang mengantarkan Lintang terlebih dahulu baru kemudian mengantarkan Ara.
Sepanjang perjalanan menuju tempat kos Ara, keduanya pun kembali membahas rencana mereka pergi ke rumah Nenek Ara.
“Beneran gapapa, Ra kalau aku ikut ke rumah Nenek kamu? Jangan-jangan aku malah mengganggu liburan kamu,” tanya Bintang.
Ara tersenyum lebar sambil menggelengkan kepalanya, “Gapapa, Bintang. Nanti di tempat Nenek aku, kita bisa bakar jagung dan ubi malam-malamnya, Bin he he. Kita berangkatnya Sabtu pagi dan pulang Minggu siang dari sana”.
Bintang tersenyum lebar sambil menganggukkan kepalanya melihat keriangan dan semangat gadis yang duduk disebelahnya itu.
“Kira-kira aku perlu bawain apa buat Nenek kamu, Ra?” tanya Bintang bersemangat membuat Ara langsung menoleh kearah laki-laki yang sedang fokus menyetir itu dan Ara pun tertawa kecil.
“Ga usah bawain apa-apa, Bin. Biar aku aja yang beliin kue bolu buat Nenek. Kamu bawa diri aja, he he”.
“Masak aku ga bawa apa-apa, Ra? Kan aku udah ngegangguin kebersamaan kamu sama Nenek kamu, Ra,” ujar Bintang lagi.
Ara lagi-lagi tersenyum, “Beneran Bintang... kamu ga perlu bawa apa-apa buat Nenek aku. Kalo kamu bawa sesuatu, yang ada ntar Nenek aku mengira kamu ada udang di balik rempeyek sama cucunya ini”. Ucapan Ara itu pun membuat keduanya pecah dalam tawa seketika, terlihat Bintang mengangguk-anggukan kepalanya sementara Ara tertawa melihati laki-laki itu. Ara suka melihat Bintang lebih banyak tertawa seperti itu.
Tak lama kemudian mereka pun akhirnya tiba di depan tempas kos Ara. Ara hendak membuka pintu mobil Bintang ketika Bintang memanggilnya. Ia pun menoleh kearah Bintang yang terlihat tersenyum dan menatapnya.
“Semalam... kamu memasangkan earphone dan memutarkan lagu Bintang Kecil di telinga aku, ya?” tanya Bintang membuat Ara terdiam sejenak kemudian menganggukkan kepalanya pelan.
 “Dini hari tadi kamu demam menggigil dan mengigau memanggil-manggil Nenek kamu, Bin. Itu sebabnya aku putarkan lagu itu di telinga kamu. Maaf kalau aku lancang,” jawab Ara pelan menundukkan kepalanya, tiba-tiba ia merasa tidak enak hati ke Bintang. Sejenak hening menyapa diantara keduanya.
“Terima kasih banyak, Ra. Terima kasih karena kamu sudah menjadi teman yang baik, yang memahami aku di saat-saat lemah aku,” ucap Bintang membuat gadis itu menatap kembali Bintang dan tersenyum kepadanya.
“Aku berharap lain kali aku bisa melakukan hal yang sama buat kamu, Ra. Aku berharap bisa menjadi teman yang baik di saat-saat lemah atau sedih kamu,” sambung laki-laki itu sambil tersenyum tak kalah lebar ke Ara, membuat Ara menganggukkan pelan kepalanya sambil tetap tersenyum. Entah kenapa hati Ara terasa berdetak lebih cepat seketika itu, Ara berusaha cepat-cepat menetralkannya dan bergegas membuka pintu mobil Bintang.
“Sampai bertemu lagi, Bin,” ujar Ara tersenyum sambil keluar dari mobil Bintang dibalas anggukan kepala dan senyuman lebar Bintang. Setelah saling berbalas salam, Bintang pun perlahan melajukan mobilnya, bergerak menjauh dari Ara yang masih berdiri di tempatnya turun tadi dan masih melihati kearahnya. “Sampai bertemu lagi dan lagi, Ara...,” ucap Bintang lirih sambil tersenyum melihati Ara dari kaca spionnya.

-Bersambung-