Senin, 05 September 2016

YOU ARE THE ONE : "Maukah Kamu Menikah Denganku?" - Part 4


PART 4 : TENTANG KAMU ADALAH BAGIAN TENTANG AKU

Tiga hari berlalu sejak Nisa membuat rangkuman materi kuliah untuk Riza. Tiap satu catatan materi selesai, Nisa segera menitipkan catatan-catatan buat Riza itu lewat Ana. Riza pun masih setia dengan kalimat luar biasanya buat Nisa, ‘Maukah Kamu Menikah Denganku?’, membuat Nisa makin tersentuh dengan kegigihan laki-laki itu. Di satu sisi, apa yang dilakukan laki-laki itu membuat Nisa makin tidak ingin membebani sekaligus tidak ingin membuat Riza sedih karenanya. Itu sebabnya, tiap kali Riza mengirimkan kalimat istimewa itu, Nisa hanya membalas dengan kalimat  yang bermakna sama.
“Terima kasih untuk kegigihan kamu Riz, aku benar-benar tersentuh. Maaf, jawaban aku masih sama seperti sebelumnya. Apapun itu, kamu harus tetap semangat menyelesaikan tanggung jawab kuliah kamu dengan baik ya. Tetap semangat kuliah sambil kerja, Riza. You are the strong one :)”.
Mengetahui Nisa yang membuatkan rangkuman-rangkuman materi kuliah untuknya, membuat Riza semakin mantab untuk memperjuangkan perasaannya kepada Nisa. Riza semakin yakin bahwa sebenarnya Nisa punya perasaan yang sama kepada Riza. Riza hanya perlu kesabaran dan kegigihan untuk mengubah penolakan demi penolakan gadis itu terhadap lamarannya agar berubah menjadi jawaban ‘iya’, Riza hanya perlu waktu.
Catatan-catatan kecil Nisa untuknya itu pun hampir selalu dibawa Riza kemana-mana, menjadi salah satu semangat Riza untuk bisa menjalani kedua tanggung jawabnya, kuliah dan kerja, dengan baik.
Minggu itu adalah minggu ujian baik bagi Riza maupun Nisa. Keduanya sama-sama disibukkan dengan belajar untuk ujian. Meski demikian, tiap hari Riza tetap setia dengan kalimat ajaibnya buat Nisa ‘Maukah Kamu Menikah Denganku?’ ditambahi dengan beberapa tambahan kalimat semangat. Rabu di minggu itu, Nisa baru saja tiba di tempat kosnya ketika ia berpapasan dengan Ana yang terlihat bersiap-siap berangkat ke kampus.
“Ujian siang, Na?” tanya Nisa tersenyum kepada Ana, dibalas dengan anggukan dan senyuman penuh semangat dari Ana.
“Oh iya, kamu pernah bertemu Riza lagi ga Nis?” tanya Ana sambil menalikan sepatunya.
“Enggak, emangnya ada apa dengan Riza, Na?” ucap Nisa balas bertanya.
 “Tuh anak kelihatan capek banget dan ngantuk di ruang ujian, bahkan kemarin dia nyaris ga bisa ujian karena telat masuk. Untung masih ditoleransi sama dosen yang ngejaga. Dia masih kerja sore sampai pagi ya?” sambung Ana sambil menatap Nisa yang juga sedang menatap kearahnya.
Nisa menganggukkan kepalanya pelan. “Tapi... dia selalu masuk dan ga pernah absen kan, Na?”
“Setahu aku sih, dia selalu masuk meski dengan kondisi yang seringkali terlihat lelah itu. Cuma kadang Riza suka jadi bahan perbincangan temen-temen cewek di kelas, pada bingung kenapa Riza jadi berubah drastis gitu”.
Nisa hanya tersenyum, ia paham tidak mudah pastinya bagi Riza mengubah siklus kesehariannya setelah memutuskan bekerja.
“Kalian hari ini ujian jam berapa, Na?”
“Jam dua sampai jam empat sore, Nis. Kamu mau nemuin Riza ya?” tanya Ana tersenyum setengah menggoda Nisa.
Nisa pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
“Tempat ujian aku sama Riza di kelas yang dulu kamu nunggu Riza, Nis. Ya udah aku berangkat dulu, ya Nis”.
“Semangat Ana, good luck yaaa”.
Nisa bergegas membuka pintu kamarnya dan segera menyantap makan siang yang dibelinya dan sholat kemudian bergegas berangkat ke kampus lagi. Arloji di tangannya menunjukkan pukul 13.30 saat itu. 
15 menit kemudian, Nisa sudah duduk manis di bangku yang berada tak jauh dari kelas tempat Riza ujian, bak seorang detektif yang sedang melakukan pengamatan. Terlihat beberapa teman sekelas Riza ramai memasuki ruang ujian, tapi sejak Nisa datang ia tak juga melihat sosok Riza diantara orang-orang yang masuk ruangan itu. Nisa melirik kearah arlojinya, pukul 13.52, delapan menit lagi sebelum ujian Riza dimulai hari itu. “Semoga saja Riza sudah ada di dalam,” batin Nisa ketika terlihat seseorang berlari terburu-buru lewat di depannya kemudian bergegas masuk ke kelas tersebut dan ternyata itu Riza. Penampilan laki-laki itu sekilas terlihat agak awut-awutan. “Pasti ga mudah menjalani dua tanggung jawab dengan baik, ya Riz. Semangat Riza, good luck!” ucap Nisa lirih sambil tersenyum seolah ia sedang bicara dihadapan Riza.
Tiga puluh menit kemudian, Nisa terlihat berjalan mengintip lewat kaca di pintu kelas tempat Riza ujian, ingin melihat sekilas keberadaan laki-laki istimewanya itu ketika pandangannya tertuju di bangku pojok depan yang berseberangan dengan pintu masuk. Riza terlihat serius mengerjakan ujiannya, beberapa kali terlihat Riza menutup mulutnya karena menguap sambil terus menuliskan jawabannya di lembar ujian.
“Pasti kamu kurang tidur, ya Riz,” batin Nisa kemudian kembali duduk di bangku tunggu. Nisa pun membuka-buka catatannya. Esok hari, ada dua ujian yang harus dijalani Nisa, ujian teori dan praktik. Ujian praktiknya tentang sketsa sudah dicicil Nisa sebagian, oleh karenanya Nisa memanfaatkan waktunya untuk belajar buat ujian teorinya. Waktu di arloji Nisa menunjukkan pukul 15.00, Nisa bergegas melangkah ke kantin fakultas ekonomi dan membeli dua gelas kopi buat dirinya dan Riza. Beberapa saat kemudian Nisa kembali duduk di bangku semula sambil menunggu Riza keluar dari ruang ujian. Nisa mengambil HP di tas ranselnya kemudian menuliskan sebuah pesan via whattsapp buat Riza berharap Riza akan membacanya.
“Selesai ujian, tolong temuin aku sebentar di bangku tunggu di dekat ruang ujian kamu ya, Riz. Ada yang mau aku omongin:)”.
45 menit kemudian, terlihat beberapa orang keluar dari ruang ujian Riza, Nisa terlihat mengamati satu per satu wajah-wajah itu, tidak ingin pandangannya sampai melewatkan Riza. Semakin mendekati jam empat sore, makin banyak mahasiswa/i yang keluar dari ruangan ujian, termasuk juga Ana.
“Kok Riza belum keluar juga ya? Semoga kamu sukses menyelesaikan ujian kamu hari ini, Riz,” batin Nisa.
Lima menit kemudian, terlihat laki-laki yang ditunggunya itu keluar dari ruang ujian dan bergegas berjalan menuju parkiran, Nisa pun bergegas menghampiri Riza.
“Gimana ujiannya, Riz...?” tanya Nisa membuat Riza langsung mendongakkan pandangannya menatap gadis yang sedang membawa 2 gelas kopi di depannya.
“Nisa... kok kamu ada disini?”
Nisa tersenyum lebar. “Aku sengaja nungguin kamu keluar dari ruang ujian, ini aku bawain kopi buat kamu,” lanjut Nisa sambil menyodorkan segelas kopi ke Riza.
Laki-laki itu balas tersenyum lebar dan mengucapkan terima kasih kemudian langsung meminum beberapa teguk kopi di tangannya.
“Kamu tahu aja kalau aku lagi ngantuk banget, Nis,” ujar Riza sambil mengucek-ngucek matanya.
“Ya taulah, orang aku mondar-mandir beberapa kali di depan kelas kamu dan ngelihatin kamu beberapa kali nguap di pojok depan, Riz,” jawab Nisa dengan tawa kecilnya membuat Riza menoleh setengah tertegun kearahnya.
“Jangan bilang kalau kamu sengaja mengawasi aku selama ujian tadi, Nis?” tanya Riza tersenyum dengan pandangan penasaran ke Nisa. Nisa menganggukkan kepalanya sambil meringis.
“Iya, he he. Tadi kebetulan aku berpapasan dengan Ana di kosan, dia cerita kalau kamu terlihat capek banget dan kemarin bahkan terlambat masuk ruang ujian. Aku jadi penasaran pingin tahu langsung kondisi kamu, Riz. Makanya aku tungguin kamu selama ujian”.
Riza balas meringis meski tetap dengan mata sayunya itu, “Iya nich, ternyata ga mudah mengatur waktu antara kuliah dan kerja sekaligus, Nis. Aku masih suka keteteran sampai sekarang apalagi dengan tugas bertumpuk-tumpuk gitu”.
Nisa menatap Riza sejenak, keduanya saling tersenyum.
“Aku yakin kamu pasti bisa melakukan keduanya dengan baik, Riza. Kamu cuma perlu waktu buat menyesuaikan ritme kehidupan kamu saja,” lanjut Nisa penuh semangat sambil melebarkan senyumannya, membuat laki-laki itu pun tertawa dan menganggukkan kepalanya.
“By the way, makasih ya sekali lagi untuk rangkuman materi yang kamu buat untuk aku, Nis”.
“Emangnya berguna, Riz?”
Riza menganggukkan kepalanya sambil kembali meneguk kopinya. Dia membuka tas ranselnya dan memperlihatkan lembaran-lembaran kertas A4 yang sudah dilipat kecil-kecil berisi tulisan tangan Nisa. “Sangat amat membantu aku yang belajarnya agak kacau akhir-akhir ini, Nis. Kamu benar-benar calon temen hidup aku yang baik hati dan setia, Nisa. Nikah yuk, Nis,” ujar Riza terdengar mantap menatap Nisa dengan tersenyum. Nisa tertegun mendengar kalimat terakhir Riza itu, sejenak hening menyapa diantara keduanya. Nisa pun menundukkan pandangannya sambil menggelengkan kepalanya pelan.
“Maaf, Riza. Kamu sudah tahu jawabannya. Kamu layak mendapatkan perempuan yang lebih baik, Riz. Kita lebih baik berteman baik saja ya,” jawab Nisa kembali menatap sejenak Riza sambil berusaha tersenyum riang kemudian mengalihkan pandangannya kearah lain.
Riza tak bergeming, tetap tersenyum menatap gadis di depannya itu.
“Aku paham kalau kamu masih belum bisa menjawab ‘iya’, Nisa... dan aku tidak akan menyerah meminta sampai kamu menjawab ‘iya’ Nis”. 
 Kalimat Riza itu lagi-lagi berhasil membuat Nisa tersentuh haru tapi gadis itu berusaha keras menata perasaannya agar tetap bersikap biasa dan tidak berkaca-kaca mendengar kesungguhan laki-laki itu. Nisa pun memberanikan menatap Riza dan tersenyum sejenak tanpa berkata apa-apa.
“Oh iya, gimana kondisi mata kamu, Nis? Apa pernah sakit lagi?” tanya Riza  mengalihkan pembicaraan.
“Mata aku baik-baik saja, Riz,” jawab Nisa kembali tersenyum lebar.
“Alhamdulillaah kalau begitu. Oh ya, besok kamu ada ujian nggak, Nis?” lanjut Riza lagi.
“Besok aku ada dua jadwal ujian, teori dan praktik, dari jam sepuluh pagi sampai jam tiga sore dipotong ishoma he he. Kamu sendiri, Riz?”
“Aku ada ujian jam sembilan pagi sampai jam sebelas. Semangat buat kitaaa,” jawab Riza mengepalkan tangannya sambil tersenyum tak kalah lebar. Lagi-lagi Riza beberapa kali menguap meski segelas kopi sudah ludes diminumnya.
“Habis ini kamu langsung pergi ke tempat kerja Riz?”
Riza menganggukkan kepalanya pelan sambil mengucek-ucek matanya yang masih saja terasa berat. Nisa mengamati gerak-gerik laki-laki itu.
“Jangan terlalu memaksakan diri kamu, Riza. Apa kamu tidak bisa minta keringanan selama minggu ujian, Riz?”
Riza menggelengkan kepalanya pelan sambil berusaha tersenyum lebar. “Aku gapapa kok, Nis. Percaya sama aku ya”.
Nisa menatap sejenak kearah Riza, ia bisa melihat kesungguhan di mata dan senyum teduh laki-laki itu. Nisa pun balas tersenyum lebar.
“Memangnya kamu masuk jam berapa, Riz?”
“Jam tujuh, Nis”.
 Nisa melirik ke arloji di tangannya, jam 16.21.
“Itu artinya kamu bisa mejemin mata kamu sejam sepertinya, Riz. Habis maghrib baru kamu berangkat kerja. Kamu kelihatan ngantuk banget gitu, bahaya kalau dipaksain naik motor”.
Riza menatap Nisa yang terlihat sedikit khawatir menatapnya. Riza pun tersenyum seolah ingin menenangkan gadis itu.
“Iya nih, ga tau kenapa mata berasa berat banget, perasaan udah habis segelas kopi, kok nggak mempan ya he he... Btw, maksud kamu aku tidur disini, Nis?”
Nisa tertawa mendengarnya.
“Ya nggak lah, Riz. Kalau kamu tidur disini, ntar orang bakal aneh ngelihat kita, Riz. Kita ke perpus aja, kamu bisa tidur sebentar di ruang belajar 24 jam, Riz”.
Riza balas tertawa kecil sambil mengangguk setuju.
“Itu artinya kamu nemenin aku, Nis? Emangnya kamu gapapa, kan besok kamu ada dua ujian?” tanya Riza.
“Iya, aku temenin kamu, Riza. Takutnya kamu kebablasan tidur sampai malam, ga ada yang bangunin. Jadi kamu tidur, aku disebelah kamu sambil belajar buat ujian teori aku. Tenang aja, aku bawa bahan-bahan buat ujian teori besok kok, Riz”.
Lagi-lagi Riza menganggukkan kepalanya dan tersenyum lebih lebar.
“Ya udah, kita sekarang sholat Ashar dulu yuk, baru ke ruang belajar 24 jam,” sambung Nisa. Keduanya pun bergegas menuju ke musholla. Selepas sholat, Nisa meminta Riza menungguinya sejenak untuk membeli sesuatu.
“Ini kopi buat diminum setelah kamu bangun tidur nanti, Riz,” ucap Nisa dengan riang sambil menyodorkan segelas kopi dan sebotol air mineral ke Riza kemudian memasukkan sebotol air mineral untuk dirinya sendiri ke dalam tas ranselnya. Laki-laki itu pun tersenyum lebar mengucapkan terima kasih. Riza semakin bersemangat untuk mendapatkan jawaban ‘iya’ dari Nisa.
Sepuluh menit kemudian, Riza dan Nisa akhirnya sudah duduk di salah satu meja di ruang belajar 24 jam. Satu meja belajar itu memang diperuntukkan untuk dua orang. Tak perlu banyak waktu, Riza pun langsung terlelap dengan posisi duduk dan kepalanya ditumpukan diatas kedua tangannya, diatas meja belajar. Di sebelahnya, Nisa terlihat asyik membolak-balik lembar demi lembar bahan ujian teorinya besok. Sesekali Nisa melirik kearah Riza yang terpejam menghadap kearahnya. Wajah laki-laki itu terlihat lelah dan bulu di janggutnya terlihat sedikit lebat, sepertinya tak sempat tercukur sejak hari pertama ujian. Meskipun demikian, Nisa bisa melihat ada semangat di diri Riza sekacau apapun perubahan ritme hidupnya, membuat Nisa percaya bahwa laki-laki itu yakin dan tahu apa yang ingin diraihnya. Nisa tersenyum memandangi sejenak wajah laki-laki di sebelahnya itu. 
“Aku percaya kamu pasti bisa melakukan tanggung jawab kamu dengan baik, Riza. Perempuan yang menjadi teman hidup kamu nantinya pastilah perempuan yang sangat beruntung, Riz. Kamu layak mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dari aku,” batin Nisa menarik nafas dalam-dalam kemudian melanjutkan kembali belajarnya.

Malam itu, waktu menunjukkan pukul 21.11 ketika Nisa sedang asyik mengerjakan sketsa yang menjadi bahan ujian praktiknya esok hari. Tiba-tiba mata dan kepala Nisa kembali terasa sakit. Beberapa hari terakhir, beberapa kali Nisa merasakan sakit di mata dan kepalanya, meski dia berusaha tidak terlalu merasakannya. Seperti biasa dia pun segera meminum obatnya dan segera memejamkan matanya sejenak agar rasa sakit itu cepat berkurang. Nisa sengaja tidak menceritakan sakit yang dirasakannya kepada Riza, dia tidak ingin menambah beban pikiran dan membuat khawatir laki-laki itu.  Nisa sedang memegangi kepala dan bagian di sekitar matanya yang terasa sakit itu ketika handphonenya bergetar.
Nisa meraih handphonenya, ada pesan masuk di whattsapp-nya dari Riza.
“Selamat malam Nisa, maaf aku baru baca pesan kamu tadi :D.
Kamu masih belajar atau sudah tidur? Cukup istirahat ya, Nis biar besok fresh mengerjakan ujian teori dan praktiknya.
Btw, Nisa.. maukah kamu menikah denganku? :D :D Aku akan selalu menunggu jawaban kamu:)”.
Nisa tersenyum membaca pesan dari Riza itu diantara sakit di mata dan kepalanya yang belum juga hilang.
“Aku masih mengerjakan sketsa buat ujian praktik aku besok, Riz. Kamu sudah belajar buat ujian besok belum? Sudah makan malam belum?” ketik Nisa.
“Ini baru mulai baca-baca materi ujian dari rangkuman kamu, Nis. Mumpung ada waktu luang setelah satu kerjaan beres. Udah makan juga barusan. Kamu sendiri jangan lupa makan ya, Nis,” ketik Riza.
Nisa pun balas mengetik, “Aku juga udah makan tadi, langsung setelah sampai di kos, Riz. Ya udah kamu met bekerja sambil belajar ya. Ingat, jangan terlalu memaksakan diri kamu:)”.
“Siap :),” ketik Riza.
Nisa pun lagi-lagi tersenyum membaca percakapannya malam itu dengan Riza. Ia kembali teringat, kejadian sore tadi saat dirinya menemani laki-laki itu di ruang belajar 24 jam. Nisa beberapa kali melihati wajah Riza yang terlelap, ia ingin merekam ekspresi demi ekspresi laki-laki itu jika kemungkinan buruk dari penyakitnya itu suatu saat akhirnya terjadi. Saking gemas melihat Riza yang terlihat agak brewok dan awut-awutan, Nisa bahkan iseng mengambil foto Riza yang sedang terlelap itu. 
Nisa pun membuka folder foto di handphonenya, ia pun kembali senyum-senyum sendiri dan kemudian mengirimkan foto Riza itu via whatsapp dengan caption “Btw hampir kelupaan, kalau nanti ada waktu luang, jangan lupa cukur rambut dan brewok kamu ya Riz, he he he”.
“Waaaah, kamu iseng banget ngambil gambar aku pas tidur Nisaaa, untung aja ekspresi tidurku lagi bagus ha ha. Iya... iya nanti setelah ujian selesai aku janji bakal cukur, Nis he he,” ketik Riza dibalas Nisa dengan emotion senyum dan tertawa lebar.
“Btw, soal lamaranku, apa sudah ada jawaban yang berbeda dari kamu, Nisa?:)” ketik Riza lagi.
“Maaf Riza..., jawaban aku masih tidak berubah. Maaf yaaa...”. Jawaban dari Nisa itu pun mengakhiri percakapan keduanya.
Riza kembali membaca materi ujiannya besok dan Nisa pun bergegas melanjutkan mengerjakan sketsanya agar tidak banyak penyempurnaan yang dilakukan saat di kelas besok. Sakit kepala dan mata Nisa masih tetap terasa meski sedikit berkurang.
Malam pun semakin larut, saat Nisa kembali merasakan sakit  di mata dan kepalanya makin menjadi dan pandangannya mulai kabur, membuat Nisa akhirnya menggulung sketsa ujian praktiknya dan memasukkan kembali ke tempatnya. Perut Nisa terasa sedikit mual, membuat gadis itu pun meneguk kembali obatnya. Nisa tahu benar, salah satu gejala yang bisa dirasakan oleh penderita glaukoma sudut tertutup, sakit di mata dan kepalanya itu bisa menyebabkan perutnya terasa mual. Nisa pun mengambil gulungan sketsa taman impiannya dan mendekap gulungan itu sambil membaringkan tubuhnya di tempat tidurnya.
“Aku yakin aku pasti bisa sembuh. Dan kalaupun aku harus mengalami kebutaan permanen, aku akan menyelesaikan sketsa yang jadi misi aku ini. Aku pasti bisa. Semangat Nisa menghadapi hari esok dan esoknya lagi,” ucap Nisa lirih dan tersenyum lebar sambil memejamkan matanya diantara sakit yang makin dirasakannya. Doa pun terucap pelan dari bibir Nisa sebelum akhirnya gadis itu terlelap dalam tidurnya.
Waktu merangkak naik, pagi pun menjelang. Alarm jam beker Nisa pun berdering saat waktu menunjukkan pukul setengah empat pagi. Nisa membuka matanya, rasa sakit itu sudah jauh berkurang dibandingkan sebelum tidur meski tetap saja terasa.
Nisa meraih handphonenya yang ia geletakkan di meja belajar, hendak men-charge baterainya ketika ia lihat ada tiga pesan dari Riza, tertanda pukul 23.36, waktu-waktu dimana Nisa merasakan sakit yang makin menjadi sebelum akhirnya terlelap.
“Nis, kamu baik-baik aja, kan? Sakit mata kamu tidak kambuh kan, Nis?
Ga tau kenapa perasaan aku tiba-tiba mendadak ga enak dan aku langsung kepikiran kamu.
Semoga aja ini cuma akunya aja yang sedang terlalu baper alias kebawa perasaan”.
Pesan kedua Riza tertanda pukul 00.10, “Nisa...”. Sementara pesan ketiga Riza tertanda pukul 01.00, “Nis...”.
Nisa tersenyum haru membacanya. Nisa sedikit tertegun, entah kenapa laki-laki itu seolah bisa ikut merasakan saat dirinya kesakitan tadi malam.    
Nisa pun bergegas mengetik, “Maaf aku sudah tidur pulas semalam. Aku baik-baik saja, Riz. Mungkin kamu terlalu banyak pikiran aja jadinya terlalu kebawa perasaan. Semangat buat ujian hari ini ya. Good luck for us!!! :D :D”.
“Maaf ya, Riz kalau aku tidak berterus terang ke kamu, tapi aku insyaa Allah baik-baik saja,” ucap Nisa lirih kemudian meletakkan handphonenya lalu bergegas melanjutkan belajar untuk ujian teorinya.
Waktu menunjukkan pukul 07.00 pagi saat ada pesan masuk kembali di handphone Nisa dari Riza.
“Syukurlah kalau kamu baik-baik saja, Nis. Iya mungkin aku terlalu baper bin laper kali ya he he. Selamat berjuang di ujian hari ini, Nis!
Ups... satu agenda rutin hampir terlupa. Jadi.... maukah kamu menikah denganku, Nisa? :D”
Nisa pun hanya tersenyum membacanya, memutuskan tidak menjawabnya. Ia mengambil buku hariannya kemudian menuliskan di halaman 'Kalimat Ajaib dari Laki-laki Luar Biasa',  ‘Proposal ke 141, 4 Juni 2015: pukul 07.00, komen: terima kasih karena kamu masih tetap teguh memperjuangkan perasaan aku, Riza. Aku merasa sangat sangat sangat bahagia dan tersentuh meski tidak bisa menjawab iya. Semoga Tuhan menunjukkan seseorang yang terbaik dan memberikan kebahagiaan untuk mewarnai hari-hari kamu, Riz’. Nisa pun mengembalikan buku hariannya ke tempat semula dan bergegas melanjutkan belajarnya. Sementara itu di tempat kerjanya, Riza sedang bersiap-siap untuk pulang sebelum berangkat kembali ke kampus. Riza terlihat beberapa kali melihati layar handphonenya, berharap akan ada balasan dari perempuan istimewanya itu meski ia tidak terlalu banyak berharap. Ia sadar, Nisa masih kokoh dengan pendirian untuk menolak lamarannya.
Waktu menunjukkan pukul 09.00 ketika Nisa siap-siap berangkat menuju kampus, memastikan tidak ada peralatan dan bahan-bahan untuk keperluan ujian hari ini yang tertinggal. Nisa meraih handphonenya yang baterainya sudah terisi penuh itu ketika kepalanya dan matanya kembali terasa sakit, membuat Nisa langsung terduduk di ranjangnya.
“Aku pasti bisa mengalahkan rasa sakit ini. Berikan hamba kekuatan Tuhan untuk bisa menyelesaikan ujian hamba dengan baik,” ucap Nisa lirih sembari masih memegangi kepalanya. Ia pun menarik nafas dalam-dalam beberapa kali, seolah ingin mengumpulkan tekadnya untuk bisa melawan rasa sakit yang ia rasakan. Ia ambil sebungkus roti yang sengaja ia jadikan stok makanan kemudian memakannya lalu menelan obatnya. Setelah beberapa menit kemudian, saat rasa sakitnya mulai reda, Nisa pun berangkat ke kampus.
“Bismillaah... semoga diberikan kekuatan untuk menghadapi hari ini dengan baik,” ucap Nisa dengan tersenyum yakin, “semangat Nisaaa!”.
Waktu menunjukkan pukul 10.00 ketika ujian teori Nisa dimulai. Sejam lebih dahulu, Riza juga sedang mengerjakan ujiannya di tempat yang berbeda. Riza bertekad akan gantian memberi kejutan menemui Nisa di fakultas gadis itu selepas Nisa menyelesaikan ujian praktiknya. Riza ingin membalas perhatian kecil Nisa sehari sebelumnya.  Sebelumnya, Riza memang tidak pernah mengunjungi Nisa di fakultas gadis itu, terlebih sebelumnya saat Riza beberapa kali masih sibuk dengan petualangan hatinya. Riza dan Nisa biasanya bertemu di taman terbuka hijau yang ada di kampus itu, itu pun tidak terlalu sering. Hari Kamis itu, penampilan Riza terlihat lebih rapi dibandingkan beberapa hari sebelumnya. Riza seolah kembali ke penampilannya yang dikenal sebagai salah satu cowok berpredikat cool di fakultasnya. Sementara itu, waktu terus berjalan dan Nisa terlihat serius mengerjakan ujian teorinya hingga waktu ujian selesai. Beberapa kali, Nisa memegangi kepala dan bagian pelipis matanya ketika sakit itu kembali ia rasakan meski ia tetap berusaha fokus mengerjakan ujiannya.
Waktu menunjukkan pukul 13.00 saat itu ketika Nisa mulai mengerjakan ujian praktiknya. Sebelumnya saat istirahat tak lupa ia meminum obatnya, berharap bisa membuat pergi rasa sakit di mata dan kepalanya. Gadis itu terlihat serius menyelesaikan gambar sketsa yang jadi materi ujiannya. Sementara itu selepas sholat dan makan siang, Riza yang mengisi waktu  luangnya untuk belajar materi ujian esok hari di taman yang ada di fakultas Nisa pun bergegas menuju ke depan kelas tempat Nisa ujian setelah dia menjadi ala-ala detektif mencari tahu dimana ruang ujian Nisa sebelumnya. Ia lirik arlojinya, jam 14.03, sekitar satu jam lagi sebelum waktu ujian Nisa selesai. Riza pun memilih duduk tak jauh dari depan ruang ujian Nisa sambil mengamati pintu ruangan itu kalau-kalau Nisa keluar. Ia sengaja tidak memberitahu Nisa via whatsapp kalau ada disana. Di dalam ruang ujian, Nisa masih tetap berusaha menyelesaikan sketsanya dengan sebaik mungkin ketika keringat dinginnya makin banyak keluar dan Nisa berusaha mengelapnya dengan tissue. Nisa sudah berusaha mengabaikan dan menahan rasa sakit di kepala dan matanya, tapi sakit itu makin lama justru makin terasa, pandangannya pun mulai kabur. Mual itu pun makin menjadi dirasakannya hingga akhirnya gadis itu memutuskan mengumpulkan sketsanya ke penjaga ujian di depan kelas setelah ia berjuang keras untuk buru-buru menyelesaikannya sejak ujian dimulai.
“Kamu nggak boleh pingsan disini, Nisa. Kamu pasti kuat jalan pulang ke kos,” batin Nisa melangkah pelan keluar dari ruang ujian. Wajah gadis itu terlihat memucat. Nisa pun berjalan pelan kearah toilet berusaha menahan rasa mual dan sakitnya. Di saat bersamaan Riza menghampiri Nisa sejak ia melihat gadis itu keluar dari ruang ujian setelah sebelumnya sempat heran karena gadis itu keluar dari ruang ujian lebih awal. Lorong fakultas teknik itu terlihat agak sepi, hanya beberapa orang terlihat berlalu lalang. Riza baru akan memanggil Nisa, hendak memberi kejutan buat gadis itu ketika ia baru menyadari ada yang tidak biasa dengan Nisa. Gadis itu terlihat... pucat(?).
“Apa kamu sakit, Nis? Atau ini cuma aku yang terbawa perasaan seperti tadi?” batin Riza. Riza pun akhirnya memutuskan mengikuti Nisa beberapa langkah di belakangnya. Nisa terlihat masuk ke toilet dan Riza pun memutuskan menunggunya persis di dinding disamping tulisan toilet itu.  Di dalam toilet, tak ada satu pun orang saat itu disana, Nisa  buru-buru masuk ke satu bilik dan gadis itu pun langsung muntah beberapa kali selama beberapa menit di dalamnya. Tiap kali Nisa muntah, itu juga berarti sakit di kepala dan matanya pun makin menjadi, tapi Nisa tidak ingin menyerah, ia tetap berusaha menahan sakitnya, tidak ingin pingsan di kampus.
“Aku ga boleh pingsan disini, aku harus bisa menguatkan diri aku sampai di kos,” batin Nisa sambil masih terduduk jongkok didalam toilet setelah membersihkan muntahannya. Pandangannya semakin kabur dibandingkan sebelumnya. Gadis itu terlihat beberapa kali menarik nafas dalam-dalam berusaha menguatkan dirinya sendiri lalu kemudian dengan susah payah berdiri. Keseimbangan badannya pun mulai agak hilang karena sakit di kepala dan matanya makin menjadi, tapi Nisa bertekad ke dirinya sendiri bahwa dia harus kuat. Sementara itu, Riza yang berdiri di dekat dinding depan toilet terlihat khawatir karena Nisa tidak kunjung keluar dari toilet, padahal 15 menit sudah gadis itu didalam ketika kemudian Nisa terlihat keluar dan berjalan pelan kearah berlawanan dari tempat Riza berdiri tanpa menyadari keberadaan laki-laki itu.
“Nisa...,” panggil Riza pelan membuat Nisa menghentikan langkahnya. Nisa sangat mengenali suara itu. “Kenapa Riza bisa ada disini?” batinnya. Nisa sengaja memegang dinding di sebelahnya, menyamarkan keseimbangan tubuhnya yang mulai sedikit hilang.
“Apa kamu sakit, Nis? Wajah kamu terlihat pucat gitu dan kamu keluar dari ruang ujian lebih awal banget,” tanya Riza terdengar khawatir. Nisa masih membelakangi Riza, Nisa lagi-lagi mengelap keringat dingin di wajahnya dengan tangannya sambil menarik nafas dalam-dalam. Nisa tidak ingin Riza tahu kondisinya saat itu. Nisa pun kemudian membalikkan badannya menghadap Riza dengan senyuman lebarnya yang susah payah diupayakannya untuk laki-laki itu, ingin menghapuskan rasa khawatir laki-laki itu. “Aku baik-baik aja, Riz... . Wajah aku terlihat pucet sepertinya karena kehabisan energi setelah berjuang di dua ujian hari ini. Capeeek he he”. Nisa berusaha tetap berusaha tersenyum lebih lebar dan riang meski disisi lain dia berusaha menyembunyikan dan menahan sakit yang makin menjadi. Bahkan Nisa tidak bisa melihat dengan jelas wajah Riza yang terlihat kabur di pandangannya. Samar Nisa hanya bisa melihat sepertinya Riza sedang tertawa kecil mendengar jawabannya.
“Beneran kan kamu nggak apa-apa, Nis?” tanya Riza lagi, laki-laki terdengar ragu melihat wajah Nisa yang pucat itu.
Nisa menganggukkan kepalanya pelan. “Oh iya, kamu kok tumben kemari, Riz? Ada apa?” lanjut Nisa tetap berusaha tersenyum sambil tangannya kanannya memegang erat dinding di sebelahnya dan tangan kirinya ia kepalkan erat di belakang tubuhnya berusaha mengalihkan rasa sakitnya.
“Aku mau menraktir kamu makan sore ini, Nis. Kemarin kan kamu udah beliin aku kopi dan nungguin aku ujian sampai nungguin aku tidur di ruang belajar. Jadi sekarang gantian. Yaa sekalian soalnya kan aku juga belum sempat menraktir kamu setelah menerima gaji pertama aku. Mau yaaa?” ucap Riza dengan senyum lebarnya.
Saat itu tersenyum terasa sulit untuk dilakukan Nisa karena ia sangat ingin berteriak sakit karena sakit kepala dan matanya semakin tak tertahan lagi membuat Nisa hampir menyerah. Namun Nisa tetap berusaha tersenyum, “Sorry banget, Riz. Ada yang harus aku kerjain sekarang. Traktirannya lain kali aja, ya... Aku pulang dulu ya”. Riza pun mengangguk pelan, memandangi gerak-gerik Nisa. Dengan sisa tenaganya, Nisa berusaha segera menjauh dari Riza, dia tidak ingin insiden pingsan sebelumnya terjadi lagi saat dia bersama Riza. Namun manusia hanya bisa berusaha dan berencana, Nisa baru melangkah empat langkah ketika lagi-lagi kepalanya seperti dipukul palu besar membuat pandangannya yang kabur itu berubah menjadi gelap seketika.
“Nisa... Nisa kamu kenapa, Nis? Bangun Nis,” ucap Riza panik melihat wajah Nisa yang sangat pucat dan terlihat kesakitan. Kejadian itu terjadi lagi, meski kali ini saat tubuh Nisa terkulai, Riza menahan tubuh gadis itu. Dengan meminta pertolongan ke mahasiswa yang saat itu lewat disana, Riza pun membawa Nisa ke rumah sakit menggunakan taksi.
Hampir dua setengah jam sejak Nisa pingsan, gadis itu belum juga membuka matanya. Riza terlihat duduk di sebelah tempat tidur Nisa, menunggui Nisa dengan raut khawatir yang tidak bisa disembunyikannya. Laki-laki itu hampir tak pernah sekalipun meninggalkan Nisa kecuali untuk sholat.
“Kenapa kamu nggak bilang sama aku kalau kamu sakit, Nis?” ujar Riza lirih melihati wajah perempuan berjilbab bunga-bunga yang terpejam dan pucat itu. Dokter mata sempat memeriksa kondisi Nisa atas permintaan Riza yang menjelaskan penyakit glaukoma Nisa. Beberapa menit kemudian, Nisa terlihat perlahan sadar dan membuka matanya. Kepala dan matanya masih terasa sakit dan pandangannya pun masih kabur.
“Kamu sudah sadar Nis? Mana yang sakit, Nis? Apa mata kamu masih sakit?”
Nisa sangat mengenali suara laki-laki yang terdengar sangat cemas itu. Riza, kekhawatiran laki-laki itu sama sekali tak berubah seperti saat dirinya pingsan sebelumnya. Nisa menoleh ke tempat laki-laki itu duduk, seolah menatapnya meski ia tidak bisa melihat wajah Riza dengan jelas. Nisa tersenyum lebar, ingin mengusir pergi kekhawatiran laki-laki itu untuknya.
“Maaf ya Riz, aku pingsan lagi ya... . Aku baik-baik aja, Riza, cuma sedikit sakit di kepala dan mata aja, berasa kepukul palu he he,” ujar gadis itu berusaha tertawa.
Riza hanya terdiam, ia tahu gadis itu hanya ingin menenangkannya.
“Kenapa kamu tidak mau membagi sakit kamu dan memilih menanggungnya sendiri, Nis? Kamu tahu perasaanku ke kamu, itu sebabnya aku ingin menikah dengan kamu. Aku ingin kamu membagi sakit dan sedih kamu dengan aku, Nis”.
Kalimat Riza itu lagi-lagi berhasil menyentuh hati Nisa. Dia bisa merasakan ketulusan laki-laki itu.
Nisa kembali berusaha tersenyum lebih lebar diantara sakit yang ia rasakan merambat kembali di kepala dan matanya. “Tapi aku lebih suka membagi tawa dan senyum aku bersama kamu, Riza”.
Riza balas tersenyum lebih lebar kearah gadis itu.
“Apa kepala dan mata kamu masih sakit, Nis? Apa pandangan kamu masih kabur? Tolong jawab dengan jujur kali ini, Nis,” sambung Riza.
Nisa tersenyum lirih dan mengangguk pelan, “Tenang, Riz. Aku bakal baik-baik saja insyaa Allah”.
“Ya udah kamu istirahat aja lagi, ya,” lanjut Riza lagi-lagi dibalas anggukan pelan Nisa.
Nisa memejamkan matanya sejenak, seolah ingin mengusir pergi sakit di kepala dan matanya, tapi sakit itu justru kembali terasa. Nisa tiba-tiba kembali merasa mual, tapi Nisa berusaha menahannya, ia tidak ingin muntah di hadapan Riza.
“Riz, bisa tolong ambilkan kantong plastik di ransel aku?” ucap Nisa pelan menatap Riza yang masih terlihat kabur di matanya.
“Kantong plastik? Buat apa, Nis?”
“Please, Riz...,” ujar Nisa tetap berusaha tersenyum tanpa menjelaskan apa-apa.
Riza pun bergegas membuka tas ransel Nisa yang ia letakkan di meja di belakang tempatnya duduk, mencari kantong plastik yang diminta Nisa. Ada obat-obatan di dalam tas itu selain bahan kuliah Nisa juga satu pak kantong plastik. Sejak Nisa tahu bahwa dia bisa mengalami mual dan muntah akibat penyakit glaukomanya itu, Nisa selalu membawa kantong plastik kemanapun ia pergi.
Riza yang sebenarnya masih bertanya-tanya tentang kantong plastik itu pun memilih diam, hanya memenuhi permintaan Nisa.
“Ini kantong plastiknya, Nis. Kamu perlu berapa?” tanya Riza kembali duduk di dekat Nisa. Gadis itu terlihat terpejam seperti menahan sakit membuat Riza yang baru menyadarinya pun panik. “Kamu kenapa Nisa? Kamu merasa kesakitan?”
 Nisa menggelengkan kepalanya pelan, susah payah ia mencoba membuka matanya dan tersenyum ke laki-laki yang terdengar panik itu.
“Tolong doublein kantong plastiknya ya, Riz dan aku mohon kamu keluar dari kamar sebentar ya,” ucap Nisa lirih. Susah payah ia menahan cairan di perutnya itu tidak keluar saat Riza masih di sebelahnya.
Riza makin bertanya-tanya dengan permintaan Nisa itu.
“Tapi untuk apa kantong plastik ini Nisa? Dan aku ga mau keluar, aku mau menemani kamu, Nis,” tanya Riza menyerahkan kantong plastik itu ke tangan Nisa.  
“Perut aku mual banget. Aku ga mau kamu melihat aku muntah, Riza. Jadi tolong kamu keluar ya,” sambung Nisa lirih, cairan di perutnya itu terasa di kerongkongannya dan Nisa tetap berusaha menahannya tidak keluar sebelum Riza pergi.
Riza langsung mengambil kembali kantong plastik di tangan Nisa itu dan memeganginya, mendekatkannya di dekat mulut Nisa.
“Aku ga akan keluar dari sini, Nis. Kalau kamu mau muntah, muntahin aja. Biar aku yang bantu memegangi kantong plastik ini buat kamu,” ucap Riza tegas tapi tetap terdengar khawatir bahkan lebih khawatir di telinga Nisa. Saat itu, kondisi Nisa sudah tidak memungkinkan dirinya untuk berdebat dengan Riza karena cairan perutnya sudah tidak bisa lagi ditahan untuk keluar. Gadis itu kembali muntah beberapa kali selama beberapa menit. Riza ikut merasa tersiksa melihat Nisa seperti itu. Wajah Riza pun terlihat panik meski dia tidak berkata apa-apa. Riza tidak tahu bahwa setiap kali Nisa muntah, rasa sakit yang dirasakan Nisa justru bertambah dan makin menyiksa gadis itu.
“Enakan ga, Nis? Apa perut kamu masih mual? Apa kepala dan mata kamu sakit, Nis?” Riza memberondong Nisa dengan beberapa pertanyaan sekaligus saking paniknya saat Nisa berhenti muntah. Riza mengusapkan tisu ke mulut Nisa kemudian mengusapkan tisu ke keringat dingin di wajah Nisa. Nisa hanya diam, tak menjawab. Gadis itu terbaring dengan mata terpejam dan ekspresi kesakitan. Kepala dan matanya terasa sakit luar biasa hingga ia tidak bisa merespon pertanyaan Riza itu. Riza tetap mendekatkan kantong plastik itu di mulut Nisa. Muntahan gadis itu tak banyak, lebih kearah cairan karena tanpa Riza tahu isi perut Nisa sudah terkuras ketika Nisa muntah di toilet kampusnya sebelumnya.
“Nisa,” panggil Riza sambil menggoyang pelan bahu Nisa, ia sangat khawatir Nisa kembali pingsan dan terjadi apa-apa ke gadis itu. Nisa tetap tak menjawab, nafas gadis itu naik turun menahan sakit di mata dan kepalanya ketika kemudian ia kembali memuntahkan cairan bening beberapa detik sebelum akhirnya terkulai lemas dan benar-benar kehilangan kesadarannya.
“Nis... Nisa...bangun Nis...”. Riza pun bertambah panik melihat Nisa yang semakin pucat pasi itu, ia pun segera mencari pertolongan dokter dan perawat.
Arloji Riza menunjukkan pukul 19.04 ketika Nisa kembali membuka matanya. Jarum cairan infus masih terpasang di tangannya dan Riza terlihat masih menemaninya, duduk di sebelah tempat tidurnya memandangi Nisa.
“Alhamdulillah kamu sudah sadar, Nis. Apa kamu bisa melihat aku? Apa kamu masih merasa mual? Apa mata dan kepala kamu masih sakit banget?” tanya Riza terdengar sangat khawatir.
Nisa tersenyum lebar kearah laki-laki itu.
“Sekarang sudah jauh berasa enakan, Riz. Kepala dan mata aku udah hampir ga sakit lagi, dan udah nggak mual lagi,” jawab Nisa berusaha riang, “aku juga bisa melihat kamu meski masih agak kabur, Riz”. Pandangan gadis itu masih sedikit kabur, tapi sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.
“Aku tadi pingsan lagi ya, Riz?” tanya Nisa merasa bersalah ke laki-laki itu.
Riza menganggukkan kepalanya. “Tadi kamu benar-benar membuat aku merasa khawatir, Nis. Aku takut terjadi apa-apa dengan kamu”.
“Maaf ya, Riz udah bikin kamu jadi khawatir,” sambung Nisa.
Riza tersenyum lebih lebar, ia tidak ingin Nisa merasa bersalah kepadanya.
“Kamu tidak perlu minta maaf, Nis. Kamu tidak pernah meminta aku buat mengkhawatirkan kamu. Aku yang mau karena kamu perempuan yang sangat berarti buat aku. Aku lega karena sekarang kamu sudah jauh lebih baik”.
Nisa melebarkan senyumannya, ucapan Riza membuat hati Nisa sangat tersentuh.
“Tadi dokter bilang kalau operasi mata sepertinya menjadi jalan yang terbaik buat menyembuhkan penyakit glaukoma kamu, Nis. Dokter khawatir, serangan glaukoma yang terjadi ke kamu lebih dari sekali sehari ini bahkan kamu sampai pingsan dua kali dan muntah-muntah parah seperti tadi itu membuat peluang kamu kehilangan penglihatan permanen lebih besar, Nis,” ujar Riza tetap terdengar sangat mengkhawatirkan Nisa.
Nisa diam menatap Riza yang masih terlihat agak kabur itu kemudian tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan.
“Aku takut operasi, Riz. Aku ga mau operasi. Aku akan tetap berobat jalan aja”.
“Aku akan temani kamu di ruang operasi biar kamu tidak merasa takut, Nis. Kamu mau ya menikah sama aku, Nis?” tanya Riza lembut tapi penuh kesungguhan sambil menatap lembut Nisa.
“Aku ingin sekali membahagiakan kamu seumur hidup aku, Riza. Tapi aku takut aku tidak bisa melakukannya,” batin Nisa sambil menunduk. Nisa kembali tersenyum ke Riza, lagi-lagi menggelengkan kepalanya pelan. “Maaf, Riz, jawabanku tetap sama. Dan aku tetap memilih berobat jalan di luar operasi saja”.
Riza balas tersenyum sambil menganggukkan kepalanya pelan.
“Aku paham dan ga akan memaksa, Nisa... mungkin kamu masih perlu waktu untuk berpikir tentang lamaran aku dan juga tentang operasi. It’s okay, yang pasti aku ga akan menyerah untuk terus meminta kamu tentang dua hal itu”.
Nisa hanya diam dan balas tersenyum.
“Oh iya, Nis apa ga sebaiknya kamu memberitahu kondisi kamu ini ke ayah kamu?” tanya Riza.
Nisa menggelengkan kepalanya tanpa keraguan. “Aku ga mau bikin ayah aku khawatir dan cemas, Riz. Aku baik-baik saja dan insyaa Allah aku ga akan mudah menyerah karena penyakit ini. Aku akan terus berobat jalan dan berdoa. Kalau akhir-akhir ini beberapa kali serangan itu kambuh, mungkin karena kecapekan ujian aja, Riz,” jelas Nisa dengan senyum lebar dan bersemangat.
Riza balas tersenyum simpul. “Emangnya ayah kamu ga bakal curiga kalau kamu perlu uang lebih buat biaya pengobatan kamu, Nis?”
Nisa menggelengkan kepalanya pelan. “Sampai sekarang sih, alhamdulillah nggak curiga. Soalnya untuk pengobatan ini aku menyisihkan sebagian dari jatah uang makan aku selain juga dari honor-honor part time ikut ngebantuin desain proyeknya temen sejak setahun terakhir ini he he”. Jawaban Nisa itu membuat Riza makin kagum dengan kemandirian perempuan yang ada didekatnya, tapi sempat terlewatkan olehnya.
“Oh iya, bicara kamu kecapekan gara-gara ujian... jangan-jangan kamu sakit juga gara-gara bikinin aku rangkuman ya, Nis?” tanya Riza tiba-tiba ingat dan langsung merasa bersalah membuat Nisa tertawa mendengarnya, gadis itu ingin meyakinkan Riza bahwa Riza bukan salah satu penyebab yang memicu sakitnya.
“Nggak lah Riz... jangan baper deh...,” goda Nisa tertawa makin lebar membuat Riza pun akhirnya ikutan tertawa.   
“Tapi kamu harus janji satu hal, Nis. Kalau kamu ngerasa sakit kapan pun itu, tolong jangan sembunyiin sakit kamu dari aku. Kamu harus bilang ke aku, izinin aku untuk tahu, Nis. Janjiiii,” ujar Riza sambil mengarahkan jari kelingkingnya ke Nisa.
Nisa tersenyum melihati sejenak Riza kemudian menggelengkan kepalanya, “Aku nggak bisa berjanji soal itu, Riz. Aku ga mau”.
“Tapi kan kita sahabat, Nis. Sudah seharusnya kan berbagi suka dan duka. Kamu aja ngepoin dan perhatian kalau aku lagi ada masalah, masak aku ga boleh melakukan hal yang sama, Nis?”
Nisa tetap menggelengkan kepalanya sambil tertawa kecil. “Ini pengecualian, Riza”.
 Riza memanyunkan bibirnya kecewa. “Please, Nis...,” ucapnya sambil berusaha melingkarkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Nisa, tapi Nisa buru menyembunyikan telapak tangannya di belakang badannya. Nisa tetap menggelengkan kepalanya sambil tertawa kecil membuat Riza akhirnya menyerah.  
Nisa kemudian melihat kearah arlojinya, ia tiba-tiba teringat sesuatu.
“Wah sudah jam setengah delapan. Bukannya kamu harus masuk kerja ya, Riz?” tanya Nisa sedikit panik dan hendak duduk dari posisi terbaring, tapi segera dicegah Riza.
“Ettt udah, Nis.... jangan duduk dulu, kamu itu harus banyak istirahat dan berbaring,” ujarnya. Masih ada nada khawatir disana.
Nisa pun hanya menurut, tak jadi duduk. “Tapi kamu telat berangkat kerja jadinya gara-gara menunggui aku disini, Riz...”.
Riza tersenyum kepada gadis itu. “Aku udah izin tidak masuk hari ini karena harus ngejagain keluarga yang sakit kok, Nis”.
“Emang gapapa, Riz? Takutnya kamu nanti dinilai kurang bagus lagi,” sambung Nisa cemas.
“Kamu tenang aja, Nisa. Semuanya akan baik-baik aja, baru kali ini juga aku izin ga masuk kok, Nis,” jelas Riza tersenyum lebar berusaha menenangkan Nisa.
“Lagi pula aku ga mungkin berangkat kerja dan ninggalin kamu sendiri, kan kamu alasan kenapa aku kerja, Nis,” sambung Riza lirih  keceplosan di akhir-akhir kalimatnya membuat Nisa menatap serius kearahnya.
“Jadi alasan kamu bekerja dan memaksakan diri kamu sendiri akhir-akhir ini, itu aku, Riz?”
“Eh, bukan Nis... maksud aku, aku bekerja ingin belajar jadi calon suami yang baik buat istri aku kelak dan siapa tahu itu kamu he he”. Riza berusaha tetap tersenyum lebar ke Nisa. Riza sengaja mencari alasan lain yang tetap masuk nalar untuk menjawab pertanyaan Nisa itu sambil setengah bercanda. Riza belum ingin Nisa tahu bahwa alasan utama dirinya bekerja karena memang ia ingin membantu Nisa mewujudkan taman impian gadis itu selain dia juga ingin membuktikan ke Nisa bahwa dirinya siap bertanggung jawab menikahinya.
Nisa tetap menatap tajam kearah Riza sambil mengucek-ucek matanya, ingin sekali ia bisa melihat jelas ekspresi Riza saat itu.
“Kamu kenapa Nis? Mata kamu sakit lagi?” tanya Riza langsung terdengar kembali khawatir membuat Nisa langsung buru-buru  tersenyum lebar dan menggelengkan kepalanya.
“Nggak... mata aku nggak sakit, Riz. Aku mengucek mata aku karena pandangan aku masih kabur, jadinya aku ga bisa melihat jelas kamu. Padahal aku pingin lihat dengan jelas ekspresi kamu sekarang, lagi jujur, serius atau nggak“.
Riza menarik nafas lega dan ikutan tersenyum lebih lebar.
“Ooo, soal alasan kerja tadi ya, Nis? Intinya aku mau belajar jadi pemimpin rumah tangga yang bertanggung jawab buat teman hidup aku nanti siapapun dia”, sambung Riza, “jadi... kamu mau nggak menikah sama aku biar kamu jadi teman hidup orang seperti aku he he”.  
Lagi-lagi Nisa hanya diam dan tersenyum kearah Riza. Ingin sekali ia menemani Riza sepanjang hidupnya andai ia terbebas dari ancaman kebutaan permanen yang sewaktu-waku bisa dialaminya dan andai ia bisa mengalahkan ketakutan-ketakutannya tentang operasi. Riza pun tersenyum lebih lebar melihat gadis di hadapannya itu. Riza tahu dirinya mempertanyakan sesuatu yang sudah ia tahu jawabannya meski tetap saja ia menaruh harapan akan mendapatkan jawaban yang berbeda.
"Ya udah, lebih baik sekarang kamu tidur dan mengistirahatkan mata kamu lagi, Nis. Dokter bilang kamu perlu lebih banyak istirahat selain obat untuk mengurangi peluang mata dan kepala kamu sakit lagi, Nis,” jelas Riza.
“Aku sudah merasa enakan, Riz. Aku mau pulang,” pinta Nisa.
Riza menggelengkan kepalanya.
“Lagi pula besok aku ada ujian jam dua siang, Riz. Kamu memangnya besok ga ada jadwal ujian?” sambung Nisa.
“Aku bisa mintakan surat keterangan sakit dari dokter dan rumah sakit, Nis biar kamu bisa ikut ujian susulan, Nis”.
Nisa menggelengkan kepalanya.
“Aku ga mau ikut ujian susulan, Riz. Lagi pula aku udah baik-baik aja, Riz,” ucap Nisa sambil tersenyum lebar, meyakinkan laki-laki itu bahwa kondisinya sudah jauh membaik .
“Pandangan kamu kan masih kabur, Nis. Lagi pula infus kamu juga belum habis tuh, sayang kan. Kamu istirahat dulu ya sejam dua jam disini. Nanti kalau setelah kamu bangun pandangan kamu udah jelas lagi, aku janji bakal antar kamu pulang ke tempat kos. Yaaa”.
Nisa pun akhirnya tersenyum dan mengangguk setuju
“By the way, kamu belum jawab, kamu besok ada ujian ga?” tanya Nisa lagi.
“Ada,” jawab Riza singkat.
“Jam berapa?”
“Jam sembilan, tapi kamu tenang aja, Nis. Aku tadi siang udah nyicil belajar sambil nungguin kamu keluar ruang ujian. Dan sekarang disini aku juga bisa belajar sambil nungguin kamu tidur sejam dua jam,” sambung Riza bersemangat dan tersenyum lebar sambil mengeluarkan bahan ujiannya untuk esok termasuk rangkuman yang sudah dibuat Nisa untuknya dan menunjukkan ke Nisa. Gadis itu pun tertawa dan menganggukkan kepalanya.
“Ya udah cepat tidur dan istirahatin lagi mata kamu, Nis, biar nanti kalau kamu bangun, kamu juga bisa ngomentari perbedaan di penampilan aku hari ini he he,” sambung Riza sambil tertawa kecil.
“Perbedaan penampilan?” tanya Nisa ikut tertawa kecil dengan ekspresi penasaran.
“Iya... aku udah penuhi permintaan kamu semalam”.
“Permintaan aku? Permintaan yang mana sih Riz?”
Riza makin tertawa melihat Nisa yang terlihat makin penasaran dengan rautnya yang lucu itu.
“Iyaaa... aku udah cukur, cukur jenggot dan rambut, Nis he he”.
Tawa Nisa pun pecah. “Pantesan aja, aku ngerasa ada yang beda sama bentuk rambut kamu  samar-samar. Tapi bukannya kamu bilang mau cukur setelah ujian ya, Riz?”
Kali ini Riza yang tertawa kecil. “Iya sih..., tapi tadi malam tiba-tiba muncul ide pingin bikin kejutan datang ke fakultas kamu, nraktir kamu dan dengan penampilan yang kamu pingin lihat. Kebetulan ada waktu juga tadi pagi buat cukur”.
Nisa menganggukkan kepalanya tak henti tertawa kearah Riza. “Ya udah, kalau gitu sekarang aku tidur dulu biar nanti bangun-bangun aku bisa pulang ke kos dan lihat penampilan baru kamu. Udah ga sabar nih he he”. Keduanya pun sejenak pecah dalam tawa.
Tak perlu waktu lama, Nisa terlihat terlelap dalam tidurnya, sementara Riza larut membaca bahan-bahan ujiannya di sebelah Nisa. Seolah kejadian kemarin berputar dan bergantian dengan kejadian hari ini. Kemarin Nisa menjaga Riza yang tertidur sambil belajar dan hari ini sebaliknya. Sesekali Riza terlihat mengamati wajah teduh gadis berjilbab yang sedang terlelap itu.
“Seberapa kuat kamu menolak lamaran aku, aku akan tetap mendekat dan meminta kamu untuk menjadi teman hidup aku, Nis. Aku akan selalu berusaha ada untuk kamu, Nisa. Aku akan menemani kamu menghadapi ketakutan dan sakit kamu, membantu mewujudkan mimpi kamu, dan juga menjaga kamu semampuku, Nisa,” batin Riza sembari tersenyum lembut kearah Nisa kemudian kembali fokus belajar materi untuk ujian esok harinya.

Senin, 01 Agustus 2016

See You Again When The Next Blue Moon Appears : Ahsan Hasna Part 7 Bara Diantara Ahsan dan Hasna


Part 7: Bara Diantara Ahsan dan Hasna

Sore esok harinya Hasna dijenguk oleh rekan-rekan sekantornya, membuat rumah Hasna berubah ramai dengan kedatangan mereka. Terlihat sosok Bara, salah satu rekan Hasna di divisi yang sama. "Bara, kamu kapan pulang dari Kalimantan?" sapa Hasna ramah ke laki-laki yang sepantaran dengannya itu. Bara yang duduk di hadapan Hasna membalas senyum manis perempuan itu. "Kemarin lusa aku sampai di Jakarta, Na. Kemarin aku tidak lihat kamu seharian, tadi pagi tiba-tiba dengar kabar dari Pak Ryan kalau kamu terserempet motor," jawab Bara. "Iya Hasna, pas denger kabar itu, wajah Bara langsung berubah khawatir begitu. Sepertinya ada yang tiba-tiba kangen setelah enam bulan tidak bertemu kamu," sambung Pak Ryan sambil tertawa menggoda Bara. Hasna tersenyum, sementara Bara terlihat tersenyum simpul setengah meringis sambil menggelengkan kepalanya berusaha menutupi rasa malunya. Jauh sebelum berangkat ke proyek volunteering di pedalaman Kalimantan, Bara memang sudah jatuh hati pada gadis dengan senyuman manis itu, meski ia belum berani mengungkapkan perasaannya apalagi berkomitmen serius kepada Hasna. Hasna, perempuan sederhana itu, membuat Bara masih ingin menjadi laki-laki yang lebih "gentle" dan lebih pantas untuk dicintai dan dijadikan tempat bersandar bagi Hasna. Begitu pun Hasna, sejak ia ditempatkan di satu divisi dengan Bara setahun lalu, ia selalu kagum dengan sikap Bara yang masuk sebagai kriteria laki-laki idaman di mata Hasna, meski Hasna tidak pernah terlalu membahas perasaannya lebih dalam karena Bara sepertinya masih asyik dengan dunia petualangnya dan belum berniat untuk berkomitmen dengan seorang perempuan. "Oh ya, Na... kebetulan aku kan sedang istirahat dari tugas volunteering ke luar Jawa setidaknya sampai sebulan kedepan dan aku dengar kamu lagi ikut jadi relawan di salah satu kelas bantaran rel bersama sekelompok mahasiswa ya. Selama kaki kamu belum pulih, aku bersedia menggantikan kamu mengajar, Na. Gimana?" tawar Bara lagi dengan penuh semangat. Terdengar beberapa rekan Hasna semakin bersemangat men-cie cie keduanya tapi Hasna berusaha berusaha untuk bersikap biasa saja.
"Makasih Bar, tapi insyaa Allah aku besok Sabtu udah bisa mengajar lagi kok di kelas bantaran rel. Luka aku juga tidak seberapa dan sudah mendingan, kok," jawab Hasna dengan senyuman khasnya. "Yakin, Na besok kamu sudah bisa mengajar lagi?" Hasna mengangguk pelan. Bara menatap Hasna sejenak, seolah mengecek kondisi gadis itu. Hasna masih agak kesulitan berjalan ketika dia menyambut teman-temannya itu, tapi semangat dan senyuman di wajah Hasna itu memang sama sekali tidak berubah, sama seperti biasanya."Ya udah, kalau begitu biar aku jemput kamu di rumah dan menemani kamu ke kelas bantaran rel selama kaki kamu belum pulih. Oke!" lanjut Bara masih tetap berusaha membujuk Hasna. "Sependapat dengan Bara, Na. Kamu terima aja tawaran baik dari Bara, Hasna..." sambung Pak Ryan menimpali obrolan keduanya. Selain sebagai rekan, Pak Ryan juga salah satu senior dan atasan di divisi tempat Hasna dan Bara. "Saya insyaa Allah baik-baik saja, Pak. Saya bisa ke kelas bantaran rel sendiri. Saya tidak mau merepotkan Bara," jawab Hasna tersenyum sambil menoleh bergantian ke Bara dan Pak Ryan, "lagian Bara kan baru balik ke tengah-tengah gemerlap kota dari mengajar di pedalaman, Pak. Siapa tahu Bara ingin lebih banyak menikmati hang out dengan teman-temannya. Pak Ryan langsung menoleh kearah Bara yang langsung menggelengkan kepalanya tanda ia sama sekali tidak keberatan menemani Hasna sambil meneriakkan kata "Siap" dengan semangat ke seniornya itu. "Ya sudah, sekarang kamu saya beri pilihan, Na. Kamu mau menerima tawaran Bara untuk menemani kamu atau kamu mau Bara yang menggantikan tugas kamu di kelas bantaran rel sampai kaki kamu benar-benar pulih?" lanjut Pak Ryan sambil tersenyum tapi tegas. Beberapa teman Hasna maupun Bara terlihat makin riuh menggoda keduanya. Memang seperti itu situasi kerja diantara Hasna dan teman-temannya, mereka menganggap semuanya adalah teman yang sama, tapi tetap tanpa melupakan hirarki atasan dan bawahan di organisasi tersebut.  "Aku memang mau hang out dengan teman-teman aku, Na... salah satunya dengan kamu.... Kamu kan teman aku juga. Kamu pasti ga akan menyesal, Na... aku bakal ceritain ke kamu buanyaaak pengalaman lucu aku di pedalaman" jelas Bara dengan senyum lebarnya membuat suasana perjodohan dadakan Hasna dan Bara itu makin memanas seketika. Hasna pun tak mampu menahan tawanya, melihat laki-laki yang cukup cool tapi baik di depannya itu mencoba menggombal. Hasna pun mengangguk, kemudian menoleh serius kearah Pak Ryan. "Apa boleh buat, Pak Ryan... saya mau deh ditemani Bara ke kelas bantaran rel. Lumayan kan dapat cerita lucu gratis he he. Mumpung Bara masih single juga," balas Hasna sambil tersenyum tak kalah lebar, seolah ingin menanggapi ledekan teman-temannya itu."Nah begitu dong. Siapa tahu kamu dan Bara berjodoh, Na. Kalau kalian beneran nikah, nanti biar saya carikan daerah penugasan di pedalaman Papua untuk kalian berdua, biar bisa sekalian bulan madu sambil menjadi relawan," sambung Pak Ryan membuat teman-teman Hasna serentak mengaminkan, membuat Hasna dan Bara hanya tersenyum simpul agak malu.Teman-teman kantor Hasna pun berpamitan pulang selepas makan malam bersama Hasna dan keluarga. Selepas sholat isya, Hasna pun memilih beristirahat di kamarnya sambil mendengarkan lagu-lagu kesukaannya dan membaca beberapa cerita anak di handphonenya ketika ada satu pesan masuk. "Hasna, ini nomer WA aku, tolong disimpan ya. Nomer lama aku sudah ke laut gara-gara di pedalaman nggak dapat sinyal, he he. BARA". Terlihat Bara sedang bermain air bersama beberapa anak kecil di tengah sungai yang terlihat sangat bening itu menjadi foto profil laki-laki itu. "Aku berharap aku bisa ada disana bersama adik-adik itu. Pasti menyenangkan," ujar Hasna pelan sambil tersenyum simpul. Hasna selalu punya mimpi, suatu saat dia akan mendapatkan kesempatan untuk mengajar di daerah yang masih alami dan benar-benar pedalaman. Ia teringat pernah satu kali Bara mengunggah sebuah gambar dari salah satu desa tanpa listrik di pedalaman Kalimantan, beberapa anak terlihat sedang belajar dengan menggunakan api unggun kecil dan Bara menuliskan dibawah gambar itu sebuah kalimat. "Melihat wajah penuh semangat adik-adik ini untuk tahu ilmu dan pengetahuan lebih banyak itu menghadirkan kebahagiaan dan kepuasan tersendiri di dalam hati. Aku merasa beruntung pernah berada disini bersama dan menemani mereka". Kalimat itu salah satu kalimat yang melecut semangat Hasna untuk suatu saat bisa seperti Bara. Hasna sedang memandangi foto profil Bara dan adik-adik kecilnya itu sejenak ketika ia tiba-tiba teringat Ahsan. Hasna menutup foto Bara itu kemudian tersenyum dan tangannya langsung bergerak membuka foto profil Ahsan. Foto laki-laki itu masih sama, hanya statusnya yang baru Hasna sadari berubah. "Setiap manusia bisa menjadi pemberani. Kita membuat aku dan kamu berani:)". "Kita...," ujar Hasna tersenyum dan kemudian menutup aplikasi whatsapp-nya. Dua laki-laki itu punya arti spesial buat Hasna. Di keduanya, ada sosok teman hidup yang dinanti Hasna meski Hasna tidak berani benar-benar menaruh harapan bahwa teman hidupnya nanti salah satu diantara Ahsan dan Bara. Baik Ahsan maupun Bara, keduanya laki-laki baik yang pantas mendapatkan pasangan yang baik, meski disatu sisi Hasna juga tetap berusaha belajar lebih baik lagi memantaskan dirinya untuk bisa mendapatkan teman hidup yang baik. Satu hal lagi, keduanya masih asyik dengan dunianya dan belum ingin berkomitmen seperti yang Hasna pikirkan."Malam, Ahsan. Sabtu besok kamu jadi jemput aku di stasiun? Kalau ngerepotin, aku bisa ke kelas sendiri kok he he," ketik Hasna membuka lagi whatsapp-nya."Insyaa Allah jadi, Na. Aku tunggu kamu jam 14.15 di tempat biasa ya... Btw, kamu naik kereta kan? Apa perlu aku jemput ke rumah kamu? Kaki kamu kan masih luka soalnya," balas Ahsan. Hasna tersenyum, laki-laki ini selalu mencuri secuil hatinya lewat perhatiannya. "Makasih banyak Ahsan yang baik. Kita bertemu di stasiun aja :D"."Siaaaap laksanakan, Hasna :D," tulis Ahsan. Hasna tertawa kecil membaca kalimat Ahsan itu, entah kenapa bahagia itu mudah hinggap di hatinya tiap kali ia berinteraksi dengan Ahsan."See you tomorrow (ind: sampai bertemu besok), Ahsan :)". Sementara itu Ahsan yang sedang asyik mendengarkan musik di tempat tidurnya itu pun senyum-senyum sendiri untuk beberapa saat melihati percakapannya dengan Hasna sambil sekali-kali melirik foto profil Hasna. "Aku ga sabar menunggu besok, Na...," ujar Ahsan pelan tersenyum lebar kemudian meletakkan handphonenya. Tiba-tiba Ahsan kembali terngiang ledekan temen-temannya tentang sikapnya ke Hasna.  "Ngaku aja sih... Lo suka kan sama Hasna, San? Bahasa tubuh lo nggak bisa bohong, Bro," ucap Ardi tadi siang di kampus saat mereka makan siang bareng di kantin. Ahsan hanya menggelengkan kepalanya. "Nggak... perasaan gue ke Hasna biasa aja kok, gue cuma peduli aja sama dia," jawab Ahsan saat itu.  "Menyukai Hasna itu bukan suatu kesalahan kok, San. Orang lain aja bisa melihat jelas perasaan lo ke dia, jadi lo ga perlu mengelak gitu. Ga ada salahnya kok, San jujur dengan perasaan kita sendiri. Gue dan temen-temen pasti bakal support lo selama itu baik. Dan menurut gue sih Hasna baik buat lo, San," sambung Raka dengan bijaknya membuat Ahsan hanya bisa senyum-senyum dan meringis mendengarnya.Ahsan kembali membuka foto profil Hasna dan melihatinya. "Apa iya aku suka sama kamu, Na?" tanya Ahsan kemudian senyum-senyum sendiri. Kepalanya menggeleng pelan tapi entah kenapa hatinya bicara sebaliknya.
--------------------------------------------------------
Keesokan harinya, Hasna pun dijemput Bara sesuai obrolan mereka sebelumnya. Arloji Hasna menunjukkan pukul 13.00 ketika Hasna berjalan dengan agak kesulitan keluar dari rumahnya. Bara bergegas menghampiri Hasna.
“Perlu bantuan, Na? Bantuan pegangan mungkin?” tanya Bara tersenyum kepada Hasna.
Hasna balas tersenyum manis, “Makasih Bar, aku bisa sendiri kok”.
Bara tahu Hasna yang dia kenal selalu berusaha menjaga dirinya sebagai perempuan. Bara pun bergegas membukakan pintu mobil buat Hasna, hanya itu yang bisa dilakukannya untuk membantu Hasna. Terdengar ucapan terima kasih diikuti senyum manis dari Hasna dan lima menit kemudian mereka sudah berada di dalam mobil Bara menuju kelas bantaran rel.
Sepanjang perjalanan sesuai janjinya, Bara menceritakan banyak pengalaman lucunya selama mengajar di pedalaman dan Hasna terlihat sangat terkesan dan terhibur mendengarnya. Bara seolah menjadi penyambung mimpi Hasna yang belum terwujud, mengajar di pedalaman, berbagi ilmu sekaligus keriangan bersama adik-adik disana. Sebaliknya bagi Bara, melihat Hasna yang hampir tak pernah lepas dari senyum dan tawanya itu menghadirkan bahagia di hatinya.
Waktu menunjukkan pukul 14.13 saat mobil Bara akhirnya tiba di depan stasiun tempat Hasna biasanya turun ketika naik KRL. Hasna mengetikkan sebuah pesan via whatsapp di handphonenya. “Ahsan, aku sudah sampai di depan stasiun :). Kamu jadi menunggu aku di stasiun?”
“Yakin kamu gapapa jalan dari stasiun ke kelas, Na? Kaki kamu kan masih sakit,” tanya Bara sambil mengamati jalanan di dekat stasiun itu, membuat Hasna menoleh ke Bara.
Hasna mengangguk sambil tersenyum lebar, “Insyaa Allah gapapa, Bar. Letak kelas nggak terlalu jauh kok dari sini”.
Bara mengangguk-anggukkan kepalanya, “Kalau begitu, aku temani kamu berjalan ke kelas ya, Na. Sekalian aku menemani kamu mengajar”.
“Kamu... mau menemani aku selama mengajar, Bar?”
Bara menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, ”Bukannya itu kesepakatan kita dengan Pak Ryan kemarin, Na? Kenapa? Kamu keberatan?”
Hasna terdiam, menatap Bara sejenak lalu tersenyum menggelengkan kepalanya pelan. Handphone Hasna bergetar, Hasna bergegas membukanya, sebuah pesan whatsapp dari Ahsan. “Aku OTW kesana. Tunggu aku ya, Na. Sekitar 5 menitan, ok...” .
Hasna tersenyum membacanya.
“Kita tunggu sebentar, ya Bar. Aku udah janjian jalan bareng salah satu volunteer soalnya. Dia lagi di perjalanan,” ujar Hasna disambut anggukan dan senyum lebar dari Bara.
Hasna dan Bara sedang mendengarkan musik di radio yang ada di mobil Bara ketika terlihat sosok Ahsan baru turun dari sepeda di pintu keluar stasiun, persis tak jauh di seberang mobil Bara. Hasna yang langsung mengenali sosok laki-laki itu pun bergegas menelpon Ahsan yang terlihat sedang membuka handphonenya.
“Assalamualaikum, Ahsan”.
“Waalaikumsalam, Hasna. Kamu dimana? Aku udah sampai di depan pintu keluar stasiun. Aku tunggu kamu di luar stasiun ya...”.
“Iya aku tahu, San. Aku sedang melihati kamu dari seberang. Aku tidak naik KRL hari ini, aku naik mobil...”.
Ahsan terlihat melihati seberang jalan tempatnya berdiri, ketika terlihat Hasna keluar dari sebuah mobil dan melambaikan tangan sambil tersenyum lebar kearahnya.
Ahsan pun balas tersenyum dan bergegas menghampiri Hasna dengan sepedanya.
Terlihat Bara pun keluar dari mobilnya dan berdiri di sebelah Hasna.
“Maaf Na, kamu jadi nungguin...,” sapa Ahsan dengan senyum lebarnya seperti biasa setelah ia melihati sekilas laki-laki yang berdiri di sebelah Hasna.
Hasna balas tersenyum lebih lebar sambil menggelengkan kepalanya, “Gapapa, San. Akunya aja yang datangnya terlalu awal he he. By the way (ind: Omong-omong), kamu dapat sepeda darimana?” Hasna perlahan berjalan mendekat dan menepuk-nepuk bantalan boncengan sepeda itu dengan riang.
“Aku pinjam punya Putri, Na... Kaki kamu kan sakit, kasihan juga kalau kamu harus jalan dari stasiun ke kelas, jadinya aku pinjam sepeda ini buat menjemput kamu sampai kaki kamu sembuh he he”.
Hasna tertawa kecil mendengarnya sambil mengucapkan terima kasih ketika beberapa saat kemudian ia sadar ada Bara disana. Hasna menoleh ke laki-laki yang juga tersenyum di sebelahnya itu memperhatikan obrolan Hasna dan Ahsan.
“Oh iya, Ahsan...kenalkan ini Bara, teman sekantor aku, salah satu volunteer tangguh di kantor aku, dia sangat tulus melakukan pekerjaannya mengajar di daerah pedalaman,” jelas Hasna bersemangat, ada raut kekaguman disana, “dan Bara... kenalkan ini Ahsan salah satu volunteer di kelas bantaran rel yang selama ini berbaik hati menemani aku dari stasiun ke kelas begitu pun ketika pulangnya”.
Ahsan dan Bara saling berjabat tangan sambil melempar senyum ke satu sama lain.
“Terima kasih sudah menjaga Hasna selama ini, Ahsan,” ujar Bara membuat Ahsan terdiam sejenak, meski tetap berusaha tetap tersenyum. Yang ada didalam pikiran Ahsan saat itu, Hasna sepertinya sosok yang istimewa bagi seorang Bara dan Bara sepertinya laki-laki yang istimewa dimata Hasna. Kekaguman Hasna tertangkap jelas oleh Ahsan saat itu.
“Ya udah Na, buruan kamu naik sepeda bareng Ahsan, biar aku susul kalian jalan kaki dari belakang,” sambung Bara tetap dengan senyum lebarnya membuat Hasna teringat keinginan Bara buat menemaninya.
Ahsan masih saja terdiam, sementara Hasna bergantian menoleh kearah Bara dan Ahsan. Entah kenapa dia merasa agak kagok seketika. Satu sisi Hasna merasa tidak enak ke Ahsan, sisi lainnya dia juga tidak enak ke Bara. “Oh iya, San. Bara ingin menemani aku mengajar di kelas bantaran rel selama kaki aku sakit, dan supervisor kami memintanya buat menemani aku...,” jelas Hasna dengan berhati-hati sambil menatap Ahsan yang masih terdiam dihadapannya.
Agak kaku, Ahsan berusaha tersenyum dan mengangguk pelan, “Oh... tentu saja Na, ga masalah...”.
Ahsan kembali menoleh kearah Bara, berusaha tersenyum meski agak kaku kepada laki-laki disebelah Hasna itu. Wajah laki-laki itu masih saja terlihat cool tapi meneduhkan, membuat hati Ahsan entah kenapa tiba-tiba tidak nyaman. Ahsan teringat hanya ada satu sepeda saat itu.
Ahsan pun berusaha menguatkan hatinya, ia berusaha tersenyum lebih lebar, “Ya udah, Na karena sepedanya cuma satu, biar Bara yang membonceng kamu pake sepeda ini ke kelas. Kamu kan tahu jalannya, biar aku nanti hubungi Raka buat menjemput aku disini”.
Hasna kembali menatap Ahsan sejenak, laki-laki itu terlihat sejenak menoleh bergantian ke Hasna dan Bara selebihnya lebih banyak mengarahkan pandangannya ke sepeda. Hasna tahu ada yang tidak biasa dibalik ucapan Ahsan itu membuat Hasna merasa... “bersalah”(?).
“Begini aja, lebih baik kamu sama Bara aja yang berboncengan sepeda menuju kelas, San. Biar aku cari ojek aja,” ujar Hasna membuat Bara dan Ahsan kompak menatap Hasna. Terlihat Hasna tersenyum lebar membalas tatapan keduanya. Ketiganya terjebak tanpa kata untuk sejenak. Bara terlihat menoleh ke Hasna dan Ahsan bergantian kemudian kembali tersenyum lebar. “Mana bisa malah aku sama Ahsan yang berboncengan sepeda, Hasna. Niat Ahsan meminjam sepeda itu buat menjemput kamu yang kakinya sedang luka biar ga capek jalan. Begitu juga niat aku, aku ingin membantu kamu selama kaki kamu luka”, jelas Bara, “jadi begini aja..., sepertinya kamu tidak perlu bantuan aku menuju kelas dan menemani kamu mengajar, Hasna. Ahsan sepertinya sudah cukup bisa diandalkan buat menemani kamu. Jadi tugas aku mengantar kamu sudah selesai. Nanti kalau kamu perlu jemputan, kabari aku saja, Na. Gimana?”
Hasna meringis kearah Bara kemudian menoleh kearah Ahsan yang tersenyum tipis. Untuk kali pertama Hasna melihat raut yang tidak biasa itu di wajah Ahsan, berusaha cuek dan cool, tapi sekaligus seperti menunggu-nunggu jawaban dari mulut Hasna saat itu.
“Aku nggak mau terlalu merepotkan kamu, Bar. Kamu kan baru pulang dari pedalaman dan aku yakin kamu lagi pingin menikmati suasana kota setelah sekian lama di pedalaman. Aku gapapa pulang sendiri,” ucap Hasna.
“Aku tidak pernah merasa direpotkan kamu, Na. Aku senang kalau bisa membantu kamu”. Jawaban Bara yang hangat dan dibalas dengan senyuman hangat Hasna itu pun membuat Ahsan makin terdiam di tempatnya. Hatinya terusik tapi Ahsan sadar dia tidak punya hak untuk merasa terusik. Hasna bukan siapa-siapa Ahsan dan Ahsan tidak punya “rasa” apa-apa ke Hasna (???).
“Kamu itu emang temen yang super baik, Bara. Ya udah nanti aku bakal kabari kamu lagi ya. Enjoy your leisure time (ind: nikmati waktu luang kamu),” lanjut Hasna sambil tertawa kecil ke Bara dibalas anggukan kepala penuh semangat dari Bara.
“Tolong jagain Hasna ya, San,” sambung Bara sambil menepuk-nepuk pelan bahu Ahsan. Ahsan menatap Bara dan tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya mantab. Sementara itu, Hasna hanya tersenyum melihati kedua laki-laki di hadapannya itu bergantian.
Lima menit kemudian, Bara pun sudah meninggalkan tempat itu, menyisakan Ahsan berdua dengan Hasna. Sejenak hening menyapa diantara keduanya.
“Bara kelihatannya laki-laki yang baik dan juga peduli banget sama kamu ya, Na,” ucap Ahsan memulai percakapan diantara keduanya. Hasna balas menatap ke Ahsan yang sedang tersenyum menatapnya. Hasna pun tersenyum, tak memberi jawaban apa-apa. Hatinya seolah bilang bahwa diam dan tidak membahas hal itu jauh lebih baik saat itu, entah kenapa.
“Oh iya, makasih banyak buat sepedanya ya, San. Aku benar-benar tersanjung kamu mau repot-repot pinjam sepeda buat menjemput aku di stasiun,”  ujar Hasna dengan raut riang mengubah topik bahasan. Ahsan yang berdiri di hadapan Hasna pun ikut tersenyum lebih lebar melihat keriangan perempuan itu. Ia menganggukkan kepalanya dengan tak kalah riang. Hasna melirik kearah arlojinya, pukul 14.45.
“Yuk segera naik, Na,” ujar Ahsan menyiapkan dirinya agar bisa menjaga keseimbangan saat Hasna naik ke boncengan sepeda. Dengan agak kesulitan Hasna naik ke boncengan sepeda itu, membuat Ahsan yang menoleh kearahnya makin fokus mengamati perempuan itu.
“Pelan-pelan saja, Na”.
“Iya, San, sabar ya he he,” jawab Hasna sambil tertawa kecil kearah Ahsan dibalas tawa hangat laki-laki itu. Dan tak perlu waktu lama, keduanya pun sudah asyik berboncengan naik sepeda menuju kelas.
“Oke Hasna, siap-siap aku bakal agak ngebut, kalau kamu kesulitan pegangan, pegang aja baju atau jaket aku, Na... gapapa kok. Kalau kamu ngerasa kurang nyaman, bilang ya”.
Lagi-lagi Hasna tersenyum, “Siaaaap, tenang aja San, aku ga bakal peluk kamu kok, bisa dimarahin Putri dan fans-fans kamu nanti ha ha,” jawab Hasna bercanda membuat Ahsan senyum-senyum sendiri di muka. Hasna merasa senang dengan perhatian-perhatian Ahsan itu, tapi ia berusaha membungkus rasa malunya lewat-lewat candaan ringannya.
“Sepeda Putri ini benar-benar nyaman banget buat boncengan, boncengannya empuk dan lumayan lebar,” sambung Hasna dengan tawa kecilnya.
“Syukurlah kalau kamu menyukainya, Na,” jawab Ahsan ikut tertawa kecil mendengar komentar Hasna ketika beberapa menit kemudian Ahsan kembali teringat tentang Bara.
“Oh iya, Na... kalau boleh tahu sebenarnya siapa sih Bara? Jangan-jangan dia calon kamu ya, Na?” tanya Ahsan berusaha tetap dengan nada bercanda tapi terdengar serius di telinga Hasna. 
Hasna terdiam sejenak lalu tersenyum.
“Calon? Andai semudah itu menemukan seseorang istimewa itu... . Seperti yang tadi aku bilang, dia itu teman kantor aku, San. Menurut penilaianku, dia salah satu laki-laki yang baik, seperti halnya juga kamu,” jawab Hasna.
“Tapi kamu tertarik kan dengan kepribadian Bara, Na? Dia juga terlihat sangat perhatian ke kamu, Na”.
Hasna hanya diam menatap punggung Ahsan. Entah kenapa pembicaraan diantara keduanya terasa aneh di mata Hasna.
“Bara itu emang dasarnya orang baik aja, San. Satu hal yang aku percaya tentang rasa, bahwa segala sesuatu itu akan indah pada waktu yang tepat. Entah itu Bara atau siapapun dia, aku masih belum punya clue, he he dan aku tidak mau memusingkannya juga,” jawab Hasna lagi tersenyum lebih lebar.
Ahsan hanya diam mendengarkan jawaban Hasna, jawaban Hasna baginya seperti teka-teki yang masih menyisakan ketidaknyamanan di hati Ahsan tentang Bara.
“Kenapa juga aku musti peduli dengan apa yang terjadi diantara Bara dan Hasna sih? Hasna dan aku kan cuma teman mengajar doank,” ucap Ahsan dalam hati. Ia sendiri heran dengan apa yang dirasakan hatinya saat itu.
Beberapa saat kemudian, mereka berdua pun akhirnya tiba di depan kelas. Terlihat Putri dan beberapa adik-adik disana menghambur menghampiri keduanya. Ahsan terlihat pelan-pelan memiringkan sepedanya agar memudahkan Hasna untuk turun sementara volunteer yang lain terlihat senyum-senyum kecil melihat perhatian Ahsan itu.
“Makasih ya, Kak Ahsan sudah mau menjemput Kak Hasna,” ujar Hasna dengan senyum tulusnya ke Ahsan dibalas dengan anggukan dan senyuman lebar dari Ahsan.
“Biar Putri bantu Kak Hasna jalan ya,” ucap Putri sambil mencium tangan Hasna lalu memegangi tangan Hasna. Hasna pun mengucapkan terima kasih dengan riang dan menerima bantuan adik kecil itu. Putri menemani Hasna ke tempat wudlu kemudian masuk ke kelas. Sementara itu Ahsan mencarikan tempat untuk memarkir sepeda yang dinaikinya itu sambil tetap sembunyi-sembunyi memerhatikan gerak-gerik Hasna.
Ahsan pun bergegas mengambil wudlu karena adik-adik yang muslim dan para volunteer lain termasuk Hasna sudah bersiap untuk sholat berjamaah.
“Kak Hasna kuat sholat sambil berdiri?” tanya Putri lagi.
Hasna tersenyum lebar sambil mengangguk, “Insyaa Allah kuat, Putri. Kemarin Kak Hasna sempet sholatnya sambil duduk, tapi ini sakitnya sudah berkurang kok”.
Ahsan yang baru masuk dan mendengar obrolan itu melihat kearah Hasna sejenak,
“Kalau kaki kamu masih sakit, jangan dipaksain berdiri, Na. Apa perlu aku pinjamkan kursi biar kamu bisa sholat dengan duduk? Soalnya duduk di lantai pasti juga susah ya... .”
Hasna menggelengkan kepalanya pelan tetap dengan senyuman khasnya itu. “Makasih, Kak Ahsan. Insyaa Allah kuat kok, tadi aku sudah coba sholat Zhuhur sambil berdiri”. Mereka pun saling bertukar senyum  dan Ahsan bergegas menuju barisan laki-laki.
Beberapa menit kemudian, para volunteer dan adik-adik pun menyiapkan meja lipat dan peralatan untuk persiapan belajar bahasa inggris. Hasna, Azka, dan Ardi terlihat sudah membaur bercanda bersama adik-adik di sekitarnya, sementara Ahsan terlihat sedang mengobrol dengan Raka dan Bayu  memantabkan materi belajar hari itu.
“Sepertinya ada yang sedang kasmaran nih, Ka... sampai sebegitu perhatiannya ke Hasna,” celetuk Bayu setengah berbisik menggoda Ahsan. Ahsan hanya diam dan tersenyum tipis.
Raka balas tertawa kecil sambil menganggukkan kepalanya,”Sepertinya begitu, Bay ... meski Ahsan ga pernah mau mengakuinya sih”.
“Perbuatan itu bukti lebih nyata dibandingkan pernyataan, Ka...,” sambung Bayu makin tertawa lebar.
“Udah.... udah... berhenti bercanda dan ngegodainnya. Ga ada apa-apa diantara aku sama Hasna, aku peduli cuma sebatas teman aja. Lagipula... sudah ada laki-laki baik bernama Bara di kehidupan Hasna...,” jawab Ahsan datar meninggalkan Bayu dan Raka, menyisakan Bayu dan Raka yang saling berpandangan mendengarnya. Ahsan bergegas menghampiri Hasna yang merupakan rekan mengajar satu tim dengannya. Teman-teman volunteernya sengaja sepakat memasangkan Hasna setim dengan Ahsan, seolah ingin memberikan kesempatan Ahsan untuk bisa mengenal lebih dekat Hasna. Kelas bahasa inggris pun berjalan seperti biasanya, Hasna tetap mengajar dengan riang dan penuh semangat, tetap membuat Ahsan tertular dengan keriangan dan semangat perempuan itu meski sekarang ada Bara diantara keduanya. Hasna, meski ia agak kesulitan untuk duduk di tikar karena lukanya itu, tapi perempuan itu tidak terlihat sedikit pun mengeluh. Meski beberapa kali wajah Hasna terlihat menahan nyeri dan tertangkap oleh mata Ahsan, tapi senyuman perempuan itu tetap tersungging dengan tulus dan lebarnya. Pelajaran bahasa inggris per kelompok itu pun berakhir dengan hafalan tentang istilah-istilah yang berkaitan dengan jalan dan arah. Dan seperti biasa, selalu ada tawa dari pelafalan adik-adik itu saat hafalan, menghadirkan bahagia diantara adik-adik dan juga kakak-kakak volunteer disana.
Waktu menunjukkan pukul 16.50 saat itu ketika adik-adik di kelas itu kembali duduk rapi tanpa melihat kelompok belajarnya. Hari itu, sengaja diadakan “games” kecil-kecilan untuk memotivasi adik-adiknya lebih tertarik belajar bahasa inggris sebagaimana hasil kesepakatan diantara kakak-kakak volunteer seminggu sebelumnya.
“Oke adik-adik, sebelum pulang kita akan main tebak kata dalam bahasa inggris. Siapa yang bisa menjawab dengan benar, dia dapat hadiah coklat dan boleh pulang,” sapa Hasna dengan riang sambil berdiri disambut dengan senyum tawa adik-adik disana membayangkan coklat yang Hasna tunjukkan ke mereka. Meski harga coklat mungkin tidak mahal, tapi jarang-jarang bagi adik-adik kecil dibantaran rel itu untuk memakannya.
Satu demi satu pertanyaan pun diberikan bergantian oleh Raka dan Hasna yang berdiri di depan papan tulis, dan satu demi satu coklat pun berpindah tangan dari Ahsan, Bayu, Ardi, dan Azka ke adik-adik kecil yang bisa menjawab pertanyaan dengan benar. Satu demi satu adik-adik yang menjawab benar pun bergegas pulang dengan keriangan di wajah mereka setelah menyalami semua kakak volunteer yang ada hingga kemudian hanya tersisa satu adik perempuan kecil bernama Lili yang baru duduk di kelas 2 sekolah dasar. Lili terlihat menoleh ke kanan kiri, menyadari kini tinggal dirinya yang belum pulang sementara kakak-kakak volunteer terlihat sedang melihat kearahnya. Air mata Lili pun mulai keluar membuat Hasna dengan agak kesulitan bergegas duduk di hadapan adik kecil itu.
“Lili kenapa nangis?” tanya Hasna lembut tetap tersenyum lebar.
 “Habisnya Lili ga bisa jawab pertanyaan, Kak Hasna. Terus, udah ga ada lagi coklat di tangan Kak Ahsan, Kak Bayu, Kak Azka, dan Kak Ardi. Lili bodoh ya, Kak...,” jawab Lili polos dengan terisak.
Hasna mengusap lembut rambut Lili, “Lili itu nggak bodoh, Lili cuma kalah cepet menjawabnya dibanding teman-teman yang lain. Nanti kalau Lili terus belajar, Lili pasti bisa lebih cepat menjawab dari teman-teman yang lain. Ya kan, Kakak-kakak yang ganteng-ganteng?” 
Raka, Ahsan, Bayu, Ardi, dan Azka terlihat kompak menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lebar kearah Lili yang menatap mereka bergantian sebelum kemudian gadis kecil itu kembali menatap Hasna yang masih dengan senyum lebarnya. Gadis itu pun menganggukkan kepalanya pelan sambil mengusap air matanya.
“Dan soal coklat... tenang aja, coklatnya masih ada kok buat Lili,” sambung Hasna lembut mengeluarkan sebatang coklat dari tas ranselnya membuat Lili yang tadinya murung sedikit bersemangat, “sekarang Lili coba jawab pertanyaan dari Kak Hasna ya...”.
Lagi-lagi gadis kecil itu mengangguk meski dengan ragu.
“Apa bahasa inggrisnya harimau?”
Lili terlihat berpikir serius mengingat-ingat sambil tetap menatap Hasna yang sedang menatapnya dengan lembut sambil sesekali melirik ke coklat yang ada di tangan Hasna.
“Ada lima huruf dan huruf depannya adalah Ti atau T dan huruf belakangnya Ar atau R...,” ucap Ahsan memberikan clue ke gadis kecil itu. Ahsan pun duduk di sebelah Hasna.
“Taiger.... Ti (T) ... Ai (I)... Ji (G)... I (E)... and... Ar (R),”  jawab Lili beberapa menit kemudian disambut dengan tepuk tangan dan senyuman dari semua kakak volunteer disana. Hasna memberikan pujian “pintar” buat Lili sambil memberikan coklat ditangannya ke gadis itu membuat Lili pun tertawa lebar saking senangnya. “Thank you, Kak Hasna,” ucap Lili  spontan mencium pipi Kak Hasna dan bergegas mencium tangan semua kakak volunteer disana kemudian berpamitan pulang dengan wajah riang. Keriangan itu pun juga terlihat di wajah-wajah kakak-kakak volunteer disana, mereka lega bisa menambah keriangan di wajah-wajah adik-adik di kelas bantaran rel itu karena “games” kecil mereka.
“Thank you, Na. Ide kamu tentang games ini ternyata seru juga,” ucap Raka disambut anggukan setuju dari volunteer lainnya. Ahsan yang masih duduk di sebelah Hasna itu pun tetap diam-diam memerhatikan setiap gerak-gerak perempuan itu yang entah kenapa membuat Ahsan semakin ingin lebih dekat dengannya.
“Thank you, Kak Hasna. Great idea and you did it great (ind: Terima kasih, Kak Hasna. Ide yang bagus dan kamu melakukannya dengan baik)...,” sambung Ahsan lirih ke Hasna membuat mereka saling melempar senyum lebar satu sama lain.
“You did it great too, Kak Ahsan. We did it great together (ind: kamu juga, Kak Ahsan. Kita melakukannya dengan baik bersama),” jawab Hasna dengan riang.
 Begitupun saat Hasna kesulitan untuk berdiri dari duduknya, Ahsan yang mengenakan jaket itu buru-buru berdiri dan dengan refleks mengulurkan tangannya untuk Hasna. “Kalau kamu perlu pegangan, pegangan aja di lengan aku, Na,” ucapnya pelan. Setengah tertegun Hasna menoleh kearah Ahsan kemudian lagi-lagi tersenyum, “Terima kasih, San. Aku bisa berdiri sendiri”.
Ahsan pun balas tersenyum dan mengangguk kemudian bergegas menghampiri rekan-rekannya yang sedang merapikan kelas.
Hasna sedang menghapus papan tulis ketika Raka yang baru selesai menggulung tikar di bagian depan kelas itu menghampiri Hasna.
“Na, emang siapa sih Bara yang bikin hati Ahsan jadi membara?” tanya Raka sambil tersenyum lebar menggoda ke Hasna sementara Ahsan sedang menyiapkan sepeda buat mengantar Hasna.
Hasna langsung menoleh kearah Raka dengan raut heran, “Kamu tahu darimana nama Bara, Ka?”
“Ahsan tadi sempat menyebutkan nama itu dengan nada dingin-dingin gimana gitu,” jawab Raka dengan santai dan tetap tersenyum menggoda.
Sejenak Hasna terdiam kemudian ia kembali tersenyum, “Bara itu teman sekantor aku, Ka. Tadi dia mengantarkan aku sampai depan stasiun dan kemudian berkenalan dengan Ahsan”.
Raka dan Hasna saling berpandangan sejenak. “Diantara aku dan Bara tidak ada hubungan spesial apa-apa, kami cuma sekedar teman,.... sama saja seperti halnya aku dan Ahsan,” sambung Hasna sambil tersenyum. Raka pun mengangguk-anggukkan kepalanya pelan kemudian tersenyum lebar dan meninggalkan Hasna yang terdiam sejenak di tempatnya.
Entah mengapa, Hasna merasa ada sesuatu yang aneh hari itu tentangnya, Ahsan, dan Bara. Bukankah mereka hanya berteman biasa, tapi kenapa hatinya tidak sepenuhnya berkata demikian? Dan entah kenapa Hasna merasa tidak nyaman saat mengetahui Ahsan terusik soal Bara.
Raka, Azka, Bayu, dan Ardi pun berpamitan pulang berboncengan naik motor, menyisakan Ahsan dan Hasna juga Putri di depan kelas.
Berhubung sepeda yang dipakai buat membonceng Hasna adalah milik Putri, Ahsan perlu satu sepeda lagi untuk nanti bisa membonceng Putri ke stasiun lalu mengembalikan sepeda milik Putri itu. Itu sebabnya, Ahsan menunggu Ridwan yang sedang pulang mengambil sepeda di rumahnya.
“Aku jemput Ridwan ke rumahnya dulu, ya Na...,” ujar Ahsan kepada Hasna dibalas anggukan dan senyuman perempuan itu. “Tolong Putri temani Kak Hasna disini sebentar yaaa...,” sambung Ahsan dibalas dengan anggukan Putri.
Untuk beberapa saat, tersisa Putri dan Hasna duduk di sebuah bangku panjang yang ada di depan kelas. Putri terlihat asyik memakan coklat, hadiah dari kakak volunteer tadi.
“Makasih banyak, ya Putri sudah meminjamkan sepeda Putri yang tempat duduknya empuk itu ke Kak Ahsan buat mengantar jemput Kak Hasna,” ujar Hasna dengan riang seperti biasa.
“Sama-sama Kak Hasna. Sebenarnya Kak Ahsan yang peduli dan khawatir banget sama Kak Hasna. Sehari setelah Kak Hasna jatuh, Kak Ahsan datang ke rumah Putri dan minta izin pinjem sepeda Putri biar bisa menjemput Kak Hasna yang kakinya masih sakit. Kak Ahsan juga minta izin boleh nggak kalau boncengan sepeda Putri diganti dengan yang lebih empuk. Katanya sih biar Kak Hasna ngerasa lebih nyaman aja,” jelas Putri membuat Hasna tertegun menoleh kearah gadis kecil itu.
“Kak Ahsan melakukan itu semua?” tanya Hasna.
Putri langsung menganggukkan kepalanya, “Iya, Kak. Kak Ahsan itu sepertinya sayang deh sama Kak Hasna, waktu tahu Kak Hasna jatuh aja, Kak Ahsan kelihatan banget khawatirnya meski ga mau ngaku kalo ditanyain. Tadi aja, pas Kak Hasna memberitahu kalo Kak Hasna udah sampai di stasiun, Kak Ahsan itu langsung buru-buru aja pingin menghampiri Kak Hasna, ga pingin bikin Kak Hasna nunggu lama... sampai-sampai tadi Kak Ahsan jatuh gara-gara ga lihat ada batu agak gedhe  di depannya”.
“Kak Ahsan jatuh? Tapi Kak Ahsan gapapa  kan?” tanya Hasna khawatir.
Putri tersenyum kepada Hasna. “Cieee, Kak Hasna khawatir juga ya he he. Kak Ahsan tadi bilangnya sih gapapa dan ga lecet kok, Kak. Kak Hasna jangan khawatir ya”.
Hasna balas tersenyum sambil menganggukkan kepalanya pelan. Hasna tidak pernah menyangka Ahsan akan sedemikian perhatiannya kepada dirinya. Meski Hasna tahu bahwa Ahsan itu sosok laki-laki yang memang baik, tapi dia merasa apa yang dilakukan Ahsan kepadanya itu lebih dari sekedar biasa, tapi Hasna tidak ingin terlalu mudah menyimpulkan. Hasna tidak ingin terlalu berharap apalagi Ahsan tidak pernah mengucapkan apa-apa terlebih lagi Ahsan jauh lebih muda darinya.
Selang tak berapa lama terlihat Ahsan sedang membonceng Ridwan menghampiri Hasna dan Putri. Ahsan pun bergegas mengambil sepeda buat membonceng Hasna.
“Silahkan naik pelan-pelan, Kak Hasna. Kak Ahsan siap mengantar,” ucap Ahsan sambil tersenyum kepada Hasna dibalas Hasna dengan ucapan terima kasih dan senyuman lebih lebar lagi. Pelan-pelan Ahsan mengayuh sepeda milik Putri itu dengan membonceng Hasna disusul Ridwan yang membonceng Putri tak jauh di belakang mereka.
“Oh ya, San. Sekali lagi terima kasih banyak buat semua hal yang udah kamu lakuin buat menjemput dan mengantar aku hari ini,... termasuk... memodifikasi sepeda ini jadi lebih nyaman buat aku,” ucap Hasna memulai kembali percakapan diatas sepeda, “tadi Putri cerita”.
Ahsan tersenyum mendengarnya, dia tidak menyangka Putri akan menceritakan hal itu ke Hasna meski memang Ahsan tidak pernah meminta gadis kecil itu untuk merahasiakannya juga, “Aku cuma melakukan apa yang bisa aku lakuin, Na. Kamu sudah bela-belain tetap mengajar meski kaki kamu masih sakit dan tetap penuh semangat melakukan volunteering ini, jadi kamu layak buat menerima semua ini, bahkan seharusnya lebih dari sekedar ini, Hasna. Maaf ya kalo aku cuma bisa ngelakuin ini aja, Na”.
Hasna tersenyum lebih lebar sambil satu tangannya tetap memegangi jaket Ahsan.
“Volunteering itu juga artinya belajar tentang keikhlasan, Ahsan. Apa yang kamu lakuin hari ini sudah jauh lebih dari cukup, San. Aku tersentuh, terima kasih ya,” jawab Hasna. Laki-laki yang sedang memboncengnya ini membuat retakan di hati Hasna semakin susah untuk kembali ke asal dan justru menyebabkan retakan-retakan yang lebih lebar di hati perempuan itu.
“Apa kamu senang, Na?” Pertanyaan Ahsan itu membuat Hasna menoleh memandangi Ahsan dari belakang, tersenyum dalam diam sejenak. “Sangat sangat sangaaat senang, Ahsan,” ujar Hasna agak berteriak dengan riang membuat Ahsan pun ikut tertawa lebar, “aku tambah senang karena aku bisa bersepeda bareng dengan kamu sore ini. Jarang-jarang kan bisa dapat kesempatan diboncengin laki-laki baik yang jadi idola di kampusnya he he”.
Kalimat Hasna itu pun membuat tawa Ahsan makin keras, ada malu di raut wajah laki-laki itu yang berusaha ia sembunyikan meski Hasna tidak mungkin melihatnya, malu yang bercampur bahagia. Ahsan merasa bahagia karena dia bisa menjadi salah satu alasan yang membuat Hasna bahagia.
 “Oh iya..., diantara aku dan Bara tidak ada hubungan apa-apa selain teman biasa, Ahsan...,” lanjut Hasna sejenak membuat hening diantara keduanya. Ahsan pun kemudian tersenyum tipis, “Soal itu... kamu tidak perlu menjelaskan apa-apa soal Bara, Na. Itu semua kan tentang perasaan kamu dan... itu urusan kamu, Na. Itu... tidak ada hubungannya sama aku, Na”.  
Hasna tersenyum mendengar jawaban laki-laki di depannya itu.
“Aku tahu, San. Aku cuma nggak ingin ada prasangka aja dari siapapun tentang aku dan Bara karena memang ga ada apa-apa diantara kami berdua,” jawab Hasna dengan riang sambil tersenyum lebih lebar, “aku juga ga mau gara-gara prasangka, orang pikir aku sudah ada calon, padahal kan aku masih nungguin seseorang itu yang masih betah main petak umpet sampai sekarang he he”.
Jawaban Hasna itu pun membuat Ahsan lagi-lagi tertawa lepas. Ada rasa lega di hatinya mendengar penjelasan Hasna itu.  Begitu pun Hasna, ia merasa lega mendengar Ahsan yang kembali tertawa lepas saat itu.
“Seperti yang kamu tadi bilang saat berangkat, Na. Insyaa Allah semua akan indah di waktu yang tepat, Hasna. Calon kamu pasti akan keluar dari persembunyiannya kalau waktunya udah tiba,” sambung Ahsan dengan riang dan bersemangat.
“Aamiin,” jawab Hasna tak kalah riang dan semangat. Tawa pun kembali pecah diantara keduanya, bersama semilir angin dan langit sore yang cerah menemani obrolan-obrolan mereka.
Waktu menunjukkan pukul 18.04 ketika Ahsan dan Hasna akhirnya sampai di depan stasiun disusul dengan Ridwan juga Putri.
Ahsan pun mengembalikan sepeda yang dinaikinya kepada Putri. “Terima kasih banyak Putri untuk pinjaman sepedanya. Kalau Putri keberatan sama perubahan yang Kak Ahsan lakuin di sepeda Putri, Kak Ahsan janji nanti bakal balikin kondisinya seperti semula kalau kaki Kak Hasna udah sembuh ya”.
Hasna tersenyum menatap sejenak wajah laki-laki itu.
“Putri nggak keberatan kok Kak Ahsan soalnya Kak Ahsan bikin sepeda Putri jadi makin cantik dan lucu. Putri sukaaa,” jawab Putri dengan riang.
“Terima kasih sekali lagi, ya,” ujar Hasna tersenyum manis sambil mengelus lembut pipi gadis kecil itu.
Putri dan Ridwan pun segera menaiki sepeda masing-masing pulang, menyisakan Ahsan dan Hasna yang masih berdiri di tempatnya memandangi kedua adik kecil itu sampai menghilang dari pandangan keduanya.
“Oh ya, Bara jadi menjemput kamu, Na?” tanya Ahsan sambil melihati kearah seberang stasiun, siapa tahu laki-laki itu sudah menunggu Hasna dengan mobilnya.
Hasna tersenyum menatap laki-laki muda di sebelahnya itu. “Nggak, San. Aku pulang naik KRL”. Ahsan menoleh kearah Hasna yang makin melebarkan senyumannya itu kemudian ikut tersenyum tak kalah lebar.
“Bara pastinya perlu lebih menikmati waktu luangnya di ibukota sebelum ditugaskan lagi ke daerah pedalaman sekalian sambil terus mencari perempuan yang tepat untuknya. Aku ga mau terlalu menyita waktunya dengan tugas yang diberikan supervisor aku buat menemani aku selama sakit. Lagipula, seperti yang tadi Bara bilang, kamu sudah lebih dari cukup buat menemani aku,” sambung Hasna membuat laki-laki itu merasa tersanjung.
Ahsan menganggukkan kepalanya, keduanya masih tetap saling melempar senyuman satu sama lain.
“Apa kamu keberatan kalau aku menemani kamu pulang sampai rumah, Na?” tanya Ahsan agak ragu tapi sangat jelas di telinga Hasna. Tawaran Ahsan itu membuat Hasna tertegun sejenak kemudian kembali tersenyum lebih lebar sambil menganggukkan kepalanya pelan.
“Aku sama sekali tidak keberatan, tapi kamunya gapapa kalau pulang kemalaman gara-gara nganterin aku, San?”
Ahsan lagi-lagi tersenyum, “Aku justru senang kalau kamu mengizinkan aku bisa menemani kamu sampai rumah, memastikan kamu sampai dengan selamat dan baik-baik, Hasna”.
Kali ini ucapan Ahsan itu pun berhasil membuat Hasna tersipu malu, meski perempuan itu berusaha tetap menutupinya lewat senyuman lebarnya. Dan entah kenapa Ahsan pun merasakan hal yang sama seperti Hasna, ia tersipu meski juga berusaha menutupinya dengan senyum lepasnya.
“By the way, Putri bilang kalau tadi kamu jatuh dari sepeda gara-gara terburu-buru mau jemput aku ke stasiun. Benar kamu gapapa? Ada yang lecet ga? Sudah diobati belum?” tanya Hasna lagi membuat Ahsan gantian tertegun sejenak dengan kekhawatiran Hasna itu.
 “Cuma lecet dikit, kok Na. Dulu waktu masih kecil, luka lecet seperti ini sih udah jadi makanan sehari-hari aja kalo lagi naik sepeda, he he. Tenang aja, aku baik-baik saja, Hasna,” jawab Ahsan sambil tersenyum lembut ke perempuan yang sedang melihatnya itu.
Hasna pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lebih lebar lagi.
“Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku,” sambung Ahsan sambil tertawa kecil, membuat Hasna pun ikut tertawa kecil sambil lagi-lagi menganggukkan kepalanya. Keduanya pun kemudian bergegas masuk ke stasiun, sholat maghrib disana lalu menunggu kereta selanjutnya kearah rumah Hasna tiba.

Kadang tidak mudah bagi seseorang mengartikan rasa yang ada di hatinya kemudian mengakuinya lewat kata demi kata. Mungkin perlu waktu untuk itu. Namun, bisa lebih lama menghabiskan waktu dekat dengannya meski hanya berbagi senyum dan tawa itu sudah cukup menghadirkan bahagia. Mungkin seperti itulah kita bagi Ahsan dan Hasna :).

- Bersambung -